

Untitled Lesson
Presentation
•
Specialty
•
Professional Development
•
Practice Problem
•
Hard
Erik Rachim
FREE Resource
9 Slides • 0 Questions
1
1
1 |
P a g e
Makassar, 06 Desember 2023
Pelatihan Kepemimpinan Pengawas PKP
Bahan Ajar
AKTOR DAN LINGKUNGAN KEBIJAKAN PUBLIK
by Dr. Erik Rachim, ST., M.AP
1. Aktor Kebijakan Publik
Setiap kebijakan publik akan selalu melibatkan sekelompok orang dengan
peran yang berbeda-beda. Sebutan publik yang juga mencakup makna berlingkup
kelompok lebih memperjelas bahwa substansi suatu kebijakan publik bersifat
terbatas. Misalnya, kebijakan pertanian hanya akan melibatkan petani dan pihak-
pihak lain yang berkaitan dengan pertanian. Contoh tersebut tentu saja pemerintah
akan selalu terlibat, mengingat kebijakan publik adalah kebijakan yang dibuat oleh
pejabat/lembaga pemerintah. Secara umum, semua pihak yang terlibat tersebut
disebut sebagai aktor kebijakan. Secara lebih konkret, aktor kebijakan adalah
semua individu atau kelompok yang terlibat baik dengan peran mempengaruhi
ataupun dengan peran dipengaruhi dalam suatu proses kebijakan. Anderson
(1994;54 dan 63) membedakan aktor kebijakan ke dalam dua kelompok. Kelompok
pertama, disebutnya sebagai pembuat kebijakan formal yang terdiri atas legislatif,
eksekutif, dan pengadilan. Kelompok kedua disebutnya sebagai partisipan informal
2
2
2 |
P a g e
yang mencakup kelompok kepentingan, partai politik, organisasi penelitian, media
massa, perguruan tinggi, dan warga negara.
Sebagai aktor kebijakan publik yang formal, legislatif terlibat dalam tugas-
tugas politik sentral berupa pembuatan undang-undang dan pembentukan
kebijakan dalam suatu sistem politik. Fungsi legislatif mencakup representasi opini
dan kepentingan, formulasi kebijakan, kontrol keuangan, supervisi eksekutif, dan
pembuatan undang-undang. Aktor kebijakan publik formal lainnya adalah eksekutif.
Dari unsurnya, eksekutif paling tidak dapat dibedakan atas presiden dan jawatan
administratifnya. Kapasitas eksekutif dalam menjalankan perannya pada proses
pembuatan kebijakan publik akan banyak ditentukan oleh perilaku dan politik
birokrasi dan kondisi masyarakat. Perilaku birokrasi dan politik birokrasi akan
sangat memberi warna pada kebijakan publik istilah seperti “omission atau
commissio” dan “pasal atau pasar” merupakan dua contoh kemungkinan tindakan
atau perilaku birokrasi dalam membuat kebijakan publik. Kemungkinan tindakan
tersebut dapat bermula dari kerentanan birokrasi untuk mengalami penyakit berupa
inefisiensi dan penyimpangan atau pilhan orientasi berupa spoil system dan
kemungkinan penerapan strategi koalisi dengan legislatif atau yudikatif.
Kelayakan eksekutif dalam proses kebijakan publik juga berkaitan dengan
kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat tersebut terutama menyangkut seberapa
jauh masyarakat dapat memainkan peran aktif untuk menjamin bahwa kebijakan
publik selalu relevan dengan pencapaian tujuan pemerintahan negara dalam
mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Setidak-tidaknya ada tiga kondisi
3
3
3 |
P a g e
masyarakat yang akan mempengaruhi kemampuan aktualisasi peran mereka
tersebut, yaitu kemiskinan, partisipasi, dan demokrasi.
Pengadilan merupakan bagian dari yudikatif yang dinilai relevan dalam
proses kebijakn publik. Pemeran formal dalam proses kebijakan publik ini berperan
melalui kewenangannya untuk melakukan peninjauan kembali (judisial review) atas
kebijakan yang ditetapkan oleh badan legislatif dan eksekutif. Hasil dari proses
tersebut pada dasarnya merupakan pengaturan kembali terhadap kebijakan publik
yang menjadi obyek peninjauan kembali. Howlet & Ramesh (1995;59) membahas
aktor kebijakan formal tersebut, yaitu legislatif, eksekutif, dan pengadilan, dengan
istilah institusi/lembaga negara. Dengan pemahaman bahwa kebijakan publik
ditetapkan oleh lembaga negara, maka kualitas lembaga negara akan sangat
menentukan kualitas kebijakan publik bagi kepentingan warga negara. Howlet &
Ramesh (1995;64) juga menyatakan bahwa struktur birokrasi mungkin memiliki
pengaruh yang paling kuat terhadap proses kebijakan publik khususnya pada level
sektoral.
Secara detail, aktor kebijakan pada partisipan informal atau institusi
masyarakat mencakup kelompok kepentingan, partai politik, organisasi penelitian,
media massa, perguruan tinggi, dan warga negara.
Kelompok kepentingan merupakan komponen kunci dalam kehidupan
masyarakat yang demokratis. Kelompok kepentingan merupakan cerminan dari
perwujudan kemerdekaan untuk berserikat dan berkumpul. Kenyataan ini
menjadikan kelompok kepentingan merupakan aktor kebijakan publik yang
4
4
4 |
P a g e
signifikan. Semakin demokratis suatu pemerintahan, semakin berperan kelompok
kepentingan dalam proses kebijakan publik.
Partai politik meupakan wujud lain, selain kelompok kepentingan, dari
kemerdekaan berserikat dan berkumpul yang dimiliki oleh warga negara. Melalui
partai politik, warga negara berkesempatan untuk melaksanakan kekuasaan
pemerintahan, yakni ketika muncul sebagai partai politik pemenang pemilihan
umum. Dengan peranan tersebut, partai politik memiliki pengaruh besar terhadap
kualitas penyelenggaraan pemerintahan.
Dalam kehidupan pemerintahan yang demokratis, warga negara memiliki
kesempatan luas untuk memberikan masukan mengenai penyelenggaraan
pemerintahan. Salah satu bentuknya adalah dengan membentuk organisasi
penelitian. Melalui organisasi penelitian, warga negara atau sekelompok warga
negara berusaha untuk terlibat dalam proses kebijakan publik terutama pada tahap
pembentukan agenda kebijakan. Usaha tersebut diwujudkan melalui penelitian
mengenai masalah-masalah yang dinilai penting untuk dicari jalan keluarnya. Hasil
peneltian tersebut kemudian dipublikasikan atau dijadikan landasan untuk
melaksanakan advokasi.
Media massa merupakan stakeholder kebijakn publik yang memiliki peranan
signifikan dalam hampir semua proses kebijakan publik. Pemberitaan mengenai
suatu kejadian yang ditayangkan di media elektronik ataupun dimuat di media cetak
merupakan awal dari suatu pendefinisian masalah kebijakan publik. Pemberitaan
yang sama juga dapat berarti penyajian mengenai implementasi kebijakan yang
berkaitan dengan peristiwa yang diberitakan. Selain itu, pemberitaan tersebut juga
5
5
5 |
P a g e
dapat berarti bagian dari proses evaluasi kebijakan publik yang telah dilakukan.
Secara ringkas, Parsons et. al. (1994:107) menyatakan dampak dari media
terhadap persoalan sosial merupakan suatu aspek yang penting dari proses
pendefinisan masalah kebijakan, dalam pengertian bahwa media memunculkan
kesensitifan terhadap keberadaan suatu masalah dan sekaligus memperkuat
penilaian bahwa masalah tersebut benar-benar perlu untuk segera diselesaikan.
Walaupun tidak terlibat langsung dalam proses formal pembuatan kebijakan
publik, perguruan tinggi dapat memberikan sumbangan besar dalam proses
tersebut.
sumbangan
tersebut
terutama
berlangsung
dalam
konteks
pengembangan ilmu dan publikasi ilmiah. Di berbagai perguruan tinggi telah
berkembang studi mengenai kebijakan publik, yang kemudian berimplikasi pada
banyaknya dilakukan penelitian di bidang kebijakan publik. Hasil penelitian tersebut
kemudian dipublikasikan dan dibaca tidak saja di kalangan akademisi, tetapi juga
oleh kalangan pejabat pemerintah dan masyarakat luas. Tidak jarang perguruan
tinggi juga melakukan kerja sama dengan instansi pemerintah, baik untuk
mengevaluasi kebijakan publik yang telah atau sedang dilaksanakan maupun
dalam rangka mengidentifikasi masalah yang dinilai relevan atau krusial dalam
pelaksanaan pembangunan.
Warga negara juga merupakan aktor kebijakan yang tak dapat diabaikan.
Istilah warga negara secara sepintas akan menunjukkan keberadaan seorang
individu dalam suatu negara dan keterkaitannya dengan negara dalam bentuk hak
dan kewajiban. Keberadaan dan keterkaitan ini merupakan hal yang bersifat
mendasar bagi pembentukan dan bekerjanya suatu negara sebagai suatu
6
6
6 |
P a g e
organisasi atau komunitas politik. Makna warga negara atau kewarganegaraan
merupakan konsepsi dengan mana individu diberi keanggotaan, hak, dan tanggung
jawab dalam suatu komunitas politik, khususnya suatu kota atau suatu negara-
bangsa. Ia diberikan kepada individu oleh pemerintah, yang mempunyai otoritas
tunggal untuk menentukan kriteria kewarganegaraan dan manfaat yang mengalir
dari status tersebut. Selanjutnya, Soper (1996:173) mencoba menunjukkan makna
dan peranan warga negara melalui suatu aktivitas yang disebutnya sebagai
gerakan warga negara (citizen movement) dengan menyatakan bahwa gerakan
warga negara adalah upaya-upaya terorganisir oleh orang-orang yang mempunyai
nilai dan tujuan yang sama yang terikat dalam tindakan politik kolektif untuk
merubah atau melawan perubahan dalam beberapa aspek dari masyarakat. Itu
sebabnya, gerakan warga negara penting untuk demokrasi karena mereka
membuat orang-orang terlibat dalam politik, memunculkan isu-isu yang sebelumnya
tidak termasuk dalam proses kebijakan, dan membantu perubahan politik yang
fundamental dan dramatis. Dalam konteks itu Howlett & Ramesh (1995:65)
membuat suatu pengamatan yang menarik bahwa kemampuan suatu negara tidak
hanya ditentukan oleh bagaimana negara tersebut diorganisir secara internal, tetapi
juga oleh bagaimana negara dihubungakan dengan masyarakat yang masalahnya
dianggap dipecahkan melalui kebijakan publik yang tepat.
2. Lingkungan Kebijakan Publik
Secara umum, lingkungan kebijakan dalam praktek pemerintahan di
Indonesia dikenal dengan sebutan “asta-gatra”. Kedelapan dimensi tersebut
7
7
7 |
P a g e
dibedakan dalam dua kelompok, yakni yang bersifat fisik dan nonfisik. Kelompok
fisik mencakup tiga unsur, yakni letak geografis, kekayaan alam, dan jumlah
penduduk,
sedangkan
kelompok
nonfisik
dikenal
dengan
akronim
“ipoleksosbudhankamnas” yang mencakup lima aspek, yakni ideologi, politik,
ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan nasional.
Lingkungan kebijakan publik, yang umumnya paling banyak dibahas oleh
para ahli adalah budaya politik, di samping kondisi sosial ekonomi. Pemahaman
mengenai budaya politik dapat dimulai dari pemahaman mengenai budaya secara
umum. Clyde Kluckhohn dalam Anderson, (1994:47) menyatakan bahwa budaya
merupakan “cara hidup menyeluruh orang-orang, warisan sosial yang diperoleh
seseorang dari kelompoknya”. Dengan pemahaman umum tersebut, maka budaya
politik menunjukkan “nilai, keyakinan, dan sikap yang diyakini secara luas tentang
apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, bagaimana mereka seharusnya
bertindak, dan hubungan antara warga negara dan pemerintah” Anderson,
(1994:47). Berdasarkan pemahaman tersebut, budaya politik paling tidak dapat
dicermati dari nilai atau makna yang diberikan oleh warga negara kepada
pemerintah, dan nilai atau makna yang dimiliki oleh masyarakat mengenai
partisipasinya dalam sistem politik.
Pada dimensi partisipasi warga negara dalam sistem politik, Gabriel A.
Almond dan Sidney Verba dalam Anderson (1994:49) mengenalkan tiga bentuk
budaya politik, yakni parokial, subjek, dan partisipan. Dengan budaya politik
parokial, warga negara mempunyai sedikit kesadaran tentang (atau orientasi pada),
baik sistem politik sebagai keseluruhan, proses input, dan proses output, maupun
8
8
8 |
P a g e
warga negara sebagai partisipan politik. Pada budaya politik subjek, warga negara
diorientasikan pada sistem politik dan proses output, tetapi mempunyai sedikit
kesadaran mengenai proses input atau mengenai individual sebagai partisipan.
Sedangkan pada budaya politik partisipan, warga negara mempunyai tingkat
kesadaran dan informasi politik yang tinggi bersamaan dengan orientasi yang jelas
mengenai sistem politik secara keseluruhan, proses input dan output-nya, dan
partisipasi warga negara yang bermakna dalam politik.
Globalisasi pada umumnya dipahami sebagai proses meningkatnya saling
ketergantungan masyarakat dunia. Giddens (1989:519-520) menyatakan bahwa
globalisasi hubungan-hubungan sosial hendaknya dipahami terutama sebagai
penataan kembali waktu dan jarak dalam kehidupan kita. Dalam konteks globalisasi
juga disadari semakin berkembangnya rezim internasional. Dalam hal ini, rezim
dimaknai sebagai “seperangkat tatanan pengaturan/pemerintahan” atau “jaringan
peraturan, norma, dan prosedur yang mengatur perilaku dan mengontrol
akibatnya”. Berkaitan dengan pembuatan kebijakan pemerintahan suatu negara,
maka rezim internasional di bidang perdagangan dan keuangan jelas paling penting
dalam analisis kebijakan publik. Howlett & Ramesh (1995:70). Implikasi dari
globalisasi
bermula
dari
kecenderungan
bahwa
lingkungan
internasional
membentuk kebanyakan konteks pembuatan kebijakan nasional. Pembuat
kebijakan di setiap negara berbagai suatu konteks kebijakan yang dibentuk oleh
siklus ekonomi internasional mengenai kemakmuran, resesi, depresi, dan upaya
perbaikan. Media massa dan konferensi internasional memudahkan proses
pemaduan kebijakan ini. Pembuat kebijakan di suatu negara berupaya mengikuti
9
9
9 |
P a g e
sukses dari negara tetangganya. Dalam suasana dan perkembangan tersebut,
semakin perlu dipahami karakteristik politik global yang berpotensi besar mewarnai
peraturan dan keadaan suatu negara termasuk pemerintahan daerahnya.
Karakteristik tersebut terdiri atas : kompleksitas dan keanekaragaman, pola
interaksi yang intensif, keterembesan negara-bangsa, perubahan yang cepat dan
meningkat, kerapuhan tatanan dan pemerintahan.
1
1 |
P a g e
Makassar, 06 Desember 2023
Pelatihan Kepemimpinan Pengawas PKP
Bahan Ajar
AKTOR DAN LINGKUNGAN KEBIJAKAN PUBLIK
by Dr. Erik Rachim, ST., M.AP
1. Aktor Kebijakan Publik
Setiap kebijakan publik akan selalu melibatkan sekelompok orang dengan
peran yang berbeda-beda. Sebutan publik yang juga mencakup makna berlingkup
kelompok lebih memperjelas bahwa substansi suatu kebijakan publik bersifat
terbatas. Misalnya, kebijakan pertanian hanya akan melibatkan petani dan pihak-
pihak lain yang berkaitan dengan pertanian. Contoh tersebut tentu saja pemerintah
akan selalu terlibat, mengingat kebijakan publik adalah kebijakan yang dibuat oleh
pejabat/lembaga pemerintah. Secara umum, semua pihak yang terlibat tersebut
disebut sebagai aktor kebijakan. Secara lebih konkret, aktor kebijakan adalah
semua individu atau kelompok yang terlibat baik dengan peran mempengaruhi
ataupun dengan peran dipengaruhi dalam suatu proses kebijakan. Anderson
(1994;54 dan 63) membedakan aktor kebijakan ke dalam dua kelompok. Kelompok
pertama, disebutnya sebagai pembuat kebijakan formal yang terdiri atas legislatif,
eksekutif, dan pengadilan. Kelompok kedua disebutnya sebagai partisipan informal
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 9
SLIDE
Similar Resources on Wayground
6 questions
W15 Risk
Lesson
•
Professional Development
7 questions
Mastery Peak_Enny
Lesson
•
Professional Development
7 questions
W7 Quiz 2024
Lesson
•
Professional Development
7 questions
RAKOOR IPS
Lesson
•
Professional Development
8 questions
W10 Quiz 2024
Lesson
•
Professional Development
9 questions
MODUL-Gangguan & Perbaikan Pada Sistem Rem Mekanik
Lesson
•
Professional Development
8 questions
W1 Risk
Lesson
•
Professional Development
9 questions
Risk W31
Lesson
•
Professional Development
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
10 questions
Probability Practice
Quiz
•
4th Grade
15 questions
Probability on Number LIne
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
6 questions
Appropriate Chromebook Usage
Lesson
•
7th Grade
10 questions
Greek Bases tele and phon
Quiz
•
6th - 8th Grade
Discover more resources for Specialty
20 questions
Black History Month Trivia Game #1
Quiz
•
Professional Development
20 questions
90s Cartoons
Quiz
•
Professional Development
12 questions
Mardi Gras Trivia
Quiz
•
Professional Development
7 questions
Copy of G5_U5_L14_22-23
Lesson
•
KG - Professional Dev...
12 questions
Unit 5: Puerto Rico W1
Quiz
•
Professional Development
42 questions
LOTE_SPN2 5WEEK2 Day 4 We They Actividad 3
Quiz
•
Professional Development
15 questions
Balance Equations Hangers
Quiz
•
Professional Development
31 questions
Servsafe Food Manager Practice Test 2021- Part 1
Quiz
•
9th Grade - Professio...