Font size
WorksheetsTry Out Ujian Board III
Total questions: 100
Worksheet time: 2hrs 40mins
Infeksi bakteri yang menyebabkan terjadinya defisit MAC (C5-C8) adalah?
Catalase-positive bacteria
Neisseria Meningitis
Pesudomonas aeruginosa
Salmonella spp.
Streptococcus pneumonia
Seorang perempuan usia 19 tahun datang ke IGD dengan keluhan telah digigit oleh kelelawar pada daerah telinga kiri di daerah soppeng. Diketahui bahwa pasien tidak memiliki riwayat vaksin sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan dua luka gigitan pada teling kiri. Bagaimana pemberian vaksin yang sesuai pada kasus ini?
pemberian ribavirin
tidak diberikan vaksin
diberiksan vaksin rabies immunoglobulin
diberikan rabies inactivated virus vaccine
diberikan rabies inactivated virus vaccine dan immunoglobulins
Vaksin manakah yang dianjurkan untuk diberikan pada seseorang yang akan berencana bepergian ke daerah sub-saharan Afrika?yellow fever
hepatitis A
cholera
meningococcus
typhoid fever
yellow fever
Seorang wanita berusia 48 tahun berencana akan bepergian ke daerah haiti, regimen profilaksis malaria yang bisa diberikan adalah?
atovaqune proguanil
chloroquine
doxycicline
mefloquine
semua benar
Mikroorganisme yang menjadi penyebab umum terjadinya native valve infective endocarditis di masyarakat?
Coagulase-negative staphylococci
Coagulase-positive staphylococci
Enterococci
Fastidious gram-negative coccobacilli
Non-enterococcal streptococci
Yang tidak termasuk kriteria minor berdasarkan duke criteria untuk penegakan diagnosis infective endocarditis adalah?
Immunologic phenomena (glomerulonefritis, osler nodes, roth spots)
New valvular regurgitation on transthoracic echo-cardiogram
Predisposing condition (heart condition, intravenous drug use)
Suhu > 380 C
Vascular phenomena (arterial emboli, septic pulmonary emboli, janeway lessions)
Pada pasien dengan endokarditis bakterialis, manakah dari echocardiographic lessions berikut yang paling mungkin menyebabkan embolisasi?
5-mm mitral valve vegetation
5-mm tricuspid valve vegetation
11-mm aortic valve vegetation
11-mm mitral valve vegetation
11-mm tricuspid valve vegetation
organisme dibawah iniyang dapat menyebabkan bula sebagai manifestasi klinis jika terjadi infeksi, kecuali?
Clostridium perfringens
Sporothix schenckii
Staphylococcus aureus
Streptococcus pyogens
Vibrio vulnificus
seorang wanita berusia 46 tahun bepergian ke daerah guatemala. 3 hari setelah berada di guatemala, pasien mengalami diare yang disertai nyeri pada perut. Pasien mengeluh BAB cair sejak 2 hari terakhir tanpa disertai darah dan demam. Bakteri manakah yang paling mungkin menjadi penyebab diare pada kasus diatas?
Campylobacter jejuni
Enterotoxigenic escherchia coli
Giardia lamblia
Norovirus
Shigella spp
manakan pilihan dibawah ini yang dapat ditemukan melalui pemeriksaan urin yang mengindikasikan bahwa emboli kolestrol sebagai penyebab gagal ginjal?
kristal kalsium oksalat
Eosinofiluria
granular cast
normal sediment
white blood cell cast
pada hari perawatan ke 5 seorang pasien berusia 65 tahun mengalami pre renal azotemia yang disebabkan oleh dehidrasi. Kreatinin pada saat masuk rumah sakit 3.6 mg/dl dan mengalami perbaikan menjadi 2.1 mg/dl. Pasien kemudian mengalami nyeri pinggang yang ringan, dan diberikan naproxen. Bagaimana mekanisme naproxen dalam menyebabkan gangguan ginjal?
Vasokontriksi arteriol aferen
vasodilatasi arteriol aferen
Vasokontriksi arteriol eferen
Proximal tubular toxicity
Ureteral obstruction
seorang laki-laki usia 55 tahun rencana akan dilakukan tindakan angiografi, pasien memiliki riwayat diabetes melitus yang terkontrol buruk dengan nilai eGFR 33 mL/min 1.73 m2. Pasiem tidak memiliki riwayat mengkonsumsi obat-obatan nefrotoksik. Tindakan akan dilakukan 4 jam lagi, pilihan terapi yang akan dilakukan untuk mencegah Contras induce nephropathy adalah:
Dopamin
Fenoldopam
Indometacin
N-ace
Sodium bicarbonate
penyebab utama kematian pada pasien dengan CKD adalah?
penyakit kardiovaskuler
hiperkalemia
infeksi
malignansi
uremia
Seorang pria 62 tahun datang ke poliklinik diantar anaknya karena sering mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan yaitu membantu anaknya berjualan dan sering salah mengenali dan menyusun barang-barang jualan seperti biasa dilakukannya. Pasien masih dapat melakukan hobinya sehari-hari memelihara burung namun agak terbatas karena tangan dan kaki kanannya yang lemah, buang air kecil dan buang air besar dalam batas normal.Pendidikan terakhir SMP. Didapatkan tekanan darah 170/110 mmHg dan memiliki riwayat pemasangan ring jantung 2 tahun yang lalu, riwayat mengalami stroke 6 bulan yg lalu, riwayat merokok 1 bungkus per hari namun sudah berhenti sejak 2 tahun yang lalu. Pemeriksaan fisik paru, jantung dan abdomen dalam batas normal, pemeriksaan fisik ekstremitas ditemukan hemiparese dextra. Pasien membawa hasil pemeriksaan CT-scan kepala tanpa kontras 6 bulan yang lalu kesan lacunar infark akut di periventrikel lateralis kiri. Hachinski ischemic score 8, pada pemeriksaan MMSE ditemukan skor 25.
Manakah dari pilihan di bawah ini yang menjadi diagnosis yang paling tepat?
demensia badan lewy
demensia vaskular
mild cognitive impairment
vascular cognitive impairment
alzheimer
Pasien seorang wanita usia 65 tahun, datang dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan kanan setelah jatuh dikamar mandi, pasien sebelumya sering tidak nafsu makan, konsumsi sayur, susu dan daging segar jarang, pasien jarang keluar rumah, paparan sinar matahari berkurang. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan jatuh dan fraktur, mekanisme vitamin D mencegah fraktur melalui mekanisme :
Memperbaiki fungsi muskuloskletal dan homeostasis kalsium
Mencegah degeneratif sendi
Memperbaiki respon refleks saraf ekstremitas
Menurunkan tonus otot
Memperbaiki fungsi kognitif
Seorang wanita usia 68 tahun datang ke poli Geriatri diantar oleh anaknya dengan keluhan nafsu makan berkurang.Keluhan ini terlihat sejak 3 bulan terakhir. Pasien hanya mau makan 3 sendok makan tiap kali makan. Pakaian yang dipakai pasien terlihat longgar. Pasien masih bisa berjalan sendiri saat berpindah tempat, namun pasien malas keluar rumah. Pasien masih bisa mengenali anak pasien, namun terkadang lupa saat meletakkan barang. Suami pasien meninggal 4 bulan lalu karena kecelakaan lalu lintas. Saat dilakukan pemeriksaan didapatkan berat badan 43 kg, tinggi badan 160 cm, Mini Nutritional Assesment (MNA) skor 6, Skor indikator malnutrisi 12. Jika anda ingin menilai status nutrisi secara biokimiawi, pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah
SGOT, SGPT
kolesterol total
hemoglobin, albumin
protein total
profil lipid
Seorang wanita 82 tahun di bawa ke UGD dengan keluhan bicara meracau sejak 1 hari yang lalu. Sejak 3 hari yang lalu pasien tidak mau makan dan malas di ajak ngobrol. Pasien selama ini hanya berbaring di tempat tidur setelah jatuh dan mengalami patah tulang paha kanan 6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan data TD 90/70 mmHg, Nadi 104 x/menit, RR 24 x/menit, t 380 C, pemeriksaan jantung dan paru dalam batas normal. Ulkus (+) di bokong kanan, dasar otot kemerahan, pus (+), jaringan nekrotik (+). Pasien sebelumnya mengkonsumsi obat anti kolinesterase inhibitor.
Yang termasuk faktor predisposisi ( pencetus ) ulkus dekubitus pada usia lanjut adalah
Usia lanjut > 80 tahun
Polifarmasi
Jenis kelamin pria harusnya wanita
Gangguan fungsi kognitif
Menggunakan obat yang mengganggu faal neurotransmiter
Seorang laki-laki berusia 72 tahun diantar oleh anaknya ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan hanya diam selama 3 hari, jika ditanya hanya menjawab dengan mengangguk atau menggeleng. Pasien lebih sering murung, tampak lesu dan tidak bersemangat.Sudah 1 bulan ini pasien makan hanya sedikit.Pasien seorang pensiunan TNI, setelah pensiun pasien aktif di organisasi pensiunan TNI, namun 2 bulan ini sahabat pasien meninggal dunia sehingga dia malas untuk datang ke acara organisasi pensiunan TNI. Pasien merasa bahwa dia sebentar lagi juga akan meninggal seperti temannya tersebut
gangguan kepribadian
depresi ringan
depresi sedang
depresi berat
gejala somatik pada pasien depresi
seorang wanita 27 tahun dengan riwayat ESRD on HD reguler diketahui sering mengalami hipotensi intradialisis. mekanisme terjadinya hipotensi intradialisis adalah?
obat antihipertensi
ultrafiltrasi yang berlebihan
gangguan respon autonom
terjadinya osmolar shift
semua jawaban diatas benar
seorang wanita 35 tahun memiliki riwayat penyakit ginjal kronik dengan akses dialisis yaitu peritoneal dialisis sejak 1 tahun yang lalu. Pasien dibawah ke IGD dengan keluhan demam, gangguan kesadaran, nyeri pada seluruh perut, dan cairan dialisat yang berwarna keruh. Kemudian dilakukan analisa cairan peritoneal. Dari analisa cairan peritoneal didapatkan WBC 125/mm3 dengan 85% PMN neutrofil. Organisme yang paling mungkin mnejadi penyebab adalah?
C. albicans
coli
M. tuberculosis
P.aeroginosa
S. aureus
seorang pasien ESRD yang telah menjalani hemodialisis memiliki riwayat persisten hiperkalemia, pasien memiliki riwayat total bilateral renal arteri stenosis. Gambaran EKG pasien akan mengalami perubahan ketika nilai kalium > 6 meq/L. Pasien ini dirawat inapkan untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut. Hasil evaluasi laboratorium, terapi nutrisi dan penambahan obat-obatan tidak terlalu memberikan perubahan. Langkah apa yang selanjutnya anda lakukan?
sesuaikan dialisat
menambahkan daily dose furosemide
melakukan "sodium modeling"
lakukan pemasangan automatic defibrilator
lakukan bilateral nefrektomi
yang termasuk dalam manifestasi ekstrarenal dari autosomal dominan polycystic kidney disease?
regurgitasi aorta
aortic root dilatation
colonic diverticulaae
aneurisma intrakranial
semua jawaban diatas benar
seorang pasien dengan sjogren’s syndrome memiliki hasil lab dengan: Na 139 meq/L, Cl 112 meq/L, bicarbonate 15 meq/L dan kalium 3 meq/L. Pemeriksaan urin didapatkan pH urin: 6.0, natrium urin 15 meq/L, kalium 10 meq/L dan Cl 12 meq/L. Diagnosis yang paling mungkin adalah?
RTA tipe I
RTA tipe II
RTA tipe III
RTA tipe IV
diare kronik
seorang laki-laki 48 tahun dengan diabetes melitus dan hiperlipidemia dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri pada pinggang kanan dan menjalar ke selangkangan yang telah dialami sejak 3 jam yang lalu. Pasien didiagnosis dengna batu ginjal. Komposisi batu yang paling sering adalah?
kalsium
cysteine
oxalic acid
struvite
uric acid
mekanisme terjadinya nyeri pada keadaan acute urinary tract obstruction adalah?
compensatory natriuresis
penurunan medullary blood flow
peningkatan renal blood flow
penurunan renal blood flow
mekanisme vasodilatory prostaglandin
Seorang wanita 55 tahun, dating ke poliklinik dengan keluhan nyeri dan kaku pada lutut kirisejak 7 hari yang lalu, nyeri dirasakan terutama saat akan berdiri setelah jongkok, pasien juga merasakan demam dan menggigil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan sensorium composmentis, tekanan darah 130/90 mmHg, suhu 38,8ºC, pernapasan 20 kali/menit, nadi 92 kali/menit. Tinggi badan 158 cm, berat badan 79 kg, tidak ditemukan kemerahan pada wajah dan ulkus pada mulut, pada lutut kiri didapatkan bengkak dan kemerahan, lutut kanan terdapat krepitasi. Pemeriksaan laboratorium menunjukan 1 laju endap darah 20 mm/jam ; Hb 12,1 g/dL ; leukosit 13,500/mm3, hitung jenis -/2/5/80/15/5, dilakukan aspirasi cairan pada lutut kanan dan dari analisis cairan synovial didapatkan jumlah leukosit> 50.000/ mm3, sebagian besar terdiri dari PMN.
Diagnosa penyakitpasientersebut di atas adalah :
Artritis gout akut genu sisnitra
Artritis septik genu sinistra
Artritis reumatoid dengan inflamasi genu sisnitra
Osteoartritis genu sisnitra
Ankilosing spondilitis
Seorang wanita 66 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri pergelangan tangan kiri sejak 10 minggu yang lalu. Beberapa hari kemudian nyeri juga dirasakan di pergelangan tangan kanan dan sendi-sendi jari lain.Kaku sendi dirasakan selama kurang lebih 30 menit dan membaik dengan aktivitas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 120/80mmHg, nadi 90x/menit, pernapasan 20x/menit, Temp 36,5oC. tampak gambaran arthritis di sendi PIP II-III dan MCP I-V bilateral. Hasil laboratorium menunjukkan LED 90 mm/jam dan faktor neumatoid negatif.
Gambaran radiologi yang dapat menyokong diagnosis pada pasien ini adalah :
kalsifikasi
lesi litik
osteofit
erosi sendi
efusi sendi
Seorang wanita berumur 46 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri hebat pada kedua lutut sejak 5 jam yang lali. Pada pemeriksaan fisis kedua genu didapatkan eritema, edema, dannyeri tekan. Dari pemeriksaan didapatkan Hb 12,7 g/dL, Ht 31%, leukosit 7.400/mm3, trombosit 235.000/mm3, ureum 56 mg/dL, kreatinin 0,73 mg/dL, SGOT 96 mg/dL, dan SGPT 15 mg/dL, pada gambaran radiologi didapatkan bintik-bintik dengan garis radioopaq yang tampak pada meniskus fibrokartilago sendi lutut.
Diagnosis yang paling tepat untuk kasus diatas adalah :
Kristal artropati non-gout tipe F
Kristal artropati non-gout tipe A
Kristal artropati non-gout tipe C
Kristal artropati non-gout tipe D
Kristal artropati non-gout B
Seorang laki-laki45 tahun, dating kepoliklinik dengan keluhan nyeri pinggang bawah menjalar kebokong sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri memberat pada pagi hari, nyeri tidak berkurang dengan istirahat namun berkurang jika pasien melakukan aktifitas sehari hari. Demamtidakada. Dari pemeriksaanfisik TD 120/80mmHg, nadi 92x/menit, pernafasan 22x/menit, Temp 36,5oC. Hb: 12 gr/dl, L 6.800/mm3, trombosit 400.000/mm3. Hasil foto polos sendi sakroilika didapatkan sakroilitis bilateral grade 2.
Pilihan terapi utama mengatasi nyeri pada pasien ini adalah :
injeksi steroid lokal
metotreksat
obat anti inflamasi non steroid
sulfasalazin
anti TNF α
Pasien seorang laki-laki, 35 tahun, dating kepoliklinik dengan keluhan pasien merasa penglihatan semakin kabur, pasien juga mengeluh mual dan sakit kepala, nyeri otot dan nyeri perut juga dirasakan oleh pasien, nyeri sampai mengganggu aktivitas pasien. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran TD 120/70mmHg, N 84 x/mt, RR 20 x/mt, T 37,6oC. Pasien sudah terdiagnosa remathoid arthritis sejak 2 tahun, rutin mendapat terapi meloksikam 1x7,5 mg, metrotreksat 10 mg/minggu, hidroksiklorokuin 1x200 mg.
Penatalaksanaan yang tepat pada pasien diatas adalah :
Menghentikan terapi meloksikam
Menghentikan terapi metrotreksat
Menghentikan terapi hidroksiklorokuin
Tetap meneruskan terapi pasien sebelumnya
Meningkatkan dosis meloksikam, dan menghentikan obat metotreksat
Seorang perempuan 50 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pada pergelangan tangan kanan sejak 4 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan tambah hebat saat malam hari. Keluhan disertai dengan rasa kekakuan pada pergelangan tangan dan rasa kesemutan yang menjalar ke jari telunjuk dan jari tengah. Pasien adalah seorang pembantu rumah tangga yang berkerja mencuci dan menyapu di beberapa rumah.
Pemeriksaan fisik yang dapat mendukung ke arah diagnosis pasien ini adalah :
De Quervain sign (+)
Finkelstein sign (+)
Schoeber sign (+)
Yergason sign (+)
Phalen test (+)
Seorang perempuan usia 38 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri pada lengan kanan bawah, nyeri dirasa hilang timbul, nyeri lebih dirasakan saat beraktifitas menggunakan lengan kanan, nyeri berkurang dengan istirahat. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD lengan kanan 120/80 mmHg, TD lengan kiri 140/90 mmHg, Nadi : 82 x/menit reguler, pulsasi nadi brachialis pada lengan kanan dirasakan lemah, RR : 20 x/menit, T : 37 C. Pemeriksaan ekstremitas tidak didapatkan keterbatasan range of movement (ROM) lengan kanan. Pada inspeksi juga tidak didapatkan tanda tanda sianosis, namun didapatkan lesi eritromatosa pada kedua lengan. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan LED 68 mm/jam, fibrinogen 2,5 gr/l, D-dimer 300 ng/ml.
Langkah diagnostik selanjutnya yang paling tepat adalah :
venogradi
biopsi
pemeriksaan kadar p-ANCA serum
Doppler ultrasound vaskuler
arteriografi
Seorang perempuan usia 35 tahun dirawat di RS dengan diagnosis SLE yang bermanifestasi ruam kemerahan, artritis, ulkus dimulut, efusi pleura, dan nefritis. Pasien didiagnosis SLE sejak 8 bulan yang lalu dengan ruam, artritis, proteinuria (1 gram/24 jam) dan ANA positif. Pasien di obati dengan prednisone 30mg/hari, mikofenolat mofetil 1500 mg dua kali sehari dan lisinopril 10 mg/hari. Pada awalnya keluhan berkurang, namun kondisi pasien mulai menurun ketika dosis prednisone diturunkan menjadi 10 mg/hari. Pasien juga menstop konsumsi mikfenolat mofetil karena sering nyeri kepala. Dari pemeriksaan fisik didapatkan TD: 150/90 mmHg, Nadi : 90x/menit, T: 37,8 C, IMT : 25. Terdapat dua ulkus dimulut, malar rash, pleural rub dikanan dan edema pretibial di kedua tungkai. Ditemukan sinovitis dikedua tangan, pergelangan tangan dan lutut. Pemeriksaan laboratorium Hb : 10 g/dL, leukosit 4300, trombosit 120.000, creatinin serum 1,5 mg/dL, albumin serum 2,2 g/dL. Urinalisis tampak protein 4+, darah 3+, sedimen eritrosit 1 – 2/lapang pandang. Pasien diberikan pulsed dose methylprednisolone dan obat anti hipertensi.
Apakah tatalaksana medikamentosa lainnya yg perlu diberikan :
rituximab
azathiprine
antikoagulan dan plasma exchange
mikofenolat mofetil
Siklofosfamid intravena
Seorang laki-laki berumur 43 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan nyeri hebat pada kedua lutut sejak 1 hari yang lalu. Lutut terlihat bengkak dan kemerahan. Tidak terdapat riwayat trauma pada kedua. Dari pemeriksaan didapatkan Hb 11,7 g/dL, Ht 31%, leukosit 9.400/mm3, trombosit 225.000/mm3, ureum 56 mg/dL, creatinin 0,93 mg/dL, SGOT 5 mg/dL, dan SGPT 123 mg/dL, ditemukan kristal dengan bentuk rhomboid. Pilihan tata laksana yang tepat untuk kasus diatas adalah :
Indometasin 150 mg/hari
Injeksi triamcinolon acetonide 15 mg intra artikular
Injeksi methyl prednisolon 2 x 16 mg
Kolkisin 4 x 0,6 mg/hari
Injeksi methyl prednisolon 2 x 125 mg
Seorang perempuan 30 tahun datang ke IGD dengan keluhan utama sesak napas yang bertambah berat sejak 3 hari yang lalu. Pasien saat ini sedang hamil minggu ke-37. Keluhan sesak disertai bengkak pada kedua tungkai dan rasa cepat lelah. Tidak terdapat riwayat penyakit jantung dan sebelumnya pasien tidak ada gejala serupa. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 100/70 mmHg; frekuensi nadi 100x/menit, irama regular, frekuensi napas 28x/menit; JVP meningkat, terdapat ronki basah halus tidak nyaring di kedua basal paru. Pada pemeriksaan jantung didapatkan impuls apikal yang melebar, murmur holosistolik di apeks grade 3/6 dan gallop S3. Ekokardiografi mendapatkan ejeksi fraksi ventrikel kiri 30%. Dasar patofisiologi yang mendasari diagnosis pasien ini adalah:
iskemia miokard
kardiomiopati dilatasi
miokarditis menyeluruh
kardiomiopati hipertrofik
kardiomiopati kontriktif
Seorang laki-laki 45 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan berdebar. Hasil EKG sebagai berikut :
Hasil pemeriksaan echokardiografi menunjukkan left ventricular ejection fraction 60%.
Terapi yang paling tepat untuk pasien ini adalah :
Amiodaron 2x200 mg
metoprolol 2x50 mg
propanolol 3x10 mg
Difoxin 1x0.25mg
verapamil 1x25mg
Seorang perempuan 34 tahun datang ke IGD dengan nyeri dada sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dada di rasakan muncul saat menarik napas, tidak menjalar, tidak di sertai keringat dingin. Nyeri hilang timbul tidak tergantung aktivitas. Seminggu sebelumnya pasien mengalami gejala serupa flu. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan tekanan darah 114/54 mmHg, frekuensi nadi 110 x/menit teratur, frekuensi napas 24 x/menit teratur, suhu 37.80C. Pemeriksaan jantung di dapati pericardial friction rub. Pemeriksaan paru dalam batas normal. Hasil EKG sebagai berikut :
Pemeriksaan rontgen toraks menunjukkan bayangan jantung sedikit membesar, tanpa infiltrate paru. Pemeriksaan troponin T, CK, CKMB saat datang ke IGD dalam batas normal. Rencana evaluasi lebih lanjut yang paling tepat pada pasien ini adalah :
kultur dan resistensi mikroorganisme dari darah
pemeriksaan enzim jantung serial
Ekokardiografi
treadmill test
corangiografi
Seorang perempuan 48 tahun datang ke poloklinik dengan keluhan nyeri dada sejak 2 bulan terakhir. Nyeri terasa di daerah dada bagian tengah, terasa seperti terhimpit, tidak menjalar, dicetuskan aktivitas, berlangsung selama sekitar 10 menit, membaik setelah istirahat. Sejak 6 bulan terakhir pasien mengeluh lutut kanannya sering terasa nyeri bila naik turun tangga atau berjalan jauh. Pasien sudah menepouse 2 tahun. Riwayat Penyakit lain tidak di ketahui. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan berat badan 75 kg, tinggi badan 155 cm, tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 86 x/menit, frekuensi napas 18 x/menit, pemeriksaan lain dalam batas normal. Hasil EKG tidak ada kelainan.
Pemeriksaan selanjutnya yang akan dilakukan pada pasien ini adalah :
Coronary artery calcium score
Coronary arteriography
Dobutamine stress echo
Ekokardiografi
treadmill test
Seorang laki-laki 55 tahun datang ke IGD dengan keluhan nyeri punggung seperti di sayat pisau sejak 1 minggu. Pasien dengan riwayat hipertensi lama, berobat tidak teratur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya murmur distolik awal ringan di daerah parasternal kanan atas. Pada pemeriksaan rotgen ditemukan adanya kardiomegali dan elongasi aorta. Hasil EKG menunjukkan left axis deviation dan left ventricular hyperthrophy
Pemeriksaan penunjang yang tepat untuk menegakkan diagnosis pasien ini adalah :
foto vertebra torakal
ekokardiografi
corangiografi
CT angiografi
ct scan toraks
Seorang perempuan 25 tahun, hamil anak pertama 28 minggu, datang ke poliklinik dengan keluhan sesak yang semakin memberat sejak 2 minggu di sertai bengkak di kedua tungkai. Saat ini pasien hanya mampu berjalan beberapa langkah saja karena sesak. Keluhan berdebar, batuk dan demam di sangkal. Keluhan seperti ini belum pernah di alami sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 130 x/menit, ireguler frekuensi napas 30 x/menit, suhu 36,80C, JVP meningkat, terdapat ronki basah halus di basal kedua paru, dan edema di kedua tungkai. Ekokardiografi menunjukkan severe mitral stenosis
Tindakan yang di lakukan pada pasien ini adalah :
Induksi/ terminasi kehamilan dan mitral valve replacement surgery
Induksi / terminasi kehamilan dan memberikan diuretic, digitalis
Mempertahankan kehamilan dan memberikan diuretik, digitalis
Mempertahankan kehamilan dan mitral valve replacement surgery
Mempertahankan kehamilan dan percutaneus mitral ballon valvuloplasty dengan panduan fluroskopi
Seorang laki-laki 45 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan pasien tampak sakit berat, tekanan darah 160/90 mmhg, frekuensi nadi 110 x/menit, frekuensi nafas 32 x/meni, dalam, JVP 5+4 cmH2O, batas jantung kanan dan kiri melebar, terdapat ronki basah pada seluruh lapang paru (EDEMA PARU). Hasil laboraturium menunjukkan Hb 8,5 g/dl; leukosit 9.000/uL, ureum 230 mg/dL kreatinin 7,2 mg/dL, natrium 140 mEq/L (N: 132 – 147 mEq/L ), kalium 8,1 mEq/L (N: 3,3 – 5,4 mEq/L, klorida 106 mEq/L (N: 94 – 111 mEq/L), glukosa darah sewaktu 180 mg/dL.
Sementara menunggu hemodialysis, terapi yang paling tepat harus segera di berikan kepada pasien adalah :
Inhalasi salbutamol dan Injeksi insulin 8 unit subkutan
Injeksi kalsium glukonas 10 % intravena dan inhalasi salbutamol
Injeksi kalsium glukonas 10 % intravena dan injeksi insulin 8 unit subkutan
injeksi kalsium glukonas 10 % intravena dan injeksi insulin 8 unit dalam dekstrosa 50 % 50 cc Intravena
Injeksi insulin 8 unit dalam dekstrosa 40 % 50 cc intravena dan natrium bikarbonat 100 mEq dalam 4 jam
Seorang perempuan 19 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan tampak kebiruan sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga sering merasa cepat lelah dan mudah terkena infeksi saluran napas atas. PF: tampak sakit sedang; komposmentis; tampak sianosis; TD 100/60 mmHg; nadi 100x/menit; RR 22x/menit; suhu normal; JVP 5+2 cmH2O. Pada pemeriksaan jantung didapatkan impuls apikal teraba 2 jari lateral midklavikula, teraba thrill dan terdengar murmur kontinu disela iga 2 parasternal kiri, akral hangat, tampak clubbing finger di jari kaki.
Diagnosis yang tepat pada pasien ini adalah: PDA
Anomali Ebstein
Foramen ovale paten
Defek septum atrial
Defek septum ventrikel
Duktus arteriosus paten
Seorang mahasiswa pecinta alam, berusia 23 tahun, mendaki Gunung Rinjani. Menjelang mencapai puncak, pasien mengeluh sesak napas berat. Pasien lalu tidak meneruskan pendakian dan dibawa turun oleh teman temannya. Satu jam kemudian, pasien tetap sesak napas. PF: tekanan darah 80/50 mmHg dan S2 split pada auskultasi jantung. Pemberian terapi oksigen mengurangi gejala pasien dan pada auskultasi S2 split menghilang
Patofisiologi kelainan pada pasien ini adalah:
Emboli paru
Syok kardiogenik
Hipertensi pulmonal
Pneumothotax spontan
Edema paru akibat vasokonstriksi paru high altitude pulmonary edema
Seorang laki laki usia 55 tahun datang ke piliklinik dengan keluhan sesak saat beraktivitas sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga merasa cepat lelah, sering batuk yang kadang disertai bercak darah. Pasien pernah menjalani dua kali pengobatan TBC paru karena putus obat, terakhir 1 tahun yang lalu. Tidak terdapat riwayat darah tinggi, diabetes, serangan jantung dan stroke. Sejak 30 tahun lalu pasien merokok 5-6 batang per hari dan baru berhenti 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan sakit sedang, komposmentis, tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi napas 22x/menit, frekuensi nadi 100x/menit, suhu normal, konjungtiva tidak pucat, JVP 5+2 cmh2O, dan kelenjar getah bening leher tidak teraba. Pada pemeriksaan dada didapatkan kesan barrel chest, terdapat ronki di paru kanan atas dan wheezing positif. Pada pemeriksaan jantung didapatkan bunyi P2 mengeras (HT pulmonal) di pulmonal, diatolik murmur di katup pulmonal (regurgitasi katup pulmonal) dan murmur pansistolik 2/6 di katup tricuspid (tricuspid regurgitasi). Hepar teraba membesar dengan konsistensi kenyal dan terdapat pitting edema di kedua ekstremitas. Hasil EKG sebagai berikut:
Patofisiologi maslah utama pada pasien ini adalah:
Gangguan pompa ventrikel kiri
Peningkatan resistensi vaskular pulmonal
Gangguan aliran drainase vena pulmonalis
Peningkatan aliran darah yang melalui arteri pulmonalis
Peningkatan tekanan atrium kiri menyebabkan aliran balik ke pulmonal
Seorang laki laki usia 51 tahun di bawa ke IGD dengan keluhan nyeri dada sejak 3 jam yang lalu. Saat di IGD pasien mengeluh nyeri dada memberat dan dilakukan kardioversi karena di monitor tampak gambaran irama takikardia ventrikel.
Gambaran EKG post kardioversi adalah:
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 100/60 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit, frekuensi napas 24x/menit, suhu normal.JVP 5+1 cmH2O.terdengar ronki basah halus tidak nyaring di basal paru, auskultasi jantung terdengar soft murmur di katup mitral. Pasien diberikan aspirin 320 mg, clopidogrel 300 mg, furosemide 20 mg intravena, ramipril 2,5 mg dan atorvastatin 80 mg.
Tatalaksana lanjutan yang paling tepat untuk pasien ini adalah:
Heparin 60 unit/kgBB per jam
Percutaneous coronary intervention dalam 2 jam sejak admisi
Percutaneous coronary intervention dalam 24 jam sejak admisi
Percutaneous coronary intervention dalam 72 jam sejak admisi
Streptokinase 1,5 juta unit intravena dalam 30 menit sejak admisi
Seorang laki laki usia 72 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan nyeri pada kedua tungkai terutama saat berjalan sejak 5 bulan yang lalu (klaudikasio). Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu dan pernah mengalami serangan transient ischemic attack (TIA) 5 tahun yang lalu. pasien saat ini mengkonsumsi ASA 1x80 mg, irbesartan 1x150 mg, HCT 1x25 mg, dan bisoprolol 1x2,5 mg. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg; frekuensi nadi 64x/menit; JVP 5-2 cmH2O. Pada pemeriksaan jantung didapatkan apeks jantung 2 jari lateral midklavikula kiri, tidak terdapat murmur ataupun gallop. Pada ekstremitas bawah didapatkan bulu kaki menipis, otot otot tungkai hipotrofi, pulsasi arteri dorsalis pedis dan tibialis posterior pada kedua kaki melemah. PAD
Hasil pemeriksaan yang sesuai untuk kasus ini adlah:
Toe brachial index kiri 0,75
Ankle brachial index kanan 0,91
USG doppler menunjukkan trombus pada arteri dorsalis pedis
Arteriografi tungkai menunjukkan stenosis 90% arteri tibialis posterior
CT angio menunjukkan stenosis 40% pada arteri tibialis posterior dan 45% pada arteri dorsalis pedis.
Seorang perempuan usia 68 tahun datang ke polikilnik dengan keluhan sering sesak napas dan nyeri dada saat aktivitas sejak 3 bulan yang lalu. Menurut keluarganya, pasien pernah sinkope tiga kali dalam tiga bulan terakhir ini. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/60 mmHg; frekuensi nadi 84x/menit; JVP 5+1 cmH2O. Pemeriksaan jantung : murmur ejeksi mid sistolik cresendo-decresendo di sela iga 2 kanan menjalar ke karotis. Pemeriksaan EKG menunjukkan hasil:
Hasil pemeriksaan penunjang ekokardiografi yang diharapkan adalah:
Regurgitasi katup aorta
Prolaps berat katup mitral
Pembesaran ventrikel kanan
Kalsifikasi berat katup mitral
Pembukaan katup aorta minimal
Seorang perempuan 20 tahun dating ke poliklinik dengan keluhan palpitasi 2 hari yang lalu. Keluhan tersebut telah tiga kali muncul dalam 2 bulan terakhir. Pasien tidak memilki riwayat hipertensi dan diabetes mellitus serta tidak menggunakan obat sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg; frekuenis nadi 80x/menit, regular. Pemeriksaan fisik jantung dan paru dalam batas normal. Hasil EKG sebagai berikut
Hasil evaluasi EKG yang tepat pada pasien ini adalah
Kompleks QRS normal
PR interval memendek (delta wave lead II)
QT interval memanjang
Terdapat left ventricular hyperthrophy
Terdapat right bundle branch block (RBBB)
Seorang laki-laki 55 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri dada seperti ditekan sejak 4 jam lalu. Pasien adalah seorang perokok dan memiliki riwayat diabetes mellitus tidak terkontrol. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak gelisah, tekanan darah 70/50 mmHg, frekuemsi nadi 78x/menit, frekuensi nafa 22x/menit, suhu normal. JVP 5+3 cmH2O, tidak tedapat ronkhi di paru, terdapat murmur pansistolik grad 2/6 di katup tricuspid. Hasil EKG sebagai berikut
Selain pemberian ASA 320mg, ticagrelor 180mg dan mengaktifkan tim PCI primer, tatalaksana yang paling tepat harus dilakukan di IGD adalah
Vasopresin 40mg dan norepinefrin
Loading 1 liter NaCl 0,9% dan milirinone
Loading 500cc NaCl 0,9% dan dopamin
Loading 2 liter NaCl 0,9% dan dobutamine
Atropine sulfat 0,5 mg intavena dan dopamine
Seorang laki-laki 58 tahun telah didiagnosis gagal jantung sejak 1 tahun lalu, datang ke poliklinik untuk kontrol rutin. Pasien masih merasakan sesak saat aktivitas ringan walaupun sudah disiplin dalam konsumsi obat, garam dan air. Enam bulan lau pasien baru menjalani coronary angiografi dengan hasil stent koroner yang dipasang 2 tahun lalu masih baik. Pasien rutin mengonsumsi obat ASA 1x80 mg, ramipril 1x10mg, carvedilol 2x25 mg, spironolakton 1x50 mg, atorvastatin 1x40 mg. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tampak sakit sedang, tekanan darah 100/60 mmHg; frekuensi nadi 98 x/menit; frekuensi nafas 20x/menit; JVP 5-0 cmH2O; batas jantung kiri di 2 jari lateral midklavikula kiri, murmur pansistolik 2/6 di mitral, tidak ada gallop. Tidak terdapat ronki di kedua paru, akral hangat, tidak ada edema. Hasil ekokardiografi menunjukkan dilatasi ventrikel kiri, hipokinetik luas di anterior dan ejeksi fraksi ventrikel kiri 30%. Hasil EKG seperti berikut
Tatalaksana yang paling tepat untuk pasien ini adalah:
Menambahkan diltiazem 2x30 mg
Menambahkan valsartan 1x40 mg
Menambahkan ivabradine 2x5 mg
Pemasangan pacu jantung permanen
Mengganti carvedilol dengan digoksin 1x0,25 mg (add on)
Seorang laki-laki 50 tahun ditemukan tidak sadar di ruang rawat. Pada pemeriksaan pasien tidak respons, bernafas hanya gasping dan nadi karotis tidak teraba. Pesusitasi jantung paru segera dilakukan dan setelah satu siklus resusitasi pada monitor terlihat : AV block III
Bila saat itu nadi karotis belum teraba, tatalaksana lanjutan yang paing tepat adalah:
Memasang pacu jantung transkutan dan melanjutkan kompresi dada
Melanjutkan kompresi dada dan memberikan epinefrin 1 mg intravena
Melanjutkan kompresi dada dan memberikan atropine 0,5 mg intravena
Melakukan defibrilasi 200 joule unsynchronized dan atropine 0.5 mg intravena
Melakukan kardioversi 50 jaoule synchronized dan vasopressin 40 mg intravena/
Seorang laki-laki 55 tahun, telah didiagnosis penyakit jantung coroner sejak 3 tahun lalu, datang ke poliklinik untuk control rutin. Hasil evaluasi menunjukkan nyeri dada sudah timbul saat pasien berjalan santai 100 meter, padahal 2 bulan lalu nyeri dada baru timbul saat pasien berjalan santai 200 meter. Pasien sudah dianjurkan angiografi coroner namun belum siap untuk menjalani pemeriksaan tersebut. Obat-obatan yang rutin diminum yaitu ASA 1x100mg, bisoprolol 1x5 mg, nitrogliserin sublingual bila nyeri dada, atorvastatin 1x40 mg. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kompos mentis, tekanan darah 135/80 mmHg, frekuensi nadi 80x/menit. JVP 5-2 cmH2O, pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Hasil EKG pasien:
Tatalaksana lanjutan yang paling tepat pada pasien ini adalah:
Menambahkan diltiazem 2x30 mg
Menambahkan ivabradine 2x5 mg
Menambhakan verapamil 2x40 mg
Menaikkan dosis bisoprolol 1x10 mg
Menambahkan nifedipin long acting 30 mg
.Seorang laki-laki 70 tahun dikonsulkan oleh sejawat orthopaedi dengan diagnosis fraktur kolum femoris dekstra dan direncanakan operasi elektif. PAsien memilki riwayat diabetes mellitus, hipertensi dan riwayat pemasangan stent coroner 5 tahun yang lalu. Obat yang dikonsumsi dampai 2 hari yang lalu yaitu glikuidon 2x30 mg, ASA 1x80 mg dan captopril 2x12,5 mg. Hasil laoratorium: Hb 10,2 g/dL; leukosit 13.200/uL; trombosit 280.000/uL; PT 11 (control 10,2); APTT 38 (control 36); fibrinogen 520 mg/dL; D-dimer 1.800 ug/L; ureum 62 mg/dL; kreatinin 3,2 mg/dL. Persiapan perioperative yang paling tepat pada pasien ini adalah:
Stop ASA 5 hari praoperasi dan pemberian low-molecular-weight heparin (LMWH) 1x0,4 subkutan sampai 1 hari praoperasi
Stop ASA 5 hari praoperasi dilanjutkan unfractioned heparin (UFH) intavena sampai 6 jam praoperasi
Stop ASA 5 hari praoperasi dan transfuse trombosit konsentrate (TC) 10 u
Stop ASA 5 hari praoperasi dan transfuse FFP 10cc/kgBB praoperasi
ASA diteruskan sampai praoperasi
Seorang laki-laki 59 tahun dengan riwayat diabetes mellitus lama dibawa ke IGD dengan keluhan kaki kiri menghitam sejak 3 minggu lalu. Pasien telah mengeluhkan nyeri kaki kiri yang bahkan timbul saat istirahat sejak 6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan digiti 1 dan 2 pedis sinistra menghitam. Pulsasi arteri tibialis posterior dan dorsalis pedis kiri sulit diraba. Tekanan ankle kiri 50 mmHg dan ankle brachial index kiri 0,5. (Nilai ABI N: 0.9-1.4) Diagnosis yang paling tepat pada pasien ini adalah:
Acute limb ischemia
Critical limb ischemia
Penyakit arteri perifer berat
Penyakit arteri perifer Fontaine stage III
Penyakit arteri perifer Rutherford grade II
Seorang perempuan 54 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan mimisan tidak berhenti sejak 1 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh badan lemah dan mudah lelah sejak 1 minggu sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, frekuensi nadi 96 x/menit, frekuensi napas 20 x/menit, suhu 37,2ºC, pembesaran hati 2 cm dibawah arkus kosta, limpa Schuffner 6, dan lebam kulit terutama perut, kedua tangan dan kaki. Hasil laboratorium hemoglobin 11,4 gr/dl, hematokrit 33%, leukosit 46.000/µL, trombosit 296.000/µL, dan hitung jenis 0/1/5/65/10/6 Blast 13 %. Masalah yang paling mungkin pada pasien ini adalah...
Mielofibrosis
Chronik myeloid leukemia fasekronik
Anemia aplastik
Sindrom mielodisplasia
Leukemia granulositik kronik fase akselerasi
Seorang wanita42 tahun datang ke Poliklinik Penyakit Dalam dengan keluhan lemas yang dialami sekitar sebulan yang lalu. Pasien ada riwayat kejang yang dialami sekitar 1 minggu yang lalu. Hasil pemeriksaan fisis didapatkan anemis, dan subikterik. Pemeriksaan laboratorium didapatkan HB 8,5 g/dL, PLT 30.000/mm3, apusan darah tepi didapatkan skistositosis dan morfologi platelet normal, fungsi hati dan ginjal sedikit meningkat, dan pada pemeriksaan Coombs test negatif. Diagnosis yang tepat untuk kondisi pasien tersebut adalah :
Idiopathic Trombocytopenic Purpura
Thrombotic Thrombocytopenia Purpura
Hemolytic Uremic Syndrome
Evan’s Syndrome
Disseminatic Intravascular Coagulation
Seorang pria usia 43 tahun dengan riwayat sering lebam dan perdarahan gusi,saat ini MRS dengan lemas, sakit kepala dan demam, tampak lebam di siku dan perut, perdarahan gusi dialami sejak 1 minggu terakhir. Pada pemeriksaan fisis didapatkan T:120/80mmHg, nadi:108 kali/menit, pernafasan:24 kali/menit,tidakdisertai hepatomegaly maupun splenomegaly,pada pemeriksaan darah didapatkan WBC:2200, Hb:6,8gr/dL, PLT:65000. Setelah diberiterapi immunosupresif dengan siklosporin maka kriteria respons terapi yang sesuai dengan kelompok European Bone Marrow Transplantation (EBMT), yang tepat adalah
Remisikomplit : granulositsekurang-kurangnya 100.000/mm3
Remisikomplit : trombosits sekurang-kurangnya 2.000/mm3
Remisisebagian : bebastransfusi
Remisisebagian : trombosit di bawah 2.000/mm3
Refrakter : tidak ada perbaikan
Seorang laki-laki, usia 47 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluhan wajah kemerahan dan nyeri, pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah : 160/100 mmHg, Nadi :100x/menit, pernafasan: 18x/menit, suhu :370C, pada mata didapatkan enoftalmus, terdapat anhidrosis serta paraplegia. Pada pemeriksaan penunjang urin didapatan adanya Vinil Mandelic Acid (VMA) serta pada CT scan thorax didapatkan adanya massa di mediastinum posterior. Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah:
Germ Cell neoplasma
Limfoma
Kista enterik
Ganglioneuroma
Kista bronkogenik
Seorang wanita, 50 tahun datang ke Poliklinik Penyakit Dalam atas rujukan Dokter Kandungan dengan Ca cerviks dan didapatkan lesi sebesar pada serviks 8 cm dan mencapai 1/3 proksimal vagina. Dari rectal touce didapatkan batas tegas antara dinding dasar panggul dan tumor. Hasil pemeriksaan fisik saat ini dalam batas normal. Langkah lanjutan yang kurang tepat untuk pasien tersebut adalah :
Kemoradiasi
Radikal histerektomi
Neo adjuvant chemoteraphy
Kemoterapi berbasis cisplatin
Radiasi paliatif
Seorang wanita berusia 57 tahun datang ke IGD dengan keluhan utama sesak nafas. Keluhan lain adalah pandangan kabur dan telinga berdenging. Pada pemeriksaan fisik ditemukan anemia konjungtiva, perdarahan pada gusi, pada colok dubur ditemukan melena. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 4.5 g/dl, WBC 2100 /µL, PLT 12.000 /µL, MCV 85 fl, MCV 31pg, hitung netrofil <200//µL, hitng retikulosit absolut < 60.000 /µL Pernyataan yang benar berdasarkan kondisi di atas:
Jarang ditemukan lmfositosis relatif
Laju endap darah menurun
Ditemukan kelainan kromosom
Tes hemolysis sukrosa untuk mengetahui adanya keterlibatan virus
Biopsy sumsum tulang harus selalu dilakukan
Seorang laki –laki berusia 67 tahun dibawa ke RSisetempat karena keluhan, mudah capek, lemas, demam, dan makin lama makin terlihat pucat. Pada Pemeriksaan Fisik didapatkan T: 130/70 mmHg Nadi 96x/mnt RR 20 x/menit, Tax 38,5 derajat celcius .Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemia, tidak didapatkan pembesaran organ. Pemeriksaan darah Hb 7,2 gr/DL Leukosit 4200 trombosit 75.000. Pada pemeriksaan sumsum tulang ditemukan gambaran hiposeluler dengan jumlah sel blast<5%. Diagnosa kerja yang mungkin pada pasien ini adalah :
Anemia aplastik
Evan Syndrome
Leukemia Kronik
Sindrom dismielopoetik
Anemia hemolitik
Seorang wanita 50 tahun dengan ca mammae sinistra dilaporkan perawat mengalami sesak nafas setelah mendapatkan tranfusi darah 500 cc. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak gelisah, menggigil, nyeri dada, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi 110 x/menit, respirasi 28 x/menit, suhu 36,7oC, saturasi O2 95 %. Pada auskultasi dada didapatkan rhonki kasar pada seluruh lapang dada. Diagnosis yang paling tepat untuk kondisi di atas :
Tranfusion related lung injury
Tranfusion associated circulatory overload
Tranfusion associated graft VS host disease
Tranfusion allergic reaction
Tranfusion citrate toxicity
Wanita berusia 21 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan rasa sesak tiba-tiba dalam 2 jam terakhir, disertai rasa jantung berdebar dan kram pada jari di seluruh ekstremitas. Tidak ada demam. Seminggu terakhir pasien bertengkar hebat dengan pacarnya karena ketahuan selingkuh. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan Analisa Gas Darah yang diharapkan adalah :
Ph 7,36
Saturasi O2 99%
PCO2 35
HCO3 26
PCO2 55
Seorang pasien laki-laki berusia 40 tahun datang dengan keluhan BAB cair selama 3 hari. Pasien diterapi dengan attapulgite dan keluhan pasien berkurang. Tiga bulan kemudian, pasien datang kembali dengan keluhan BAB cair dan tidak berhenti sejak 3 minggu terakhir. BAB cair hanya dialami pada pagi hari saat bangun tidur. Pemeriksaan analisa feses dalam batas normal. Pasien kemudian menjalani pemeriksaan kolonoskopi dan tidak ditemukan adanya kelainan. Pasien ternyata 3 bulan yang lalu baru kehilangan pekerjaannya dan sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Dari data yang ada apakah diagnosis yang paling memungkinkan untuk pasien ini?
Depresi berat
Gangguan cemas
IBS (Irritabe bowel syndrome)
Diare osmotik
Diare sekretorik
Seorang wanita umur 27 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan cemas dan takut kurang lebih 1 tahun dan memberat 6 bulan terakhir sejak pasien didiagnosis oleh dokter menderita penyakit batu ginjal kiri. Rasa cemas dan takut sering disertai dengan kaki tangan dingin, sakit tenguk, nyeri dada kiri dan nyeri perut kiri bawah. Pasien tidak mengerti mengapa dia sering merasa cemas berlebihan. Pasien memiliki suami yang bekerja di luar daerah sebagai kontraktor dan pulang ke rumah sebulan sekali. Pasien memiliki 2 orang anak. Pasien merasa cemas apabila dia jatuh sakit sehingga sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Pasien mencemaskan bagaimana keadaan anak-anaknya nanti apabila terjadi hal yang buruk padanyakarena suaminya jarang berada di rumah. Terapi pasien ini selanjutnya adalah :
alprazolam
buspiron
amineptin
sertraline
moklobemid
Seorang wanita, 54 tahun datang ke UGD dengan keluhan sesak tiba-tiba dalam 3 jam terakhir. Pasien juga sebelumnya mengeluh kram-kram pada tangan dan kaki serta berdebar. Pasien tidak demam. Dalam beberarapa hari terakhir pasien mengalami kerugian finansial yang cukup besar. Pada pemeriksan fisik dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium yang diharapkan:
Peningkatan Calcium
Peningkatan Fosfat
Peningkatan Magnesium
Peningkatan pH darah
Penurunan pH darah
Seorang laki-laki usia 30 tahun dirujuk ke poli penyakit dalam dengan keluhan sering gelisah, susah tidur, jantung berdebar hingga terasa seperti mau pingsan, berkeringat. Keluhan dirasakan menetap sejak 8 bulan terakhir sejak pasien dimutasikan ke daerah kerja yang baru. Pemeriksaan fisik saat ini kompos mentis, T 140/80 mmHg, HR 104 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 37,5 0 C.Diagnosis axis 3 pasien ini adalah
Hipertoni simpatis
Gangguan Panik
Mutasi kerja ke daerah baru
Insomnia
Hipertoni Parasimpatis
.Seorang laki-laki 52 tahun dengan hemoroid interna grade 3 datang dengan BAB berdarah cukup banyak. Hb 5 g/dl, leukosit 10.000/mm3, trombosit 450.000/mm3. Pasien diberikan transfusi darah 4 kantong, 3 jam kemudian pasien mengeluh sesak nafas, tidak demam, ada nyeri dada. Pemeriksaan vital sign: TD 140/80 mmHg, HR 120x/menit, T 37ºC. Foto thorax menunjukkan edema pulmoner bilateral. Apakah kemungkinan penyebab kondisi pasien tersebut?
Transfusion associated circulatory overload
Syok hipovolemik
Syok anafilaktik
Transfusion related acute lung injury
Syok kardiogenik
Seorang perempuan 25 tahun datang dengan keluhan rasa lelah yang hebat, mudah mengantuk, sesak napas, mudah capek, badan terasa lemas dan demam. Pada pemeriksaan di dapatkan konjungtiva pucat, sclera ikterik, splenomegaly, urine berwarna merah gelap. Pada pemeriksaan laboratorium Hb 9 gr/dL, MCV normal, Peningkatan bilirubin indirek. Gambaran apus darah tepi: didapatkan spherosit, shistiosit. Direct antiglobulin test (+). Manakah pernyataan yang benar mengenai permasalahan tersebut ?
Autoantibodi berasal dari Ig G
Tidak respon terhadap kortikosteroid dan splenomegali
Udara dingin dapat memicu hemolisis
Chlorambucil 2-4 mg/hari dapat diberikan
Plasmaferesis untuk mengurangi Ig M bermanfaat
Pasien Koas interna 22 tahun datang dengan keluhan mudah capek sehingga tidak bersemangat menjalankan aktivitasnya sehari-hari, padahal pasien harus segera menyelesaikan skripsi karena 1 bulan yang lalu pasien mendapatkan surat pemberitahuan batas masa studi dari kampusnya. Selama ini kuliah yang dijalankan oleh pasien sebenarnya sesuai dengan harapan orangtuanya, tetapi bertentangan dengan keinginannya. Pasien adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan ingin bisa menjadi contoh teladan untuk adik-adiknya. Pilihan terapi yang tepat untuk pasien tersebut adalah:
Clobazam
Klomipramin
Sertralin
Alprazolam
Buspiron
Seorang pria, 45 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan kuning pada mata dan badan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, disertai rasa lemas. Buang air kecil pagi hari berwarna colat. Tidak ada riwayat berpergian ke daerah endemis. Pada pemeriksaan fisis didapatkan konjungtiva pucat, sklera ikterus, jantung paru dalam batas normal, splenomegali scuffner 2. Pada pemeriksaan laboratorium Hb 7,0 g/dL, MCV 88 fl, MCHC 32 g/dL, Hct 21%, leukosit 2.300/mm3, trombosit 65.000/mm3, bilirubin total 4,4 mg/dL, bilirubin direk 1,8 mg/dL dan indirek 2,6 mg/dL, retikulosit 2,8%. Urinalisis : hemoglobinuria. Pemeriksaan sucrose water test : positif. Patogenesis yang mendasari penyakit diatas adalah:
Gangguan mutasi somatik pada totipotent haematopoetic stem cell
Defisiensi G6PD menyebabkan hemolitik akut dan hemoglobinuria
Gangguan mutasi somatik menyebabkan peningkatan pembentukan GPI anchored
Fibrosis sumsusm tulang yang menyebabkan hemopoiesis ekstramedulare dengan splenomegali dan leukoeritroblastosis dalam darah
Infeksi parasit menyebabkan hemolitik masif
Kondisi di bawah ini yang dikatakan memiliki kaitan erat dengan kejadian gastroesophageal reflux dalah:
Sinusitis kronik
Dental erosion
Fibrosis paru
Pneumonia aspirasi berulang
Sleep apnea
Seorang pasien wanita usia 44 tahun mengeluhkan nyeri daerah epigastrium sejak 6 bulan yang lalu, keluhan dirasakan memberat pada saat makan. Pasien juga mengeluhkan rasa terbakar pada dada. Nyeri berkurang saat pasien minum obat antasida. Pasien berobat ke klinik karena melihat kotorannya berwarna gelap. Tidak ada riwayat penyakit sebelumnya, dan tidak ada minum obat-obatan lain. Pemeriksaan fisik dalam batas normal, kecuali nyeri difus pada daerah midepigastrium. Pemeriksaan faeces didapatkan Heme (+), pasien juga sudah dilakukan EGD (Esofagoduodenoscopy), di mana didapatkan ulkus duodenum berukuran 2 cm dan positif H. Pylori. Terapi apakah yang direkomendasikan untuk diberikan pada kondisi pasien saat ini:
Lansoprazole 30 mg 2x1, Klaritromisin 500 mg 2x1, dan metronidazole 500 mg 2x1 selama 14 hari
Pantoprazole 30 mg 2x1 dan Amoxicillin 500 mg 3x1, selama 21 hari
Pantoprazole 40 mg dan Klaritromisin 500 mg 2x1, selama 14 hari
Omeprazole 40 mg 2x1, Tetrasiklin 250 mg 2x1, dan metronidazole 500 mg 2x1 selama 14 hari
Omeprazole 30 mg 2x1, Metronidazole 500 mg 2x1, dan Klaritromisin 400 4x1 selama 7 hari
Seorang pasien wanita usia 24 tahun oleh ahli penyakit dalam berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, didiagnosis dengan irritable bowel syndrome. Kondisi apakah yang sering juga dijumpai bersamaan dengan pasien irritable bowel syndrome ?
Abnormalitas anatomi otak
Penyakit autoimun
Riwayat penyakit menular seksual
Diagnosis psikiatri
Hipersensitivitas sensoris akibat rangsangan perifer
Seorang wanita usia 32 tahun datang ke IGD karena keluhan nyeri perut. Nyeri perut dirasakan semakin lama semakin memberat, disertai kehilangan nafsu makan. Nyeri awalnya dirasakan di daerah umbilicus, namun saat ini nyeri terpusat pada daerah kuadaran kanan bawah. Tidak ada mual dan muntah. Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Pemeriksaan fisik: TD 110/70 mmHg, Nadi 108x/menit, pernapasan 22x/menit, suhu 37.90 C. Nyeri tekan pada regio kanan bawah, pemeriksaan pelvis dalam batas normal. Test urine kehamilan negatif. Pemeriksaan berikut yang merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis:
CT Scan abdomen tanpa kontras
Kolonoskopi
USG pelvis
Foto BNO abdomen
USG abdomen
Pasien laki-laki usia 38 tahun dating ke IGD dengan keluhan nyeri perut hebat sejak beberapa jam yang lalu. Keluhan dirasakan mendadak, tetapi riwayat pasien sebelumnya sering mengalami nyeri ulu hati dan bertambah saat pasien makan sejak beberapa bulan dan didapatkan pula penurunan berat badan. Pasien tidak ada riwayat minum obat lain selain antasida yang sering dibeli di warung. Pada pemeriksaan fisik, suhu 38°C, nadi 130x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, dan tekanan darah 110/50 mmHg. Pemeriksaan abdomen: pada auskultasi tidak didapatkan bising usus, pada perkusi liver dullness (-). Pemeriksaan foto BNO abdomen didapatkan gambaran free air under diaphragm (+). Pasien dikonsulkan cito ke bagian bedah digestif. Pada saat di ruang operasi, kelainan apa yang dapat dijumpai pada pasien ini?
Nekrosis usus
Nekrosis pankreas
Perforasi ulkus duodenum
Perforasi kandung empedu
Perforasi ulkus gaster
Pasien laki-laki usia 61 tahun datang dengan keluhan perut membesar sejak 3 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik abdomen didapatkan pemeriksaan undulasi (+). Pada pasien dilakukan dilakukan tindakan paracentesis. Hasil pemeriksaan cairan tersebut, WBC 300 leukocytes/μL dengan 35% sel polymorphonuclear. Kadar albumin peritoneal 1.2 g/dL, protein 2.0 g/dL, dan kadar trigliserida 320 mg/dL. Kultur cairan peritoneal belum ada hasil. Serum albumin 2.6 g/dL. Perkiraan diagnosis dari pasien di atas adalah:
Congestive heart failure
Peritoneal tuberculosis
Peritoneal carcinomatosis
Chylous ascites
Bacterial peritonitis
Seorang laki-laki usia 26 tahun datang ke poli GEH untuk berkonsultasi akibat keluhan kuning pada matanya setelah selesai mengerjakan tugas bergadang semalaman. Pada anamnesis, keluhan kuning pada mata dirasakan pasien pada saat pasien kecapekan, tidak ada riwayat minum alkohol sebelumnya. Kadang kuning pada mata pasien mebaik dengan sendirinya dalam 2 hari. Tidak ada mual, tidak ada nyeri perut, BAK kuning kecoklatan tidak ada, BAB warna pucat tidak ada, gatal dan penurunan berat badan tidak ada. Pada pemeriksaan fisik, BMI 20.1 kg/m2, tanda vital dalam batas normal. Sklera ikterik. Tidak ada stigmata penyakit hati kronis. Pemeriksaan abdomen, palpasi lembut dan tidak ada nyeri tekan, pada perkusi didapatkan liver span 8 cm. Tepi hepar tumpul, dan hanya teraba saat inspirasi dalam. Limpa tidak teraba. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal kecuali untuk total bilirubin 3.0 mg/dL. Bilirubin Direct 0.2 mg/dL. AST, ALT, dan alkaline phosphatase normal. Hematokrit, LDH, dan haptoglobin normal. Diagnosis yang paling mungkin adalah:
Autoimmune hemolytic anemia
Crigler-Najjar syndrome type 1
Choledocholithiasis
Dubin-Johnson syndrome
Gilbert syndrome
Seorang pasien wanita usia 44 tahun dengan sirosis hepatis et causa infeksi hepatitis C. Saat ini pasien tidak ada tanda-tanda hipertensi portal dan penyakitnya ini terkontrol baik dengan medikasi yang diminum rutin oleh pasien. Gejala –gejala di bawah ini merupakan tanda hipertensi portal, kecuali:
Varises esofagus
Ascites yang dijumpai pada USG abdomen
Pembesaran limpa saat pemeriksaan fisis
Dilatasi atrium kiri pada ekokardiografi
Caput Medusa
Seorang laki-laki usia 63 tahun dengan sirosis dan hipertensi portal masuk ke RS dengan altered mental status. Pasien memiliki riwayat asites kronik dan terkontrol dengan diet dan spironolakton. Riwayat pernah mengalami perdarahan varises esofagus, namun semenjak mengkonsumsi propranolol, tidak pernah lagi. Keluarga mengeluhkan semenjak 2 hari lalu, pasien semakin tampak kebingungan, tetapi tidak ada demam, tidak ada melena atau hematemesis, asites terkontrol dengan diet dan pemberian spironolakton. Tanda vital dalam batas normal, pemeriksaan fisis didapatkan asites, dan orientasi terganggu. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10.1, kreatinin 1.4, dan BUN 45. Pasien ini dilakukan tindakan paracentesis, hasilnya didapatkan cairan warna jernih dengan WBC (40% netrofil). Di bawah ini, terapi yang diindikasikan untuk kasus di atas adalah:
Ampicillin, ceftriaxone, vancomycin
Cefotaxime
EGD dengan banding
Hemodialisis
Lactulose
Seorang laki-laki usia 68 tahun masuk dibawa ke gawat darurat dengan keluhan demam dan nyeri perut kiri bagian bawah. Pasien lebih menyukai konsumsi daging daripada sayuran. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri tekan pada kuadran kiri bawah dan teraba massa. Laboratorium menunjukkan leukositosis dan anemia. Diagnosis penyakit ini adalah:
Kolitis iskemik
Kolitis ulseratif
Divertikel kolon
Inflamatory Bowel Syndrome
Appendicitis
Seorang wanita usia 40 tahun datang ke IGD dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari lalu. Pasien sering merasa nyeri di punggung kanan atas yang hilang timbul. Sejak 10 hari yang lalu, mata pasien mulai berwarna kuning dan buang air kecil berwarna seperti teh pekat. Warna tinja pucat seperti dempul. Penurunan berat badan tidak ada. Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 36.50C, seluruh kulit tampak ikterik, sklera ikterik, paru-paru dan jantung dalam batas normal, hepar dan lien tidak teraba. Terdapat nyeri tekan epigastrium. Berdasarkan data klinis di atas, diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah:
Kolelitiasis
Pankreatitis
Hepatitis akut
Koledokolitiasis
Ca caput pancreas
Seorang wanita usia 40 tahun datang ke IGD dengan keluhan mual dan muntah sejak 3 hari lalu. Pasien sering merasa nyeri di punggung kanan atas yang hilang timbul. Sejak 10 hari yang lalu, mata pasien mulai berwarna kuning dan buang air kecil berwarna seperti teh pekat. Warna tinja pucat seperti dempul. Penurunan berat badan tidak ada. Pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu 36.50C, seluruh kulit tampak ikterik, sklera ikterik, paru-paru dan jantung dalam batas normal, hepar dan lien tidak teraba. Terdapat nyeri tekan epigastrium. Berdasarkan data klinis di atas, tindakan untuk diagnostik sekaligus terapeutik pada kasus di atas adalah:
ERCP
CT scan abdomen dengan kontras
MRCP
ESWL
EGD
Pasien laki-laki usia 55 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan batuk sejak 2 minggu lalu, batuk bercampur dengan darah, disertai demam, keringat malam, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Pada pemeriksaan fisik tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan fisik paru didapatkan ronki pada apeks paru sebelah kanan. Pemeriksaan penunjang: Hb 9.9 gr/dl, WBC 7.500/mm2, PLT 99.000/mm2, GOT/GPT 22/24 IU/L, sputum BTA (+), HBsAg non reaktif, Anti HCV reaktif. Tatalaksana untuk pasien tersebut di atas adalah:
Terapi OAT bersamaan dengan terapi DAA
Terapi OAT selama 2 minggu, kemudian dilanjutkan dengan terapi DAA
Terapi DAA selama 2 minggu, kemudian dilanjutkan dengan terapi OAT
Terapi OAT sampai tuntas, kemudian dilanjutkan dengan terapi DAA
Terapi DAA sampai tuntas, kemudian dilanjutkan dengan terapi OAT
Seorang wanita usia 25 tahun dengan keluhan BAB cair yang telah dialami selama 5 bulan disertai perut kembung, penurunan berat badan dan nyeri perut yang difus. Pasien menyangkal mengkonsumsi obat diet, berpergian jauh dan tidak ada perubahan pola makan dari biasanya. Menurut pasien dari kecil selalu mendapatkan vaksin sejak lahir di Perancis. Pada pemeriksaan fisik tidak dijumpai demam. Tampak lesi di kulit papulovesikuler di bagian ekstensor kedua tangan dan kaki. Diagnosis utama pasien ini adalah:
Celiac sprue
Lactosa intolerance
Kolitis ulseratif
Chron’s disease
Immunoglobulin A-defficiency
Seorang laki-laki 48 tahun penderita Diabetes dan gagal ginjal kronik, sudah rutin menjalani hemodialisa rutin 2 kali/minggu sejak 1 bulan lalu. Direkomendasikan oleh dokter sebelumnya untuk vaksinasi Hepatitis B. Riwayat vaksinasi Hepatitis B sebelumnya tidak ada. Dosis vaksinasi hepatitis B yang paling benar adalah:
3 dosis dengan dosis standar
4 dosis dengan 2x dosis standar
4 dosis dengan dosis standar
3 dosis dengan dosis 2x dosis standar
5 dosis dengan dosis 2x standard
Seorang laki-laki usia 34 tahun rutin control ke poliklinik sejak 3 tahun yang lalu karena menginap hepatitis B. Hasil penanda virus terbaru menunjukkan HBsAg positif, HBeAg positif, antiHBe negative, HBV DNA > 1.7 x 108 IU/ml. Pemeriksaan SGOT/SGPT 3 bulan terakhir berkisar antara 90-120 U/L. Hasil laboratorium lain: Albumin 3.7 g/dl; globulin 3.5 g/dl; ureum 53 mg/dl; kreatinin 2.1 mg/dl. Pilihan antivirus yang sesuai dengan kondisi klinis pasien ini adalah:
Tenofovir
Lamivudine
Entecavir
Adefovir
Zidovudine
Seorang wanita usia 56 tahun, terdiagnosis hepatitis B sejak 7 tahun lalu, datang ke poliklinik untuk control. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Hasil laboratorium: HBsAg positif; HBeAg negative, Anti HBeAg positif, HBV DNA 2.7 x 108 IU/ml, GOT 211 U/L dan GPT 198 U/L. Berdasarkan pembagian perjalanan penyakit pasien ini berada dalam fase:
Immune tolerance
Immune clearance
Inactive carrier
Immune attack
Reactivation
Seorang laki-laki 49 tahun dengan kanker prostat stadium lanjut dibawa ke UGD dengan keluhan sesak nafas yang memberat sejak 1 jam yang lalu. Pasien gelisah dan sulit diajak komunikasi. Saturasi oksigen 86%. Tekanan darah 70/palpasi. Denyut nadi kecil dan cepat. Laju pernafasan 30x/menit. Akral pucat dan dingin. Tungkai kanan tampak edema dan lebih besar dari tungkai kiri. Pasien sudah diresusitasi adekuat tapi belum ada respon optimal. Pada EKG didapatkan RAD, P pulmonal. Pada foto thorax didapatkan hampton sign. Pemeriksaan penunjang paling tepat untuk segera menegakkan diagnosis pada kasus ini adalah :
Kateter jantung kanan
MRI thorax
Ekokardiografi
CT angiografi thorax
Analisa gas darah
Seorang laki-laki 28 tahun datang ke IGD dengan keluhan demam, menggigil sejak 6 hari disertai batuk produktif, sputum warna hijau kadang-kadang disertai bercak darah dan terdapat nyeri dada saat inspirasi dalam. Pasien merupakan perokok. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 110 x/menit, frekuensi napas 24 x/menit, suhu 38, 8°C, terdapat ronki basah halus pada kedua paru. Hasil laboratorium menunjukkan Hb 14 g/dL, hematokrit 42%, leukosit 17.000/uL, trombosit 189.000/uL, PMN 84%, batang 7%, limfosit 9%. Pada foto rontgen paru terdapat multiple nodul dan beberapa cavitas. Pemilihan antibiotik yang paling baik adalah :
Penisilin G 2-10 juta unit/hari
Klindamisin 3x600 mg intravena
Metronidazole 3x500 mg ditambah amoxicilin 3x500 mg oral
Sulfonamide 3x1 gram oral
Cefoksitin 3x2 gram intravena
Seorang laki-laki 62 tahun paska perawatan di rumah sakit dengan gagal jantung dan aritmia ventrikel berulang, pasien mendapat terapi candesartan, bisoprolol, spironolakton dan amiodarone. Delapan bulan setelah nya, pasien datang dengan sesak nafas yang semakin memberat dan batuk kering, tidak mengi. Dari pemeriksaan fisis didapatkan tekanan darah 100/60, laju pernafasan 30x/menit, nadi 120x/menit, suhu 36,9 C, saturasi 88%, ronkhi pada kedua lapangan paru, tidak ada asites atau edema tungkai. EKG didapatkan sinus takikardi. Pemeriksaan foto thorax didapatkan sebagai berikut
Kemungkinan diagnosis pada pasien di atas adalah :
Bronkopneumonia
Aspergillosis
Pneumonitis hipersensitivitas
Tuberkulosis paru kemungkinan
Interstitial lung disease
Seorang laki-laki 62 tahun paska perawatan di rumah sakit dengan gagal jantung dan aritmia ventrikel berulang, pasien mendapat terapi candesartan, bisoprolol, spironolakton dan amiodarone. Delapan bulan setelah nya, pasien datang dengan sesak nafas yang semakin memberat dan batuk kering, tidak mengi. Dari pemeriksaan fisis didapatkan tekanan darah 100/60, laju pernafasan 30x/menit, nadi 120x/menit, suhu 36,9 C, saturasi 88%, ronkhi pada kedua lapangan paru, tidak ada asites atau edema tungkai. EKG didapatkan sinus takikardi. Etiologi terjadinya keluhan pasien di atas adalah :
Sebagai suatu infeksi nosokomial
Overload cairan
Pengobatan tidak adekuat
Merupakan bentuk toksisitas amiodarone terhadap paru
Merupakan bentuk toksisitas spironolakton terhadap paru
Seorang mahasiswa pecinta alam, berusia 23 tahun, mendaki gunung rinjani. Menjelang mencapai puncak dia mengeluh sesak. Ia lalu tidak meneruskan pendakian dan dibawa turun oleh teman-teman nya. Satu jam kemudian, ia tetap sesak nafas. Pada pemeriksaan fisis didapatkan tekanan darah 80/50 dan split S2 auskultasi. Pemberian terapi oksigen mengurangi gejala pada pasien. Diagnosis yang paling mungkin adalah :
Emboli paru
Syok karena hipoksia
Hipotensi pulmonal dan hipoksia sistemik
Edema paru akibat vasokonstriksi paru karena hipoksia
Hipertensi pulmonal akibat vasokonstriksi paru karena hipoksia
Seorang wanita berusia 57 tahun yang dirawat di bangsal bedah setelah menjalani operasi pengangkatan kanker payudara, tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran, pucat, dan berkeringat. Dilakukan stabilisasi, setelah sadar mengeluh nyeri hebat, lalu dikonsulkan ke penyakit dalam didapatkan tekanan darah 90/60 mmHg, akral dingin, nadi 110x/menit kecil dan cepat, frekuensi nafas 22x/ menit, hepato jugular reflux positif, bunyi jantung P2 mengeras, terdapat right-sided gallop rhytm. Setelah dilakukan stabilisasi awal, pasien sadar tetapi mengeluh dadanya terasa panas dan nyeri hebat. Hasil lab menunjukkan leukosit 12.000/mL, SGOT 60/U, analisa gas darah PaO2 80 mmHg, PaCO2 30 mmHg.Bagaimanakah gambaran radiologi yang paling mungkin untuk menegakkan diagnosa ?
Tidak didapatkan kelainan
Pembesaran arteri pulmonalis desendens, penurunan diafragma bilateral, hiperlusen pada paru
Pembesaran arteri pulmonalis asendens, penurunan diafragma bilateral, densitas dan hiperlusen pada paru
Pembesaran arteri pulmonalis desendens, peningkatan diafragma bilateral, densitas dan hiperlusen pada paru
Pembesaran arteri pulmonalis asendens, peningkatan diafragma bilateral, densitas dan hiperlusen pada paru
Seorang pasien laki-laki 60 tahun dirawat di RS dengan keluhan utama demam, sesak nafas, buang air kecil dan buang air besar dalam batas normal, riwayat penyakit dahulu tidak didapatkan hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, ginjal, paru sebelumnya tidak ada. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran GCS 12, tekanan darah 100/70, nadi 112 x/menit, respirasi 36 x/menit, suhu badan 390C, ronki basah kasar pada kedua paru, pasien dicurigai mengalami ARDS Dasar diagnosis untuk menegakkan diagnosis tersebut adalah:
rontgen toraks infiltrat difus bilateral, pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) < 18 mmHg, PO2/FiO2 < 200mmHg, PO2 < 60%.
rontgen toraks infiltrat difus bilateral, pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) > 18 mmHg, PO2/FiO2 < 200mmHg, PO2 < 60%
rontgen toraks infiltrat difus bilateral, pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) > 18 mmHg, PO2/FiO2 < 300mmHg, PO2 < 60%.
rontgen toraks infiltrat difus bilateral, pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) < 18 mmHg, PO2/FiO2 < 300mmHg, PO2 < 60%
rontgen toraks infiltrat pada basal paru bilateral, pulmonary capillary wedge pressure (PCWP) < 18 mmHg, PO2/FiO2 < 200mmHg, PO2 < 60%
Seorang wanita 45 tahun datang ke klinik karena batuk kronis. Pasien mengatakan batuk yang dimulai pada awal usia dua puluhan yang kadang-kadang disertai dahak produktif berwarna kuning atau kental hijau. Pasien sudah mendapat banyak pengobatan dengan antibiotik, namun hanya perbaikan singkat dan mengurangi gejala. Pasien telah diberitahu bahwa dia memiliki asma, dan satu-satunya obat yang digunakan yaitu flutikason dan albuterol inhaler dosis terukur (MDI). Pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda vital normal dan saturasi oksigen 92%. Paru-paru redup di lobus atas bilateral dan mengi ekspirasi. Tampak clubbing digital ringan. Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal. Uji fungsi paru menunjukkan obstruksi aliran udara. Hasil kultur dahak menunjukkan hasil positif untuk Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Rontgen dada Posteroanterior (PA) dan lateral menunjukkan infiltrat bilateral lobus atas. Manakah dari tes berikut ini yang paling penting sebagai langkah pertama dalam mendiagnosis penyakit yang mendasarinya?
CT scan thorax
Bronkoskopi dengan biopsi transbronkial
Uji klorida keringat dan tes genetik
Sputum BTA
Sputum sitologi
Seorang wanita berusia 37 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan sering berdebar, nyeri kepala, muka terasa panas, disertai penurunan berat badan 2 kg sejak 2 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 150/80 mmHg, Nadi 110x/menit, frekuensi nafas 24x/menit, BMI 22 kg/m2, dan didapatkan pembesaran gondok. Pemeriksaan laboratorium didapatkan Ca 11,2 mg/dL, P 2,1 mg/dL, Mg 1,8 meq/dL, albumin 3,7 g/dL, TSH 3 μIU/mL (N: 0,4-4 μIU/mL), kalsitonin 15 pg/ml (N: 6.8-8.8 pg/ml), testosteron 620 ng/dL (N: 400-1080 ng/dL), paratiroid hormon serum 135 pg/dL (N: 10-70 pg/dL). Pada pemeriksaan guaiac feses didapatkan hasil positif, hasil CT scan abdomen menunjukkan lesi 2 cm pada kelenjar adrenal. Diagnosa yang paling tepat untuk kasus diatas:
MEN type 1
MEN type 2a
MEN type 2b
Polyglandular autoimmune syndrome
Von–Hippel Lindau (VHL) syndrome
Seorang perempuan berusia 59 tahun, diantar oleh anaknya ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan sering mengalami keringat dingin, lemas dan gemetar yang membaik setelah minum segelas teh manis. Keluhan tersebut menjadi lebih sering dialami dalam 2 minggu terakhir. Pasien telah menderita diabetes mellitus sejak 20 tahun disertai retinopati diabetik dan nefropati diabetik. Pasien tinggal seorang diri karena anak tinggal diluar kota. Pasien mengkonsumsi sulfonilurea, ACE inhibitor, ASA, statin dan nitrat yang dibeli sendiri tanpa kontrol ke dokter. Glukosa darah sewaktu saat ini 66 mg/dL; kreatinin 2,8 mg/dL. Setelah sulfonilurea dihentikan kadar glukosa darah menjadi 250 mg/dL.Pilihan terapi terbaik sebagai kombinasi untuk pasien ini adalah :
Insulin basal
Glibenklamid
DPP-4 inhibitor
Tiazolidinedion
Insulin basal bolus
Seorang perempuan 30 tahun ditabrak oleh mobil dengan kecepatan 80 km/jam. Pasien dibawa oleh keluarganya ke instalasi gawat darurat (IGD) dengan keluhan luka robek sekitar 5 cm pada dahi sebelah kanan setelah mengalami kecelakaan sepeda motor. Pasien berada dalam kondisi sadar dan tidak mengalami disorientasi. Oleh dokter bedah pasien dilakukan rawat luka, pasien dimonitor selama 6 jam dan kemudian dipulangkan. Pasien kembali ke IGD setelah 36 jam kemudian dengan keluhan lehernya terasa sakit, pusing, rasa haus dan buang air kecil yang berlebihan. Pasien mengeluhkan BAK sekitar 12 liter/24 jam. Pada pemeriksaan fisik TD 120/80 mmHg, Nadi 123 x/menit, RR 18 x/menit, Sh 36.8C. Pada hasil pemeriksaan laboratorium Hb 15.8 g/dL, leukosit 8.200/mm3, trombosit 320.000/mm3, Ht 43%, Na serum 168 mEq/L, K serum 6.0 mEq/L, GDS 110 mg/dL, Ur 30 mg/dL, Cr 1.4 mg/dL, osmolaritas serum 395 mOsm/kg, osmolaritas urine 250 mOsm/kg. Anda sebagai seorang dokter penyakit dalam akan mendiangnosis pasien sebagai :
Cerebral Salt Wasting Syndrome
Hypernatremia akut
Syndrome of Inappropriate Antidiuretic hormone
Diabetes Insipidus
Diuresis osmotik
Seorang perempuan berusia 30 tahun dirujuk oleh dokter kebidanan dengan G2P1A0. Sejak 1 tahun yang lalu,pasien sudah didiagnosis hipertiroid dan sedang menjalani pengobatan dengan Metimazole. Lalu saat ini kehamilan pasien masuk trimester 3. Saat ini tidak ada gejala hipertiroid. Pemeriksaan penunjang yang anda perlukan untuk mengevaluasi respons pengobatan hipertiroid selama masa kehamilan tersebut adalah:
Kadar T3
Kadar FT4
Kadar T4 total
Kadar tiroglobulin
Kadar TSH
