Search Header Logo

ANBK 2025 PART 1

Authored by Halimatus Basyaiban

Other

8th Grade

Used 2+ times

ANBK 2025 PART 1
AI

AI Actions

Add similar questions

Adjust reading levels

Convert to real-world scenario

Translate activity

More...

    Content View

    Student View

13 questions

Show all answers

1.

FILL IN THE BLANK QUESTION

2 mins • 3 pts

Media Image

Jodohkan berikut iniDidalam bilik rumah yang sederhana, seorang nenek tampak sedang mengajari cucunya untuk membatik Ani, begitu nama panggilan cucu nenek, begitu takjub melihat gerakan-gerakan tangan neneknya yang masih saja cekatan meskipun usianya sudah tak lagi muda. Semangat nenek seolah tak pernah luntur. Nenek memegang canting dengan sangat hati-hati. Dia  menggoreskan tetes-tetes cairan coklat kental yang keluar dari canting ke secarik kain putih.

Peluh di tubuh nyaris membuat pakainnya basah kuyup. Karena sudah mulai lelah, nenek memutuskan untuk beristirahat. Melihat nenek hendak meletakan canting, Ani tiba-tiba berkata padanya. “Nenek istirahat dulu, biar aku yang membatik, aku ingin belajar agar bisa pandai membatik seperti, Nenek.”

Nenek tersenyum melihat kesungguhan cucunya yang ingin belajar. Dengan rasa bahagia, nenek menyerahkan canting itu kepada Ani, ïya tapi hati-hati didekatmu ada kompor dan malam yang mendidih,”jawab nenek sambil berdiri dari kursinya. Dengan cepat, Ani langsung mengambil canting itu dan mulai membatik.

Ya, Ani tidak sabar ingin segera mengoleskan cairan malam itu pada desain batik pesisir yang sudah dibuat oleh nenek. Ani ingin membuktikan kepada nenek bahwa dia adalah orang yang mewarisi kepandaian nenek dalam membatik. Tanpa sadar, baju Ani mulai basah oleh peluhnya sendiri. Dia mulai sering menggeliat cairan malam itu. Ähh … susaah seklai!”ucap Ani dalam hati. Ani begitu lelah. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan. Tiba-tiba, ketika mencoba meregangkan otot-otot kakinya, ujung jari kaki Ani menyenggol kompor yang menopang cairan malam yang mendidih!

Cairan itu tumpah membasahi lantai. Kulit kaki Ani sedikit terciprat. Beruntung cairan malam itu tinggal sedikit. Meskipun sedikit, cipratan itu sudah cukup untuk membuat Ani menangis terisak. Nenek yang sedang berada tidak jauh dari situ bergegeas menolong Ani. Setelah mengobati luka Ani, nenek berkata, Äni, membatik itu butuh kesabaran dan ketekunan. Untuk menghasilkan batik yang bagus, kita tidak bisa mengerjakannya dengan buru-buru. Kita harus bisa menikmati proses  membatik.”Dengan rasa bersalah, Ani menjawab, “Maaf Nenek, tadi aku tidak sabar ingin segera menyelesaikannya. Aku juga memaksakan diri untuk tetap membatik meskipun sudah lelah. Jadinya aku mlah menumpahkan malam.”.

Nenek pun memeluk Ani, dalam dekapan nenek, Ani berjannji untuk lebih bersabar ketika membatik. Dia akan berusaha untuk menikmati setiap prosesnya. Ya, tak ada batik yang berkualitas jika tidak dibuat dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Nenek menggoreskan tetes-tetes caran coklat kental pada secarik kain putih. Dari mana tetes-tetes cairan itu berasal :

2.

FILL IN THE BLANK QUESTION

2 mins • 3 pts

Media Image

Didalam bilik rumah yang sederhana, seorang nenek tampak sedang mengajari cucunya untuk membatik Ani, begitu nama panggilan cucu nenek, begitu takjub melihat gerakan-gerakan tangan neneknya yang masih saja cekatan meskipun usianya sudah tak lagi muda. Semangat nenek seolah tak pernah luntur. Nenek memegang canting dengan sangat hati-hati. Dia  menggoreskan tetes-tetes cairan coklat kental yang keluar dari canting ke secarik kain putih.

Peluh di tubuh nyaris membuat pakainnya basah kuyup. Karena sudah mulai lelah, nenek memutuskan untuk beristirahat. Melihat nenek hendak meletakan canting, Ani tiba-tiba berkata padanya. “Nenek istirahat dulu, biar aku yang membatik, aku ingin belajar agar bisa pandai membatik seperti, Nenek.”

Nenek tersenyum melihat kesungguhan cucunya yang ingin belajar. Dengan rasa bahagia, nenek menyerahkan canting itu kepada Ani, ïya tapi hati-hati didekatmu ada kompor dan malam yang mendidih,”jawab nenek sambil berdiri dari kursinya. Dengan cepat, Ani langsung mengambil canting itu dan mulai membatik.

Ya, Ani tidak sabar ingin segera mengoleskan cairan malam itu pada desain batik pesisir yang sudah dibuat oleh nenek. Ani ingin membuktikan kepada nenek bahwa dia adalah orang yang mewarisi kepandaian nenek dalam membatik. Tanpa sadar, baju Ani mulai basah oleh peluhnya sendiri. Dia mulai sering menggeliat cairan malam itu. Ähh … susaah seklai!”ucap Ani dalam hati. Ani begitu lelah. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan. Tiba-tiba, ketika mencoba meregangkan otot-otot kakinya, ujung jari kaki Ani menyenggol kompor yang menopang cairan malam yang mendidih!

Cairan itu tumpah membasahi lantai. Kulit kaki Ani sedikit terciprat. Beruntung cairan malam itu tinggal sedikit. Meskipun sedikit, cipratan itu sudah cukup untuk membuat Ani menangis terisak. Nenek yang sedang berada tidak jauh dari situ bergegeas menolong Ani. Setelah mengobati luka Ani, nenek berkata, Äni, membatik itu butuh kesabaran dan ketekunan. Untuk menghasilkan batik yang bagus, kita tidak bisa mengerjakannya dengan buru-buru. Kita harus bisa menikmati proses  membatik.”Dengan rasa bersalah, Ani menjawab, “Maaf Nenek, tadi aku tidak sabar ingin segera menyelesaikannya. Aku juga memaksakan diri untuk tetap membatik meskipun sudah lelah. Jadinya aku mlah menumpahkan malam.”.

Nenek pun memeluk Ani, dalam dekapan nenek, Ani berjannji untuk lebih bersabar ketika membatik. Dia akan berusaha untuk menikmati setiap prosesnya. Ya, tak ada batik yang berkualitas jika tidak dibuat dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

1. Apa yang membuat Ani takjub saat memandang nenek yang sedang membatik?

3.

MULTIPLE SELECT QUESTION

2 mins • 3 pts

Media Image

Didalam bilik rumah yang sederhana, seorang nenek tampak sedang mengajari cucunya untuk membatik Ani, begitu nama panggilan cucu nenek, begitu takjub melihat gerakan-gerakan tangan neneknya yang masih saja cekatan meskipun usianya sudah tak lagi muda. Semangat nenek seolah tak pernah luntur. Nenek memegang canting dengan sangat hati-hati. Dia  menggoreskan tetes-tetes cairan coklat kental yang keluar dari canting ke secarik kain putih.

Peluh di tubuh nyaris membuat pakainnya basah kuyup. Karena sudah mulai lelah, nenek memutuskan untuk beristirahat. Melihat nenek hendak meletakan canting, Ani tiba-tiba berkata padanya. “Nenek istirahat dulu, biar aku yang membatik, aku ingin belajar agar bisa pandai membatik seperti, Nenek.”

Nenek tersenyum melihat kesungguhan cucunya yang ingin belajar. Dengan rasa bahagia, nenek menyerahkan canting itu kepada Ani, ïya tapi hati-hati didekatmu ada kompor dan malam yang mendidih,”jawab nenek sambil berdiri dari kursinya. Dengan cepat, Ani langsung mengambil canting itu dan mulai membatik.

Ya, Ani tidak sabar ingin segera mengoleskan cairan malam itu pada desain batik pesisir yang sudah dibuat oleh nenek. Ani ingin membuktikan kepada nenek bahwa dia adalah orang yang mewarisi kepandaian nenek dalam membatik. Tanpa sadar, baju Ani mulai basah oleh peluhnya sendiri. Dia mulai sering menggeliat cairan malam itu. Ähh … susaah seklai!”ucap Ani dalam hati. Ani begitu lelah. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan. Tiba-tiba, ketika mencoba meregangkan otot-otot kakinya, ujung jari kaki Ani menyenggol kompor yang menopang cairan malam yang mendidih!

Cairan itu tumpah membasahi lantai. Kulit kaki Ani sedikit terciprat. Beruntung cairan malam itu tinggal sedikit. Meskipun sedikit, cipratan itu sudah cukup untuk membuat Ani menangis terisak. Nenek yang sedang berada tidak jauh dari situ bergegeas menolong Ani. Setelah mengobati luka Ani, nenek berkata, Äni, membatik itu butuh kesabaran dan ketekunan. Untuk menghasilkan batik yang bagus, kita tidak bisa mengerjakannya dengan buru-buru. Kita harus bisa menikmati proses  membatik.”Dengan rasa bersalah, Ani menjawab, “Maaf Nenek, tadi aku tidak sabar ingin segera menyelesaikannya. Aku juga memaksakan diri untuk tetap membatik meskipun sudah lelah. Jadinya aku mlah menumpahkan malam.”.

Nenek pun memeluk Ani, dalam dekapan nenek, Ani berjannji untuk lebih bersabar ketika membatik. Dia akan berusaha untuk menikmati setiap prosesnya. Ya, tak ada batik yang berkualitas jika tidak dibuat dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Sebelum menumpahkan malam dan mendengar nasihat nenek, bagaimana sikap Ani ketika membatik?
Klik pada setiap pilihan jawan benar! Jawaban benar lebih dari satu

Ani tetap membatik meskipun sudah merasa lelah

Ani menyadari jika membatik memerlukan kesabaran

Ani begitu menikmati setiap proses dalam membatik

Ani ingin segera menyelesaikan olesan malam pada kain

4.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 3 pts

Hijau Kampungku di Tengah Kota: Aku dan Belimbing Wuluh

“Aku tadi menawarkan bibit pohon belimbing kepada beberapa tetangga. Kalau mereka ikut menanam pohon, jalan kampung ini akan menjadi lebih teduh. Tidak seperti sekarang, ada bagian yang teduh, ada bagian yang panas,” keluhku. “Ada yang beralasan, air sedang susah didapat. Ada yang berkata, ‘Nanti, ya, tunggu musim hujan datang lagi.’ Aku kecewa, Yah.”

“Hmm… Mereka tidak ingin menggunakan air terlalu banyak. Saat ini, memang sebaiknya kita hemat air,” kata Ayah. Tentu saja, aku semakin merengut. Kalau air tetap sukar didapat, tidak ada orang yang mau menanam pohon belimbing wuluh itu.

“Tapi, jangan khawatir. Masalah air untuk menyiram tanaman sebentar lagi akan terbantu oleh proyek Pak RT,” kata Ayah. “Kampung kita akan punya Pandora L.”

“Pandora L? Apa itu, Yah?”

“Ini maket dari pengolahan limbah yang baru saja selesai dibangun di kampung kita. Bangunan ini ada di dalam tanah dan berguna untuk mengolah limbah rumah tangga saja, seperti air cucian,” kata Ayah.

Air hasil pengolahan dari Pandora L digunakan untuk kegiatan menyiram tanaman dan mencuci kendaraan.

Pemasangan Pandora L terletak di Kampung Genteng Candirejo di tengah kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur.

(Diadaptasi dari Hijau Kampungku di Tengah Kota: Aku dan Belimbing Wuluh karya Tyas KW)

Jika proyek Pak RT telah dilaksanakan, apakah para tetangga akan setuju untuk menanam pohon belimbing wuluh?

Tidak, warga akan tetap saja malas menanam dan merawat pohon belimbing wuluh.

Ya, karena Kampung Genteng Candirejo telah berhasil mencontohkan cara pengelolaan air limbah.

Tidak, karena warga tidak ingin menggunakan air terlalu banyak saat musim kemarau.

Ya, karena kekhawatiran kurangnya air di musim kemarau akan terpecahkan dengan dipasangnya Pandora.

5.

MULTIPLE SELECT QUESTION

2 mins • 3 pts

Hijau Kampungku di Tengah Kota: Aku dan Belimbing Wuluh

“Aku tadi menawarkan bibit pohon belimbing kepada beberapa tetangga. Kalau mereka ikut menanam pohon, jalan kampung ini akan menjadi lebih teduh. Tidak seperti sekarang, ada bagian yang teduh, ada bagian yang panas,” keluhku. “Ada yang beralasan, air sedang susah didapat. Ada yang berkata, ‘Nanti, ya, tunggu musim hujan datang lagi.’ Aku kecewa, Yah.”

“Hmm… Mereka tidak ingin menggunakan air terlalu banyak. Saat ini, memang sebaiknya kita hemat air,” kata Ayah. Tentu saja, aku semakin merengut. Kalau air tetap sukar didapat, tidak ada orang yang mau menanam pohon belimbing wuluh itu.

“Tapi, jangan khawatir. Masalah air untuk menyiram tanaman sebentar lagi akan terbantu oleh proyek Pak RT,” kata Ayah. “Kampung kita akan punya Pandora L.”

“Pandora L? Apa itu, Yah?”

“Ini maket dari pengolahan limbah yang baru saja selesai dibangun di kampung kita. Bangunan ini ada di dalam tanah dan berguna untuk mengolah limbah rumah tangga saja, seperti air cucian,” kata Ayah.

Air hasil pengolahan dari Pandora L digunakan untuk kegiatan menyiram tanaman dan mencuci kendaraan.

Pemasangan Pandora L terletak di Kampung Genteng Candirejo di tengah kota Surabaya, ibu kota Provinsi Jawa Timur.

(Diadaptasi dari Hijau Kampungku di Tengah Kota: Aku dan Belimbing Wuluh karya Tyas KW)

Manakah hal-hal yang menjadi topik pembicaraan antara tokoh Aku dan Ayah? Beri tanda centang (√) pada setiap pernyataan yang benar!

Kekurangan air di musim kemarau.

Alat untuk mengolah air

Pengadaan biaya untuk pemasangan Pandora

Penanaman belimbing wuluh.

6.

MULTIPLE SELECT QUESTION

2 mins • 3 pts

Persahabatan Itu Indah



Dina: Win, besok pagi kan libur sekolah... kamu ada waktu nggak untuk nemenin aku ke rumah tanteku?

Winda: Besok? Aku belum tahu ya ... emangnya kamu ada perlu apa ke rumah tante kamu?

Dina: Aku disuruh ibuku nganterin barang titipan tanteku.

Winda: Emangnya barang apa?

Dina: Aku belum tahu. Entah apa barangnya. Gimana, kamu besok bisa apa nggak?

Winda sebenarnya ada acara sendiri, namun dia sulit menolak permintaan Dina.

Winda: Ya sudah deh, besok aku anterin kamu. Jam berapa besok? Aku ke rumah kamu atau kamu yang ke rumahku?

Dina: Terserah kamu deh, jam 8 atau jam 9 gitu ... kalau kamu mau mending kamu aja yang ke rumah aku.

Winda: Ya sudah, besok jam 08.30 aku ke rumah kamu, terus kita langsung ke rumah tante kamu.

Keesokan harinya Winda dan Dina berangkat menuju rumah tante si Dina yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah Dina. Pas di tengah-tengah jalan, motor yang dikendarai Dina bannya bocor, dan tidak ada tempat penambalan ban di sekitar situ.

Dhussss... bunyi ban motor Dina

Dina: Aduh ... gimana nih, bannya bocor? Kayaknya pecah nih ban!

Winda : Gimana ya ... nggak ada bengkel tambal ban lagi di sini.

Mereka bedua pun mendorong motor tersebut sambil keringat membasahi tubuh mereka. Setelah hampir 30 menit mendorong motor, tiba-tiba ada sebuah mobil box yang menghampiri mereka. Pengendara mobil box itu menawarkan jasa pengangkutan motor hingga ke bengkel tedekat kepada Dina.

Sopir mobil box : Kenapa Non? Bannya bocor ya?

Dina: Iya. Bisa minta tolong angkutin motor aku sampai bengkel nggak?

Sopir mobil box: Bisa saja, tapi kasih ongkos 100 ribu ya?

Dina: Kok mahal amat, Bang? 50 ribu ya?

Sopir mobil box itu menolak, alhasil Dina dan Winda harus meneruskan mendorong motor mereka.

Sopir mobil box : Murah amat, Non! ... Ya sudah kalau nggak mau.

Setelah mendorong motor selama 45 menit, tiba-tiba ada salah seorang sahabat Winda, yaitu Astrid yang kebetulan lewat di jalan itu. Astrid bersama adiknya bernama Hesti.

Astrid: Stop.. stop, Hes...!

Hesti: Kenapa Kak? Ada apa?

Astrid: Itu kayaknya Winda deh... Win... Win...!

Winda: Eh, itu Astrid...!

Astrid: Motor kamu bocor bannya? Kasihan sekali... kamu mau ke mana nih?

Winda: Nih, aku mau nganterin Dina ke rumah tantenya. Nggak tahu nih, bengkel kayaknya masih jauh... aku udah capek banget dorong motor dari tadi. Astrid berusaha memberi pertolongan kepada sahabatnya itu, namun dia juga tidak bisa berbuat banyak karena di sekitar itu memang cukup sepi.

Astrid: Aduh ... gimana ya ... ok, gini aja ... kalian kan sudah capek banget nih. Sekarang biar aku yang dorong motor kamu, terus kamu bawa motor aku sambil ngikutin dari belakang.

Winda: Emang kamu nggak kecapean entar? Berat lo dorong motor ini....!

Astrid: Ya tentu saja kau bakal capek, makanya kita gantian gitu...

Motor tersebut didorong oleh mereka berempat secara bergantian hingga akhirnya mereka tiba di salah satu bengkel tambal ban.

Di mana sajakah latar tempat terjadinya peristiwa di dalam drama tersebut?

Suatu tempat

Jalan

Bengkel motor

Rumah tante

7.

MULTIPLE CHOICE QUESTION

2 mins • 3 pts

Media Image

Pishi di Tengah Badai

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di Samudra Hindia. Pishi dan teman-temannya sangat bahagia hidup di Samudra Hindia, bersama 500 jenis makhluk laut lainnya.

Pishi dan teman-temannya sedang bermain ketika kapal nelayan datang. Semua ikan berpencar menyelamatkan diri. Pishi jadi sendirian. Kemudian terjadi badai besar. Lautan menjadi gelap sehingga Pishi kehilangan arah. Ombak besar membawa Pishi ke bawah kapal nelayan. Pishi membentur kapal, perutnya terluka.

Pishi harus segera mengobati lukanya. Pishi berenang mendekati pantai. Di sana ada rumah sakit alam. Pishi tidak bisa berenang dengan cepat karena tubuhnya yang besar. Berat tubuh Pishi 900 kilogram dan panjangnya 10 meter.

Setelah jauh berenang, Pishi sangat senang melihat lampu mercusuar. Itu tandanya Pishi sudah sampai di rumah sakit alam. Ikan-ikan kecil langsung mendekati Pishi. Mereka membersihkan luka di perut Pishi. Beberapa hari kemudian, luka Pishi pun sembuh. Pishi sangat berterima kasih kepada ikan-ikan kecil yang merawatnya.

Ikan-ikan kecil itu memakan parasit dan jaringan kulit mati di tubuh ikan pari. Hubungan antara Pishi dan ikan-ikan kecil adalah hubungan yang saling menguntungkan. Tubuh ikan pari menjadi bersih, ikan-ikan kecil pun menjadi kenyang.

Siapakah Pishi dan di mana ia tinggal?

Pishi adalah seekor ikan paus yang hidup di

Samudra Hindia.

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di

Samudra Hindia.

Pishi adalah seekor ikan paus yang hidup di

Samudra Atlantik.

Pishi adalah seekor ikan pari yang hidup di

Samudra Atlantik.

Access all questions and much more by creating a free account

Create resources

Host any resource

Get auto-graded reports

Google

Continue with Google

Email

Continue with Email

Classlink

Continue with Classlink

Clever

Continue with Clever

or continue with

Microsoft

Microsoft

Apple

Apple

Others

Others

Already have an account?