WorksheetsPRE TEST BACKTESTING FOR MARKET, CREDIT & LIQUIDITY RISK
Total questions: 32
Worksheet time: 20mins
Risiko Pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option, adalah penjelasan atau definisi dari :
Systemic risk
Market risk
Liquidity risk
Credit risk
POJK No.44 /POJK.05/2020 re Penerapan Manajemen Risiko Bagi LJKNB menyebutkan: "LJKNB wajib melakukan pengujian atas posisi risiko dengan menggunakan beberapa asumsi kondisi tidak normal untuk mengetahui dampak kondisi tidak normal tersebut terhadap posisi risiko LJKNB". Prosedur yang harus dilakukan untuk memenuhi ketentuan POJK ini adalah:
Systemic risk
Market risk
Stress testing
Backtesting
POJK No.44 /POJK.05/2020 re Penerapan Manajemen Risiko Bagi LJKNB menyebutkan “Pengujian atas posisi risiko dengan menggunakan data historis untuk mengetahui efektivitas manajemen risiko” berkaitan dengan prosedur:
Systemic risk
Market risk
Stress testing
Backtesting
Risk management process yang benar adalah:
(1) Risk assessment;
(2) Identifikasi risiko;
(3) Implementation;
(4) Action plan/ mitigasi;
(5) Measure, control, monitor
(1) Measure, control, monitor;
(2) Risk assessment;
(3) Identifikasi risiko;
(4) Action plan/mitigasi;
(5) Implementation
(1) Identifikasi risiko;
(2) Risk assessment;
(3) Measure, control, monitor;
(4) Implementation;
(5) Action plan/mitigasi
(1) Identifikasi risiko;
(2) Risk assessment;
(3) Action plan/mitigasi;
(4) Implementation;
(5) Measure, control, monitor
Potensi kesulitan yang mungkin dihadapi LJKNB dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya karena ketidakmampuan untuk mengubah aset menjadi uang tunai tanpa menimbulkan kerugian besar adalah cakupan.
Credit Risk
Market Risk
Liquidty Risk
Operational Risk
Metode yang digunakan untuk mengukur risiko portofolio suatu perusahaan dengan memperkirakan kerugian maksimum historis yang mungkin terjadi pada suatu portofolio investasi atau aset keuangan dalam periode dan tingkat kepercayaan tertentu adalah metode pengukuran risiko.
VAR (Value at Risk)
Probability of Default
LCR (Liquidity Coverage Ratio)
EAD (Exposure at Given Default)
Prosedur menguji keakurasian metode VAR (Value at Risk) yang digunakan dalam mengukur risiko pasar dilakukan dengan prosedur:
LCR (Liquidity Coverage Ratio)
Stress Testing
Backtesting
Historical simulation
Melanjutkan soal sebelumnya, frekuensi prosedur menguji keakurasian metode VAR (Value at Risk) yang digunakan dalam mengukur risiko pasar dilakukan adalah:
Paling kurang setiap bulan
Paling kurang setiap triwulanan
Paling kurang setiap semesteran
Paling kurang setiap tahunan
Backtesting membandingkan data kerugian posisi akibat pergerakan pasar pada laporan laba rugi harian vs pengukuran VaR harian berdasarkan 1 hari kepemilikan. Pengujian dan pengukuran ini dilakukan atas rentang waktu :
60 hari kerja
90 hari kerja
180 hari kerja
250 hari kerja
Resume prosedur backtesting disimpulkan ke dalam tiga zona. Green Zone, Yellow Zone & Red Zone. Makna dari setiap zona adalah:
Green Zone = pengukuran risk management tidak dapat dihandalkan dan perlu perbaikan fundamental;
Yellow Zone = pengukuran risk management dapat dihandalkan;
Red Zone = terdapat keraguan pada kehandalan pengukuran risk management dan perlu enhancement.
Green Zone = terdapat keraguan pada kehandalan pengukuran risk management dan perlu enhancement;
Yellow Zone = pengukuran risk management tidak dapat dihandalkan dan perlu perbaikan fundamental;
Red Zone = pengukuran risk management dapat dihandalkan.
Green Zone = pengukuran risk management dapat dihandalkan;
Yellow Zone = terdapat keraguan pada kehandalan pengukuran risk management dan perlu enhancement;
Red Zone = pengukuran risk management tidak dapat dihandalkan dan perlu perbaikan fundamental.
Green Zone = pengukuran risk management dapat dihandalkan;
Yellow Zone = pengukuran risk management tidak dapat dihandalkan dan perlu perbaikan fundamental;
Red Zone = terdapat keraguan pada kehandalan pengukuran risk management dan perlu enhancement.
Jika dari proses market risk backtesting ditemukan 6 data penyimpangan (exceptions) dimana kerugian aktual yang diakui pada laporan laba rugi harian lebih besar dari pengukuran VaR, maka model VAR yang digunakan akan masuk ke dalam zona:
Grey zone
Green zone
Yellow zone
Red zone
Syarat dasar yang perlu dimiliki oleh LKJNB agar dapat melakukan market risk backtesting adalah:
Implementasi VAR untuk mengukur risiko pasar
Ketersediaan database VAR dan laba rugi harian atas posisi risiko pasar
Implementasi stress testing
Semua jawaban benar
Syarat dasar yang perlu dimiliki oleh LKJNB agar dapat melakukan credit risk backtesting adalah:
Ketersediaan database credit rating
Ketersediaan database Credit Expected Loss
Ketersediaan database Unexpected Loss
Ketersediaan database Exposure at Given Default
Komponen/parameter perhitungan Credit Expected Loss meliputi:
PD (Probability of Default);
EAD (Exposure at Given Default);
VAR;
LGD (Loss Given Default)
EAD (Exposure at Given Default);
LGD (Loss Given Default);
Liquidity Ratio;
PD (Probability of Default)
LGD (Loss Given Default);
EAD (Exposure at Given Default);
PD (Probability of Default)
LGD (Loss Given Default);
PD (Probability of Default);
EAD (Exposure at Given Default);
Credit Rating
Cara mengukur PD (probability of default) suatu debtor adalah menggunakan pendekatan:
Impairment measurement
Credit rating transition matrix
Credit rating system
Semua jawaban benar
Data likuidasi collateral dan riwayat kemampuan LJKNB melakukan collection atas debitur-debitur macet berguna untuk menghasilkan parameter:
PD (Probability of Default)
LGD (Loss Given Default)
EAD (Exposure at Default)
Semua jawaban salah
Data jumlah pencairan pembiayaan awal atas satu obligor dan outstanding pembiayaan pada saat obligor default perlu dipelihara dan dikembangkan oleh LJKNB sebagai bahan dasar perhitungan parameter:
PD (Probability of Default)
LGD (Loss Given Default)
EAD (Exposure at Default)
Semua jawaban salah
Yang diukur pada credit risk stress testing, adalah estimasi:
Credit Expected Loss
Credit Unexpected Loss
Credit Impairment
Probability of Default
Nilai risiko kredit yang harus diukur oleh LJKNB adalah "Credit Expected Loss" dan "Credit Unexpected Loss". Pilihlah pernyataan yang benar di bawah ini terkait "Credit Expected Loss" dan "Credit Unexpected Loss"
“Credit Expected Loss” dan “Credit Unexpected Loss” diserap oleh permodalan yang cukup.
“Credit Expected Loss” dan “Credit Unexpected Loss” diserap oleh pricing pembiayaan.
“Credit Expected Loss” diserap oleh pricing pembiayaan dan
“Credit Unexpected Loss” diserap oleh permodalan yang cukup.
“Credit Expected Loss” diserap oleh permodalan yang cukup dan
“Credit Unexpected Loss” diserap oleh pricing pembiayaan.
Dalam menjalankan prosedur credit stress testing, Risk Management Division perlu mengkaji riwayat kondisi krisis yang berdampak kepada peningkatan default credit sebagai benchmark. Eksekusi credit stress testing dapat difokuskan kepada pemburukan (getting worse) parameter:
PD (Probability of Default)
LGD (Loss Given Default)
EAD (Exposure at Default)
Loan impairment
Yang diukur pada Credit Risk Backtesting adalah:
Standard PD vs Realized PD berdasarkan Credit Rating Transisition Matrix pada periode pengamatan
Stress test PD vs Realized PD berdasarkan Credit Rating Transisition Matrix pada periode pengamatan
Credit Unexpected Loss dan Stress test Credit Unexpected Loss dibandingkan dengan Realized Impairment yang diakui di dalam laporan laba rugi
Standard PD & Stress test PD vs Realized PD berdasarkan Credit Rating Transisition Matrix pada periode pengamatan dan
Credit Unexpected Loss & Stress Test Credit Unexpected Loss dibandingkan dengan Realized Impairment yang diakui di dalam laporan laba rugi
Jika pada prosedur credit risk backtesting ditemukan 3% realisasi PD berdasarakan credit rating transisition matrix lebih tinggi dari standard PD yang ditetapkan, maka kesimpulan kehandalan standar PD berada pada :
Grey zone
Green zone
Yellow zone
Red zone
Jika berdasarkan backtesting ditemukan terdapat 4% realisasi Loan Impairment lebih besar dari Credit Unexpected Loss & Stress Test Credit Unexpected Loss, maka kesimpulan kehandalan standar pengukuran risiko kredit LJKNB berada pada:
Grey zone
Green zone
Yellow zone
Red zone
Tujuan utama liquidity risk management adalah:
Identifikasi potensi permasalahan pendanaan di masa mendatang
Identifikasi potensi permasalahan sumber cash inflow di masa mendatang
Identifikasi potensi penurunan profitabilitas di masa mendatang
Identifikasi potensi permasalahan pendanaan dan sumber cash inflow di masa mendatang
Urutan yang benar milestones of liquidity risk management tools adalah sebagai berikut:
(1) Liquidity Risk Measurement,
(2) Liquidity Risk Stress-Testing,
(3) Contingency Funding Scenario,
(4) ALM/Liquidity Management Policy,
(5) Liquidity Risk Backtesting.
(1) Liquidity Risk Measurement,
(2) Contingency Funding Scenario,
(3) ALM/Liquidity Management Policy,
(4) Liquidity Risk Backtesting,
(5) Liquidity Risk Stress-Testing,
(1) ALM/Liquidity Management Policy,
(2) Liquidity Risk Measurement,
(3) Liquidity Risk Stress-Testing,
(4) Contingency Funding Scenario,
(5) Liquidity Risk Backtesting.
(1) Contingency Funding Scenario,
(2) ALM/Liquidity Management Policy,
(3) Liquidity Risk Backtesting,
(4) Liquidity Risk Stress-Testing,
(5) Liquidity Risk Measurement,
Pilih pernyataan yang benar di bawah ini terkait resume stress testing:
Hasil pengukuran market risk, liquidity risk dan credit risk stress testing diperhitungkan dilaporkan ke OJK.
Hasil pengukuran market risk, liquidity risk dan credit risk stress testing dipresentasikan kepada BOD.
Hasil pengukuran market risk, liquidity risk dan credit risk stress testing dipresentasikan kepada Komite Manajemen Risiko.
Hasil pengukuran market risk, liquidity risk dan credit risk stress testing diperhitungkan ke dalam Laporan Profil Risiko dan Tingkat Kesehatan LJKNB serta dibandingkan dengan laporan Laporan Profil Risiko dan Tingkat Kesehatan non stress testing.
Terdapat dua jenis liquidity risk, yaitu Funding Liquidity Risk dan Asset Liquidity Risk. Ketidakmampuan untuk melikuidasi aset pada waktu yang dibutuhkan pada harga (value) yang acceptable adalah:
Funding Liquidity Risk
Asset Liquidity Risk
Market Liquidity Risk
Liquidity Coverage Risk
Di bawah ini adalah 6 langkah mengukur liquidity risk. Piliha urutan langkah yang benar/proper:
(1) Prepare F/S last month position,
(2) Prepare monthly basis time ladder and set relevan & conservative assumptions,
(3) Identify assets can be liquidated in next monthly basis up to 12 months,
(4) Identify & measure financial obligation in next monthly basis up to 12 months,
(5) Identify, project & measure operating & non operating cash inflow & outflow in the next monthly basis up to 12 months,
(6) Regulatory compliance/reporting.
(1) Identify assets can be liquidated in next monthly basis up to 12 months,
(2) Identify, project & measure operating & non operating cash inflow & outflow in the next monthly basis up to 12 months,
(3) Prepare monthly basis time ladder and set relevan & conservative assumptions,
(4) Identify & measure financial obligation in next monthly basis up to 12 months,
(5) Prepare F/S last month position,
(6) Regulatory compliance/reporting.
(1) Prepare monthly basis time ladder and set relevan & conservative assumptions,
(2) Identify, project & measure operating & non operating cash inflow & outflow in the next monthly basis up to 12 months,
(3) Identify assets can be liquidated in next monthly basis up to 12 months,
(4) Identify & measure financial obligation in next monthly basis up to 12 months,
(5) Prepare F/S last month position,
(6) Regulatory compliance/reporting.
(1) Identify & measure financial obligation in next monthly basis up to 12 months,
(2) Identify assets can be liquidated in next monthly basis up to 12 months,
(3) Prepare monthly basis time ladder and set relevan & conservative assumptions,
(4) Identify, project & measure operating & non operating cash inflow & outflow in the next monthly basis up to 12 months,
(5) Prepare F/S last month position,
(6) Regulatory compliance/reporting.
Implementasi perhitungan/formula LCR (Liquidity Risk Coverage) pada MHCI adalah:
Proyeksi pengeluaran cash yang harus dilakukan pada setiap bulan berikutnya dibagi proyeksi ketersediaan dan penerimaan cash periode bulan yang sama
Total aktiva lancar dibagi total pasiva lancar
Total pasiva lancar dibagi total aktiva lancar
Proyeksi ketersediaan dan penerimaan cash setiap bulan berikutnya dibagi proyeksi pengeluaran cash yang harus dilakukan pada periode bulan yang sama
Pendekatan implementasi Liquidity Risk Stress Testing yang sesuai dengan kondisi MHCI adalah:
Mengukur stress test LCR dikaitkan dengan Stress Test Credit Risk.
Mengukur stress test LCR dikaitkan dengan stress test pengeluaran (cash outflow)
Mengukur stress test LCR dikaitkan dengan stress test funding liquidity
Mengukur stress test LCR dikaitkan dengan stress test fluktuasi kurs valuta USD & JPY.
Liquidity risk backtesting yang diimplementasikan pada MHCI adalah Projected Monthly LCR (Liquid Coverage Ratio) dibagi Realized Monthly LCR selama periode pengamatan. Kondisi yang disebut dengan “exception” adalah:
Projected Monthly LCR > Realized Monthly LCR
Projected Monthly LCR = Realized Monthly LCR
Projected Monthly LCR < Realized Monthly LCR
Projected Monthly LCR >< Realized Monthly LCR
Melanjutkan soal sebelumnya, jika jumlah exception dalam periode pengamatan mencapai 5%, maka kehandalan pengukuran liquidity risk management berada dalam:
Grey zone
Green zone
Yellow zone
Red zone
