NEW
Font size
WorksheetsSoal UAS KMB II, D3 Sem. IV (Dosen FX Dotulong) 11 Juni 2025
Total questions: 25
Worksheet time: 13mins
Seorang pasien laki-laki berusia 65 tahun menjalani pembedahan akibat Hyperplasia Prostat. Berdasarkan tingkat urgensinya, pembedahan yang dijalani oleh pasien termasuk pada:
Emergency
Urgen
Elektif
Pilihan
Diperlukan
Seorang pasien perempuan berusia 30 tahun menjalani pembedahan akibat Perforasi Appendiks. Berdasarkan tingkat Urgensinya, pembedahan yang dijalani oleh pasien termasuk pada:
Emergency
Urgen
Elektif
Pilihan
Diperlukan
Seorang pasien laki-laki berusia 50 tahun menjalani pembedahan Debridemen Jaringan Nekrotik karena mengalami ulkus diabetikum pada daerah plantar metatarsal. Berdasarkan Tujuan pembedahan maka kasus ini termasuk pada pembedahan:
Konstruktif
Kuratif
Rekonstruktif
Paliatif
Diagnostik
Seorang pasien perempuan berusia 45 tahun menjalani pembedahan Amputasi Digiti 3 Dextra akibat Ulkus Diabetikum Grade 4. Berdasarkan Tujuan pembedahan maka kasus ini termasuk pada pembedahan:
Konstruktif
Kuratif
Rekonstruktif
Paliatif
Diagnostik
Seorang pasien anak berusia 12 tahun menjalani pembedahan Labioschizis / Bibir Sumbing. Berdasarkan Tujuan pembedahan maka kasus ini termasuk pada pembedahan:
Konstruktif
Kuratif
Rekonstruktif
Paliatif
Diagnostik
Florence merupakan seorang perawat terampil yang saat ini bertugas di ruang operasi. Saat bertugas, dia memiliki peran untuk melakukan manajemen dan suplai alat instrumen operasi dgn cara mengatur alat2 yang akan dan telah digunakan. Berdasarkan perannya, Florence dikategorikan sebagai perawat kamar operasi bagian:
Administrasi
Scrub
Unloop
Anastesi
Recovery Room
Nightinggale merupakan seorang perawat terampil yang saat ini bertugas di ruang operasi. Saat bertugas, dia memiliki peran untuk menyediakan suplai alat instrumen dan alat tambahan. Berdasarkan perannya, Nightinggale dikategorikan sebagai perawat kamar operasi bagian:
Administrasi
Scrub
Unloop
Anastesi
Recovery Room
Pris merupakan seorang perawat terampil yang saat ini bertugas di ruang operasi. Saat bertugas, dia memiliki peran untuk memasang semua elektroda, monitor atau alat2 lain pada pasien yang menjalani tindakan pembedahan. Berdasarkan perannya, Pris dapat dikategorikan sebagai perawat kamar operasi bagian:
Administrasi
Scrub
Unloop
Anastesi
Recovery Room
Abas merupakan seorang perawat terampil yang saat ini bertugas di ruang operasi. Saat bertugas, dia memiliki peran untuk mengobservasi serta mencatat status TTV, obat-obatan, oksigenasi, cairan, transfusi darah, status sirkulasi dan merespons tanda2 komplikasi. Berdasarkan perannya, Abas dikategorikan sebagai perawat kamar operasi bagian:
Administrasi
Scrub
Unloop
Anastesi
Recovery Room
Cuci tangan, pemakaian handscoen, pemakaian masker, pemakaian kaca mata, pemakaian baju operasi, manajemen benda tajam dgn tepat, merupakan bagian dari manajemen asepsis perioperatif yang termasuk pada:
Desinfeksi
Manajemen lingkungan
Sterilisasi
Konsep Infeksi Nosokomial
Universal Precautions
Pemberian obat anastesi yang langsung disuntikkan ke sekitar saraf atau pangkal saraf, seperti pada pleksus brakialis untuk anastesi area lengan, merupakan teknik pemberian anastesi:
Anastesi Spinal
Anastesi Infliltrasi Lokal
Anastesi Lokal
Anastesi Regional
Anastesi Blok
Cara pemberian obat anastesi inhalasi dengan cara campuran gas bius & oksigen diisap dari kap (masker) yg berhubungan dgn balon pernapasan, merupakan cara pemberian dengan teknik:
Closed
Insuflasi
Semi Closed
Close Drop
Open Drop
Pada saat pemberian anastesi dengan teknik inhalasi, dalam pemantauan melalui hasil pengkajian diperoleh data bahwa R 26 x/menit dan tidak teratur, N 110 x/menit dan tidak teratur serta peningkatan TD 140/100 mmHg. Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa klien sudah berada pada stadium anastesi:
Delirium
Analgesia
Pembedahan
Keracunan
Koma
Jarum heacting berbentuk segitiga yang lebih kecil dengan batang gepeng, bisa digunakan untuk menjahit daerah rongga mulut, uterus, ligament:
Needle
Taper
Tapercut
Triangular
Blunt
Salah 1 teknik jahitan bedah yang sering digunakan untuk jahitan situasi yaitu:
Matras vertikal
Matras horizontal
Jelujur intracutan
Simpul tunggal
Jelujur sederhana
Pemberian posisi Sims merupakan teknik pengaturan pasien di meja operasi untuk pembedahan pada daerah:
Ginjal
Laparatomi
Pelvis
Vaginal
Sectio Caesarea
Instrumen bedah yang digunakan untuk memegang jarum jahit dan membuat simpul benang:
Bisturi
Disecting scissor
Clamp
Needle Holder
Scalpel
Instrumen bedah yang digunakan sebagai gagang pisau bedah:
Bisturi
Disecting scissor
Clamp
Needle Holder
Scalpel
Ruang Induksi dalam konsep tata ruang kamar bedah termasuk pada daerah:
Daerah Bebas (Unrestricted Area)
Daerah Semi Terbatas (Semirestricted Area)
Daerah Terbatas (Restricted Area)
Daerah Non-Steril
Daerah Steril
Berdasarkan pembagian zona pada sarana ruangan kamar bedah, kamar bedah termasuk pada zona:
Zona 1, Tingkat Resiko Rendah
Zona 2, Tingkat Resiko Sedang
Zona 3, Tingkat Resiko Tinggi
Zona 4, Tingkat Resiko Sangat Tinggi
Zona 5, Area Nuklei Steril
Alat yang digunakan untuk menjepit jaringan saat proses operasi, seperti saat diseksi, penjahitan luka, dan pengangkatan jahitan:
Pinset Anatomis
Pinset Sirugis
Pinset Splinter
Klem Arteri
Klem Kocher
Insisi yang dibuat secara horizontal tepat di atas pubis (suprapubic incision) disebut:
Midline
Paramedian
Pararectal
Pfannenstiel
Transverse Epigastric
Tanda terjadinya Trombosis Vena Profunda pada pasien yang menjalani pembedahan dengan posisi bedah litotomi, atau bedah pelvis, yaitu:
Tungkai membengkak, vena lebih menonjol
Kaki sulit digerakkan, mati rasa area kaki
Luka operasi sulit sembuh
Nadi lemah, kulit dingin
Perdarahan pada luka operasi
Salah 1 tanda adanya perdaharan internal yang merupakan respons perdarahan pasca operatif yaitu:
Adanya darah pada drain
Adanya darah pada balutan luka
Lokasi pembedahan menjadi merah
Lokasi pembedahan menjadi bengkak & kencang
Luka perdarahan tertutup
Risiko hipotermia perioperatif merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai:
Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 35°C secara tiba-tiba, yang terjadi 1 jam pre operatif hingga 24 jam post operatif
Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 35°C secara tiba-tiba, yang terjadi 2 jam pre operatif hingga 12 jam post operatif
Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 36°C secara tiba-tiba, yang terjadi 1 jam pre operatif hingga 24 jam post operatif
Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 36°C secara tiba-tiba, yang terjadi 2 jam pre operatif hingga 12 jam post operatif
Berisiko mengalami penurunan suhu tubuh di bawah 37°C secara tiba-tiba, yang terjadi 1 jam pre operatif hingga 24 jam post operatif
