NEW
Font size
WorksheetsUAS Imunohematologi-D3 TLM-Wahyu
Total questions: 25
Worksheet time: 34mins
Uji saring Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) dapat dilakukan secara serologi (immunoassay) yaitu terhadap antibodi atau antigen. Berikut ini merupakan metode yang dapat digunakan dengan prisip immunoassay, kecuali ...
Rapid test Imunokromatografi
Enzyme Immuno Assay (EIA)
Chemiluminescence Immuno Assay (CLIA)
Enzyme linked Immuno Assay (ELISA)
Nuclei Acid Amplification Test (NAT)
Donor darah HBsAg reaktif akan dirujuk ke fasyankes agar dapat ditegakkan diagnosis hepatitis B berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut di bawah ini merupakan pemeriksaan serologis Hepatitis B dengan HBsAg reaktif, kecuali...
Anti-HBs
HBcAg
Anti-HBc
HBeAg
Anti-HBsAb
Infeksi yang ditimbulkan oleh virus Hepatitis C akibat transfusi darah umumnya berupa hepatitis kronis yang dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius. Infeksi ini sering terjadi pada pasien dengan riwayat transfusi darah berulang. Berdasarkan uraian tersebut, pernyataan yang benar mengenai infeksi Hepatitis C adalah ....
Umumnya menimbulkan hepatitis akut yang mudah sembuh tanpa komplikasi
Penularan melalui transfusi darah jarang terjadi karena virus mudah mati di udara
Dapat berkembang menjadi hepatitis kronis, sirosis hati, dan kanker hati
Hanya menular melalui kontak langsung dengan air liur penderita
Paling sering menyerang anak-anak tanpa riwayat transfusi darah
Virus Hepatitis B dapat menular melalui transfusi darah dan cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan skrining donor darah terhadap Hepatitis B biasanya dilakukan dengan mendeteksi ....
Antibodi anti-HBs
Antibodi HBsAg
Antibodi anti HBc IgM
RNA Virus Hepatitis B
SGOT dan SGPT
TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Assay) merupakan pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap Treponema pallidum, penyebab penyakit sifilis. Prinsip kerja pemeriksaan ini didasarkan pada reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi. Prinsip pemeriksaan TPHA yang benar adalah ....
Terjadi perubahan warna akibat pembentukan kompleks antigen–antibodi yang bereaksi dengan enzim penanda pada sistem immunoenzymatic assay
Terjadi pengikatan antibodi berlabel fluorokrom dengan antigen Treponema pallidum pada preparat jaringan, yang kemudian diamati di bawah mikroskop fluoresensi
Terjadi aglutinasi ketika antibodi anti-Treponema pallidum dalam serum pasien bereaksi dengan eritrosit yang permukaannya telah dilapisi antigen Treponema pallidum, membentuk pola aglutinasi khas
Terjadi aglutinasi antara antigen dan antibodi spesifik di dalam medium cair, menghasilkan endapan yang menandakan adanya antibodi anti-Treponema pallidum.
Terjadi reaksi hemolisis akibat aktivasi sistem komplemen oleh kompleks antigen–antibodi yang terbentuk antara antigen Treponema pallidum dan serum pasien.
Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) adalah pemeriksaan
serologi untuk penyakit sifilis. Tujuan pemeriksaan TPHA adalah ...
Untuk mendeteksi adanya antigen Treponema pallidum sebagai penyebab penyakit sifilis secara langsung dalam darah pasien
Untuk menegakkan diagnosis awal sifilis melalui deteksi antibodi nonspesifik terhadap antigen lipid tubuh
Untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap Treponema pallidum dalam serum manusia
Untuk menentukan tingkat keparahan infeksi sifilis berdasarkan titer antibodi
Untuk membedakan antara infeksi Treponema pallidum dengan infeksi bakteri lain secara mikroskopis
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu infeksi yang termasuk dalam kelompok Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD) sehingga wajib dilakukan uji saring pada setiap calon donor darah. Dalam konteks imunohematologi, tujuan utama pemeriksaan HIV pada darah donor adalah ....
Untuk mendeteksi adanya antibodi atau antigen HIV guna mencegah penularan melalui transfusi darah
Untuk menentukan kadar viral load HIV pada pasien dengan terapi antiretroviral
Untuk menilai tingkat kerusakan sistem imun melalui jumlah sel CD4
Untuk membedakan tipe HIV-1 dan HIV-2 pada pasien positif
Untuk memantau respons imun pasien terhadap pengobatan HIV
Mengapa pemeriksaan HIV penting dilakukan di laboratorium sebelum darah donor diberikan kepada pasien?
Karena HIV dapat menyebabkan gangguan koagulasi sehingga darah donor tidak layak pakai
Karena HIV dapat menular melalui transfusi darah dan menginfeksi sistem imun penerima
Karena HIV dapat merusak eritrosit donor selama penyimpanan
Karena antibodi HIV dapat bereaksi silang dengan antigen Rh penerima
Karena HIV dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin donor
Menurut Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pemeriksaan dan diagnosis HIV harus dilakukan dengan mengikuti prinsip 5C untuk menjamin mutu pelayanan dan perlindungan hak pasien. Yang termasuk dalam prinsip 5C tersebut adalah...
Informed consent, Confidentiality, Consultation, Correct test results, and Continuous medication
Informed consent, Coordination, Counseling, Correct results, and Care services
Confidentiality to ensure patient privacy, Counseling to support patients before and after testing, Cooperation among health workers, Care for patients, and Cure as part of follow-up services
Consent from the patient, Confidentiality in maintaining test result data, Counseling by health staff, Check for accuracy of results, and Care in providing medical follow-up
Informed consent, Confidentiality, Counseling, Correct test results, and Connections to care, treatment, and prevention services
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang laboratorium HIV dan infeksi oportunistik, serta Petunjuk Teknis Surveilans Sentinel HIV, metode pemeriksaan HIV yang digunakan di fasilitas laboratorium harus memenuhi kriteria tertentu agar hasil diagnostik dapat dipercaya. Pernyataan berikut yang benar adalah ....
Reagen pertama (R1) harus memiliki spesifisitas tinggi (≥ 99%) untuk mencegah hasil negatif palsu, sedangkan reagen konfirmasi (R2/R3) cukup memiliki sensitivitas ≥ 95%.
Reagen pertama (R1) digunakan untuk konfirmasi hasil reagen kedua dan ketiga, dengan spesifisitas minimal 97%.
Semua reagen (R1, R2, dan R3) memiliki fungsi yang sama, sehingga sensitivitas dan spesifisitas tidak perlu dibedakan.
Reagen pertama (R1) harus memiliki sensitivitas ≥ 99% agar kemungkinan hasil negatif palsu minimal, sedangkan reagen konfirmasi (R2/R3) harus memiliki spesifisitas ≥ 98–99% untuk mengurangi kemungkinan hasil positif palsu.
Pemeriksaan HIV di laboratorium cukup menggunakan satu jenis reagen dengan sensitivitas sedang asalkan dilakukan pengulangan dua kali.
Seorang pasien menjalani pemeriksaan HIV di laboratorium rujukan.
Pemeriksaan dilakukan menggunakan tiga reagen sesuai pedoman Kemenkes:
R1: memiliki sensitivitas ≥ 99%
R2: memiliki spesifisitas ≥ 98%
R3: digunakan sebagai reagen konfirmasi tambahan
Hasil pemeriksaan menunjukkan:
R1: reaktif
R2: reaktif
R3: non-reaktif
Berdasarkan pedoman teknis surveilans HIV dan prinsip sensitivitas–spesifisitas, interpretasi hasil pemeriksaan tersebut yang paling tepat adalah ....
Hasil pemeriksaan belum dapat disimpulkan, laporkan HIV Inkonklusif dan dilakukan pemeriksaan ulang 14 hari kemudian
Pasien dapat langsung dinyatakan positif HIV karena dua reagen awal (R1 dan R2) telah menunjukkan hasil reaktif, meskipun hasil R3 non-reaktif, karena sensitivitas R1 dan spesifisitas R2 sudah sangat tinggi.
Pasien sebaiknya dianggap negatif HIV karena hasil R3 non-reaktif memiliki spesifisitas yang tinggi dan dapat dipercaya untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi HIV.
Pasien dikategorikan sebagai HIV indeterminate dan perlu segera diberikan pengobatan antiretroviral (ARV) sambil menunggu hasil pemeriksaan lanjutan.
Hasil pemeriksaan dianggap valid dan pasien dapat dinyatakan positif HIV karena sensitivitas dan spesifisitas seluruh reagen sudah sesuai standar nasional (≥ 99%).
Tes Coombs Langsung (Direct Coombs Test / Direct Antiglobulin Test) merupakan salah satu pemeriksaan penting dalam bidang Imunohematologi. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi adanya antibodi yang melekat pada permukaan eritrosit pasien secara in vivo. Berdasarkan prinsip pemeriksaannya, pernyataan berikut yang paling tepat adalah...
Tes Coombs Langsung mendeteksi antibodi bebas dalam serum pasien dengan menambahkan eritrosit uji dan mengamati terbentuknya aglutinasi setelah inkubasi.
Tes Coombs Langsung dilakukan dengan mereaksikan eritrosit pasien yang telah dilapisi antibodi dengan Coombs serum (antiglobulin serum) sehingga terjadi aglutinasi positif bila antibodi memang melekat pada eritrosit.
Tes Coombs Langsung digunakan untuk mendeteksi antibodi lengkap (IgM) yang berada bebas dalam plasma pasien tanpa melibatkan reaksi antiglobulin.
Tes Coombs Langsung digunakan untuk mendeteksi antigen pada serum pasien dengan menambahkan antibodi komersial, hasil positif ditandai dengan terbentuknya presipitasi.
Tes Coombs Langsung hanya digunakan untuk mendeteksi antibodi yang terbentuk secara in vitro setelah transfusi darah, bukan antibodi yang terbentuk dalam tubuh pasien (in vivo).
Pemeriksaan Indirect Coombs Test (ICT) digunakan untuk menilai adanya antibodi terhadap antigen sel darah merah yang belum berikatan dengan eritrosit. Berdasarkan prinsip dan fungsinya, tujuan utama dari pemeriksaan Indirect Coombs Test adalah ....
Untuk mendeteksi antibodi yang sudah melekat pada permukaan eritrosit pasien secara in vivo, seperti pada kasus anemia hemolitik autoimun, reaksi transfusi, atau penyakit hemolitik pada bayi baru lahir.
Untuk mendeteksi antibodi bebas di dalam serum pasien yang dapat bereaksi dengan antigen pada permukaan eritrosit, sehingga berpotensi menimbulkan reaksi hemolitik pada transfusi atau inkompatibilitas rhesus.
Untuk mengidentifikasi antigen spesifik yang terdapat pada membran eritrosit donor melalui reaksi langsung antara antigen dan antibodi tanpa menggunakan serum antiglobulin sebagai reagen tambahan.
Untuk menilai kemampuan antibodi IgM dalam menyebabkan aglutinasi langsung terhadap eritrosit tanpa melalui proses inkubasi maupun penambahan antiglobulin serum.
Untuk menentukan jumlah antibodi yang telah berikatan kuat dengan eritrosit janin di dalam tubuh ibu, dengan tujuan menilai tingkat keparahan hemolisis pada kasus hemolytic disease of the newborn (HDN).
Pemeriksaan Indirect Coombs Test (ICT) digunakan untuk menilai adanya antibodi terhadap antigen sel darah merah yang belum berikatan dengan eritrosit. Berdasarkan interpretasi hasil, apabila hasil ICT menunjukkan reaksi positif, maka hal tersebut menandakan bahwa ....
Terdapat antibodi yang telah melekat pada permukaan eritrosit pasien secara in vivo, menandakan adanya reaksi hemolitik aktif di dalam tubuh.
Terdapat antibodi dalam serum pasien yang dapat berikatan dengan antigen pada eritrosit uji secara in vitro, menandakan adanya antibodi irreguler yang berpotensi menyebabkan reaksi hemolitik jika transfusi dilakukan dengan darah yang tidak sesuai.
Tidak terdapat antibodi bebas dalam serum pasien, sehingga hasil reaksi menunjukkan tidak adanya aglutinasi antara serum dan eritrosit uji.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya antibodi IgM alami yang menyebabkan aglutinasi spontan tanpa memerlukan reagen antiglobulin tambahan.
Reaksi positif menunjukkan terjadinya presipitasi protein serum akibat ketidaksesuaian sistem ABO antara donor dan resipien.
Pemeriksaan Screening Antibody merupakan pemeriksaan serologis yang dilakukan sebelum transfusi darah. Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah ....
Menentukan golongan darah ABO dan Rhesus pasien secara spesifik.
Mendeteksi keberadaan antibodi irregular dalam serum yang dapat bereaksi dengan antigen pada sel darah merah donor.
Mengukur kadar hemoglobin untuk menilai kebutuhan transfusi pasien.
Mengetahui fungsi respon imun pasien sebelum transfusi darah dilakukan.
Menentukan adanya infeksi menular melalui darah seperti HIV dan Hepatitis.
Reaksi transfusi hemolitik dapat terjadi bila darah donor mengandung antigen eritrosit yang sesuai dengan antibodi tak terduga pada pasien. Screening antibody membantu mencegah kejadian ini dengan cara ....
Mengidentifikasi kadar bilirubin dalam darah pasien.
Melakukan pemeriksaan mikroskopik terhadap sel darah donor.
Menentukan kecocokan ABO dan Rh melalui uji silang besar (major crossmatch).
Mendeteksi antibodi tak terduga dalam serum pasien sebelum transfusi dilakukan.
Mengukur kadar enzim hati untuk mendeteksi efek samping transfusi.
Berikut ini merupakan metode yang dapat digunakan dalam pemeriksaan screening antibody, kecuali ...
Tabung
Direct Antiglobulin Test (DAT)
Indirect Antiglobulin Test (IAT)
Solid Phase Red Cell Adherence (SPRCA)
Anti-Human Globulin (AHG)
Antigen eritrosit ditanam pada permukaan mikrotiter plate (sumuran), kemudian serum pasien ditambahkan, bila terdapat antibodi maka akan menempel ke antigen di sumuran.
Setelah itu ditambahkan sel darah merah indikator yang berlapis IgG.
Pernyataan berikut merupaka prinsip screening antibody metode ...
Tabung
Direct Antiglobulin Test (DAT)
Indirect Antiglobulin Test (IAT)
Solid Phase Red Cell Adherence (SPRCA)
Anti-Human Globulin (AHG)
Dalam pemeriksaan crossmatch sebelum melakukan transfusi, diketahui terdapat dua jenis pemeriksaan yaitu crossmatch mayor dan crossmatch minor.
Pernyataan berikut yang benar mengenai corssmatch mayor dan minor adalah...
Crossmatch mayor mereaksikan serum donor dengan sel darah merah resipien untuk mengetahui antibodi pada donor, sedangkan crossmatch minor mereaksikan serum resipien dengan sel donor untuk mengetahui antibodi pada pasien.
Crossmatch mayor mereaksikan serum pasien dengan sel darah merah donor untuk mendeteksi antibodi pasien terhadap antigen donor, sedangkan crossmatch minor mereaksikan serum donor dengan sel darah merah pasien untuk mendeteksi antibodi donor terhadap antigen pasien.
Crossmatch mayor dilakukan antara antigen dan antibodi dari darah donor, sedangkan crossmatch minor hanya menggunakan serum fisiologis tanpa antigen eritrosit.
Crossmatch mayor dan minor sama-sama menggunakan serum pasien dan sel donor, namun dilakukan pada suhu dan waktu inkubasi yang berbeda.
Crossmatch mayor dilakukan setelah transfusi darah, sedangkan crossmatch minor dilakukan sebelum transfusi untuk mendeteksi reaksi hemolitik akut.
Dalam pemeriksaan uji crossmatch sebelum transfusi darah, hasil reaksi antara serum penerima dan sel donor diamati untuk menentukan kompatibilitas darah.
Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan jika tidak terjadi aglutinasi maupun hemolisis pada uji tersebut?
Menunjukkan bahwa darah donor tidak cocok (incompatible) dengan pasien dan tidak boleh ditransfusikan.
Menandakan adanya antibodi tak terduga dalam serum pasien yang bereaksi dengan antigen donor.
Menunjukkan bahwa darah donor cocok (compatible) dengan pasien dan aman untuk dilanjutkan ke transfusi atau fase berikutnya.
Menandakan bahwa pasien telah mengalami reaksi hemolitik akut akibat sensitisasi terhadap antigen donor.
Mengindikasikan bahwa pemeriksaan harus diulang karena hasilnya tidak valid secara serologis.
Pada pemeriksaan HCV seperti gambar di atas, metode apakah yang digunakan dalam pemeriksaan tesebut?
Imunokromatografi
Presipitasi
Aglutinasi
Hemaglutinasi
Imunohematologi
Prinsip pemeriksaan HCV pada pemeriksaan di atas adalah...
Deteksi antibodi HCV melalui reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi pada device rapid test
Reaksi antara antibodi dalam serum atau plasma pasien dengan antigen HCV rekombinan yang berlabel emas koloid, membentuk kompleks antigen–antibodi yang kemudian bergerak sepanjang membran dan menghasilkan garis warna pada area uji.
Reaksi antara antigen dalam serum atau plasma pasien dengan antibodi HCV rekombinan yang berlabel emas koloid, membentuk kompleks antigen–antibodi yang kemudian bergerak sepanjang membran dan menghasilkan garis warna pada area uji.
Pengikatan antibodi anti-HCV dengan antigen HCV dalam device rapid test yang membentuk kompleks antigen-antibodi dan diamati dan menghasilkan garis warna pada area uji.
Deteksi langsung partikel virus HCV dengan antibodi HCV rekombinan yang berlabel emas koloid, membentuk kompleks antigen–antibodi yang kemudian bergerak sepanjang membran dan menghasilkan garis warna pada area uji.
Dalam pemeriksaan HBV rapid test, hanya muncul satu garis pada area kontrol (C) tanpa adanya garis pada area tes (T). Bagaimana interpretasi hasil tersebut?
Hasil negatif, menunjukkan tidak terdeteksi antibodi terhadap HBV pada sampel pasien.
Hasil positif, menunjukkan antibodi terhadap HBV telah terbentuk dalam darah pasien.
Hasil positif, menunjukkan antigen terhadap HBV telah terbentuk dalam darah pasien.
Hasil negatif, menunjukkan tidak terdeteksi antigen terhadap HBV pada sampel pasien.
Hasil invalid, karena tidak terbentuk garis pada area T menandakan kesalahan teknis.
Di bawah ini merupakan cara penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV), kecuali …
Melalui hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
Penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkoba suntik.
Penularan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya selama kehamilan, persalinan, atau menyusui.
Transfusi darah atau produk darah yang tidak melalui proses penyaringan HIV terlebih dahulu.
Berinteraksi dan berjabat tangan dengan penderita HIV
Pemeriksaan Direct Coombs Test (DCT) dilakukan untuk mendeteksi …
Antibodi bebas yang terdapat di dalam serum pasien
Antigen golongan darah ABO pada permukaan eritrosit
Antibodi yang sudah melekat pada permukaan eritrosit di dalam tubuh pasien
Adanya hemoglobin abnormal dalam sel darah merah
Jumlah antibodi total dalam plasma darah
