WorksheetsPre-test Obgyn
Total questions: 20
Worksheet time: 20mins
Seorang wanita 27 tahun, G2P0A1, datang dengan perdarahan pervaginam ringan selama dua hari disertai kram perut kanan bawah yang konstan namun tidak berat. HPHT enam minggu lalu; siklus sebelumnya teratur. Riwayat penyakit radang panggul tiga tahun lalu, tidak memakai kontrasepsi. Tanda vital stabil (TD 112/70 mmHg, nadi 86/menit), suhu afebril. Abdomen lunak, nyeri tekan adneksa kanan; tanda peritoneal tidak ada. Tes kehamilan positif; β-hCG 1.850 mIU/mL. USG transvaginal memperlihatkan kavum uteri kosong tanpa kantung gestasi, massa adneksa kanan 2,3 cm dengan “ring sign”, dan sedikit cairan bebas di kavum Douglas. Hb 12 g/dL. Pasien ingin penanganan konservatif dan siap kontrol ketat.
Kehamilan intrauterin sangat dini
Kehamilan lokasi tak diketahui (PUL)
Kehamilan ektopik tuba
Abortus inkomplet
Kista korpus luteum dengan IUP tidak tampak
G1P0 usia kehamilan 7–8 minggu mengeluh mual muntah sejak tiga minggu, sulit menahan cairan, dan turun berat badan tiga kilogram. Ia bekerja sif malam dan mengaku asupan cairan kurang. Tidak demam. TD 110/70 mmHg, nadi 104/menit, mukosa mulut kering, turgor menurun ringan. Abdomen lunak, tidak nyeri. Urinalisis menunjukkan keton +2; elektrolit: Na 134 mEq/L, K 3,4 mEq/L; glukosa normal. USG memperlihatkan IUGS viabel dengan CRL sesuai 7w5d, denyut jantung janin terdeteksi, tanpa gambaran mola. Belum pernah mencoba antiemetik. Ia menanyakan obat lini awal yang aman dan efektif pada trimester pertama.
Metoklopramid 10 mg t.i.d. sebagai lini awal
Ondansetron IV 4 mg sebagai lini pertama
Doksilamin + piridoksin (kombinasi)
Metilprednisolon oral sejak awal
Hanya hidrasi IV tanpa antiemetik
G2P1 usia 11 minggu mengalami perdarahan merah tua sejak malam tadi; kram minimal; tidak pingsan. Tanda vital stabil; tidak demam. Spekulum menunjukkan bercak darah segar tanpa jaringan jelas. USG transvaginal mendemonstrasikan kantung gestasi intrauterin; pengukuran CRL 8 mm tanpa aktivitas jantung meski dipantau lebih dari 60 detik. Satu minggu sebelumnya, di fasilitas lain, CRL 6 mm juga tanpa DJJ. Tidak ada cairan bebas; kontur kantung normal. Laboratorium menunjukkan Hb 11,6 g/dL; golongan darah diketahui. Pasien menginginkan kepastian diagnosis sebelum memilih evakuasi medikamentosa atau tindakan.
Kehamilan viabel sangat dini
Kehamilan anembrionik
Kehamilan heterotopik
Abortus spontan terkonfirmasi (CRL ≥7 mm tanpa DJJ)
IUP dengan viabilitas belum pasti
Wanita 24 tahun, G1P0, bergolongan Rh-negatif, datang dengan perdarahan bercak cokelat selama dua hari pada usia 9 minggu. Tanda vital stabil; tidak nyeri abdomen; USG menunjukkan IUGS viabel; tidak tampak hematoma subkorionik besar. Tidak ada riwayat sensitisasi, transfusi, atau tindakan invasif sebelumnya. Ia menanyakan apakah perdarahan ringan seperti ini tetap memerlukan pencegahan isoimunisasi untuk melindungi kehamilan sekarang maupun yang akan datang.
Tidak perlu RhIg pada perdarahan ringan <12 minggu
Beri RhIg 50–120 µg (250 IU) ≤72 jam
RhIg 300 µg, ditunda sampai 28 minggu
Titrasi anti-D saja tanpa profilaksis
RhIg hanya bila ≥20 minggu
G1P0 usia 13 minggu, hamil kembar dua dari IVF, memiliki riwayat hipertensi kronik ringan namun saat ini tanpa obat. Tekanan darah 120/76 mmHg, proteinuria negatif, fungsi ginjal dan hati normal. USG menampilkan dua janin hidup dikorionik. IMT 31 kg/m². Pasien khawatir risiko preeklamsia dan bertanya mengenai pencegahan yang berbasis bukti, termasuk kapan mulai dan dosis yang digunakan, agar tidak terlambat memulai intervensi.
Kalsium 1,5 g/hari saja
Aspirin 81 mg/hari mulai sekarang (optimum <16 minggu)
Aspirin 162 mg mulai 20 minggu
Heparin profilaksis harian
Tidak perlu profilaksis
Wanita 29 tahun, G2P1, usia 20 minggu, mengeluh disuria dan sering berkemih sejak dua hari; tidak demam, tidak nyeri pinggang. Tanda vital baik. Pemeriksaan ketok CVA negatif bilateral. Urinalisis menunjukkan leukosit esterase (+), nitrit (+); eritrosit 0–1/lpb; gula dan protein negatif. Kultur urine sudah dikirim. Pasien tidak alergi obat, tidak memiliki defisiensi G6PD, dan pernah mengalami UTI sebelum hamil. Kehamilan tunggal, pertumbuhan janin sesuai usia. Ia menanyakan antibiotik empiris yang aman pada trimester kedua sambil menunggu hasil kultur.
Siprofloksasin
Nitrofurantoin 100 mg q12h 5–7 hari
Nitrofurantoin 100 mg q12h 5–7 hari
Amoksisilin 3 hari (empiris)
Tidak diobati bila hamil
G3P1A1 usia 8 minggu datang dengan nyeri perut bawah kanan sejak satu hari dan bercak darah. Ia stabil hemodinamik, afebril. β-hCG 4.200 mIU/mL. USG transvaginal tidak menemukan IUP; tampak massa adneksa kanan 3,3 cm dengan gambaran “ring-like”, tanpa DJJ; cairan bebas sedikit. Hb 12,4 g/dL; fungsi hati dan ginjal normal. Pasien tinggal dekat fasilitas kesehatan, sanggup kontrol ketat, dan ingin menghindari operasi jika memungkinkan.
Metotreksat dosis tunggal
Laparoskopi salpingostomi segera
Kuretase vakum uterin
Observasi tanpa terapi
Progesteron vaginal suportif
G1P0 usia 24 minggu melaporkan gerak janin berkurang nyata sejak 10 jam. Tidak ada kontraksi, perdarahan, demam, ataupun keputihan berbau. Ia tampak cemas. Tekanan darah 118/72 mmHg; TFU sesuai 24 minggu; presentasi janin belum dipastikan; denyut jantung janin belum dievaluasi. Kehamilan sebelumnya tanpa komplikasi; tidak merokok; tidak diabetes. Ia meminta penilaian hari ini untuk memastikan janin dalam kondisi baik.
Edukasi hitung gerak saja dan pulangkan
Doppler arteri uterina saja
NST dan/atau BPP segera
CTG intrapartum
Tunggu besok pagi
G2P1 usia 28 minggu mengeluh gatal hebat pada telapak tangan dan kaki, memburuk pada malam hari hingga mengganggu tidur. Tidak ditemukan ruam; ikterus tidak tampak. Tekanan darah 114/70 mmHg. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan ALT/AST meningkat dua kali nilai rujukan, bilirubin total normal, dan asam empedu total 56 µmol/L. USG hepatobilier normal. Gerak janin baik, tanpa kontraksi. Ia bertanya terapi yang dapat mengurangi gejala sekaligus aman untuk janin.
Kolestiramin
Ursodeoksikolat 10–15 mg/kg/hari
Rifampisin monoterapi
Antihistamin saja
Asam obetikolat
G3P2 usia 33 minggu datang kontrol lanjutan karena pernah didapatkan plasenta letak rendah pada 20 minggu. Ia tidak pernah mengalami perdarahan. USG transabdominal saat ini sulit menilai jarak tepi plasenta ke os internum karena kepala janin menutupi area, bayangan akustik mengganggu, dan posisi uterus retroversi. Janin sefalik, biometrik sesuai usia. Pasien berharap bisa melahirkan pervaginam bila aman.
VT digital untuk konfirmasi
USG transvaginal untuk lokalisasi plasenta
MRI pelvis
Tidak perlu pemeriksaan ulang
Amnioskopi
G2P0A1 usia 31 minggu, tinggi fundus lebih kecil dari usia. USG biometri menunjukkan EFW persentil ke-6; cairan ketuban normal; Doppler arteri umbilikalis normal; anatomi janin tanpa kelainan; gerak janin adekuat. Ibu tidak hipertensi atau diabetes; tidak merokok; kenaikan berat badan cukup. Pemantauan antenatal teratur. Dokter ingin merencanakan waktu persalinan bila kondisi tetap stabil.
34 minggu
36 minggu
38–39 minggu
40–41 minggu
Segera (sekarang)
G4P2A1 usia 35 minggu datang dengan perdarahan merah segar tanpa nyeri setelah aktivitas ringan. Hemodinamik stabil; uterus tidak nyeri; DJJ reaktif. USG segera menunjukkan plasenta seluruhnya menutupi os internum (previa totalis), kepala janin sefalik, cairan cukup. Tidak ada tanda infeksi atau kontraksi. Ia tinggal di daerah jauh dari RS rujukan dan ingin rencana persalinan paling aman bagi ibu dan bayi.
Induksi pada 37–38 minggu
Seksio sesarea elektif 36–37 minggu
Persalinan pervaginam dengan amniotomi
Menunggu 40 minggu
Versi luar
G1P0 usia 26 minggu datang dengan kontraksi tiap 7–10 menit. Pemeriksaan dalam: pembukaan 3 cm, penipisan 60%, posisi kepala -2; ketuban utuh; suhu afebril; nyeri tekan uterus tidak ada; CRP normal; kultur serviks menunggu. Janin tunggal, presentasi kepala, DJJ baik. Dokter merencanakan kortikosteroid karena risiko lahir prematur dalam 24 jam dan mempertimbangkan langkah untuk proteksi neurologis janin.
Nifedipin untuk neuroproteksi
Magnesium sulfat IV untuk neuroproteksi
Terbutalin SC untuk neuroproteksi
Deksametason saja
Indometasin 72 jam untuk neuroproteksi
G2P1 usia 25 minggu tanpa keluhan; kultur skrining antenatal menunjukkan >10⁵ CFU/mL Escherichia coli sensitif nitrofurantoin. Riwayat alergi obat disangkal; tidak ada defisiensi G6PD; fungsi ginjal normal. Tekanan darah 108/70 mmHg, suhu normal. Kehamilan tanpa komplikasi; janin tumbuh sesuai. Ia bertanya apakah infeksi tanpa gejala perlu diobati dan bila perlu, obat apa yang dianjurkan serta berapa lama durasinya.
Tidak diobati bila tanpa gejala
Nitrofurantoin 100 mg q12h 5–7 hari
TMP-SMX 3 hari
Siprofloksasin 3 hari
Amoksisilin 3 hari
G1P0 usia 22 minggu, USG anatomi dengan doppler menunjukkan pembuluh darah janin melintas pada selaput dekat os internum, konsisten dengan vasa previa; plasenta anterior dan insersi tali pusat velamentosa. Pasien asimtomatik, tidak ada perdarahan. Ia bertanya strategi persalinan yang paling aman untuk mencegah perdarahan fatal saat fase persalinan, mengingat risiko robeknya pembuluh saat ketuban pecah.
Induksi pervaginam 39 minggu
Menunggu kontraksi spontan
Seksio sesarea terencana 34–36 minggu
Amniotomi hati-hati
Trial of labor dengan pemantauan ketat
G2P1 usia 37 minggu melaporkan gerak janin berkurang hari ini. Tanda vital stabil; DJJ 140/menit teratur. USG menunjukkan DVP 1,6 cm dan AFI 4,8 cm yang konsisten dengan oligohidramnion terisolasi; profil biofisik 8/10; doppler umbilikalis normal. Tidak ada perdarahan, tidak ada tanda pecah ketuban, dan tidak ada preeklamsia. Ia menanyakan rencana yang paling aman bagi janin pada usia kehamilan ini.
Rawat jalan dan ulang BPP 1 minggu
Hidrasi saja
Rencanakan persalinan (oligohidramnion terisolasi aterm)
Tunggu hingga 40 minggu
Amnioinfusi antenatal profilaksis
G3P2 usia 28 minggu dengan riwayat GDM pada kehamilan sebelumnya; saat ini tanpa keluhan, pemeriksaan antenatal normal. Ia bertanya mengenai pilihan skrining yang dianjurkan serta waktu pemeriksaan yang tepat agar tidak terlambat mendiagnosis.
Glukosa puasa saja
OGTT 75 g (one-step) atau 50 g → 100 g (two-step)
HbA1c saja
TTGO 100 g untuk semua tanpa skrining awal
Uji urin gula saja
G2P1 usia 30 minggu dengan pruritus telapak tangan/kaki yang hebat selama dua minggu, tidur terganggu; tanpa ruam. Pemeriksaan laboratorium terakhir menunjukkan asam empedu 112 µmol/L, ALT sedikit meningkat, bilirubin normal. Janin tumbuh baik; doppler normal. Ia menanyakan waktu persalinan yang direkomendasikan bila kondisi klinis tetap stabil dan tidak ada faktor risiko tambahan lainnya.
Persalinan 34 minggu rutin
Rencanakan persalinan sekitar 36 minggu bila stabil (asam empedu ≥100)
37–39 minggu
40 minggu
Tunggu spontan
G1P0 usia 23 minggu mengalami kontraksi teratur; pembukaan serviks 2 cm dengan ketuban utuh; tidak ada tanda infeksi; tujuan klinis menunda persalinan cukup untuk memberikan kortikosteroid. Janin tunggal hidup; tidak terdapat kontraindikasi tokolisis; fungsi hati dan ginjal ibu baik. Ia bertanya obat apa yang lazim dipakai untuk menunda kontraksi dengan profil keamanan yang baik.
Ritodrin IV
Nifedipin sebagai tocolitik lini pertama
Magnesium sulfat sebagai tokolitik utama
Oksitosin drip
Ergometrin IM
G3P2 usia 12 minggu ingin skrining aneuploidi; tidak ada faktor risiko kromosom; USG awal normal. Ia menginginkan metode non-invasif dan ketersediaan di laboratorium setempat memungkinkan beberapa pilihan. Pasien menanyakan opsi yang dianjurkan pada trimester pertama serta kisaran waktu pelaksanaannya, agar hasil dapat digunakan untuk perencanaan kehamilan lebih lanjut.
Hanya NT di 16 minggu
cfDNA hanya untuk usia ≥35 tahun
cfDNA mulai ≥10 minggu atau skrining kombinasi trimester pertama (NT + serum) 11–13⁶/₇ minggu
Amniosentesis wajib
Tidak perlu skrining bila USG normal
