Search Header Logo
BAB NORMA, HAK DAN KEWAJIBAN KELAS 6

BAB NORMA, HAK DAN KEWAJIBAN KELAS 6

Assessment

Presentation

Social Studies

6th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Eni Lutfiy

Used 1+ times

FREE Resource

9 Slides • 0 Questions

1

media

PENDIDIKAN PANCASILA KURIKULUM MERDEKA

Kelas 6

A.MengenalNorma,Hak,danKewajiban Kelas 6 SD

1. Mengenal Norma-Norma

Mengenal Norma-Norma dalam Masyarakat

Apa yang terbayang dalam pikiran kalian ketika mendengar kata “norma”? Biasanya kata-kata
ini digunakan ketika masyarakat sedang membicarakan ketertiban dan keteraturan dalam hidup
bersama. Untuk lebih memahami pengertian dan manfaat norma dalam kehidupan bersama,
bacalah dengan cermat penjelasan berikut.

Semua orang selalu membutuhkan kehadiran orang lain, saling membutuhkan, dan saling
membantu. Kita hidup bersama banyak orang dengan berbagai latar belakang sehingga
terdapat banyak tantangan, terutama karena perbedaan cara berpikir, tingkah laku, keinginan,
dan selera. Agar tidak terjadi konflik atau pertengkaran, diperlukan adanya aturan yang
mengatur seluruh anggota kelompok. Aturan tersebut disepakati oleh seluruh anggota
kelompok. Setiap kelompok atau komunitas memiliki aturan, baik itu kelompok dengan
anggota terbatas maupun negara yang merupakan wadah bagi seluruh warga negara. Aturan
itu disebut norma.

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata “norma” adalah aturan atau
ketentuan yang mengikat warga kelompok atau warga komunitas. Dalam hal ini, semua warga,
baik dalam keluarga komunitas maupun negara wajib menaati aturan atau ketentuan tersebut.

Dalam kehidupan bersama ada bermacam-macam kelompok. Kelompok sesuku, kelompok
seagama, juga kelompok kedaerahan yang terdiri atas bermacam-macam suku dan agama,
serta kelompok yang lebih besar dari kelompok kedaerahan. Itulah yang disebut bangsa.
Seseorang dapat menjadi anggota dari beberapa kelompok, misalnya seorang yang beretnis
tertentu dan beragama tertentu juga menjadi seorang warga negara. Orang tersebut harus
memahami berbagai aturan dalam setiap kelompok di mana ia ada di dalamnya.

Ada beberapa jenis norma yang bila dilanggar akan membawa akibat, baik bagi kelompok
maupun dirinya sendiri. Setiap norma mempunyai sanksi atau hukuman bagi orang yang
melanggarnya.

a. Norma Kesopanan

Norma kesopanan adalah aturan tentang tata krama atau tingkah laku dalam masyarakat yang
bersumber dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, aturan atau tata cara makan bersama di meja
makan, aturan tentang cara berpakaian, aturan tentang berkata-kata halus atau kasar, aturan
tentang cara menyapa, atau tentang sikap tubuh dalam berbagai kondisi.

Setiap budaya memiliki norma kesopanan yang berbeda. Misalnya, budaya masyarakat Jawa
Tengah memiliki aturan berbahasa khusus atau kiasan untuk menunjukkan rasa hormat pada
orang lain. Sebaliknya, di daerah Sumatra atau Indonesia bagian timur, keterusterangan lebih
disukai daripada menggunakan kata-kata kiasan. Bagi beberapa masyarakat Indonesia,
menatap mata lawan bicara dianggap tidak sopan, apalagi terhadap orang yang lebih tua.
Sebaliknya, masyarakat Eropa justru menganggap tidak sopan jika tidak menatap mata lawan

2

media
media
media

bicara ketika berbincang-bincang. Contoh lain, dalam budaya masyarakat Eropa, bersendawa
di depan umum dianggap tidak sopan. Sebaliknya, dalam budaya Indonesia, kentut keras lebih
tidak sopan dibandingkan bersendawa keras. Pertemuan banyak orang dengan berbagai latar
belakang dapat mengubah kebiasaan terkait sopan santun ini.

b. Norma Agama

Norma agama adalah aturan yang menjadi pedoman bagi para pemeluk agama tertentu yang
bersumber dari penafsiran atas kitab suci agama tersebut. Dalam norma agama ada anjuran,
perintah, dan larangan. Misalnya anjuran untuk lebih baik memberi daripada menerima,
perintah untuk menyayangi semua ciptaan Tuhan, aturan tentang pergaulan laki-laki dan
perempuan, aturan tentang pernikahan, aturan dalam hubungan dengan orang tua, keharusan
berbagi pada orang miskin, dan larangan berbuat jahat atau melakukan perbuatan yang
merusak sesama ciptaan Tuhan. Hukuman atau sanksi atas pelanggaran norma agama berasal
dari Tuhan yang akan diterima di kehidupan saat ini atau yang akan datang.

c. Norma Kesusilaan

Norma kesusilaan adalah aturan tentang baik dan buruk berdasarkan kejujuran hati nurani dan
menuntun seseorang untuk berbuat kebaikan. Contoh norma kesusilaan adalah keharusan
untuk jujur dalam segala tindakan, peduli pada penderitaan orang lain, tidak melecehkan
kehormatan orang lain, berempati atau memahami perasaan orang lain, tidak sombong atau

3

media
media
media

angkuh, tidak menunjukkan sikap yang melukai perasaan orang lain, serta tahu berterima
kasih dan membalas budi. Sanksi atas pelanggaran norma kesusilaan adalah perasaan bersalah,
menyesal, cemas, dan/atau malu.

d. Norma Hukum

Norma hukum adalah aturan yang dibuat oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat
sebagai wakil dari seluruh unsur masyarakat. Norma hukum menyelaraskan dan memperkuat
norma- norma lain agar semua warga negara yang memiliki latar belakang berbeda- beda
terlindungi kepentingannya dan tidak saling mempertentangkan norma yang dipegang
masing-masing. Norma hukum harus dipatuhi oleh semua warga negara apa pun latar
belakangnya.

Contoh norma hukum adalah menaati peraturan lalu lintas; larangan melakukan tindak
kejahatan, korupsi, atau pelecehan; serta kewajiban membayar pajak. Pelanggar norma hukum
mendapat sanksi berupa hukuman, baik penjara, denda, maupun dicabut hak-haknya sebagai
warga negara menurut konstitusi atau peraturan perundang-undangan.

Ayo,Memahami

2. Mengenal Hak dan Kewajiban Anak

4

media
media

Memahami Hak dan Kewajiban

Kalian mungkin sering mendengar istilah hak dan kewajiban. Apa yang kalian ketahui tentang
kata-kata tersebut? Mari pahami contoh dalam kalimat ini. “Setiap anak berhak mendapatkan
perlindungan.” Kalimat tersebut bermakna bahwa setiap anak sudah seharusnya dijauhkan dari
keadaan yang dapat menimbulkan bahaya atau celaka. Di lingkungan rumah, tempat bermain,
sekolah, dan berbagai tempat yang memiliki aktivitas anak-anak, semua orang dewasa dan
pemerintah harus memastikan bahwa keadaan aman untuk anak- anak. Jadi, hak anak adalah
suatu keadaan yang harus diterima anak.

Karena hak-hak yang khusus bagi anak ini sangat penting, Perserikatan Bangsa-Bangsa
memiliki satu perjanjian internasional tentang 10 hak anak, namanya Konvensi Hak Anak.
Negara Indonesia telah mengesahkan perjanjian internasional tersebut menjadi peraturan yang
harus diberlakukan di Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990.

Kalian perlu mengetahui 10 hak anak tersebut, yaitu 1) hak mendapatkan nama atau identitas,
2) hak memiliki kewarganegaraan, 3) hak mendapat perlindungan, 4) hak mendapatkan
makanan, 5) hak atas kesehatan tubuh, 6) hak atas rekreasi, 7) hak mendapatkan pendidikan,
8) hak mendapat kesempatan bermain, 9) hak berperan dalam pembangunan, dan 10) hak
untuk mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang.

Untuk lebih memahami pemenuhan akan hak-hak anak ini, kalian akan melakukan wawancara
dengan narasumber. Kalian akan bekerja dalam kelompok. Guru akan membantu kalian
membuat kelompok dan berbagi tugas. Ada kelompok yang mewawancarai perwakilan orang
tua, ada kelompok yang mewawancarai petugas kesehatan, dan ada kelompok yang
mewawancarai guru atau pendidik nonformal.

3. Kewajiban untuk Berani Jujur

Jumat siang itu, setelah pelajaran berakhir, tampak siswa kelas VI SD Persahabatan tidak
langsung keluar kelas. Ada yang sedang memanggil nama teman, ada yang sedang mengobrol
berdua, tetapi kebanyakan sedang berkerumun dalam kelompok 3‒4 anak. Mereka tampak
membicarakan tugas yang harus mereka kerjakan pada hari Sabtu dan Minggu, untuk
dikumpulkan hari Senin. Tugas itu adalah membuat prakarya dari barang-barang bekas.

5

media
media

Indi tampak ceria karena satu kelompok dengan Memey yang rumahnya berdekatan. Manda
dan Abas juga kawan yang rajin dan menyenangkan meski rumahnya jauh di ujung desa. Bonar
tampak agak kecewa. Meski Sedi dan Pigey ada di kelompoknya, tetapi Hendra dan Pipin
bukan anak yang ia harapkan.

Kelompok Bonar dan kelompok Indi sepakat akan mengerjakan tugas membuat prakarya di
selasar sekolah pada hari Minggu. Mereka akan membuat perabot atau barang bermanfaat dari
sampah plastik.

Pada hari Minggu, sekitar pukul delapan pagi, Indi, Memey, dan Manda sudah tiba di sekolah.
Mereka segera membongkar barang bawaan mereka, yaitu berbagai macam plastik bekas yang
akan mereka gunakan untuk membuat hiasan bunga dan vas. Sambil menunggu teman-
temannya, Memey, Indi, dan Manda mulai menggunting bahan-bahan. Abas datang terlambat,
rupanya ia baru mendapatkan potongan paralon untuk dijadikan vas dengan ukuran yang
sesuai. Diameter paralon bekas yang kemarin ia temukan terlalu besar.

Empat anak tersebut mengerjakan prakarya sambil bergurau dan mengobrol. Beberapa tangkai
bunga sudah siap dirangkai. Abas masih berupaya menggergaji paralonnya agar tidak terlalu
panjang setelah ditempelkan pada alas segi empat yang terbuat dari bekas tutup kotak makan.
Tak terasa hari makin siang. Namun, hingga pukul sepuluh, Bonar dan kelompoknya belum
juga datang.

“Bonar dan teman-temannya kok belum tampak, ya?” tanya Memey.

“Iya. Kapan mereka akan mengerjakan tugas mereka, ya? Belum ada satu pun yang datang
dari kelompok mereka,” Indi menanggapi.

Di luar dugaan Memey dan teman-temannya, rupanya Bonar bersama kelompoknya sedang
memancing di kolam pemacingan yang baru saja buka dan cukup ramai pengunjung.
Sesungguhnya, mereka tidak berniat memancing, Awalnya, mereka ke tempat itu untuk
mencari barang-barang bekas untuk bahan prakarya. Mereka juga belum menyepakati model
atau bentuk prakarya yang hendak mereka buat. Dalam kebingungan itu, Sedi mengusulkan
mencari bahan-bahan dahulu di dekat pasar. Sebelum mencapai pasar, mereka berbelok ke
arah tempat pemancingan. Di dekat pemancingan itu memang ada bangunan yang tidak selesai
didirikan. Di tempat tersebut, tampak barang-barang bekas, seperti ember bekas cat, botol air
mineral, dan potongan paralon berdiameter kecil.

6

media

Ketika Bonar dan teman-temannya mulai mengumpulkan barang bekas, tanpa sengaja mereka
bertemu Kak Daru, kakak kelas yang sekarang sudah menjadi siswa SMP. Kak Daru hendak
memancing dan mengajak mereka. Tanpa pikir panjang, Bonar dan kawan-kawan mengiakan
ajakan tersebut, kecuali Pipin.

“Bukankah kita hendak mengerjakan tugas di sekolah?” Pipin mengingatkan. “Ah, hanya
sebentar, kok, Pin. Tidak akan lama,” jawab Bonar yang dibalas

dengan anggukan kepala Hendra, Sedi, dan Pigey.

Waktu berlalu, Bonar, Hendra, Sedi, dan Pigey seperti lupa dengan tugas yang harus dikumpul
hari Senin. Pipin, satu-satunya anak perempuan dalam kelompok tersebut, mengikuti empat
teman laki-laki itu. Ia duduk sendirian di dekat tempat parkir dengan muka sedih dan marah.

Waktu menunjukkan pukul dua belas siang ketika Sedi mulai merasa lapar dan haus. Ia melihat
Pipin sedang membaca koran di meja dekat tempat parkir.

“Bonar, bukankah kita sudah berjanji dengan Memey dan Indi untuk bertemu di sekolah pagi
ini?” tanya Sedi kepada Bonar.

“Eh, iya, ya? Aduh! Bagaimana dengan tugas prakarya kita? Kita mau buat apa jadinya?” sahut
Bonar terperanjat.

“Saya tadi berpikir demikian, tapi kalian tampak asyik sekali,” tukas Pigey. “Aduh, gawat!
Ayo, kita pulang! Eh, ayo ke sekolah!” ajak Bonar.

Sedi berjalan mendekati Kak Daru dan berpamitan.

“Sudah siang ini. Apa mereka masih di sekolah?” tanya Hendra.

“Yang penting kita datang dan minta maaf karena terlambat,” jawab Bonar. “Kalian ternyata
sulit diingatkan, ya?” ujar Pipin, satu-satunya perempuan

di kelompok itu. Ia tampak jengkel karena pendapatnya tidak dihiraukan.

“Ya, namanya juga anak SD, Pin, ha ha ha,” Sedi tertawa diikuti teman- temannya. Ketika
Sedi, Bonar, Hendra, dan Pigey baru menjangkau sepeda mereka, Pipin sudah mendahului
melaju ke arah sekolah.

Matahari siang itu terasa sangat terik. Sesampai di sekolah, Pipin buru- buru turun dari sepeda.
Ia berharap masih bertemu Indi dan Memey. Namun, ia tidak mendapati siapa pun di sana.
Bekas potongan plastik kecil-kecil tampak tercecer di sekitar tempat sampah. Bonar dan tiga
temannya yang lain pun sudah sampai. Suasana sekolah tampak lengang. Anak-anak itu saling
pandang. Mereka pun terduduk di lantai selasar sekolah. Udara yang sangat panas membuat
mulut terasa kering. Perasaan bingung dan kecewa pada diri sendiri terlihat jelas di wajah
mereka.

“Bagaimana sekarang? Kita mau membuat prakarya apa, nih?” tanya Pipin membuat keempat
temannya terhenyak.

7

media
media

“Kita buat saja dari apa kita punya barang. Botol air mineral yang besar kita lubangi bagian
atas dan bawahnya. Kita cat itu botol. Jadilah wadah tas plastik bekas biar tidak tercecer di
dapur. Bermanfaat, ‘kan? Gampang, ‘kan?” Pigey memberi usulan.

Anak-anak tertawa. Bonar terpingkal-pingkal sambil merebahkan tubuh di lantai. Hanya
Hendra yang setuju dengan ide Pigey, “Iya, betul, lo. Itu bermanfaat dan gampang, nanti bisa
dilukisi juga, ‘kan?”

Pipin menanggapi, “Yah, itu mah anak kelas satu juga bisa.”

“Mau bagaimana lagi? Boleh jugalah usul Sedi daripada kita tidak membuat apa pun. Ayo, kita
mulai. Siapa yang punya cat dan kuas?” kata Bonar. Teman- temannya terdiam.

“Ayo, kita mulai melubangi botol tadi. Adakah yang membaca cutter?” tanya Bonar lagi.
Ternyata tidak ada yang membawa cutter. Sedi mencoba melubangi botol air mineral besar itu
menggunakan gunting. Bonar, Hendra, dan Pipin mengikuti apa yang dilakukan Sedi. Pigey
mengamati kegiatan teman- temannya.

Satu jam sudah mereka berupaya melubangi botol. Lubang-lubang yang mereka buat tampak
tidak rapi, ukurannya pun berbeda-beda. Ternyata pekerjaan itu tidak semudah yang mereka
bayangkan.

“Teman-teman, saya mau salat dulu dan perut terasa lapar, nih. Bagaimana kalau kita lanjutkan
nanti sore? Kalau kalian mau, kita lanjutkan di rumah saya, yuk!“

Pipin menghela napas dengan wajah cemberut. Ia mulai mengemasi botol- botol dan barang-
barang yang ia bawa. Bergegas ia mencari sandalnya, lalu menuju tempat parkir, sambil
berujar, “Sedi, saya tidak janji nanti bisa ke rumahmu atau tidak.”

“Oke. Yuk, pulang! Saya juga sudah lapar,” sahut Bonar. Kelima anak itu segera mengambil
sepeda dan pulang ke rumah masing-masing.

Sore harinya, Bonar datang ke rumah Sedi. Di tangannya ada barang yang ia bungkus dengan
tas plastik putih.

“Sedi, bagaimana kalau ini saja yang dikumpulkan? Saya pikir-pikir benar juga kata Pipin.
Prakarya anak kelas VI kok hanya melubangi botol dan mengecatnya. Ha ha ha,” ujar Bonar
sambil tertawa. Ia menunjukkan tempat tisu dari sedotan bekas yang dianyam dan dirangkai.
Tempat tisu tersebut dibuat oleh bibinya.

Sedi pun senyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala mengingat botol-botol yang belum
dicat. Ia pun setuju untuk membawa kerajinan berupa tempat tisu dari sedotan bekas yang
dianyam dan dirangkai oleh bibinya Bonar.

8

media
media

Keesokan harinya, usai upacara bendera hari Senin, anak-anak saling menunjukkan hasil karya
mereka. Memey penasaran dan berusaha melihat apa yang dibawa oleh Bonar dan
kelompoknya, tetapi Sedi terus berusaha menutupi dengan tas plastik putih. Sebelum barang-
barang hasil prakarya itu dikumpulkan, Bu Guru meminta setiap kelompok menceritakan
proses dan cara pembuatannya di depan kelas.

Pipin mengangkat tangan sambil memandang Bu Guru.

“Ada apa, Pipin? Apakah Pipin mau presentasi duluan?” tanya Bu Guru. “Tidak, Bu. Anu, Bu,
bagaimana kalau kami presentasinya besok?” tanya

Pipin.

“Ada apa? Kalian ‘kan sudah dapat waktu dua hari?” tanya Bu Guru.

Pipin terdiam dan memandang teman-teman kelompoknya. Bu Guru melihat bungkusan di
atas meja Sedi.

“Sedi, itu prakarya kelompok kalian?” tanya Bu Guru.

Ee …,” hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil memandangi Bonar.

Sementara Bonar tersenyum malu-malu dan membuang muka.

“Bu Guru, boleh saya bicara?” Pigey mengangkat tangan.

Bu Guru mempersilakan Pigey berbicara. Dengan dialek Papua yang khas, ia menjelaskan apa
yang terjadi dengan kelompoknya. Menurut Pigey, mereka telah mengumpulkan barang bekas,
tetapi tidak tahu mau buat apa. Karena merasa kurang bahan, mereka pergi cari lagi itu bahan-
bahan. Saat cari bahan itulah mereka tergoda oleh kilauan air dan pancing yang melambai-
lambai yang membuat mereka lupa waktu. Anak-anak pun tergelak mendengar cerita Pigey.

“Apa yang kamu lakukan, Pipin?” tanya Bu Guru.

“Saya kesal sekali. Mereka tidak mau mendengar setiap saya mengingatkan, sampai waktu
habis,” jawab Pipin dengan wajah masih kesal.

“Oh, begitu. Baiklah, anak-anak. Begini, ya. Kita sudah membuat kesepakatan bersama untuk
selalu tepat waktu. Jadi, Ibu merasa tidak perlu memberi kesempatan lagi untuk kelompok
Sedi, Bonar, Hendra, dan Pigey. Mereka sudah diingatkan, tetapi tidak mau mendengar.
Apakah karena Pipin perempuan dan perempuan sendiri dalam kelompok? Kita tidak boleh
begitu. Kesepakatan kita adalah kita harus saling menghormati pendapat teman- teman, laki-
laki ataupun perempuan. Semua harus mau belajar mendengarkan. Nah, untuk Pipin, apakah
kamu mau membuat prakarya sendirian?”

9

media

“Iya, mau, Bu,” jawab Pipin.

Ibu tunggu hasil prakaryamu Senin depan, ya. Pigey, Ibu sangat menghargai kejujuranmu.
Namun, kalian, Sedi, Bonar, dan Hendra, kali ini tidak mendapat nilai prakarya. Silakan kalian
renungkan penyebab kalian sampai lalai mengerjakan tanggung jawab. Lain kesempatan,
buatlah sebaik mungkin, ya. Jangan diulangi,” kata Bu Guru.

“Baik, Bu,” ujar Bonar dan teman-temannya sambil mengangguk.

Rringkasan

Satu norma yang bersumber dari ajaran agama disebut norma agama.
Norma yang diakui dan diterima oleh masyarakat disebut norma sosial.
Hak anak yang paling mendasar adalah hak mendapatkan pendidikan.
Kewajiban anak di sekolah adalah mematuhi aturan sekolah.
Norma hukum ditetapkan oleh negara.
Hak yang dimiliki setiap anak antara lain adalah hak untuk mendapatkan perlindungan.
Contoh kewajiban anak di rumah adalah membantu orang tua.
Norma agama memberikan pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini penting untuk
membentuk karakter anak yang baik.
Norma sosial menciptakan keharmonisan dalam masyarakat, memastikan interaksi yang positif
antar individu.
Pendidikan adalah hak yang sangat fundamental bagi anak, yang membuka peluang masa
depan yang lebih baik.
Mematuhi aturan sekolah merupakan kewajiban penting yang mendukung proses belajar-
mengajar yang efektif.
Norma hukum melindungi masyarakat dengan sanksi yang jelas untuk pelanggaran, sehingga
menciptakan keadilan.
Perlindungan anak merupakan hak dasar yang harus dipenuhi oleh semua pihak, termasuk
negara dan masyarakat.
Kewajiban membantu orang tua di rumah membentuk rasa tanggung jawab dan kedisiplinan.

media

PENDIDIKAN PANCASILA KURIKULUM MERDEKA

Kelas 6

A.MengenalNorma,Hak,danKewajiban Kelas 6 SD

1. Mengenal Norma-Norma

Mengenal Norma-Norma dalam Masyarakat

Apa yang terbayang dalam pikiran kalian ketika mendengar kata “norma”? Biasanya kata-kata
ini digunakan ketika masyarakat sedang membicarakan ketertiban dan keteraturan dalam hidup
bersama. Untuk lebih memahami pengertian dan manfaat norma dalam kehidupan bersama,
bacalah dengan cermat penjelasan berikut.

Semua orang selalu membutuhkan kehadiran orang lain, saling membutuhkan, dan saling
membantu. Kita hidup bersama banyak orang dengan berbagai latar belakang sehingga
terdapat banyak tantangan, terutama karena perbedaan cara berpikir, tingkah laku, keinginan,
dan selera. Agar tidak terjadi konflik atau pertengkaran, diperlukan adanya aturan yang
mengatur seluruh anggota kelompok. Aturan tersebut disepakati oleh seluruh anggota
kelompok. Setiap kelompok atau komunitas memiliki aturan, baik itu kelompok dengan
anggota terbatas maupun negara yang merupakan wadah bagi seluruh warga negara. Aturan
itu disebut norma.

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata “norma” adalah aturan atau
ketentuan yang mengikat warga kelompok atau warga komunitas. Dalam hal ini, semua warga,
baik dalam keluarga komunitas maupun negara wajib menaati aturan atau ketentuan tersebut.

Dalam kehidupan bersama ada bermacam-macam kelompok. Kelompok sesuku, kelompok
seagama, juga kelompok kedaerahan yang terdiri atas bermacam-macam suku dan agama,
serta kelompok yang lebih besar dari kelompok kedaerahan. Itulah yang disebut bangsa.
Seseorang dapat menjadi anggota dari beberapa kelompok, misalnya seorang yang beretnis
tertentu dan beragama tertentu juga menjadi seorang warga negara. Orang tersebut harus
memahami berbagai aturan dalam setiap kelompok di mana ia ada di dalamnya.

Ada beberapa jenis norma yang bila dilanggar akan membawa akibat, baik bagi kelompok
maupun dirinya sendiri. Setiap norma mempunyai sanksi atau hukuman bagi orang yang
melanggarnya.

a. Norma Kesopanan

Norma kesopanan adalah aturan tentang tata krama atau tingkah laku dalam masyarakat yang
bersumber dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, aturan atau tata cara makan bersama di meja
makan, aturan tentang cara berpakaian, aturan tentang berkata-kata halus atau kasar, aturan
tentang cara menyapa, atau tentang sikap tubuh dalam berbagai kondisi.

Setiap budaya memiliki norma kesopanan yang berbeda. Misalnya, budaya masyarakat Jawa
Tengah memiliki aturan berbahasa khusus atau kiasan untuk menunjukkan rasa hormat pada
orang lain. Sebaliknya, di daerah Sumatra atau Indonesia bagian timur, keterusterangan lebih
disukai daripada menggunakan kata-kata kiasan. Bagi beberapa masyarakat Indonesia,
menatap mata lawan bicara dianggap tidak sopan, apalagi terhadap orang yang lebih tua.
Sebaliknya, masyarakat Eropa justru menganggap tidak sopan jika tidak menatap mata lawan

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 9

SLIDE