WorksheetsUJI COBA TAM BAHASA ARAB
Total questions: 50
Worksheet time: 50mins
Dalam ilmu sharaf, istilah wazan “فَعَّالٌ” yang digunakan untuk membentuk shigat mubalaghah termasuk kategori
shigat mubalaghah dari fi‘il tsulatsi mujarrad dengan tambahan alif dan ta’ marbuthah
shigat mubalaghah dari fi‘il tsulatsi mazid ruba‘i dengan tambahan huruf ta’
shigat mubalaghah dari fi‘il tsulatsi mazid tsulatsi dengan tambahan huruf alif
shigat mubalaghah dari fi‘il tsulatsi mujarrad dengan tambahan huruf ya’ dan ta’
shigat mubalaghah dari fi‘il tsulatsi mazid bila huruf dengan tambahan alif dan nun
Penggunaan bina’ majhul pada fi‘il mazid fii harf dengan wazan “اِسْتَفْعَلَ” menghasilkan pola
اُسْتُفْعِلَ
اِسْتَفْعِلَ
تُسْتَفْعِلُ
اَسْتَفْعِلَ
اِسْتَفْعِلُوا
Fi‘il madhi “يَكْرِمُ” jika diubah ke dalam bina’ mudhari‘ majhul menjadi
يُكْرَمُ
يُكْرِمُ
تُكْرِمُ
تُكْرَمُ
يُكْرَمْ
Kata “مُسْتَفْعَلٌ” termasuk isim maf‘ul dari fi‘il
اِسْتَفْعَلَ – مُسْتَفْعَلٌ (wazn اِسْتِفْعَال)
اِفْعَلَ – مُفْعَلٌ (wazn اِفْعَال)
أَفْعَلَ – مُفْعَلٌ (wazn أَفْعَال)
فَاعَلَ – مُفَاعَلٌ (wazn مُفَاعَل)
تَفَعَّلَ – مُتَفَعِّلٌ (wazn تَفَعُّل)
Jumlah ashghar yang terdiri atas mubtada’ dan khabar yang keduanya berupa fi‘il disebut
jumlah fi‘liyyah muta‘alliqqah
jumlah ismiyyah muhaddah
jumlah fi‘liyyah musta’nalah
jumlah ismiyyah mufidah
jumlah fi‘liyyah mu‘allaqah
Dalam nahwu, kedudukan “الكتابَ” pada kalimat زَيْدٌ قَرَأَ الْكِتَابَ adalah
maf‘ul bihi manshub dengan fathah
maf‘ul bihi manshub dengan alif
maf‘ul bihi marfu‘ dengan dhammah
maf‘ul bihi majrur dengan kasrah
maf‘ul bihi majzum dengan sukun
Kalimat “إِنَّ زَيْدًا قَائِمٌ” termasuk jumlah ismiyyah karena
dimulai dengan fi‘il
dimulai dengan huruf nashab inna
dimulai dengan huruf jar
dimulai dengan huruf ‘athaf
dimulai dengan ism dhamir
I‘rab “المُدَرِّسِينَ” dalam kalimat “أَكْرِمْتُ المُدَرِّسِينَ” adalah
maf‘ul bihi manshub dengan ya’ dan nun
maf‘ul bihi manshub dengan alif dan nun
maf‘ul bihi manshub dengan kasrah
maf‘ul bihi marfu‘ dengan waw dan nun
maf‘ul bihi majrur dengan ya’ dan nun
Shilah maushul yang berupa jumlah fi‘liyyah harus mempunyai ‘aid yang kembali kepada
maushul itu sendiri
khabar
mubtada’
fi‘il
harf jar
Contoh badal istymial yang paling tepat adalah
جَاءَنِي أَخُوكَ زَيْدٌ
زُرْتُ رِزْقَكَ أَخَاكَ
مَرَرْتُ بِزَيْدٍ أَبِيكَ
أَكْرِمْتُ الطَّالِبَ عِلْمَهُ
صَوَّتُ الْكِتَابَ الْقُرْآنَ
Majaz mursal dengan hubungan “al-juz’iyyah” contohnya adalah
رَأَيْتُ شُجَاعًا (maksudnya orang pemberani)
أَكَلْتُ السُّنَانَ (dari roti)
جَاءَ الشِّتَاءُ (musim dingin)
مَرَرْتُ بِبَيْتٍ (rumah)
سَمِعْتُ الْقُرْآنَ
Dalam ilmu bayan, tashbih yang menggunakan أَدَاةُ التَّشْبِيهِ مَحْذُوفَةٌ disebut
tashbih mursal
tashbih baligh
tashbih tamtsil
tashbih mursal
tashbih tasybih
Istilah untuk penyusunan kata yang indah dan sesuai dengan situasi pembaca dalam ilmu bayan disebut
‘ilm al-ma’ani
‘ilm al-bayan
‘ilm al-badi’
‘ilm al-‘arudh
‘ilm al-qafiyah
Dalam ilmu lughah, istilah untuk perubahan makna karena perubahan zaman disebut
musytarak lafdzi
intiqal al-ma‘na
tasarruf al-lughah
majaz lughawi
intiqal al-lafzh
Kata “مَشْرِبٌ” termasuk kategori
isim makan
isim zaman
isim alat
isim maf‘ul
isim fa‘il
Perbedaan makna antara “رَأْس” (kepala) dan “رَئِيس” (ketua) disebut
musytarak lafdzi
mutawatir lafdzi
mutabaayin
mutaradif
istilah
Fenomena “عَيْنٌ” yang bisa bermakna mata, mata air, mata uang, dan mata-mata disebut
musytarak lafdzi
musytarak ma’nawi
mutaradif
intiqal ma‘na
tasarruf lughawi
Istilah untuk kata yang maknanya bertentangan secara mutlak seperti لَيِّن dan قَاسٍ adalah
addad
mutadadd
mutabaayin
mutaradif
musytarak
Urutan pengajaran empat keterampilan bahasa Arab yang paling sesuai dengan pendekatan integratif adalah
istima’ → kalam → qira’ah → kitabah
qira’ah → kitabah → istima’ → kalam
istima’ → qira’ah → kalam → kitabah
kalam → istima’ → qira’ah → kitabah
kitabah → qira’ah → istima’ → kalam
Keterampilan yang paling tepat diajarkan pertama kali kepada pemula level dasar adalah
istima‘ (menyimak)
kalam (berbicara)
qira‘ah (membaca)
kitabah (menulis)
terjemah
Media pembelajaran yang paling efektif untuk melatih maharah kalam level mutawassith adalah
role-play dan simulasi
diktat dan latihan terjemah
membaca nyaring teks panjang
latihan nahwu-sharaf intensif
menghafal kosakata
Strategi pengajaran kitabah dengan pendekatan process writing meliputi tahapan
planning → drafting → revising → editing → publishing
drafting → planning → revising → editing → publishing
revising → planning → drafting → editing → publishing
planning → revising → drafting → editing → publishing
publishing → planning → drafting → revising → editing
Penilaian maharah kalam yang paling otentik dan sesuai KL-6 adalah
tes oral berbasis proyek dan portofolio
tes pilihan ganda tentang kosakata
tes terjemahan kalimat
tes mengisi titik-titik
tes hafalan mufrodat
Pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang menekankan penggunaan bahasa secara nyata dalam konteks disebut
communicative language teaching
grammar-translation method
audio-lingual method
direct method
reading method
Model pembelajaran bahasa Arab yang mengintegrasikan empat keterampilan sekaligus disebut
integrated skill approach
segregated skill approach
skill-based approach
content-based instruction
task-based language teaching
Tahapan pembelajaran qira’ah dengan teknik skimming dan scanning yang benar adalah
pre-reading → while-reading → post-reading
while-reading → pre-reading → post-reading
post-reading → pre-reading → while-reading
pre-reading → post-reading → while-reading
while-reading → post-reading → pre-reading
Media paling tepat untuk melatih maharah istima‘ level mutaqaddim adalah
podcast dan video berbahasa Arab autentik
rekaman pengajar membaca teks
lagu anak-anak Arab
dialog buatan guru
cerita pendek tertulis
Prinsip utama dalam pembelajaran bahasa Arab menurut modul adalah
al-i‘tibar bil-ma‘na la bil-lafzh
al-i‘tibar bil-lafzh la bil-ma‘na
al-i‘tibar bil-qiyas la bil-sama‘
al-i‘tibar bil-sama‘ la bil-qiyas
al-i‘tibar bil-makna la bil-mabna
Nilai karakter Profil Pelajar Pancasila yang paling relevan diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Arab adalah
berkebhinekaan global
bernalar kritis
mandiri
bergotong royong
beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia
Cara paling efektif mengintegrasikan nilai “jujur” dalam maharah kitabah adalah
meminta siswa menulis esai tentang pentingnya kejujuran dengan contoh nyata
memberikan latihan terjemah kalimat tentang jujur
menghafal kosakata kejujuran
membuat dialog tentang kejujuran
membaca teks tentang kebohongan
Nilai “tanggung jawab” paling tepat diajarkan melalui pembelajaran
proyek kelompok membuat majalah Arab
tes individu pilihan ganda
menghafal mufrodat
latihan nahwu intensif
terjemah kalimat
Integrasi nilai “peduli sosial” paling tepat melalui kegiatan
diskusi tentang masalah sosial menggunakan bahasa Arab
latihan sharaf
menghafal balaghah
tes istima‘
latihan qira’ah individu
Pilar moderasi beragama yang berkaitan dengan sikap tengah-tengah antara ifrat dan tafrith adalah
tawassuth
tasamuh
i‘tidal
tawazun
musawah
Pilar yang menekankan sikap toleransi aktif adalah
tasamuh
tawassuth
i‘tidal
tawazun
islah
Pilar utama moderasi beragama menurut Kemenag RI yang disebutkan pada hal. 209 adalah
tawassut (sikap pertengahan antara ifrat dan tafrit)
tasâmuh (toleransi aktif)
i‘tidâl (keadilan)
tawâzun (keseimbangan)
ta‘âwun (kerjasama)
Dalam modul hal. 211, sikap “ghuluw fi al-dîn” paling tepat dikategorikan sebagai lawan dari pilar
tasâmuh
tawassut
i‘tidâl
tawâzun
ta‘âwun
Contoh sikap yang mencerminkan pilar “tasâmuh” dalam pembelajaran bahasa Arab di sekolah umum adalah
mengajarkan hanya teks-teks keagamaan dari satu mazhab
mengizinkan siswa non-muslim membaca teks Arab tanpa kewajiban memahami makna agamanya
mewajibkan semua siswa menghafal Al-Qur’an
melarang diskusi tentang perbedaan pendapat ulama
memaksa siswa non-muslim memakai jilbab saat pelajaran
Pilar “tawâzun” dalam konteks pembelajaran bahasa Arab paling tepat diwujudkan melalui
hanya mengajarkan bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an dan Hadis
hanya mengajarkan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari
hanya mengajarkan nahwu-sharaf tanpa mahârah
mengajarkan bahasa Arab sekaligus untuk memahami teks agama dan komunikasi global dengan proporsi seimbang
mengajarkan hanya mahârah kalam tanpa qirâ’ah turast
Menurut tabel hal. 218, sikap “takfîr” (mengkafirkan sesama muslim) termasuk bentuk ekstremisme yang bertentangan dengan pilar
tasâmuh
i‘tidâl
tawassut
tawâzun
ta‘adudiyyah
Strategi paling tepat untuk menginternalisasi nilai moderasi beragama melalui mahârah qirâ’ah adalah
hanya memilih teks yang sesuai dengan mazhab tertentu
memilih teks Arab yang beragam dari berbagai periode dan aliran pemikiran Islam
memilih teks hanya dari abad ke-20
memilih teks hanya dari penulis non-Arab
memilih teks yang paling sulit tanpa mempedulikan isinya
Dalam pembelajaran bahasa Arab, sikap “i‘tidâl” paling konkret diwujudkan ketika guru
tidak memaksakan pendapat pribadi dalam menafsirkan teks agama
memaksakan siswa mengikuti pendapat mazhab guru
menghindari semua diskusi tentang perbedaan pendapat
hanya mengajarkan pendapat mazhab tertentu sebagai satu-satunya yang benar
melarang siswa membaca kitab kuning
Contoh kegiatan pembelajaran bahasa Arab yang paling mencerminkan semangat “al-hiwâr wa al-ta‘âwun” dalam moderasi beragama adalah
lomba pidato Arab individu
debat Arab antar kelompok tentang tema toleransi
menghafal mufrodât sendirian
proyek kelompok lintas agama membuat video dialog berbahasa Arab tentang kerukunan
menulis esai individu tentang kebenaran satu agama
Contoh majaz mursal dengan hubungan “الْكُلِّيَّةُ وَالْجُزْئِيَّةُ” yang disebutkan di modul adalah
A. شَرِبْتُ الْمَاءَ (maksudnya gelasnya)
B. أَكَلْتُ الثُّلُثَ (dari roti)
C. رَأَيْتُ أَسَدًا (orang pemberani)
D. جَاءَ الرَّبِيْعُ (musim semi)
E. مَرَرْتُ بِالْبَيْتِ (penduduknya)
(Topik 3 – Ilmu Balaghah, hal. 68)
Kinayah yang termasuk “كِنَايَةٌ عَنْ صِفَةٍ” menurut tabel modul adalah:
A. قَصِيرُ الْيَدِ (bakhil)
B. طَوِيلُ اللِّسَانِ (banyak omong)
C. ثَقِيلُ الظِّلِّ (membosankan)
D. وَاسِعُ الْأُفُقِ (berpikiran luas)
E. خَفِيفُ الْمَحْفَظَةِ (miskin)
(Topik 6 – Pembelajaran Bahasa, hal. 172)
Pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang paling menekankan “الاعتبار بالمعنى لا باللفظ” adalah:
A. Communicative Language Teaching (CLT)
B. Grammar-Translation Method
C. Audio-Lingual Method
D. Total Physical Response
E. Reading Method
(Topik 7 – Pendidikan Karakter, hal. 200–201) Integrasi nilai “Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia” paling tepat dilakukan melalui:
A. memilih teks-turast Arab yang mengandung akhlak karimah lalu mendiskusikan dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari
B. hanya melatih sharaf dan nahwu tanpa membahas makna
C. menggunakan teks Arab modern yang netral agama
D. menghafal mufrodat akhlak tanpa konteks
E. menerjemahkan hadis tanpa refleksi pribadi
(Topik 8 – Moderasi Beragama, hal. 216)
Pilar moderasi beragama yang paling bertentangan dengan sikap “ghulūw” dan “takfīr” secara langsung adalah:
A. التَّوَسُّطُ
B. التَّسَامُحُ
C. الاعْتِدَالُ
D. التَّوَازُنُ
E. التَّعَاوُنُ
(Topik 7 – Pendidikan Karakter, hal. 204)
Nilai Profil Pelajar Pancasila yang paling relevan dan paling banyak diintegrasikan melalui teks-turast Arab adalah:
A. Bernalar Kritis
B. Gotong Royong
C. Mandiri
D. Berkebhinekaan Global
E. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak Mulia
(Topik 8 – Moderasi Beragama, hal. 222)
Implementasi pilar “تَوَازُنٌ” dalam pembelajaran bahasa Arab paling tepat dilakukan dengan
A. menyeimbangkan pengajaran bahasa Arab untuk tujuan agama dan komunikasi global secara proporsional
B. hanya mengajarkan bahasa Arab untuk memahami teks agama
C. hanya mengajarkan bahasa Arab untuk komunikasi sehari-hari
D. hanya mengajarkan nahwu-sharaf tanpa mahārah
E. hanya mengajarkan qira’ah turast tanpa kalam
(Topik 6 – Pembelajaran Bahasa, hal. 172)
Pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang paling menekankan “الاعتبار بالمعنى لا باللفظ” adalah:
A. Communicative Language Teaching (CLT)
B. Grammar-Translation Method
C. Audio-Lingual Method
D. Total Physical Response
E. Reading Method
