NEW
Font size
WorksheetsKUIS EKOLINGUISTIK
Total questions: 30
Worksheet time: 7mins
Dalam kerangka awal Haugen (1972), konsep ecology of language menekankan hubungan antara bahasa dan lingkungannya. Dalam perkembangan menuju ekolinguistik sistemik, Halliday (1990) memperluas konsep ini dengan menyoroti:
Keterbatasan sumber daya bahasa dalam masyarakat bilingual
Hubungan timbal balik antara struktur sosial dan variasi fonologis
Peran bahasa dalam membentuk dan mereproduksi sistem perilaku ekologis manusia
Ketergantungan linguistik pada determinisme biologis
Menurut Haugen, ekologi bahasa dapat dilihat dari relasi antara bahasa dan its environment. Dalam interpretasi fungsional menurut Hasan (1999), “lingkungan” tersebut tidak hanya mencakup konteks sosial, tetapi juga:
Struktur sintaktis yang menandai hierarki fungsi klausa
Jaringan makna yang terbentuk melalui sistem register dan genre
Perubahan leksikal yang mengikuti evolusi budaya
Relasi semantik antara aktor dan proses material
Halliday (1990) mengajukan gagasan bahwa krisis ekologi global merupakan “krisis makna.” Dalam perspektif LSF, krisis tersebut dapat dipahami sebagai:
Ketidakseimbangan antara metafungsi ideasional dan interpersonal
Ketidaksadaran manusia terhadap konstruksi wacana yang mereproduksi eksploitasi alam
Keterbatasan sistem transitivitas dalam merepresentasikan realitas ekologis
Pergeseran pola kohesi yang menurunkan kohesi sosial
Dalam kerangka ekolinguistik SFL, analisis transitivitas membantu menyingkap bagaimana bahasa menggambarkan relasi manusia–lingkungan. Pernyataan yang paling tepat adalah:
Proses mental merepresentasikan interaksi ekologis secara paling objektif
Proses material menunjukkan tindakan manusia yang berimplikasi terhadap lingkungan
Proses eksistensial hanya berfungsi mengabstraksikan ide ekologis tanpa representasi nyata
Proses relasional tidak relevan dalam analisis wacana lingkungan
Menurut Halliday, sistem metafungsi berperan dalam pembentukan kesadaran ekologis karena:
Setiap metafungsi bekerja secara terpisah dalam wacana lingkungan
Metafungsi tekstual berfungsi menggantikan peran makna interpersonal
Bahasa memungkinkan pembingkaian realitas ekologis melalui tiga jalur makna yang saling terkait
Hanya metafungsi ideasional yang dapat mewakili representasi lingkungan secara akurat
stilah ecology of language pertama kali diperkenalkan oleh Einar Haugen (1972) untuk menjelaskan:
Hubungan antara variasi bahasa dan perubahan iklim
Interaksi antara bahasa dengan lingkungan sosial dan ekologis tempatnya digunakan
Perubahan struktur gramatikal akibat kontak budaya
Pengaruh biologi terhadap sistem fonologi
Menurut Halliday (1990), bahasa memiliki peran penting dalam krisis lingkungan global karena:
Bahasa netral terhadap tindakan manusia
Struktur gramatikal dapat menentukan perilaku ekologis
Bahasa digunakan untuk menormalisasi pola konsumsi yang tidak berkelanjutan
Bahasa sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor biologis
Dalam perspektif ekolinguistik, istilah stories we live by (Stibbe, 2015) mengacu pada:
Kisah imajiner tentang alam yang tidak berdampak sosial
Narasi budaya yang membentuk cara manusia memandang dan memperlakukan lingkungan
Cerita rakyat yang menjadi sumber etimologi ekoleksikon
Cerita ilmiah tentang evolusi linguistik
Dalam wacana ekolinguistik, pergeseran dari antropocentris ke ecocentris menunjukkan:
Pergeseran fokus dari manusia sebagai pusat makna ke alam sebagai entitas bermakna
Penolakan terhadap penggunaan bahasa manusia dalam konteks ekologis
Dominasi analisis gramatikal atas analisis semantik
Perubahan fokus dari sistem sosial ke sistem biologis
Dalam analisis ekolinguistik-SFL terhadap klausa “Hutan ditebang manusia untuk kepentingan industri”, aspek yang paling relevan untuk dibahas adalah:
Tema interpersonal dan metafungsi tekstual
Pilihan transitivitas dan penghapusan tanggung jawab agen
Kohesi leksikal dan kolokasi semantik
Struktur argumen dan peran klausa subordinat
Dalam teori SFL, ketiga metafungsi utama menurut Halliday adalah:
Ideational, textual, referential
Ideational, interpersonal, textual
Experiential, pragmatic, textual
Logical, interpersonal, grammatical
Metafungsi ideational berhubungan langsung dengan:
Hubungan penutur dan pendengar
Representasi pengalaman dunia luar dan batin
Struktur kohesi dalam teks
Pilihan tema dalam klausa
Metafungsi interpersonal dapat dikaji melalui sistem:
Transitivity dan nominalization
Mood dan modality
Theme dan rheme
Cohesion dan coherence
Dalam analisis metafungsi ideational, elemen utama yang dikaji adalah:
Tema dan rema
Subjek dan predikat
Proses, partisipan, dan sirkumstans
Mood, modality, dan residue
Istilah systemic dalam SFL merujuk pada:
Hubungan sebab-akibat antar-klausa
Jaringan pilihan makna dalam bahasa
Struktur kalimat yang mengikuti pola tetap
Hubungan morfologis antar-leksem
Dalam SFL, konteks dibedakan menjadi dua tingkatan, yaitu:
Register dan genre
Field dan tenor
Situational context dan cultural context
Pragmatic context dan semantic context
Dalam context of situation, komponen field, tenor, dan mode masing-masing merujuk pada:
Topik, pelaku, dan gaya komunikasi
Aktivitas, hubungan sosial, dan medium
Tema, proses, dan pelengkap
Agen, pasien, dan modus
Analisis SFL sering dimulai dari metafungsi karena:
Setiap klausa memiliki makna tunggal
Metafungsi menunjukkan lapisan struktur morfologis
Ketiga metafungsi memperlihatkan hubungan antara bentuk dan makna sosial
Metafungsi memisahkan unsur sintaksis dari semantik
SFL memiliki nilai penting bagi analisis ekolinguistik karena:
Memusatkan perhatian pada bunyi dan struktur fonologis bahasa
Memisahkan bentuk bahasa dari ideologi sosial
Menyediakan kerangka untuk menyingkap makna ekologis dalam pilihan gramatikal
Membatasi analisis pada tataran semantik literal
Dalam Systemic Functional Linguistics, “subject” tidak selalu bermakna sama, karena setiap metafungsi memiliki versinya sendiri. Pernyataan ini berarti bahwa:
Subjek hanya berfungsi sebagai pelaku tindakan
Subjek bisa memiliki fungsi interpersonal, ideational, atau tekstual
Subjek selalu sama dengan tema
Subjek ditentukan oleh urutan kata dalam klausa
Dalam klausa “Hutan harus dijaga manusia”, kata “hutan” berfungsi sebagai:
Subjek logis
Subjek gramatikal
Subjek tematik
Kedua B dan C benar
Dalam klausa “Manusia menebang hutan setiap tahun”, manusia merupakan:
Subjek gramatikal dan logis
Subjek tematik saja
Subjek gramatikal tetapi bukan logis
Bukan subjek sama sekali
Subjek tematik berperan penting dalam metafungsi tekstual karena:
Menunjukkan siapa pelaku tindakan
Menyampaikan titik awal atau fokus pesan dalam klausa
Menentukan modalitas klausa
Mengatur hubungan interpersonal
Jika suatu klausa berbentuk pasif seperti “Sungai dibersihkan oleh relawan”, maka:
Subjek logis = sungai
Subjek gramatikal = sungai, subjek logis = relawan
Subjek gramatikal dan logis sama
Tidak ada subjek tematik
Dalam analisis wacana ekolinguistik, struktur pasif seperti “Hutan ditebang secara besar-besaran” dianggap penting karena:
Menunjukkan subjek logis manusia secara eksplisit
Menyembunyikan agen manusia melalui penghapusan subjek logis
Menguatkan peran tema interpersonal
Mengganti proses material menjadi relasional
Dalam klausa “Penduduk merasakan perubahan iklim yang ekstrem,” partisipan penduduk berfungsi sebagai:
Senser dalam proses mental
Actor dalam proses material
Token dalam proses relasional
Carrier dalam proses atributif
Klausa “Hutan adalah paru-paru dunia” termasuk proses:
Relasional atributif
Relasional identifikatif
Eksistensial
Mental afektif
Dalam klausa “Akan ada perubahan besar di hutan jika penebangan terus dilakukan,” proses yang muncul adalah:
Relasional identifikatif
Eksistensial
Material
Mental
Dalam klausa “Anak-anak mempelajari pentingnya menjaga hutan,” jenis proses yang muncul adalah:
Verbal
Mental
Material
Perilaku
Klausa “Masyarakat termenung menyaksikan hutan yang gundul,” menunjukkan adanya:
Proses mental
Proses perilaku
Proses verbal
Proses material
