NEW
Font size
WorksheetsH11 SEJARAH OR INDONESIA
Total questions: 35
Worksheet time: 18mins
Tujuan Undang-Undang N0 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional adalah :
Peningkatan kesehatan dan kebugaran, peningkatan prestasi, dan manajemen keolahragaan
Mengembangkan kemampuan jasmani, rohani, dan sosial serta membentuk watak dan kepribadian bangsa yang bermartabat
Memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa
Memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa.
Fungsi dari adanya Undang-Undang N0 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional adalah :
Peningkatan kesehatan dan kebugaran, peningkatan prestasi, dan manajemen keolahragaan
Mengembangkan kemampuan jasmani, rohani, dan sosial serta membentuk watak dan kepribadian bangsa yang bermartabat
Memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional, serta mengangkat harkat, martabat, dan kehormatan bangsa
Memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa.
Pemikiran dasar dari terbitnya Undang-Undang No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional secara luas adalah :
Peningkatan kesehatan dan kebugaran, peningkatan prestasi, dan manajemen keolahragaan
Peningkatan kesehatan dan kebugaran, peningkatan prestasi, peningkatan derajad kesehatan manusia dan manajemen keolahragaan
Meningkatkan Kualitas Hidup manusia
Peningkatan kesehatan dan kebugaran, peningkatan kualitas hidup, peningkatan prestasi, dan manajemen keolahragaan
Perbedaan antara zaman orde Baru dan Orde reformasi dalam Jabatan Pengurus Komite Olahraga Nasional, Provinsi dan Kabupaten/kota adalah :
Pada era Reformasi dengan berdasarkan Undang-undang no 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, jabatan bersifat Mandiri dan tidak terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik.
Pada era Reformasi dengan berdasarkan Undang-undang no 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, jabatan bersifat Mandiri dan terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik.
Pada era Reformasi dengan berdasarkan Undang-undang no 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, jabatan bersifat Mandiri dan tidak terikat dengan pemerintah dan pemerintah daerah.
Pada era Reformasi dengan berdasarkan Undang-undang no 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, jabatan bersifat Mandiri dan terikat dengan pemerintah dan pemerintah daerah.
Perbedaan Penanggung jawab terhadap Pengelolaan keolahragaan antara era Orde baru dengan Era Reformasi adalah :
Pada Era reformasi Penanggung jawab pengelolaan Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Pada Era Orde Baru penanggung jawab pengelolaan ada pada Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pemuda dan keolahragaan
Pada Era reformasi Penanggung jawab pengelolaan Presiden
Pada Era reformasi Penanggung jawab pengelolaan Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang keolahragaan
Sejarah Keolahragaan Indonesia dapat dibedakan ke berbagai masa, yaitu :
Masa Pra Sejarah, Kerajaan, Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Kermerdekaan
Masa Pra Sejarah, Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Kermerdekaan
Masa Kerajaan-kerajaan, Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Kermerdekaan
Masa Pra Sejarah, Kerajaan, Penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang dan Kermerdekaan serta Pasca Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan, sejarah keolahragaan dapat dibedakan menjadi :
Pengelolaan Keolahragaan Masa Orde lama dan Orde Baru
Pengelolaan Keolahragaan Masa Orde lama dan Orde Baru serta Orde reformasi
Pengelolaan Keolahragaan Masa Orde lama, Orde Baru dan Orde reformasi serta pasca reformasi
Pengelolaan Keolahragaan Orde Baru dan Orde Reformasi serta Orde pasca reformasi
Pada masa pra sejarah, pengembangan Pendidikan jasmani dan olahraga ditekankan pada :
Pembinaan fisik untuk lebih efisien untuk menghadapi tantangan dan untuk menciptakan kekuatan dan pengembangan berkelompok
Pembinaan fisik dan non fisik untuk lebih efisien untuk menghadapi tantangan dan untuk menciptakan kekuatan dan pengembangan berkelompok
Pembinaan fisik dan non fisik untuk lebih efisien untuk menghadapi tantangan dan untuk menciptakan kekuatan dan pengembangan pribadi dan berkelompok
Pembinaan fisik dan mental untuk lebih efisien untuk menghadapi tantangan dan untuk menciptakan kekuatan dan pengembangan berkelompok
Pada masa Kerajaan berbasis agama Hindu tujuan Pendidikan Jasmani dan Latihan Jasmani (olahraga) adalah :
Penguasaan sikap badan dan ketahanan tubuh dari kekurangan untuk membebaskan jiwa dari jasmani serta membebaskan rohani atau jiwa dari ketergantungan dari Jasmani
Penguasaan sikap ketahanan tubuh dari kekurangan untuk membebaskan jasmani serta membebaskan rohani atau jiwa dari ketergantungan dari Jasmani
Penguasaan sikap badan dan ketahanan tubuh dari kekurangan untuk membebaskan jasmani serta membebaskan jiwa dari ketergantungan dari Jasmani
Penguasaan sikap badan dan ketahanan tubuh dari kekurangan untuk membebaskan jiwa serta membebaskan rohani dari ketergantungan dari Jasmani
Pada masa kerajaan-Kerajaan berbasis pada Agama Islam Tujuan Pendidikan adalah :
Kesempurnaan hidup dunia dan akherat, pembinaan manusia sabar, taat beragama dan pemerintah serta melakukan olahraga yang terdiri dari beladiri, menunggang kuda, memainkan senjata, kekebalan tubuh dan perang. Pencaksilat
Kesempurnaan hidup dan pembinaan manusia sabar, taat beragama dan pemerintah serta melakukan olahraga yang terdiri dari beladiri, menunggang kuda, memainkan senjata, kekebalan tubuh dan perang. Pencaksilat
Kesempurnaan hidup dunia dan akherat, pembinaan manusia yang taat beragama dan pemerintah serta melakukan olahraga yang terdiri dari beladiri, menunggang kuda, memainkan senjata, kekebalan tubuh dan perang. Pencaksilat
Kesempurnaan hidup dunia dan akherat, pembinaan manusia sabar, taat beragama serta melakukan olahraga yang terdiri dari beladiri, menunggang kuda, memainkan senjata, kekebalan tubuh dan perang. Pencaksilat
Pada masa Penjajahan Belanda, Pendidikan Jasmani dan Olahraga sangat ditekankan disekolah-sekolah diantaranya adalah :
Pendidikan Jasmani pada Senam menggunakan Sistem Spiez-Maul
Pendidikan Jasmani pada Senam menggunakan Sistem Maul
Pendidikan Jasmani pada Senam menggunakan Sistem Spiez-Maul-Niels Buks
Pendidikan Jasmani pada Senam menggunakan Sistem Spiez-Niels Buks
Keolahragaan pada Zaman Penjajahan Belanda dibilang sangat maju, karena Belanda membawa kebudayaan sistem keolahragaan di Eropa. Banyak organisasi olahraga didirikan untuk mendorong kemajuan keolahragaan, diantara induk organisasi itu adalah :
Pada tahun 1930 berdiri PSSI di Yogyakarta dan 1936 PELTI di Semarang.
Pada tahun 1930 berdiri PSSI di Yogyakarta dan 1936 PELTI di Semarang.serta pada tahun 1938 : ISI (Ikatan Sport Indonesia) di Jakarta
Pada tahun 1930 berdiri PSSI di Yogyakarta,1936 PELTI di Semarang.dan pada tahun 1938 : ISI (Ikatan Sport Indonesia) di Jakarta serta pada tahun 1940 berdiri PBKSI Jakarta
Pada tahun 1930 berdiri PSSI di Yogyakarta,1936 PELTI di Semarang.dan pada tahun 1938 : ISI (Ikatan Sport Indonesia) di Jakarta serta pada tahun 1940 berdiri PBVSI Jakarta
Pada masa penjajahan Jepang tujuan Pendidikan Jasmani dan Latihan Jasmani (olahraga) adalah :
Membentuk manusia yang setia kepada jepang dan memiliki kemampuan perang.
Membentuk manusia yang setia kepada jepang dan memiliki kemampuan perang serta memiliki kebugaran jasmani yang baik.
Membentuk manusia yang unggul jasmani, setia kepada jepang dan memiliki kemampuan perang serta memiliki kebugaran jasmani yang baik.
Penguasaan sikap badan dan ketahanan tubuh dari kekurangan untuk membebaskan jiwa serta membebaskan rohani dari ketergantungan dari Jasmani
Latihan-latihan olahraga yang ditekankan pada masa penjajah Jepang, diantaranya adalah :
Kyoreng (latihan baris berbaris), Kendo (beladiri khas Jepang), Taiso (senam), dan Keterampilan menggunakan bayonet (senapan yang pada ujungnya dipasang belati),
Kyoreng (latihan baris berbaris), Kendo (beladiri khas Jepang), dan Keterampilan menggunakan bayonet (senapan yang pada ujungnya dipasang belati),
Kyoreng (latihan baris berbaris), Kendo (beladiri khas Jepang), Taiso (senam), dan Keterampilan menggunakan bayonet (senapan yang pada ujungnya dipasang belati), serta latihan perang
Kyoreng (latihan baris berbaris), Kendo (beladiri khas Jepang), Taiso (senam), dan Keterampilan menggunakan bayonet (senapan yang pada ujungnya dipasang belati), serta atletik
Pada masa awal-awal kemerdekaan dari tahun 1945-1950, Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, mengadakan suatu gerakan olahraga dikalangan :
Sekolah dan Masyarakat
Sekolah karena profesi dan Masyarakat atas dasar pengabdian, serta dikalangan militer
Sekolah dan Masyarakat serta pegawai pemerintahan
Profesi, Masyarakat, dan pegawai pemerintah serta dari kalangan militer
Pada masa awal-awal kemerdekaan dari tahun 1945-1950, Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, mengadakan suatu program ....... dikalangan pemuda.
Menyelenggarakan latihan-latihan fisik serta mengusahakan rehabilitasi fisik dan mental
Menyelenggarakan latihan-latihan fisik serta mengusahakan rehabilitasi mental
Menyelenggarakan latihan-latihan fisik serta mengusahakan rehabilitasi fisik.
Menyelenggarakan latihan-latihan fisik serta mengusahakan rehabilitasi pemuda
Pada masa awal-awal kemerdekaan dari tahun 1945-1950, terbentuk suatu organisasi atau Komite Keolahragaan nasional yaitu :.
PORI atau Persatuan Olahraga Republik Indonesia, yang bertugas melakukan hubungan dengan badan-badan olahraga luar negeri, khususnya dengan IOC
KORI atau Komite Olahraga Republik Indonesia, yang bertugas melakukan hubungan dengan badan-badan olahraga luar negeri, khususnya dengan IOC
KOI atau Komite Olympiade Indonesia, yang bertugas melakukan hubungan dengan badan-badan olahraga luar negeri, khususnya dengan IOC
KONI atau Komite Olahraga Nasional Indonesia dan KOI atau Komite Olympiade Indonesia, yang bertugas melakukan hubungan dengan badan-badan olahraga luar negeri, khususnya dengan IOC
Pada masa awal-awal kemerdekaan dari tahun 1945-1950, Komite Olahraga bisa menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional I (PON), dengan tujuan utama adalah :
Menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat di seluruh Indonesia melalui kegiatan olahraga sesudah lepas dari Penjajah Belanda dan Jepang
Menggalang persatuan dan kesatuan serta prestasi masyarakat di seluruh Indonesia melalui prestasi olahraga sesudah lepas dari Penjajah Belanda dan Jepang
Menggalang persatuan dan kesatuan serta prestasi masyarakat di seluruh Indonesia dengan pertandingan dan perlombaan kegiatan olahraga sesudah lepas dari Penjajah Belanda dan Jepang
Menggalang persatuan dan prestasi olahraga masyarakat di seluruh Indonesia melalui kegiatan olahraga sesudah lepas dari Penjajah Belanda dan Jepang
Pada masa awal-awal kemerdekaan dari tahun 1951-1951, pembinaan Cabang olahraga Atletik yang merupakan induk dari kegiatan olahraga sangat diperhatikan, hal ini terlihat pada tahun 1952 dan 1953 diselenggarakan :
Panca Lomba Atletik pelajar SLTP dan SLTA secara nasional
Panca Lomba olahraga pelajar SLTP dan SLTA secara nasional
Panca Lomba Atletik pelajar SD, SLTP dan SLTA secara nasional
Panca Lomba olahraga pelajar SD, SLTP dan SLTA secara nasional
Pada masa awal-awal kemerdekaan dari tahun 1951-1956, dimulai penataan sekolah dan akademi olahraga sebagai tempat untuk mencetak ahli dan akademisi olahraga yaitu :
APD atau Akademi Pendidikan Jasmani di Yogyakarta, SGPD atau Sekolah Guru Pendidikan Jasmani di Bandung dan Yogyakarta dan Jurusan Pendidikan Jasmani – FKIP Bandung
APD atau Akademi Pendidikan Jasmani di Yogyakarta, SGPD atau Sekolah Guru Pendidikan Jasmani di Bandung
APD atau Akademi Pendidikan Jasmani di Yogyakarta, SGPD atau Sekolah Guru Pendidikan Jasmani di Surabaya
APD atau Akademi Pendidikan Jasmani di Yogyakarta dan Jurusan Pendidikan Jasmani – FKIP Bandung
Pendidikan Jasmani merupakan pendidikan untuk pembentukan jiwa Nasionalis atau "National Building", ini di kemukakan oleh Presiden Ir. Soekarno, untuk itu perlu dilakukan suatu gerakan yang mendasar di sekolah-sekolah dengan upayanya adalah :
Menyelidiki dan merencanakan pendidikan jasmani dilaksanakan di sekolah dari tingkat dasar sampai atas dan masyarakat, serta Merencanakan dan mengawasi pendidikan bidang Pendidikan Jasmani, dihubungankan dengan organisasi bidang olahraga
Menyelidiki dan merencanakan pendidikan jasmani dilaksanakan di sekolah dari tingkat dasar sampai atas dan masyarakat, serta Mengawasi pendidikan bidang Pendidikan Jasmani, dihubungankan dengan organisasi bidang olahraga
Menyelidiki dan merencanakan pendidikan jasmani dilaksanakan di sekolah dari tingkat dasar sampai atas dan masyarakat.
Merencanakan dan mengawasi pendidikan bidang Pendidikan Jasmani, dihubungankan dengan organisasi bidang olahraga
Pada tahun 1961, Presiden Ir.Soekarno memberikan amanat tentang pentingnya olahraga dalam rangka keikutsertaan Indonesia di Asean Games, yaitu :
Olahragawan berfungsi membangun manusia Indonesia dan harus dedikasi mempersembahkan hidup untuk Indonesia, serta membangun “national building“ manusia Indonesia
Olahragawan berfungsi membentuk manusia Indonesia dan harus dedikasi untuk Indonesia, serta membangun “national building“ manusia Indonesia
Olahragawan dapat membangun manusia Indonesia dan harus dedikasi mempersembahkan hidup untuk Indonesia, serta membangun “national building“ manusia Indonesia
Olahragawan adalah manusia Indonesia dan harus di dedikasikan hidup untuk Indonesia, serta membangun “national building“ manusia Indonesia
Pada tahun 1963 Indonesia mengadakan suatu pesta olahraga Ganefo (Games of the New Emerging Forces), diikuti oleh negara-negara benua Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin. Apa yang melatar belakangi diadakan Ganefo :
Dikeluarkannya Indonesia sebagai anggota IOC (International Olympiade Committe), karena pada saat menyelenggarakan Asean Games ke IV, tidak mengikut sertakan Israel dan Taiwan.
Dikeluarkannya Indonesia sebagai anggota IOC (International Olympiade Committe), karena pada saat menyelenggarakan Asean Games ke V, tidak mengikut sertakan Israel dan Taiwan.
Dikeluarkannya Indonesia sebagai anggota IOC (International Olympiade Committe), dan ingin menjadikan olahraga bukan sebagai bagian urusan politik.
Dikeluarkannya Indonesia sebagai anggota IOC (International Olympiade Committe), karena Indonesia menolak Imperalisme di bidang olahraga.
Pada tahun 1962 Indonesia berhasil menyelenggarakan Asean Games, akan tetapi karena tekanan dari Negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok, panitia tidak memberikan visa untuk negara Israel dan Taiwan, mengapa demikian ??
Negara-negara Arab memprotes berdirinya negara Israel tanpa berdirinya negara Palestina, serta RRT memprotes Taiwan diakui sebagai Negara oleh PBB.
Negara-negara Arab memprotes berdirinya negara Israel, serta RRT memprotesTaiwan diakui sebagai Negara oleh PBB.
Negara-negara Arab memprotes karena Panitia tidak mengundang Palestina untuk mengikuti Asean Games, serta RRT memprotes Taiwan diakui sebagai Negara oleh PBB.
Negara-negara Arab memprotes karena Panitia tidak mengundang Palestina tetapi justru mengundang Israel untuk mengikuti Asean Games, serta RRT memprotes Taiwan diakui sebagai Negara oleh PBB.
Rencana Besar program Olahraga Emas pada Zaman Orde Lama yang disebut sebagai Rencana Dasar 10 Tahun Olahraga yaitu berisi tentang :
Mempertinggi potensi fisik nasional dengan gerakan massal olahraga, Memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga di lingkungan pemuda/ pelajar, Membina olahragawan yang potensial dan berbakat untuk mencapai prestasi, Menyediakan kelengkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan program program olahraga serta Pengkonsolidasian hasil Ganefo I dan penggeloraan gerakan Ganefo
Mempertinggi potensi fisik nasional dengan gerakan massal olahraga, Memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga di lingkungan masyarakat, Membina olahragawan yang untuk mencapai prestasi, Menyediakan kelengkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan program program olahraga serta Pengkonsolidasian hasil Ganefo I dan penggeloraan gerakan Ganefo
Mempertinggi potensi fisik nasional dengan gerakan massal olahraga, Memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga di lingkungan masyarakat, Membina olahragawan yang potensial dan berbakat untuk mencapai prestasi, Menyediakan kelengkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan program program olahraga.
Mempertinggi potensi fisik nasional dengan gerakan massal olahraga, Memperluas dan mengintensifkan gerakan olahraga di lingkungan pemuda/ pelajar, Membina olahragawan yang potensial dan berbakat untuk mencapai prestasi, Menyediakan kelengkapan material dan spiritual untuk penyelenggaraan program program olahraga.
Pada era awal Orde Baru Pendidikan Jasmani dijadikan pelajaran Kurikuler 3 jam seminggu, dengan tujuan :
Mengembangkan fisik manusia yang harmonis dan Menumbuhkan jiwa persatuan yang sebaik- baiknya
Mengembangkan kebugaran jasmani manusia yang harmonis dan Menumbuhkan jiwa kebangsaan yang sebaik- baiknya
Mengembangkan fisik manusia yang harmonis dan Menumbuhkan jiwa perjuangan nilai-nilai kemerdekaan yang sebaik- baiknya
Mengembangkan fisik dan kebugaran jasmani anak-anak sekolah yang harmonis dan Menumbuhkan jiwa persatuan dan kesatuan yang sebaik- baiknya
Pada era Orde Baru Komite olahraga nasional (KONI) mengalami perubahan dalam fungsi, yaitu mempunyai ciri-ciri :
Milik masyarakat pembina olahraga, Kekuasaan tertinggi pada Musornas, Tugas dan wewenang: membantu pemerintah (Dirjen Olahraga), Keanggotaan KONI adalah organisasi olahraga.
Milik masyarakat pembina olahraga, Kekuasaan tertinggi pada Musornas, Tugas dan wewenang: membantu pemerintah Keanggotaan KONI adalah organisasi serta dalam pengarahan pemerintah
Milik masyarakat olahraga, Kekuasaan tertinggi pada Musornas, Tugas dan wewenang: membantu pemerintah Keanggotaan KONI adalah organisasi serta dalam pengarahan pemerintah
Milik masyarakat pembina olahraga, Kekuasaan tertinggi pada Musornas, Tugas membantu pemerintah, Keanggotaan KONI adalah organisasi serta dibawah pengarahan pemerintah
Pada tahun 1966-1969 pengelolaan olahraga nasional berada dibawah Dirjen olahraga yang berada di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang mempunyai tugas pokok adalah :
Mengolahragakan seluruh rakyat, Pembibitan pada para pelajar/mahasiswa, Peningkatan prestasi serta membantu pertumbuhan dan perkembangan anak lewat olahraga
Mengolahragakan seluruh rakyat, Pembibitan pada para pelajar/mahasiswa, serta Peningkatan prestasi.
Mengolahragakan seluruh rakyat, Pembibitan pada para pelajar/mahasiswa, Peningkatan prestasi, Pemasalan olahraga di masyarakat serta membantu pertumbuhan dan perkembangan anak lewat olahraga
Mengolahragakan seluruh rakyat, Pembibitan pada para pelajar/mahasiswa, Peningkatan prestasi, Pemasalan olahraga di masyarakat serta membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja lewat olahraga
Pada tahun 1966-1969 pengelolaan olahraga nasional berada dibawah Dirjen olahraga yang berada di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang mempunyai tugas pokok ke luar negeri adalah :
Meninggalkan politik isolasi dengan organisasi olahraga internasional, dan menormalisasi hubungan dengan organisasi olahraga internasional
Meninggalkan politik dengan bekerjasama dengan organisasi olahraga internasional, dan menormalisasi hubungan dengan organisasi olahraga internasional
Meningkatkan kerjasama dengan organisasi olahraga internasional, dan menormalisasi hubungan dengan organisasi olahraga internasional
Meningkatkan kerjasama dengan organisasi olahraga internasional, dan menormalisasi hubungan dengan organisasi olahraga internasional serta berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan olahraga inernasional.
Perbedaan mendasar apa yang ada di Era Orde Lama, Baru dan Reformasi di dalam pengelolaan keolahragaan nasional :
Pada masa Orde Lama dan Orde Baru Pemerintah sangat mewarnai kegiatan olahraga, sedang pada era reformasi Pemerintah harus berpedoman pada Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional
Pada masa Orde Lama Presiden sangat mewarnai kegiatan olahraga, demikian juga pada Orde Baru Pemerintah, sedang pada era reformasi Pemerintah harus berpedoman pada Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional
Pada masa Orde Lama dan Orde Baru Pemerintah sangat mewarnai kegiatan olahraga, sedang pada era reformasi Pemerintah tidak mewarnai tetapi KONI sebagai ujung tombak pengelolaan keolahragaan Nasional
Pada masa Orde Lama Presiden sangat mewarnai kegiatan olahraga, demikian juga pada Orde Baru Pemerintah, sedang pada era reformasi Pemerintah tidak mewarnai tetapi KONI sebagai ujung tombak pengelolaan keolahragaan Nasional
Peran dari Pemerintah menurut Undang-undang No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional adalah :
Menentukan kebijakan nasional, standar keolahragaan nasional, serta koordinasi dan pengawasan terhadap pengelolaan keolahragaan nasional serta bertanggung jawab terhadap berjalannya olahraga nasional
Menentukan kebijakan nasional, standar keolahragaan nasional, dan pengawasan terhadap pengelolaan keolahragaan nasional serta bertanggung jawab terhadap berjalannya olahraga nasional
Menentukan kebijakan nasional, standar keolahragaan nasional, dan pengawasan terhadap pengelolaan keolahragaan nasional.
Menentukan kebijakan nasional, standar keolahragaan nasional, serta koordinasi dan pengawasan terhadap pengelolaan keolahragaan nasional.
Tugas dari Komite Olahraga Nasional menurut Undang-undang No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional adalah :
Membantu Pemerintah dalam membuat kebijakan nasional dalam bidang pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi pada tingkat nasional
Mengoordinasikan induk organisasi cabang olahraga, organisasi olahraga fungsional, serta komite olahraga.
Melaksanakan pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi.
Melaksanakan dan mengoordinasikan kegiatan kejuaraan olahraga tingkat nasional
Pendanaan kegiatan olahraga melalui Komite Olahraga Nasional, Provinsi dan Kabupaten/kota menurut Undang-undang No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan nasional adalah diambilkan dari :
APBN untuk nasional dan APBD untuk provinsi, Kabupaten/Kota
Karena sifatnya mandiri maka harus dari sumbangan masyarakat
Sumbangan masyarakat dan bantuan pemerintah
Sumbangan masyarakat dan industri serta bantuan pemerintah
Salah satu perbedaan antara Era Orla, Orba dan Reformasi adalah pada Tugas Komite Olahraga Nasioanal. Pada era reformasi Tugas dari Komite Olahraga Nasional tingkat Provinsi dan Kabupaten/kota menurut Undang-undang No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional adalah :
Membantu Pemerintah dalam membuat kebijakan nasional dalam bidang pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi pada tingkat nasional
Membantu pemerintah daerah dalam membuat kebijakan daerah di bidang pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi
Mengoordinasikan induk organisasi cabang olahraga
Melaksanakan dan mengoordinasikan kegiatan kejuaraan olahraga tingkat daerah
Apa arti dua Sayap warna kuning dan 3 Lingkaran yang menghubungkan 2 sayap pada lambang Komite Olahraga Nasional Indonesia ini :
Sayap Garuda melambangkan kekuatan bangsa Indonesia. warna kuning emas dengan perototan merah mempunyai arti memberikan sendi kemurnian dan keluhuran serta dinamika dari kekuatan, Tiga lingkaran yang menghubungkan kedua sayap menyatakan bahwa kekuatan itu akan tetap kokoh dan abadi bila didasari prinsip yang berkebangsaan satu, berbahasa satu dan bertanah air satu, Indonesia.
Sayap Garuda melambangkan kekuatan bangsa Indonesia, Tiga lingkaran yang menghubungkan kedua sayap menyatakan bahwa kekuatan itu akan tetap kokoh dan abadi bila didasari 3 prinsip berkebangsaan, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Undang-undang Dasar 1945
Sayap Garuda melambangkan kekuatan bangsa Indonesia. warna kuning emas dengan perototan merah mempunyai arti memberikan sendi keluhuran serta dinamika dari kekuatan, Tiga lingkaran yang menghubungkan kedua sayap menyatakan bahwa kekuatan itu akan tetap kokoh dan abadi bila didasari prinsip yang berkebangsaan satu, berbahasa satu dan bertanah air satu, Indonesia.
Sayap Garuda melambangkan kekuatan bangsa Indonesia. warna kuning emas dengan perototan merah mempunyai arti memberikan sendi kemurnian dan keluhuran serta dinamika dari kekuatan, Tiga lingkaran yang menghubungkan kedua sayap menyatakan bahwa kekuatan itu akan tetap kokoh dan abadi bila didasari 3 prinsip, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan Undang-undang Dasar 1945
