Search Header Logo
sejarah tafsir al quran

sejarah tafsir al quran

Assessment

Presentation

Professional Development

12th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Muhammad Khoirul Afif

Used 1+ times

FREE Resource

18 Slides • 0 Questions

1

media

SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN

Makalah disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Studi al-Quran program pendidikan

Pascasarjana Universitas Darul „Ulum Jombang

Pembimbing:

Dr. H. Abdul Rouf, M.Ag

Oleh:

Muhammad Khoirul Afif : (24010013)

Pascasarjana Universitas Darul ‘Ulum

Manajemen Pendidikan Islam

2024

2

media

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun sebagai
bagian dari tugas mata kuliah Studi Al-Qur'an yang dibimbing oleh Bapak Dr. H. Abdul Rouf,
M.Ag. Harapan kami, makalah ini dapat memberikan manfaat serta menambah wawasan pembaca,
khususnya mengenai tema diskusi Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun
penyajian. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
perbaikan di masa mendatang. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada dosen pengampu, rekan
mahasiswa, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam
memahami ilmu tafsir Al-Qur'an.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jombang, 3 Desember 2024

Penulis

3

media

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................................................... 2

DAFTAR ISI ....................................................................................................................................................................... 3

BAB I ................................................................................................................................................................................... 4

PENDAHULUAN ............................................................................................................................................................... 4

1.1LATAR BELAKANG ............................................................................................................................................... 4

1.2RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................................................. 5
1.3TUJUAN PENULISAN .................................................................................................................................................... 5

BAB II .................................................................................................................................................................................. 6

PEMBAHASAN .................................................................................................................................................................. 6

2.1SEJARAH TAFSIR AL-QUR'AN ...................................................................................................................................... 6
2.2TOKOH TAFSIR PADA MASA ROSULULLAH .................................................................................................................. 7
2.3TAHAPAN PERKEMBANGAN TAFSIR ............................................................................................................................ 8
2.4MACAM-MACAM TAFSIR AL-QUR'AN ....................................................................................................................... 11

BAB III .............................................................................................................................................................................. 16

PENUTUP ......................................................................................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA: ...................................................................................................................................................... 17

4

media

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Tafsir Al-Qur'an merupakan bidang ilmu yang sangat penting dalam studi Islam, karena Al-

Qur'an sebagai kitab suci umat Islam memiliki pesan-pesan yang bersifat universal dan abadi.

Namun, pesan-pesan tersebut seringkali memerlukan penafsiran agar dapat dipahami dan

diaplikasikan sesuai konteks sosial, budaya, dan waktu yang terus berubah. Sebagai kitab yang

menjadi pedoman hidup, Al-Qur'an memberikan tuntunan dalam berbagai aspek kehidupan manusia,

termasuk akidah, ibadah, dan muamalah. Proses penafsiran membantu umat Islam untuk memahami

makna ayat-ayat secara lebih mendalam dan relevan, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam

mengimplementasikan ajaran Islam.1

Perjalanan sejarah tafsir mencerminkan dinamika perkembangan pemahaman umat Islam

terhadap Al-Qur'an. Pada masa Nabi Muhammad SAW, beliau sendiri adalah penafsir utama Al-

Qur'an, menjelaskan ayat-ayat kepada para sahabat sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka.

Setelah wafatnya Nabi, para sahabat meneruskan tradisi ini dengan menjelaskan ayat-ayat

berdasarkan pengalaman mereka bersama Rasulullah SAW.2 Kemudian, pada periode tabi'in dan

tabi'ut tabi'in, muncul berbagai metode tafsir yang lebih sistematis, seperti tafsir bi al-ma'tsur

(berdasarkan riwayat) dan tafsir bi al-ra'yi (berdasarkan ijtihad).3 Perkembangan ini menunjukkan

bagaimana tafsir selalu beradaptasi dengan perubahan sosial dan intelektual yang dihadapi umat

Islam.

Tokoh-tokoh besar dalam sejarah tafsir memainkan peran kunci dalam mengembangkan metode

dan pendekatan tafsir. Imam Ibnu Katsir, misalnya, dikenal dengan tafsir bi al-ma'tsur yang sangat

mengandalkan hadis dan riwayat sahabat. Sementara itu, Al-Razi dikenal dengan tafsir berbasis

rasionalitas dan filosofis dalam karyanya "Tafsir Al-Kabir". Di era modern, tafsir juga mengalami

perkembangan signifikan dengan hadirnya tokoh seperti Muhammad Abduh yang mencoba

mendekatkan tafsir dengan realitas sosial dan tantangan kontemporer. Studi tafsir yang melibatkan


1Jannah, C., Mustofa, M. K., & Al-Faruq, U. (2023). Pentingnya Memahami Tafsīr, Takwīl, dan Terjemah Al
Qur'an: Menghindari Penafsiran yang Salah dan Kontroversial. Madaniyah, 13(1), 111-122.
2Affani, S. (2019). Tafsir Al-Qur'an dalam Sejarah Perkembangannya. Kencana.
3Bahren, R. S. A., & Mokodenseho, S. (2023). Metode Dan Corak Penafsiran Ath-Thabari. MUSHAF JJ Ilmu
Al Quran dan Hadis, 3(1), 151-166.

5

media

pendekatan multidisiplin, seperti tafsir hermeneutika, juga menjadi bagian dari upaya memahami Al-

Qur'an secara lebih komprehensif dan kontekstual.

Jenis-jenis tafsir yang berkembang mencerminkan berbagai pendekatan intelektual dan

metodologi yang digunakan para mufassir. Tafsir bi al-ma'tsur, yang berlandaskan riwayat dari Nabi

dan sahabat, dianggap paling otentik dan mendekati makna asli Al-Qur'an. Di sisi lain, tafsir bi al-

ra'yi memberikan ruang bagi rasionalitas dan ijtihad, memungkinkan para ulama untuk memberikan

interpretasi berdasarkan pemikiran logis dan filosofis. Selain itu, ada juga tafsir tematik (maudhu'i)

yang berfokus pada tema tertentu dalam Al-Qur'an, serta tafsir sufi yang menggali makna-makna

esoteris atau batiniah dari ayat-ayat suci. Keragaman ini menunjukkan fleksibilitas dan kekayaan

tradisi tafsir dalam Islam.

Memahami sejarah, tokoh, dan jenis-jenis tafsir menjadi sangat penting untuk menumbuhkan

wawasan dan kedalaman pemahaman tentang Al-Qur'an. Hal ini tidak hanya memperkaya kajian

akademis dalam studi Islam tetapi juga memberikan dasar yang kuat bagi umat Islam untuk

mengaplikasikan ajaran Al-Qur'an secara relevan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami

tafsir, umat Islam dapat menghindari interpretasi yang sempit dan ekstrem, serta dapat menghargai

perbedaan pandangan yang muncul di kalangan ulama. Oleh karena itu, studi tafsir terus menjadi

bidang yang penting dan relevan dalam upaya memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an

sepanjang zaman.

1.2 Rumusan Masalah

1.Bagaimana sejarah perkembangan tafsir Al-Qur'an?

2.Siapa tokoh yang paling banyak menafsirkan ayat Al-Qur'an?

3.Bagaimana tahapan perkembangan tafsir?

4.Apa saja macam-macam tafsir Al-Qur'an?

1.3 Tujuan Penulisan

1.Mengetahui sejarah perkembangan tafsir Al-Qur'an.

2.Mengidentifikasi tokoh yang paling banyak menafsirkan ayat Al-Qur'an.

3.Memahami tahapan perkembangan tafsir.

4.Mengetahui berbagai macam tafsir Al-Qur'an.

6

media

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Tafsir Al-Qur'an

Sejarah tafsir Al-Qur'an dimulai sejak masa Rasulullah SAW, di mana beliau menjadi mufassir

pertama yang menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur'an kepada para sahabat.4 Rasulullah tidak hanya

menyampaikan wahyu, tetapi juga memberikan penafsiran tentang maksud ayat-ayat tersebut dalam

berbagai konteks kehidupan. Penafsiran ini sering kali berkaitan dengan situasi sosial, moral, dan

hukum yang dihadapi umat pada masa itu. Misalnya, ketika turun ayat tentang shalat atau zakat,

Rasulullah memberikan penjelasan rinci tentang tata cara pelaksanaannya. Kejelasan ini menjadi

dasar utama dalam memahami Al-Qur'an secara autentik. Proses ini tercatat dalam hadis dan menjadi

sumber utama tafsir bi al-ma'tsur, yaitu tafsir yang berdasarkan riwayat dari Rasulullah dan para

sahabat.

Setelah wafatnya Rasulullah, para sahabat melanjutkan tradisi tafsir dengan menjelaskan ayat-

ayat berdasarkan pemahaman mereka terhadap wahyu dan hadis yang mereka dengar langsung dari

Nabi. Sahabat seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas'ud, dan Ubay bin Ka'ab dikenal sebagai

tokoh utama dalam penyebaran ilmu tafsir. Abdullah bin Abbas, misalnya, dikenal sebagai

"Turjumanul Qur'an" atau penafsir Al-Qur'an karena kedalamannya dalam memahami ayat-ayat suci.

Tafsir mereka umumnya berfokus pada konteks turunnya ayat (asbabun nuzul), penjelasan kata-kata

sulit, serta penafsiran ayat-ayat hukum. Pada masa ini, tafsir bersifat sederhana dan bertumpu pada

pemahaman tekstual, namun sangat otoritatif karena kedekatan mereka dengan Nabi Muhammad

SAW.

Perkembangan signifikan terjadi pada periode Tabi'in, di mana tafsir mulai mengalami

sistematisasi dan penyebaran yang lebih luas. Ulama Tabi'in, seperti Sa'id bin Jubair dan Mujahid bin

Jabr, memainkan peran penting dalam merumuskan metodologi tafsir.5 Pada masa ini, penafsiran

masih mengandalkan riwayat sahabat dan hadis Nabi, tetapi juga mulai memperkenalkan pendekatan

linguistik dan analisis kontekstual. Tafsir tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami hukum

Islam, tetapi juga untuk menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan sejarah dan moralitas. Tradisi


4Hidayat, H. (2020). Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur'an. Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan
Tafsir, 2(01), 29-76.
5Baidan, N. (2003). Perkembangan tafsir al-Qur'an di Indonesia. Tiga serangkai.

7

media

ini melahirkan karya-karya awal dalam bidang tafsir, yang menjadi fondasi bagi ulama generasi

berikutnya dalam mengembangkan tafsir yang lebih mendalam dan sistematis.

Seiring berjalannya waktu, muncul berbagai metode dan pendekatan dalam tafsir Al-Qur'an yang

mencerminkan dinamika pemikiran umat Islam. Tafsir bi al-ma'tsur tetap menjadi rujukan utama,

tetapi muncul juga tafsir bi al-ra'yi, yang memberikan ruang bagi pemikiran rasional dan ijtihad.

Pada periode ini, lahir tokoh-tokoh besar seperti Imam At-Tabari, yang menulis tafsir monumental

"Jami' al-Bayan" dan menjadi rujukan penting dalam studi tafsir.6 Metode ini terus berkembang

hingga era modern, di mana pendekatan tematik dan kontekstual semakin banyak digunakan. Studi

ilmiah tentang tafsir semakin kompleks, melibatkan disiplin ilmu lain seperti sejarah, sosiologi, dan

linguistik. Hal ini menunjukkan bahwa tafsir Al-Qur'an tidak hanya merupakan upaya memahami

teks suci secara tekstual, tetapi juga proses dinamis yang melibatkan interpretasi sesuai kebutuhan

zaman.

2.2 Tokoh Tafsir Pada masa Rosulullah

Tafsir Al-Qur'an pada masa Rasulullah SAW memainkan peran mendasar dalam pembentukan

pemahaman Islam.7 Rasulullah sendiri adalah mufassir pertama, yang memberikan penjelasan

langsung mengenai ayat-ayat Al-Qur'an kepada para sahabat. Penafsiran beliau bersifat otoritatif dan

menjadi acuan utama dalam memahami makna-makna Al-Qur'an. Tafsir Rasulullah meliputi

penjelasan tentang hukum, akhlak, serta aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Ini terutama

disampaikan melalui hadis-hadis yang kemudian menjadi dasar tafsir bi al-riwayah (berbasis

riwayat) di masa setelahnya.

Dalam penafsiran ini, Rasulullah menggunakan berbagai metode. Pertama, beliau sering

menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an itu sendiri, di mana ayat-ayat tertentu menjelaskan ayat

lainnya.8 Kedua, beliau menafsirkan ayat-ayat dengan sunnah atau hadis, yang memberikan

penjelasan lebih mendalam terkait konteks historis dan praktiknya. Para sahabat belajar langsung

dari penjelasan ini, dan pemahaman mereka menjadi fondasi awal ilmu tafsir yang terus berkembang

di masa Tabi'in dan setelahnya


6Hadi, A. (2021). Metodologi Tafsir Al Quran dari masa klasik sampai masa kontemporer.
7Hidayat, H. (2020). Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur'an. Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan
Tafsir, 2(01), 29-76.
8Hidayat, H. (2020). Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur'an. Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an dan
Tafsir, 2(01), 29-76.

8

media

Untuk referensi lebih lanjut mengenai perkembangan tafsir ini, studi seperti karya Ahmad Izzan

dalam Metodologi Ilmu Tafsir atau penelitian sejarah tafsir yang ditulis dalam jurnal NU Online

memberikan perspektif penting mengenai otoritas Rasulullah sebagai penafsir pertama.9

Di antara para mufassir, Ibnu Jarir ath-Thabari adalah salah satu tokoh yang paling berpengaruh.

Karyanya, Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wīl al-Qur’ān, menjadi rujukan utama dalam bidang tafsir. Ath-

Thabari mengumpulkan berbagai riwayat dari sahabat dan tabi‟in serta memberikan analisis

mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.10

Selain itu, ada juga Imam Fakhruddin ar-Razi dengan tafsirnya Mafatih al-Ghaib dan Ibnu

Katsir dengan tafsir Tafsir al-Qur'an al-Azim. Karya-karya ini terus menjadi rujukan utama dalam

studi tafsir.

2.3 Tahapan Perkembangan Tafsir

Perkembangan tafsir dapat dibagi ke dalam beberapa tahapan:

a)Masa Nabi Muhammad SAW

Pada masa ini, Rasulullah menjadi satu-satunya sumber penafsiran Al-Qur'an. Beliau

memberikan penjelasan langsung mengenai ayat-ayat yang diturunkan, seringkali melalui

hadis atau tindakan beliau. Sahabat juga sering meminta klarifikasi mengenai makna tertentu,

yang dijawab dengan konteks wahyu atau bimbingan ilahi. Penafsiran pada masa ini bersifat

otoritatif dan menjadi rujukan utama dalam metode tafsir bi al-ma'tsur, yaitu tafsir berbasis

riwayat yang berlanjut ke generasi berikutnya. 11

b)Masa Sahabat

Setelah wafatnya Rasulullah, penafsiran Al-Qur'an beralih kepada para sahabat. Mereka

menggunakan pemahaman langsung dari pengalaman bersama Nabi, baik melalui hadis

maupun penjelasan yang mereka dapatkan. Sahabat terkemuka seperti Ibn Abbas dan Ibn

Mas'ud dikenal sebagai rujukan utama tafsir. Penafsiran ini juga tetap mengandalkan hadis

sebagai penjelasan, tetapi mulai mengembangkan ijtihad untuk ayat-ayat tertentu yang tidak

dijelaskan secara eksplisit oleh Nabi.


9Fatmawati, F. (2020). Studi Penelitian Tafsir di Indonesia (Pemetaan Karya Tafsir Indonesia Periode 2011-
2018). Al-Tadabbur, 6(1), 81-102.
10Khairuni, N. (2024). Nilai-niai Pendidikan dalam Kitab Tafsir Ath-Thabari (Analisis Kritis Corak dan Logika
Pemikirannya). Fathir: Jurnal Studi Islam, 1(2), 149-165.
11Farid, A., Daniati, P., Noor, R., Nuryeni, N., Zuhrufa, A. P., Febiana, R., ... & Aulia, T. (2023). Karakteristik
Metode Tafsir Al-Quran Secara Holistik (Studi Literatur). Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 4(3), 1709-1716.

9

media

Ibn Abbas dikenal sebagai "Turjuman al-Qur'an" (penafsir Al-Qur'an) karena

kedalamannya dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an dan hubungannya dengan Rasulullah

SAW.12 Ia sering menjelaskan makna ayat dengan konteks wahyu (asbab al-nuzul) dan

pengetahuan bahasa Arab. Ibn Abbas juga menguasai tafsir berdasarkan riwayat dan ijtihad,

serta dikenal karena mencatat rincian sejarah dan pengetahuan dari Nabi dan sahabat lainnya.

Pemikirannya banyak dikutip dalam berbagai kitab tafsir klasik, seperti Tafsir At-Tabari dan

Tafsir Al-Qurtubi.

Ibn Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling memahami Al-Qur'an, bahkan

Rasulullah memuji bacaannya. Ia memiliki pengetahuan mendalam tentang ayat-ayat dan

konteks pewahyuannya (asbab al-nuzul). Keilmuannya juga mencakup pemahaman terhadap

aspek kebahasaan dan hukum dalam Al-Qur'an. Tafsir Ibn Mas'ud sering menjadi rujukan

utama dalam berbagai madzhab fiqh dan tafsir klasik. Di Kufah, ia dikenal sebagai pengajar

utama dan menjadi rujukan bagi masyarakat dalam memahami Al-Qur'an.

Kedua tokoh ini membentuk fondasi tafsir dengan pendekatan berbasis riwayat yang

autentik, memengaruhi metode tafsir selanjutnya, termasuk peralihan menuju kodifikasi di

era Tabi'in dan ulama setelahnya. Peran mereka sangat dihargai dalam penelitian tafsir

modern karena kontribusi mereka dalam melestarikan pemahaman orisinal terhadap wahyu.

c)Masa Tabi'in

Tabi'in, generasi yang belajar dari sahabat, melanjutkan tradisi penafsiran ini. Fokus

utama mereka adalah mengumpulkan penafsiran yang telah diberikan oleh sahabat. Periode

ini ditandai dengan munculnya beberapa pusat tafsir di kota-kota besar seperti Mekah,

Madinah, dan Irak.13 Sebagian besar tafsir pada masa ini masih berorientasi pada riwayat,

tetapi mulai ada kecenderungan menggunakan akal dalam menafsirkan ayat-ayat yang belum

memiliki penjelasan dari riwayat sahih.

Generasi Tabi'in memainkan peran penting dalam perkembangan tafsir Al-Qur'an

sebagai penerus ajaran para sahabat. Tabi'in merupakan murid langsung dari sahabat Nabi,

dan mereka meneruskan tradisi penafsiran dengan merujuk pada riwayat-riwayat yang

mereka terima dari sahabat.14 Proses ini menandai awal kodifikasi penafsiran Al-Qur'an,

terutama karena banyak Tabi'in yang berkontribusi dalam mendirikan pusat-pusat pendidikan

tafsir di kota-kota penting seperti Makkah, Madinah, dan Irak


12Miswar, A. (2016). Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Pada Masa Sahabat. Rihlah: Jurnal Sejarah Dan
Kebudayaan, 4(2), 145-161.
13Syukur, T. A., Mappanyompa, M., Mustopa, A., Nas, Z., Gadafi, M., Halik, H., ... & Muhammadong, M.
(2024). Ilmu Studi Islam. Yayasan Tri Edukasi Ilmiah.
14Rachman, P. S. I. STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN SUFISTIK NASARUDDIN UMAR DAN FAHRUDDIN
FAIZ (Master's thesis, FU).

10

media

Pada masa ini, penafsiran bersifat riwayat, di mana Tabi'in seperti Sa'id bin Jubair dan

Al-Hasan Al-Bashri mengumpulkan penjelasan yang mereka peroleh dari para sahabat.

Meski fokus utama tetap pada riwayat, mulai muncul kecenderungan menggunakan akal atau

ra'yu dalam menjelaskan ayat-ayat yang tidak memiliki penafsiran langsung dari Nabi atau

sahabat.. Hal ini menunjukkan evolusi tafsir dari sekadar reproduksi penjelasan sahabat

menjadi upaya intelektual yang lebih mandiri, yang kelak akan berkembang pada masa-masa

selanjutnya

d)Masa Kodifikasi

Seiring waktu, tafsir mulai dikodifikasi dalam bentuk tulisan. Ini dimulai pada abad ke-2

Hijriyah ketika tafsir mulai dipisahkan dari koleksi hadis. Ulama seperti Mujahid bin Jabr

mempelopori tafsir tertulis, yang kemudian berkembang menjadi karya monumental seperti

Tafsir At-Tabari pada abad ke-3 Hijriyah. Kodifikasi ini menandai awal dari sistematisasi

ilmu tafsir dan memperluas metodologi yang digunakan.

Proses kodifikasi tafsir Al-Qur'an merupakan langkah penting dalam sistematisasi ilmu

tafsir, yang dimulai pada abad ke-2 Hijriyah.15 Pada masa ini, tafsir mulai dipisahkan dari

hadis dan ditulis secara mandiri. Mujahid bin Jabr, salah satu tokoh Tabi'in dan murid Ibnu

Abbas, memainkan peran utama dalam kodifikasi awal tafsir. Ia mengumpulkan penafsiran

dari berbagai sahabat dan gurunya, lalu menyusunnya dalam bentuk tulisan, sehingga tafsir

tidak lagi bergantung pada tradisi lisan semata.16 Karyanya berfokus pada penafsiran

berdasarkan riwayat dan sering menjadi rujukan utama dalam tafsir bi al-ma'tsur (tafsir

berbasis riwayat).

Kodifikasi ini mencapai puncaknya pada abad ke-3 Hijriyah dengan munculnya karya

monumental seperti Tafsir At-Tabari oleh Imam At-Tabari. Karya ini dianggap sebagai salah

satu tafsir pertama yang ditulis secara sistematis, mencakup penjelasan mendalam tentang

ayat-ayat Al-Qur'an dengan menggabungkan metode riwayat dan analisis linguistik.

Sistematisasi ini tidak hanya memastikan pelestarian ilmu tafsir tetapi juga memperkenalkan

metodologi yang lebih terstruktur, yang menjadi dasar bagi tafsir-tafsir selanjutnya

e)Masa Kontemporer

Pada era modern, tafsir mengalami perkembangan metodologis yang signifikan.

Pendekatan tematik (maudhu'i) dan analisis hermeneutika muncul sebagai respons terhadap


15An-Nasa’i, A. A. R. A., & Shu’ayb, A. I. (2020). Sunan an-Nasa’i. Studi Kitab Hadis: Dari Muwaththa‟imam
Malik Hingga Mustadrak Al Hakim, 89.
16Fudhaili, A. METODE SYARAH HADIS YAZID BIN ABDUL QADIR JAWAS DALAM BUKU SYARAH
ARBA‟IN AN-NAWAWI (Bachelor's thesis, FU).

11

media

tantangan zaman.17 Tafsir modern berusaha mengaitkan pesan Al-Qur'an dengan konteks

sosial, budaya, dan ilmiah masa kini. Tokoh seperti Fazlur Rahman dan Muhammad Abduh

menjadi pelopor tafsir modern yang berupaya menjembatani tradisi Islam dengan

perkembangan global.

Perkembangan tafsir menunjukkan dinamika intelektual umat Islam dalam memahami

Al-Qur'an, dari penafsiran berbasis otoritas langsung Nabi hingga metode modern yang lebih

kontekstual.18

2.4 Macam-Macam Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Al-Qur'an dapat diklasifikasikan berdasarkan metode dan pendekatannya:

a)Tafsir Bil Ma’tsur:

Tafsir bil Ma‟tsur merujuk pada penafsiran Al-Qur'an yang didasarkan pada riwayat

yang sahih, baik dari Al-Qur'an itu sendiri, hadis Nabi, maupun penjelasan para sahabat

dan tabi'in.19 Metode ini dianggap paling otentik karena bersumber langsung dari wahyu

dan interpretasi yang dekat dengan masa kenabian. Salah satu contoh terkenal adalah

Tafsir Ibnu Katsir, yang banyak mengutip hadis dan riwayat sahabat untuk menjelaskan

ayat-ayat Al-Qur'an.

Ibnu Katsir menerapkan pendekatan ini dengan mengutamakan prinsip bahwa Al-

Qur'an menafsirkan dirinya sendiri terlebih dahulu (tafsir Al-Qur'an bi Al-Qur'an),

kemudian menggunakan hadis dan riwayat sahabat sebagai sumber kedua dan ketiga.20

Pendekatan ini memastikan bahwa tafsir tidak bergantung pada interpretasi pribadi yang

spekulatif, melainkan pada sumber yang memiliki otoritas tinggi dalam tradisi Islam.

Tafsir ini juga memberikan penekanan kuat pada konteks sejarah (asbabun nuzul) untuk

memahami maksud ayat secara mendalam dan akurat21


17Husna, F. M., Mahmud, I., Khasanah, E., Arifin, Z., Setyorini, I., Setiawan, I., ... & Azis, A. (2024).
REFLEKSI HERMENEUTIKA DALAM STUDI ISLAM Mengupas Pemikiran Tokoh Hermeneutika Barat
Maupun Timur (Islam). Penerbit Tahta Media.
18Kautsar, E. S., Ghany, A., & Muh Daming, K. LATAR BELAKANG MUNCULNYA METODE, PENDEKATAN,
DAN CORAK TAFSIR SERTA PERKEMBANGANNYA (SEBUAH TINJAUAN HISTORIS EPISTEMOLOGIS).
19Ikhsan, M., & Nurdin, A. (2023). Tafsir bi al-Ma’tsur sebagai Metode dalam Memahami Al-Qur’an. Jurnal
Iman dan Spiritualitas, 3(4), 607-614.
20Kamilaini, F. (2021). Karakteristik dakwah Nabi Musa dalam kisah Al-Qur‟an: studi penafsiran Ibnu Katsir
terhadap Surat Tha-ha Ayat 41-46 dalam kitab tafsir Al-Qur‟an Al-Azhim (Doctoral dissertation, UIN Mataram).
21 https://repository.radenintan.ac.id/7265/1/tesis%20m%20Ali.pdf

12

media

Keunggulan Tafsir bil Ma‟tsur, seperti yang dijelaskan oleh para ulama seperti Manna'

al-Qaththan, terletak pada autentisitasnya. Penafsiran ini meminimalkan spekulasi dan

lebih fokus pada interpretasi tekstual yang didukung riwayat yang valid. Meski demikian,

terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang cakupan tafsir ini; misalnya,

beberapa tidak memasukkan penafsiran dari tabi'in karena pengaruh Israiliyyat.

b)Tafsir Bil Ra’yi:

Tafsir Bil Ra‟yi adalah metode penafsiran Al-Qur‟an yang didasarkan pada ijtihad dan

akal pikiran, bukan semata-mata pada riwayat.22 Metode ini muncul setelah periode

klasik, ketika umat Islam menghadapi berbagai persoalan yang tidak tercakup dalam

riwayat langsung dari Nabi atau sahabat. Dalam penafsiran ini, para mufassir

menggunakan kemampuan rasional, logika, dan berbagai perangkat keilmuan seperti

linguistik, filsafat, dan ilmu kalam untuk menggali makna ayat-ayat Al-Qur'an secara

lebih mendalam.23

Contoh terkenal dari tafsir Bil Ra‟yi adalah karya Imam Fakhruddin ar-Razi,

Mafatihul Ghaib. Dalam karyanya, ar-Razi menerapkan pendekatan filosofis dan teologis

untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an. Ia tidak hanya menafsirkan secara tekstual, tetapi

juga mempertimbangkan aspek logika dan argumen rasional dalam menjelaskan konsep-

konsep ketuhanan dan eksistensi manusia. Hal ini memperkaya khazanah tafsir dengan

pendekatan multidisipliner, terutama dalam menjawab tantangan intelektual pada

zamannya.24

Pendekatan Bil Ra‟yi memiliki dua bentuk: tafsir yang terpuji (al-Mahmudah), yakni

yang dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan Islam dan didukung oleh sumber-

sumber sahih; serta tafsir yang tercela (al-Madzmumah), ketika penafsiran dilakukan

tanpa dasar keilmuan yang kuat dan menyimpang dari ajaran dasar.

Pendekatan ini memungkinkan Al-Qur'an tetap relevan di berbagai konteks sosial dan

budaya, selama tetap berpegang pada prinsip-prinsip syar‟i.

c)Tafsir Isyari:


22Damayanti, S. (2017). Nilai-nilai pendidikan akhlak dalam perspektif al-qur'an surah al-An'am Ayat 151-
153 (Bachelor's thesis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, 2017).
23Gusmian, I. (2013). Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika hingga Ideologi. Lkis Pelangi Aksara.
24 https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jis/article/view/31042

13

media

Tafsir Isyari adalah metode penafsiran Al-Qur'an yang bersifat batiniah atau esoteris,

sering digunakan dalam tradisi tasawuf.25 Metode ini mengungkapkan makna-makna

tersembunyi dari ayat-ayat Al-Qur'an melalui pendekatan intuitif dan simbolik.

Penafsiran ini tidak hanya bergantung pada makna zahir (tekstual) melainkan berfokus

pada makna batin (esoteris) yang dianggap hanya bisa dipahami oleh mereka yang

memiliki pengalaman spiritual mendalam.

Metode ini terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama, Tafsir Isyari Nadzari, yang

melibatkan kajian filsafat dan teori tasawuf. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Arabi sering

dikaitkan dengan pendekatan ini. Dalam karyanya, ia menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an

dengan pemahaman filosofis yang mencerminkan konsep wahdatul wujud (kesatuan

eksistensi). Kedua, Tafsir Isyari Amali, yang lebih bersifat praktis, didasarkan pada

pengalaman spiritual langsung, dan sering dikaitkan dengan intuisi dan ilham dari Allah.

Penafsiran ini menitikberatkan pada transformasi moral dan spiritual individu melalui

pemahaman batin ayat-ayat tertentu.26

Penafsiran ini memiliki peran penting dalam memperkaya khazanah tafsir Islam,

khususnya dalam memahami dimensi-dimensi ruhaniah dan etis yang mendalam dari Al-

Qur'an.27 Meski demikian, tafsir ini memerlukan kehati-hatian karena penafsirannya

sangat bergantung pada pengalaman subjektif yang dapat berbeda antara satu sufi dengan

yang lainnya

d)Tafsir Tematik (Mawdu’i):

Tafsir tematik atau tafsir maudhu‟i adalah metode penafsiran Al-Qur'an yang

membahas suatu tema secara menyeluruh dengan menghimpun ayat-ayat yang relevan

dari berbagai surah.28 Proses ini memberikan gambaran komprehensif mengenai suatu

topik, seperti akhlak, tauhid, atau sosial kemasyarakatan, dalam Al-Qur'an.


25ALVIANSYAH, M. Z. INTERPRETASI ESOTERIS RUZBIHĀN AL-BAQLY AL SYĪRĀZY TERHADAP
FRASA “TURUNNYA AIR DARI LANGIT” DALAM „ARĀ‟IS AL-BAYĀN FĪ ḤAQĀ‟IQ AL-QUR‟ĀN (Bachelor's
thesis, FU).
26 https://jurnal.alhikmah.ac.id/index.php/elhikmah/article/view/95
27Kholik, N. (2020). Terobosan Baru Membentuk Manusia Berkarakter di Abad 21: Gagasan Pendidikan
Holistik al-Attas. EDU PUBLISHER.
28Yamani, M. T. (2015). Memahami Al-Qur’an dengan metode tafsir maudhu’i. J-PAI: Jurnal Pendidikan
Agama Islam, 1(2).

14

media

Sejarah tafsir tematik berkembang dari awal gagasan yang muncul di masa klasik,

tetapi sistematisasinya terutama terjadi di era kontemporer. Ulama seperti Mahmud

Syaltut dan Ahmad Sayyid al-Kumiy dari Universitas Al-Azhar dikenal mempelopori

konsep tafsir tematik modern. Syaltut menerapkannya dalam karyanya Tafsir al-Qur‟an

al-Karim. Dalam perkembangannya, metode ini lebih sistematis dengan pendekatan

metodologis yang ditegaskan oleh Abdul Hay al-Farmawi dalam karyanya, al-Bidayah fi

al-Tafsir al-Maudu‟i.29

Tafsir tematik memiliki keunggulan dalam memberikan pemahaman mendalam

tentang suatu isu dengan memperhitungkan konteks ayat secara keseluruhan.30 Namun,

metode ini juga memerlukan pendekatan kritis dan sistematis agar tidak terjadi

interpretasi yang terpisah dari maksud keseluruhan Al-Qur'anTafsir yang membahas tema

tertentu dalam Al-Qur'an secara komprehensif.

e)Tafsir Kontemporer:

Tafsir kontemporer, yang menggunakan pendekatan ilmiah dan kontekstual, muncul

seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan untuk memahami Al-Qur'an dalam

konteks sosial, politik, dan budaya modern. Salah satu tokoh terkemuka dalam tafsir

kontemporer adalah Sayyid Qutb, yang mengembangkan pendekatan tafsir dengan

menekankan pada pemahaman kontekstual terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Karya

monumentalnya, Fi Zhilal al-Qur'an, misalnya, mencoba menafsirkan Al-Qur'an dengan

menggunakan perspektif sosial dan politik yang relevan pada masanya. Qutb memandang

Al-Qur'an bukan hanya sebagai petunjuk spiritual, tetapi juga sebagai pedoman untuk

perubahan sosial dan keadilan di dunia nyata. Metodologi ini menggabungkan analisis

kritis terhadap masyarakat modern dan pemikiran Barat, yang memberikan tafsir yang

lebih dinamis dan relevan dengan tantangan zaman.

Dalam pendekatan ini, tafsir Sayyid Qutb tidak hanya mencakup penjelasan teks,

tetapi juga mengaitkan makna ayat dengan isu-isu kontemporer, seperti keadilan sosial,

kebebasan, dan perlawanan terhadap penindasan. Ia menekankan bahwa Al-Qur'an harus

dihidupkan dalam konteks kehidupan sosial dan politik umat manusia, dan bukan hanya

dipahami sebagai teks yang terpisah dari realitas kehidupan. Pendekatan seperti ini


29 https://an-nur.ac.id/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-perbandingannya/
30Mardhatillah, M. (2015). Semangat Egalitarian Al-Qur’an dalam Otoritas Menginisiasi dan Prosedur
Perceraian. ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 16(1), 1-14.

15

media

mendekatkan tafsir kepada masyarakat modern yang menghadapi tantangan globalisasi

dan kemajuan teknologi, serta menyediakan kerangka kerja untuk memahami Al-Qur'an

dalam berbagai aspek kehidupan, dari moral hingga politik. Ini mencerminkan upaya

untuk mengadaptasi pemahaman Islam yang relevan dengan kondisi saat ini, seperti yang

dilihat dalam karya Sayyid Qutb yang tetap memiliki pengaruh hingga hari ini31


31 https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jis/article/view/11475

16

media

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tafsir Al-Qur'an adalah ilmu dinamis yang terus berkembang untuk menjawab kebutuhan umat

Islam dalam memahami kitab suci. Perkembangannya mencerminkan perjalanan intelektual dan

spiritual umat dari masa Rasulullah hingga era modern, dengan kontribusi dari berbagai tokoh dan

tradisi keilmuan yang kaya. Beragam metode tafsir yang muncul, mulai dari yang berbasis teks

hingga pendekatan kontekstual, mencerminkan fleksibilitas dan relevansi Al-Qur'an dalam

menjawab tantangan dan pertanyaan yang dihadapi setiap generasi. Dengan demikian, tafsir tidak

hanya berfungsi sebagai sarana memahami teks, tetapi juga sebagai jembatan untuk menghubungkan

nilai-nilai Al-Qur'an dengan realitas kehidupan umat.

3.2 Saran

Sangat diharapkan agar para pelajar, akademisi, dan peneliti dalam studi Islam terus

mengintensifkan upaya eksplorasi dan pengkajian mendalam terhadap ilmu tafsir Al-Qur'an.

Pendekatan ini diperlukan untuk mengungkap dimensi-dimensi makna yang relevan dalam teks suci

tersebut, sehingga dapat memberikan panduan yang aplikatif bagi kehidupan individu dan

masyarakat. Melalui integrasi metode tradisional dan kontemporer, serta pemanfaatan teknologi dan

multidisiplin ilmu, diharapkan mereka dapat memahami dan menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur'an

secara kontekstual, responsif terhadap tantangan global, dan relevan dengan kebutuhan umat Islam di

era modern. Upaya ini tidak hanya memperkuat pemahaman, tetapi juga membuka jalan bagi

aktualisasi nilai-nilai Qur'ani yang berdampak positif terhadap pembangunan peradaban.

17

media

DAFTAR PUSTAKA:

ALVIANSYAH, M. Z. INTERPRETASI ESOTERIS RUZBIHĀN AL-BAQLY AL SYĪRĀZY
TERHADAP FRASA “TURUNNYA AIR DARI LANGIT” DALAM „ARĀ‟IS AL-BAYĀN FĪ
ḤAQĀ‟IQ AL-QUR‟ĀN (Bachelor's thesis, FU).
An-Nasa‟i, A. A. R. A., & Shu‟ayb, A. I. (2020). Sunan an-Nasa‟i. Studi Kitab Hadis: Dari
Muwaththa‟imam Malik Hingga Mustadrak Al Hakim, 89.
Ar-Razi, Fakhruddin. Mafatih al-Ghaib.
Bahren, R. S. A., & Mokodenseho, S. (2023). Metode Dan Corak Penafsiran Ath-Thabari. MUSHAF
JJ Ilmu Al Quran dan Hadis, 3(1), 151-166.
Baidan, N. (2003). Perkembangan tafsir al-Qur'an di Indonesia. Tiga serangkai.
Fudhaili, A. METODE SYARAH HADIS YAZID BIN ABDUL QADIR JAWAS DALAM BUKU
SYARAH ARBA‟IN AN-NAWAWI (Bachelor's thesis, FU).
Hadi, A. (2021). Metodologi Tafsir Al Quran dari masa klasik sampai masa kontemporer.
Hidayat, H. (2020). Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur'an. Al-Munir: Jurnal Studi Ilmu Al-Qur'an
dan Tafsir, 2(01), 29-76.
https://an-nur.ac.id/tafsir-maudhui-pengertian-pembagian-metode-kelebihan-kekurangan-dan-
perbandingannya/
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jis/article/view/11475Ath-Thabari, Ibnu Jarir. Jāmi’ al-Bayān
fi Ta’wīl al-Qur’ān.
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jis/article/view/31042
https://jurnal.alhikmah.ac.id/index.php/elhikmah/article/view/95
https://repository.radenintan.ac.id/7265/1/tesis%20m%20Ali.pdf
Husna, F. M., Mahmud, I., Khasanah, E., Arifin, Z., Setyorini, I., Setiawan, I., ... & Azis, A. (2024).
REFLEKSI

HERMENEUTIKA

DALAM

STUDI

ISLAM

Mengupas

Pemikiran

Tokoh

Hermeneutika Barat Maupun Timur (Islam). Penerbit Tahta Media.
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-Azim.
Jannah, C., Mustofa, M. K., & Al-Faruq, U. (2023). Pentingnya Memahami Tafsīr, Takwīl, dan
Terjemah Al Qur'an: Menghindari Penafsiran yang Salah dan Kontroversial. Madaniyah, 13(1), 111-
122.
Kamilaini, F. (2021). Karakteristik dakwah Nabi Musa dalam kisah Al-Qur‟an: studi penafsiran Ibnu
Katsir terhadap Surat Tha-ha Ayat 41-46 dalam kitab tafsir Al-Qur‟an Al-Azhim (Doctoral
dissertation, UIN Mataram).
Kautsar, E. S., Ghany, A., & Muh Daming, K. LATAR BELAKANG MUNCULNYA METODE,
PENDEKATAN,

DAN

CORAK

TAFSIR

SERTA

PERKEMBANGANNYA

(SEBUAH

TINJAUAN HISTORIS EPISTEMOLOGIS).
Khairuni, N. (2024). Nilai-niai Pendidikan dalam Kitab Tafsir Ath-Thabari (Analisis Kritis Corak
dan Logika Pemikirannya). Fathir: Jurnal Studi Islam, 1(2), 149-165.
Kholik, N. (2020). Terobosan Baru Membentuk Manusia Berkarakter di Abad 21: Gagasan
Pendidikan Holistik al-Attas. EDU PUBLISHER.
Mardhatillah, M. (2015). Semangat Egalitarian Al-Qur‟an dalam Otoritas Menginisiasi dan Prosedur
Perceraian. ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 16(1), 1-14.
Miswar, A. (2016). Perkembangan Tafsir Al-Qur‟an Pada Masa Sahabat. Rihlah: Jurnal Sejarah Dan
Kebudayaan, 4(2), 145-161.

18

media

Qutb, Sayyid. Fi Zhilal Al-Qur'an.
Syukur, T. A., Mappanyompa, M., Mustopa, A., Nas, Z., Gadafi, M., Halik, H., ... &
Muhammadong, M. (2024). Ilmu Studi Islam. Yayasan Tri Edukasi Ilmiah.
Yamani, M. T. (2015). Memahami Al-Qur‟an dengan metode tafsir maudhu‟i. J-PAI: Jurnal
Pendidikan Agama Islam, 1(2).

media

SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN

Makalah disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Studi al-Quran program pendidikan

Pascasarjana Universitas Darul „Ulum Jombang

Pembimbing:

Dr. H. Abdul Rouf, M.Ag

Oleh:

Muhammad Khoirul Afif : (24010013)

Pascasarjana Universitas Darul ‘Ulum

Manajemen Pendidikan Islam

2024

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 18

SLIDE