
hikayat abu nawas-pesan bagi para hakim
Presentation
•
Other
•
10th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
WILDA ERLY NOERSCA
Used 2+ times
FREE Resource
26 Slides • 0 Questions
1
2
Bagaimana persaan Anda sekarang?
Apakah Anda sudah siap untuk menyusuri
nilai dalam cerita lintas zaman?
Apakah Anda pernah membaca teks
hikayat?
Asesmen Diagnostik
Capaian Pembelajaran: Peserta didik membaca dan merespon teks
cerita hikayat agar dapat mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang
terkandung di dalamnya baik lisan maupun tulis.
Profil Pelajar Pancasila: Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang
Maha
Esa, dan berakhlak
mulia
dalam
elemen berdoa;
berkebinekaan global elemen mempelajari teks hikayat; bernalar
kritis, elemen memproses informasi dan gagasan dalam teks hikayat.
Fase E: Peserta didik mengevaluasi informasi berupa gagasan, pikiran,
pandangan, arahan atau pesan dari teks deskripsi, laporan, narasi,
rekon, eksplanasi, eksposisi dan diskusi, dari teks visual dan audiovisual
untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat.
Wilda Erly Noersca, S.Pd. – SMK Negeri 1 Sepauk
Durasi 2 x 45 menit
BAB 3
MENYUSURI NILAI DALAM CERITA LINTAS ZAMAN
Fase E
Membaca dan Memirsa Teks Hikayat
3
Asesmen Formatif:
Mempresentasikan pokok isi
yang terkandung dalam
cuplikan hikayat.
Aktivitas Pembelajaran Siswa
1.Membaca doa sebelum memulai pembelajaran.
2.Membaca tujuan pembelajaran dengan seksama.
3.Mencermati video pembelajaran.
4.Mengeksplorasi materi teks hikayat.
5.Membaca cuplikan hikayat.
6.Memahami pokok-pokok isi dan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat.
7.Mendiskusikan hasil pemikiran dalam mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang
terkandung dalam teks hikayat.
8.Mempresentasikan hasil diskusi.
9.Menjawab asesmen dalam modul.
10.Refleksi diri.
Peserta didik dapat mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung
dalam cerita rakyat (hikayat) baik lisan maupun tulis melalui pendekatan
model projek base learing.
4
Bacalah penggalan hikayat berikut dengan cermat!
HIKAYAT ABU NAWAS – PESAN BAGI PARA HAKIM
Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya
Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk menguburjenazah bapaknya itu
sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi
Maulana baik mengenai tatacara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo’akannya,
maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan
bapaknya.
Namun… demi mendengar rencana sang Sultan. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak
berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan
diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan
bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menjadi terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam
bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita.
Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah
menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.
“HaiAbuNawaskaudipanggilSultanuntukmenghadapkeistana.”katawazirutusanSultan.
“Buatapasultanmemanggilku,akutidakadakeperluandengannya.”jawabAbuNawas dengan
entengnya seperti tanpa beban.
“HaiAbuNawaskautidakbolehberkatasepertiitukepadarajamu.”
“Hai wazir, kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih
dan segar.” kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yangdijadikan kuda-kudaan.
Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas. “Abu
Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?” kata wazir.
5
“Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau.” kata Abu Nawas. “Apa
maksudnya Abu Nawas?” tanyawazir dengan rasa penasaran.
“Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu.” sergah Abu Nawas sembari menyaruk debudan dilempar
ke arah si wazir dan teman-temannya.
Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan AbuNawas yang seperti
tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid.
Dengan geram Sultan berkata,”Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus!
Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa.”
Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu Nawas di hadirkan di hadapan raja.
Namunlagi-lagididepanrajaAbuNawasberlagakpilonbahkantingkahnyaugal-ugalantak selayaknya
berada di hadapan seorang raja.
“Abu Nawas bersikaplah sopan!” tegur Baginda. “Ya
Baginda, tahukah Anda….?”
“ApaAbuNawas…?”
“Baginda… terasi itu asalnya dari udang !” “Kurang
ajar kau menghinaku Nawas !”
“TidakBaginda!Siapabilangudangberasaldariterasi?”
Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada para pengawalnya. “Hajar dia !
Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali”
Wah-wah!AbuNawasyangkuruskeringituakhirnyalemastakberdayadipukulitentarayang bertubuh
kekar.
Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.]
“Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau
lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu
bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?”
“Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah Baginda yang diberikan kepada tadi?”
6
“lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?” “Baik,
aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!”
“Wan ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan sudah sering menerima hadiah dari
Baginda.”
Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu
dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit-jerit kesakitan dan
menganggap Abu Nawas telah menjadi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah
pulang ke rumahnya.
SementaraitusipenjagapintugerbangmengadukannasibnyakepadaSultanHarunAlRasyid.
“Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang teiah
memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku
Baginda.”
Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan
Baginda ia ditanya.”Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini
sebanyak dua puluh lima kali pukulan?”
Berkata Abu Nawas,”Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah sepatutnya dia menerima pukulan
itu.”
“Apamaksudmu?Cobakaujelaskansebabmusababnyakaumemukuliorangitu?”tanyaBaginda.
“Tuanku,”kata Abu Nawas.”Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa
jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian untuknya satu
bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula
hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya.”
“Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjianseperti itu dengan Abu Nawas?”
tanya Baginda.
“BenarTuanku,”jawabpenunggupintugerbang.
“TapihambatiadamengirajikaBagindamemberikanhadiahpukulan.”
“Hahahahaha! Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!”sahut Baginda.”Abu Nawas tiada bersalah,
bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka
memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum
kamu!”
“AmpunTuanku,”sahutpenjagapintugerbangdengangemetar.
7
Abu Nawas berkata,”Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini,
padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang
karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba.”
Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba ia tertawa terbahak- bahak,
“Hahahaha…jangan kuatir Abu Nawas.”
Baginda kemudian memerintahkan bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas.
Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan semakin nyentrik seperti orang gila
sungguhan.
Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya. “Apa
pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai kadi?”
Wazir atau perdana meneteri berkata,”Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka
sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi.”
Menteri-menteriyanglainjugamengutarakanpendapatyangsama.
“Tuanku,AbuNawastelahmenjadigilakarenaitudiataklayakmenjadikadi.”
“Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-
sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja.”
Setelah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain
menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi
Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi,
maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda
menyetujuinya.
Begitu mendengar Polan diangkatmenjadikadi maka AbuNawasmengucapkan syukur kepada Tuhan.
“Alhamdulillahakutelahterlepasdaribalakyangmengerikan.
Tapi.,..sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja.” Mengapa Abu
Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:
Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggii Abu Nawas untuk menghadap.
Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.
8
Apa nilai-nilai dan isi
yang terkandung dalam
teks hikayat di atas?
Diskusikanlah dengan temanmu!
Berkata bapaknya,”Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah telinga kanan dan telinga kiriku.”
Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau
harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.
“Bagamaina anakku? Sudah kau cium?” “Benar
Bapak!”
“Ceritakankandengansejujurnya,baunyakeduatelingakuini.”
“Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau harum sekali. Tapi… yang
sebelah kiri kok baunya amat busuk?”
“Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?” “Wahai
bapakku, cobalah ceritakan kepada anakmu ini.”
Berkata Syeikh Maulana “Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang
seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar
pengaduannya. Inilah resiko menjadi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menjadi Kadi maka kau akan
mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buatlah alasan yang masuk akal
agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al
Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi.”
Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat
menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutussuatu
perkara. Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi olehsang Raja untuk
memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab
pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.
(https://dongengkakrico.wordpress.com/pendongeng-hikayat/hikayat-abu-nawas-
pesan-bagi-para-hakim/)
9
Perkara Si Bungkuk dan Si Panjang
Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-
tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri
berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak
menyeberang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya kalau-kalau ada orang lalu
berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing
sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya.
Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka
pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, “Apa upayaku hendak
menyeberang sungai ini?”
Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu,
“Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat
berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya.” Setelah didengar oleh Bedawi
kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang
Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, “Untunglah sekali ini!”
Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga
lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang
tua itu, “Tuan hamba seberangkan apalah hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu,
“Sebagaimana hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu
maka boleh, karena air ini dalam.”
Maka kata orang tua itu kepada istrinya, “Pergilah diri dahulu.” Setelah itu maka turunlah
perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu,
“Berilah barang-barang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan.” Maka
diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah
perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air
itu, supaya dikata oleh si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan
sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, “Akan tuan ini terlalu elok
rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini?
Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit,
hamba jadikan istri hamba.” Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu.
Maka kata perempuan itu kepadanya, “Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu.”
Bacalah cuplikan hikayat berikut!
10
Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah
sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu
semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi
itu.
Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah
keduanya. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia
pun berkata-kata dalam hatinya, “Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah
aku mati.”
Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya
sungai itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutnya Bedawi
itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat
Masyhudulhakk itu.
Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka
disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan
perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, “Istri siapa perempuan ini?”
Maka kata orang tua itu, “Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba.”
Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Syahdan maka gemparlah. Maka
orang pun berhimpun, datang melihat hal mereka itu ketiga. Maka bertanyalah
Masyhudulhakk kepada perempuan itu, “Berkata benarlah engkau, siapa suamimu antara
dua orang laki-laki ini?
Maka kata perempuan celaka itu, “Si Panjang inilah suami hamba.”
Maka pikirlah Masyhudulhakk, “Baik kepada seorang-seorang aku bertanya, supaya
berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu.
Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya. Arkian maka diperiksa pula oleh
Masyhudulhakk. Maka kata perempuan itu, “Si Panjang itulah suami hamba.”
Maka kata Masyhudulhakk, “Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan
siapa mentuamu perempuan dan di mana tempat duduknya?”
Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk
perjauhkan. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. Maka kata Masyhudulhakk,
“Berkata benarlah engkau ini. Sungguhkah perempuan itu istrimu?”
Maka kata Bedawi itu, “Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba; lagi pula
perempuan itu sendiri sudah berikrar, mengatakan hamba ini tentulah suaminya.”
Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa, seraya berkata, “Jika sungguh istrimu
perempuan ini, siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan, dan di mana
kampung tempat ia duduk?”
11
Lakukan langkah-langkah pembelajaran berikut!
1. Setelah membaca cuplikan hikayat Perkara Si Bungkuk dan Si Panjang di atas, tuliskan pokok- pokok isi
dalam teks hikayat tersebut!
Paragrafke-
IdePokokCerita
1
2
3
4
5
6
7
dst…
Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki
Bedawi itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka kata Masyhudulhakk, “Hai
orang tua, sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?”
Maka kata orang tua itu, “Daripada mula awalnya.” Kemudian maka dikatakannya, siapa
mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana tempat duduknya
Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan
kebenaran orang tua itu. Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Maka
Bedawi itu pun mengakulah salahnya. Demikian juga perempuan celaka itu. Lalu didera oleh
Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Kemudian maka
disuruhnya tobat Bedawi itu, jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu.
Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu.
(https://dongengkakrico.wordpress.com/pendongeng-hikayat/hikayat-perkara-si-bungkuk-dan-si-Panjang)
12
2. Tunjukkannilai-nilaiyangterkandungdalamhikayatPerkaraSiBungkukdanSiPanjang!
No.
NilaiyangTerkandung
dalamHikayat
TeksyangMenunjukanNilaiHikayat
13
INFORMASI UMUM
I. IDENTITAS MODUL
Nama Penyusun
: Wilda Erly Noersca. S.Pd
Instansi
: SMK Negeri 1 Sepauk
Kelas / Fase
: X (Sepuluh) - E
Mata Pelajaran
: Bahasa dan Sastra Indonesia
Materi
: Teks Hikayat
Alokasi Waktu
: 1 x Pertemuan (90 Menit @2JP)
I. TUJUAN PEMBELAJARAN
Menyimak hikayat yang dibacakan oleh orang lain untuk memahami dan menganalisis
pesan dalam teks narasi berbentuk hikayat.
Membaca untuk menilai dan mengkritisi karakterisasi dan plot pada hikayat dan cerpen
serta mengaitkannya dengan nilai-nilai kehidupan yang berlaku pada masa lalu dan sekarang.
II. PEMAHAMAN BERMAKNA
Mampu mengidentifikasi karakteristik hikayat dan nilai-nilai yang terkandung dalam
hikayat.
Dapat menggunakan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat untuk membuat cerita
pendek.
III. PERTANYAAN PEMANTIK
Pertanyaan Pemantik:
Apa yang kalian ketahui tentang hikayat?
Apa yang dimaksud dengan nilai dalam hikayat?
Apa yang membedakan hikayat dengan cerpen?
IV. KEGIATAN PEMBELAJARAN
No
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi
14
Waktu
1
Pendahuluan
15 menit
Peserta didik menjawab salam dengan santun dan berdoa.
Peserta didikmenyiapkan diri agarsiap untuk belajarserta memeriksakerapian
dankebersihan diri danlingkungan sekitarbangku.
Peserta
didik
menyimak
penjelasan
serta
menjawabbeberapa
pertanyaan pemantik yang diajukan olehpendidik.
Memotivasi peseta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang
sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila; yaitu 1) beriman, bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bernalar kritis, 4)
kreatif, 5) bergotong royong, dan 6) berkebinekaan global, yang merupakan
salah satu kriteria standar kelulusan dalam satuan pendidikan.
2
Kegiatan Inti
60 menit
Pemberian
Rangsangan
(Stimulation)
Peserta
didik mendapatkan
pengantar
materi
terkait
karakterisasi dan plot dalam hikayat serta cerpen dari guru
atau sumber lainnya
Peserta didik menyimak video hikayat yang ditayangkan
oleh pendidik melalui proyektor LCD. (Mengamati)
Pernyataan/
Identifikasi
Masalah
(Problem
Statement)
Peserta didik membuatpertanyaan yangfaktual sampai
kepertanyaan yangbersifat hipotetisberkaitan dengan
isi video hikayat yang ditonton. (Menanya)
Peserta didik mengidentifikasi ide dan makna kata yang
terdapat dalam video dan teks hikayat.
Pengumpulan
Data (Data
Collection)
Peserta didik duduksecara berkelompok, setiap kelompok
terdiri dari 4 orang.
Peserta
didik
berdiskusi
dengan
kelompok
untukmemecahkan
masalahyang
ada
di
LKPD. (Mengumpulkan Informasi)
Pengolahan Data
(Data Processing)
Peserta
didik
berdiskusi
dalam
kelompok
untuk
menentukan
dan mengidentifikasi
informasi
yang
didapatkan melalui video dan teks berdasarkan panduan
dari LKPD yang diberikan. (Mengolah Informasi)
Peserta didik diminta menemukan isi pokok, nilai-nilai
dan makna kata dalam hikayat berdasarkan teks hikayat
yang dibaca.
Pembuktian
(Verification)
Peserta didikmenyimak dengansaksama penjelasandari
guru.
Peserta didik memeriksa kembali dengan cermat hasil
analisis teks hikayat dengan berdiskusi kelompok.
Peserta
didik
mempresentasikan
hasil
pekerjaan
kelompoknya
dan
ditanggapi
oleh
kelompok
lain. (Mengkomunikasikan)
Menarik
Simpulan/
Peserta didik menyimpulkan poin-poin penting dalam
kegiatan pembelajaran.
15
Generalisasi
(Generalization)
Peserta didik bertanya tentang materi atau hal-hal yang
belum dipahami dalam kegiatan pembelajaran.
Peserta didik menjawab pertanyaan yang diajukan oleh
pendidik.
3
Kegiatan Penutup
15 menit
Peserta didik merefleksikan hasil pengalaman belajar sesuai arahan pendidik.
Refleksi pencapaian/formatif asesmen, dan refleksi guru untuk mengetahui
ketercapaian proses pembelajaran dan perbaikan
Peserta didik mendengarkan arahan dari pendidik mengenai pembelajaran yang
akan dilakukan pada pertemuan berikutnya dan mendengarkan pesan dan
motivasi tetap semangat belajar.
Peserta didik menjawab salam dan berdoa untuk mengakhiri pembelajaran.
V. ASESMEN
Tes Tertulis
1.Analisislah nilai yang terkandung dalam penggalan hikayat di bawah ini!
Maka anakanda yang mulia baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh
tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji,
mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya
diketahuinya.
Nilai yang terkandung dalam penggalan hikayat tersebut adalah...
A. nilai agama
B. nilai sosial
C. nilai estetika (keindahan)
D. nilai edukasi (pendidikan)
E. nilai budaya
2.Cermatilah penggalan hikayat berikut!
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak
Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari ini
karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang membunuh
buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya
16
itu, itulah maka hamba datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani
hamba dan pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat
membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan
buraksa itu.
Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah…
A. Basmilah jika melihat kejahatan
B. Jangan menyombongkan diri
C. Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan
D. Hendaklah menolong orang yang dalam kesulitan
E. Bersyukurlah jika mendapat pertolongan
3.Analisislah nilai yang terkandung dalam penggalan hikayat di bawah ini!
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu akan bapak
Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara. Adapun sebabnya hamba kemari
ini karena hamba mendengar khabar anak raja sembilan orang hendak datang
membunuh buraksa dan merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba
datang kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan pada
bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah dapat membunuh
buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada dapat membunuh akan buraksa
itu.
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan sastra Melayu klasik tersebut adalah....
A. kekacauan penduduk akibat hasutan
B. ketidakpedulian raja kepada rakyatnya
C. kepedulian rakyat atas keselamatan rajanya
D. kekejaman raja terhadap rakyatnya
E. keadilan seorang raja kepada rakyatnya
4.Cermatilah penggalan hikayat berikut!
Alkisah, ini hikayat orang dahulu kala. Diceritakan orang yang empunya cerita ini
kisah pelanduk jenaka pri bijaksana pandai ia berbuat dusta segala binatang di dalam
hutan rimba belantara. Demikianlah bunyinya, sekali peristiwa ada seekor pelanduk,
maka ia duduk kepada suatu rimba hampir dengan Gunung Indrakila namanya disebut
orang dan padang itupun …
17
luasnya. Maka, banyaklah pada tempat itu segala binatang marga satwa sekaliannya
berhimpun di sana.
Judul yang sesuai untuk penggalan hikayat di atas adalah….
A. Hikayat Pelanduk Jenaka
D. Hikayat Orang Dahulu Kata
B. Hikayat Gunung Indrakila
E. Hikayat Seekor Binatang
C. Hikayat Si Pendusta
5.Analisislah nilai yang terkandung dalam penggalan hikayat di bawah ini!
”Janganlah adinda bertanya jua” jawab baginda dengan sedihnya.
”Pertanyaan itu hanya menambah luka Tuanku jua semata.” ”Ampun,
Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun
bagaimana juga cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati
karena kesedihan tiada buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah
ditakdirkan tiada juga akan tertolak olehnya.”
(Hikayat Kalilah dan Dimnah)
Nilai moral yang tertuang dalam penggalan cerita tersebut tampak pada perbuatan….
A. menghormati orang lain
B. mendahulukan kepentingan umum
C. menegur orang dengan bahasa yang sopan
D. menolong orang tua yang sedang menderita
E. membantu orang yang sedang bersedih hati
6.Cermatilah penggalan hikayat berikut!
Sebermula, maka adalah pada masa itu dalam pulau Singapura itu tiadalah ada binatang buas
atau jinak yang kelihatan melainkan tikus. Maka, beribu-ribu tikus tanah itu sepanjang jalan
serta dengan besar-besarnya hampir bagai kucing adanya. Maka jikalau kita berjalan pada
malam, dilanggarkannya, beberapa banyak orang jatuh, demikianlah besarnya. Maka pada
suatu malam di rumah tempat kutinggal itu ada dipelihara beberapa kucing. Maka pada
setengah malam kedengaran kucing mengiau-ngiau. Keluarlah kawanku dengan membawa
damar, hendak pergi melihat apakah sebabnya kucing itu. Maka serta dilihatnya ada enam
tujuh ekor tikus berkerumun menggigit kucing itu. Ada yang menggigit pipinya sehingga
tiadalah boleh bergerak lagi kucing itu melainkan mengiau-ngiau saja.
18
(Hikayat Abdulah)
Isi yang diungkapkan dalam penggalan hikayat tersebut adalah…
A. Di pulau Singapura kucing dan tikus saling bermusuhan.
B. Di mana pun tikus selalu memangsa kucing.
C. Di Singapura terdapat banyak tikus.
D. Di Singapura tidak terdapat banyak binatang buas.
E. Kucing hanya bisa mengiau-ngiau saja.
7.Analisislah nilai yang terkandung dalam penggalan hikayat di bawah ini!
Maka baginda pun bimbanglah, tida tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena
anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat, iya
menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda dan
berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah
yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat tersebut yaitu...
A. nilai moral
B. nilai agama
C. nilai budaya
D. nilai pendidikan
E. nilai social
8.Analisislah penggalan hikayat “Indera Bangsawan” berikut!
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan
pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji
kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat tersebut yaitu...
A. nilai moral
B. nilai agama
19
C. nilai budaya
D. nilai pendidikan
E. nilai social
9.Cermatilah penggalan hikayat tersebut!
Pengganti Hang Tuah di keraton adalah Hang Jebat. Sesungguhnya, ia menaruh dendam atas
keputusan raja yang dijatuhkan kepada sahabatnya, Hang Tuah.
Karena setia kepada sahabatnya, ia mengamuk di keraton. Putri-putri dan dayang- dayang
diperlakukan kurang sopan sehingga banyak jugalah orang yang mati karena kerisnya, yang
diberikan Hang Tuah kepadanya. Tiada seorang pun yang berani mendinginkan sehingga
raja sendiri pun terlibat pula dalam kesulitan dan ketakutan.
Dari kutipan cerita di atas kita dapat mengetahui bahwa Hang Jebat berwatak….
A. pemberani
B. baik budi
C. sombong
D. setia
E. kasar
10.Analisislah penggalan hikayat berikut!
Adapun Raja Kabir itu takluk kepada Buraksa dan akan menyerahkan putrinya, Puteri
Kemala Sari sebagai upeti. Kalau tiada demikian, negeri itu akan dibinasakan oleh Buraksa.
Ditambahkannya bahwa Raja Kabir sudah mencanangkan bahwa barang siapa yang dapat
membunuh Buraksa itu akan dinikahkan dengan anak perempuannya yang terlalu elok
parasnya itu. Hatta berapa lamanya Puteri Kemala Sari pun sakit mata, terlalu sangat. Para
ahli nujum mengatakan hanya air susu harimau yang beranak mudalah yang dapat
menyembuhkan penyakit itu.
Isi yang diungkapkan dalam penggalan hikayat tersebut adalah.…
A. Putri Kemala yang sakit mata.
B. Raja Buraksa menyerah kepada Kabir.
C. Putri Kemala sakit terlalu sangat lama.
D. Kesaktian ahli nujum yang menyembuhkan penyakit.
a) Penilaian Sikap / Profil Pelajar Pancasila
Selama proses mengajar berlangsung guru mengamati profil pelajar Pancasila pada siswa
dalam pembelajaran yang meliputi Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Kebhinekaan Global, Mandiri, Bernalar Kritis, Gotong Royong dan Kreatif (Instrumen
Terlampir)
20
b) Penilaian Pengetahuan
Penilaian pengetahuan yang dilakukan pada Capaian Pembelajaran ini sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin di capai adalah dengan tes tertulis (Instrumen Terlampir)
c) Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan yang dilakukan pada Capaian Pembelajaran ini sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang ingin di capai adalah dengan tes unjuk kerja / praktek (Instrumen
Terlampir)
VI. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
Siswa dapat membaca teks hikayat lainnya
Siswa dapat diminta untuk mengubah bagian teks hikayat lainnya.
Siswa dapat mengubah cerpen yang dibuat menjadi film gerak henti seperti yang terdapat
pada kegiatan “kreativitas” di buku siswa sebagai pekerjaan rumah. Jika fasilitas tidak
memungkinkan dapat juga mengubah cerpen menjadi naskah drama pendek.
Siswa dapat diminta untuk mengamati cara presentasi para tokoh publik maupun para
pembawa acara melalui media yang ada. Siswa dapat diminta agar melakukan penilaian
antarteman untuk memilih penyaji terbaik.
Remedial
Siswa diminta untuk menjawab secara lisan mengenai kegiatan pembelajaran hari ini.
Guru dapat memberikan skala 0–100 yang dapat dipilih siswa untuk menunjukkan
pemahaman mereka terhadap materi maupun aktivitas yang telah dilakukan.
VII. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
1. Apakah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan baik?
2. Apa momen paling berkesan saat proses kegiatan pembelajaran?
3. Apa tantangan yang dihadapi saat proses kegiatan pembelajaran?
4. Bagaimana cara mengatasi tantangan tersebut?
Refleksi Peserta Didik:
Tandai kegiatan yang sudah dilakukan atau pengetahuan yang sudah dipahami dengan tanda
centang (√).
Tabel Refleksi Pembelajaran
Pada Bab 3 ini
Sudah dapatMasih perlu
belajar lagi
Rencana
tindak lanjut
Peserta didik mampu memahami dan
menganalisis informasi dalam hikayat yang
dibacakan.
Peserta didik mampu menganalisis pesan
dalam teks hikayat yang dibacakan
21
Peserta didik mampu menilai dan mengkritisi
karakterisasi dan plot pada teks hikayat.
Peserta didik mampu menulis cerpen
berdasarkan nilai yang terkandung dalam
hikayat dan mempublikasikannya di media
cetak maupun digital.
Peserta didik mampu memahami kaidah-
kaidah bahasa yang digunakan dalam hikayat
dan cerpen.
Peserta didik mampu mempresentasikan cerita
pendek dengan menggunakan media yang
tepat sesuai dengan perhatian dan minat
pendengarnya.
Peserta didik mampu menulis resensi buku.
Hitunglah persentase penguasaan materi kalian dengan rumus berikut:
(Jumlah materi yang kalian kuasai/jumlah seluruh materi) 100%
1. Jika 70—100% materi di atas sudah dikuasai, peserta didik diberi aktivitas pengayaan.
2. Jika materi yang dikuasai masih di bawah 70%, peserta didik mendiskusikan kegiatan
remedial yang dapat dilakukan dengan guru.
22
MATERI POKOK
Struktur Hikayat
1.Abstraksi
Merupakan ringkasan ataupun inti dari cerita yang akan dikembangkan menjadi rangkaian-
rangkaian peristiwa atau bisa juga gambaran awal dalam cerita. Abstrak bersifat opsional yang
artinya sebuah teks hikayat boleh tidak memakai abstrak.
2.Orientasi
Adalah bagian teks yang berkaitan dengan waktu, suasana, maupun tempat yang berkaitan
dengan hikayat tersebut.
3.Komplikasi
23
Berisi urutan kejadian-kejadian yang dihubungkan secara sebab dan akibat. Pada bagian ini
kita bisa mendapatkan karakter ataupun watak dari tokoh cerita sebab kerumitan mulai
bermunculan.
4.Evaluasi
konflik yang terjadi yang mengarah pada klimaks mulai mendapatkan penyelesaiannya
dari konflik tersebut.
5.Resolusi
Pada bagian ini pengarang mengungkapkan solusi terhadap permasalahan yang dialami tokoh atau
pelaku.
6.Koda
Ini merupakan nilai ataupun pelajaran yang dapat diambil dari suatu teks cerita oleh pembacanya.
Ciri-Ciri dan Karakteristik Hikayat
Di bawah ini merupakan ciri-ciri hikayat, diantaranya sebagai berikut:
1.Bahasa
Bahasa yang digunakan pada hikayat itu adalah bahasa Melayu lama
2.Istana sentries
Pusat ceritanya itu berada didalam lingkungan istana. Hikayat tersebut seringkali bertema
dan berlatar kerajaan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tokoh yang diceritakan ialah
raja serta Pangeran (anak raja). Selain dari itu, latar tempat dalam cerita ini adalah negeri
yang dipimpin oleh raja dalam suatu kerajaan.
3.Pralogis (kemustahilan)
banyak cerita yang terdapat pada hikayat tidak bisa untuk di terima oleh akal. kemustahilan
dalam teks, baik dari segi bahasa ataupun juga dari segi cerita. Kemustahilan ini berarti hal
yang tidak logis atau juga tidak bisa diterima nalar. Contoh Seperti : bayi lahir disertai
pedang dan panah, seorang putri keluar dari gendang
4.Statis
Dalam Hikayat ini memiliki sifat yang kaku dan juga tetap.
24
5.Kesaktian
Seringkali kita dapat menemukan kesaktian pada para tokoh dalam hikayat.
Contohnya seperti : Syah Peri mengalahkan Garuda yang mampu untuk merusak sebuah
kerajaan, Raksasa memberi sarung kesaktian untuk dapat mengubah wujud serta kuda
hijau.
6.Anonim
Anonim berarti tidak diketahui dengan secara jelas nama pencerita atau pengarang. Hal
tersebut disebabkan karena cerita yang disampaikan itu secara lisan. artinya tidak jelas
siapa yang membuat/mengarang hikayat tersebut.
7.Arkais
Menggunakan kata arkhais, Bahasa yang digunakan pada masa lampau. Jarang
dipakai/tidak lazim digunakan dalam komunikasi pada masa kini. Contoh : hatta, maka,
titah, upeti, bejana, syahdan serta juga sebermula.
Unsur-Unsur Hikayat
Unsur-unsur hikayat itu terdiri dari unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik
dalam hikayat merupakan unsur yang membangun cerita dari dalam. Sedangkan, pada
unsur ekstrinsik merupakan suatu unsur yang membangun cerita tersebut dari luar.
Unsur Intrinsik Hikayat
Dibawah ini merupakan unsur-unsur intrinsik yang membangun sebuah hikayat, diantaranya
yaitu:
1.Tema, merupakan suatu gagasan yang mendasari sebuah cerita.
2.Latar, adalah tempat, waktu, serta situasi/suasana yang tergambar dalam suatu cerita.
3.Alur, merupakan sebuah jalinan peristiwa dalam sebuah cerita.
4.Amanat, merupakan sebuah pesan yang disampaikan oleh pengarang dengan melalui
sebuah cerita.
5.Tokoh, merupakan pemeran pada cerita. Penokohan merupakan penggambaran watak dari
sang tokoh.
6.Sudut pandang, merupakan pusat pengisahan darimana sebuah cerita dikisahkan oleh
pencerita.
7.Gaya, untuk gaya ini berhubungan dengan bagaimana cara penulis menyajikan sebuah
cerita dengan menggunakan bahasa serta juga unsur-unsur keindahan lainnya.
25
Unsur Ekstrinsik Hikayat
Unsur ekstrinsik pada hikayat ini biasanya berhubungan dengan latar belakang
(background) cerita, contohnya seperti latar belakang agama, adat, budaya serta lain
sebagainya. Unsur ekstrinsik ini juga berkaitan dengan nilai/norma kehidupan dalam cerita,
contohnya ialah seperti nilai moral, nilai agama, nilai budaya, nilai sosial, dan lain
sebagainya.
Jenis-Jenis Hikayat
Macam jenis hikayat ini dibedakan menjadi 2 yanki Hikayat berdasarkan Isinya dan
Hikayat berdasarkan asalnya, penjelasannya sebagai berikut :
Jenis Hikayat berdasarkan Isinya
Dengan berdasarkan isinya hikayat tersebut terbagi ke dalam :
1.Cerita Rakyat
2.Epos India
3.Cerita dari Jawa
4.Cerita-cerita Islam
5.Sejarah dan Biografi
6.Cerita berbingkat
Jenis Hikayat Berdasarkan Asalnya
Dengan berdasarkan asalnya, hikayat ini dibagi sebagai berikut:
Melayu Asli
Contoh Hikayat Melayu Asli, diantaranya yaitu:
1.Hikayat Hang Tuah (bercampur unsur islam)
2.Hikayat Si Miskin (bercampur unsur islam)
3.Hikayat Indera Bangsawan
4.Hikayat Malim DemanTeks Cerita Hikayat
26
DAFTAR PUSTAKA
Arti, Y. Budi. 2019. Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Mata Pelajaran Wajib Kelas X
Semester
1.Bekasi: Intan Pariwara.
Kak Rico. 2020. Hikayat Abu Nawas.
https://dongengkakrico.wordpress.com/pendongeng- hikayat/hikayat-abu-nawas-
pesan-bagi-para-hakim/ (diakses tanggal 16 Juli 2020)
Suherli, Maman Suryaman, dan Aji Septiadi. 2017. Bahasa Indonesia Kelas X.
Bandung: Kemendikbud.
Yusuf, Amin. 2017. Buku Bahasa Indonesia Kelas X. Bekasi: Intan Pariwara.
Mengetahui, Gernis Jaya, September 2024
Kepala SMK Negeri 1 Sepauk Guru Mata Pelajaran
Lazarus, S.Pd.,M.Si Wilda Erly Noersca, S.Pd
Pembina/ IV a
NIP.196507111994121003
NIP.199411302024212037
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 26
SLIDE
Similar Resources on Wayground
20 questions
KUIS INTERAKSI SOSIAL KELAS 10
Presentation
•
10th Grade
22 questions
Pergaulan Sehat
Presentation
•
10th Grade
21 questions
Strategi Belajar Efektif berdasarkan Gaya Belajar
Presentation
•
10th Grade
21 questions
kesadaran Gender pada Remaja
Presentation
•
10th Grade
20 questions
Teks LHO
Presentation
•
10th Grade
18 questions
Konektivitas antarruang dan waktu
Presentation
•
10th Grade
21 questions
Computer Networking
Presentation
•
10th Grade
20 questions
Grafik Fungsi Eksponensial
Presentation
•
10th Grade
Popular Resources on Wayground
20 questions
"What is the question asking??" Grades 3-5
Quiz
•
1st - 5th Grade
20 questions
“What is the question asking??” Grades 6-8
Quiz
•
6th - 8th Grade
10 questions
Fire Safety Quiz
Quiz
•
12th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
34 questions
STAAR Review 6th - 8th grade Reading Part 1
Quiz
•
6th - 8th Grade
20 questions
“What is the question asking??” English I-II
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
47 questions
8th Grade Reading STAAR Ultimate Review!
Quiz
•
8th Grade
Discover more resources for Other
20 questions
“What is the question asking??” English I-II
Quiz
•
9th - 12th Grade
10 questions
Fire Prevention
Quiz
•
9th - 12th Grade
50 questions
STAAR English 2 Review
Quiz
•
10th Grade
20 questions
Figurative Language Review
Quiz
•
10th Grade
20 questions
Grammar
Quiz
•
9th - 12th Grade
16 questions
AP Biology: Unit 1 Review (CED)
Quiz
•
9th - 12th Grade
20 questions
verbos reflexivos en español
Quiz
•
9th - 12th Grade
11 questions
Expectations Review
Quiz
•
9th - 12th Grade