NEW
Font size
WorksheetsPenilaian Harian 3.5 dan 3.6 Teks Cerita Pendek
Total questions: 40
Worksheet time: 49mins
Resolusi pada teks cerpen adalah tahapan di mana ...
Pengarang menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca
Berbagai kerumitan bermunculan
Konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi
Konflik mencapai sebuah selesaian atau leraian
Perpaduan antara unsur-unsur yang membangun cerita sehingga merupakan kerangka utama cerita disebut dengan ...
Alur
Latar
Tokoh
Sudut pandang
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Tema yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Sosial
Politik
Pendidikan
Agama
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Latar suasana yang tergambar dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Menakutkan
Mengenaskan
Mengharukan
Menegangkan
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Sudut pandang dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Orang pertama tunggal
Orang ketiga tunggal
Orang ketiga jamak
Campuran
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Watak tokoh Karjan dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Mudah pasrah
Mudah mengalah
Mudah menangis
Mudah menyerah
“Kang, kita harus benar-benar pergi dari sini?” Tanya Siti Halimah di sela tangisnya.
“Tentu saja. Seperkasa apa pun perlawanan kita, ternyata tetap kalah melawan yang berkuasa. Kita ini hanya wong cilik, orang iskin,” sahut Karjan sembari melihat rumah Lik Paijan yang siap diruntuhkan.
Teriakan Lik Paijan masuh terdengar menyayat hati. Lelaki tua itu merebut tali yang mengikat seekor sapi miliknya. Wajahnya memerah seperti nyaris terbakar, suaranya melengking-lengking menolak pengosongan rumahnya. Tetapi, pelawanan Lik Paijan pun percuma saja. Beberapa petugas berbadan tegap mengangkat tubuhnya. Melihat itu, tangis Siti Halimah semakin pecah. Dia mendekap Satriya Piningit lebih erat.
“Akhirnya kita harus pergi dari rumah kita sendiri, Kang. Pergi dari kampong yang membesarkan kita,” ucap Siti Halimah getir.
“Iya, mau tak mau kita harus mengalah. Gusti Allah tidak tidur, Bune. Di tempat lain, semoga kita mendapat ladang rezeki yang lebih baik lagi,” ujar Karjan.
Hubungan antarunsur intrinsik dalam kutipan cerpen tersebut adalah ….
Latar tempat berkaitan dengan konflik
Latar sosial berkaitan dengan konflik
Tema berkaitan dengan watak tokoh
Tema berkaitan dengan latar suasana
Kelihatan seorang kakek berjalan bersama cucunya seorang gadis belia yang cantik. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orang tuanya dan di mana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita. “Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan ke desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini, dan mereka pun menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya.
Latar tempat pada cerita di atas adalah...
di bawah pohon rindang.
di perkampungan.
di hutan rimba.
di jalan pedasaan.
Dengan tergesa-gesa Ersa menaiki bus yang nyaris meninggalkan suasana yang kurang nyaman baginya. Dari kejauhan terdengan sayup suara “… penumpang bus Gemilang harap untuk segera memasuki kendaraan…”. Hati Ersa agak tenang karena dia sudah berada di dalamnya. “Mudah-mudahan sore nanti aku bisa berada di acara itu,” harapnya dalam hati.
Latar waktu dan tempat pada penggalan cerpen tersebut adalah …
sore hari, terminal
siang hari, perjalanan
siang hari, terminal
pagi hari, perjalanan
“kita sebagai pendidik tidak boleh memandang masalah secara hitam-putih pak, diah itu telah banyak menanggung beban hidup, sudah selayaknya kita ikut mendampingi dan membantunya, bukan malah menambah bebannya.
Amanat yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah…..
sebagai manusia harus saling tolong-menolong
seorang pendidik harus bisa membantu siswanya dalam mengatasi permasalahan hidup
Guru harus bersikap professional dalam mendidik muridnya
guru harus memiliki sikap kasih sayang dalam mendidik
Pengarang menuturkan cerita dirinya sendiri, dengan pelaku aku/orang pertama tunggal/jamak, berarti kedudukan pengarang dalam cerpen tersebut sebagai...
tokoh bawahan
tokoh pengamat
campuran
tokoh utama
Pengarang sebagai orang yang berada di luar cerita dan tidak terlibat dalam cerita, dengan menggunakan pelaku utama ia/dia. Kedudukan pengarang dalam cerita tersebut sebagai....
tokoh figuran
tokoh utama
pengamat
tokoh protagonist
Seperti teman-temannya yang lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang pada ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yang mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu, ia dan ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya dan digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, dan spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi pada malam hari adalah ....
kalimat pertama pada paragraf pertama
Kalimat ketiga pada paragraf kedua.
Kalimat keempat pada paragraf kedua
Kalimat terakhir paragraf pertama.
Tokoh Bandung Bondowoso dalam cerita Roro Jonggrang memiliki watak gigih.
Kalimat di atas merupakan contoh dari ...
Penokohan
Tokoh
Alur
Latar
Di bawah ini yang tidak termasuk ke dalam unsur intrinsik cerpen adalah….
Tokoh
Alur
Latar belakang pengarang
Latar atau setting
Pesan moral yang disampaikan oleh penulis kepada pembaca melalui cerpen adalah pengertian dari ...
Amanat
Alur
Tokoh
Latar
Berikut merupakan struktur cerpen ....
Orientasi - Komplikasi - Resolusi
Orientasi - Resolusi - Komplikasi
Komplikasi - Orientasi - Resolusi
Resolusi - Komplikasi - Orientasi
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Suatu hari tinggalah keluarga yang sangat kaya. Orang-orang mengenal keluarga tersebut sebagai keluarga Pak Mulya. Pak Mulya memiliki anak tunggal bernama Adit. Adit tumbuh dan dibesarkan tanpa kekurangan apapun. Apapun yang ia mau selalu terpenuhi. Hingga Adit sekarang duduk di bangku SMA. Adit sering membolos sekolah hanya untuk bermain PS ataupun menghabiskan uang bersama teman-temannya.
Struktur teks cerpen yang tepat untuk penggalan cerpen tersebut adalah ....
Orientasi.
Rangkaian peristiwa.
Komplikasi.
Resolusi.
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Suatu ketika, Pak Mulya mengalami bangkrut. semua aset tanah ditarik oleh bank. mobil yang dulu berjajar kini hanya tinggal garasi. dan harta satu satunya yang beliau miliki tinggal rumah.
bu Mulya pun tak bisa menahan perasaannya, dan menceritakan kepada Adit. Adit kaget seketika. Ia mulai dijauhi teman-temannya. Adit hanya memiliki keluarga.
Struktur teks cerpen yang tepat untuk penggalan cerpen tersebut adalah ....
Orientasi.
Rangkaian peristiwa.
Komplikasi.
Resolusi.
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Adit menyadari semua, bahwa yang terpenting didunia ini adalah keluarga. Adit beranikan diri setelah lulus SMA. berkerja menjadi penjual buah.
lalu rejeki yang didapatkan melimpah hingga mampun membuka toko jus.
hingga membuka cabangan dimana-mana. bahkan diantara teman-teman Adit yang dulu meninggalkannya. Hanya Adit yang kini menjadi mandiri dan bisa membantu keluarga. Tak pernah menyerah untuk keluarga.
Struktur teks cerpen yang tepat untuk penggalan cerpen tersebut adalah ....
Orientasi.
Rangkaian peristiwa.
Komplikasi.
Resolusi.
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Sinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasaan telah lenyap. Selain itu, televisi dan beberapa peralatan elektronik ada di ruang tengah. Bu Sinta terduduk lemas tatkala melihat sebuah catatan kecil di atas bantal. “Sekarang kalian tahu siapa pengirim karcis itu.”
Kata yang dicetak tebal termasuk kaidah kebahasaan ....
Konjungsi penanda urutan waktu.
Penggunaan kata ganti orang.
Penggunaan dialog/kalimat langsung.
Kata kerja aksi.
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Sinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang dan perhiasaan telah lenyap. Selain itu, televisi dan beberapa peralatan elektronik ada di ruang tengah. Bu Sinta terduduk lemas tatkala melihat sebuah catatan kecil di atas bantal. “Sekarang kalian tahu siapa pengirim karcis itu.”
Kata yang dicetak tebal termasuk kaidah kebahasaan ....
Konjungsi penanda urutan waktu.
Penggunaan kata ganti orang.
Penggunaan dialog/kalimat langsung.
Kata kerja aksi.
(1) Pagi tadi Eyang menyuruh Bi Jum, pembantunya, mengantar Via berobat ke puskesmas. (2) Sudah dua hari Via pilek. (3) Biasanya Eyang sendiri yang mengantar Via berobat. (4) Namun tetangga sebelah meninggal. Eyang melayat ke tetangga sebelah.
Kalimat yang menggunakan keterangan waktu adalah kalimat ...
Pertama dan kedua.
Kedua dan Ketiga.
Ketiga dan keempat.
Kedua dan keempat.
(1) "Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2) Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3) Biarlah menjadi rahasia alam akan apa yang kita rasakan ini. (4) Jangan lagi memaknainya, menanyakannya atau mengharapkannya esok hari.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat pada nomor ….
1
2
3
4
Unsur pembangun cerpen yang meliputi tempat, waktu, dan suasana yang tergambar dalam cerita disebut ....
Tokoh.
Latar.
Alur.
Sudut pandang.
Apa perbedaan cerpen dan novel yang tepat adalah ....
Cerpen memiliki unsur intrinsik sedangkan novel tidak.
Cerpen dan novel mempunyai tokoh utama.
Cerpen menceritakan konflik tokoh yang terbatas sedangkan novel menceritakan tokoh yang lebih kompleks.
Cerpen tidak bisa habis dibaca dalam sekali duduk. Sedangkan novel bisa dibaca dalam sekali duduk.
Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa dalam sebuah cerita?
Gaya bahasa hanya berkaitan dengan dialog antar karakter.
Gaya bahasa adalah cara penulis menyampaikan cerita melalui penggunaan kata-kata dan teknik sastra.
Gaya bahasa adalah tema utama dalam cerita.
Gaya bahasa tidak mempengaruhi alur cerita.
Apa yang dimaksud dengan konflik dalam alur cerita?
Konflik adalah karakter yang selalu bahagia dalam cerita.
Konflik adalah bagian yang tidak penting dalam cerita.
Konflik adalah pertentangan atau masalah yang dihadapi oleh karakter dalam alur cerita.
Konflik adalah latar belakang cerita yang mendukung alur.
Suatu cerpen berbeda dengan puisi. Perbedaan cerpen dengan puisi dapat ditemukan pada …
adanya tema dalam cerpen
cerpen memiliki imajinasi
cerpen memiliki alur
adanya gaya bahasa dalam cerpen
Dari bentuknya, cerpen termasuk dalam karya sastra yang berupa …
prosa
fiksi
nonfiksi
dialog
Perhatikan kutipan berikut!
"Kamu mengapa, Du?" tanya kakek dengan sedih. "Maafkan Badu, Kek. Tadi Badu makan mangga yang masih kecil-kecil dan akhirnya Badu sakit perut," kata Badu sambil terisak. "Sudahlah, Du, lain kali tunggulah sampai mangga itu ranum, baru Badu boleh memetiknya."
Amanat penggalan cerpen tersebut adalah...
Jangan melawan kepada orang tua
Kita harus menuruti nasihat orang tua
Janganlah memetik mangga sembarangan
Janganlah makan mangga yang masih kecil.
Perhatikan kutipan cerpen berikut!
Sarjo mempersilakan Pak Sukardi beserta anak buahnya untuk masuk ke rumahnya melihat tanaman koleksi Sarjo sekaligus mampir untuk beristirahat. Pak Sukardi kaget melihat koleksi Sarjo. Ternyata Sarjo memiliki bonsai yang lebih banyak daripada koleksi di rumahnya.
"Mas, saya ingin membeli bonsai yang berpot besar itu!"
"Sudah Pak, ambil saja! Saya sudah sejak kecil mengumpulkan ini semua."
(Andi Dwi Handoko, "Bonsai")
Karakter tokoh Sarjo dalam kutipan tersebut adalah ....
ramah, telaten, dermawan
rajin, pemarah, teliti
ceroboh, malas, kaya
cermat, pelit, perhitungan
Bertahun-tahun pasukan Belanda dan centeng-centeng demang mengepung Gunung Beser, tetapi Jaya Sakti tidak pernah menyerah.
Berdasarkan kutipan cerita pendek di atas, tokoh Jaya Sakti mempunyai karakter ….
penakut
pemberani
sesumbar
pengecut
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan yang kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore hari adalah...
Mentari meredup
Pucuk daun sebelah barat
Ketika kerumunan tidak bersama
Kebohongan yang disampaikan tokoh kamu
Berikut ini yang tidak termasuk dalam sudut pandang yang digunakan penulis dalam sebuah cerita pendek adalah....
Sudut pandang orang pertama
Sudut pandang orang ketiga
Sudut pandang orang pertama pelaku utama
Sudut pandang orang keempat
Di sinilah ayah dulu mengajariku berenang, mengajariku bunyi gemeletak punggung buaya lapar dan kecipak anak-anak ikan kemuring. Disini juga ayah mendidikku membedakan suara katak daun dan suara keciap ular manau, yang meniru suara katak untuk melahapnya. Sering aku dan ayah menyusupi celah-celah nifah, menyelam di bawah gemersik pelepahnya, saling menguji ketahanan dengan tidak bernapas. Lamunanku buyar ketika telapak kakiku yang mencelup air dikerumuni ikan nari dan batu tempat aku duduk tidak tersinari lantaran matahari hampir tenggelam.
Tema kutipan cerpen tersebut adalah ....
kasih sayang seorang ayah
kehidupan di laut
berenang bersama
air sungai yang dingin
Tetapi rasa gundah gulanaku kali ini bukan lagi karena mengenang Bang Rizani. Aku telah melepas kepergiannya dengan segala kesucian hati dan kejernihan asa. Aku tidak mungkin membohongi naluri keperempuananku. Sepuluh tahun menyendiri bukan waktu yang sekejap. Aku merasa bagaikan sepotong pualam yang tidak boleh tergores sedikit pun supaya selalu berharga di mata banyak orang.
Nilai moral yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dalam kutipan tersebut adalah ...
Seorang istrinya selalu mengenang suaminya yang telah meninggal.
Seorang istri yang setia sampai mati terhadap suaminya
Seseorang wanita ibarat sepotong pualam yang sewaktu-waktu dapat pecah.
Seorang wanita yang telah ditinggal mati suaminya dapat menjaga diri
Baik hati pun pergi ke sebidang tanah tandus itu sambil membawa bibit semangka dan kuda pincang yang menjadi bagiannya. Meskipun mendapat warisan yang kurang menguntungkan, Baik Hati tidak putus asa. Ia langsung menanami lahan tandus itu dengan bibit semangka. Kuda pincang yang ia tambatkan di pohon membuang kotoran sembarangan. Namun, Baik Hati tidak marah. Ia malah mengumpulkan kotoran itu dan menjadikannya pupuk.
Sudut pandang dalam cerita tersebut adalah ....
Orang pertama tokoh utama
Orang pertama sebagai pengamat
Orang kedua
Orang ketiga serba tahu
Menjelang fajar, Setiani terbangun, karena perutnya merasa mulas, "mungkin sudah waktunya bayi kita lahir," ujar Mas Juremi dengan gugup bercampur gembira segera diantarkannya berupa Setiani ke klinik. Bu Bidan langsung membantu Setiani melahirkan anaknya dengan lancar.
Unsur ekstrinsik yang tepat pada kutipan cerpen tersebut berupa nilai....
budaya
moral
sosial
agama
(1) "Ini sekalian untuk periksa Puput ke dokter. Biaya dokter mahal. Ayo terima saja. Aku sedih dengar Puput sakit..." jelas Katropal. (2) Setelah mendapatkan uang. Nani segera membawa Puput ke dokter. Dia ingin anak semata wayangnya segera sembuh. (3) Dokter menyarankan Puput dibawa ke rumah sakit. Tanpa kata-kata Nani meninggalkan ruang praktik dokter. Kepala Nani tiba-tiba berdenyut-denyut. Tidak pernah terbayangkan oleh Nani, jika suatu hari ia harus berurusan dengan rumah sakit. Berurusan dengan rumah sakit seperti berurusan dengan polisi pasti berbelit . Hal terakhir ini yang membuat kepala Nani terus berdenyut nyeri. (4) Menggendong Puput membuat Nani makin tidak berdaya.
Konflik yang dialami tokoh Nani dalam kutipan cerpen tersebut adalah....
memeriksa anak semata wayang ke dokter
sakit kepala membuat semakin tidak berdaya
berurusan dengan polisi yang pasti berbelit-belit
keengganan tokoh berurusan dengan rumah sakit
