
Pengembangan Kurikulum PJOK
Presentation
•
Physical Ed
•
5th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
Salvador Tokan
FREE Resource
15 Slides • 0 Questions
1
PERHATIKANILUSTRASIBERIKUT:
Gambar 4
Bapak/Ibu guru, perhatikan dengan seksama gambar di atas, bagaimana peran
perempuan dari ragam profesi yang ditampilkan? Sepintas tampak tidak ada yang
menjadi masalah atau mengundang keanehan. Tanpa disadari cara berpikir kita
selama ini diwarnai budaya patriarki yang mempengaruhi cara pandang laki-laki
dan perempuan dalam mengambil peran-peran sosial. Saat kita mendengar kata
‘dokter’ maka yang yang terbayang adalah sosok laki-laki, sebaliknya sebaliknya—
kalau kita mendengar kata ‘perawat’ maka yang segera terbayang adalah sosok
perempuan.
Demikian pula berlaku seperti digambar untuk posisi pilot, pramugari, direktur,
maupun sekretaris. Seolah, peruntukkan jenis kerja tersebut dilekatkan pada jenis
kelamin tertentu. Padahal secara fakta, banyak yang dalam kondisi yang
sebaliknya.
Ketika kita lebih kritis lagi untuk mencermati mengenai pembagian peran itu, maka
terlihat dengan jelas bahwa perempuan selalu identik dengan peran-peran kedua
setelah laki-laki. Lebih luas lagi, saat kita mencoba cermati terhadap berbagai
peran yang banyak dapat dijalani dalam ruang publik, secara umum ‘seolah’ lebih
2
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI,
OLAHRAGA, DAN KESEHATAN
ELABORASI ISI
1. FILOSOFI KURIKULUM MERDEKA
a. Pengertian Kurikulum
Salah satu elemen paling krusial dalam pendidikan yang tidak dapat diabaikan adalah
kurikulum. Kedudukan kurikulum memiliki peran yang sangat signifikan dan strategis.
Kurikulum berfungsi sebagai gambaran dari visi, misi, dan tujuan suatu institusi atau
lembaga pendidikan. Lebih dari itu, kurikulum juga memuat seperangkat kegiatan yang
harus dilakukan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Asal usul istilah "kurikulum" (curriculum), yang awalnya digunakan dalam dunia olahraga,
berasal dari kata "curir" (pelari) dan "currere" (tempat berpacu). Pada saat itu, kurikulum
diartikan sebagai lintasan yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start
sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian, konsep tersebut
diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi serangkaian mata pelajaran (subject) yang
harus ditempuh oleh seorang peserta didik mulai dari awal sampai akhir program pelajaran
untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah (Susilana, Asep Herry, 2018, p. 2).
Kurikulum mencakup semua pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar yang
perlu dilakukan peserta didik dalam program sekolah. Kurikulum juga meliputi pengalaman
pembelajaran yang direncanakan dan memiliki tahapan tertentu sehingga memungkinkan
semua murid mencapai tujuan yang diharapkan. Pada akhirnya, kurikulum mewakili
rencana yang memandu penyampaian pengalaman belajar dan instruksi (Lund &
Tannehill, 2015, p. 6).
3
4
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menjelaskan definisi
kurikulum. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Pengertian kurikulum senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan teori dan
praktik pendidikan. Karena ada banyak pandangan berbeda mengenai pengertian
kurikulum, sulit untuk secara teoritis menentukan satu pengertian yang mencakup semua
pendapat yang ada. Meskipun demikian, pengetahuan tentang konsep dasar kurikulum
tetap penting untuk dipahami.
Kurikulum perlu terus diperbarui dan ditingkatkan agar selaras dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang. Oleh
karena itu, tidak mengherankan bahwa di Indonesia terus berusaha dan melakukan
pengembangan kurikulum. Saat ini, Kurikulum Merdeka menjadi pengembangan terbaru
setelah revisi dari Kurikulum 2013 yang telah disempurnakan.
Pembahasan kurikulum pada konteks ini adalah kurikulum dalam arti luas yakni kurikulum
dalam tingkat nasional. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Tentang
Standar Nasional Pendidikan kita memahami bahwa kurikulum terdiri atas kerangka dasar
kurikulum dan struktur kurikulum. Kerangka dasar kurikulum dan struktur kurikulum
menjadi landasan bagi guru dalam mengembangkan kurikulum di satuan pendidikan.
Pada kajian akademik Kurikulum untuk Pemulihan Pembelajaran (2021), hal yang perlu
dilakukan pendidik yakni pengembangan kerangka dasar dan struktur kurikulum
yang telah dirancang di tingkat nasional ke dalam kurikulum tingkat satuan
5
pendidikan untuk sampai pada perubahan proses pembelajaran di level peserta
didik dan mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pakar kurikulum (Schmidt et al., 1996 cit. OECD, 2020a; Valverde et al., 2002)
memvisualisasikan keterkaitan antara kerangka kurikulum yang dikembangkan untuk level
nasional sampai dengan kurikulum yang benar-benar dipelajari peserta didik sebagai
berikut;
Gambar 1.1
Keterkaitan antara kerangka kurikulum
Kurikulum juga merupakan seperangkat rencana pembelajaran yang terdiri dari isi dan
materi-materi pelajaran yang terstruktur, terprogram, dan terencana dengan baik.
Kurikulum juga berkaitan dengan berbagai kegiatan dan interaksi sosial di lingkungan
dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan tujuan mencapai tujuan
pendidikan.
Kepala sekolah, pengawas, menggunakan kurikulum sebagai pedoman untuk melakukan
supervisi dan pengawasan. Orang tua dapat menggunakan kurikulum sebagai panduan
dalam membimbing anak-anaknya belajar di rumah. Masyarakat dapat menggunakan
kurikulum sebagai referensi untuk memberikan dukungan dalam menyelenggarakan
6
proses pendidikan di sekolah. Sedangkan bagi peserta didik, kurikulum dapat menjadi
acuan dalam melaksanakan kegiatan belajar.
b. Artikulasi Visi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Pendidikan Nasional
dan Kurikulum Merdeka
Ki Hadjar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan Indonesia yang dianggap sebagai
bapak pendidikan nasional. Ia memiliki visi yang kuat tentang pentingnya pendidikan bagi
bangsa Indonesia dan berusaha keras untuk meningkatkan taraf pendidikan di Indonesia
pada zamannya.
Gambar 1.3. Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya
VISI PENDIDIKAN KI HADJAR TELAH DIULAS DALAM MODUL 1.1PROGRAM PENDIDIKAN GURU
PENGGERAK, YAITU “REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN NASIONAL”.
Bapak Ibu guru PJOK, pendidikan nasional Indonesia telah mengalami perkembangan
yang signifikan sejak zaman kolonial hingga era modern. Di tengah dinamika ini, pemikiran
dan kontribusi Ki Hajar Dewantara menjadi pilar penting dalam menyusun visi pendidikan
nasional yang inklusif dan progresif. Sebagai pelopor pendidikan bagi kaum pribumi, Ki
Hajar Dewantara menegaskan pentingnya pendidikan sebagai sarana pembebasan dan
7
pemberdayaan bagi seluruh lapisan masyarakat. Visinya tentang pendidikan bukan
sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan kesadaran kritis
yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan.
Ki Hadjar menggaris bawahi bahwa maksud pendidikan adalah “menuntun segala kodrat
yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh
sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang
ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan
tumbuhnya kekuatan kodrat anak.” (hal. 10, 2022, dari Dewantara, 1936).
Bapak dan Ibu kali ini, kita akan menjelajahi lebih jauh bagaimana pemikiran Ki Hadjar
Dewantara telah membentuk landasan bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.
Pemikiran tersebut kemudian diejawantahkan oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi dasar-
dasar pendidikan di antaranya:
(1) Pendidikan untuk semua; pendidikan adalah hak setiap individu tanpa memandang
status sosial, gender, atau latar belakang budaya. Ia memperjuangkan akses pendidikan
yang merata bagi semua anak Indonesia, termasuk yang berasal dari kalangan
masyarakat kurang mampu.
(2)Pendidikan berbasis budaya; pendidikan haruslah memperhatikan dan membangun
kearifan lokal serta budaya setempat. Ia berpendapat bahwa pendidikan yang
menghormati dan memperkuat identitas budaya akan lebih efektif dalam membentuk
karakter dan memajukan bangsa.
(3) Pendidikan yang holistik; pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek akademik
semata, tetapi juga harus memperhatikan perkembangan fisik, emosional, dan sosial
8
individu. Ia mendorong pendidikan yang menyeluruh (holistik) untuk mengembangkan
potensi dan kepribadian anak secara optimal.
(4)Pendidikan karakter: menekankan pentingnya pembentukan karakter yang kuat
dalam pendidikan. Menurutnya, pendidikan harus membantu mengembangkan sifat-sifat
seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, dan semangat gotong royong untuk
membentuk generasi yang berkarakter dan berintegritas.
(5) Pendidikan yang relevan dengan kehidupan; pendidikan harus relevan dengan
kehidupan sehari-hari. Pendidikan harus memberikan pengetahuan dan keterampilan
yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, sehingga murid dapat mempersiapkan diri
dengan baik untuk menghadapi tantangan masa depan.
(6)Pendidikan sebagai alat pembebasan; pendidikan sebagai alat pembebasan dari
ketidakadilan dan penindasan. Ia berjuang untuk menciptakan pendidikan yang dapat
memberikan kesempatan kepada semua individu untuk berkembang dan meraih
kehidupan yang lebih baik. Dasar-dasar pendidikan Ki Hadjar Dewantara ini masih relevan
hingga saat ini dan menjadi landasan dalam pembangunan sistem pendidikan di
Indonesia. Kontribusi dan pemikirannya dalam bidang pendidikan telah memberikan
pengaruh yang sangat besar dalam pengembangan pendidikan di Indonesia.
"Dalam Kurikulum Merdeka, setiap anak adalah
bintang yang berkilau. Setiap murid memiliki potensi
unik yang perlu diungkap dan ditemukan melalui
pendekatan pendidikan yang inklusif dan terarah."
Kurikulum Merdeka menggunakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada
kebebasan, kemandirian, dan pengembangan potensi individu atau pendidikan yang
menuntun, menurut istilah Ki Hadjar Dewantara.
9
c. Karakteristik Utama Kurikulum Merdeka
Dilatarbelakangi krisis pembelajaran yang berkepanjangan dan diperparah dengan
adanya pandemi COVID-19, maka untuk mengatasi ketertinggalan pembelajaran
Kemendikbudristek mencoba untuk melakukan upaya pemulihan pembelajaran. Pada
bulan Maret 2024 pemerintah memberlakukan secara nasional “Kurikulum Merdeka”.
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang
menyampaikan materi esensial agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami
konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai
perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan
minat peserta didik. Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk
menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan
belajar peserta didik.
Kurikulum Merdeka bertujuan memberi kesempatan bagi semua peserta didik di Indonesia
untuk menjadi pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan berkarakter Pancasila. Dengan
mendorong peserta didik untuk mengambil peran aktif dalam pembelajaran, peserta didik
dapat mengembangkan potensi secara penuh dan mencapai keberhasilan yang lebih baik
dalam kehidupannya.
Kurikulum Merdeka mendorong guru untuk menciptakan pembelajaran berkualitas sesuai
kebutuhan peserta didik dan kondisi satuan pendidikan. Dengan memfasilitasi
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, guru dapat merefleksikan dan
memperbaiki praktik pembelajaran secara berkelanjutan. Berikut merupakan tiga
karakteristik utama Kurikulum Merdeka dan manfaatnya :
10
1. Fokus pada materi esensial
Berpusat pada muatan yang paling diperlukan untuk mengembangkan kompetensi dan
karakter Peserta Didik agar Pendidik memiliki waktu yang memadai untuk melakukan
pembelajaran yang mendalam dan bermakna
2. Pengembangan kompetensi dan karakter
Pengembangan kompetensi sosial, emosional, dan moral Peserta Didik, baik dengan
pengalokasian
waktu
khusus
maupun
secara
terintegrasi
dengan
proses
pembelajaran.
3. Fleksibilitas Pembelajaran
Kurikulum dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi Peserta
Didik, karakteristik satuan pendidikan, dan konteks lingkungan sosial budaya
setempat.
Kurikulum Merdeka menjadi kerangka dan struktur dasar yang memberi fleksibilitas bagi
pendidik dan satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikannya
secara kontekstual. Sebagai pedoman dalam menerapkan Kurikulum Merdeka,
Kemendikbudristek juga menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan asesmen yang
berorientasi pada peserta didik, seperti pembelajaran terdiferensiasi sesuai kemampuan
murid.
Di dalamnya, terdapat aturan muatan dan beban belajar intrakurikuler, kokurikuler, dan
ekstrakurikuler. Adapun dengan adanya pengaturan jam pelajaran per tahun, satuan
pendidikan dan guru dapat mengembangkan dan mengorganisasikan pembelajaran sesuai
konteks lebih leluasa. Pembelajaran karakter dan kompetensi melalui Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian dari struktur kurikulum sehingga menjadi
kegiatan utama yang diikuti seluruh murid. Begitu pula, ekstrakurikuler tetap
11
diselenggarakan satuan pendidikan untuk memfasilitasi minat dan bakat murid sekaligus
menguatkan pengembangan profil pelajar Pancasila.
d. Pembelajaran,
Asesmen,
dan
Perancangan
Pembelajaran
dalam
Kurikulum Merdeka
Profil pelajar pancasila pada lingkup praktik pembelajaran pembelajaran yang dilakukan
oleh pendidik dalam pembelajaran dicapai melalui implementasi prinsip-prinsip
pembelajaran Kurikulum Merdeka yang dilencangkan dengan perencanaan dan penilaian
(pengelolaan
pembelajaran).
Prinsip-prinsip
pengelolaan
dari
merencanakan,
melaksanakan, dan melakukan asesmen pembelajaran Kurikulum Merdeka yang harus
diterapkan pada proses pembelajaran yaitu sesuai dengan panduan pembelajaran dan
asesmen paradigma baru (McTighe et al., 2017; Phil, 2021). Berikut merupakan
penjabarannya:
1. Pembelajaran Kurikulum Merdeka.
a. Prinsip-Prinsip
Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka dilaksanakan dengan prinsip:
•memanfaatkan asesmen pada awal, proses, dan akhir pembelajaran untuk
memahami kebutuhan dan posisi Peserta Didik dalam perjalanan belajarnya;
•menggunakan pemahaman tentang kebutuhan dan posisi Peserta Didik untuk
melakukan penyesuaian pembelajaran;
•memprioritaskan terjadinya kemajuan belajar Peserta Didik di atas cakupan
dan ketuntasan muatan kurikulum yang disampaikan; dan
•didasarkan pada refleksi atas kemajuan belajar Peserta Didik yang dilakukan
secara kolaboratif dengan Pendidik lain.
12
b. Cakupan Kegiatan
•Pembelajaran intrakurikuler yang dilakukan secara terdiferensiasi sehingga
peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan
kompetensi. Hal ini juga memberikan keleluasaan bagi guru untuk memilih
perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta
didiknya.
•Pembelajaran kokurikuler berupa projek penguatan profil pelajar Pancasila,
berprinsip pembelajaran interdisipliner yang berorientasi pada pengembangan
karakter dan kompetensi umum.
•Pembelajaran ekstrakurikuler dilaksanakan sesuai dengan minat murid dan
sumber daya satuan pendidikan.
c. Pelaksanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka merupakan siklus
yang melalui tiga tahapan berikut:
•Asesmen awal pembelajaran
Guru melakukan asesmen awal untuk mengenali potensi, karakteristik,
kebutuhan, tahap perkembangan, dan tahap pencapaian pembelajaran murid.
Asesmen umumnya dilaksanakan pada awal tahun pembelajaran, sehingga
hasilnya dapat digunakan untuk melakukan perencanaan lebih lanjut terkait
metode pembelajaran yang sebaiknya digunakan.
•Perencanaan
Guru menyusun proses pembelajaran sesuai dengan hasil asesmen
diagnostik, serta melakukan pengelompokan murid berdasarkan tingkat
kemampuan pada level yang berbeda.
13
•Pembelajaran
Selama proses pembelajaran, guru akan mengadakan asesmen formatif
secara berkala, untuk mengetahui progres pembelajaran murid dan melakukan
penyesuaian metode pembelajaran, jika diperlukan. Pada akhir proses
pembelajaran, guru juga bisa melakukan asesmen sumatif sebagai proses
evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran.
2. Asesmen Kurikulum Merdeka:
Prinsip-prinsip asesmen dalam implementasi kurikulum merdeka
•asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, fasilitasi
pembelajaran, dan penyediaan informasi yang holistik, sebagai umpan balik
untuk pendidik, peserta didik, dan orang tua/wali agar dapat memandu mereka
dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya;
•asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut,
dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan
asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran;
•asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya
(reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar, menentukan keputusan
tentang langkah dan sebagai dasar untuk menyusun program pembelajaran
yang sesuai selanjutnya;
•laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana
dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan
kompetensi yang dicapai, serta strategi tindak lanjut;
•hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan,
dan orang tua/wali sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu
pembelajaran.
14
Asesmen juga dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran peserta
didik, Ibu Bapak akan mempelajari lebih dalam pada modul 2.6 Asesmen Otentik
dalam Pembelajaran PJOK)
3. Perencanaan Pembelajaran
Rencana pembelajaran dirancang untuk memandu guru melaksanakan
pembelajaran sehari-hari untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran. Dengan
demikian, rencana pembelajaran disusun berdasarkan alur tujuan pembelajaran
yang digunakan pendidik. Perlu diingatkan kembali bahwa alur tujuan
pembelajaran tidak ditetapkan oleh pemerintah sehingga pendidik yang satu dapat
menggunakan alur tujuan pembelajaran yang berbeda dengan pendidik lainnya
meskipun mengajar peserta didik dalam fase yang sama. Oleh karena itu, rencana
pembelajaran yang dibuat masing-masing pendidik pun dapat berbeda-beda,
terlebih lagi karena rencana pembelajaran ini dirancang dengan memperhatikan
berbagai faktor lainnya, termasuk faktor peserta didik yang berbeda, lingkungan
sekolah, ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, dan lain-lain. Setiap
pendidik perlu memiliki rencana pembelajaran untuk membantu mengarahkan
proses pembelajaran mencapai Capaian Pembelajaran. Rencana pembelajaran ini
dapat berupa: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang dikenal sebagai
RPP atau (2) dalam bentuk modul ajar. Apabila pendidik menggunakan modul
ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP, karena komponen-komponen RPP
ada dalam modul ajar.
15
Gambar 1.2. Proses Perancangan Kegiatan Pembelajaran
BAPAK IBU AKAN MENDAPATKAN MATERI LEBIH LENGKAP DAN RINCI PADA MODUL-MODUL LAIN.
MODUL 1.6PERENCANAAN PEMBELAJARAN PJOK,MODUL 2.2;MENGAJAR YANG EFEKTIF
DANMODUL 2.6ASESMEN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN PJOK.
PERHATIKANILUSTRASIBERIKUT:
Gambar 4
Bapak/Ibu guru, perhatikan dengan seksama gambar di atas, bagaimana peran
perempuan dari ragam profesi yang ditampilkan? Sepintas tampak tidak ada yang
menjadi masalah atau mengundang keanehan. Tanpa disadari cara berpikir kita
selama ini diwarnai budaya patriarki yang mempengaruhi cara pandang laki-laki
dan perempuan dalam mengambil peran-peran sosial. Saat kita mendengar kata
‘dokter’ maka yang yang terbayang adalah sosok laki-laki, sebaliknya sebaliknya—
kalau kita mendengar kata ‘perawat’ maka yang segera terbayang adalah sosok
perempuan.
Demikian pula berlaku seperti digambar untuk posisi pilot, pramugari, direktur,
maupun sekretaris. Seolah, peruntukkan jenis kerja tersebut dilekatkan pada jenis
kelamin tertentu. Padahal secara fakta, banyak yang dalam kondisi yang
sebaliknya.
Ketika kita lebih kritis lagi untuk mencermati mengenai pembagian peran itu, maka
terlihat dengan jelas bahwa perempuan selalu identik dengan peran-peran kedua
setelah laki-laki. Lebih luas lagi, saat kita mencoba cermati terhadap berbagai
peran yang banyak dapat dijalani dalam ruang publik, secara umum ‘seolah’ lebih
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 15
SLIDE
Similar Resources on Wayground
8 questions
Formación Cívica y Ética 5º Primaria
Lesson
•
5th Grade
11 questions
Quiz Literasi Gen Z
Lesson
•
KG
11 questions
NOTA PJPK BAB 5 (KESIHATAN DIRI & KELUARGA
Lesson
•
5th Grade
12 questions
pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan
Lesson
•
5th Grade
12 questions
Penjaskes kelas 5 SD
Lesson
•
5th Grade
9 questions
PENDIDIKAN KESIHATAN REPRODUKTIFDAN SOSIAL (PEERS) TING.5
Lesson
•
5th Grade
10 questions
Latihan IPAS Kelas 5
Lesson
•
5th Grade
8 questions
Guling Ulang-Alik
Lesson
•
5th Grade
Popular Resources on Wayground
15 questions
Fractions on a Number Line
Quiz
•
3rd Grade
10 questions
Probability Practice
Quiz
•
4th Grade
15 questions
Probability on Number LIne
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
25 questions
Multiplication Facts
Quiz
•
5th Grade
22 questions
fractions
Quiz
•
3rd Grade
6 questions
Appropriate Chromebook Usage
Lesson
•
7th Grade
10 questions
Greek Bases tele and phon
Quiz
•
6th - 8th Grade