Font size
WorksheetsLATIHAN ASAS 2 B.INDO XI
Total questions: 52
Worksheet time: 2hrs 44mins
XI ANI
XI TJKT
Jenis drama yang menonjolkan gerakan tanpa kata-kata disebut ...
Monolog
Pantomim
Tablo
Opera
Dagelan
Antagonis adalah peran tokoh dalam drama yang memiliki watak ....
Tidak baik
Tidak mengalami perubahan
Baik
Tersakiti
Penambah suasana
Pagi itu terasa amat dingin menusuk kulit, ketika Rian dan Alma sama-sama meneguk kopi bersama untuk sekadar menghangatkan hubungan mereka yang nyatanya lebih dingin dari udara. Mereka bingung akan memulai dari mana. Setelah beberapa menit hanya diam, akhirnya Alma membuka percakapan pagi itu dengan suara lirihnya.
Paragraf di atas merupakan bagian dari naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Sukro : Sudahlah, Min! Suatu saat pasti berhasil. Jangan mudah putus asa!
Tasmin : Tapi, saya sudah keluar modal banyak. Kapan sepeda motorku bisa kembali?
Watak tokoh Sukro berdasarkan dialog di atas adalah ....
Pesimis
Pemarah
Optimis
Kritis
Penyabar
Akhirnya, keluarga mengetahui maksud Otong berbohong adalah agar tidak disuruh mencangkul sawah. Kesal betul ayah dan ibunya dibohongi hingga panik kesana kemari. Setelah puas memarahi Otong, merekapun pergi meninggalkan Otong yang termenung malu meratapi kemalasannya yang merepotkan.
Paragraf di atas merupakan naskah drama bagian ....
Epilog
Resolusi
Konflik
Prolog
Dialog
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
Pesan yang disampaikan kepada penonton dikenal dengan istilah .....
Setting
Memo
Latar
Tema
Amanat
Jenis drama yang menggabungkan cerita sedih dan lucu disebut ...
Tragedi
Komedi
Melodrama
Tragikomedi
Dagelan
Bacalah teks drama berikut!
Cindua Mato : Raja Mudo adik Bundo Kandung sendiri. Kalau terjadi pertengkaran lalu menimbulkan peperangan, siapa yang akan malu? perang saudara itu tidak akan pernah selesai turun-temurun.
Bundo Kandung: Aku sudah berada di balik semua. Jika kau takut, katakan saja. Perang bukan barang baru bagi kerajaan.
Cindua Mato: Mengapa Bundo Kandung sampai hati ingin mengacaukan perkawinan Putri Bungsu? Bukankah yang kawin itu anak Bundo Kandung juga? Jika perang dilaksanakan, kemudian salah seorang mati terbunuh,a pakah kita tega? Dan bagaimana kata ayahnya nanti, jika kedua anaknya saling berbunuhan? Aku ingin membuka sedikit selubung hati kita yang tertutup selama ini.
Watak tokoh Cindua Mato pada penggalan teks tersebut adalah ...
pendendam dan emosional
emosional dan penyayang
penyayang dan sabar
sabar dan emosional
sabar dan bijaksana
. Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Maya : Pokoknya, Ibu harus setuju!
Ibu : (menarik napas panjang kecewa) Dengan apa Ibu membayarnya?
Maya : (terkejut dan gugup) Kan masih lama, Ibu.
Ibu : Biaya kursus cukup besar, Maya.
Maya : [ … ]
Ibu : (dengan tersenyum) Nah, begitu. Ini gres putri Ibu.
Dialog yang sempurna untuk melengkapi cuilan rumpang kutipan drama tersebut yakni …
a. Iya deh, Maya turuti nasihat Ibu.
b. Maya, kita kini lagi kesulitan.
c. Coba kau mengerti kondisi Ibu.
d. Baiklah Ibu akan beli yang baru
e. Coba ibu pikirkan dulu.
Cermati percakapan dalam drama berikut!
Amir : Di, kita berangkat sekolah sekarang. (Amir bangkit di depan pintu, kemudian Dodi mendekat)
Dodi : Maaf, Mir, tunggu sebentar. (Dodi menyuruh Amir duduk)
Amir : Sebentar, apa lagi yang akan kau kerjakan?
Dodi : Biasa, mengisi dua kolam mandi setiap hari.
Amanat cuplikan drama di atas yakni ….
Bekerjalah sebaik mungkin
Selesaikan pekerjaan di rumah dengan baik
Jadilah anak yang rajin
Belajarlah yang rajin
Berangkat sekolah harus lebih pagi.
Samin : Fred, jangan cepat-cepat bahaya!
Fredi : Alaa, malam begini sepi, tak apa! (Samin menyusul dan menariknya mundur.)
Samin : Kita berhenti dulu!
Fredi : Ah! Lebih cepat sampai ke alamatnya kan lebih baik!
Samin : Ingat yang aku bawa surat penting!
Fredi : Justru itu!
Samin : Pokoknya berhenti, Fred!Aku tidak mau ambil risiko tertangkap Belanda.
Fredi : Baik, Min! Kau yang pegang komando.
Konflik yang terdapat dalam penggalan drama di atas adalah….
Terjadinya pertengkaran antara Samin dan Fredi
Keinginan berhenti untuk beristirahat
Perebutan pemegang komando tugas
Kekhawatiran akan keselamatan surat penting
Kepentingan dua orang yang berbeda
Ayu : Sudah malam lo Sis, kita harus segera pulang
Siska : Sudahlah Yu, tenang saja toh ini baru jam sembilan lebih sedikit. Jalanan masih ramai
Ayu : Ih, sudah malam begini kok tenang. Kan kita perempuan, masak pulang sampai larut malam. Tidak enak kan dengan tentangga. Nanti mereka mengira kita suka keluyuran malam.
Siska : (Dengan sikap tenang) Sudah, nanti saya antar kamu. Memang repot, kita ini perempuan tidak wajar kalau pulang terlalu malam. Kita pun tidak berani melanggar aturan tidak tertulis di masyarakat kita ini.
Penggalan drama di atas mengandung nilai...
sosial
moral
budaya
agama
pendidikan
Sebelum kami berpisah siang itu, ia mengajakku berdoa untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas pertemuan yang disebutkan sangat indah ini. Mataku yang terpejam dalam doa terasa hangat, tersentuh oleh seluruh kata-kata yang diucapkannya lewat doa.
Nilai ekstrinsik yang menonjol adalah ...
budaya
moral
agama
sosial
pendidikan
Dahlan : "Kamis malam Jumat. Jumat apa?"
Rosana : "Malam Jumat Kliwon, Pak! Bukankah hari kelahiran ibu juga jatuh pada hari Jumat Kliwon?"
Dahlan : "Ya, beutl! Ibumu waktu mau meninggal kurang satu minggu sudah ada tanda-tanda.....nasihat-nasihat berharga. Masa hidupnya banyak meninggalkan kesan teladan. Tetapi....juga ada kelemahannya."
Rosana : "Kelamahan? Memang manusia tidak ada yang sempurna"
Dahlan : "Ya, jangan sampai menurun pada anak cucu. Ibumu dahulu sakit-sakitan karena banyak pikiran. Ikut-ikutan orang jual-beli perhiasan. Barangnya hilang, ibumu gigit jari menanggung hutang. Siapa lagi kalau bukan Bapak yang turun tangan?"
Rosana : "Bukankah pada diri Bapak juga ada kelemahannya?"
Dahlan : "Apa? Bapak rasa tidak ada!" (Tongkat terjatuh, kemudian dipungut lagi)
Rosana : "Maaf, Pak.. ibu bertambah sakit akibat Bapak dahulu sering mabuk judi, bukan? Ros masih ingat barang-barang rumah dilelang. Habis terjual!"
Dahlan : "Ya...., itu akibat perbuatan ibumu, tahu! (keras). Serakah dan mau menang sendiri. Mudah-mudahan pengalaman pahit, miskin, tidak terulang lagi!"
Pesan atau amanat yang dapat diambil dari penggalan naskah drama di atas adalah ....
Nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan YME.
Berusahalah sekeras mungkin agar hidup tidak jatuh miskin.
Sifat serakah dan kebiasaan berjudi bisa menghancurkan orang.
Baik dan buruknya sifat anak tergantung dari kebiasaan dan didikan orang tua
Jadilah orang yang mengakui kesalahan agar hidup lebih tenang.
Cermati kutipan drama berikut!
Maskun: Kau mesti peringatkan Suhita! Anak itu kian hari kian menjadi,Mar.
Mardilah: Ada apa dengan Suhita, Pak? Tadi pun dia mengeluh karena katanya kau marahi lagi. Sudah selayaknya kau berdamai dengan dia.
Maskun: Dia yang harus berdamai dengan aku.
Mardilah: mengapa kau berperasaan demikian ?
Maskun: Tak tahu aku. Mulut anak itu semakin berbau racun. Barusan tadi dia berkata. Rumah ini rumah penjara. Dan akulah kepala penjaranya.
Mardilah: Adakah sesuatu yang salah engkau tidak tenang? Adakah yang salah?
Maskun: Aku bukan orang yang lemah! Aku kuat! Kalau kau bisa melarang Suhita bercampur gaul dengan kawan-kawannya yang sok tahu politik itu, nah, baru tidak ada yang salah.
Konflik yang ada pada kutipan drama tersebut adalah ....
Pertengkaran Mardilah dan Suhita tentang kegiatan Maskun
Maskun tidak disenangi Suhita karena tindakannya yang otoriter
Maskun dan Mardilah tidak suka kawan-kawan Suhita
Maskun marah kepada Mardilah karena Suhita ikut pergerakan politik
Suhita marah karena Mardilah membela Maskun
Cermatilah penggalan drama berikut!
Hendra: “Terima kasih, Dik.”
Didik: “Sebenarnya sudah lama aku ingin mengajakmu ke luar kota, tetapi mengingat ibumu sakit, ya kutunda sampai hari ini.”
Hendra: “Ya, itulah Dik, maka aku belum mau melangkah ke luar kota. Tapi, sekarang ibuku sudah sehat dan sudah mulai bekerja lagi. Kalau begitu, kapan kita berangkat?”
Didik: “Bagimana kalau minggu depan?”
Hendra: “Baiklah, aku akan minta izin kepada ibuku dulu.”
Penggalan drama tersebut menceritakan ....
Ibu Hendra sakit dan Hendra harus menungguinya.
Didik ingin mengajak Hendra ke luar kota
Hendra merasa kecewa karena ibunya sakit
Didik menengok Hendra yang sedang sakit
Hendra harus minta izin kepada ibunya
Perhatikan kutipan naskah drama berikut!
Ibu: Jangan mondar-mandir begitu, Adang!
Adang: Apa kata ibu?
Ibu: Jangan mondar-mandir, kubilang!
Adang: (adang memandang ibu dengan tak senang ia meneruskan langkah-langkahnya sebagai menantang)
Ibu: Adang!
Adang: Jadi, aku mesti bagaimana
Ibu: Jangan seperti orang linglung. Berbuatlah apa-apa
Adang: Aku sedang berbuat apa-apa sekarang. (ia mondar-mandir lagi dengan lebih tidak peduli)
Ibu: Dengar, Adang. Pergi kau tidur sekarang, atau pergilah ke mana saja, asal pergi dari sini. Bisa gila aku melihatmu begitu!
Adang: Apa salahnya aku mondar-mandir! (tapi dengan kesal ia duduk juga di kursi) ibu benci melihatku, tidak? (tapi ibu mengacuhkannya) Aku perlu hadir di sini)
(Titik-titik hitam, nasjah djamin)
Amanat yang terdapat dalam kutipan drama tersebut adalah ....
Hargai pendapat dan kebiasaan orang lain
Jika tidak suka melihat kebiasaan orang lain jangan melihatnya
Orang harus menghargai apa yang dilakukan orang lain
Sampaikan pendapat dengan bahasa yang sopan agar tidak menyinggung orang lain
Jangan memaksa orang lain melakukan perbuatan yang tidak dia suka.
Bacalah teks drama berikut ini !
Tampak Ken Arok tidur di suatu tempat yang agak tinggi, sesuatu yang dapat dibayangkan penonton sebagai batu besar atau cabang pohon dan sebangsanya. Tita, sahabat, dan pembantu Ken Arok berdiri di suatu tempat sambil mengamati ke arah rombongan pedagang yang akan datang. Beberapa orang, antara tiga sampai lima orang pendekar, berada di dekatnya juga tampak mengawasi dan gelisah.
Pendekar 1 : “Tita, bisakah dia tidur seperti itu?”
Tita : (tersenyum) “Apa salahnya dia tidur?”
Pendekar 1 : “Ya, tidak ada salahnya. Tapi, rasanya tidak pantas saja. Orang lain sedang gelisah dan tegang, tetapi dia enak tidur”
Tita : “ Kalau kau takut, kami tidak memaksamu ikut perjalanan ini.”
Pendekar 1 : “Asal kau tahu saja, aku tidak takut.”
Tita : “Barangkali, kau tidak mempercayainya?”
Pendekar 1 : (ragu-ragu) “Tidak. Dia begitu terkenal, tidak mungkin dia bersikap sembrono.”
Tita : (tersenyum) “Kau mungkin tidak akan pernah bisa memahaminya. Dia bukan manusia. Sekarang, tenanglah dan kembali berjaga.”
Latar tempat dari cerita dalam naskah drama tersebut adalah . . .
Hutan
Rumah
Gunung
Kamar
Jalan
Pengatur jalannya pementasan dalam pementasan drama disebut.....
Produser
Aktor
Aktris
Perias
Sutradara
