wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

SOAL UAS DISARTRIA DEWASA 20192

Total questions: 60

Worksheet time: 2hrs 0mins

Name
Class
Date
1.
Salah satu sasaran pemeriksaan terhadap seseorang yang diduga menderita disartria atau apraksia verbal adalah mengumpulkan data untuk dapat:
a)
Membuat diagnosis differensial disartria apa
b)
Menyusun rencana penanganan
c)
Menentukan tujuan penanganan
d)
Menentukan gradasi gangguannya
2.
Satu jenis pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu untuk mengukur atau menilai gerakan-gerakan organ bicara:
a)
Objektif tes
b)
Subjektif tes
c)
Informal tes
d)
Observasi
3.
Untuk memastikan apakah gangguan bicara yang terjadi yang ditemukan dari berbagai pemeriksaan adalah hasil pemeriksaan:
a)
Fungsi organ artikulasi
b)
Kemampuan pernapasan
c)
Kemampuan umpan balik pendengaran
d)
Fungsi kelima syaraf untuk bicara
4.
Salah satu acuan penyusunan TEDYVA adalah literatur tentang Disartria yang ditulis oleh:
a)
M.F. Berry, dkk.
b)
Charles Van Riper, dkk.
c)
Reni I.I. Dharmaperwira – Prins.
d)
Darley, dkk.
5.
Gradasi gangguan yang digunakan dalam skoring TEDYVA adalah:
a)
3 digit
b)
4 digit
c)
5 digit
d)
6 digit
6.
Salah satu bagian atau aspek yang perlu diobservasi yakni:
a)
Bagaimana cara berjalan dan sikap duduk
b)
Bertanya: “apakah klien mengalami kesulitan bicara?”
c)
Bertanya: “apakah klien mengerti pertanyaan yang diajukan?”
d)
Bertanya: “apakah klien merasa cepat lelah?”
7.
Dari rekaman hasil anamnesis dapat juga digunakan untuk menilai bicara spontan klien mengenai kejelasan bicara, kecepatan bicara, bicara dan prosodi. Penilaian apakah lemas, tegang, atau putus-putus untuk menentukan aspek ini:
a)
Kejelasan bicara
b)
Bicara
c)
Kecepatan bicara
d)
Prosodi
8.
Perubahan yang memburuk pada saat tes membaca bersuara dapat mengindikasikan jenis disartria dengan penyebab penyakit ini:
a)
Myasthenia gravis
b)
Poliomyelities
c)
Stroke
d)
Encephalities
9.
Tes pernapasan sewaktu meniup dengan cara klien diminta untuk menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan nafas melalui mulut sepelan mungkin sambil membunyikan konsonan frikatif /f/ atau /s/. Ukuran normal sewaktu mengeluarkan nafas adalah:
a)
3 detik dan merata
b)
5 detik dan merata
c)
10 detik dan merata
d)
15 detik dan merata
10.
Tes pernafasan selama menghitung dilakukan dengan cara klien diminta untuk menghitung 1 sampai 15 dengan cepat dalam satu kali tarikan dan hembusan nafas. Yang perlu dihitung dan dicatat dalam tes ini adalah:
a)
Dalam satu kali tarikan nafas dapat menghitung sampai berapa (berapa suku kata?)
b)
Saat menghitung 1 sampai 15 berapa kali tarikan nafas
c)
a dan b dibenarkan (boleh)
d)
b saja yang benar
11.
Ada 6 kemungkinan penyimpangan pernafasan yang perlu diobservasi selama bernafas untuk bicara dan istirahat. Salah satu pernafasan yang tidak normal yaitu:
a)
Pernafasan perut
b)
Pernafasan diafragma
c)
Pernafasan klavikuler
d)
Pernafasan dada
12.
Pemeriksaan gangguan fonasi secara anatomis maupun fisiologis sebaiknya dilakukan oleh ahli berikut ini:
a)
Neurolog
b)
Rehabmedik
c)
Foniatri/THT
d)
Gigi dan mulut
13.
Tes jangka waktu maksimal berfonasi ditentukan dengan cara klien diminta untuk:
a)
Mengucapkan /a/ selama mungkin
b)
Mengucapkan konsonan nasal selama mungkin
c)
Mengucapkan konsonan bersuara
d)
Menggumam
14.
Tes pencapaian suara dilakukan dengan cara klien diminta melakukan “pitch range” yang dinilai adalah:
a)
Apakah perbedaan nadanya benar
b)
Apakah panjang masing-masing nada sama
c)
Berapa jumlah nada dapat dibuat
d)
a, b, dan c benar
15.
Pada saat tes fonasi hal lain yang perlu diperhatikan atau dinilai antara lain adalah apakah suaranya serak, suaranya bergetar, saat-saat tertentu tanpa suara. Sesungguhnya dalam hal ini kita melakukan pemeriksaan:
a)
Kemampuan nada
b)
Kemampuan kenyaringan
c)
Kualitas resonansi
d)
Kualitas glottal tone/vokal track
16.
Pada pemeriksaan gangguan artikulasi dilakukan dengan dua kegiatan yakni tes:
a)
Diadoko-kinesia dan meniru ucapan
b)
Diadoko-kinesia dan membaca kata-kata
c)
Meniru ucapan dan membaca kata-kata
d)
Meniru ucapan saja
17.
Tes Diadoko-kinesia dilakukan dengan cara klien diminta untuk mengucapkan pa-ta-ka secepat mungkin. Ukuran normal mengucapkan pataka dalam 5 detik:
a)
7x
b)
8x
c)
12x
d)
10x
18.
Tes gangguan prosodi dimaksudkan untuk menilai penggunaan tiga jenis aksen. Di bawah ini tidak termasuk tiga jenis aksen dimaksud:
a)
Istirahat
b)
Logat
c)
Melodis
d)
Dinamis
19.
Dalam pelaksanaan tes prosodi ini yang klien diminta untuk membaca kalimat yang mengandung 9 aksen. Prosodi dikatakan terganggu sedang apabila:
a)
Mampu menggunakan 9 aksen
b)
Mampu menggunakan 1 s.d. 3 aksen
c)
Mampu menggunakan 4 s.d. 6 aksen
d)
Mapu menggunakan 7 s.d. 8 aksen
20.
Pemeriksaan saraf otak yang berhubungan disartria versi Reni Dharmaperwira menyangkut 5 saraf. Di bawah ini tidak termasuk 5 saraf dimaksud:
a)
N. glossofaringeus
b)
N. hipoglossus
c)
N. hyoglossus
d)
N. vagus
21.
Salah satu nama otot rahang yang dipersarafi oleh N. Trigeminus adalah:
a)
M. maseter
b)
M. mentalis
c)
M. orbicularis-oris
d)
M. chondro-glossus
22.
Jika terjadi gangguan pada otot pterigoideus maka klien terutama akan mengalami kesulitan untuk melakukan gerakan ini:
a)
Membuka mulut
b)
Menurunkan rahang
c)
Artikulasi yang cepat
d)
Menaikkan ujung lidah
23.
Untuk pemeriksaan fungsi N. Fasialis dilakukan dengan:
a)
Observasi
b)
Tes
c)
Observasi dan tes
d)
Salah semua
24.
Paresis N. Fasialis unilateral akan mengakibatkan:
a)
Kendor dan keluar liur pada sisi yang lumpuh
b)
Kendor dan keluar liur pada sisi yang normal
c)
Kendor pada sisi yang lumpuh
d)
Keluar liur pada sisi yang lumpuh
25.
Pada tes tertawa lebar klien hanya mengangkat sudut kanan mulut, hal ini berarti ada kelumpuhan unilateral:
a)
Sisi kanan
b)
Sisi kiri
c)
Dua sisi bawah
d)
Sisi atas
26.
Tes menggembungkan pipi mungkin gagal dilakukan oleh klien. Kegagalan dalam melakukan/menggembungkan pipi dapat disebabkan oleh:
a)
Kelumpuhan otot-otot velum
b)
Kelumpuhan otot orbicularis-oris
c)
Kelumpuhan otot velum dan orbicularis-oris
d)
Kelumpuhan otot mentalis
27.
Ukuran normal untuk membuat mulut bundar dan lebar dengan mengucapkan U-E selama 15 detik:
a)
6x gerakan
b)
7x gerakan
c)
8x gerakan
d)
10x gerakan
28.
Jika klien terjadi kerusakan N.9 dengan paresis bilateral, klien akan mengalami disfagia yang parah terutama kesulitan menelan:
a)
Bahan padat
b)
Bahan cair
c)
Bahan setengah padat
d)
Bahan setengah cair
29.
Dampak lain yang mungkin terjadi akibat paresis N. glossofaringeus adalah:
a)
Kendor pada satu sisi
b)
Keluar air liur
c)
Mulut kering
d)
Stridor
30.
Pada pemeriksaan N. Vagus, ternyata terjadi paresis di kedua sisi. Akibat dari paresis tersebut, maka bicara klien akan terjadi:
a)
Hipernasal
b)
Hiponasal
c)
Denasal
d)
Serak
31.
Salah satu dampak lain dari paresis bilateral N. Vagus adalah:
a)
Sesak nafas
b)
Disfagia ringan
c)
Hipo-nasal
d)
Refleks muntah
32.
Yang perlu diperhatikan pada saat mengobservasi kondisi lidah selama 30 detik atau lebih antara lain apakah terjadi atrofi atau tidak. Yang dimaksud atrofi adalah:
a)
Pengecilan lidah secara anatomis
b)
Getaran yang terjadi pada lidah
c)
Pengecilan lidah setelah mengalami paresis
d)
Gerenyit/kedutan pada lidah
33.
Tes menjulurkan lidah sebagai salah satu pemeriksaan fungsi saraf XII dapat dikatakan normal apabila:
a)
Mampu menjulurkan lidah 3x maksimal 6 detik
b)
Mampu menjulurkan lidah 3x maksimal 7 detik
c)
Mampu menjulurkan lidah 3x maksimal 9 detik
d)
Mampu menjulurkan lidah 3x maksimal 12 detik
34.
Tes pergerakan lidah yang lain yang tidak dilakukan dalam tes TEDYVA adalah:
a)
Menjulurkan lidah
b)
Menggerakkan lidah ke samping
c)
Mengangkat/menurunkan ujung lidah
d)
Mengangkat belakang lidah
35.
Salah satu karakteristik atau ciri untuk menentukan diagnosis disartria atau bukan yakni:
a)
Kesalahan artikulasinya inkonsisten
b)
Tidak terdapat gangguan komponen fungsional yang lainnya
c)
Bicara otomatis dan sengaja sama buruknya
d)
Bicara spontan dan sadar berbeda
36.
Dari ciri-ciri gangguan bicara, setiap sindrom disartria memiliki ciri-ciri yang berbeda dari gangguan yang paling nyata sampai dengan yang kurang nyata. Namun ada suatu kelainan bicara yang kurang nampak justru menjadi ciri terpenting karena kelainan itu hanya dimiliki oleh Disartria tertentu. Pengambilan/menarik nafas berbunyi merupakan ciri bicara yang hanya dimiliki oleh Disartria ini:
a)
Disartria spastik
b)
Disartria hiperkinetik
c)
Disartria bulber
d)
Disartria hipokinetik
37.
Untuk menentukan diagnosis Disartria yang mana ditentukan berdasarkan hal berikut:
a)
Kombinasi spesifik gangguannya
b)
Melihat skor setiap ciri bicaranya
c)
Gangguan lain yang menyertainya
d)
Hasil pemeriksaan fungsi syarafnya
38.
Klien Disartria ini memiliki ciri bicara ekolalia dan koprolalia:
a)
Disartria spastik
b)
Disartria hiperkinetik
c)
Disartria bulber
d)
Disartria hipokinetik
39.
Tujuan terapi terhadap klien disartria dan apraksia verbal adalah:
a)
Optimalisasi cara komunikasi antara klien dengan lingkungannya
b)
Agar klien dapat berkomunikasi secara maksimal dengan lingkungannya
c)
Agar klien dapat berbicara dengan baik dan benar
d)
Agar klien dpat berkomunikasi dengan baik dan benar
40.
Jenis penyakit dan macam cedera sangat menentukan prognosis atau kemungkinan pemulihan. Ada 3 jenis yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan prognosis yakni Progresif, Stationer, dan Reversible. Progresif yang berarti:
a)
Gangguannya makin lama makin parah
b)
Tujuan penanganan hanya untuk memperlambat proses pemburukan
c)
Gangguannya dapat dipulihkan
d)
a & b benar
41.
Jenis penyakit dan macam cedera sangat menentukan prognosis atau kemungkinan pemulihan. Ada 3 jenis yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan prognosis yakni Progresif, Stationer, dan Reversible. Stationer berarti:
a)
Tidak akan pulih kembali
b)
Cederanya tidak makin meluas
c)
Cederanya tidak makin meluas dan tidak akan pulih kembali
d)
Cederanya makin meluas dan tidak akan pulih kembali
42.
Jenis penyakit dan macam cedera sangat menentukan prognosis atau kemungkinan pemulihan. Ada 3 jenis yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan prognosis yakni Progresif, Stationer, dan Reversible. Reversible berarti:
a)
Baik cedera sebagian atau seluruhnya dapat pulih kembali
b)
Cedera sebagian dapat pulih kembali
c)
Cedera keseluruhan tidak dapat pulih kembali
d)
Cedera keseluruhan dapat pulih kembali
43.
Terapis wicara harus memberikan penerangan dan bimbingan kepada klien dan keluarga atau orang ketiga lainnya:
a)
Keterangan dan bimbingan bukan merupakan bagian dari terapi
b)
Keterangan dan bimbingan merupakan bagian dari terapi
c)
Bimbingan diberikan sebelum keterangan
d)
Keterangan diberikan setelah terapi
44.
Bimbingan yang benar seharusnya dengan cara sebagai berikut:
a)
Memberikan solusi bagaimana berkomunikasi dan memberikan contoh-contohnya
b)
Menjelaskan perbedaan komunikasi sebelum dan sesudah sakit
c)
Menjelaskan bagaimana proses bicara
d)
Menjelaskan bagaimana proses bahasa
45.
Bimbingan kepada klien dilakukan pada:
a)
Awal penanganan
b)
Setiap periode penanganan
c)
Pertengahan penanganan
d)
Saat diperlukan saja
46.
Klien disartria dan apraksia verbal sangat mungkin memiliki gangguan lain selain bicaranya yang juga perlu ditangani. Jika ternyata klien sulit menerima keadaanya maka Terapis Wicara perlu merujuk ke:
a)
Neurolog
b)
THT
c)
Psikolog
d)
Social worker
47.
Jika klien mengalami kelumpuhan dan memerlukan latihan maka dirujuk ke:
a)
Neurolog
b)
Ergoterapis
c)
Psikiatris
d)
Fisioterapis
48.
Di bawah ini beberapa saran-saran umum untuk berkomunikasi dengan klien kecuali:
a)
Cari tempat yang tenang/tidak bising
b)
Bicaralah secara “face to face”
c)
Sebaiknya jangan bicara jujur jika pembicaraan klien tidak dapat dimengerti, karena jika jujur akan menyedihkan klien
d)
Jika pembicaraan klien tidak seluruhnya dapat dimengerti, mintalah kepastian atau minta diulangi
49.
Penanganan sedini mungkin diperlukan bagi klien yang jenis penyakit atau cederanya bersifat:
a)
Reversible
b)
Stationer
c)
Progresif
d)
a, b, dan c benar
50.
Penanganan atau perbaikan sikap duduk terhadap klien disartria sangat penting karena:
a)
Sikap duduk yang benar berpengaruh positif terhadap kejelasan bicaranya
b)
Sikap duduk tidak akan berpengaruh terhadap bicaranya
c)
Duduk dengan kepala menunduk berpengaruh positif terhadap bicaranya
d)
Hanya dengan duduk bersandar di kursi yang berpengaruh positif terhadap bicaranya
51.
Melatih penghembusan nafas yang teratur dengan menggunakan alat bantu sangat baik, karena klien terbantu dengan umpan balik visual. Salah satu nama alatnya adalah:
a)
Oskiloskop
b)
Fluoroskop
c)
Stetoskop
d)
Laringoskop
52.
Untuk melatih kekerasan/kenyaringan suara dengan cara:
a)
Klien diminta untuk berbicara sebagaimana yang biasanya dilakukan sehari-hari sebelum ia sakit
b)
Berbicara lebih cepat dari kebiasaan sehari-hari sebelum ia sakit
c)
Berbicara lebih lambat dari kebiasaan sehari-hari
d)
Berbicara lebih keras dari kebiasaan sehari-hari
53.
Penanganan gangguan artikulasi secara umum salah satunya adalah melatih pengucapan suku kata atau kata daripada pengucapan bunyi atau fonem secara terpisah. Salah satu alasannya adalah:
a)
Pengucapan suku kata atau kata lebih mudah daripada pengucapan bunyi
b)
Berbicara tidak mengucapkan satuan bunyi tetapi mengucapkan suku kata atau kata
c)
Berbicara dengan suku kata atau kata tidak menggunakan prosodi
d)
Unsur prosodi hanya muncul pada pengujaran satuan bunyi
54.
Salah satu metode untuk melatih fonem dengan berbagai macam cara terutama untuk klien yang mengalami kesulitan menempatkan fonem secara tepat:
a)
Stimulasi integral
b)
Stimulus approach
c)
Sensori motor approach
d)
Phonetic placement approach
55.
Gangguan yang paling menonjol pada disartria bulber adalah adanya hipernasalitas. Melatih atau mencegah hipernasalitas merupakan hal yang sulit bahkan kadang tidak mencapai hasil yang optimal. Dampak lainnya adalah panjang kalimat, sikap, pernafasan dan fonasi. Dalam hal ini klien perlu membiasakan:
a)
Menggunakan kalimat yang lebih pendek dari kebiasaan sebelumnya
b)
Menggunakan kalimat sebagaimana kebiasaan sebelumnya
c)
Menggunakan kalimat sesuai dengan kemampuan orang normal
d)
Menggunakan kalimat yang kompleks
56.
Melatih gerakan-gerakan organ atau melatih fungsi atot-otot artikulasi dengan cara menarik dan menahan gerakan-gerakan tertentu disebut:
a)
Pelf muscle reeducation
b)
Resisten teknik
c)
Pushing teknik
d)
Bobath approach
57.
Penanganan disartria miogen yang disebabkan oleh myasthenia gravis, oleh karena transmisi hubungan mioneural terganggu, maka yang harus dilakukan dan diperhatikan adalah:
a)
Latihan memperkuat otot-otot
b)
Latihan mengurangi ketegangan otot
c)
Mencegah terjadinya kelelahan otot
d)
Berbicaralah seperti kebiasaan semula
58.
Melatih dengan memberikan tekanan pada vokal bagi klien disartria spastik bertujuan untuk:
a)
Menghindari ketegangan otot pada saat pengucapan konsonan
b)
Menghindari melemahnya otot pada saat pengucapan konsonan
c)
Menghindari ketegangan otot pada saat pengucapan vokal tersebut
d)
Menghindari melemahnya otot pada saat pengucapan vokal tersebut
59.
Penanganan disartria campuran yang progresif seringkali peran Terapis Wicara sangat kurang, terutama penanganan langsung. Agar klien dan keluarga dapat menerima kemungkinan terjadinya keparahan gangguannya maka perlu dukungan:
a)
Neurolog
b)
Psikososial
c)
Rehabmedik
d)
Fisioterapis
60.
Bagi klien apraksia verbal terdapat hierarki kesulitan fonem sebagai berikut (Rozenbek ; 1985): dari termudah, lebih sulit, tersulit:
a)
Vokal à eksplosif, nasal, lateral à frikatif
b)
Frikatif à vokal à eksplosif, lateral, nasal
c)
Vokal à frikatif à eksplosif, nasal, lateral
d)
Eksplosif, nasal, lateral à frikatif à vokal