Font size
WorksheetsUJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) KMB I OKT 25
Total questions: 83
Worksheet time: 47mins
Seorang pasien laki-laki 55 tahun datang dengan keluhan nyeri dada menjalar ke lengan kiri, keringat dingin, dan mual. Hasil EKG menunjukkan ST elevasi pada Lead II,III ,AVF TD ,130 / 90 mmHg ,Skala nyeri 6 – 7 , Diagnosis yang paling tepat adalah:
Angina stabil
Infark miokard akut
Gagal jantung
Perikarditis
Seorang wanita 60 tahun mengalami sesak saat aktivitas ringan, bengkak di tungkai, dan cepat lelah. Pemeriksaan menunjukkan adanya retensi cairan. edema tungkai ,muka tampak sembab TD 170 / 100 mmHg Kondisi ini disebut:
Infark miokard
Gagal jantung kongestif
Angina pektoris
Hipotensi
Seorang pasien dengan tekanan darah 180/100 mmHg mengeluh sakit kepala dan penglihatan kabur. Diagnosis yang tepat adalah:
Hipotensi
Hipertensi
Aritmia
Syok kardiogenik
Pria 45 tahun, perokok berat, mengeluh nyeri tungkai saat berjalan jauh yang hilang setelah istirahat. Kondisi ini menunjukkan:
Stroke
Penyakit arteri perifer
Emboli paru
Gagal ginjal
Wanita 72 tahun mengalami denyut jantung tidak teratur. EKG menunjukkan fibrilasi atrium. Komplikasi yang paling berbahaya adalah:
Stroke iskemik
Hipotensi
Hipoglikemia
Gagal ginjal
Pasien wanita 48 tahun mengeluh dada terasa berat saat aktivitas, hilang setelah istirahat. Diagnosis paling sesuai:
Angina stabil
Infark miokard
Hipertensi
Perikarditis
Pria gemuk, perokok berat, sering makan makanan berlemak, jarang olahraga. Faktor risiko utama penyakit jantung adalah:
Obesitas, merokok, diet tinggi lemak
Kurang tidur
Riwayat alergi
Usia muda
Pasien dengan diabetes tidak terkontrol datang dengan nyeri dada mendadak. Faktor risiko terbesarnya adalah:
Diabetes melitus
Kurang tidur
Konsumsi garam
Aktivitas berlebihan
Pasien 65 tahun mengeluh sesak saat berbaring hingga harus duduk untuk bernapas. Gejala ini disebut:
Bradikardia
Ortopnea
Sinkop
Hipotensi
Pasien gagal jantung mendapat terapi diuretik. Tujuan utamanya adalah:
Mengurangi kelebihan cairan tubuh
Meningkatkan tekanan darah
Menurunkan kadar gula darah
Mengurangi nyeri dada
Pasien pasca serangan jantung diberikan aspirin. Tujuannya adalah:
Mengencerkan darah dan mencegah trombus
Menurunkan gula darah
Mengurangi kolesterol
Menurunkan denyut jantung
Pria 70 tahun tiba-tiba tidak bisa bicara, wajah mencong, dan lemah separuh badan. Diagnosis:
Stroke iskemik
Epilepsi
Asma
Infark miokard
Wanita 50 tahun mengalami nyeri dada setelah stres emosional. Dicurigai spasme arteri koroner. Diagnosis:
Angina Prinzmetal
Gagal jantung
Aritmia
Infark miokard
Faktor risiko tidak dapat diubah penyakit jantung adalah:
Usia
Obesitas
Merokok
Hiperkolesterolemia
Pasien datang dengan denyut jantung 160x/menit, pusing, dan hampir pingsan. Kondisi ini disebut:
Takikardia
Bradikardia
Sinkop
Hipotensi
Pria 55 tahun dengan bengkak tungkai, asites, hepatomegali. Kondisi ini adalah tanda:
Gagal jantung kanan
Gagal jantung kiri
Stroke
Infark miokard
Pasien dengan hipertensi lama tidak terkontrol mengalami gagal ginjal. Hal ini merupakan:
Komplikasi hipertensi
Efek samping obat
Aritmia
Hipotensi
Pasien dengan tekanan darah 90/60 mmHg, nadi cepat, kulit dingin, kesadaran menurun. Kondisi ini:
Syok kardiogenik
Hipotensi ringan
Stroke
Angina
Pria obesitas mengalami nyeri dada mendadak setelah olahraga berat. Diagnosis yang perlu dicurigai:
Infark miokard
Tuberkulosis
Bronkitis
Hipotensi
Pasien hipertensi diberi obat captopril. Mekanisme utamanya:
Menurunkan resistensi vaskular
Meningkatkan denyut jantung
Mengencerkan darah
Menurunkan kadar gula
Pemeriksaan laboratorium penting untuk pasien penyakit jantung koroner adalah:
Kolesterol total dan LDL
Hemoglobin
Fungsi hati
Gula urine
Wanita 65 tahun nyeri dada saat berjalan cepat. Pemeriksaan treadmill digunakan untuk:
Diagnosis angina stabil
Menilai gula darah
Diagnosis asma
Menilai fungsi ginjal
Pasien dengan riwayat stroke iskemik diberikan antikoagulan. Tujuannya adalah:
Tanda khas gagal jantung kiri adalah:
Sesak napas dan batuk berbusa
Edema tungkai
Nyeri dada menjalar
Pusing
Pemeriksaan penunjang penting untuk mendeteksi kelainan jantung:
EKG dan ekokardiografi
CT scan otak
Foto rontgen gigi
Tes mantoux
Pasien 35 tahun batuk >2 minggu, dahak kadang darah, keringat malam. Diagnosis:
Tuberkulosis paru
Asma
Bronkitis
Pneumonia
27. Pria 25 tahun sesak, mengi, riwayat alergi debu. Diagnosis:
Asma bronkial
Pneumonia
Emfisema
TB paru
Pria 40 tahun perokok berat, batuk berdahak kronis pagi hari. Diagnosis:
Bronkitis kronis
TB paru
Asma
Pneumotoraks
Gejala pneumonia adalah:
Batuk berdahak, demam, sesak
Nyeri dada menjalar
Bengkak tungkai
Tidak ada gejala
Pria 60 tahun perokok, batuk kronis, hemoptisis, berat badan turun. Diagnosis:
Kanker paru
Bronkitis
Pemeriksaan utama untuk TB paru:
Foto toraks dan pemeriksaan dahak BTA
Spirometri
CT scan kepala
Mantoux saja
Pasien asma dengan serangan akut. Terapi utama:
Bronkodilator inhalasi
Antikoagulan
Antasida
Antibiotik
Pasien PPOK dengan dada "barrel chest", sesak, dan ronki. Diagnosis:
Emfisema paru
Asma
Pneumonia
Bronkitis akut
Pasien TB minimal harus berobat selama:
6 bulan
2 minggu
3 bulan
12 bulan
Pasien batuk berdahak setelah kehujanan, demam, ronki. Diagnosis:
Bronkitis akut
TB paru
Asma
Fibrosis paru
Pasien asma harus menghindari:
Debu, asap, udara dingin
Air putih
Buah
Susu
Pengobatan pneumonia berat biasanya dengan:
Antibiotik
Antihipertensi
Antasida
Antikoagulan
Pasien PPOK lanjut biasanya membutuhkan:
Oksigen jangka panjang
Aspirin
Vitamin
Penyakit pernapasan erat kaitannya dengan merokok:
PPOK dan kanker paru
TB paru
Pneumonia
Asma
Pasien TB yang tidak patuh minum obat berisiko:
Resistensi obat (MDR-TB)
Stroke
Hipotensi
Gagal ginjal
Pasien dengan trauma dada, sesak mendadak, trakea deviasi. Diagnosis:
Pneumotoraks
Asma
TB paru
Emfisema
Efek samping khas rifampisin:
Urin merah jingga
Hipoglikemia
Rambut rontok
Hipotensi
Gejala khas kanker paru:
Batuk kronis, hemoptisis, sesak
Nyeri ulu hati
Edema tungkai
Pusing
Hasil BTA (+) pada sputum menunjukkan:
Pasien menularkan TB
Pasien bebas TB
Hanya alergi
Asma
Pria dengan riwayat TB lama datang dengan batuk darah dan sesak. Diagnosis:
Bronkiektasis
Asma
Gagal jantung
Hipertensi
Faktor risiko terbesar pneumonia aspirasi adalah:
Pasien stroke dengan disfagia
Anak sehat
Orang muda
Pemeriksaan spirometri digunakan untuk:
Menilai fungsi paru
Menilai fungsi ginjal
Menilai kadar gula
Menilai fungsi hati
Pasien PPOK datang sesak kronis. Edukasi terpenting:
Berhenti merokok
Makan manis
Minum susu
Istirahat total
Pasien TB resisten obat memerlukan pengobatan selama:
18–24 bulan
6 bulan
2 minggu
3 bulan
Komplikasi pneumonia berat dengan oksigen rendah:
A. ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome)
B. Stroke
C. Gagal ginjal
D. Hipotensi ringan
Seorang perawat diminta mengambil sampel darah vena untuk pemeriksaan laboratorium. Lokasi yang paling sering digunakan adalah:
Vena femoralis
Vena jugularis
Vena median cubiti
Vena dorsalis pedis
Pada pengambilan darah vena, pemasangan torniket dilakukan dengan tujuan:
Mengurangi rasa nyeri
Memperbesar dan memudahkan palpasi vena
Menekan arteri agar tidak ikut tertusuk
Mencegah darah keluar setelah ditusuk
Seorang perawat melakukan venipuncture, tetapi tidak keluar darah ke dalam tabung. Tindakan pertama yang harus dilakukan adalah:
Menarik jarum sedikit ke belakang atau mengubah posisi jarum
Menusuk vena lebih dalam
Mengganti lengan pasien
Menekan vena dengan kuat
Pada saat mengambil darah arteri untuk pemeriksaan analisa gas darah (AGD), lokasi yang paling sering digunakan adalah:
Arteri femoralis
Arteri radialis
Arteri brakialis
Arteri karotis
Sebelum melakukan pungsi arteri radialis, perawat wajib melakukan Allen’s test dengan tujuan:
Memastikan vena cukup besar untuk ditusuk
Menilai adanya kolateral dari arteri ulnaris
Mengukur tekanan darah pasien
Mengetahui adanya infeksi pada kulit
Perbedaan utama teknik pengambilan darah vena dan arteri adalah:
Darah vena lebih gelap dan tekanannya lebih rendah
Darah arteri lebih gelap dan tekanannya lebih rendah
Darah vena lebih terang dan tekanannya lebih tinggi
Tidak ada perbedaan warna dan tekanan
Pada pengambilan darah arteri, setelah jarum ditarik, perawat harus menekan bekas tusukan minimal selama:
30 detik
1 menit
5 menit
15 menit
Tabung atau spuit untuk pengambilan darah arteri pada pemeriksaan gas darah sebaiknya berisi:
EDTA
Heparin
Sitrat
Fluorida
Komplikasi yang paling sering terjadi setelah pengambilan darah vena adalah:
Hematoma
Aritmia
Emboli udara
Hipotensi
Seorang perawat baru selesai mengambil darah arteri pada pasien. Tindakan dokumentasi yang benar adalah:
Menuliskan jumlah darah yang keluar saja
Mencatat waktu, lokasi pengambilan, kondisi pasien, dan hasil Allen’s test
Hanya menuliskan nama pasien
Tidak perlu dokumentasi jika prosedur berhasil
Seorang perawat akan melakukan perekaman EKG pada pasien. Tujuan utama pemeriksaan EKG adalah:
Menilai fungsi paru-paru
Mengetahui kadar oksigen darah
Mendeteksi aktivitas listrik jantung
Mengukur tekanan darah pasien
Sebelum melakukan perekaman EKG, perawat harus memastikan kulit pasien dalam keadaan:
Basah agar elektroda mudah menempel
Berminyak untuk mencegah iritasi
Bersih dan kering agar konduksi listrik baik
Diberi lotion untuk mencegah nyeri
Posisi pasien yang benar saat dilakukan perekaman EKG standar adalah:
Duduk tegak di kursi
Berdiri tegak dengan kedua tangan ke samping
Berbaring terlentang dengan posisi rileks
Duduk bersandar dengan tangan di atas kepala
Elektroda EKG yang dipasang pada ekstremitas kanan atas (RA) diletakkan pada:
Lengan kanan bagian distal
Bahu kanan
Pergelangan tangan kanan
Dada kanan
Setelah perekaman EKG selesai, langkah terakhir yang harus dilakukan perawat adalah:
Melepas elektroda tanpa mematikan mesin
Mendokumentasikan hasil EKG
Menyimpan hasil EKG di laci tanpa identitas
Membersihkan mesin saja tanpa memperhatikan pasien
Seorang pasien laki-laki 55 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas. Tanda-tanda vital: TD: 150/90 mmHg, Nadi: 110 x/menit, RR: 28 x/menit, Suhu: 36,8 °C, Saturasi O₂: 88% Sebagai perawat, pemeriksaan awal untuk menilai kecukupan oksigenasi pasien adalah:
Memeriksa bunyi jantung dengan stetoskop
Mengukur saturasi oksigen dengan pulse oximeter
Mengukur lingkar lengan atas pasien
Mengukur suhu tubuh dengan termometer
Seorang pasien perempuan 63 tahun dirawat di ruang perawatan dengan keluhan nyeri dada kiri. Tanda-tanda vital: TD: 90/60 mmHg, Nadi: 124 x/menit, lemah, RR: 30 x/menit, Suhu: 37,1 °C, Saturasi O₂: 92%. Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah:
Syok kardiogenik
Infark miokard tanpa komplikasi
Pneumonia ringan
Asma bronkial
Tindakan prioritas perawat untuk memeriksa status sirkulasi pasien adalah:
Seorang pasien laki-laki 40 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas. Tanda-tanda vital: TD: 80/50 mmHg, Nadi: 140 x/menit, lemah, RR: 32 x/menit, Suhu: 36,0 °C, Saturasi O₂: 85%. Perawat segera melakukan pemeriksaan sirkulasi dan oksigenasi. Temuan yang menunjukkan adanya gangguan sirkulasi adalah:
CRT lebih dari 3 detik, kulit pucat dan dingin
Saturasi O₂ menurun 85%
Suhu tubuh 36,0 °C
Tekanan darah 80/50 mmHg tanpa perubahan CRT
Seorang pasien laki-laki 60 tahun dirawat di ruang perawatan dengan keluhan berdebar dan pusing. Tanda-tanda vital: TD: 100/70 mmHg, Nadi: 140 x/menit, tidak teratur, RR: 22 x/menit, Suhu: 36,9 °C, Saturasi O₂: 95%. Prosedur pemeriksaan yang paling tepat untuk menilai perubahan irama jantung pada pasien ini adalah:
Mengukur tekanan darah secara manual
Melakukan perekaman EKG 12 lead
Mengukur saturasi O₂ dengan pulse oximeter
Menilai pengisian kapiler (CRT)
Seorang pasien perempuan 45 tahun mengeluh sesak napas tiba-tiba. Tanda-tanda vital: TD: 130/85 mmHg, Nadi: 96 x/menit, regular, RR: 32 x/menit, Suhu: 37,2 °C, Saturasi O₂: 89%. Tindakan pemeriksaan pertama yang perlu dilakukan perawat untuk menilai perubahan irama napas adalah:
Menilai pola napas dan frekuensi dengan observasi dada pasien
Mengukur suhu tubuh pasien
Memeriksa bunyi jantung dengan stetoskop
Mengukur lingkar lengan atas pasien
Seorang pasien laki-laki 70 tahun dengan riwayat penyakit jantung datang dengan keluhan nyeri dada dan sesak. Tanda-tanda vital: TD: 85/60 mmHg, Nadi: 48 x/menit, tidak teratur, RR: 28 x/menit, Suhu: 36,7 °C, Saturasi O₂: 90%. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bradikardi dengan irama tidak teratur. Pemeriksaan tambahan yang harus segera dilakukan untuk memastikan kondisi jantung pasien adalah:
Pemeriksaan EKG
Pemeriksaan urine lengkap
Seorang pasien laki-laki 58 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas. Tanda-tanda vital: TD: 140/90 mmHg, Nadi: 110 x/menit, RR: 30 x/menit, Suhu: 37,5 °C, Saturasi O₂: 86%. Kesadaran: Compos mentis. Perawat mendengar bunyi napas tambahan berupa wheezing. Tindakan yang tepat dilakukan perawat adalah:
Memberikan posisi semi-Fowler dan memantau saturasi O₂
Membiarkan pasien berbaring telentang agar rileks
Menunda pemeriksaan hingga pasien tenang
Hanya mendokumentasikan tanpa intervensi
Seorang pasien perempuan 67 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan lemas. Tanda-tanda vital: TD: 90/60 mmHg, Nadi: 52 x/menit, RR: 22 x/menit, Suhu: 36,8 °C. Kesadaran: Apatis. Pada auskultasi, perawat menemukan adanya bunyi jantung tambahan (S3). Tindakan yang harus dilakukan perawat adalah:
Melaporkan segera ke dokter dan memantau tanda-tanda vital
Membiarkan pasien istirahat tanpa tindak lanjut
Mengukur lingkar lengan atas pasien
Menurunkan posisi kepala tempat tidur
Seorang pasien laki-laki 45 tahun pasca operasi abdomen mengeluh nyeri dada dan sesak. Tanda-tanda vital: TD: 100/70 mmHg, Nadi: 124 x/menit, RR: 34 x/menit, Suhu: 37,1 °C, Saturasi O₂: 89%. Kesadaran: Somnolen. Perawat mendengar bunyi napas crackles pada kedua basal paru. Tindakan prioritas perawat adalah:
Memberikan oksigen sesuai program dan memposisikan pasien semi-Fowler
Memberikan cairan minum yang banyak
Membiarkan pasien tidur agar lebih rileks
Menutup jendela ruangan agar lebih hangat
Seorang pasien laki-laki 56 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak. Tanda-tanda vital: TD: 130/80 mmHg, Nadi: 108 x/menit, RR: 32 x/menit, Suhu: 37,3 °C, Saturasi O₂: 85%. Suara napas: wheezing. Diagnosis yang paling mungkin pada pasien ini adalah:
Asma eksaserbasi akut
Pneumonia bakterial
Infark miokard akut
Gagal ginjal akut
Tindakan perawat yang tepat untuk memenuhi kebutuhan oksigen pasien adalah:
Memberikan oksigen dengan simple mask 6–10 L/menit
Memberikan oksigen dengan nasal kanul 1–2 L/menit
Membiarkan pasien bernapas spontan tanpa alat bantu
Memasang non-rebreathing mask 15 L/menit
Seorang pasien perempuan 40 tahun dirawat dengan keluhan batuk berdahak dan sesak ringan. Tanda-tanda vital: TD: 120/70 mmHg, Nadi: 96 x/menit, RR: 28 x/menit, Suhu: 38,1°C, Saturasi O₂: 89%, Suara napas: crackles halus di basal paru. Tindakan perawat yang tepat adalah:
Memberikan oksigen dengan simple mask 5–8 L/menit
Memberikan oksigen dengan nasal kanul 1 L/menit
Memberikan kompres hangat saja tanpa oksigen
Memberikan posisi Trendelenburg untuk memperbaiki napas
Seorang pasien laki-laki 45 tahun dengan riwayat bronkiektasis datang ke ruang rawat dengan keluhan batuk berdahak kental. Mengeluh sesak nafas sejak 2 hari yang lalu, RR 35 x/menit. Suara napas: ronki kasar di lapang paru bawah. Tindakan yang tepat dilakukan perawat dalam prosedur postural drainage adalah:
Memposisikan pasien dengan kepala lebih rendah dari dada untuk membantu pengeluaran sekret
Memposisikan pasien telentang lurus tanpa perubahan posisi
Memberikan posisi semi-Fowler saja tanpa mobilisasi
Memberikan minum air hangat tanpa dilakukan perubahan posisi
Seorang pasien laki-laki 55 tahun dengan riwayat PPOK dirawat di ruang perawatan intensif. Pasien tampak sesak dengan penggunaan alat bantu napas. Suara napas: wheezing dan ronki halus. Tanda vital: TD 135/85 mmHg, Nadi 110 x/menit, RR 32 x/menit, Saturasi O₂ 86%. Tindakan perawat yang paling tepat terkait pemeriksaan AGD adalah:
Mengambil sampel darah arteri, biasanya dari arteri radialis
Mengambil sampel darah vena untuk diperiksa AGD
Hanya mengukur saturasi O₂ dengan pulse oximeter
Memberikan nebulizer tanpa pemeriksaan lanjutan
Seorang pasien perempuan 40 tahun pasca operasi abdomen mengalami napas cepat dan dangkal. Suara napas: crackles di kedua basal paru. Tanda vital: TD 100/70 mmHg, Nadi 120 x/menit, RR 30 x/menit, Saturasi O2 84%. Perawat sudah mendapat hasil AGD dengan nilai PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat. Langkah yang tepat dilakukan perawat adalah:
Melaporkan hasil AGD segera ke dokter dan memberikan oksigen sesuai instruksi
Menunggu 1 jam sebelum melaporkan hasil AGD
Mengganti pemeriksaan AGD dengan foto toraks
Membiarkan pasien tidur tanpa intervensi
Seorang pasien laki-laki 50 tahun dengan trakeostomi mengeluh sesak napas. Suara napas: ronki kasar terdengar dari kanul trakeostomi. Tanda vital: TD 130/80 mmHg, Nadi 110 x/menit, RR 30 x/menit, Saturasi O2 86%. Tindakan perawat yang paling tepat adalah:
Melakukan suction trakeostomi untuk membersihkan jalan napas
Membiarkan pasien agar beristirahat
Memberikan obat oral penurun dahak terlebih dahulu
Mengganti kanul tanpa prosedur steril
Seorang pasien perempuan 62 tahun dengan trakeostomi mengalami peningkatan sekret kental. Suara napas: wheezing dan napas berbunyi gurgling di area trakeostomi. Tanda vital: TD 120/75 mmHg, Nadi 100 x/menit, RR 28 x/menit, Saturasi O2 88%. Tindakan perawat yang sesuai prosedur perawatan trakeostomi adalah:
Membersihkan area sekitar stoma dengan teknik aseptik dan mengganti balutan
Membiarkan sekret keluar sendiri tanpa tindakan
Menutup kanul trakeostomi agar pasien bernapas lewat hidung
Hanya memberikan posisi miring tanpa membersihkan kanul
