Font size
WorksheetsAGAMA UTS
Total questions: 26
Worksheet time: 16mins
Kaitan antara makna ‘aqdân dan ‘aqîdah menunjukkan bahwa keyakinan bersifat ...
a. Bebas tanpa batas
b. Terikat secara kokoh dalam hati
c. Dapat berubah sesuai situasi
d. Hanya berdasarkan bukti inderawi
A
B
C
D
Menurut Hasan al-Banna, ‘aqîdah adalah perkara yang diyakini kebenarannya oleh hati, sehingga ...
a. Perlu pembuktian rasional
b. Menghasilkan ketenangan jiwa tanpa keraguan
c. Diterima dengan tradisi
d. Tidak membutuhkan dalil naqli
A
B
C
D
Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy, ‘aqîdah adalah sejumlah kebenaran yang diterima manusia berdasarkan ...
a. Akal, wahyu, dan fitrah
b. Tradisi dan budaya
c. Pengalaman empiris
d. Perasaan dan intuisi
A
B
C
D
Dalam pembagian ilmu, ilmu dharûrî adalah ilmu yang ...
a. Hasil dari penalaran mendalam dan argumentasi
b. Diperoleh dari pengalaman tanpa indera
c. Tidak memerlukan dalil karena langsung diketahui oleh indera
d. Bisa diperoleh melalui wahyu
A
B
C
D
Urutan tingkatan keyakinan hingga mencapai yaqîn adalah sebagai berikut ...
a. Syakk → Ghalabatuzh Zhann → Zhann → Yaqîn
b. Syakk → Zhann → Ghalabatuzh Zhann → Yaqîn
c. Zhann → Syakk → Yaqîn → Ghalabatuzh Zhann
d. Yaqîn → Syakk → Zhann → Ghalabatuzh Zhann
A
B
C
D
Seseorang yang telah mencapai tingkat yaqîn berarti ...
a. Karena ada pembuktian baru
b. Telah bebas dari keraguan sepenuhnya
c. Bersandar pada dugaan kuat
d. Berpegang pada tradisi turun-temurun
A
B
C
D
Dalam ruang lingkup aqidah Islam, pembahasan tentang malaikat, jin, dan roh termasuk dalam kategori ...
a. Ilâhiyyât
b. Nubuwwât
c. Rûhaniyyât
d. Sam‘iyyât
A
B
C
D
Hubungan antara iman dan ‘aqîdah menurut ulama salaf adalah ...
a. Iman seperti keyakinan hati, sama dengan aqidah
b. Aqidah lebih luas dari iman
c. Iman cukup dengan syahadat tanpa amal
d. Iman mencakup keyakinan, ucapan, dan amal
A
B
C
D
Tingkatan keyakinan haqqul yaqin dicapai ketika seseorang ...
a. Menyaksikan dan mengalami sendiri kebenaran
b. Melihat bukti secara langsung
c. Mendengar informasi
d. Memiliki dugaan kuat terhadap kebenaran
A
B
C
D
Berdasarkan uraian contoh tentang "keyakinan terhadap keberadaan Negara Sudan," manakah pernyataan berikut yang paling tepat menggambarkan transisi epistemologis dari dzanni menuju yaqini?
a. Saat seseorang mendengar tentang Sudan dari satu
orang yang terpercaya.
b. Saat seseorang menyaksikan foto Sudan dan
membandingkannya dengan informasi yang diperoleh.
c. Saat seseorang telah melihat langsung Sudan dan
menolak kemungkinan adanya keraguan, sekalipun
semua orang mengingkarinya.
d. Saat seseorang mendengar banyak orang berbicara
tentang Sudan dengan informasi yang serupa.
A
B
C
D
Dalam al-Qur’an tidak terdapat kata “aqidah” secara eksplisit, namun akar katanya (‘aqada) digunakan dalam berbagai konteks. Berdasarkan QS. al-Nisâ’ (4): 33, penggunaan kata ‘aqadat menunjukkan makna dasar aqidah sebagai:
a. Ikatan perjanjian yang bersifat sosial dan dapat
dibatalkan bila ada alasan kuat.
b. Komitmen batin yang terbentuk karena pengulangan
amal saleh dan dzikir.
c. Keyakinan spiritual terhadap keesaan Allah yang
muncul dari kesadaran intuitif.
d. Penguatan tekad melalui sumpah setia yang
menuntut konsekuensi moral dan hukum.
A
B
C
D
Ayat QS. al-Nahl (16): 89 menegaskan bahwa al-Qur’an adalah “penjelas atas segala sesuatu”. Dalam konteks sumber aqidah, pernyataan ini menunjukkan bahwa:
a. Semua bentuk pengetahuan, baik empiris maupun
metafisis, harus ditolak bila tidak termaktub dalam al-
Qur’an.
b. Al-Qur’an menjadi dasar seluruh bentuk pengetahuan
manusia, termasuk sains, yang wajib ditafsirkan
secara literal.
c. Al-Qur’an berfungsi sebagai sumber normatif yang
memberi kerangka kebenaran universal, sementara
akal berperan sebagai alat verifikasinya.
d. Al-Qur’an hanyalah sumber inspirasi moral,
sedangkan urusan keyakinan ditentukan oleh
pengalaman spiritual pribadi.
A
B
C
D
Dalam pembahasan sumber aqidah Islam, akal manusia tidak termasuk sebagai sumber aqidah, melainkan alat untuk memahami nash. Berdasarkan konsep epistemologi Islam, peran akal tersebut paling tepat digolongkan sebagai:
a. Instrumen istidlāl (penggalian hukum) yang dapat
menghasilkan pengetahuan mandiri tentang perkara
ghaib.
b. Sarana tafahhum (pemahaman) terhadap dalil naqli,
bukan penentu kebenaran terhadap hal-hal yang
berada di luar jangkauan empirisnya.
c. Sumber tasyri‘ (penetapan hukum) yang sejajar
dengan al-Qur’an dan al-Sunnah dalam bidang
keyakinan.
d. Metode tajribi (eksperimen rasional) yang dapat
membuktikan eksistensi Allah tanpa bimbingan
wahyu.
A
B
C
D
Secara etimologis, kata tauhid berasal dari akar kata waḥḥada–yuwaḥḥidu–tawḥīdan, yang secara harfiah berarti “mengesakan”. Dalam konteks aqidah Islam, makna ini menegaskan bahwa:
a. Allah memiliki banyak sifat dan bentuk yang berbeda-
beda.
b. Allah diakui sebagai Tuhan utama, tetapi makhluk
lain bisa menjadi perantara kekuasaan-Nya.
c. Hanya Allah yang memiliki kebenaran mutlak dan
otoritas hukum yang mengikat secara total atas
manusia.
d. Setiap manusia bebas menentukan sistem
kebenarannya selama mengakui adanya Tuhan.
A
B
C
D
Lawan dari tauhid adalah syirik. Dalam pengertian teologis, syirik dipahami sebagai:
a. Menyekutukan Allah dengan sesuatu, baik dalam
ibadah maupun hukum-Nya.
kesempurnaan.
b. Menganggap Allah tidak memiliki sifat-sifat
c. Menolak eksistensi Allah secara total.
d. Mengabaikan ajaran Nabi Muhammad SAW tetapi
tetap beriman kepada Allah.
A
B
C
D
Pernyataan “lā ilāha illallāh” mengandung dua prinsip utama yaitu al-nafy dan al-itsbāt. Prinsip al-nafy bermakna:
a. Penegasan bahwa hanya Allah yang disembah
dengan benar.
b. Pengakuan atas eksistensi makhluk yang memiliki
c. Penetapan hukum Allah sebagai dasar kehidupan.
d. Peniadaan segala bentuk sesembahan selain Allah.
kekuasaan terbatas.
A
B
C
D
Dari dua prinsip kalimat tauhid, al-itsbāt memiliki fungsi epistemologis yang menunjukkan bahwa:
a. Pengakuan terhadap Allah harus diikuti dengan
pengingkaran terhadap dunia material.
b. Hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan
ditaati secara hakiki.
c. Tauhid bersifat relatif tergantung tingkat
pengetahuan manusia.
d. Keimanan tidak membutuhkan penetapan logis
selama ada pengakuan lisan.
A
B
C
D
Tauhid memiliki kedudukan sentral dalam Islam karena:
a. Menjadi landasan seluruh dimensi ajaran Islam:
aqidah, syariat, dan akhlak.
b. Hanya mengatur aspek ritual dan spiritual tanpa
menyentuh moral.
c. Berfungsi sebagai simbol teologis sebagai
konsekuensi sosial.
d. Dipahami oleh kalangan ulama dan sufi
tertentu.
A
B
C
D
Syarat pertama kalimat tauhid, al-‘ilm, menafikan kebodohan (al-jahl). Makna filosofis dari syarat ini ialah:
a. Pengetahuan tentang Allah dapat diperoleh
melalui perenungan akal tanpa wahyu.
b. Orang awam cukup mengucapkan syahadat tanpa
memahami kandungannya.
c. Pemahaman terhadap makna “lā ilāha illallāh” harus
meliputi aspek yang dinafikan dan yang ditetapkan.
d. Ilmu tentang tauhid wajib selama seseorang
beriman secara emosional.
A
B
C
D
Syarat kedua, al-yaqīn, menafikan al-syakk (keraguan). Hal ini menandakan bahwa:
a. Keyakinan terhadap kalimat tauhid boleh disertai
keraguan rasional.
b. Keimanan sejati menuntut pengetahuan intuitif
dengan bukti.
c. Kalimat tauhid tidak sah bila masih disertai keraguan
dalam hati.
d. Keraguan merupakan bagian dari proses spiritual
menuju tauhid.
A
B
C
D
Syarat al-inqiyād (patuh) menuntut bahwa seorang mukmin:
a. Harus tunduk kepada makna tauhid dan
melaksanakan konsekuensinya dalam seluruh aspek
kehidupan.
b. Cukup mengakui tauhid secara batin dan tindakan
menurut petunjuk akalnya.
c. Perlu patuh kepada hukum Allah selama
niatnya baik.
d. Dapat menunda ketaatan hingga memahami seluruh
kandungan syahadat.
A
B
C
D
Al-ikhlāṣ sebagai salah satu syarat tauhid menafikan riya’ dan sum‘ah. Hal ini menunjukkan dimensi spiritual tauhid yang mengajarkan:
a. Ketulusan amal akan diterima jika disertai
pengakuan sosial.
b. Tauhid dapat bertahan meski seseorang mencari
pujian manusia.
c. Riya’ dibolehkan jika tidak merusak niat utama ibadah.
d. Segala amal harus bersih dari motivasi duniawi dan
hanya karena Allah.
A
B
C
D
Syarat mahabbah (cinta) menafikan bughdlā’ (kebencian). Dalam konteks tauhid, hal ini mengandung makna bahwa:
a. Cinta kepada Allah menjadi dasar bagi seluruh
bentuk cinta kepada makhluk-Nya.
b. Kecintaan duniawi perlu disandarkan kepada
Allah.
c. Cinta hanyalah perasaan emosional dengan nilai
teologis.
d. Cinta kepada makhluk lebih utama daripada cinta
kepada Sang Pencipta.
A
B
C
D
Surat Al Baqarah Ayat 3
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ
A. Mengandung keimanan kepada nabi
B. Mengandung keimanan kepada adanya hari akhir
C. Mengandung keimanan kepada ayat kauniyah
D. Mengandung keimanan ayat qouliyah
A
B
C
D
Hal-hal yang merusak keimanan kecuali...
A. Nifaq
B. Riddah
C. Bid'ah
D. Iddah
A
B
C
D
Jelaskan maksud daripada Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan tauhid asma' wa sifat!
