Search Header Logo
Syuabul Iman

Syuabul Iman

Assessment

Presentation

Religious Studies

10th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Abd Hadi

Used 79+ times

FREE Resource

13 Slides • 0 Questions

1

“ Menganalisis makna Syu’abul Iman (cabang-cabang iman) pengertian, dalil, macam dan manfaatnya”

MANISNYA IMAN SANG PANGLIMA

Al kisah, dalam peristiwa pembebasan Negeri Syam, tersebutlah seorang panglima perang yang bernama Abdullah bin Hudzafah RA. Misi penting yang harus diemban olehnya adalah memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng pertahanan di Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun sayangnya dalam misi ini Abdullah bin Hudzafah mengalami kegagalan, sehingga kalah dalam peperangan, kemudian tertangkap dan dijadikan tawanan perang oleh tentara Romawi.
Abdullah bin Hudzafah lalu dihadapkan kepada Heraklius, sang kaisar Romawi yang menjabat waktu itu. Heraklius ingin menguji seberapa kuat kepercayaan dan keyakinan sang panglima perang, dengan memberikan bujuk rayu dan tawaran agar ia melepaskan akidah dan keimanannya terhadap Allah Swt.

2

“ Menganalisis makna Syu’abul Iman (cabang-cabang iman) pengertian, dalil, macam dan manfaatnya”

Heraklius berkata kepada Abdullah bin Hudzafah “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka engkau akan memperoleh harta yang engkau inginkan”.Namun dengan tegas Abdullah bin Hudzafah menolak tawaran tersebut. Kemudian Heraklius memberikan penawaran yang kedua “masuklah engkau ke dalam agama Nasrani, maka aku akan menikahkah putriku denganmu”. Dan dengan hati yang teguh Abdullah bin Hudzafah pun kembali menolak. Heraklius kembali memberikan penawaran yang ketiga dengan tawaran yang lebih menggiurkan “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka aku akan memberimu jabatan penting di negeri ini”. Tetap dengan pendiriannya Abdullah bin Hudzafah menolak tawaran kembali tawaran kaisar Heraklius.

3

“ Menganalisis makna Syu’abul Iman (cabang-cabang iman) pengertian, dalil, macam dan manfaatnya”

Nampaknya Heraklius menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan bukan sembarang orang. Maka ia pun memberikan penawaran keempat “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka aku akan memberikan separuh kerajaanku dan separuh hartaku”. Dan pada tawaran keempat ini Abdullah bin Hudzafah pun memberikan  jawaban yang telak “meskipun engkau memberikan semua harta yang engkau miliki dan semua harta orang Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama yang diajarkan oleh Muhammad Saw.”

4

“ Menganalisis makna Syu’abul Iman (cabang-cabang iman) pengertian, dalil, macam dan manfaatnya”

Akhirnya Heraklius pun menyerah dan mengakui kekalahannya terhadap Abdullah bin Hudzafah. Lantas ia pun memberikan penawaran terakhir sebagai bentuk kekalahannya. Demi menjaga martabatnya Heraklius berkata “Abdullah, maukah engkau mengecup kepalaku? Aku akan melepaskan dan membebaskanmu”. Abdullah bin Hudzafah pun menyetujui, dengan syarat Heraklius membebaskan 300 tawanan perang yang lain yang ditahan bersamanya.

Mendengar hal tersebut, lantas Heraklius pun berdiri dan mengecup kepala Abdullah bin Hudzafah, sehingga shahabat-shababat yang lain pun mengikutinya.

5

Definisi Iman

Iman berasal dari bahasa Arab dari kata dasar amana - yu’minu - imanan, yang berarti beriman atau percaya. Adapun definisi iman menurut bahasa berarti kepercayaan, keyakinan, ketetapan atau keteguhan hati. Imam Syafi’i dalam sebuah kitab yang berjudul “al-‘Umm” mengatakan, sesungguhnya yang disebut dengan iman adalah suatu ucapan, suatu perbuatan dan suatu niat, di mana tidak sempurna salah satunya jika tidak bersamaan dengan yang lain.
Pilar-pilar keimanan tersebut terdiri dari enam perkara yang dikenal dengan  rukun iman yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Beriman tanpa mempercayai salah satu dari enam rukun iman tersebut maka gugurlah keimanannya, sehingga mempercayai dan mengimani keenamnya bersifat wajib dan tidak bisa ditawar sedikit pun.

6

Enam pilar keimanan

1) iman kepada Allah Swt.,
2) meyakini adanya rasul-rasul utusan Allah Swt.,
3) mengimani keberadaan malaikat-malaikat Allah Swt.,
4) meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab-Nya,
5) meyakini akan datangnya hari akhir
6) mempercayai qada dan qadar Allah Swt.

7

​Definisi Syu'abul Iman

Menurut Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam kitab Qamiuth-thugyan ‘ala Manzhumati Syu’abu al-Iman, Syu’abul iman adalah cabang cabang iman. iman yang terdiri dari enam pilar seperti tersebut di atas, memiliki beberapa bagian (unsur) dan perilaku yang dapat menambah amal manusia jika dilakukan semuanya, namun juga dapat mengurangi amal manusia apabila ditinggalkannya.
Terdapat 77 cabang iman, di mana setiap cabang merupakan amalan atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku beriman (mukmin). Tujuh puluh tujuh cabang itulah yang disebut dengan syu’abul iman.  Bilamana 77 amalan tersebut dilakukan seluruhnya, maka telah sempurnalah imannya, namun apabila ada yang ditinggalkan, maka berkuranglah kesempurnaan imannya.

8

Dalil Naqli tentang Syu’abul Iman

Dari Anas r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, tiga hal yang barang siapa ia memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah Swt. dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai (sesuatu) semata-mata karena Allah Swt. dan benci kepada kekufuran, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka. (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abi Hurairoh RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : Iman itu ada 77 lebih cabangnya. yang paling utama adalah mengucapkan laa ilaaha illallahu. dan sekurang-kurangnya adalah menyingkirkan apa yang akan mennghalangi orang di jalan. dan malu itu adalah salah satu cabang iman ( HR Muslim )

9

Macam-macam Syu’abul Iman

Dimensi dari keimanan itu menyangkut tiga ranah yaitu:

1. Ma'rifatun bil qalbi  yaitu meyakini dengan hati

2. Iqrarun bil lisan yaitu diucapkan dengan lisan

3. ‘Amalun bil arkan yaitu mengamalkannya dengan perbuatan anggota badan

       Dari pengelompokan berdasarkan dimensi keimanan tersebut, maka syu’abul iman  dibagi menjadi tiga bagian yang meliputi :

a. Niat, akidah dan hati;

b. Lisan / ucapan;

c. Seluruh anggota badan;

10

Adapun pembagian 77 cabang keimanan berdasarkan pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut :

a) Cabang iman yang berkaitan dengan niat, aqidah dan hati
cabang-cabang iman yang termasuk dalam kelompok niat, aqidah dan hati terdiri
dari tiga puluh hal, yaitu :
1. Iman kepada Allah Swt.

2. Iman kepada malaikat Allah Swt.

3. Iman kepada kitab-kitab Allah Swt.

4. Iman kepada rasul-rasul Allah Swt.

5. Iman kepada takdir baik dan takdir buruk Allah Swt.

6. Iman kepada hari akhir

7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian

11

8. Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di  Yaumul Mahsyar setelah hari kebangkitan

9. Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kair akan tinggal di
neraka

10. Mencintai Allah Swt.

11. Mencintai dan membenci karena Allah Swt.

12. Mencintai Rasulullah Saw. dan yang memuliakannya

13. Ikhlas, tidak riya dan menjauhi sifat munaiq

14. Bertaubat, menyesal dan janji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa

15. Takut kepada Allah Swt.

16. Selalu mengharapkan rahmat Allah Swt.

17. Tidak berputus asa dari rahmat Allah Swt.

12

18. Syukur nikmat

19. Menunaikan amanah

20. Sabar

21. Tawadlu dan menghormati yang lebih tua

22. Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil

23. Rida dengan takdir Allah Swt.

24. Tawakkal

25. Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri

26. Tidak dengki dan iri hati

27. Rasa Malu

28. Tidak mudah marah

29. Tidak menipu, tidak suudzan dan tidak merencanakan keburukan kepada siapapun

30. Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan jabatan

13

“ Menganalisis makna Syu’abul Iman (cabang-cabang iman) pengertian, dalil, macam dan manfaatnya”

MANISNYA IMAN SANG PANGLIMA

Al kisah, dalam peristiwa pembebasan Negeri Syam, tersebutlah seorang panglima perang yang bernama Abdullah bin Hudzafah RA. Misi penting yang harus diemban olehnya adalah memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng pertahanan di Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun sayangnya dalam misi ini Abdullah bin Hudzafah mengalami kegagalan, sehingga kalah dalam peperangan, kemudian tertangkap dan dijadikan tawanan perang oleh tentara Romawi.
Abdullah bin Hudzafah lalu dihadapkan kepada Heraklius, sang kaisar Romawi yang menjabat waktu itu. Heraklius ingin menguji seberapa kuat kepercayaan dan keyakinan sang panglima perang, dengan memberikan bujuk rayu dan tawaran agar ia melepaskan akidah dan keimanannya terhadap Allah Swt.

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 13

SLIDE