NEW
Font size
Worksheetscerpen kelas 11
Total questions: 55
Worksheet time: 37mins
Pernyataa di bawah ini yang menunjukkan perbedaan cerpen dan novel adalah ….
Novel tidak ada konflik sedangkan cerpen ada konflik
Novel tidak berbentuk prosa sedangkan cerpen berbentuk prosa
Novel bercerita tentang seorang tokoh sedang cerpen bercerita tentang pengalaman hidup
Cerpen bercerita tidak sampai menimbulkan perubahan nasib, sementara novel sebaliknya
Cerpen dan novel masing-masing mempunyai tema
Salah satu unsur Ekstrinsik cerpen adalah
Gaya penyampaian cerita
Penokohan
Latar Budaya Pengarang
Tanggapan pembaca
Tampilan ilustrasi cerpen
Struktur teks cerpen adalah
Orientasi - insiden - interpretasi
Orientasi - komplikasi - resolusi - koda
Abstrak - orientasi - komplikasi - evaluasi - resolusi - koda
Abstrak - orientasi - komplikasi - resolusi - interpretasi
koda-orientasi-komplikasi-resolusi-abstrak
Perpaduan antara unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita disebut dengan ...
alur
latar
tokoh
sudut pandang
amanat
Struktur yang berisi pengenalan latar cerita berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen terdapat dalam ....
abstrak
orientasi
komplikasi
deskripsi umum
koda
Resolusi pada teks cerpen adalah tahapan di mana ...
pengarang menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca
berbagai kerumitan bermunculan
konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi
nilai-nilai atau pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca
konflik mencapai sebuah selesaian atau lerai
"Oo, kau marah, Pak Tua? Ah, sudah tua suka marah-marah!"
"Huss! Apakah kau anggap aku ini pak tuamu? Aku bukan kangmasmu! bentak kakek-kakek itu lagi.
"Oo, iya! Tentunya aku harus memanggilmu mbah, ya! Aku lupa, sungguh.
Tapi sebetulnya awal tadi telah aku ingatkan jika aku bersalah. Siapa wajib dingatkan. Jika tidak demikian? Coba gambarkan, betapa banyak kesalahan yang akan kuperbuat selanjutnya. Bersalah Kakek itu tertunduk. Wajahnya berubah terang. Lalu bicara dengan suara yang tak berdaya. "Betulkah bicaramu? Aku sudah tampak sangat tua?"
"Mengapa?"
"Pantas kau panggil mbah?"
"Hi-hi-hi! Pertanyaanmu itu! Kau sekarang kentara sekali merasa sedih!
Mengapa? Apakah karena umurmu yang lanjut, apa karena tidak tahu bahwa kau sudah tua?"
"Jangan bersenda gurau, Kenes, aku betul-betul bertanya!"
Konflik yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah….
kecemasan tokoh kakek akan ketuaan usianya
ketidakcocokan penggunaan kata sapaan dengan realitas
panggilan yang disampaikan kepada kakek dengan kata mbah dan mas
kakek dan Kenes memperebutkan sapaan mbah dan mas
tokoh Kenes menentukan usia seseorang, sudah tua ataukah masih muda
kakek dan Kenes memperebutkan sapaan mbah dan mas
tokoh Kenes menentukan usia seseorang, sudah tua ataukah masih muda
Bacalah cuplikan cerita berikut
"Ya, mau bayar berapa saja, Mas," ucapnya. di tikungan terakhir menuju kampungku.
"Lebih enak jalan kaki," jawabku terengah-engah. Aku merasa menang
Aneh, dia seperti tak hendak menghentikan becaknya. Mungkin dia sedang menguji mentalku, atau malah menyesali perbuatannya? Peduli amat, apakah dia terus membuntuti aku atau tidak, sejauh ia masih mengayuh becak di jalan yang layak dilewatinya.
Begitu memasuki gapura kampung, tangan kiriku kutarik dari saku celana. Dua keping logam ratusan rupiah terloncat dan menggelinding masuk selokan Ah, biarin.
Aku menoleh ke tukang becak yang berhenti tepat di depan gapura kampong la turun dan berdiri di sana sambil tetap memegangi kemudi becak. Sambil berjalan aku menoleh kembali, dia tetap diam bagaikan sebuah monumen. Sesampai di rumah aku ceritakan pengalamanku pada Ibu. Lama ibuku terdiam dan menatapku dan kemudian berkata, "Rasanya kamu perlu mencoba jadi tukang becak.
Nilai-nilai kehidupan yang tersirat dalam penggalan cerpen di atas adalah....
kita harus memilih-milih tukang becak
kita harus memahami keadaan tukang becak
kita harus pandai menawar ongkos becak
jangan memberi hati kepada tukang becak
sebaiknya tukang becak harus tahu diri
Aneh, dia seperti tak hendak menghentikan becaknya. Mungkin dia sedang menguji mentalku, atau malah menyesali perbuatannya? Peduli amat, apakah dia terus membuntuti aku atau tidak, sejauh ia masih mengayuh becak di jalan yang layak dilewatinya.
Begitu memasuki gapura kampung, tangan kiriku kutarik dari saku celana. Dua keping logam ratusan rupiah terloncat dan menggelinding masuk selokan Ah, biarin.
Aku menoleh ke tukang becak yang berhenti tepat di depan gapura kampong la turun dan berdiri di sana sambil tetap memegangi kemudi becak. Sambil berjalan aku menoleh kembali, dia tetap diam bagaikan sebuah monumen. Sesampai di rumah aku ceritakan pengalamanku pada Ibu. Lama ibuku terdiam dan menatapku dan kemudian berkata, "Rasanya kamu perlu mencoba jadi tukang becak.
Tokoh aku berwatak….....
individualis
angkuh
mandiri
percaya diri
egois
Aku masuk ke kantor dan bersalaman dengan seorang laki-laki yang tersenyum-senyum, bernama Pak Bleoncher. Pakaiannya lebih rapi ketimbang pakaianku. Selanjutnya, ia membuka-buka tumpukan kertas, seperti menata kere serambi.
Aku yakin Anda akan puas dengannya," katanya. "Dia telah kami pilih sesuai dengan persyaratan komputer. Tidak ada yang melebihi dari seratus sepuluh orang yang memenuhi syarat di Amerika. Kami memilah tidak berdasarkan suku, agama, etnis, ataupun latar belakang regional."
Nilai-nilai kehidupan yang terkandung pada penggalan cerita terjamahan di atas adalah….
ketaatan
keramah-tamahan
kedisiplinan
ketekunan
kesetiaan
Bacalah cuplikan cerita berikut!
Melihat Kardi kepayahan, lelaki di geladak itu, Salim, dengan tangkas meloncat ke arah Kardi dan mengambil alih keranjang-keranjang yang dibawanya. Setumpuk keranjang yang kokoh itu memang terasa berat karena basah. Sampai di dinding perahu tubuh Kardi sudah hampir lunglai. Salim melemparkan tumpukan keranjang itu ke geladak lalu dengan kedua tangannya yang kekar dia mengangkat tubuhnya dan meloncat ke geladak. Kardi sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya sendiri
kembali membantunya, menarik tangan Kardi sampai berhasil naik ke geladak
Pengalaman sehari-hari yang berkaitan dengan cuplikan cerpen tersebut adalah...
waktu ketika melaut bersama sahabat
kehidupan di laut lepas
fungsi keranjang bagi seorang nelayan
suka duka menjadi seorang nelayan
pershabatan dua anak manusia
Bacalah cuplikan cerita berikut!
Melihat Kardi kepayahan, lelaki digeladak itu, Salim, dengan tangkas meloncat ke arah Kardi dan mengambil alih keranjang-keranjang yang dibawanya. Setumpuk keranjang yang kokoh itu memang terasa berat karena basah. Sampai di dinding perahu tubuh Kardi sudah hampir lunglai. Salim melemparkan tumpukan keranjang itu ke geladak lalu dengan kedua tangannya yang kekar dia mengangkat tubuhnya dan meloncat ke geladak. Kardi sudah tidak kuat mengangkat tubuhnya sendiri
kembali membantunya, menarik tangan Kardi sampai berhasil naik ke geladak
Gaya bercerita di dalam cuplikan tersebut menggunakan sudut pandang….
orang pertama pelaku utama
orang pertama pelaku sampingan
orang kedua pelaku utama
orang ketiga serbatahu
orang ketiga pengamat
Aku tak bisa diam, setengah tahun aku ditempatkan di sekolah ini pengelolaan BK aku ubah secara mendasar. Mulai administrasi, cara penanganan siswa, termasuk ruang konsultasi siswa. Namun, langkahku membuat lukman terusik, terutama dalam kasus Diah telah banyak menerima penderitaan, anakitu perlu bimbingan dan kasih sayang bukan penghakiman.
Berdasarkan kutipan tersebut, tema cerpen termasuk masalah adalah ….
kemanusiaan
masalah pendidikan
kehidupan sosial
permasalahan ekonomi
kemiskinan
Aku tak bisa diam, setengah tahun aku ditempatkan di sekolah ini pengelolaan BK aku ubah secara mendasar. Mulai administrasi, cara penanganan siswa, termasuk ruang konsultasi siswa. Namun, langkahku membuat lukman terusik, terutama dalam kasus Diah telah banyak menerima penderitaan, anakitu perlu bimbingan dan kasih sayang bukan penghakiman.
Cara pengarang penyampaian tema cerpen adalah ….
melalui kisah hidup tokoh
narasi langsung oleh pengarang
melalui dialog
pendapat tokoh dalam cerita
melalui prolog
salah satu ciri alur cerpen yang baik adalah ….
a. memuat banyak konflik sehingga cerpen menjadi menari untuk dibaca
b. berkembang sesuai dengan cerita utama agar penceritaan tidak melebar ke hal yang tidak penting
c. alur mengalir secara dramatik memuat masalah yang dibahas dari awal hingga akhir cerita secara konsisten
d. harus memuat masalah kemanusiaan, yang berupa masalah ekonomi, politik, sosial, dan budaya
e. memuat kehidupan masa lampau sebagai bagian pembelajaran bagi pembaca agar mengambil hikmah di dalamnya
Pada tahapan yang penulis mulai memperkenalkan masalah yang akan dihadapi oleh tokoh utamanya disebut alur dalam tahapan ….
a. perkenalan
b. pemunculan masalah
c. menuju konflik
d. ketegangan
e. penyelesaian
Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.
Sifat tokoh Larasati berdasarkan kutipan di atas adalah …
a. sabar dan penyayang
b. angkuh dan disiplin
c. tegas dan pemberani
d. penuh perhatiaan dan tegas
e. angkuh dan pemberani
Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.
Karakter tokoh pak Usman dalam kutipan cerpen tersebut memiliki sifat ….
a. pendendam
b. keras kepala dan mudah marah
c. tidak bisa membedakan urusan dinas dan pribadi
d. ingin menang sendiri
e. pemurah
Setibanya Pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, Larasati segera memulai pembicaraan. “Sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan mengapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaa, bukan kedinasan” “Maksud ibu apa? Saya khawatir, keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatian terhadap Diah. Dia anak yang lemah Pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.
Kedudukan tokoh pak Usman dan Larasati dalam kutipan cerpen di atas adalah ….
a. tokoh antagonis, tokoh penengah
b. tokoh protagonis, tokoh penengah
c. tokoh antagonis, tokoh protagonis
d. tokoh protagonis, tokoh protagonis
e. tokoh antagonis, tokoh antagonis
“Hanya itu alasan Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko?” Bibir Anisa menyinggung sinis. “Oh, alangkah piciknya pikiran Mama! Lalu apa artinya kemuliaan hati Mama selama ini yang Anisa kagumi? Padahal dulu Mama tidak pernah mempermasalahkan status Handoko yang ternyata belum mempunyai pekerjaan tetap. Demikian kakakku yang selama ini mendukungku sekarang berbalik arah.
Penyebab konflik pada kutipan cerpen di atas adalah …
Status Handoko yang sudah mempunyai istri.
Mama yang menginginkan menantu orang kaya.
Handoko yang belum mempunyai pekerjaan tetap
Mama yang mempersalahkan masa lalu Handoko.
Mama melarang Anisa menikah dengan Handoko.
Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorong ku untuk merambah dunia kerja disamping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu. Lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Tokoh aku dalam penggalan cerpen di atas adalah …
Ica
Bunda
Nanda
Seorang Siswa
Seorang penjual kios
Ketika tubuhnya digerogoti penyakit dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskim pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong.”begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya,”dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.
Permasalahan pada kutipan cerpen di atas adalah …
Tubuhnya digerogoti penyakit
Buruknya pelayanan rumah sakit
Susahnya menjadi orang miskin
Banyak bangsal yang kosong
Tidak mendapat fasilitas gratis
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan tersebut adalah …
orang pertama pelaku utama
orang ketiga pelaku sampingan
orang ketiga pelaku utama
orang pertama dan ketiga
orang ketiga serbatahu
Tatkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Aku pun bertambah lama bertambah percaya pula pada diriku bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang terus berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. “Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K.
Amanat dalam penggalan cerpen tersebut adalah …
Jangan cepat menyerah pada keadaan bagaimanapun juga.
Jangan membuang waktu selagi masih ada waktu.
Sebaiknya kita menyesuaikan diri dengan keadaan.
Jangan lupa diri bila menguasai bahasa orang.
Jangan mudah dipengaruhi oleh orang lain.
1. Kompilkasi
4. Klimaks
2. Orientasi
3. Resolusi
Urut-urutan struktur teks cerpen yang benar adalah…
1/4/2/3
3/2/4/1
2/4/1/3
2/1/4/3
1/2/3/4
Pelajaran mengarang sudah dimulai.
Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”.
Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Bagian struktur teks cerpen di atas adalah …
Orientasi
Koda
Resolus
Komplikasi
Klimaks
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun.
Pernyataan yang sesuai dengan teks cerpen di atas adalah …
Banun menobatkan diri sebagai orang kikir
Predikat Banun Kikir didasari kedengkian
Banun tidak pernah tahu rekor kikir itu
Banun tidaklah kikir tetapi hemat
Tidak ada yang pernah bertanya tentang Banun
Bila ada yang bertanya , siapa makhluk paling kikir di kampung itu, tidak akan ada yang menyanggah bahwa perempuan ringkih yang punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa itulah jawabannya. Semula ia hanya dipanggil Banun. Namun, lantaran sifat kikirnya dari tahun ke tahun semakin mengakar; pada sebuah pergunjingan yang penuh kedengkian, seseorang menambahkan kata kikir di belakang nama ringkas itu, hingga ia ternobat sebagai Banun Kikir. Konon, hingga riwayat ini disiarkan, belum ada yang sanggup menumbangkan rekor kekikiran Banun
Berdasar penggalan teks cerpen di atas, Banun adalah …
Gadis muda belia
Nenek tua
Lelaki Muda
Kakek tua
Remaja
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Sosial
Agama
Politik
Ekonomi
Budaya
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Menakutkan
Mengenaskan
Mengharukan
Menegangkan
Membingungkan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Watak tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mudah mengalah
Mudah menangis
Mudah pasrah
Mudah putus asa
Mudah menyerah
Setibanya pak Usman di restoran kecil sepulang dari sekolah, larasati segera memulai pembicaraan.
“sebelum membicarakan soal Diah, saya perlu menjelaskan menggapa saya tidak mau membicarakan hal ini di sekolah karena saya ingin saya bicarakan adalah masalah yang harus diselesaikan dengan kacamata kemanusiaan, bukan kedinasan”,
“maksud ibu apa?”
“saya khawatir , keinginan bapak untuk menghabisi Diah itu karena kebencian bapak terhadap saya. Selama ini orang kan tahu saya sangat perhatin terhadap diah. Dia anak yang lemah pak, sudah mengalami berbagai cobaan hidup, sering murung karena menerima beban yang terlalu banyak dalam hidupnya.”
Sifat tokoh larasati berdasarklan kutipan di atas adalah?
sabar dan penyayang
angkuh dan disiplin
tegas dan pemberani
penuh perhatian dan tegas
penakut
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Sudut pandang yang digunakan dalam penggalan cerpen di atas adalah ….
orang pertama sebagai tokoh utama
orang pertama sebagai tokoh sampingan
orang pertama dan ketiga
orang ketiga serba tahu
orang ketiga terbatas
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Jenis alur dalam kutipan cerpen di atas adalah …
alur maju
Alur sorot Balik
Alur Ganda
alur Linier
Alur Ganda dan Maju
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Watak tokoh aku yang penakut, dalam kutipan cerpen di atas disampaikan melalui ….
Dialog Antar Tokoh
Komentar Tokoh
Tindakan Tokoh
Pikiran Tokoh
Penjelasan Pengarah
Pikiranku langsung terlempar dalam kenangan saat aku kelas enam SD waktu mencium bau obat yang menyengat dalam ruangan ini. Suatu hari sepulang sekolah aku langsung menuju ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit umum karena sakit perut yang membuatku tidak bisa berjalan, hanya bisa mengerang.Semula aku masih bisa menahan rasa takut berada di sekeliling orang yang terbaring di atas kasur tipis beralaskan seprai putih, sampai tiba-tiba segerombolan perawat berpakaian putih mendorong dengan cepat sebuah kasur beroda dan dihentikannya tepat di sebelah kasurku. Di atasnya terbaring pria botak berlumur darah. Dia tidak bergerak sama sekali. Mulutnya menganga, mata terpejam menghadapku. Kata orang yang mengantar, orang di sebelahku ini kecelakaan sepeda motor. (Benjolan, karya Harry Pratama)
Permasalahan yang diangkat dalam penggalan cerpen di atas adalah ….
ketakutan tokoh aku menyaksikan korban kecelakaan di rumah sakit
ketakutan tokoh aku disuntik obat bius
tokoh aku sedang menahan sakit perut
korban kecelakaan di rumah sakit
kekuatiran tokoh ketika diperiksa dokter di rumah sakit
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal
"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"
Hal yang menarik dari kutipan cerpen di atas adalah ….
Para penumpang mendengarkan lagu
tokoh aku yang masih menyukai gending Jawa dan selalu membawa kasetnya
tokoh lain yang berteriak meminta tukar lagu
. para tokoh mempermasalahkan lagu-lagu yang didengarkan
. para tokoh menyukai musik
Bacalah kutipan cerpen berikut untuk menjawab soal
"Saya ingin lagu gending Jawa." "Tolong Pak Sopir. Bapak ini tidak suka lagu pop Indonesia, padahal lagu itu kesukaan saya. Dia minta ditukar saja dengan gending Jawa." "Tetapi saya tidak punya kaset gending Jawa," kata sopir "Saya punya. Saya tidak pernah meninggalkan kaset gending Jawa, setiap saya bepergian. Ini kaset lagu kesukaan saya. Gending Jawa." Para penumpang mendengarkan lagu itu. Tetapi beberapa saat saja kemudian, terdengar orang berteriak: "Bolehkah lagu itu ditukar?"
Nilai budaya yang terdapat dalam penggalan cerpen di atas adalah
mencintai lagu pop
naik kendaraan sambil mendengarkan musik
mendengarkan musik bersama-sama
mencintai lagu daerah
mencintai lagu-lagu
Cermati paragraf paragraf berikut untuk menjawab soal
Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita.
Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf.
Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok.
Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
. Amanat yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...
Dengarkan nasihat yang baik dari orang-orang di sekitar kita, termasuk orang tua kita.
Janganlah terlalu mengatur kehidupan dan perekonomian anak yang sudah berkeluarga
Siapa pun tetap akan berdosa apabila melawan kepada suami, apalagi kepada orang tua.
Seorang suami harus membiayai keluarga, setia terhadap istri, dan adil terhadap istrinya.
Orang tua hendaklah mengarahkan sesuatu yang baik kepada anaknya, bukan yang buruk
Cermati paragraf paragraf berikut untuk menjawab soal
Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita.
Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf.
Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok.
Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
Cara pendeskripsian watak si Mbok seorang yang tidak berdaya adalah ….
A. secara langsung
B. dialog antartokoh
pikiran-pikiran tokoh
D. tanggapan tokoh lain
E. lingkungan di sekitar tokoh
Cermati paragraf paragraf berikut untuk menjawab soal
Sementara itu Martini bersiap untuk mendengarkan dengan seksama penuturan ibunya. ”Tiga bulan lalu rumah yang dibuat suamimu atas biaya dari kamu sudah jadi. Letaknya di dusun sebelah sana. Namun, sejak itu pula kesengsem sama seorang wanita.
Wanita itu adalah tetangga barunya. Dua bulan lalu mereka menikah dan meninggalkan Andra bersama si Mbok. Tentu saja si Mbok marah besar kepadanya. Namum, apa daya, si Mbok hanyalah wanita yang sudah renta, sedang ayahmu sudah tiada, dan uang yang si Mbok pegang pun pas-pasan. Mau mengirim surat kepadamu si Mbok tidak bisa, kamu tahukan si Mbok buta huruf.
Mau minta tolong kepada siapa lagi, sedangkan kamu adalah anakku satu-satunya. Kamu tidak mempunyai saudara yang bisa si Mbok mintai tolong untuk mengirimkan surat kepadamu, sedangkan anakmu, Andra masih kelas 1 SD”. Mendengar penuturan ibunya, Martini langsung menangis, ia sedih, marah dan kalut. ”Mengapa si Mbok tidak melaporkannya ke Pak Kadus dan Pak Kades, dan beliau pun sudah berjanji untuk membantu si Mbok.
Namun, sampai saat ini si Mbok belum mendapatkan jawabannya. Sedangkan suamimu sendiri dan istri barunya, tampak tak peduli dengan suara-suara miring para tetangga. Dan untuk lapor ke KUA, si Mbok tidak berpikir sampai ke situ, maafkan si Mbok,” tambah ibunya dengan suara yang terdengar bergetar.
Apa yang membuat Martini sedih terhadap suaminya?
A. Martini merasa marah, kecewa, terhadap sikap suaminya.
B. Rasa dendam Martini terhadap suaminya yang beristri lagi.
C. Rasa jengkel Martini terhadap suaminya yang tidak pulang.
D. Kemarahan suami Martini yang tidak terkendalikan.
E. Perasaan sangat malu Matini atas tingkah laku suaminya.
Unsur pembangun cerpen dari dalam, antara lain sebagai berikut, kecuali ....
tema
amanat
penokohan
nilai kehidupan
Unsur pembangun cerpen yang meliputi tempat, waktu, dan suasana yang tergambar dalam cerita disebut ....
tokoh
latar
alur
sudut pandang
... Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan teks tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Wanita dua puluh limaan, memakai gaun sutera hitam berkerah rendah, tas tangan merah, sepatu hak tinggi warna senada, jam tangan bermerek, serta memakai kacamata hitam turun dari kursi belakang. Lalu berjalan, diikuti pria tinggi besar yang memayunginya, menghampiri Sobri. Wanita itu membuka kacamatanya. Matanya merah, sembab. Kantung bawah matanya menghitam, cembung. Kontras sekali dengan kulit wajahnya yang putih bersih.
(Shofi Al Khansa, "Sampah Bertuah")
Gambaran tokoh wanita dideskripsikan melalui hal berikut, kecuali ....
umur
pakaian
gerak geriknya
perawakannya
Bacalah Penggalan cerpen berikut!
Aku belum mau beranjak pulang, taburan bunga rampai kuyup diterpa air hujan yang mengguyur seluruh jiwa raga kami. Aku belum yakin akan kesiapan diriku sampai di rumah nanti, menyaksikan seluruh keseharianku bersama putri kecilku yang masih menari-nari di pandanganku.
…
Aspek kebahasaan teks cerpen yang tidak terdapat pada penggalan cerpen di atas adalah…
Sudut pandang
Penggunaan kata benda khusus
Terdapat majas
Penggunaan dialog
Bacalah penggalan cerpen berikut!
Aku belum mau beranjak pulang, taburan bunga rampai kuyup diterpa air hujan yang mengguyur seluruh jiwa raga kami. Aku belum yakin akan kesiapan diriku sampai di rumah nanti, menyaksikan seluruh keseharianku bersama putri kecilku yang masih menari-nari di pandanganku.
…
Kalimat bercetak tebal di atas mengandung majas…
Ironi.
Hiperbola
Simile
Personifikasi
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan cermat!
Begitu pula dengan Dicky, dia memilih untuk bersantai-santai di rumahnya. Dicky anak bungsu dari keluarga Pak Handoko. Kakaknya dua orang perempuan semua, oleh karena itu dia sedikit manja dan pemalas. Ayahnya sangat sayang kepadanya, segala keinginan Dicky pasti dikabulkan. Beliau mengganggap Dicky mutiara keberuntungannya. Kakak-kakaknya pun selalu siap membantu bila Dicky mengalami kesulitan. Dicky menjadi anak emas keluarga Handoko. Hanya ibu yang tidak suka kepada perlakuan anggota keluarganya kepada Dicky. Ibunya takut Dicky menjadi anak yang cengeng dan tergantung pada orang lain. Ibunya ingin Dicky seperti kedua kakak perempuannya mandiri dan tidak manja.
Kata Ganti orang dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
Dicky
dia
ibuny
kakak
Senin pagi saat matahari mulai menampakkan dirinya dan burung-burung mulai ramai bernyanyi Dicky masih belum siap menghadapi aktivitas sekolahnya .
Majas yang sama dengan kalimat di atas adalah....
Pencil menari-nari di atas kertas mengikuti candaan pikiranku.
Beliau mengganggap Dicky mutiara keberuntungannya.
Ibunya takut Dicky menjadi anak yang cengeng dan tergantung pada orang lain.
Dicky melihat seorang anak laki-laki seusianya, berpakain compang-camping, muka kotor, membawa harmonica kecil yang sudah using di tangannya..
Senin pagi saat matahari mulai menampakkan dirinya dan burung-burung mulai ramai bernyanyi Dicky masih belum siap menghadapi aktivitas sekolahnya .
Majas yang sama dengan kalimat di atas adalah....
Pencil menari-nari di atas kertas mengikuti candaan pikiranku.
Beliau mengganggap Dicky mutiara keberuntungannya.
Ibunya takut Dicky menjadi anak yang cengeng dan tergantung pada orang lain.
Dicky melihat seorang anak laki-laki seusianya, berpakain compang-camping, muka kotor, membawa harmonica kecil yang sudah using di tangannya..
Wanita dua puluh limaan, memakai gaun sutera hitam berkerah rendah, tas tangan merah, sepatu hak tinggi warna senada, jam tangan bermerek, serta memakai kacamata hitam turun dari kursi belakang. Lalu berjalan, diikuti pria tinggi besar yang memayunginya, menghampiri Sobri. Wanita itu membuka kacamatanya. Matanya merah, sembab. Kantung bawah matanya menghitam, cembung. Kontras sekali dengan kulit wajahnya yang putih bersih.
(Shofi Al Khansa, "Sampah Bertuah")
Gambaran tokoh wanita dideskripsikan melalui hal berikut, kecuali ....
umur
pakaian
gerak geriknya
perawakannya
Jeritan dn teriakan kedua kakaknya yang membelah angkasa tuk mengajak bareng ke sekolah tak digubrisnya.
Kalimat bermajas yang sama dengan kalimat di atas adalah...
Virus covid-19 menelan banyak korban di dunia saat ini.
Penyakit Covid-19 datang di bumi pertiwi bagaikan jelangkung datang tak diundang .
Korban virus corona semakin melangit jumlahnya dari hari ke hari.
Petugas media berjuang di garda terdepan melawan virus corona.
Telaah dengan cermat kutipan cerpen berikut!
Dalam tidurnya, samar-samar Mogu mendengar suara memanggilnya. Mula-mula ia berpikir itu hanya mimpi. Namun, di saat ia terbangun, suara itu masih memanggilnya. “Anak muda, bangunlah! Siapakah engkau? Mengapa kau ada disini?” Mogu amat bingung. Darimana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling. “Aku disini. Aku pohon yang kau sandari!” ujar suara itu lagi.
Kalimat yang menggunakan kata ganti orang kedua adalah ...
Mula-mula ia berpikir itu hanya mimpi.
amun, di saat ia terbangun, suara itu masih memanggilnya.
“Anak muda, bangunlah! Siapakah engkau? Mengapa kau ada disini?” Mogu amat bingung
Darimana suara itu berasal? Ia mencoba melihat ke sekeliling
Bacalah dan telaah kata ganti orang dalam kutipan cerpen berikut!
“Dengarlah, Nak. Aku adalah pohon pengetahuan. Banyak sekali orang mencariku, namun tak berhasil menemukan. Hanya orang yang berjiwa bersih dan betul-betul haus akan pengetahuan yang dapat menemukanku. Kau telah lolos dari persyaratan itu. Aku akan mengajarimu berbagai pengetahuan. Bersediakah kau?” tanya si pohon lagi. Mendengar hal itu Mogu sangat girang.
Kata ganti orang kesatu tunggal dalam kutipan cerpen tersebut adalah ...
Aku
kau
kamu (mu)
Nak
Bacalah dengan cermat kutipan cerpen berikut!
Desa Kalidoso yang terletak sepuluh kilometer dari jalan raya antara Solo dan Purwodadi itu bagaikan sebuah oase yang cukup luas. Sekelilingnya adalah perbukitan kapur yang tandus, tetapi subur bagi pohon jati, sehingga desa itu dilingkari oleh hutan jati. Seperti oase, karena hanya desa itulah yang rimbun dengan berbagai tanaman tahunan, terutama buah-buahan seperti mangga, jambu, nangka, belimbing, dan paling banyak tumbuh pohon melinjo yang menjadi bahan baku kerajinan emping melinjo di daerah itu. Rumput pun bisa tumbuh di daerah itu sehingga penduduknya bisa memelihara sapi dan kambing. Berbeda dengan desa-desa lain di sekitarnya, yang penduduknya beragama Islam santri, desa Kalidoso itu berpenduduk abangan dan masih percaya pada adanya roh yang menghuni benda-benda.
Uraian deskripsi kutipan cerpen diatas tentang....
Latar waktu
latar tempat
Pelaku
konflik
