Search Header Logo
Pengembangan Kurikulum PJOK

Pengembangan Kurikulum PJOK

Assessment

Presentation

Physical Ed

5th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Salvador Tokan

FREE Resource

15 Slides • 0 Questions

1

media

PERHATIKANILUSTRASIBERIKUT:

Gambar 4

Bapak/Ibu guru, perhatikan dengan seksama gambar di atas, bagaimana peran

perempuan dari ragam profesi yang ditampilkan? Sepintas tampak tidak ada yang

menjadi masalah atau mengundang keanehan. Tanpa disadari cara berpikir kita

selama ini diwarnai budaya patriarki yang mempengaruhi cara pandang laki-laki

dan perempuan dalam mengambil peran-peran sosial. Saat kita mendengar kata

‘dokter’ maka yang yang terbayang adalah sosok laki-laki, sebaliknya sebaliknya—

kalau kita mendengar kata ‘perawat’ maka yang segera terbayang adalah sosok

perempuan.

Demikian pula berlaku seperti digambar untuk posisi pilot, pramugari, direktur,

maupun sekretaris. Seolah, peruntukkan jenis kerja tersebut dilekatkan pada jenis

kelamin tertentu. Padahal secara fakta, banyak yang dalam kondisi yang

sebaliknya.

Ketika kita lebih kritis lagi untuk mencermati mengenai pembagian peran itu, maka

terlihat dengan jelas bahwa perempuan selalu identik dengan peran-peran kedua

setelah laki-laki. Lebih luas lagi, saat kita mencoba cermati terhadap berbagai

peran yang banyak dapat dijalani dalam ruang publik, secara umum ‘seolah’ lebih

2

media

PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI,

OLAHRAGA, DAN KESEHATAN

ELABORASI ISI

1. FILOSOFI KURIKULUM MERDEKA

a. Pengertian Kurikulum

Salah satu elemen paling krusial dalam pendidikan yang tidak dapat diabaikan adalah

kurikulum. Kedudukan kurikulum memiliki peran yang sangat signifikan dan strategis.

Kurikulum berfungsi sebagai gambaran dari visi, misi, dan tujuan suatu institusi atau

lembaga pendidikan. Lebih dari itu, kurikulum juga memuat seperangkat kegiatan yang

harus dilakukan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Asal usul istilah "kurikulum" (curriculum), yang awalnya digunakan dalam dunia olahraga,

berasal dari kata "curir" (pelari) dan "currere" (tempat berpacu). Pada saat itu, kurikulum

diartikan sebagai lintasan yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start

sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian, konsep tersebut

diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi serangkaian mata pelajaran (subject) yang

harus ditempuh oleh seorang peserta didik mulai dari awal sampai akhir program pelajaran

untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah (Susilana, Asep Herry, 2018, p. 2).

Kurikulum mencakup semua pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar yang

perlu dilakukan peserta didik dalam program sekolah. Kurikulum juga meliputi pengalaman

pembelajaran yang direncanakan dan memiliki tahapan tertentu sehingga memungkinkan

semua murid mencapai tujuan yang diharapkan. Pada akhirnya, kurikulum mewakili

rencana yang memandu penyampaian pengalaman belajar dan instruksi (Lund &

Tannehill, 2015, p. 6).

3

4

media

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Undang-Undang

Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menjelaskan definisi

kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,

dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan

kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pengertian kurikulum senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan teori dan

praktik pendidikan. Karena ada banyak pandangan berbeda mengenai pengertian

kurikulum, sulit untuk secara teoritis menentukan satu pengertian yang mencakup semua

pendapat yang ada. Meskipun demikian, pengetahuan tentang konsep dasar kurikulum

tetap penting untuk dipahami.

Kurikulum perlu terus diperbarui dan ditingkatkan agar selaras dengan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang. Oleh

karena itu, tidak mengherankan bahwa di Indonesia terus berusaha dan melakukan

pengembangan kurikulum. Saat ini, Kurikulum Merdeka menjadi pengembangan terbaru

setelah revisi dari Kurikulum 2013 yang telah disempurnakan.

Pembahasan kurikulum pada konteks ini adalah kurikulum dalam arti luas yakni kurikulum

dalam tingkat nasional. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Tentang

Standar Nasional Pendidikan kita memahami bahwa kurikulum terdiri atas kerangka dasar

kurikulum dan struktur kurikulum. Kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum

menjadi landasan bagi guru dalam mengembangkan kurikulum di satuan pendidikan.

Pada kajian akademik Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran (2021), hal yang perlu

dilakukan pendidik yakni pengembangan kerangka dasar dan struktur kurikulum

yang telah dirancang di tingkat nasional ke dalam kurikulum tingkat satuan

5

media

pendidikan untuk sampai pada perubahan proses pembelajaran di level peserta

didik dan mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pakar kurikulum (Schmidt et al., 1996 cit. OECD, 2020a; Valverde et al., 2002)

memvisualisasikan keterkaitan antara kerangka kurikulum yang dikembangkan untuk level

nasional sampai dengan kurikulum yang benar-benar dipelajari peserta didik sebagai

berikut;

Gambar 1.1

Keterkaitan antara kerangka kurikulum

Kurikulum juga merupakan seperangkat rencana pembelajaran yang terdiri dari isi dan

materi-materi pelajaran yang terstruktur, terprogram, dan terencana dengan baik.

Kurikulum juga berkaitan dengan berbagai kegiatan dan interaksi sosial di lingkungan

dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan tujuan mencapai tujuan

pendidikan.

Kepala sekolah, pengawas, menggunakan kurikulum sebagai pedoman untuk melakukan

supervisi dan pengawasan. Orang tua dapat menggunakan kurikulum sebagai panduan

dalam membimbing anak-anaknya belajar di rumah. Masyarakat dapat menggunakan

kurikulum sebagai referensi untuk memberikan dukungan dalam menyelenggarakan

6

media

proses pendidikan di sekolah. Sedangkan bagi peserta didik, kurikulum dapat menjadi

acuan dalam melaksanakan kegiatan belajar.

b. Artikulasi Visi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Nasional

dan Kurikulum Merdeka

Ki Hadjar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan Indonesia yang dianggap sebagai

bapak pendidikan nasional. Ia memiliki visi yang kuat tentang pentingnya pendidikan bagi

bangsa Indonesia dan berusaha keras untuk meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia

pada zamannya.

Gambar 1.3. Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya

VISI PENDIDIKAN KI HADJAR TELAH DIULAS DALAM MODUL 1.1PROGRAM PENDIDIKAN GURU
PENGGERAK, YAITU “REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL”.

Bapak Ibu guru PJOK, pendidikan nasional Indonesia telah mengalami perkembangan

yang signifikan sejak zaman kolonial hingga era modern. Di tengah dinamika ini, pemikiran

dan kontribusi Ki Hajar Dewantara menjadi pilar penting dalam menyusun visi pendidikan

nasional yang inklusif dan progresif. Sebagai pelopor pendidikan bagi kaum pribumi, Ki

Hajar Dewantara menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana pembebasan dan

7

media

pemberdayaan bagi seluruh lapisan masyarakat. Visinya tentang pendidikan bukan

sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran kritis

yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.

Ki Hadjar menggaris bawahi bahwa maksud pendidikan adalah “menuntun segala kodrat

yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan

yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh

sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang

ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan

tumbuhnya kekuatan kodrat anak.” (hal. 10, 2022, dari Dewantara, 1936).

Bapak dan Ibu kali ini, kita akan menjelajahi lebih jauh bagaimana pemikiran Ki Hadjar

Dewantara telah membentuk landasan bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.

Pemikiran tersebut kemudian diejawantahkan oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi dasar-

dasar pendidikan di antaranya:

(1) Pendidikan untuk semua; pendidikan adalah hak setiap individu tanpa memandang

status sosial, gender, atau latar belakang budaya. Ia memperjuangkan akses pendidikan

yang merata bagi semua anak Indonesia, termasuk yang berasal dari kalangan

masyarakat kurang mampu.

(2)Pendidikan berbasis budaya; pendidikan haruslah memperhatikan dan membangun

kearifan lokal serta budaya setempat. Ia berpendapat bahwa pendidikan yang

menghormati dan memperkuat identitas budaya akan lebih efektif dalam membentuk

karakter dan memajukan bangsa.

(3) Pendidikan yang holistik; pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek akademik

semata, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan fisik, emosional, dan sosial

8

media

individu. Ia mendorong pendidikan yang menyeluruh (holistik) untuk mengembangkan

potensi dan kepribadian anak secara optimal.

(4)Pendidikan karakter: menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat

dalam pendidikan. Menurutnya, pendidikan harus membantu mengembangkan sifat-sifat

seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, dan semangat gotong royong untuk

membentuk generasi yang berkarakter dan berintegritas.

(5) Pendidikan yang relevan dengan kehidupan; pendidikan harus relevan dengan

kehidupan sehari-hari. Pendidikan harus memberikan pengetahuan dan keterampilan

yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga murid dapat mempersiapkan diri

dengan baik untuk menghadapi tantangan masa depan.

(6)Pendidikan sebagai alat pembebasan; pendidikan sebagai alat pembebasan dari

ketidakadilan dan penindasan. Ia berjuang untuk menciptakan pendidikan yang dapat

memberikan kesempatan kepada semua individu untuk berkembang dan meraih

kehidupan yang lebih baik. Dasar-dasar pendidikan Ki Hadjar Dewantara ini masih relevan

hingga saat ini dan menjadi landasan dalam pembangunan sistem pendidikan di

Indonesia. Kontribusi dan pemikirannya dalam bidang pendidikan telah memberikan

pengaruh yang sangat besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.

"Dalam Kurikulum Merdeka, setiap anak adalah

bintang yang berkilau. Setiap murid memiliki potensi

unik yang perlu diungkap dan ditemukan melalui

pendekatan pendidikan yang inklusif dan terarah."

Kurikulum Merdeka menggunakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada
kebebasan, kemandirian, dan pengembangan potensi individu atau pendidikan yang
menuntun, menurut istilah Ki Hadjar Dewantara.

9

media

c. Karakteristik Utama Kurikulum Merdeka

Dilatarbelakangi krisis pembelajaran yang berkepanjangan dan diperparah dengan

adanya pandemi COVID-19, maka untuk mengatasi ketertinggalan pembelajaran

Kemendikbudristek mencoba untuk melakukan upaya pemulihan pembelajaran. Pada

bulan Maret 2024 pemerintah memberlakukan secara nasional “Kurikulum Merdeka”.

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang

menyampaikan materi esensial agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami

konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai

perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan

minat peserta didik. Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk

menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan

belajar peserta didik.

Kurikulum Merdeka bertujuan memberi kesempatan bagi semua peserta didik di Indonesia

untuk menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan berkarakter Pancasila. Dengan

mendorong peserta didik untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran, peserta didik

dapat mengembangkan potensi secara penuh dan mencapai keberhasilan yang lebih baik

dalam kehidupannya.

Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk menciptakan pembelajaran berkualitas sesuai

kebutuhan peserta didik dan kondisi satuan pendidikan. Dengan memfasilitasi

pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, guru dapat merefleksikan dan

memperbaiki praktik pembelajaran secara berkelanjutan. Berikut merupakan tiga

karakteristik utama Kurikulum Merdeka dan manfaatnya :

10

media

1. Fokus pada materi esensial

Berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan kompetensi dan

karakter Peserta Didik agar Pendidik memiliki waktu yang memadai untuk melakukan

pembelajaran yang mendalam dan bermakna

2. Pengembangan kompetensi dan karakter

Pengembangan kompetensi sosial, emosional, dan moral Peserta Didik, baik dengan

pengalokasian

waktu

khusus

maupun

secara

terintegrasi

dengan

proses

pembelajaran.

3. Fleksibilitas Pembelajaran

Kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi Peserta

Didik, karakteristik satuan pendidikan, dan konteks lingkungan sosial budaya

setempat.

Kurikulum Merdeka menjadi kerangka dan struktur dasar yang memberi fleksibilitas bagi

pendidik dan satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikannya

secara kontekstual. Sebagai pedoman dalam menerapkan Kurikulum Merdeka,

Kemendikbudristek juga menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan asesmen yang

berorientasi pada peserta didik, seperti pembelajaran terdiferensiasi sesuai kemampuan

murid.

Di dalamnya, terdapat aturan muatan dan beban belajar intrakurikuler, kokurikuler, dan

ekstrakurikuler. Adapun dengan adanya pengaturan jam pelajaran per tahun, satuan

pendidikan dan guru dapat mengembangkan dan mengorganisasikan pembelajaran sesuai

konteks lebih leluasa. Pembelajaran karakter dan kompetensi melalui Projek Penguatan

Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian dari struktur kurikulum sehingga menjadi

kegiatan utama yang diikuti seluruh murid. Begitu pula, ekstrakurikuler tetap

11

media

diselenggarakan satuan pendidikan untuk memfasilitasi minat dan bakat murid sekaligus

menguatkan pengembangan profil pelajar Pancasila.

d. Pembelajaran,

Asesmen,

dan

Perancangan

Pembelajaran

dalam

Kurikulum Merdeka

Profil pelajar pancasila pada lingkup praktik pembelajaran pembelajaran yang dilakukan

oleh pendidik dalam pembelajaran dicapai melalui implementasi prinsip-prinsip

pembelajaran Kurikulum Merdeka yang dilencangkan dengan perencanaan dan penilaian

(pengelolaan

pembelajaran).

Prinsip-prinsip

pengelolaan

dari

merencanakan,

melaksanakan, dan melakukan asesmen pembelajaran Kurikulum Merdeka yang harus

diterapkan pada proses pembelajaran yaitu sesuai dengan panduan pembelajaran dan

asesmen paradigma baru (McTighe et al., 2017; Phil, 2021). Berikut merupakan

penjabarannya:

1. Pembelajaran Kurikulum Merdeka.

a. Prinsip-Prinsip

Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka dilaksanakan dengan prinsip:

memanfaatkan asesmen pada awal, proses, dan akhir pembelajaran untuk

memahami kebutuhan dan posisi Peserta Didik dalam perjalanan belajarnya;

menggunakan pemahaman tentang kebutuhan dan posisi Peserta Didik untuk

melakukan penyesuaian pembelajaran;

memprioritaskan terjadinya kemajuan belajar Peserta Didik di atas cakupan

dan ketuntasan muatan kurikulum yang disampaikan; dan

didasarkan pada refleksi atas kemajuan belajar Peserta Didik yang dilakukan

secara kolaboratif dengan Pendidik lain.

12

media

b. Cakupan Kegiatan

Pembelajaran intrakurikuler yang dilakukan secara terdiferensiasi sehingga

peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan

kompetensi. Hal ini juga memberikan keleluasaan bagi guru untuk memilih

perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta

didiknya.

Pembelajaran kokurikuler berupa projek penguatan profil pelajar Pancasila,

berprinsip pembelajaran interdisipliner yang berorientasi pada pengembangan

karakter dan kompetensi umum.

Pembelajaran ekstrakurikuler dilaksanakan sesuai dengan minat murid dan

sumber daya satuan pendidikan.

c. Pelaksanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka merupakan siklus

yang melalui tiga tahapan berikut:

Asesmen awal pembelajaran

Guru melakukan asesmen awal untuk mengenali potensi, karakteristik,

kebutuhan, tahap perkembangan, dan tahap pencapaian pembelajaran murid.

Asesmen umumnya dilaksanakan pada awal tahun pembelajaran, sehingga

hasilnya dapat digunakan untuk melakukan perencanaan lebih lanjut terkait

metode pembelajaran yang sebaiknya digunakan.

Perencanaan

Guru menyusun proses pembelajaran sesuai dengan hasil asesmen

diagnostik, serta melakukan pengelompokan murid berdasarkan tingkat

kemampuan pada level yang berbeda.

13

media

Pembelajaran

Selama proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen formatif

secara berkala, untuk mengetahui progres pembelajaran murid dan melakukan

penyesuaian metode pembelajaran, jika diperlukan. Pada akhir proses

pembelajaran, guru juga bisa melakukan asesmen sumatif sebagai proses

evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran.

2. Asesmen Kurikulum Merdeka:

Prinsip-prinsip asesmen dalam implementasi kurikulum merdeka

asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi

pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik

untuk pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka

dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya;

asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut,

dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan

asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran;

asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya

(reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan

tentang langkah dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran

yang sesuai selanjutnya;

laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana

dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan

kompetensi yang dicapai, serta strategi tindak lanjut;

hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan,

dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu

pembelajaran.

14

media

Asesmen juga dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran peserta

didik, Ibu Bapak akan mempelajari lebih dalam pada modul 2.6 Asesmen Otentik

dalam Pembelajaran PJOK)

3. Perencanaan Pembelajaran

Rencana pembelajaran dirancang untuk memandu guru melaksanakan

pembelajaran sehari-hari untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dengan

demikian, rencana pembelajaran disusun berdasarkan alur tujuan pembelajaran

yang digunakan pendidik. Perlu diingatkan kembali bahwa alur tujuan

pembelajaran tidak ditetapkan oleh pemerintah sehingga pendidik yang satu dapat

menggunakan alur tujuan pembelajaran yang berbeda dengan pendidik lainnya

meskipun mengajar peserta didik dalam fase yang sama. Oleh karena itu, rencana

pembelajaran yang dibuat masing-masing pendidik pun dapat berbeda-beda,

terlebih lagi karena rencana pembelajaran ini dirancang dengan memperhatikan

berbagai faktor lainnya, termasuk faktor peserta didik yang berbeda, lingkungan

sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, dan lain-lain. Setiap

pendidik perlu memiliki rencana pembelajaran untuk membantu mengarahkan

proses pembelajaran mencapai Capaian Pembelajaran. Rencana pembelajaran ini

dapat berupa: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang dikenal sebagai

RPP atau (2) dalam bentuk modul ajar. Apabila pendidik menggunakan modul

ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP, karena komponen-komponen RPP

ada dalam modul ajar.

15

media

Gambar 1.2. Proses Perancangan Kegiatan Pembelajaran

BAPAK IBU AKAN MENDAPATKAN MATERI LEBIH LENGKAP DAN RINCI PADA MODUL-MODUL LAIN.

MODUL 1.6PERENCANAAN PEMBELAJARAN PJOK,MODUL 2.2;MENGAJAR YANG EFEKTIF

DANMODUL 2.6ASESMEN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN PJOK.

media

PERHATIKANILUSTRASIBERIKUT:

Gambar 4

Bapak/Ibu guru, perhatikan dengan seksama gambar di atas, bagaimana peran

perempuan dari ragam profesi yang ditampilkan? Sepintas tampak tidak ada yang

menjadi masalah atau mengundang keanehan. Tanpa disadari cara berpikir kita

selama ini diwarnai budaya patriarki yang mempengaruhi cara pandang laki-laki

dan perempuan dalam mengambil peran-peran sosial. Saat kita mendengar kata

‘dokter’ maka yang yang terbayang adalah sosok laki-laki, sebaliknya sebaliknya—

kalau kita mendengar kata ‘perawat’ maka yang segera terbayang adalah sosok

perempuan.

Demikian pula berlaku seperti digambar untuk posisi pilot, pramugari, direktur,

maupun sekretaris. Seolah, peruntukkan jenis kerja tersebut dilekatkan pada jenis

kelamin tertentu. Padahal secara fakta, banyak yang dalam kondisi yang

sebaliknya.

Ketika kita lebih kritis lagi untuk mencermati mengenai pembagian peran itu, maka

terlihat dengan jelas bahwa perempuan selalu identik dengan peran-peran kedua

setelah laki-laki. Lebih luas lagi, saat kita mencoba cermati terhadap berbagai

peran yang banyak dapat dijalani dalam ruang publik, secara umum ‘seolah’ lebih

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 15

SLIDE