Search Header Logo
Budaya Positif

Budaya Positif

Assessment

Presentation

Education

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

Zaituni Zaituni

FREE Resource

29 Slides • 0 Questions

1

media
media
media

AKSI NYATA
MODUL 1.4

Zaituni

BUDAYA POSITIF

2

media
media
media
media
media

PERKENALKANPERKENALKAN

ZAITUNIZAITUNI
CGP A.9CGP A.9

3

media
media
media
media
media
media

CALON GURU PENGGERAK A.9CALON GURU PENGGERAK A.9

ZAITUNI
CGP A.9

DRS.BAMBANG EFFENDY,M.Pd

FASILITATOR

SITI ANDAYANI, M.Pd.
PENGAJAR PRAKTIK

4

media
media
media

Tujuan PembelajaranTujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran Khusus:

1.CGP memahami keterkaitan konsep budaya

positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3.
2. CGP dapat menyusun langkah dan strategi yang

lebih efektif, konkret, dan realistis untuk

mewujudkan budaya positif di sekolah

5

media
media
media
media

Latar BelakangLatar Belakang

Menurut

filosofis

pendidikan

nasional

Ki

Hajar

Dewantara,

pendidikan

adalah

menuntun,

yakni

menuntun segala kekuatan kodrat alam dan zaman
yang

ada

pada

anak

agar

mereka

mencapai

keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Pendidikan juga harus berpihak pada murid, sesuai
minat,

bakat,

dan

kemampuan

anak.

Dalam

mewujudkan

hal

tersebut,

guru

ibarat

petani,

sedangkan sekolah ibarat lahan/tanah dan murid ibarat
benih. Petani hanya bisa menuntun tumbuhnya benih
dengan merawatnya.

6

media
media
media
media

Latar BelakangLatar Belakang

Dari makna filosofis pendidikan nasional Ki Hajar
Dewantara

tersebut,

maka

seorang

guru

harus

mempunyai nilai dan menjalankan perannya agar mampu
menuntun tumbuh kembangnya murid melalui pengajaran
yang berpusat pada murid. Dimana untuk mewujudkan
suatu perubahan berdasarkan filosofis pemikiran Ki
Hajar Dewantara yang berpihak pada murid tersebut,
diperlukan visi dan langkah-langkah yang tepat dalam
mencapainya.

Visi

guru

penggerak

harus

mampu

mencerminkan nilai-nilai dan peran guru penggerak agar
dapat mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

7

media
media
media
media

Dalam mewujudkan visi, diperlukan langkah
konkrit

menggunakan

Paradigma

Inkuiri

Apresiatif, kemudian diturunkan menjadi
Prakarsa Perubahan, dan dicapai secara
kolaboratif menggunakan tahapan BAGJA
agar dapat jika terukur, konkret, sistematis,
dan

terencana,

sehingga

dapat

tercapai

sesuai

tujuan

pendidikan

nasional.

Berdasarkan

penerapan

tahapan

BAGJA,

maka

akan

muncul

pembiasaan

pembiasaan positif yang dikenal dengan
budaya positif.

8

media
media
media
media
media
media

Budaya positif adalah nilai-nilai, keyakinan-
keyakinan,

dan

kebiasaan-kebiasaan

yang

berpihak

pada

murid

agar

murid

dapat

berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh
hormat, dan bertanggung jawab. Salah satu
unsur utama dari budaya positif adalah disiplin
positif sebagai wadah menciptakan budaya
positif

yang

berhubungan

erat

dengan

tercapainya tujuan pendidikan sesuai dengan
filosofis pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara.
Budaya Positif akan menciptakan rasa aman dan
nyaman

pada

murid

selama

proses

pembelajaran.

9

media
media
media

Budaya PositifBudaya Positif

Budaya Positif dapat mendorong murid untuk mampu berpikir,
bertindak, dan mencipta sebagai bagian dari proses berpihak pada
murid, sehingga murid menjadi lebih mandiri dan bertanggungjawab.
Budaya positif di sekolah tentu saja akan mendukung terbentuknya
budaya belajar di sekolah. Norma – norma baik yang dibelajarkan guru
kepada murid akan semakin menguatkan, mengokohkan kepribadian
murid, sehingga murid tidak saja cerdas secara akademik, tetapi juga
santun secara moral sesuai visi sekolah “Terwujudnya warga sekolah
yang berkarakter profil pelajar pancasila berprestasi dan terampil “”.

10

media
media
media

Budaya PositifBudaya Positif

Dengan demikian, Profil Pelajar Pancasila yang didambakan dapat
terwujud, yakni pelajar yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong
royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Upaya mewujudkan budaya
positif menjadi bagian dari visi guru penggerak, semua peran itu
dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satu langkah untuk
menanamkan budaya positif melalui penerapan disiplin positif dengan
membuat keyakinan kelas. Keyakinan kelas dipilih karena setiap
tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat
menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif.

11

media
media
media

Budaya PositifBudaya Positif

Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang
akhirnya membentuk sebuah budaya positif sekolah. Untuk
itulah diperlukan penciptaan keyakinan – keyakinan dasar
bersama di antara warga kelas. Guru sebagai pemegang posisi
penting dalam membangun budaya positif yang dimulai dari
ruang kelas. Harapannya dengan membangun keyakinan kelas
tersebut, dapat mewujudkan budaya positif sekolah, sehingga
sekolah menjadi ekosistem pendidikan yang ramah anak dan
ramah lingkungan.

12

media
media
media
media

Tujuan menyusun keyakinan kelas ini,Tujuan menyusun keyakinan kelas ini,

diharapkan dapat:diharapkan dapat:
Tujuan
Tujuan

13

media
media
media

Mewujudkan murid yang merdeka danMewujudkan murid yang merdeka dan

disiplin positif yang kuat.disiplin positif yang kuat.

Menumbuhkan budaya positif di sekolahMenumbuhkan budaya positif di sekolah
dengan meyakini nilai kebajikan universal.dengan meyakini nilai kebajikan universal.
Membangun motivasi intrinsik dari muridMembangun motivasi intrinsik dari murid

untuk bersikap disiplin agar menjadiuntuk bersikap disiplin agar menjadi
pribadi yang kritis, penuh hormat, danpribadi yang kritis, penuh hormat, dan

bertanggung jawab.bertanggung jawab.

14

media
media
media

Mewujudkan murid yang merdeka danMewujudkan murid yang merdeka dan
disiplin positif yang kuat.disiplin positif yang kuat.
Menumbuhkan budaya positif di sekolahMenumbuhkan budaya positif di sekolah
dengan meyakini nilai kebajikan universal.dengan meyakini nilai kebajikan universal.
Membangun motivasi intrinsik dari muridMembangun motivasi intrinsik dari murid
untuk bersikap disiplin agar menjadi pribadiuntuk bersikap disiplin agar menjadi pribadi
yang kritis, penuh hormat, danyang kritis, penuh hormat, dan
bertanggung jawab.bertanggung jawab.

Tolok Ukur

15

media
media
media

Melakukan sosialisasi tentang budaya positifMelakukan sosialisasi tentang budaya positif
Menjelaskan tentang pengertian dan pentingnyaMenjelaskan tentang pengertian dan pentingnya
keyakinan kelas/keskeyakinan kelas/kesepakatan kelasepakatan kelas

Memfasilitasi murid untuk membuat keyakinanMemfasilitasi murid untuk membuat keyakinan
kelas/kesepakatan kelas di dinding kelaskelas/kesepakatan kelas di dinding kelas
Menempelkan kesepakatan kelas di dinding kelasMenempelkan kesepakatan kelas di dinding kelas
Meminta murid untuk menulis keyakinanMeminta murid untuk menulis keyakinan
kelas/kesepakatan kelas yang telah disepakatikelas/kesepakatan kelas yang telah disepakati
bersama agar selalu mudah diingatbersama agar selalu mudah diingat
Melaksanakan keyakinan kelas/kesepakatan kelasMelaksanakan keyakinan kelas/kesepakatan kelas
dengan konsistendengan konsisten
Membuat dokumentasiMembuat dokumentasi

Linimasa tindakan yang akan dilakukan

16

media
media
media

17

media
media
media
media
media

BUDAYA POSITIFBUDAYA POSITIF

KEYAKINAN KELAS

HUKUMAN DAN SANKSI

POSISI KONTROL GURU

18

media
media
media
media

Pertanyaan PemantikPertanyaan Pemantik

Mengapa keyakinan kelas? Mengapa bukan tata tertib/ peraturan saja?

Mengapa kita memiliki peraturan “harus menggunakan masker untuk
keluar rumah saat pandemic covid?”
Mengapa kita memiliki peraturan “Harus memakai
helm saat bersepeda motor”?

Mengapa kita memiliki peraturan “Dilarang
membuang sampah sembarangan?”

19

media
media
media
media

KEYAKINAN KELAS

Nilai-nilai yang berlaku dan diyakini di dalam kelas

Merupakan bagian dari kedisiplinan
positif yang diterapkan berulang-ulang
sehingga dapat menjadi kebiasaan dan
akhirnya membentuk karakter murid
yang disiplin.

20

media
media
media
media

BUDAYA POSITIFBUDAYA POSITIF

Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai
suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal
yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku,
negara, bahasa maupun agama.

Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih
memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi
secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan
bersemangat untuk menjalankan keyakinannya,
daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian
peraturan. Murid-murid pun demikian

21

media
media
media
media

Mengapa keyakinan kelas?
Mengapa bukan tata tertib/

peraturan saja?

Mengapa keyakinan kelas?
Mengapa bukan tata tertib/

peraturan saja?

Karena

murid

perlu

mendengarkan

dan

mendalami sendiri tentang suatu keyakinan
supaya timbul motivasi intrinsik (dari dalam),
dari pada hanya mendengarkan peraturan-
peraturan yang mengatur mereka.

22

media
media
media
media

5 Posisi Kontrol Dalam

Mewujudkan Budaya Positif,

5 Posisi Kontrol Dalam

Mewujudkan Budaya Positif,

Kelima posisi kontrol tersebut adalah
(1) Penghukum,
(2) Pembuat Rasa Bersalah,
(3) Teman,
(4) Pemantau dan
(5) Manajer.

23

media
media
media
media

Pertama, posisi kontrol penghukum.

Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman
fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan
posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa
sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat
lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-
guru yang menerapkan posisi penghukum akan
berkata:

"Patuhi aturan saya, atau awas!"
Ciri khas penghukum adalah nada suara tinggi, bahasa tubuh:
mata melotot, dan jari menunjuk-nunjuk menghardik,

24

media
media
media

Pada posisi ini biasanya guru atau orang tua akan bersuara lebih
lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang
membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri.
Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti:

"Bapak sangat kecewa sekali dengan kamu"
Ciri

khas

pembuat

merasa

bersalah

adalah

nada

suara

memelas/halus/sedih, bahasa tubuh: merapat pada anak, lesu,

"Nak, kamu ini bagaimana ya? Kamu sudah berjanji dengan Bapak tidak
akan terlambat lagi. Kamu kenapa ya senang sekali mengecewakan
Bapak. Bapak benar-benar kecewa sekali.

Kedua, posisi kontrol pembuat merasa

bersalah.

25

media
media
media

Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan
tetap berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasif.
Posisi teman pada guru bisa berdampak negatif atau
berdampak positif. Berdampak positif di sini berupa hubungan
baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman
menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi
seseorang. Mereka akan berkata:

"Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Bapak bantu bereskan".

Berdampak negatif dari posisi konrol teman adalah bila suatu
saat guru tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa
dan berkata, "Saya pikir bapak adalah teman saya"

Ketiga, posisi kontrol teman

26

media
media
media

Guru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap
berupaya mengontrol murid melalui pendekatan persuasif. Posisi teman
pada guru bisa berdampak negatif atau berdampak positif. Berdampak
positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid.
Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk
mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata:

"Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Bapak bantu bereskan".

Berdampak negatif dari posisi konrol teman adalah bila suatu saat guru
tersebut tidak membantu maka murid akan kecewa dan berkata, "Saya
pikir bapak adalah teman saya"
Ciri khas posisi kontrol teman adalah nada suara: ramah, akrab, dan
bercanda, bahasa tubuh: merapat pada murid, mata dan senyum jenaka,

Ketiga, posisi kontrol teman

27

media
media
media
media

Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita
bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi.
Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan
konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita
dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid,
sebagai

seseorang

yang

menjalankan

posisi

pemantau.

Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau: "Sanksi atau
konsekuensinya apa?"

Keempat, Posisi kontrol pemantau.

Ciri khas Pemantau adalah dengan nada suara datar, bahasa tubuh yang formal, misalnya
:

Guru: "Adi, tahukah kamu jam berapa kita memulai?
Konsekuensi logis dari penerapan posisi kontrol pemantau adalah murid memahami
konsekuensi yang harus dijalankan karena telah melanggar salah satu peraturan sekolah

28

media
media
media
media

Posisi kontrol terakhir adalah manajer yaitu posisi di mana guru
berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilahkan murid
mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar
dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

Kelima, Posisi kontrol manajer

Disini penekanan bukan pada kemampuan membuat
konsekuensi, namun dapat berkolaborasi dengan murid
bagaimana memperbaiki kesalahan yang ada. Seorang
manajer akan berkata
"Apa yang kita yakini?”
Tugas seorang manajer bukan untuk mengatur perilaku seseorang tapi
membimbing murid untuk dapat mengatur dirinya.
Ciri khas posisi kontrol manajer adalah nada suara tulus, bahasa tubuh
tidak kaku, mendekat ke murid,

29

media

Thank You
Thank You
Do You Have Any QuestionDo You Have Any Question

For Me?For Me?

media
media
media

AKSI NYATA
MODUL 1.4

Zaituni

BUDAYA POSITIF

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 29

SLIDE