WorksheetsStatistik fasyankes
Total questions: 18
Worksheet time: 18mins
laporan RS, terdapat 55 bayi lahir, 18 meninggal, 6 di antaranya disebabkan asphyxia. Berapa rasio kematian asphyxia
30%
33%
10,9%
32,7%
bulan Mei dilakukan 250 operasi . Total LOS pre operasi adalah hari 525. Berapa rata-rata lama rawat pre operasi
2 hari
1 hari
1,8 hari
3 hari
350 kelahiran hidup, 6 kematian ibu pasca persalinan karena perdarahan. Berapa MMR dalam 100.00 kelahiran hidup
1000
1521
1714
1600
Diketahui 980 kelahiran hidup, 17 bayi lahir mati. Berapa nilai Fetal death rate?
2%
1,71%
1,73%
3%
1.000 pasien keluar bulan April, dengan 12 kematian. Namun, 5 kematian terjadi setelah 48 jam. berapa nilai NDR
0,7%
0,5%
0,1%
0,3%
Rasio kematian janin terhadap seluruh kelahiran (hidup dan mati)
Fetal death rate
Neonatal death rate
Maternal death rate
Early death
Seorang ibu hamil datang ke rumah sakit dengan keluhan tidak merasakan gerakan janin. Setelah dilakukan pemeriksaan ultrasonografi oleh dokter kandungan, diketahui bahwa janin dalam kandungan tidak memiliki detak jantung. Usia kehamilan ibu tersebut saat ini adalah 22 minggu. Berdasarkan hasil pemeriksaan lebih lanjut, janin dinyatakan meninggal dalam kandungan. Jenis kematian janin pada kasus di atas diklasifikasikan sebagai:
Neonatal death
Late Intrauterine Fetal Death
Early Intrauterine Fetal Death
Maternal death rate
Selama 6 bulan terakhir, di Rumah Sakit “Sehat Sentosa” telah dilakukan sebanyak 2.800 tindakan operasi. Dari seluruh pasien yang menjalani operasi tersebut, tercatat 6 pasien meninggal dan penyebab kematiannya dikonfirmasi sebagai komplikasi langsung akibat anestesi. Berapakah Anesthesia Death Rate di rumah sakit tersebut?
0,14%
0,21%
0,15%
2,1%
Rumah Sakit Harapan Bunda memiliki kapasitas 120 tempat tidur (TT) yang tersedia untuk rawat inap. Selama bulan April, total hari perawatan (HP) yang tercatat adalah 2.880 hari.
Berapakah tingkat penggunaan tempat tidur di rumah sakit tersebut pada bulan April?
80 kali
80 hari
80%
8 hari
Manajer pelayanan medis di Rumah Sakit Sehat Bersama ingin mengevaluasi efisiensi penggunaan tempat tidur selama tiga bulan terakhir. Ia mencatat data indikator seperti Bed Occupancy Rate (BOR), Average Length of Stay (ALOS), Turnover Interval (TOI), dan Bed Turnover (BTO), kemudian memplotnya ke dalam Grafik Barber Johnson. Hasil grafik tersebut didiskusikan bersama tim manajemen mutu untuk mengetahui apakah pelayanan rawat inap berjalan secara optimal atau ada indikasi inefisiensi. Apa tujuan utama dari penggunaan Grafik Barber Johnson dalam manajemen rumah sakit?
Mengetahui nilai penggunaan tempat tidur
Menilai efektivitas rawat jalan
Menyusun anggaran tahunan rumah sakit
Menganalisis efisiensi pelayanan rawat inap
Pada bulan Juni, Rumah Sakit X memiliki total 210 tempat tidur (TT) yang tersedia untuk pelayanan rawat inap. Selama bulan tersebut, tercatat 736 pasien keluar, termasuk pasien yang meninggal dunia. Berapakah nilai Bed Turnover (BTO) Rumah Sakit X pada bulan Juni?
2 hari
4 hari
2 kali
4 kali
Rumah Sakit X memiliki 50 tempat tidur pada awal Januari 2018. Pada tanggal 15 Januari 2018, jumlah tempat tidur ditambah menjadi 75 tempat tidur. Sepanjang bulan Januari, total hari perawatan (HP) yang tercatat adalah 1.700 hari, dan jumlah pasien keluar (termasuk yang meninggal) sebanyak 324 pasien. Berapakah nilai Bed Turnover (BTO) Rumah Sakit X pada bulan Januari 2018?
4 kali
6 kali
5 kali
2 kali
Pada tahun 2017, Rumah Sakit X memiliki kapasitas 225 tempat tidur (TT) yang tersedia secara penuh sepanjang tahun. Data pelayanan rawat inap menunjukkan total 15.750 hari perawatan (HP) dan 12.054 pasien keluar, termasuk pasien meninggal. Berapakah nilai Bed Turnover (BTO) Rumah Sakit X selama tahun 2017?
40 kali
54 kali
64 kali
45 kali
Rumah Sakit X melakukan evaluasi efisiensi pelayanan rawat inap dengan menggunakan Grafik Barber Johnson. Data yang dihimpun selama bulan April menunjukkan indikator sebagai berikut: Bed Occupancy Rate (BOR): 85%, Average Length of Stay (ALOS): 5 hari, Turnover Interval (TOI): 2 hari dan Bed Turn Over (BTO): 4 . Setelah data tersebut diplot dalam Grafik Barber Johnson, terlihat bahwa titik grafik berada di dalam zona efisien yang direkomendasikan oleh standar WHO. Apa kesimpulan yang paling tepat berdasarkan hasil analisis Grafik Barber Johnson tersebut?
Rumah sakit mengalami kekurangan tempat tidur karena terlalu padat
Pelayanan rawat inap berjalan efisien dan pemanfaatan tempat tidur optimal
Lama rawat pasien terlalu panjang sehingga tempat tidur tidak efektif
Rumah sakit perlu menambah kapasitas tempat tidur untuk mengurangi waktu tunggu
Pada tanggal 1 Juni 2017 pukul 00.01, Rumah Sakit Harapan Indah mencatat terdapat 125 pasien rawat inap. Pada hari yang sama, 16 pasien masuk pukul 06.00 pagi dan keluar kembali pada pukul 15.30 sore, atau dirawat kurang dari 24 jam.
Berapakah jumlah pasien sisa (SHRI) yang dicatat pada 1 Juni 2017 pukul 24.00?
141
16
125
109
Rumah Sakit Mitra Sehat melakukan evaluasi triwulanan terhadap kinerja unit rawat inap. Salah satu indikator yang dianalisis adalah Bed Turn Over (BTO). Dalam rapat manajemen, kepala instalasi rawat inap menjelaskan bahwa BTO menunjukkan seberapa sering setiap tempat tidur digunakan oleh pasien selama periode tertentu. Apa tujuan utama penggunaan indikator Bed Turn Over (BTO) dalam manajemen rumah sakit?
Menentukan jumlah optimal tempat tidur yang tersedia
Menghitung jumlah kunjungan pasien harian
Mengetahui frekuensi penggunaan tempat tidur oleh pasien dalam periode tertentu
Mengukur rata-rata lama pasien dirawat di rumah sakit
Rumah Sakit Sejahtera melakukan evaluasi efisiensi pelayanan rawat inap dengan menganalisis beberapa indikator, termasuk Turn Over Interval (TOI). Hasil analisis menunjukkan bahwa TOI sangat rendah, yaitu hanya 0,3 hari. Dalam rapat evaluasi, manajer pelayanan medis mengingatkan bahwa TOI yang terlalu rendah perlu dicermati . TOI (Turn Over Interval) yang sangat rendah dapat mengindikasikan bahwa:
Banyak tempat tidur tidak terpakai
Pasien cenderung dirawat terlalu lama
Tingkat hunian sangat tinggi dan pergantian pasien terjadi dengan sangat cepat
Rumah sakit kekurangan pasien
Mengapa angka kematian rumah sakit (Gross Death Rate dan Net Death Rate) penting dalam evaluasi mutu layanan?
Untuk menentukan insentif bagi tenaga kesehatan
Mengetahui beban kerja petugas
Sebagai dasar pengadaan alat medis baru
Untuk menilai keselamatan pasien dan efektivitas pelayanan
