Search Header Logo
sejarah

sejarah

Assessment

Presentation

Education

11th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Dliya Amnan

Used 5+ times

FREE Resource

18 Slides • 0 Questions

1

media

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

Hlm: 65-82

65

UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM:

PROBLEMATIKA DAN SOLUSI

Amatul Jadidah

Institut Agama Islam Al-Qolam Malang, Indonesia

Email: amatuljadidah@alqolam.ac.id

Received: April 2021

Accepted: Juli 2021

Published: Juli 2021

Abstract: Education is a means in building the character of the nation in building a highly
civilized society, where Islamic Religious Education is an important part.. For this reason, efforts
to improve the quality of religious education are important to overcome the problems. The
purpose of this study was to find out the problems of implementing Islamic religious education
and how to improve the quality of education at Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah in Wringinanom,
Poncokusumo District, Malang Regency. In this study, the researcher uses a qualitative type,
which emphasizes natural descriptions, and data collection or phenomena collection is carried
out from reasonable circumstances. Therefore, researchers are directly involved in the field. From
the results of the study, there were several problems found, namely: low cognitive abilities of
students; commitment, quality and competence of educators that need to be improved; The lack
of understanding of educators about the 2013 curriculum; lack of cooperation between a small
number of parents and educators and limited infrastructure. Efforts to overcome these problems,
madrasas are carried out in several ways: for students, providing educational sanctions, forming
student group work, discussions between students in class, and providing additional hours. For
educators, participating in seminars and workshops. For the curriculum, by increasing the
socialization of the implementation of the 2013 curriculum. For management, it seeks to increase
the involvement between the guardians of students and the community in an effort to improve
quality, through meetings. For facilities and infrastructure, the school will seek the realization of
facilities and infrastructure that do not yet exist, such as libraries.

Kata Kunci: educational problems, Islamic Religious Education, Madrasah


Abstrak: Pendidikan merupakan sarana dalam membangun watak bangsa dalam membangun
masyarakat yang berperadaban tinggi, di mana Pendidikan Agama Islam menjadi bagian
penting. Untuk itu, upaya peningkatan mutu pendidikan Agama menjadi penting untuk diatasi
problematikanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Problematika Pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam dan bagaimana upaya meningkatkan Mutu Pendidikan di Madrasah
Ibtidaiyah Al Hikmah di Wringinanom Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan jenis kualitatif, yang menekankan pada deskripsi secara
alami, dan pengambilan data atau penjaringan fenomena dilakukan dari keadaan yang
sewajarnya. Oleh karena itu, peneliti terlibat langsung di lapangan. Dari hasil penelitian, ada
beberapa problem yang ditemukan yaitu: rendahnya kemampuan kognitif peserta didik;
komitmen, kualitas dan kompetensi pendidik yang perlu ditingkatkan; Minimnya pemahaman
pendidik tentang kurikulum 2013; kurang terjalinnya kerjasama sebagian kecil orang tua
dengan pendidik dan Keterbatasan Sarana prasarana. Upaya mengatasi problematika tersebut,
dilakukan madrasah dengan beberapa cara: untuk peserta didik, memberikan sanksi yang
bersifat mendidik, membentuk kerja kelompok peserta didik, diskusi antar peserta didik di dalam
kelas, dan memberikan jam tambahan. Untuk pendidik, diikutsertakan dalam acara seminar
dan workshop. Untuk kurikulum, dengan meningkatkan sosialisasi penerapan kurikulum 2013.
Untuk manajemen, berupaya meningkatkan keterlibatan antara wali siswa dan juga
masyarakat dalam upaya peningkatan mutu, melalui pertemuan. Untuk sarana dan prasarana,
sekolah mengupayakan terwujudnya sarana & prasarana yang belum ada, seperti perpustakaan.

Kata Kunci: problematika pendidikan, Pendidikan Agama Islam, Madrasah

2

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 66

A.Pendahuluan

Dunia pendidikan saat dihadapkan pada berbagai masalah yang sangat kompleks yang

membutuhkan penanganan cepat agar tidak ketinggalan zaman. Sebab, pendidikan merupakan hal

yang sangat penting bagi setiap manusia dalam menghadapi setiap permasalahan hidup yang

cenderung hedonis atau materialis. Kini, semakin banyak orang yang memilih pendidikan non

agama yang menjanjikan pekerjaan lebih mudah daripada pendidikan agama.1 Di sisi lain, mutu

pendidikan di Indonesia masih belum menggembirakan untuk menghadapi tantangan yang sangat

berat di masa depan. Untuk itu, dalam masa reformasi saat ini, pendidikan memerlukan perhatian

yang sangat serius. Dibutuhkan perbaikan dan peningkatan dalam segala sektor dalam pendidikan

yang meliputi guru, murid juga sarana dan prasarana seperti Kurikulum yang memadai.2 Dan

Sekolah merupakan organisasi pendidikan yang berhubungan langsung dengan pihak-pihak yang

berkepentingan (stakeholder) sehingga sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang

maupun ancaman yang dihadapinya.

Menurut Mukhtar Bukhori,3 praktik pendidikan Islam di Indonesia pada umumnya dibagi

menjadi empat bagian: 1) Pendidikan pondok pesantren, yaitu pendidikan yang diselenggarakan

secara tradisional. 2) Pendidikan madrasah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di

lembaga-lembaga pendidikan model barat yang menggunakan metode-metode pengajaran klasik

dan berusaha menanamkan nilai-nilai Islami sebagai landasan hidup dalam diri setiap peserta

didik. 3) Pendidikan umum yang bernafaskan Islam, 4) Pendidikan Islam yang diselengarakan di

lembaga pendidikan umum sebagai bagian dari mata pelajaran. Dari ulasan diatas menunjukkan

bahwa pendidikan merupakan tolak ukur dalam membangun masyarakat yang berperadaban

tinggi. Suatu bangsa akan maju, dinamis, harmonis dan berkualitas bilamana pendidikan yang ada

juga berkualitas.

Amin Abdullah4 menyoroti kegiatan Pendidikan Agama5 yang selama ini berlangsung di

sekolah, antara lain: 1) Pendidikan agama selama ini lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-

persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata; 2) Pendidikan agama kurang perhatian

terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan yang kognitif menjadi “makna” dan nilai

yang ada; 3) Isu kenakalan remaja, perkelahian antar pelajar, tindak kekerasan, premanisme, white

1 Arief Furchan, Transformasi pendidikan Islam di Indonesia: anatomi keberadaan madrasah dan PTAI

(Yogyakarta: Gama Media, 2004), 129.

2 Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum

hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan (Bandung: Nuansa Cendekia, 2003), 148.

3 Dalam Muhaimin, 13.
4 Dalam Muhaimin, Suti’ah, dan Nur Ali, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan

Pendidikan Agama Islam di Sekolah, 5 ed. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), 90.

5 Dalam UUSPN No.2/1989, pasal 28 ayat 1 ditegaskan untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar,

tenaga pendidik yang bersangkutan harus beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
berwawasan Pancasila dan Undang Undang dasar 1945 serta memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar.

3

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



67 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

collar crime; 3) Metodologi pendidikan agama tidak kunjung berubah antara pra dan post era

modernitas; 4) Pendidikan agama lebih banyak menitikberatkan pada aspek korespondensi, tekstual

yang lebih menekankan hafalan teks-teks keagamaan yang sudah ada; 5) Sistem evaluasi, bentuk

soal-soal ujian agama Islam menunjukkan prioritas utama pada kognitif dan jarang pertanyaan

tersebut mempunyai bobot muatan “nilai” dan “makna” spiritual keagamaan yang fungsional

dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, pendidikan Agama memberikan sumbangan yang besar terhadap kemajuan suatu

bangsa dan merupakan wahana dalam menerjemahkan pesan-pesan konstitusi serta merupakan

sarana dalam membangun watak bangsa. Masyarakat yang cerdas akan memberikan nuansa

kehidupan cerdas pula, dan secara progresif akan membentuk kemandirian pada masyarakat itu

sendiri.6 Tantangan dalam pendidikan agama Islam merupakan bagian dari tantangan dunia

pendidikan di Indonesia pada umumnya, terutama dalam meningkatkan sumber daya manusia

yaitu: Era kompetitif dunia kerja, Kualitas pendidikan, Kemajuan teknologi informasi, dalam hal

metodologi, kualitas pendidikan, dan kenyataan empiris perkembangan masyarakat yang masih

banyak tertinggal.7

Berdasarkan latar belakang problematika pendidikan yang dikemukakan para ahli, terdapat

urgensi untuk mengungkap bagaimana kondisi riil permasalahan yang dihadapi lembaga

pendidikan Islam (LPI) dalam upaya peningkatan mutu pendidikan Agama Islam dan bagaimana

solusinya. Salah satu LPI yang menghadapi problematika tersebut adalah Madrasah Ibtidaiyah Al

Hikmah Wringinanom Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. MI ini merupakan salah satu

LPI juga mempuyai tanggung jawab dalam rangka mewujudkan cita-cita pendidikan, sudah tentu

menghadapi beberapa problem yang dapat menghambat pelaksanaan pendidikan, khususnya

pelaksanaan pendidikan agama Islam. Dengan berpijak pada fokus penelitian maka tujuan yang

ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: Untuk mendeskripsikan problematika yang dihadapi

dalam proses pelaksanaan peningkatan mutu Pendidikan Agama Islam dan upayanya dalam

mengatasi problema pendidikan Agama Islam tersebut.

B.Kajian Literatur

1.Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pengertian pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu: “paedagogie” yang berarti

bimbingan yang diberikan kepada anak didik. Istilah ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris

dengan kata “Education”. Kata pendidikan diistilahkan dalam bahasa arab dengan kalimat tarbiyah,

6 Endang Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implikasi (Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 2012), 4.

7 Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum

hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan, 92.

4

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 68

taklim dan takdib.8 Dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan

Nasional, pasal 1 menjelaskan, bahwa “Pendidikan” adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta

didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan

datang.9 Sedang Dalam GBPP mata pelajaran pendidikan Islam kurikulum tahun 1994 dinyatakan

bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Agama Islam ditambah dengan: “memperhatikan

tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam

masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional”.10

Menurut Abdur Rahman Nahlawi pendidikan Islam adalah ”Pengaturan pribadi dan

masyarakat sehingga dapat memeluk Islam secara logis dan keseluruhan baik dalam kehidupan

individu maupun kolektif.11 Sedangkan Marimba mengartikan Pendidikan Islam adalah bimbingan

jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian

utama menurut ukuran nilai-nilai Islam.12 Dalam pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa

hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pendidikan agama Islam yaitu:

a.Pendidikan agama Islam sebagai usaha sadar, pembimbingan, pengajaran dan pelatihan

yang dilakukan secara berencana dan sadar akan tujuan yang ingin dicapai.

b.Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan dalam arti ada yang

dibimbing, diajari dan atau dilatih dalam meningkatkan keyakinan, pemahaman,

penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam.

c.Pendidik atau guru pendidikan agama Islam yang melakukan kegiatan bimbingan,

pengajaran, dan atau latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai

tujuan tertentu.

Kegiatan pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman,

penghayatan, pengamalan ajaran islam dari peserta didik yang disamping untuk membentuk

kesalehan untuk kualitas pribadi juga sekaligus membentuk kesalehan sosial.

2.Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Dasar pendidikan Islam identik dengan ajaran Islam itu sendiri, yakni keduanya berasal dari

sumber Al-Qur’an dan Hadist. yang merupakan sumber kebenaran dalam Islam, yang tidak dapat

diragukan lagi. menjadi undang-undang dan memberi petunjuk bagi manusia., dan menjadi sarana

8 Ahmad Tafsir, Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), 24.
9 Presiden Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta, 2003), 3.

10 Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum

hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan, 75.

11 Sanaki Hujair, Paradigma pendidikan Islam; membangun masyarakat madani (Yogyakarta: Safarina

Insani Prees, 2003), 15.

12 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, t.t.), 3.

5

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



69 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

pendekatan diri dan mendapatkan pahala bagi pembacanya.13 Pendidikan agama Islam

mempunyai peranan penting dalam mewarnai kehidupan manusia, baik dalam kehidupan

keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara 14

Adapun mengenai dasar pelaksanaan pendidikan agama di Indonesia memiliki status yang

cukup kuat. Dasar tersebut dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu:

Tabel 1. Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Dasar

Keterangan

Yuridis

a.Ideal: ketetapan MPR No. II/MPR/1978 tentang P415

b.Struktural/Konstitusional: dasar yang berasal dari UUD 1945 dalam bab XI

pasal 29 ayat 1 dan 2.

c.Operasional: UUD 1945 dalam bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2.

d.Tap MPR Nomor XXVII/1966 tentang ”Agama Pendidikan dan Kebudayaan”

e.Keputusan menteri agama No.52 tahun 1971 tentang Kurikulum madrasah.

f.Keppres Nomor 34 tahun 1973 dan Inpres Nomor 15 tahun 1974.

Operasional

Undang-Undang No 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional pada Bab IX

pasal pasal 39 ayat 2 dinyatakan bahwa ”Isi kurikulum setiap jenis, jalur dan

jenjang pendidikan wajib memuat a) Pendidikan Pancasila, b) Pendidikan agama,

c) Pendidikan Kewarganegaraan”.16

Religious

a.Melaksanakan pendidikan agama adalah merupakan perintah dari Tuhan dan

hukumnya wajib merupakan ibadah kepadaNya ( Qs. An Nahl: 125)

b.”Tiap tiap anak dilahirkan dilahirkan diatas fitrah maka ibu bapaknyalah yang

mendidiknya menjadi orang yang beragama yahudi, nasrani dan majusi “(HR.

Bukhari Muslim). 17

Psikologi

Semua manusia dalam hidupnya didunia ini, selalu membutuhkan adanya

pegangan hidup yang disebut agama, orang-orang muslim diperlukan adanya

pendidikan agama Islam, agar dapat mengarahkan fitrah mereka tersebut ke arah

yang benar, sehingga mereka akan dapat mengabdi dan beribadah sesuai dengan

ajaran Islam. Tanpa adanya pendidikan agama dari satu generasi ke generasi

berikutnya maka akan semakin jauh dari agama yang benar.

13 Abuddin Nata, Paradigma pendidikan Islam (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia bekerjasama

dengan IAIN Syarif Hidayatullah, 2001), 293.

14 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), 66.
15 Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Nasional.

16 Mahmud Yunus, “Metodik Khusus Pendidikan Agama,” Jakarta: Hidakarya Agung, 1983, 19.
17 Nata, Paradigma pendidikan Islam, 292.

6

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 70

3.Tujuan Pendidikan Agama Islam

Ibnu Miskawaih menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terwujudnya sikap batin

yang mampu mendorong atau memotivasi secara spontan untuk melahirkan perbuatan yang

bernilai baik. Sementara Al-Qabisi menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menumbuh

kembangkan pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Demikian Ibnu Sina

menyatakan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah mengembangkan seluruh potensi yang

dimiliki seseorang ke arah perkembangan yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual

dan budi pekerti.18 Munir Mursi menjabarkan tujuan pendidikan Islam menjadi sebagai berikut:

Bahagia di dunia dan juga di akhirat, menghambakan diri kepada Allah SWT, memperkuat ikatan

keislaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam, Akhlak mulia19 yang meliputi Aspek-

aspek kepribadian, berupa kejasman, kejiwaan, kerohanian. 20 Secara umum, Pendidikan Agama

Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan

peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi insan yang muslim, beriman dan bertakwa

kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara.21

4.Problematika Dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

a.Problem Anak Didik Dalam Pendidikan Agama Islam

Selama ini memang dirasakan bahwa proses pendidikan Islam terkesan menganut asas

subject matter oriented yang membebani peserta didik dengan informasi-informasi yang kognitif

dan motorik yang kurang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologi peserta

didik.22 Adapun problem-problem yang terdapat pada anak didik antara lain: Problem kemampuan

ekonomi keluarga, intelegensi, bakat dan minat, perkembangan dan pertumbuhan, kepribadian,

sikap, sifat, kerajinan dan ketekunan, pergaulan, kesehatan.23

b.Problem Pendidik Dalam Pendidikan Agama Islam

Pendidik dalam pendidikan Agama Islam dapat diistilahkan dengan (muallim, murabbi,

muaddib) yang kesemuanya dituntut untuk komitmen continuous improvement, yakni selalu

berusaha memperbaiki dan memperbaharui model model yang sesuai dengan tuntutan zamannya,

18 Makmur Haris Fathoni, Pendidikan Islam dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern (Yogyakarta:

IRCiSoD, 2008), 12.

19 Tafsir, Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam, 46.
20 Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998), 68–69.
21 Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum

hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan, 78.

22 Hujair, Paradigma pendidikan Islam; membangun masyarakat madani, 244.
23 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, 106.

7

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



71 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

yang dilandasi oleh kesadaran tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi

penerus yang akan hidup pada masa zamannya. Gambaran tentang hakikat pendidik dalam Islam

adalah orang orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan

mengupayakan seluruh potensi peserta didik, baik afektif, kognitif dan psikomotorik.

Gary A Davis & Margaret A. Thomas,24 mengemukakan tentang ciri pendidik yang efektif

meliputi empat kelompok: Pertama, memiliki pengetahuan yang terkait dengan iklim belajar di

kelas, Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang terdiri:

Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feed back) dan

penguatan (reinforcement), Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan

dengan peningkatan diri.

c.Problem Kurikulum Dalam Pendidikan Agama Islam

Dalam Bahasa Arab kurikulum diistilahkan manhaj yang berarti jalan terang yang dilalui oleh

manusia pada berbagai kehidupan. Sedangkan arti manhaj/kurikulum dalam pendidikan Islam

sebagaimana yang terdapat dalam kamus At-Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media

yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.25

Menurut istilah Paulo Freire, implementasi kurikulum untuk mewujudkan tujuan

pendidikan masih bermodel analog dengan banking concept. Yaitu pendidik selalu melakukan

deposito berbagai macam informasi ke bank peserta didik tanpa harus tahu untuk apa informasi

itu bagi kehidupan mereka. Akibat dari model pengajaran seperti ini, peserta didik memiliki

pengetahuan, tetapi peserta didik kering dan tidak memiliki sikap, minat dan motivasi dan

kreatifitas untuk mengembangkan diri atas dasar pengetahuan yang dimiliki.26 Oleh karena itu

program kurikulum harus diorientasikan dan disesuaikan dengan kebutuhan masa kini dan masa

yang akan datang, agar mencegah terjadinya calon-calon penganggur intelektual.

Amin Abdullah menanggapi masalah kurikulum Pendidikan Islam lebih banyak

terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata-mata.

kurang concern menjadi “makna”, lebih menitik beratkan pada aspek korespondensi tekstual,

Sistem evaluasi,27 menekankan ortodoksi dalam mata pelajaran agama yang diidentikkan dengan

keimanan, dan bukan ortopraksis yaitu bagaimana mewujudkan iman dalam tindakan nyata

operasional.

24 Suyanto dan Djihad Hisyam, Refleksi dan reformasi pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III

(Jakarta: Adicita, 2000), 29.

25 Rosmiaty Azis, “Implementasi pengembangan kurikulum,” Jurnal Inspiratif Pendidikan 7, no. 1

(2018): 44–50.

26 Hujair, Paradigma pendidikan Islam; membangun masyarakat madani, 220.
27 Hujair, 264.

8

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 72

d.Problem Manajemen Dalam Pendidikan Agama Islam

Manajemen merupakan terjemahan dari kata management yang berarti pengelolaan,

ketatalaksanaan.28 Dalam pengelolaan sistem pendidikan di Indonesia, “posisi pendidikan Islam

masih dalam posisi marginal, Pembiayaan pendidikan Islam tidak diambil dari anggaran negara

bidang pendidikan, tetapi dari anggaran bidang agama, sehingga anggaran pembiayaan

pemerintah untuk pendidikan Islam jauh lebih kecil dibandingkan untuk pendidikan umum.

Melihat kenyataan ini, maka reformasi manajemen pendidikan Islam menjadi suatu keharusan.29

Dengan langkah-langkah berusaha pembenahan dan peningkatan profesionalisme

penyelenggaraan pendidikan dan Penerapan manajemen berbasis sekolah perlu disesuaikan

dengan kebutuhan dan minat peserta didik, pendidik, serta kebutuhan masyarakat setempat.

Sehingga akan mampu menjawab berbagai tantangan dan dapat memberdayakan pendidikan

Islam di masa depan.

e.Problem lingkungan , Sarana dan Prasarana Dalam Pendidikan Agama Islam

Lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak yang terdapat dalam alam kehidupan yang

senantiasa berkembang, Lingkungan akan dapat menimbulkan pengaruh positif dan negatif

terhadap pertumbuhan jiwa, dalam sikap maupun perasaan keagamaan. Seperti Suasana keluarga,

Lingkungan masyarakat, pemahaman orang tua akan arti nilai-nilai agama Islam. bila lingkungan

tersebut baik maka akan tumbuh perkembangan dan pembelajaran yang baik, sebaliknya bila

buruk maka hasilnya pun akan buruk.

Yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak langsung

menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran.30 Gagne mendefinisikan sarana

pendidikan sebagai alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang peserta didik

untuk belajar.31 Yusuf Hadi Miarso32 menyatakan sarana pendidikan Islam mempuyai nilai-nilai

praktis yang berupa kemampuan atau kelebihan antara lain: Membuat konsep konkrit, Membawa

obyek yang mudah, Menampilkan objek besar, Menampilkan objek yang dapat diamati, Mengamati

gerakan, Memungkinkan keseragaman persepsi, membangkitkan motivasi belajar, Menyajikan

informasi belajar secara konsisten. Dengan demikian apabila pendidikan Islam memanfaatkan dan

menggunakan sarana pendidikan, maka peserta didik akan memiliki pemahaman yang bagus

tentang materi yang diperoleh, dan juga diharapkan akan memiliki moral yang baik.

28 Eddy Soetrisno, Kamus Populer Bahasa Indonesia (Ladang Pustaka, 2008).
29 Hujair, Paradigma pendidikan Islam; membangun masyarakat madani, 164.
30 Djumhur Muhammad Surya, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Jilid 3 (Bandung: Erlangga,

2003), 118.

31 Gagne RM, “The Condition of Learning and Theory of Intructions,” Orlando: Rineheart and Winston,

1985, 167.

32 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, 190.

9

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



73 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

C.Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis kualitatif, yaitu pelaksanaan penelitian ini

memang terjadi secara alamiah dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan

kondisinya menekankan pada deskripsi secara alami. Pengambilan data atau penjaringan

fenomena dilakukan dari keadaan yang sewajarnya. Oleh karena itu, peneliti terlihat langsung

dilapangan.33 Adapun karakter penelitian kualitatif itu sendiri adalah sebagai berikut : a) Latar

alamiah, yaitu kontek alam atau universal holistik. b) Manusia sebagai alat penelitian itu sendiri.

Sumber Data, data primer penelitian ini bersumber dari objek penelitian, dalam hal ini yang

peneliti jadikan informan pada penelitian adalah: Kepala sekolah, 2 orang guru yang memberikan

informasi yang dibutuhkan oleh peneliti. Sedangkan data sekunder yaitu sumber dari selain hasil

wawancara atau interview, misalnya yang berasal dari dokumen-dokumen publikasi, surat-

menyurat, arsip, dan lain-lain.

Teknik pengumpulan data menggunakan: observasi (Pengamatan), interview (wawancara),

metode dokumenter. Teknik analisis data dalam melakukan analisis data harus disesuaikan

dengan pendekatan dan desain penelitian.34 Data yang dimaksud berasal dari naskah wawancara,

catatan lapangan, foto, dokumen, catatan atau dokumen resmi lainnya. Agar memperoleh hasil

yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan serta dipercaya oleh semua pihak, maka dalam

penelitian ini peneliti menggunakan pengecekan keabsahan triangulasi. Untuk itu triangulasi

peneliti gunakan untuk memperoleh keabsahan data mengenai berbagai problematika

pelaksanaan mutu Pendidikan Agama Islam Pendidikan.

D.Hasil dan Pembahasan

MI. Al Hikmah Wringinanom didirikan di atas area tanah milik sendiri (wakaf untuk gedung

MI) dan gedung milik sendiri (milik yayasan Al Hikmah). Letak lokasi yang cukup strategis karena

berada di tengah-tengah perumahan penduduk, tepatnya di jalan Garuda 01 Dusun Simpar RT. 06

RW. 01 Wringinanom Poncokusumo Kabupaten Malang. Dengan adanya lembaga ini diharapkan

warga desa dapat meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu, beriman dan bertaqwa.

sampai saat ini tetap dipercaya bahwa pendidikan formal adalah wahana utama untuk

mengembangkan SDM anak didik yang dilakukan secara sistematis, pragmatis, dan berjenjang.

Dalam konteks inilah pendidikan formal akan semakin dituntut peranannya dalam pembangunan

manusia Indonesia yang berkualitas.

33 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 12.
34 Arikunto, 244.

10

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 74

Pada mulanya warga dusun Simpar Wringinanom Poncokusumo yang cenderung agamis

menyekolahkan putra-putri mereka di desa Wonorejo ditempuh dengan jalan kaki dan harus

melewati sungai Amprong yang pada waktu itu masih harus menyeberang dan belum ada

jembatan meski sederhana. Dalam keadaan demikian,. Maka dalam musyawarah itu disepakati

untuk membentuk dan mendirikan suatu lembaga pendidikan Dari forum musyawarah yang

tertanggal 21 Mei 1982 itu menghasilkan beberapa kesepakatan, yaitu: Dengan semangat

kebersamaan, pada awal bulan Juli 1982 dimulailah pembangunan gedung madrasah ibtidaiyah MI

ini diberi nama MI. Al Hikmah. Pada tanggal 10 Maret 2001 dibangun enam kelas dengan biaya

dari swadaya.

1.Problematika Pelaksanaan PAI di MI Al-Hikmah

a.Problem Peserta Didik

Pendidik (guru) dan anak didik adalah dua sosok manusia yang tidak dapat dipisahkan dari

dunia pendidikan. Dimana ada guru, disitu pasti ada anak didik yang ingin belajar dari guru

tersebut. Begitu pun sebaliknya, dimana ada anak didik disitu pasti ada seorang guru yang ingin

memberikan binaan dan bimbingan kepada anak didik. Di sekolah anak didik akan berusaha aktif

mengembangkan potensi minat dan bakat yang dimilikinya dengan didukung peranan aktif para

pendidik di kelas dan peserta didik dapat juga mengembangkan potensinya melalui kegiatan

ekstrakurikuler yang diselenggarakan di sekolah.

Keadaan siswa di MI. Al hikmah berjumlah 113 orang. Berdasarkan hasil wawancara penulis

dengan bapak Aswihani S.Pdi selaku kepala Sekolah dan ibu Masfufah selaku guru MI Al Hikmah,

bahwa dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di MI Al Hikmah, ditemukan beberapa problem

berkaitan dengan peserta didik sebagaimana berikut:

1)Rendahnya tingkat perekonomian sebagian besar wali murid. ada salah satu dari tidak

dapat melanjutkan;

2)Tingkat kecerdasan yang berbeda antar siswa didik;

3)Perbedaan latar belakang keluarga dan lingkungan akan menimbulkan berbeda pula

terhadap karakter anak didik.

b.Problem Pendidik

Dalam pelaksanaan pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah, ditemukan

beberapa problem berkaitan dengan para pendidik sebagaimana berikut:

1)Gaji yang rendah berdampak kurangnya tanggung jawab dan motivasi pendidik

2)Pendidik sering mengeluh terhadap akhlak peserta didik

3)Masih ada pendidik yang belum menempuh sarjana.

11

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



75 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

4)Perbedaan peserta didik baik dari IQ yang tinggi maupun yang rendah dan juga perbedaan

karakter, maupun background kehidupan mereka. 35

c.Problem Kurikulum

Kurikulum yang dipakai di MI Al Hikmah saat ini adalah kurikulum 2013 walaupun

pelaksanaannya masih sangat sederhana, kurikulum ini adalah pembenahan dari kurikulum

sebelumnya. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik

peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan tanpa memperhatikan agama,

suku, budaya & adat istiadat serta status sosial dan ekonomi. Kurikulum meliputi substansi

komponen, muatan wajib kurikulum, dan pengembangan diri secara terpadu.

Pada satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta

didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam struktur kurikulum. Kurikulum 2013

dilaksanakan melalui pendekatan tematik, kecuali untuk Pendidikan Agama Islam yang ada di

madrasah tetap menggunakan pendekatan mata pelajaran yang meliputi Aqidah, Akhlak, Fiqih,

Alqur’an Hadits dan Sejarah Kebudayan Islam (SKI).36

1)Dasar Pemikiran.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan

pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran

untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum 2013 ini disusun untuk memungkinkan

penyesuaian

program

pendidikan

dengan

berbagai

karakteristik

madrasah

dalam

mengembangkan potensi peserta didiknya secara optimal serta memiliki kesiapan memasuki

tuntutan masyarakat global.

Dewasa ini, kompetisi pendidikan berlangsung sangat ketat dan tajam hampir tiada

batas. Madrasah yang tidak mampu bersaing secara fair dan terbuka akan tumbang terseleksi

oleh keadaan. Oleh karena itu MI Al Hikmah Wringinanom Poncokusumo perlu

mengembangkan

dan meningkatkan

secara

terus

menerus

kurikulumnya

dengan

memperhatikan sumberdaya yang dimiliki baik sumber daya manusia maupun sumber daya

lainnya.

Kondisi MI Al Hikmah Tahun Pelajaran 2018 – 2019 memiliki siswa sebanyak 113, guru

sebanyak 10 orang dan pegawai administrasi sebanyak 1 (satu) orang, dukungan dan

kepercayaan pemangku kepentingan (stockholders) yang tinggi, sarana dan prasarana yang

35 Wawancara Dengan Pak Asnawi Selaku Kepala Sekolah Pada 15 Septe,Ber 2019 Wawancara Dengan

Ibu Masfufah Guru Pada 10 September 2019

36 Wawancara Dengan Ibu Masfufah Guru Pada 10 September 2019

12

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 76

relatif mendukung, serta potensi dan kekhasan kabupaten Malang yang berada di lingkungan

masyarakat pertanian, masyarakat religius, dan memiliki tingkat kesadaran pendidikan yang

tinggi.

Menghadapi kondisi tersebut MI Al Hikmah Wringinanom perlu mempersiapkan diri

secara mantap dengan membuat Rencana Kerja Madrasah (RKM) untuk menghadapi masa

yang akan datang dan mengembangkan kurikulum 2013 sebagai kelanjutan dari uji coba KBK

tahun 2004 yang memiliki karakteristik atau penekanan fokus pada upaya memenuhi

kebutuhan masyarakat religius dan meningkatkan kesadaran pendidikan yang masih rendah.

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di MI Al Hikmah dinyatakan tercapai apabila

kegiatan belajar mampu membentuk pola tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan

pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tes.

Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang cukup dan

terencana dengan baik agar dapat diterima untuk: (1) memenuhi kebutuhan masyarakat

setempat dan masyarakat global; (2) mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi

perkembangan dunia global; dan (3) melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan atau

mengembangkan keterampilan untuk hidup mandiri.

Untuk menjamin keberhasilan implementasi kurikulum madrasah ini, dibutuhkan

berbagai persyaratan, antara lain:

a)Dukungan semua pemangku kepentingan pendidikan (stakeholders)

b)Sosialisasi, pelatihan, diskusi dan lokakarya kurikulum 2013

c)Pemenuhan dokumen yang diperlukan untuk penyusunan kurikulum 2013

d)Pengembangan sumber daya manusia secara berkelanjutan

e)Koordinasi dan pengelolaan yang profesional

f)Perluasan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak, seperti Perguruan Tinggi, LSM,

instansi pemerintah maupun swasta, dan lain-lain.

g)Semua pihak perlu: (1) memahami kurikulum 2013; (2) memiliki dokumen pendukung;

(3) memiliki komitmen untuk berkembang dan maju secara bersama-sama; serta (4)

mampu dan mau melaksanakannya dengan baik.

2)Landasan

a)Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional Pasal 38 Ayat 2 , Pasal 51 Ayat 1

b)Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentangStandar Nasional Pendidikan,

Pasal 17 Ayat 2 dan Pasal 49 Ayat 1

c)Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi

13

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



77 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

d)Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar

Kompetensi Lulusan

e)Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 dan 23 Tahun 2006

f)Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Nomor: DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006 tanggal 1

Agustus 2006, Tentang Pelaksanaan Standar Isi;

g)Pedoman Penyusunan kurikulum 2013 Kanwil Depag Jatim

h)Rencana Kerja MI Al HikmahTahun 2019 s.d 2020.37

Selanjutnya dalam pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah,

ditemukan beberapa problem berkaitan dengan penerapan kurikulum sesuai dengan hasil

wawancara penulis dengan kepala sekolah sebagai berikut :

a)Minimnya pendidik di Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah memahami tentang kurikulum

2013 serta penerapannya.

b)Para pendidik juga ada yang tidak membuat Rencana Pembelajaran

c)Kurikulum pemerintah yang selalu berganti-ganti dalam waktu yang cepat

d.ProblemManajemen

Fungsi manajemen pada prinsipnya dimulai dari proses perencanaan, pengorganisasian,

pengarahan, pemantauan, dan penilaian atau evaluasi terhadap semua program kerja lembaga

dengan pengaturan yang baik oleh para profesional untuk mengeliminasi pemborosan, (efisien)

dan memaksimalkan sumberdaya yang tersedia meningkatkan pencapaian (keefektifan). Dalam

pelaksanaan pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah, ditemukan beberapa

problem berkaitan dengan manajemen dalam pendidikan Agama Islam sebagaimana dituturkan

oleh Bapak Aswihani adalah berikut:

1)Kurang terjalinnya hubungan kerjasama yang baik dan harmonis antara sebagian kecil

orang tua dengan pendidik sehingga segala aktifitas peserta didik yang seharusnya

dikerjakan di rumah itu dikerjakan di sekolah.

2)Sedikitnya peserta didik yang berminat terhadap kegiatan keagamaan sehingga

menyebabkan sulitnya wakil kurikulum menentukan bentuk kegiatan yang diminati

peserta didik seperti pondok pesantren kilat.

e.Problem Sarana dan Prasarana

Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak

langsung menunjang proses pendidikan di sekolah.. Sedangkan menurut keputusan menteri P dan

37 Dokumentasi Buku Rentra Mi Al Hikmh 2007-2022

14

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 78

K No.079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar yaitu:a) Bangunan dan perabot

sekolah.b) Alat pelajaran yang terdiri dari pembukuan dan alat-alat peraga dan labolatarium.c)

Media pendidikan yang dapat dikelompokan menjadi audio visual yang menggunakan alat

penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil.

Untuk tercapainya tujuan pendidikan tersebut, maka diperlukan kebutuhan sarana dan

prasarana yang memadai dengan baik, kurang terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai

akan dapat menghambat kelancaran proses belajar dan mengajar sebuah lembaga pendidikan, hal

ini juga berlaku di Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah.

Dalam satu lembaga sarana dan prasarana merupakan alat penunjang keberhasilan dalam

mencapai tujuan. Apalagi suatu lembaga sekolah khususnya Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah,

sarana dan prasarana merupakan alat penunjang keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah

Kelengkapan sarana maupun prasarana sangat menunjang bagi proses belajar mengajar. Jika

dalam belajar, peserta didik menggunakan peralatan yang memadai maka kemungkinan besar

belajarnya akan berhasil dengan baik. Dan sebaliknya jika peserta didik belajar dengan peralatan

yang serba kurang maka kemungkinan besar akan menghasilkan berhasilnya sangat minim.

1)Masih minimnya sarana maupun prasarana

2)Lokasi pendidikan kurang kondusif dalam proses belajar mengajar sehingga ada sebagian

dari pendidik yang mengajar terganggu oleh kebisingan keramaian oleh penduduk

sekitarnya.

3)Kurang luasnya lahan sekolah dikarenakan tidak ada halaman.

4)Tidak memiliki ruang perpustakaan menyebabkan minimnya pengetahuan peserta didik

tentang wawasan baik bersifat agama maupun bersifat umum.

5)Kurangnya perangkat/ alat-alat laboratorium pengajar sehingga menyebabkan sulitnya

pengajar untuk menerapkan implementasi materi dalam mendukung kurikulum berbasis

kompetensi.38

2.Upaya Mengatasi Problematika Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di MI Al Hikmah

Problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam disekolah dapat diupayakan beberapa

solusi yang diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Untuk mengatasi

berbagai problem Pendidikan Agama Islam sebagaimana diuraikan di atas, maka madrasah

melakukan berbagai upaya sebagai berikut:

38 Wawancara Dengan Ibu Masfufah 17 September 2019

15

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



79 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

a.Upaya mengatasi Problem Peserta Didik

Solusi terhadap problem yang terdapat pada peserta didik sangat dipengaruhi oleh

kesiapan individu sebagai subjek yang melakukan kegiatan belajar baik siap dalam kondisi fisik

atau psikis (jasmani atau mental) individu yang memungkinkan dapat melakukan belajar.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Masfufah selaku guru di MI Al Hikmah

tentang upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem peserta didik dalam pendidikan Agama

Islam yang ada di MI Al Hikmah adalah sebagai berikut:39

1)Para pendidik telah memberikan sanksi–sanksi yang bersifat mendidik bagi tiap peserta

didik yang menyalahi aturan sekolah.

2)Para pendidik sudah membentuk kerja kelompok peserta didik yang diharapkan peserta

didik yang mampu dapat membantu peserta didik yang tidak mampu, sehingga peserta

didik yang tidak mampu dapat memahami dan mengikuti kegiatan proses belajar secara

terus menerus.

3) Para Pendidik akan membentuk diskusi antar peserta didik di dalam kelas, sehingga

peserta didik dapat mudah mengerti dan termotivasi untuk belajar dengan lebih baik lagi.

4)Pihak sekolah sudah mengadakan jam tambahan bagi peserta didik yang dinilai kurang

mampu dalam menerima pelajaran di kelas, sehingga mereka dapat mengejar

ketertinggalan mereka di kelas.

b.Upaya Mengatasi Problem Pendidik

Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan

kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya,

mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk Allah, Khalifah di muka bumi, sebagai makhluk

sosial, dan makhluk individu yang berdiri sendiri (mandiri). 40

Sesuai hasil wawancara penulis dengan kepala sekolah mengenai upaya yang dilakukan

untuk mengatasi problem pendidik dalam pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

1)Pihak Sekolah mengusahakan pada setiap pendidik untuk diikuti kegiatan pendidikan yang

dapat meningkatkan wawasan dan kemampuan mereka

2)Setiap pendidik harus berusaha menggunakan berbagai metode agar mampu menciptakan

suasana belajar-mengajar yang menyenangkan.

3)Setiap pendidik seyogyanya terus memahami karakter dan minat peserta didik.

39 Wawancara dengan Ibu Masfufah 17 September 2019
40 Nur Uhbiyati, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2013), 65.

16

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 80

c.Upaya Mengatasi Problem Kurikulum

Upaya mengatasi terhadap problem kurikulum Sesuai hasil penuturan Bapak Aswihani

selaku kepala sekolah MI Al Hikmah bahwa upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem

kurikulum dalam pendidikan Agama Islam.Hasil studi bank dunia, menyimpulkan bahwa salah

satu komponen pendidikan yang ikut menentukan baik-buruknya sistem pendidikan adalah

kurikulum yang diberlakukan. Badan moneter dunia ini juga mensyaratkan sistem pendidikan

sebuah negara dapat baik bilamana memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut: (1)Pertama,

kurikulum memenuhi sejumlah kompetensi untuk menjawab tuntutan dan tantangan arus

globalisasi. (2)Kedua, kurikulum yang dibuat bersifat lentur dan adaptif dalam menghadapi

perubahan yang kompetitif. (3)Ketiga, kurikulum berkorelasi dengan pembangunan sosial dan

kesejahteraan masyarakat.

d.Upaya Mengatasi Problem Manajemen

Produktivitas organisasi /lembaga (Total Productivity ) secara lebih luas mengidentifikasi

keberhasilan dan atau kegagalan dalam menghasilkan suatu produk tertentu ( barang atau jasa )

secara kuantitas dan kualitas dengan pemanfaatan sumber-sumber dengan benar. Produktivitas

bertalian dengan pelaksanaan tugs-tugas dengan cara terbaik. Produktivitas merupakan kriteria,

pencapaian kerja yang diterapkan kepada individu, kelompok, organisasi atau lembaga pendidikan.

Untuk selanjutnya tentang upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem manajemen

dalam pendidikan Agama Islam di MI Al Hikmah sebagaimana yang dituturkan oleh Bapak

Aswihani adalah sebagai berikut: “Terjalinya sekolah dengan masyarakat bertujuan memelihara

kelangsungan hidup sekolah dan memperoleh bantuan dan dukungan dari masyarakat dalam

rangka mengembangkan pelaksanaan program program sekolah.” 41

e.Upaya Mengatasi Problem Sarana dan Prasarana

Sarana pendidikan sangat menunjang dalam proses belajar mengajar, hal ini akan

menunjang tercapainya tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di madrasah.diantaranya

adalah: Gedung sekolah yang memadai, Sekolah harus memiliki perpustakaan, Adanya alat alat

peraga yang lengkap akan sangat membantu pencapaian tujuan pendidikan. sarana untuk ibadah.

Kemudian upaya yang dilakukan untuk mengatasi problem sarana dan prasarana dalam

pendidikan Agama Islam di MI Al Hikmah sebagaimana yang dituturkan oleh Bapak Aswihani dan

Ibu Masfufah adalah sebagai berikut:

41 Sudarwan Danim, Agenda Sistem Pembaharuan Pendidikan (Yogyakarta: Pusaka Belajar, 2003), 197.

17

media

Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam



81 | Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

1)Pihak sekolah akan mengupayakan untuk mewujudkan sarana dan prasarana dengan

menarik pada murid yang sudah lulus atau dengan mengajukan proposal permohonan

bantuan kepada pihak pemerintah yang terkait dengan pendidikan.

2)Berusaha melengkapi alat dan media pembelajaran yang dapat membantu kelancaran

proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai.

E.Kesimpulan

Hasil penelitian mendapati bahwa dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di MI Al

Hikmah terdapat beberapa problem yaitu: (a) Pada peserta didik yakni rendahnya tingkat

perekonomian, dan beberapa ber-IQ rendah. (b) Dari Pendidik: komitmen, kualitas dan

kompetensi perlu ditingkatkan (c) Pada kurikulum: Minimnya pemahaman tentang kurikulum

2013 dan adanya sebagian pendidik yang tidak membuat RPP. (d) Pada manajemen: kurang

terjalinnya kerjasama antara orang tua dengan pendidik. (e) Keterbatasan Sarana dan prasarana.

Upaya mengatasi problematika pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Madrasah

Ibtidaiyah Al Hikmah dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagaimana tersebut berikut: (a)

memberikan sanksi sanksi yang bersifat mendidik bagi tiap peserta didik, mengupayakan

mengadakan jam tambahan bagi peserta didik yang dinilai kurang mampu. (b) pada pendidik

meliputi :dengan biaya dari lembaga setiap pendidik akan diusahakan untuk diikutsertakan dalam

acara seminar, workshop. (c) pihak sekolah akan mengupayakan kepada para pendidik membuat

RPP, (d) menerapkan manajemen kompetensi berbasis sekolah, meliputi menerapkan berbasis

kompetensi kurikulum (e) mewujudkan sarana & prasarana yang belum ada (perpustakaan).

Hasil penelitian berimplikasi pada para pendidik agar lebih memahami segi kelemahan dan

kelebihan dari kecerdasan peserta didik dan seorang pendidik seharusnya juga memahami tentang

karakter, bakat dan minat peserta didik. Bagi kepala sekolah, hasil penelitian dapat dijadikan dasar

pembuatan kebijakan terkait sosialisasi penerapan tentang kurikulum yang baru secara lebih

intensif kepada para pendidik yang masih belum mengerti dan juga menekankan para pendidik

untuk membuat Rencana Pembelajaran agar tercapai tujuan instruksional khusus tersebut tercapai

secara optimal. Hasil penelitian mengenai problematika pelaksanaan pendidikan agama Islam

dalam meningkatkan mutu pendidikan ini bukan merupakan final.

Daftar Rujukan

Ahmadi, Abu, dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

Anwar, Moh Khoiril. “Dialog Antar Umat Beragama di Indonesia: Perspektif A. Mukti Ali.” Jurnal

Dakwah 19, no. 1 (2018): 89–107.

Arikunto, Suharsini. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

18

media

Amatul Jadidah

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021) | 82

Azis, Rosmiaty. “Implementasi pengembangan kurikulum.” Jurnal Inspiratif Pendidikan 7, no. 1

(2018): 44–50.

Danim, Sudarwan. Agenda Sistem Pembaharuan Pendidikan. Yogyakarta: Pusaka Belajar, 2003.

Fathoni, Makmur Haris. Pendidikan Islam dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern. Yogyakarta:

IRCiSoD, 2008.

Furchan, Arief. Transformasi pendidikan Islam di Indonesia: anatomi keberadaan madrasah dan

PTAI. Yogyakarta: Gama Media, 2004.

Hujair, Sanaki. Paradigma pendidikan Islam; membangun masyarakat madani. Yogyakarta: Safarina

Insani Prees, 2003.

Ihsan, Hamdani, dan Fuad Ihsan. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 1998.

Indonesia, Presiden Republik. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta, 2003.

Muhaimin. Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam: Pemberdayaan, Pengembangan, Kurikulum

hingga Redefinisi Islamiah Pengetahuan. Bandung: Nuansa Cendekia, 2003.

Muhaimin, Suti’ah, dan Nur Ali. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan

Agama Islam di Sekolah. 5 ed. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.

Mulyasa, Endang. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implikasi. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 2012.

Nata, Abuddin. Paradigma pendidikan Islam. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia

bekerjasama dengan IAIN Syarif Hidayatullah, 2001.

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, t.t.

RM, Gagne. “The Condition of Learning and Theory of Intructions.” Orlando: Rineheart and Winston,

1985.

Setianingsih, Deny. “Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Tholhah Hasan.” Universitas Negeri

Islam Maulana Malik Ibrahim, 2008.

Soetrisno, Eddy. Kamus Populer Bahasa Indonesia. Ladang Pustaka, 2008.

Surya, Djumhur Muhammad. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Jilid 3. Bandung: Erlangga,

2003.

Suyanto, dan Djihad Hisyam. Refleksi dan reformasi pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III.

Jakarta: Adicita, 2000.

Tafsir, Ahmad. Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.

Uhbiyati, Nur. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2013.

Yunus, Mahmud. “Metodik Khusus Pendidikan Agama.” Jakarta: Hidakarya Agung, 1983.

media

Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Ilmiah Vol. 6 No. 1 (2021)

Hlm: 65-82

65

UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM:

PROBLEMATIKA DAN SOLUSI

Amatul Jadidah

Institut Agama Islam Al-Qolam Malang, Indonesia

Email: amatuljadidah@alqolam.ac.id

Received: April 2021

Accepted: Juli 2021

Published: Juli 2021

Abstract: Education is a means in building the character of the nation in building a highly
civilized society, where Islamic Religious Education is an important part.. For this reason, efforts
to improve the quality of religious education are important to overcome the problems. The
purpose of this study was to find out the problems of implementing Islamic religious education
and how to improve the quality of education at Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah in Wringinanom,
Poncokusumo District, Malang Regency. In this study, the researcher uses a qualitative type,
which emphasizes natural descriptions, and data collection or phenomena collection is carried
out from reasonable circumstances. Therefore, researchers are directly involved in the field. From
the results of the study, there were several problems found, namely: low cognitive abilities of
students; commitment, quality and competence of educators that need to be improved; The lack
of understanding of educators about the 2013 curriculum; lack of cooperation between a small
number of parents and educators and limited infrastructure. Efforts to overcome these problems,
madrasas are carried out in several ways: for students, providing educational sanctions, forming
student group work, discussions between students in class, and providing additional hours. For
educators, participating in seminars and workshops. For the curriculum, by increasing the
socialization of the implementation of the 2013 curriculum. For management, it seeks to increase
the involvement between the guardians of students and the community in an effort to improve
quality, through meetings. For facilities and infrastructure, the school will seek the realization of
facilities and infrastructure that do not yet exist, such as libraries.

Kata Kunci: educational problems, Islamic Religious Education, Madrasah


Abstrak: Pendidikan merupakan sarana dalam membangun watak bangsa dalam membangun
masyarakat yang berperadaban tinggi, di mana Pendidikan Agama Islam menjadi bagian
penting. Untuk itu, upaya peningkatan mutu pendidikan Agama menjadi penting untuk diatasi
problematikanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Problematika Pelaksanaan
Pendidikan Agama Islam dan bagaimana upaya meningkatkan Mutu Pendidikan di Madrasah
Ibtidaiyah Al Hikmah di Wringinanom Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan jenis kualitatif, yang menekankan pada deskripsi secara
alami, dan pengambilan data atau penjaringan fenomena dilakukan dari keadaan yang
sewajarnya. Oleh karena itu, peneliti terlibat langsung di lapangan. Dari hasil penelitian, ada
beberapa problem yang ditemukan yaitu: rendahnya kemampuan kognitif peserta didik;
komitmen, kualitas dan kompetensi pendidik yang perlu ditingkatkan; Minimnya pemahaman
pendidik tentang kurikulum 2013; kurang terjalinnya kerjasama sebagian kecil orang tua
dengan pendidik dan Keterbatasan Sarana prasarana. Upaya mengatasi problematika tersebut,
dilakukan madrasah dengan beberapa cara: untuk peserta didik, memberikan sanksi yang
bersifat mendidik, membentuk kerja kelompok peserta didik, diskusi antar peserta didik di dalam
kelas, dan memberikan jam tambahan. Untuk pendidik, diikutsertakan dalam acara seminar
dan workshop. Untuk kurikulum, dengan meningkatkan sosialisasi penerapan kurikulum 2013.
Untuk manajemen, berupaya meningkatkan keterlibatan antara wali siswa dan juga
masyarakat dalam upaya peningkatan mutu, melalui pertemuan. Untuk sarana dan prasarana,
sekolah mengupayakan terwujudnya sarana & prasarana yang belum ada, seperti perpustakaan.

Kata Kunci: problematika pendidikan, Pendidikan Agama Islam, Madrasah

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 18

SLIDE