Font size
WorksheetsMenganalisis unsur intrinsik karya fiksi
Total questions: 16
Worksheet time: 30mins
Jodohkan berikut ini
Hanya dua awan putih tipis yang dengan sangat pelahan bergerak.
Repetisi
Tidak boleh, Anak. Tidak boleh. Ya Tuhan, semua ini salah kami.
Personifikasi
Mereka laksana kelekatu (laron) mengejar lampu.
Hiperbola
Adikku banyak bertanya sepanjang perjalanan.
Metafora
Sedangkan yang lain membanting tulang mengerjakan tanah itu.
Simile
Jodohkan berikut ini
Pada zaman Abu Jafar Al-Manshur, orang-orang mulai mencoba sedikit demi sedikit menerjemahkan kitab-kitab Filsafat Yunani.
Paradoks
Ya oke, wong tiap hari kenyang makan seribu jenis obat.
Ironi
Aku iseng bikin kue-kue basah dan kering
Pleonasme
Kakaknya kusut masai macam pukat diterjang hiu
Hiperbola
Aku bangkit dan berdiri keluar kolam mencari warung kecil
Litotes
Jodohkan berikut ini
Jadi kami naik ke dalam bus jurusan ini.
Metafora
Pak Tua berhentilah sejenak!
Litotes
Pada zaman Abu Jafar Al-Manshur, orang-orang mulai mencoba sedikit demi sedikit menerjemahkan kitab-kitab Filsafat Yunani.
Pleonasme
Abu Meong, nama kucing tadi, meloncat dari pangkuan juragannya.
sarkasme
Setelah terjadi perang saudara yang hebat.
Metonimia
Jodohkan berikut ini
Muncullah Raja Faishal bin Husain di tanah Riff walaupun gagal. Muncullah Raja Faishal bin Husain mendirikan Irak baru.
Metonimia
Berangkat pagi-pagi. Pulang malam-malam. Ditempa kehidupan jalanan.
Paradoks
Jepang tidak mengampuni orang yang ketawa ngakak.
Repetisi
Aku memesan empat porsi mi gelas.
Pleonasme
Ibu bekerja serabutan, apa saja yang bisa dikerjakan, Ya dikerjakan.
Paralelisme
Hampir enam bulan dia masuk penjara, lihatlah tidak seharipun Sie alpa mengunjunginya, membawakan rantang makanan kesukaan, memasang wajah riang bertanya apa kabar. Dan apa alasan Wong Lan? Acuh tak acuh, menatap benci Sie-Sie. (a)
· Lokasi radio pun dipilih dengan teliti, di pojok ruang tengah, agar terhindar dari guyuran hujan lantaran atap seng yang bocor. (a)
· Hari terakhir adalah ujian bahasa Indonesia. Sabari tersenyum simpul. Dijawabnya semua soal dengan tenang. Cincai. Dilihatnya nun di sana, Ukun mengaduk-aduk rambutnya (b)
Jodohkan berikut ini
Esok harinya setelah dari toko buku ini bersamanya, jadwalku berubah seratus delapan puluh derajat. Pagi-pagi aku berangkat ke sekolah. Masuk jam tujuh teng. Sekolahku dekat dengan rumah kardus. Berangkat bersama adikku. Jalan kaki.
Latar tempat
Sarwono mendengar si Sudra itu memanggil becak di depan pagar rumahnya dan melambaikan tangan, Salamku untuk Pingkan, ya, Sar.
Latar suasana
Tubuh yang selama ini kupeluk sendiri dalam gigil yang merasuki. Hujan dan Panas telah menempa. Semua hampir saja membuatku kehilangan kendali.
Latar waktu
Aku menyeka sudut mataku yang berair. Tidak. Aku sudah berjanji kepada Ibu.
Latar tempat
Keturunan Abbas inilah yang mendirikan kerajaan bani dan Kota Baghdad. Setelah rajanya yang terakhir, Al-Musta’sim dibunuh oleh Hulagu Khan, dan negeri Baghdad dihancurkan, keturunannya pun lari ke Mesir.
Latar suasana
Aku hanya buruh dua tahun setengah untuk menyelesaikan bachelor degree-ku di jurusan Commerce NUS. GPA (grade point average)-ku tak kurang satu desimal pun dari nilai maksimal. Sempurna, Terbaik dalam catatan sejarah kampus tersebut. Namaku dipahat di plakat depan halaman kampus. Pengamen yang dekil, hitam, bau, rambut mengikal disiram teriknya jalanan berdebu telah mencatatkan namanya di sana. Sayang dia tidak datang ketika aku diwisuda. Bagaimana dia akan datang jika ternyata semenjak kejadian itu dia tak pernah menghubungiku lagi secara langsung? Semenjak pernikahan itu.
Sudut pandang yang digunakan adalah (a)
Malam ini adikku nyaris menyelesaikan Lego-nya. Dedeknya juga sudah bisa menghafal semua abjad. Bayangkan, hanya dalam waktu satu hari. Hari pertamanya sekolah. Aku bergumam, bagaimana mungkin adikku tidak hafal, kalau sepanjang mengamen tadi dia selalu berdengung seperti lebah menyebut satu per satu huruf-huruf tersebut sambil menabuh kencrengan. Menggangguku bernyanyi. Seharusnya aku tadi menyanyikan lagu anak-anak belajar membaca; kan lebih cocok dengan kebutuhan Dede. Lagu itu sayangnya tak pernah menarik penumpang bus kota untuk memberikan uang.
Sudut pandang yang digunakan adalah (a)
Randi mendekat dan dia duduk dihadapanku. Tubuh Randi memang sedikit lebih tinggi daripada tubuhku. Ia rajin berolahraga sehingga tubuhnya sehingga tubuhnya terbentuk bagus. Dia lelaki ganteng yang kurang pintar dalam hal akademik. Begitulah istilah diberikan oleh putri.
Sudut pandang yang digunakan adalah (a)
Alira memang meninggal, tetapi perjuangan dan keteguhan hatinya tetaplah terlukis dan hidup, serta menimbulkan kesan yang besar sekali dalam riwayat Islam. Dengan kematian Alira, lapanglah jalan bagi Mu’awiyahra untuk meneruskan rancangan politiknya yang luas, yaitu hendak mendirikan satu sistem monarki, bani Umayyah. Setelah Sayyidina Ali bin Abi Thalibra meninggal, ia digantikan anaknya yang tertua (Hasanra) anak Alira.
Sudut pandang yang digunakan adalah (a)
Anne membantu banyak. Merawat luka itu. Dede juga membantu. Adikku amat cepat dewasa dalam urusan ini; masih ingat soal buku puisinya yang disebut dia di pusara Ibu dulur Adikku menerbitkan buku kumpulan puisi tentang cinta itu sebulan setelah pernikahan mereka: "Titip Rindu buat Ibu!"; dan aku mengumpat adikku, karena isinya jauh api dari panggang tentang Ibu.
Tokoh dan penokohan di atas adalah ....
Malam ini adikku nyaris menyelesaikan Lego-nya. Dedeknya juga sudah bisa menghafal semua abjad. Bayangkan, hanya dalam waktu satu hari. Hari pertamanya sekolah. Aku bergumam, bagaimana mungkin adikku tidak hafal, kalau sepanjang mengamen tadi dia selalu berdengung seperti lebah menyebut satu per satu huruf-huruf tersebut sambil menabuh kencrengan. Menggangguku bernyanyi. Seharusnya aku tadi menyanyikan lagu anak-anak belajar membaca; kan lebih cocok dengan kebutuhan Dede. Lagu itu sayangnya tak pernah menarik penumpang bus kota untuk memberikan uang.
Tema di atas adalah ....
Pernahkah kalian menonton film yang jagoannya baru datang pada detik-detik terakhir? Ketika kekasihnya akan maju entah melakukan atau menerima apa, pasangan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang di detik-detik yang menentukan itu (dengan cara spekrakuler pula). Melalui sebuah adegan lambat yang memesona, semua penonton terkesima. Bersorak menyambut kedatangan sang jagoan! Dan pasangannya sambil berdenting air mata maju ke medan laga entah melanjutkan apa yang akan dikerjakannya. Itulah yang terjadi padaku saat graduation day. Setelah berjuang habis-habisan di ujian terakhir, akhirnya aku berhasil melampui 0,1 digit si nomor satu selalu. Tipis sekali. Aku mendapatkan predikat terbaik. Kepala Sekolah SMA-ku menyerahkan penghargaan kristal pohon lime kepadaku. Dan saat aku akan menerimanya, dia masuk terburu-buru ke dalam ruangan auditorium. Berseru melambai. Mengesankan. Jantungku berdetak kencang. Bahagia.
Alur yang digunakan pada penggalan cerita di atas adalah ....
Aku sudah menerimanya di kamar tetapi tidak diapa-apakan sama dia, Kram. Itu semacam penghinaan atau apa aku tak tahu. Kau tahu kalau ada perempuan menerima laki-laki di kamarnya tentu dia sudah siap – dan mungkin malah berharap – agar diapa-apakan. Tetapi si Bonar sahabatmu itu tidak, malah curhat bahwa istrinya sebentar lagi akan menyusul dan dia sebel karena istrinya suka melarangnya ini-itu, dan tentu dia harus cari dorm atau kos di mana gitu yang dekat kampus dan nanti istrinya malah ganggu studinya dan minta dibeliin ini itu – dan itu mahal dan begini dan begitu dan begini lagi dan begitu lagi tetapi aku tidak diapa-apakannya gila gak itu?
Amanat cerita di atas adalah ....
Aku memutuskan untuk tidak pulang saat liburan sebelum semester baru dimulai di NUS. Aku hanya bilang, bukankah sebulan yang lalu sudah pulang. Lagi pula tiga bulan lagi aku juga pulang saat pernikahan mereka, buat apa membuang-buang uang. Jadi, aku menghabiskan waktu sebulan setengah di Singapura hanya dengan luntang-lantung. Itu jauh lebih baik dibandingkan kalau aku harus pulang, bukan? Hanya membatu di rumah itu. Melihat segalanya. Menjadi saksi persiapan acara pernikahan mereka. Tiga bulan lagi? Satu setengah bulan itu benar-benar menjadi masa-masa tersulitku (dengan masalah yang berbeda dibandingkan tiga tahun jadi anak jalanan dulu). "Kau tidak berhak untuk keberatan, honey." Anne menatapku prihatin. Aku memutuskan berkunjung ke rumah Anne di Kuala Lumpur.
Alur yang digunakan adalah ....
