wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

UAS Formulasi & Teknologi Sediaan Semisolida & Likuida D3 REGSUS

Total questions: 65

Worksheet time: 49mins

Name
Class
Date
1.

Berdasarkan FI Edisi VI, krim didefinisikan sebagai sediaan setengah padat untuk pemakaian topikal yang terdiri dari emulsi minyak dalam air (o/w) atau air dalam minyak (w/o). Karakteristik sediaan krim mencakup kemudahan dicuci dengan air, tekstur yang tidak terlalu berminyak dibandingkan salep, dan peningkatan kenyamanan pasien. Namun, karena krim adalah sistem emulsi, stabilitas fisiknya perlu diperhatikan karena rentan terhadap pemisahan fase dan kontaminasi mikroba, sehingga memerlukan penambahan pengawet dalam formulasinya. Manakah pernyataan berikut yang bukan merupakan karakteristik umum dari sediaan krim?

a)

Stabilitas fisik krim tinggi dan jarang mengalami pemisahan fase.

b)

Krim biasanya lebih mudah dicuci dengan air, terutama tipe o/w.

c)

Tekstur krim cenderung tidak terlalu berminyak dibandingkan salep.

d)

Krim rentan terhadap kontaminasi mikroba, sehingga memerlukan pengawet.

e)

Krim terdiri dari sistem emulsi minyak dalam air atau air dalam minyak.

2.

Formulasi sediaan krim memerlukan beberapa komponen kunci untuk memastikan stabilitas dan efektivitasnya. Komponen-komponen ini meliputi zat aktif, fase minyak (seperti parafin cair atau oleum sesami), fase air (air murni atau larutan berair), dan emulgator untuk menstabilkan emulsi. Selain itu, diperlukan zat tambahan seperti pengawet (misalnya paraben), antioksidan, pewarna, pengaroma, dan pengatur pH. Jika seorang formulator ingin membuat krim yang memiliki sifat oklusif tinggi untuk kulit kering kronis, komponen fase minyak manakah yang paling mungkin digunakan?

a)

Air murni sebagai komponen utama.

b)

Surfaktan non-ionik seperti Tween.

c)

Parafin cair atau petrolatum.

d)

Gliserin sebagai humektan.

e)

Natrium lauril sulfat sebagai emulgator anionik.

3.

Krim dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe emulsi utama: Oil-in-Water (O/W) di mana fase kontinu adalah air dan fase terdispersi adalah minyak, serta Water-in-Oil (W/O) di mana fase kontinu adalah minyak dan fase terdispersi adalah air. Krim O/W memiliki karakteristik ringan, tidak berminyak, mudah dicuci dengan air, dan memberikan efek pendinginan, cocok untuk API hidrofilik. Sebaliknya, krim W/O lebih kental, berminyak, sulit dicuci, memberikan efek oklusif, dan cocok untuk kulit kering kronis atau API lipofilik. Berdasarkan deskripsi ini, tipe krim manakah yang paling cocok digunakan sebagai foundation cream atau krim harian karena teksturnya yang ringan dan mudah dicuci?

a)

Krim W/O (Water-in-Oil)

b)

Krim pelembab intensif

c)

Cold cream

d)

Krim O/W (Oil-in-Water)

e)

Krim protektif dengan sifat okklusif tinggi

4.

Sediaan krim menawarkan beberapa keuntungan, seperti mudah diaplikasikan dan menyebar rata di kulit, cepat diserap (terutama tipe O/W), tidak lengket, mudah dicuci, dan memberikan efek pendinginan (khusus cold cream W/O). Namun, krim juga memiliki kekurangan, termasuk stabilitas rendah (mudah memisah), rentan kontaminasi mikroba, sulit diformulasi, mudah mengering, dan tidak cocok untuk zat aktif yang tidak stabil dalam air. Dari daftar berikut, manakah yang merupakan salah satu kelemahan utama dari sediaan krim yang berkaitan dengan stabilitas fisiknya?

a)

Krim memberikan efek pendinginan saat diaplikasikan.

b)

Krim mudah diaplikasikan dan menyebar rata.

c)

Stabilitas rendah dan mudah mengalami pemisahan fase.

d)

Absorpsi sistemik biasanya rendah.

e)

Cocok untuk kulit sensitif atau area luas.

5.

Untuk merancang sediaan krim yang efektif, pemahaman tentang struktur anatomi kulit sangat penting. Stratum korneum berfungsi sebagai hambatan utama penetrasi obat, sedangkan epidermis dan dermis adalah target aksi lokal untuk obat anti-inflamasi atau anti-jamur. Kelenjar sebasea dan folikel rambut dapat menjadi jalur shunt yang dimanfaatkan oleh obat-obatan lipofilik. Formulasi krim dirancang untuk menembus barier stratum korneum, terkadang menggunakan peningkat penetrasi seperti propilen glikol atau etanol. Lapisan kulit manakah yang menjadi hambatan utama utama yang harus ditembus oleh bahan aktif dari sediaan krim untuk mencapai lapisan yang lebih dalam atau aliran darah?

a)

Dermis

b)

Epidermis

c)

Kelenjar Sebasea

d)

Stratum Korneum

e)

Folikel Rambut

6.

Jenis emulsi (O/W atau W/O) dalam krim ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk jenis emulgator (HLB tinggi untuk O/W; HLB rendah untuk W/O), rasio fase minyak-air (lebih banyak air cenderung O/W), dan metode pembuatan. Implikasi klinisnya, krim O/W lebih cocok untuk krim obat (antifungal), sedangkan krim W/O lebih cocok untuk krim pelembab intensif atau pelindung. Jika seorang formulator ingin membuat krim W/O, parameter HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance) emulgator yang dibutuhkan berada dalam kisaran mana?

a)

HLB tinggi (8–18)

b)

HLB rendah (3–6)

c)

HLB sangat tinggi (>18)

d)

HLB menengah (7–9)

e)

Tidak ada nilai HLB spesifik yang diperlukan.

7.

Krim dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsi dan penggunaannya, seperti krim obat (medicated creams) yang mengandung bahan aktif untuk terapi lokal, krim pelembab/pelindung (emolient/protective creams) yang tidak mengandung bahan aktif tetapi melembabkan, krim pembersih (cleansing creams) dengan fase minyak tinggi, dan krim kosmetik (cosmetic creams) untuk tujuan estetika. Contoh krim obat adalah krim kortikosteroid atau antifungal. Contoh krim pelembab adalah cold cream atau krim lanolin. Manakah dari pilihan berikut yang merupakan contoh dari medicated cream (krim obat)?

a)

Foundation cream

b)

Night cream (tanpa API)

c)

Cold cream klasik

d)

Krim kortikosteroid (betamethasone)

e)

Lanolin cream sebagai emollient

8.

Tujuan utama desain formulasi krim mencakup stabilitas fisik & kimia, pelepasan obat yang diinginkan, estetika & penerimaan pasien, kompatibilitas dengan kulit (pH fisiologis), skalabilitas produksi, dan kepatuhan terhadap regulasi & standar mutu. Misalnya, penggunaan emulgator, antioksidan, dan buffer bertujuan untuk menjaga stabilitas fisik dan kimia produk. Faktor manakah yang paling berkaitan dengan kenyamanan pasien dan kepatuhan penggunaan sediaan krim?

a)

Stabilitas fisik (mencegah creaming).

b)

Kepatuhan terhadap GMP (Good Manufacturing Practices).

c)

pH sesuai fisiologis kulit (4,5–6,5) dan estetika (tekstur, warna, bau).

d)

Skalabilitas produksi dari lab ke industri.

e)

Kadar API dalam rentang 90–110% sesuai FI VI.

9.

Bahan aktif (API) dalam krim harus kompatibel dengan eksipien dan stabil dalam basis krim. Kriteria pemilihan API mencakup kelarutan, stabilitas (tahan oksidasi, hidrolisis), potensi, dan kompatibilitas kulit. Basis krim O/W cocok untuk API hidrofilik (misalnya klotrimazol), sedangkan basis W/O cocok untuk API lipofilik (misalnya vitamin E). Formulasi harus memastikan distribusi API homogen, baik terlarut maupun terdispersi. Jika seorang formulator ingin menstabilkan Vitamin E, yang bersifat lipofilik, dalam sediaan krim, basis tipe apakah yang paling cocok digunakan?

a)

Basis krim O/W (oil-in-water).

b)

Basis air murni tanpa fase minyak.

c)

Basis krim W/O (water-in-oil).

d)

Basis dengan HLB tinggi.

e)

Basis yang sangat hidrofilik.

10.

Fase air dalam formulasi krim terdiri dari air murni, humektan (gliserin, propilen glikol), pelarut hidrofilik tambahan (etanol, PEG), dan sistem buffer. Humektan berfungsi menarik air dan mencegah krim cepat kering, sementara sistem buffer menjaga pH fisiologis kulit. Peran fase air juga menentukan tekstur krim (ringan vs berat) dan memberikan efek pendinginan saat diaplikasikan melalui evaporasi. Manakah peran utama dari humektan seperti gliserin dalam fase air formulasi krim?

a)

Melarutkan API lipofilik.

b)

Menjaga pH krim tetap asam.

c)

Meningkatkan viskositas fase minyak.

d)

Mencegah krim cepat kering atau pecah.

e)

Berfungsi sebagai antioksidan.

11.

Emulgator adalah zat yang menurunkan tegangan antarmuka antara minyak dan air, membentuk lapisan pelindung di sekitar droplet untuk mencegah koalesensi. Sistem HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance) digunakan untuk menentukan sifat emulgator, dengan skala 0–20. HLB rendah (3–6) bersifat lipofilik dan cocok untuk W/O, sedangkan HLB tinggi bersifat hidrofilik dan cocok untuk O/W. Kombinasi emulgator seperti Tween (HLB tinggi) dan Span (HLB rendah) sering digunakan untuk mencapai HLB yang optimal. Jika Required HLB (RHLB) untuk suatu fase minyak tertentu adalah 12, jenis emulgator manakah yang paling sesuai?

a)

Span 80 (HLB ≈ 4,3).

b)

Emulgator dengan HLB sangat rendah (<3).

c)

Tween 80 (HLB ≈ 15).

d)

Emulgator dengan HLB menengah (7–9).

e)

Kombinasi emulgator dengan HLB gabungan 4.

12.

Creaming adalah kondisi reversibel di mana droplet fase minyak naik ke permukaan (pada emulsi O/W), sedangkan sedimentasi adalah turunnya droplet fase air ke dasar (pada emulsi W/O). Kedua proses ini disebabkan oleh perbedaan densitas antara fase minyak dan air dan dapat dijelaskan dengan Hukum Stokes. Kecepatan pemisahan berbanding lurus dengan kuadrat radius droplet dan perbedaan densitas, serta berbanding terbalik dengan viskositas medium. Strategi pencegahan utama melibatkan pengurangan ukuran droplet dengan homogenisasi tinggi dan peningkatan viskositas dengan bahan pengental. Manakah strategi berikut yang paling efektif untuk mencegah creaming atau sedimentasi dalam sediaan krim?

a)

Meningkatkan perbedaan densitas antara fase minyak dan air.

b)

Menurunkan viskositas medium dengan pemanasan.

c)

Meningkatkan ukuran droplet emulsi.

d)

Mengurangi ukuran droplet dan meningkatkan viskositas.

e)

Menyimpan krim pada suhu tinggi untuk mempercepat tumbukan.

13.

Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi VI (FI VI), gel didefinisikan sebagai sediaan semipadat yang dibuat dari partikel anorganik kecil atau molekul organik besar yang terdispersi atau terperangkap dalam fase cair (air atau pelarut lain), membentuk struktur yang stabil dan homogen. Karakteristik umum gel mencakup penampilan yang jernih dan elegan, efek pendinginan, serta kemudahan dicuci dengan air. Definisi ini membedakan gel dari sediaan semipadat lainnya seperti krim dan salep. Manakah pernyataan berikut yang paling akurat menjelaskan komponen utama yang membentuk struktur gel menurut FI VI?

a)

Gel adalah emulsi minyak dalam air yang distabilkan dengan emulgator.

b)

Gel terdiri dari pelarut organik dan hidrokarbon padat sebagai basis utama.

c)

Gel dibuat dari suspensi partikel anorganik kecil atau molekul organik besar yang menjebak fase cair.

d)

Gel adalah sediaan padat yang larut sempurna dalam air tanpa meninggalkan residu.

e)

Gel terutama terdiri dari minyak mineral dan lilin untuk efek okklusif.

14.

Seorang pasien dengan kulit berminyak membutuhkan sediaan topikal untuk jerawat. Formulator mempertimbangkan antara krim dan gel. Sediaan gel umumnya lebih disukai oleh pasien karena tampilan yang menarik, tidak berminyak, mudah dibersihkan, dan memberikan efek pendinginan. Selain itu, kandungan cairan yang tinggi dalam gel dapat mempercepat difusi obat. Kekurangan potensial termasuk kebutuhan zat aktif yang larut dalam air (untuk hidrogel) dan potensi iritasi jika menggunakan alkohol tinggi. Mengapa sediaan gel sering dianggap lebih unggul dari krim dalam hal kepatuhan pasien?

a)

Gel memiliki stabilitas fisik yang lebih tinggi dan jarang mengalami sineresis.

b)

Gel dapat menghindari metabolisme lintas pertama di hati, sementara krim tidak.

c)

Tampilan gel lebih menarik, tidak berminyak, dan mudah dibersihkan, meningkatkan kenyamanan.

d)

Gel selalu mengandung peningkat penetrasi, memastikan penyerapan yang lebih baik.

e)

Harga produksi gel lebih murah dibandingkan krim, sehingga lebih terjangkau.

15.

Untuk efektivitas sediaan gel, bahan aktif harus menembus lapisan kulit. Kulit terdiri dari epidermis, dermis, dan hipodermis. Stratum korneum, lapisan terluar epidermis, berfungsi sebagai penghalang utama (barrier) terhadap penyerapan obat. Formulasi gel dirancang untuk mengatasi hambatan ini, terkadang dengan bantuan peningkat penetrasi. Lapisan kulit manakah yang merupakan hambatan utama yang harus dilewati oleh bahan aktif topikal?

a)

Dermis, karena mengandung pembuluh darah dan saraf.

b)

Hipodermis (subkutan) yang kaya akan lemak.

c)

Stratum korneum, sebagai lapisan penghalang utama.

d)

Kelenjar keringat, yang berfungsi sebagai jalur pintas (shunt).

e)

Membran basal yang menghubungkan epidermis dan dermis.

16.

Obat yang diaplikasikan secara topikal dapat menembus kulit melalui dua jalur utama: jalur trans-epidermal (melalui sel/antar sel stratum korneum) dan jalur trans-appendageal (melalui folikel rambut, kelenjar keringat, atau kelenjar sebasea). Jalur trans-appendageal adalah jalur pintas (shunt) yang lebih cepat tetapi hanya mencakup area kulit yang sangat kecil (<0,1%). Jalur mana yang dianggap paling umum dan dominan untuk penetrasi molekul obat kecil?

a)

Jalur trans-appendageal melalui kelenjar sebasea.

b)

Jalur trans-epidermal intraseluler, melalui sel stratum korneum.

c)

Jalur trans-epidermal interseluler, di antara sel-sel stratum korneum melalui lapisan lipid.

d)

Penetrasi langsung ke hipodermis melalui pembuluh darah.

e)

Penetrasi melalui melanosit di epidermis.

17.

Untuk meningkatkan penyerapan obat, formulator dapat menggunakan bahan peningkat penetrasi yang bekerja dengan beberapa mekanisme. Salah satunya adalah disrupsi (gangguan), yaitu secara fisik mengganggu struktur lipid di ruang antar sel stratum korneum, yang berfungsi sebagai "semen" alami kulit. Dengan mengganggu lipid ini, hambatan penetrasi berkurang. Contoh bahan yang bekerja dengan mekanisme ini adalah etanol dan propilen glikol. Mekanisme peningkatan penyerapan obat manakah yang melibatkan gangguan fisik pada struktur lipid stratum korneum?

a)

Solvasi atau peningkatan kelarutan API dalam formulasi.

b)

Efek pembawa (carrier effect) menggunakan liposom atau nanopartikel.

c)

Disrupsi (gangguan) struktur lipid antar sel di stratum korneum.

d)

Peningkatan rigiditas dan kekakuan matriks gel.

e)

Penggaraman keluar (salting out) pada konsentrasi elektrolit tinggi.

18.

Zat pengental (matriks atau gelling agent) adalah komponen kunci yang membentuk struktur 3D gel, mengontrol viskositas, dan stabilitas. Ada pengental alami, semi-sintetik, dan sintetik. Pengental sintetik seperti Carbopol (Carbomer) dan PVA (Polyvinyl Alcohol) menawarkan kemurnian tinggi dan stabilitas jangka panjang. Carbopol memiliki sifat unik karena memerlukan langkah netralisasi dengan basa (seperti Trietanolamin) untuk membentuk gel yang kental. Bahan manakah yang merupakan contoh zat pengental sintetik yang membutuhkan netralisasi untuk membentuk gel?

a)

Tragakan (alami)

b)

Pektin (alami)

c)

CMC (Carboxymethylcellulose, semi-sintetik)

d)

HPMC (Hydroxypropyl Methylcellulose, semi-sintetik)

e)

Karbomer/Carbopol (sintetik)

19.

Salah satu karakteristik utama gel hidrofilik adalah kemampuan mengembang (swelling). Ini terjadi ketika polimer kering menyerap cairan (biasanya air) ke dalam strukturnya, menyebabkan volume membengkak. Tingkat swelling sangat dipengaruhi oleh jumlah ikatan silang (cross-linking) antar rantai polimer. Ikatan silang yang rendah memungkinkan pengembangan sempurna atau pelarutan, sedangkan ikatan silang tinggi membatasi kemampuan menyerap pelarut dan membuat struktur lebih kaku. Faktor manakah yang membatasi kemampuan gel untuk mengembang secara signifikan?

a)

Penggunaan air murni sebagai pelarut.

b)

Adanya ikatan silang (cross-linking) yang tinggi pada polimer.

c)

Polimer yang larut dengan baik pada suhu rendah.

d)

Penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan.

e)

Polimer yang terdispersi secara merata tanpa penggumpalan.

20.

Kebanyakan gelator (seperti gelatin) larut saat dipanaskan dan membentuk gel saat didinginkan (gelasi dingin). Namun, beberapa polimer unik seperti Metilselulosa (MC) dan HPMC (Hidroksipropil Metilselulosa) menunjukkan fenomena termogelasi atau gelasi termal terbalik. Polimer-polimer ini larut dengan baik pada suhu rendah (dingin) dan membentuk gel padat ketika suhu ditingkatkan (hangat atau panas). Titik transisi suhu ini dikenal sebagai Lower Critical Solution Temperature (LCST). Polimer manakah yang menunjukkan sifat unik termogelasi (membentuk gel saat dipanaskan)?

a)

Gelatin

b)

Natrium Alginate

c)

Karbomer 940 (Carbopol)

d)

Metilselulosa (MC) atau HPMC

e)

Span 60 (Sorbitan Monostearat)

21.

Beberapa polimer gel menunjukkan interaksi spesifik dengan ion tertentu, yang menyebabkan pengerasan instan melalui mekanisme ikatan silang ionik. Contoh klasik adalah gel natrium alginat (Na+ - alginat). Ketika ion kalsium (Ca2+) ditambahkan, ion kalsium bertindak sebagai "jembatan" yang mengikat beberapa rantai alginat sekaligus, menyebabkan pengendapan parsial sebagai kalsium alginat yang tidak larut, menghasilkan gel yang sangat kuat. Ion manakah yang digunakan sebagai agen pengikat silang untuk mengentalkan natrium alginat secara instan?

a)

Ion Natrium (Na+)

b)

Ion Klorida (Cl-)

c)

Ion Kalsium (Ca2+)

d)

Ion Hidrogen (H+)

e)

Ion Kalium (K+)

22.

Berdasarkan FI V, suppositoria adalah sediaan padat dengan berbagai bobot dan bentuk yang diberikan melalui rektal, vagina, atau uretra. Karakteristik kunci dari sediaan ini adalah kemampuannya untuk meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh, sehingga melepaskan bahan aktif. Bahan dasar yang umum digunakan mencakup lemak coklat, gelatin tergliserinasi, atau polietilen glikol (PEG). Fungsi suppositoria bisa sebagai pelindung jaringan setempat, atau sebagai pembawa zat terapeutik yang bersifat lokal atau sistemik. Manakah pernyataan berikut yang bukan merupakan karakteristik umum dari sediaan suppositoria?

a)

Sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk.

b)

Diberikan secara oral dan ditelan untuk efek sistemik.

c)

Umumnya meleleh, melunak, atau melarut pada suhu tubuh.

d)

Dapat digunakan untuk efek lokal atau sistemik.

e)

Bahan dasarnya bisa berupa lemak coklat atau PEG.

23.

Supositoria rektal dirancang khusus untuk dimasukkan ke dalam anus. Untuk orang dewasa, supositoria ini umumnya berbentuk lonjong (torpedo-shaped) pada satu atau kedua ujungnya dan memiliki bobot sekitar 2 gram. Ukuran panjangnya sekitar 32 milimeter (sekitar 1,5 inci). Bentuk ini dirancang untuk penempatan dan retensi yang mudah di dalam rektum. Untuk bayi dan anak-anak, ukurannya lebih kecil, seringkali setengah berat versi dewasa. Bentuk dan bobot manakah yang paling umum untuk supositoria rektal yang digunakan orang dewasa?

a)

Berbentuk bulat atau bulat telur, berbobot sekitar 5 gram.

b)

Berbentuk tipis seperti pensil, panjang sekitar 140 mm, bobot 4 gram.

c)

Berbentuk lonjong atau kerucut, berbobot lebih kurang 2 gram.

d)

Berbentuk kerucut atau torpedo, berbobot 9-10 mm.

e)

Berbentuk kubus dengan berat seragam 1 gram.

24.

Suppositoria vagina, juga dikenal sebagai pesarium (pessaries), dirancang untuk dimasukkan ke dalam vagina dan umumnya lebih besar daripada supositoria rektal. Bentuknya biasanya oviform (bulat telur), globular, atau terkadang berbentuk kerucut, dengan bobot antara 3 hingga 5 gram (atau 2-8g menurut slide lain). Mereka dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol (PEG) atau gelatin tergliserinasi. Manakah kombinasi bentuk dan jenis basis yang paling sesuai untuk suppositoria vagina?

a)

Bentuk torpedo dengan basis lemak coklat.

b)

Bentuk tipis seperti pensil dengan basis minyak mineral.

c)

Bentuk bulat telur atau globular dengan basis gelatin tergliserinasi atau PEG.

d)

Bentuk kerucut dengan basis sawit terhidrogenasi.

e)

Bentuk silinder kecil dengan basis lemak kakao.

25.

Proses hantaran obat dari suppositoria melibatkan beberapa mekanisme berurutan. Pertama, obat dilepaskan dari basis saat basis meleleh atau larut dalam cairan tubuh. Kedua, obat yang dilepaskan berdifusi melalui lapisan mukosa rektum/vagina/uretra. Ketiga, obat diabsorpsi oleh jaringan sekitar dan masuk ke sirkulasi darah (untuk efek sistemik). Keempat, obat didistribusikan ke seluruh tubuh. Tahap manakah yang secara langsung melibatkan pergerakan molekul obat melintasi lapisan mukosa menuju jaringan atau sirkulasi darah?

a)

Pelepasan obat dari basis.

b)

Difusi melalui lapisan mukosa.

c)

Distribusi ke seluruh tubuh.

d)

Pelelehan basis suppositoria.

e)

Interaksi dengan reseptor (efek farmakologi).

26.

Absorpsi obat dari sediaan suppositoria dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk sifat fisikokimia obat itu sendiri, jenis basis suppositoria, dan kondisi fisiologis tempat absorpsi (pH, suhu, aliran darah). Mengenai sifat fisikokimia, kelarutan, ukuran partikel, dan lipofilitas obat dapat memengaruhi pelepasan dan absorpsi. Secara umum, penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat melalui peningkatan luas permukaan dan kinetika disolusi. Namun, ukuran partikel yang terlalu kecil juga dapat menyebabkan masalah lain, seperti aliran yang buruk saat pencetakan. Apa pengaruh utama dari penurunan ukuran partikel zat aktif terhadap bioavailabilitasnya?

a)

Menurunkan bioavailabilitas karena mengurangi luas permukaan.

b)

Tidak berpengaruh pada bioavailabilitas.

c)

Meningkatkan bioavailabilitas melalui peningkatan luas permukaan dan disolusi

d)

Meningkatkan iritasi mukosa rektal yang sensitif secara drastis

e)

Menyebabkan pengentalan campuran zat aktif dan eksipien secara berlebihan

27.

Tidak semua obat cocok diberikan dalam bentuk supositoria. Rute ini dipertimbangkan jika absorpsi oral buruk, obat mengiritasi saluran pencernaan, obat tidak tahan pH lambung, atau jika digunakan untuk terapi lokal di rektum/vagina. Supositoria juga dapat menghindari sebagian metabolisme lintas pertama di hati, yang dapat bermanfaat untuk beberapa obat. Kondisi manakah yang paling tepat untuk memilih rute pemberian supositoria bagi suatu obat?

a)

Obat memiliki bioavailabilitas oral yang sangat baik dan stabil di lambung.

b)

Obat berupa polipeptida kecil yang mengalami proses enzimatis pada saluran pencernaan bagian atas.

c)

Obat membutuhkan efek sistemik yang cepat dan kuat melalui rute oral.

d)

Obat tidak dapat diabsorpsi sama sekali melalui mukosa rektal.

e)

Obat digunakan secara eksklusif untuk infeksi bakteri sistemik yang parah.

28.

Kelarutan zat aktif (API) dalam basis supositoria adalah faktor penting dalam formulasi. Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis akan meningkatkan homogenitas produk. Namun, jika obat memiliki afinitas yang sangat tinggi terhadap basis lemak dan tidak mudah keluar dari basis tersebut, pelepasan dan absorpsi obat dapat terhambat karena kecenderungan obat untuk tetap berada dalam basis. Formulator perlu menyeimbangkan kelarutan untuk mencapai pelepasan obat yang optimal. Apa konsekuensi jika zat aktif memiliki kecenderungan yang sangat besar untuk tetap berada dalam basis supositoria?

a)

Meningkatkan homogenitas produk secara signifikan.

b)

Mempercepat resorpsi zat aktif di ampula rektal.

c)

Menyulitkan dan mengurangi pelepasan zat aktif dari basis.

d)

Menurunkan viskositas lelehan supositoria saat pencetakan.

e)

Meningkatkan stabilitas kimia obat terhadap oksidasi.

29.

Salah satu karakteristik penting dari basis selama proses produksi adalah viskositas lelehannya. Jika viskositas lelehan tidak cukup tinggi, komponen terdispersi (zat aktif padat yang tidak larut) akan mengalami sedimentasi, mengendap di bagian bawah cetakan, dan mengganggu integritas serta keseragaman dosis produk akhir. Pengaturan viskositas pada suhu penunangan merupakan titik kritis untuk mencegah masalah ini. Bahan pengental dapat digunakan untuk mengatasi hal ini. Mengapa viskositas lelehan basis yang cukup sangat penting selama produksi?

a)

Untuk memudahkan pengeluaran supositoria dari cetakan setelah dingin.

b)

Untuk memastikan interval titik leleh dan titik solidifikasi optimal.

c)

Untuk mencegah sedimentasi komponen terdispersi dan menjaga homogenitas produk.

d)

Untuk memastikan tidak ada interaksi kimia antara basis dan bahan aktif.

e)

Untuk mempercepat waktu pemadatan dan laju produksi supositoria.

30.

Selain stabilitas dan pelepasan obat, aspek toleransi selama penggunaan sangat penting untuk supositoria, terutama karena sensitivitas jaringan mukosa rektal dan vagina. Supositoria akhir harus memiliki toksisitas minimal dan tidak menyebabkan iritasi pada jaringan sensitif tersebut. Beberapa bahan pembantu seperti surfaktan atau konsentrasi tinggi bahan peningkat hidrofilisitas berpotensi menyebabkan iritasi lokal. Karakteristik basis manakah yang secara langsung berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan pasien saat digunakan?

a)

Jarak lebur yang optimal untuk stabilitas penyimpanan.

b)

Bilangan iodin rendah (<3) untuk mencegah ketengikan.

c)

Toleransi tinggi, toksisitas minimal, dan tidak mengiritasi jaringan mukosa.

d)

Indeks hidroksil rendah untuk stabilitas bahan aktif sensitif.

e)

Kemampuan berkontraksi saat pendinginan untuk pengeluaran cetakan yang mudah.

31.

Peningkatan jumlah serbuk zat aktif yang ditambahkan ke dalam basis leleh dapat mengganggu integritas supositoria dengan meningkatkan viskositas lelehan, sehingga menghambat alirannya ke dalam cetakan. Untuk mengatasi masalah aliran yang buruk ini, formulator dapat menambahkan ajuvan (bahan pembantu). Contoh bahan yang digunakan untuk meningkatkan inkorporasi serbuk dan memperbaiki aliran meliputi magnesium karbonat, minyak netral (gliserida asam lemak jenuh C8–C12), dan air dalam jumlah kecil (1–2%). Bahan manakah yang dapat ditambahkan untuk memperbaiki aliran lelehan supositoria yang terlalu kental akibat tingginya kadar serbuk aktif?

a)

Asam stearat atau alkohol lemak untuk meningkatkan kekentalan lebih lanjut.

b)

Surfaktan anionik seperti Na lauril sulfat dalam konsentrasi tinggi.

c)

Minyak netral (seperti gliserida asam lemak jenuh C8–C12) dengan viskositas rendah.

d)

Bentonit atau silika koloidal untuk meningkatkan viskositas.

e)

Polisorbat atau minyak jarak untuk meningkatkan kekuatan mekanis.

32.

Beberapa basis supositoria, terutama yang mengandung lemak seperti lemak coklat (cocoa butter), rentan mengalami ketengikan (rancidity) atau oksidasi saat terpapar udara, kelembapan, atau cahaya. Karena sensitivitas jaringan mukosa rektal, penggunaan antioksidan yang berpotensi mengiritasi tidak disarankan. Namun, untuk mencegah degradasi, antioksidan tertentu seperti BHT (butilhidroksitoluen), BHA (butilhidroksianisol), tokoferol (Vitamin E), dan asam askorbat dapat digunakan, seringkali dalam kombinasi dengan agen pengkelat seperti asam sitrat. Bahan manakah yang berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah ketengikan pada formulasi supositoria berbasis lemak coklat?

a)

Asam sorbat atau garam natriumnya (agen antifungi).

b)

Paraben atau benzal konium klorida (pengawet antimikroba).

c)

BHT, BHA, atau tokoferol (Vitamin E).

d)

Gliserol stearat atau asam stearat (pengubah suhu leleh).

e)

Polisorbat (peningkat kekuatan mekanis).

33.

Basis gliserin tergliserinasi (campuran gliserin dan gelatin) adalah basis yang umum digunakan, terutama untuk supositoria vagina atau laksatif. Kelebihannya mencakup kemampuan larut dalam air, tidak beracun, dan stabilitas relatif. Basis ini cocok untuk obat yang tidak larut dalam lemak. Namun, kekurangannya adalah dapat menyebabkan iritasi lokal pada mukosa dan, jika digunakan dalam jumlah besar, dapat memberikan efek laksatif. Selain itu, tidak cocok untuk obat yang tidak stabil dalam air karena adanya kandungan air yang signifikan. Manakah kelemahan utama dari basis gliserin?

a)

Memiliki titik leleh yang sangat rendah dan mudah teroksidasi.

b)

Tidak dapat melarutkan obat yang larut dalam air.

c)

Dapat menyebabkan iritasi pada kulit/mukosa dan efek laksatif jika dosis besar.

d)

Rentan terhadap kontaminasi bakteri dan fungi (non-nutritif).

e)

Sulit dikeluarkan dari cetakan karena tidak mengalami kontraksi pendinginan.

34.

Metode produksi supositoria skala industri yang paling umum dijelaskan adalah metode pelelehan (melting method). Proses ini melibatkan pelelehan basis supositoria (lemak atau PEG), pencampuran bahan aktif dan eksipien yang telah disiapkan (diayak), pengisian campuran leleh ke dalam cetakan, pendinginan, dan pengeluaran produk. Metode ini cocok untuk produksi massal. Metode produksi manakah yang melibatkan pelelehan basis dan pencampuran bahan aktif ke dalamnya?

a)

Metode Ekstrusi.

b)

Metode Kompresi.

c)

Metode Pelelehan (Melting Method).

d)

Metode Spray Congealing.

e)

Metode Freeze Drying.

35.

Metode produksi lain yang disebutkan dalam materi adalah metode freeze drying (pengeringan beku). Metode ini melibatkan pembekuan campuran bahan aktif dan eksipien pada suhu sangat rendah ( 40C-40^\circ\text{C} hingga 80C-80^\circ\text{C} ) untuk membentuk kristal es. Selanjutnya, kristal es dihilangkan melalui proses sublimasi (perubahan langsung dari padat ke gas) pada suhu dan tekanan rendah, menghasilkan supositoria yang kering dan stabil. Proses pengeringan mana yang digunakan dalam metode freeze drying?

a)

Pengeringan dengan pemanasan dalam oven.

b)

Penguapan pelarut pada suhu kamar.

c)

Sublimasi kristal es pada suhu dan tekanan rendah.

d)

Ekstrusi campuran melalui nozzle kecil di udara dingin.

e)

Kompresi bahan padat ke dalam cetakan menggunakan tekanan tinggi.

36.

Farmakope Indonesia Edisi VI (FI VI) mensyaratkan beberapa pengujian kualitas untuk sediaan supositoria guna memastikan keamanan, efektivitas, dan konsistensi produk. Pengujian ini mencakup uji identifikasi, uji kadar bahan aktif, uji keseragaman bobot, uji waktu hancur, uji stabilitas, uji sterilitas, dan uji pirogenitas. Pengujian manakah yang bertujuan untuk memastikan bahwa setiap supositoria dalam satu bets memiliki massa yang konsisten sesuai standar yang ditetapkan?

a)

Uji Identifikasi (memastikan bahan aktif sesuai label).

b)

Uji Kadar (menentukan jumlah bahan aktif).

c)

Uji Keseragaman Bobot (memastikan bobot yang seragam).

d)

Uji Waktu Hancur (menentukan waktu hancur dalam kondisi tertentu).

e)

Uji Pirogenitas (memastikan bebas dari zat penyebab demam).

37.

Menurut Farmakope Indonesia Edisi VI (FI VI), pasta didefinisikan sebagai sediaan setengah padat untuk pemakaian luar yang mengandung serbuk dalam jumlah besar, biasanya lebih dari 25%. Kandungan serbuk yang tinggi (umumnya 25–50% serbuk tidak larut seperti seng oksida, pati, atau talk) memberikan sifat fisik yang khas, seperti konsistensi kaku, opak, protektif, dan absorptif. Sifat ini membedakan pasta dari salep yang kandungan serbuknya rendah atau tidak ada. Berdasarkan definisi ini, komponen utama manakah yang menentukan kekakuan dan sifat absorptif dari sediaan pasta?

a)

Fase minyak (basis oleaginous) yang dominan.

b)

Kandungan air yang tinggi sebagai fase cair.

c)

Jumlah serbuk tidak larut yang besar (lebih dari 25%).

d)

Penggunaan emulgator tipe water-in-oil (W/O).

e)

Adanya humektan seperti gliserin atau propilen glikol.

38.

Pasta digunakan untuk pemakaian luar pada kulit atau membran mukosa dan memiliki peran klinis yang khas. Karena konsistensinya yang kaku dan sifat absorptifnya, pasta memberikan efek barier atau pelindung terhadap kelembapan, iritasi, dan gesekan. Selain itu, pasta sangat efektif sebagai penyerap eksudat (cairan luka) untuk lesi kulit yang basah atau meradang, seperti ruam popok atau eksim eksudatif. Hal ini disebabkan oleh kontak lokal berkepanjangan yang dihasilkan dari konsistensi kaku, yang membuat pasta tidak mudah terhapus. Untuk kondisi kulit basah dan meradang, fungsi utama apakah yang diberikan oleh sediaan pasta?

a)

Efek oklusif tinggi untuk meningkatkan penetrasi obat pada lesi kering.

b)

Penyebaran luas dan sensasi dingin pada area kulit yang luas.

c)

Proteksi jaringan setempat dan absorpsi eksudat (cairan luka).

d)

Pelembapan ringan tanpa meninggalkan residu berminyak.

e)

Efek pendinginan yang cepat melalui penguapan fase air.

39.

Tabel perbandingan sediaan semipadat menunjukkan perbedaan signifikan antara pasta dan salep. Pasta memiliki konsistensi kaku, tebal, dan sulit dioleskan, sedangkan salep lembut, berminyak, dan mudah dioleskan. Pasta bersifat opak, protektif, dan absorptif, sedangkan salep berminyak dan okklusif. Kandungan serbuk pada pasta tinggi (25–50%), sementara pada salep rendah atau tidak ada. Berdasarkan perbandingan sifat fisik ini, manakah pernyataan yang benar mengenai pasta dibandingkan dengan salep?

a)

Pasta lebih berminyak dan okklusif dibandingkan salep.

b)

Pasta lebih mudah dioleskan dan menyebar di area luas.

c)

Pasta memiliki kandungan serbuk yang rendah atau tidak ada.

d)

Pasta kurang berminyak dibandingkan salep karena kandungan serbuk tinggi

e)

Pasta dan salep memiliki konsistensi yang sama dan mudah dicuci

40.

Formulasi pasta umumnya menggunakan basis oleaginous (lemak/minyak) seperti vaselin putih, parafin lunak, atau lanolin. Basis oleaginous memberikan efek pelindung yang kuat (barrier) dan relatif stabil terhadap oksidasi ringan. Kelemahannya, basis ini sulit dicuci dengan air dan kurang nyaman bagi pasien karena lengket. Contoh umum adalah pasta seng oksida dengan vaselin putih. Bahan manakah yang merupakan contoh basis oleaginous yang sering digunakan dalam formulasi pasta karena sifat protektifnya?

a)

Polietilen glikol (PEG) ointment base.

b)

Basis krim Oil-in-Water (O/W).

c)

Lanolin anhidrat sebagai basis absorpsi.

d)

Vaselin putih atau parafin lunak.

e)

Air murni sebagai pelarut utama.

41.

Eksipien tambahan sangat penting untuk menjaga stabilitas fisik dan kimia sediaan pasta. Pengawet (misalnya paraben, fenoksietanol) ditambahkan untuk mencegah pertumbuhan mikroba, terutama penting karena pasta sering digunakan pada kulit yang rusak atau teriritasi. Antioksidan (seperti tokoferol, BHT) digunakan untuk mencegah oksidasi basis lemak/minyak, yang dapat menyebabkan perubahan warna atau bau (ketengikan) dan memperpanjang umur simpan produk. Apa peran utama antioksidan seperti BHT dalam formulasi pasta berbasis lemak?

a)

Meningkatkan hidrasi kulit dan mempercepat penetrasi.

b)

Mencegah kontaminasi mikroba dan pertumbuhan bakteri.

c)

Meningkatkan konsistensi dan homogenitas sediaan.

d)

Mencegah oksidasi basis lemak/minyak dan ketengikan.

e)

Memberikan efek protektif pada kekuatan pada pasta.

42.

Salah satu prinsip formulasi pasta yang krusial adalah memastikan tekstur yang halus, tidak menimbulkan rasa kasar (gritty) saat diaplikasikan. Rasa kasar ini biasanya disebabkan oleh ukuran partikel serbuk yang tidak halus atau adanya aglomerasi (penggumpalan). Untuk mengatasi ini, teknik levigasi sering digunakan, yaitu mencampurkan serbuk dengan sedikit cairan inert (seperti gliserin atau propilen glikol) sebelum diinkorporasikan ke dalam basis. Metode ini bertujuan untuk memecah partikel dan memastikan distribusi yang merata. Teknik manakah yang digunakan untuk mencegah rasa gritty dan menghasilkan tekstur pasta yang halus?

a)

Inkorporasi bertahap serbuk ke dalam basis tanpa perlakuan awal.

b)

Penggunaan basis dengan viskositas yang sangat rendah.

c)

Peleburan basis pada suhu tinggi (di atas 70°C).

d)

Levigasi serbuk dengan cairan inert sebelum dicampur ke basis.

e)

Penggunaan serbuk yang larut sempurna dalam air.

43.

Menurut Farmakope Indonesia Edisi VI (FI VI), losion adalah sediaan cair atau setengah cair untuk pemakaian luar, mengandung zat aktif dalam bentuk larutan, emulsi, atau suspensi. Karakteristik fisiknya yang utama adalah konsistensi cair atau encer, yang membuatnya mudah menyebar di permukaan kulit yang luas. Sifat cair ini juga memberikan sensasi dingin saat menguap dari kulit. Karakteristik fisik utama manakah yang membedakan losion dari sediaan semipadat seperti krim atau pasta?

a)

Konsistensi kaku dan tebal yang sulit dioleskan.

b)

Mengandung serbuk dalam jumlah besar (>25%).

c)

Konsistensi cair atau encer dan mudah menyebar di area luas.

d)

Memiliki sifat oklusif tinggi dan sangat berminyak.

e)

Tidak mengandung air sama sekali dalam formulasinya.

44.

Losion dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis utama berdasarkan sistem dispersinya: losion suspensi dan losion emulsi. Losion suspensi mengandung partikel padat (misalnya ZnO, kalamin) yang terdispersi dalam fase cair dan memerlukan pengocokan sebelum digunakan ("shake well"). Losion emulsi adalah campuran dua fase (air + minyak) dengan bantuan emulsifier. Losion emulsi tipe O/W ringan dan mudah dicuci, sedangkan tipe W/O lebih oklusif. Losion tipe manakah yang memerlukan instruksi "kocok dahulu sebelum digunakan" pada labelnya?

a)

Losion emulsi tipe W/O (Water-in-Oil).

b)

Losion emulsi tipe O/W (Oil-in-Water).

c)

Losion suspensi (Suspension Lotion).

d)

Losion yang hanya mengandung API larut air.

e)

Losion yang menggunakan basis PEG.

45.

Sediaan losion menawarkan beberapa keunggulan, terutama terkait kenyamanan pasien dan kemudahan penggunaan. Konsistensi cair membuatnya mudah diaplikasikan pada area tubuh yang luas. Losion, terutama tipe O/W, cepat menyerap, tidak lengket, dan mudah dicuci, sehingga diterima baik oleh pasien dengan kulit berminyak atau normal. Selain itu, penguapan fase air memberikan efek menenangkan atau mendinginkan pada kulit iritasi/gatal. Keunggulan manakah yang membuat losion sangat nyaman bagi pasien untuk penggunaan harian atau kosmetik?

a)

Stabilitas fisik yang tinggi dan jarang mengalami pemisahan fase.

b)

Kemampuan memberikan efek oklusif yang kuat seperti salep.

c)

Kenyamanan tinggi: tidak lengket, mudah dicuci, dan cepat menyerap.

d)

Cocok untuk kulit yang sangat kering dan pecah-pecah.

e)

Tidak memerlukan pengawet karena kandungan airnya rendah.

46.

Meskipun nyaman, losion memiliki keterbatasan. Keterbatasan utama sering berkaitan dengan stabilitas fisiknya, di mana emulsi mudah mengalami pemisahan fase (creaming, coalescence, breaking) dan suspensi dapat mengendap, memerlukan pengocokan sebelum digunakan. Kandungan air yang tinggi juga membuatnya rentan terhadap kontaminasi mikroba, sehingga wajib ditambahkan pengawet, yang berpotensi menimbulkan risiko iritasi atau alergi. Keterbatasan utama manakah dari sediaan losion yang berkaitan dengan stabilitas fisik dan keamanannya?

a)

Efek hidrasi yang berlebihan pada kulit normal.

b)

Pelepasan obat yang konsisten dan penetrasi dalam.

c)

Tidak cocok untuk aplikasi pada area tubuh yang luas.

d)

Stabilitas rendah (mudah memisah) dan rentan kontaminasi mikroba.

e)

Harga produksi yang sangat tinggi dibandingkan sediaan lain.

47.

Formulasi losion sering memasukkan humektan dan emolien untuk meningkatkan fungsi kosmetik dan terapeutik (memperbaiki barrier kulit). Humektan seperti gliserin, propilen glikol, atau sorbitol berfungsi menarik air dari lingkungan atau stratum korneum untuk meningkatkan hidrasi kulit. Emolien seperti dimetikon, lanolin, atau minyak mineral mengisi celah antar sel kulit, membuatnya terasa halus dan lembut. Dalam formula Calamine Lotion, gliserin ditambahkan sebagai humektan. Apa fungsi spesifik humektan dalam formulasi losion?

a)

Mengisi celah antar sel kulit untuk efek oklusif.

b)

Bertindak sebagai surfaktan untuk menstabilkan emulsi.

c)

Menarik air dari lingkungan/stratum korneum untuk meningkatkan hidrasi.

d)

Mencegah oksidasi fase minyak dan ketengikan.

e)

Berfungsi sebagai agen pengental untuk meningkatkan viskositas.

48.

Surfaktan atau emulsifier adalah komponen penting dalam losion emulsi, berfungsi menurunkan tegangan antarmuka antara air dan minyak serta menstabilkan sistem. Pemilihan emulsifier didasarkan pada nilai HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance). HLB tinggi (8–18) cocok untuk losion tipe O/W (minyak dalam air), sedangkan HLB rendah (3–6) cocok untuk losion W/O (air dalam minyak). Jika formulator ingin membuat losion O/W yang ringan dan cepat menyerap, jenis emulgator manakah yang paling sesuai?

a)

Span (Sorbitan ester) dengan HLB rendah.

b)

Emulgator dengan HLB sekitar 4-5.

c)

Tween (Polysorbate) atau Cetostearyl alcohol dengan HLB tinggi.

d)

Lesitin atau gelatin alami.

e)

Sodium lauryl sulfate yang sangat iritatif.

49.

Proses produksi losion melibatkan beberapa tahapan, termasuk pembuatan fase minyak dan fase air secara terpisah, penggabungan fase, homogenisasi, pendinginan, dan pengemasan. Pada skala industri, tahap homogenisasi untuk memperkecil ukuran globul minyak dan meningkatkan stabilitas emulsi sering menggunakan peralatan khusus. Peralatan seperti high-shear homogenizer atau colloid mill digunakan untuk memberikan gaya geser tinggi yang diperlukan. Alat manakah yang digunakan pada skala industri untuk memastikan distribusi partikel atau globul yang merata dan tekstur yang halus?

a)

Mortar and pestle (lumpang dan alu).

b)

Blender dapur sederhana.

c)

High-shear homogenizer atau colloid mill.

d)

Tangki pencampur berkecepatan rendah saja.

e)

Spatula di atas kaca pengaduk.

50.

Untuk losion yang berbentuk emulsi, pengujian kualitas mencakup pemeriksaan ukuran globul emulsi. Pengujian ini dilakukan dengan mikroskop atau particle size analyzer. Tujuan dari pengujian ini sangat penting untuk stabilitas fisik produk. Ukuran globul yang kecil dan seragam membantu mencegah ketidakstabilan seperti creaming (globul minyak naik ke atas), coalescence (globul bergabung), atau breaking (pemisahan fase total). Tujuan utama dari pengujian ukuran globul emulsi pada sediaan losion adalah untuk?

a)

Memastikan pH losion sesuai fisiologis kulit.

b)

Menentukan kadar bahan aktif dalam formula.

c)

Mencegah kontaminasi mikroba dan pertumbuhan patogen.

d)

Mencegah creaming, coalescence, atau breaking (meningkatkan stabilitas fisik).

e)

Menjamin viskositas losion tetap tinggi saat penyimpanan.

51.

Creaming adalah jenis ketidakstabilan fisik yang umum terjadi pada emulsi losion. Fenomena ini melibatkan naiknya globul fase minyak ke permukaan (pada emulsi O/W) atau partikel padat turun ke bawah (sedimentasi pada suspensi). Creaming bersifat reversibel, artinya dapat diperbaiki dengan pengocokan, dan bukan merupakan pemisahan total fase yang permanen. Dalam tabel ketidakstabilan emulsi, solusi untuk creaming melibatkan homogenisasi dan penambahan peningkat viskositas (viscosity enhancer). Apa sifat reversibel dari creaming dalam sediaan losion?

a)

Fase minyak dan air terpisah secara permanen dan tidak dapat campur lagi.

b)

Globul minyak bergabung menjadi massa yang lebih besar (koalesensi).

c)

Losion kembali homogen dengan pengocokan ringan sebelum digunakan.

d)

pH losion berubah drastis menjadi tidak fisiologis.

e)

Bahan aktif mengalami degradasi kimiawi dan kehilangan efektivitas.

52.

Menurut Farmakope Indonesia Edisi VI (FI VI), salep adalah sediaan semipadat yang ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Sediaan ini dapat berupa basis oleaginous, absorpsi, emulsi, atau larut air. Karakteristik penting salep mencakup konsistensi semipadat yang mudah dioleskan dan melekat pada kulit, serta harus homogen dan stabil selama penyimpanan. Aspek mutu seperti kadar zat aktif yang sesuai label dan bebas kontaminasi juga ditekankan. Manakah pernyataan berikut yang paling akurat menjelaskan karakteristik penting dari sediaan salep?

a)

Salep selalu berupa emulsi minyak dalam air dengan kandungan air tinggi.

b)

Salep memiliki konsistensi cair dan tidak melekat pada kulit.

c)

Salep adalah sediaan padat untuk penggunaan oral.

d)

Salep memiliki konsistensi semipadat, mudah dioleskan, homogen, dan stabil.

e)

Salep tidak memerlukan pengawet karena sifatnya yang semipadat.

53.

Obat yang diaplikasikan secara topikal dapat menembus kulit melalui tiga jalur utama: transseluler (melalui sel stratum korneum), interseluler (melalui celah lipid antar sel), dan transappendageal (melalui folikel rambut dan kelenjar sebasea). Stratum korneum bertindak sebagai penghalang utama. Pemilihan basis salep, seperti basis oklusif (petrolatum), dapat meningkatkan hidrasi kulit, yang mempercepat penetrasi. Jalur manakah yang melibatkan pergerakan obat melalui celah lipid di antara sel-sel stratum korneum?

a)

Jalur transseluler.

b)

Jalur interseluler.

c)

Jalur transappendageal.

d)

Penetrasi langsung ke hipodermis.

e)

Melalui pembuluh darah di dermis.

54.

Senyawa peningkat penetrasi (penetration enhancer) dapat digunakan dalam formulasi salep untuk memfasilitasi penyerapan obat. Senyawa polar, seperti alkohol, berinteraksi dengan kepala polar molekul lipid di bilayer (lapisan ganda lipid) stratum korneum. Interaksi ini menyebabkan interkalasi (penyisipan molekul alkohol ke dalam struktur lipid), yang membuka celah dan meningkatkan permeabilitas terhadap obat yang larut dalam air (polar). Mekanisme apakah yang digunakan oleh alkohol sebagai peningkat penetrasi?

a)

Fluidisasi matriks lipid non-polar.

b)

Gangguan filamen keratin intraseluler.

c)

Interkalasi ke dalam struktur lipid polar untuk membuka celah.

d)

Peningkatan viskositas basis salep.

e)

Pengurangan ukuran partikel obat secara signifikan.

55.

Basis salep oleaginous, seperti petrolatum (Vaseline) atau parafin, tidak mengandung air dan bersifat sangat oklusif (menutup pori-pori kulit). Sifat oklusif ini menciptakan penghalang hidrofo­bik di permukaan kulit, yang secara signifikan mengurangi Trans-Epidermal Water Loss (TEWL) atau penguapan air dari kulit. Hal ini menghasilkan peningkatan hidrasi stratum korneum dan membantu penyerapan obat. Keunggulan apakah yang dihasilkan dari sifat oklusif tinggi basis oleaginous?

a)

Mudah dicuci dengan air dan tidak meninggalkan residu berminyak.

b)

Memungkinkan pelepasan obat yang cepat dan onset aksi cepat.

c)

Meningkatkan hidrasi stratum korneum dan membantu penyerapan obat.

d)

Cocok untuk kulit ber­minyak atau lesi kulit yang basah.

e)

Tidak memerlukan pengawet karena mendukung pertumbuhan mikroba.

56.

Meskipun basis salep oleaginous memiliki keunggulan terapeutik, kerugian paling umum adalah sifatnya yang berminyak, lengket, dan tidak estetis. Hal ini sering menyebabkan penolakan dari pasien untuk menggunakannya secara teratur, terutama di area tubuh yang terlihat atau berbulu. Selain itu, basis berminyak sulit dibersihkan dari kulit atau pakaian hanya dengan air. Kekurangan utama manakah yang berkaitan dengan aspek estetika dan kenyamanan pasien dari salep oleaginous?

a)

Stabilitas kimia obat rendah dalam basis ini.

b)

Drug release terlalu cepat dan tidak terkontrol.

c)

Menyebabkan iritasi parah pada kulit sensitif.

d)

Sifatnya yang berminyak, lengket, dan tidak estetis menyebabkan penolakan pasien.

e)

Tidak cocok untuk API lipofilik tanpa modifikasi.

57.

Basis salep absorpsi adalah basis oleaginous yang dimodifikasi dengan penambahan agen pengemulsi, memungkinkan­nya menyerap air dan membentuk emulsi water-in-oil (W/O). Contohnya adalah lanolin anhidrat atau hydrophilic petrolatum. Karakteristiknya mencakup oklusif sedang, kemampuan menyerap eksudat luka ringan, dan kompatibilitas dengan fase air. Basis ini lebih mudah dicuci daripada basis oleaginous murni, tetapi memerlukan pengawet karena adanya potensi air. Sifat khas manakah yang dimiliki oleh basis salep absorpsi?

a)

Tidak dapat menyerap air sama sekali.

b)

Membentuk emulsi oil-in-water (O/W).

c)

Oklusif tinggi seperti petrolatum murni.

d)

Dapat menyerap air dan membentuk emulsi W/O.

e)

Stabilitas mikrobiologi tinggi tanpa pengawet.

58.

Basis salep yang dapat dicuci air adalah emulsi minyak dalam air (O/W), secara teknis mirip dengan krim. Contohnya hydrophilic ointment USP atau vanishing cream base. Keunggulan utama basis ini adalah kemudahan dicuci dengan air, tidak meninggalkan residu berminyak, dan estetis (ringan, tidak lengket), sehingga meningkatkan kepatuhan pasien, terutama untuk kulit berminyak atau area wajah. Mereka juga memfasilitasi pelepasan obat hidrofilik yang cepat. Keunggulan manakah dari basis water-removable yang berkaitan dengan kenyamanan pasien?

a)

Memberikan hidrasi kulit yang sangat tinggi seperti petrolatum.

b)

Cocok untuk kulit sangat kering karena efek oklusifnya.

c)

Nyaman digunakan, mudah dicuci, tidak lengket, dan estetis.

d)

Tidak rentan kontaminasi mikrobiologi dan tidak perlu pengawet.

e)

Melepaskan API lipofilik dengan sangat cepat.

59.

Basis salep larut air terbuat dari polietilen glikol (PEG) dengan berbagai berat molekul (misalnya PEG 3350, PEG 400). Basis ini tidak mengandung bahan oleaginous, tidak membentuk emulsi, dan larut sempurna dalam air. Mereka tidak oklusif dan mudah dicuci total, cocok untuk luka eksudatif atau kulit berminyak. Namun, sifat higroskopis PEG dapat menyebabkan potensi iritasi pada kulit. Karakteristik apakah yang membedakan basis water-soluble dari basis salep lainnya?

a)

Sangat oklusif dan menahan air di kulit.

b)

Mengandung minyak mineral sebagai komponen utama.

c)

Tidak larut dalam air dan meninggalkan residu berminyak.

d)

Larut sempurna dalam air dan tidak mengandung bahan oleaginous.

e)

Memerlukan antioksidan kuat untuk mencegah ketengikan.

60.

Koefisien partisi (log P) adalah rasio distribusi obat antara fase lipofilik (minyak) dan hidrofilik (air), yang menentukan kemampuan obat berpindah dari basis salep ke stratum korneum kulit. Obat dengan log P moderat (kisaran 1–3) umumnya memiliki penetrasi kulit yang optimal. Obat dengan log P tinggi cenderung tetap tertahan di basis lipofilik, sementara log P rendah (hidrofilik) sulit menembus barier kulit. Rentang nilai log P manakah yang optimal untuk penetrasi kulit?

a)

Log P < 1 (terlalu hidrofilik).

b)

Log P antara 1–3 (moderat).

c)

Log P > 4 (terlalu lipofilik).

d)

Log P = 0 (seimbang).

e)

Tidak ada hubungan antara log P dan penetrasi kulit.

61.

Faktor formulasi seperti seperti kelarutan obat dalam basis sangat memengaruhi profil pelepasan obat. Prinsip dasarnya adalah obat harus memiliki kelarutan yang memadai dalam basis untuk homogenitas, tetapi juga harus memiliki afinitas yang lebih besar terhadap kulit (stratum korneum) agar dapat berpartisi keluar dari basis dan berdifusi. Jika obat terlalu larut dalam basis (afinitas tinggi terhadap basis), pelepasan obat ke kulit bisa menjadi lambat. Apa implikasi klinis dari obat yang memiliki kelarutan sangat tinggi dalam basis salep oleaginous?

a)

Pelepasan obat ke kulit menjadi sangat cepat.

b)

Pelepasan obat menjadi lambat karena obat cenderung tertahan di basis.

c)

Obat akan mengendap dan membentuk kristal dalam basis.

d)

Obat tidak dapat menembus kulit sama sekali.

e)

Viskositas basis akan menurun drastis.

62.

Reologi atau sifat aliran sediaan salep sangat penting untuk kenyamanan pasien dan stabilitas fisik. Sebagian besar krim O/W menunjukkan aliran pseudoplastik (shear-thinning), di mana viskositas menurun saat gaya geser (seperti saat dioleskan) meningkat. Petrolatum menunjukkan aliran plastis, memerlukan tegangan awal untuk mengalir. Sifat aliran manakah yang membuat sediaan semipadat mudah dioleskan secara merata di kulit?

a)

Aliran Newtonian (viskositas konstan).

b)

Aliran dilatan (shear-thickening).

c)

Aliran plastis (perlu tegangan awal).

d)

Aliran pseudoplastik (shear-thinning).

e)

Tiksotropik permanen tanpa pemulihan.

63.

Peningkat penyerapan seperti propilen glikol, asam oleat, atau urea ditambahkan ke dalam formulasi salep untuk meningkatkan permeabilitas kulit. Mereka bekerja dengan mengganggu lipid stratum korneum, meningkatkan kelarutan, dan meningkatkan partisi obat ke kulit. Penggunaan bahan-bahan ini memerlukan uji keamanan untuk memastikan konsentrasi optimal yang efektif tanpa menyebabkan iritasi kulit. Apa peran utama dari urea sebagai peningkat penyerapan?

a)

Bertindak sebagai pengawet antimikroba yang kuat.

b)

Menstabilkan emulsi O/W dengan menurunkan tegangan antarmuka.

c)

Mengganggu lipid stratum korneum dan meningkatkan permeabilitas kulit.

d)

Memberikan warna dan aroma yang menarik pada sediaan.

e)

Mengatur kekentalan basis salep (viscosity modifier).

64.

Metode produksi salep fusi (pelelehan) adalah metode yang umum digunakan, terutama untuk basis yang mengandung lemak, lilin, atau petrolatum. Proses ini melibatkan pemanasan terkontrol basis (misalnya pada 60–70°C) hingga meleleh, diikuti dengan pencampuran bahan aktif (baik larut atau tersuspensi) sambil diaduk, dan pendinginan bertahap. Metode ini cocok untuk produksi skala industri. Tahap kritis manakah yang terjadi setelah pelelehan basis dan penambahan API dalam metode fusion?

a)

Penggerusan API padat dengan levigating agent di mortar.

b)

Pendinginan bertahap sambil diaduk perlahan untuk mencegah kristalisasi.

c)

Pencampuran fase minyak dan fase air yang telah dipanaskan terpisah.

d)

Pengemasan langsung ke dalam tube tanpa pendinginan.

e)

Penambahan elektrolit konsentrasi tinggi untuk mengentalkan basis.

65.

Farmakope Indonesia Edisi VI (FI VI) mensyaratkan beberapa pengujian kualitas untuk sediaan salep. Salah satunya adalah uji homogenitas. Tujuan uji ini adalah untuk memastikan distribusi bahan aktif yang merata di seluruh massa salep. Metode yang digunakan meliputi pemeriksaan visual di bawah mikroskop atau melalui assay multi-sampling kuantitatif. Kriteria keberterimaan adalah tidak adanya kristal atau gumpalan yang terlihat, yang mengindikasikan distribusi seragam. Uji manakah yang dilakukan untuk memastikan distribusi API yang merata dan tidak ada butiran kasar?

a)

Uji Identifikasi (memastikan API sesuai label).

b)

Uji Kadar API (menentukan jumlah total API).

c)

Uji Viskositas (mengukur konsistensi fisik).

d)

Uji Homogenitas (memastikan distribusi API merata dan tidak ada gumpalan).

e)

Uji pH (memastikan kesesuaian dengan kulit).