WorksheetsKasus Integratif DHF dan IDDM pada anak
Total questions: 12
Worksheet time: 30mins
KASUS UNTUK PERTANYAAN NO 2 - 6 (silakan di foto/tangkapan layar kasusnya)
"An. P (7 tahun) dirawat di bangsal anak dengan diagnosis DHF Grade II. Saat pengkajian hari rawat ke-4 (fase kritis), anak tampak sangat lemas, mengeluh nyeri ulu hati, dan sempat mengalami muntah hitam (hematemesis) satu kali. Hasil pemeriksaan fisik: terdapat ptekie di ekstremitas, ekimosis pada bekas tusukan jarum, dan hepatomegali.
Hasil Laboratorium terbaru: Hb 15 g/dL (meningkat dari 12 g/dL), Hematokrit 48% (meningkat >20% dari nilai awal), Trombosit 35.000/mm³. Keluarga tampak sangat panik dan bertanya terus-menerus apakah anak mereka bisa selamat."
JAWAB SUDAH JIKA ANDA SUDAH MEMBACA KASUS
(a)
Berdasarkan data klinis dan laboratorium An. P, manakah temuan pengkajian yang paling akurat menunjukkan bahwa anak sedang berada dalam "fase kritis" DHF?
Adanya ptekie dan ekimosis pada kulit.
Penurunan jumlah trombosit di bawah 100.000/mm³.
Peningkatan Hematokrit (hemokonsentrasi) yang menandakan adanya kebocoran plasma.
Keluhan nyeri ulu hati dan hepatomegali.
Berdasarkan kondisi An. P yang mengalami perdarahan saluran cerna (muntah hitam) dan hasil laboratorium yang menunjukkan kebocoran plasma, diagnosa keperawatan prioritas utama adalah...
Hipovolemia berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan aktif (perdarahan).
Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (infeksi virus dengue).
Defisit Nutrisi berhubungan dengan mual dan muntah.
Ansietas (Keluarga) berhubungan dengan kurang terpapar informasi prognosis penyakit.
Apa kriteria hasil (luaran) utama yang diharapkan perawat untuk menunjukkan bahwa masalah "Hipovolemia" pada An. P telah teratasi selama fase kritis?
Suhu tubuh anak kembali normal (36,5 - 37,5 °C).
Intake dan output cairan seimbang dengan produksi urin 1-2 ml/kgBB/jam.
Keluarga menyatakan sudah tenang dan tidak panik lagi.
Tidak terjadi peningkatan jumlah ptekie baru di kulit.
Dalam melakukan intervensi "Manajemen Syok Hipovolemik" pada An. P, tindakan keperawatan manakah yang paling krusial dilakukan perawat setiap 1-2 jam sekali?
Memberikan kompres dingin untuk menurunkan suhu tubuh.
Melakukan observasi perdarahan dan memonitor tanda-tanda vital serta status hemodinamik secara ketat.
Mengganti posisi tidur anak (tumb-over) untuk mencegah dekubitus.
Memberikan edukasi kepada keluarga tentang jenis makanan yang tinggi protein.
Ibu An. P menangis histeris dan menyalahkan diri sendiri karena terlambat membawa anak ke RS. Perawat ingin menerapkan prinsip Family Centered Care dan dukungan psikososial. Respon terapeutik manakah yang paling tepat?
"Ibu jangan menangis, tangisan Ibu hanya akan membuat anak semakin stres dan kondisinya memburuk."
"Tenang saja Bu, dokter di sini sangat ahli, tidak ada pasien DHF yang meninggal di rumah sakit ini."
"Saya mengerti Ibu sangat khawatir. Saat ini hal terbaik yang bisa Ibu lakukan adalah mendampingi anak dan memberikan semangat, kami akan berupaya semaksimal mungkin."
"Ibu seharusnya memang membawa anak sejak hari pertama demam, tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur.”
KASUS UNTUK PERTANYAAN NO 7 - 12 (silakan di foto/tangkapan layar kasusnya)
"An. R (11 tahun) telah didiagnosis DM Tipe 1 sejak 2 tahun lalu. Ia dibawa ke IGD dengan kesadaran menurun (somnolen), napas cepat dan dalam (Kussmaul), serta tercium bau napas seperti buah (aseton). Hasil GDS menunjukkan 450 mg/dL dan terdapat keton dalam urine. Keluarga mengatakan An. R sempat tidak menyuntik insulin selama 2 hari karena merasa bosan dan malu saat berkumpul dengan teman-temannya."
JAWAB SUDAH JIKA ANDA SUDAH MEMBACA KASUS
(a)
Berdasarkan data klinis napas Kussmaul, penurunan kesadaran, dan hasil laboratorium, komplikasi akut manakah yang sedang dialami oleh An. R?
Hipoglikemia berat akibat kelelahan.
Ketoasidosis Diabetik (KAD).
Syok Hipovolemik akibat diuresis osmotik.
Hiperglikemia Hyperosmolar State (HHS).
Diagnosis keperawatan prioritas utama yang harus ditegakkan pada An. R untuk mengatasi pola napas cepat dan dalam akibat asidosis metabolik adalah...
Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan resistensi insulin.
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan gangguan neurologis/asidosis.
Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan ketergantungan pengobatan kronis.
Dalam fase akut di IGD, kolaborasi pemberian terapi manakah yang menjadi prioritas untuk menurunkan kadar glukosa darah sekaligus menghentikan pembentukan keton pada An. R?
Pemberian insulin kerja cepat (Rapid Acting) secara intravena (bolus/drip).
Pemberian glukagon secara intramuskular untuk menyeimbangkan gula darah.
Pemberian nutrisi tinggi karbohidrat melalui NGT untuk energi sel.
Pemberian obat oral antidiabetik dosis tinggi.
Setelah kondisi akut teratasi dan An. R kembali sadar, luaran keperawatan (SLKI) "Manajemen Kesehatan" yang menunjukkan keberhasilan penanganan pada aspek psikososial anak adalah...
Kadar gula darah sewaktu berada di bawah 200 mg/dL.
Berat badan anak kembali meningkat 1 kg dalam seminggu.
Anak menyatakan mampu mengidentifikasi hambatan dalam pengobatan dan berkomitmen melakukan penyuntikan mandiri.
Orang tua mampu menjelaskan kembali patofisiologi penyakit DM.
Mengingat An. R merasa "malu" dan "bosan" dengan pengobatan, pendekatan Family Centered Care manakah yang paling tepat untuk mencegah kekambuhan di masa depan?
Menyarankan orang tua untuk selalu menyuntikkan insulin saat anak sedang tidur agar anak tidak merasa terganggu.
Melibatkan anak dalam Support Group sesama penderita DM Tipe 1 untuk berbagi pengalaman dan mengurangi isolasi sosial.
Melarang anak untuk melakukan aktivitas olahraga agar gula darah tidak cepat naik.
Menekan anak dengan memberikan sanksi jika ia lupa melakukan penyuntikan insulin.
