WorksheetsTEKS CERITA RAKYA HIKAYAT
Total questions: 14
Worksheet time: 9mins
Bacalah penggalan hikayat “Indera Bangsawan”berikut!
Maka baginda pun bimbanglah, tida tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat, iya menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda dan
berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah
yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Sumber teks: Buku Kesusastraan Melayu Klasik
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat tersebut adalah nilai ...
moral
sosial
agama
budaya
pendidikan
Bacalah penggalan hikayat “Indera Bangsawan” berikut!
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
Sumber teks: Buku Kesusastraan Melayu Klasik
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat tersebut adalah nilai ...
moral
sosial
agama
budaya
pendidikan
Bacalah penggalan hikayat “Bunga Kemuning” berikut!
Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu, sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Putri-putri Raja menjadi manja dan nakal. Mereka hanya suka bermain di danau. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka.
Sumber teks: Kesusastraan Melayu Klasik dengan penyesuaian
Nilai yang terkandung pada penggalan hikayat tersebut adalah nilai ...
moral
sosial
agama
budaya
pendidikan
Bacalah penggalan berikut!
Sebermula ada sebulan selangnya, maka pada suatu hari raja semayam di balairung diadap
oleh segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka barang siapa bercakap mengobati raja itu; jikalau sembuh penyakitnya, diambil raja akan menantu. (Hikayat Patani)
Karakteristik yang menggambarkan bahwa naskah tersebut karya Sastra melayu
Klasik adalah ….
Istana sentris dan kesaktian
Kemustahilan, tokohnya binatang
Istana sentris dan struktur kalimat
Tokohnya binatang, kesaktian seseorang
Struktur kalimat rancu dan kemustahilan
Bacalah penggalan berikut!
Sebermula ada sebulan selangnya, maka pada suatu hari raja semayam di balairung diadap
oleh segala menteri hulubalang dan rakyat sekalian. Maka barang siapa bercakap mengobati raja itu; jikalau sembuh penyakitnya, diambil raja akan menantu. (Hikayat Patani)
Isi cerita yang diungkapkan dalam kutipan tersebut adalah ….
Di balairung raja berjanji akan mengambil menantu bagi yang dapat menyembuhkan penyakitnya.
Siapa pun yang mengobati raja di balairung akan diambil menantu di hadapan menteri dan hulubalang.
Rasa sakit raja ketika bersemayam di balairung terobati karena raja akan mengambil menantu.
Para menteri dan hulubalang menghadap raja di balairung sambil mengobati raja.
Raja yang bersemayam karena sakit, membuat janji kepada menantunya.
Cermati kutipan hikayat berikut !
Maka, sahut perdana menteri, hai nakoda kapal! Apa gunanya tuan hamba membawa kain yang
baik-baik ini kepada hamba? Karena sebab berdakwa ini tuan hamba mengupah hamba. Tiadalah hamba mau mengambil dia. Bawalah kembali dahulu. Maka, hendak pun kami, maka ia menghukum atas seorang tiada dengan pembawaannya itu jadi menang dia berhukum; melainkan apakala barang siapa yang benar itu kami benarkan dan kami serta dia. Jikalau anak
kami sesekalipun apabila salah, kami salahkan juga. Janganlah nakoda sangka lagi yang demikian itu. Maka katanya kepada perempuan itu. “Tatkala dahulu istri siapa engkau ini.” Maka, sahut perempuan itu, “Ya, Tuan Hakim! Bahwasanya hamba istri nakoda, hamba tiada
tahu bersuami tiga atau dijamah orang lain daripada nakoda ini.” (Hikayat Bayan Budiman)
Karakteristik Melayu Klasik yang terdapat pada kutipan tersebut adalah ...
kemustahilan, struktur bahasa
istana sentris, dewa-dewa
kemustahilan, dewa-dewi
istana sentris, kesaktian
kesaktian, kemustahilan
Cermati kutipan hikayat berikut !
Maka, sahut perdana menteri, hai nakoda kapal! Apa gunanya tuan hamba membawa kain yang
baik-baik ini kepada hamba? Karena sebab berdakwa ini tuan hamba mengupah hamba. Tiadalah hamba mau mengambil dia. Bawalah kembali dahulu. Maka, hendak pun kami, maka ia menghukum atas seorang tiada dengan pembawaannya itu jadi menang dia berhukum; melainkan apakala barang siapa yang benar itu kami benarkan dan kami serta dia. Jikalau anak
kami sesekalipun apabila salah, kami salahkan juga. Janganlah nakoda sangka lagi yang demikian itu. Maka katanya kepada perempuan itu. “Tatkala dahulu istri siapa engkau ini.” Maka, sahut perempuan itu, “Ya, Tuan Hakim! Bahwasanya hamba istri nakoda, hamba tiada
tahu bersuami tiga atau dijamah orang lain daripada nakoda ini.” (Hikayat Bayan Budiman)
Nilai moral yang terdapat pada kutipan Melayu Klasik tersebut adalah ....
Perlakuan adil seorang perdana menteri.
Hakim selalu tunduk kepada tradisi kerajaan.
Kesetiaan seorang istri kepada perintah suami.
Perempuan yang baik yang tidak pernah berbohong.
Nahkoda kapal yang digoda oleh perempuan nakal.
Cermati kutipan hikayat berikut !
"Berapa hari lagi kita bertemu dengan tanah benua Keling?" Maka kata mualim, "Hai panglima kami, sehari semalam lagi berlayar, maka kita bertemu dengan sebuah pulau. Tiga hari tiga malam lagi, maka sampailah ke jajahan benua Keling. Daripada jajahan itu tujuh alam, maka sampailah ke kuala benua Keling." Maka Laksamana pun berdiam dirilah. Maka antara sehari semalam, maka kelihatanlah suatu rupa, seperti gajah kelihatan dari jauh. Maka Laksamana pun bertanya, "Hai mualim, pulau apa namanya itu?" Maka kata mualim itu, "Hai panglima kami, itulah pulau yang bernama Biram Dewa itu. Adapun di pulau itu tiada pernah orang singgah." Oleh: C. Hooykaas, 1952, him. 161, Penyedar Sastera
Nilai kepahlawanan dalam penggalan hikayat tersebut adalah …
Seorang laksamana yang yang terasing sanggup berlayar dari hari ke hari untuk mencari pulau
Seorang laksamana yang gagah perkasa dan suka mengarungi lautan untuk mencari nafkah.
Seorang laksamana yang tangkas yang tidak takut berlayar untuk kepentingan negaranya.
Seorang laksamana yang sabar berlayar dari pulau ke pulau untuk kepentingan dirinya.
Seorang laksamana yang berani berlayar untuk mencari nafkah keluarganya.
Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama !
Kutipan hikayat (1)
Maka anakanda baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya. Setelah beberapa lamanya, mereka belajar pula ilmu senjata, ilmu hikmat, dan isyarat tipu peperangan. Maka baginda pun bimbanglah, tidak tahu siapa yang patut dirayakan dalam negeri karena anaknya kedua orang itu sama-sama gagah. Jikalau baginda pun mencari muslihat; ia menceritakan kepada kedua anaknya bahwa ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda yang berkata kepadanya: barang siapa yang dapat mencari buluh perindu yang dipegangnya, ialah yang patut menjadi raja di dalam negeri.
Kutipan cerpen (2)
“Memang ngapain sih Mas, ke Madura segala? Lama lagi!”
“Diajak survei sama salah satu profesor dan kontraktor, untuk perencanaan bangunan besar di sana, Dik Manis! Sekalian penelitian skripsi Mas….”
Ah, soal bangunan dan penelitian skripsi. Lalu kenapa Mas Gagah bisa berubah jadi aneh gara-gara hal tersebut? Pikirku waktu itu. “Mas ketemu kiai hebat di Madura,” cerita Mas Gagah antusias. “Namanya Kiai Ghufron! Subhanallah, orangnya sangat bersahaja, santri-santrinya luar biasa! Di sana Mas memakai waktu luang Mas untuk mengaji pada beliau. Dan tiba-tiba dunia jadi lebih benderang!” tambahnya penuh semangat. “Nanti kapan-kapan kita ke sana ya, Git.
Nilai yang mendominasi pada kedua kutipan tersebut adalah….
Sosial
Religi
Budaya
Estetika
Pendidikan
Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama !
Kutipan cerpen
Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba- tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat. Kami pun penasaran ingin merasakan pijatannya. Maklum, tak ada tukang pijat di kampung kami, apalagi yang keliling. Biasanya kami saling pijat-memijat dengan istri di rumah masing-masing, itu pun hanya sekadarnya. Kami harus menuju ke dukun pijat di kampung sebelah bila ingin merasakan pijatan yang sungguh-sungguh atau mengurut tangan kaki kami yang terkilir.
Kutipan hikayat
Maka Si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, Si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya. maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu. (Hikayat Si Miskin)
Pendeskripsian tokoh pada kedua kutipan di atas menunjukkan kalau tokoh tersebut adalah seseorang yang berasal dari….
Kaum bangsawan
Orang kebanyakan
Kerabat kerajaan
Kaum terpelajar
Orang miskin
Cermatilah kedua kutipan berikut dengan saksama !
Kutipan cerpen
Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba- tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat. Kami pun penasaran ingin merasakan pijatannya. Maklum, tak ada tukang pijat di kampung kami, apalagi yang keliling. Biasanya kami saling pijat-memijat dengan istri di rumah masing-masing, itu pun hanya sekadarnya. Kami harus menuju ke dukun pijat di kampung sebelah bila ingin merasakan pijatan yang sungguh-sungguh atau mengurut tangan kaki kami yang terkilir.
Kutipan hikayat
Maka Si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh orang banyak, Si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu dan batu. (Hikayat Si Miskin)
Nilai yang mendominasi pada kedua kutipan tersebut adalah nilai….
Pendidikan
Sosial
Agama
Budaya
Estetika
Dalam mengembangkan cerita rakyat menjadi cerpen hal yang harus diperhatikan adalah….
Mengganti latar
Mengubah nama tokoh
Mengulang sebagian cerita rakyat
Mempertahankan alur cerita rakyat
Mengubah alur berbingkai menjadi alur tunggal
Unsur intrinsik yang paling menentukan keberhasilan dalam menyusun cerpen atau hikayat adalah….
Tema
Alur
Latar
Amanat
Sudut pandang
Hal yang harus dipertahankan ketika mengembangkan cerita rakyat menjadi cerpen adalah…
Sudut pandang
Tokoh
Alur
Latar
Nilai
