NEW
Font size
WorksheetsKeperawatan Anak: Leukemia, Thalassemia, RHD, DM1, dan Kolostomi
Total questions: 34
Worksheet time: 17mins
Anak 7 tahun datang dengan demam 38,8°C, lemah, pucat, petekie, mimisan. Lab: Hb 7 g/dL, trombosit 18.000/mm³, neutrofil 400/mm³. Prioritas masalah keperawatan adalah
Gangguan citra tubuh
Risiko infeksi
Risiko perfusi ginjal tidak efektif
Gangguan eliminasi urine
Risiko intoleransi aktivitas
Anak leukemia trombosit rendah akan diambil darah. Tindakan untuk menurunkan risiko perdarahan setelah tindakan adalah
Kompres hangat 5 menit
Tekan area pungsi lebih lama dan evaluasi perdarahan
Pijat area pungsi agar tidak bengkak
Beri aspirin jika nyeri
Anjurkan olahraga ringan setelahnya
Anak leukemia mengeluh nyeri tulang skala 6/10, sulit tidur. Intervensi mandiri paling tepat
Mengabaikan agar anak terbiasa
Distraksi (musik/cerita) dan relaksasi napas dalam
Membatasi cairan
Meminta anak berjalan cepat
Memberikan makanan pedas
Orang tua anak leukemia mengatakan: “Saya takut anak saya meninggal, saya tidak bisa fokus.” Respon terapeutik perawat paling tepat
“Jangan pikirkan itu, semua akan baik-baik saja.”
“Bapak/Ibu harus kuat, jangan menangis.”
“Ceritakan hal yang paling Bapak/Ibu khawatirkan saat ini.”
“Saya paham, tapi kita fokus obat saja.”
“Itu wajar, tapi jangan dibahas di depan anak”
Anak 9 tahun thalassemia mayor rutin transfusi. Orang tua mengeluh anak cepat lelah dan sering tidak masuk sekolah. Masalah keperawatan prioritas
Gangguan pola tidur
Intoleransi aktivitas
Hipotermia
Risiko aspirasi
Gangguan menelan
Setelah transfusi, anak menggigil, demam, gatal-gatal, tampak sesak. Tindakan pertama perawat
Lanjutkan transfusi sampai habis
Hentikan transfusi dan laporkan segera sesuai SOP
Beri minum hangat
Posisikan trendelenburg
Ajarkan batuk efektif
Keluarga thalassemia mengatakan pengeluaran meningkat sehingga makan keluarga sering kurang. Intervensi keperawatan keluarga paling tepat
Menyarankan menghentikan transfusi sementara
Menyarankan pinjaman online agar cepat
Rujuk dukungan sosial (jaminan/pekerja sosial), bantu perencanaan, perkuat coping keluarga
Menjelaskan itu bukan urusan perawat
Menyarankan diet mahal untuk meningkatkan Hb
Anak thalassemia mendapat terapi kelasi besi. Tujuan utamanya
Menaikkan trombosit
Menurunkan penumpukan besi akibat transfusi berulang
Menurunkan gula darah
Mengatasi diare
Mengurangi alergi makanan
Anak 11 tahun dengan riwayat demam rematik, kini ada murmur dan mudah lelah. Edukasi pencegahan kekambuhan paling penting
Diet tinggi garam
Profilaksis antibiotik sesuai jadwal kontrol
Minum obat bebas setiap demam
Stop semua aktivitas fisik seumur hidup
Tidak perlu kontrol bila tidak sesak
Anak RHD datang sesak, ortopneu, edema tungkai, hepatomegali. Masalah keperawatan prioritas
Konstipasi
Curah jantung menurun
Risiko cedera
Gangguan menelan
Gangguan integritas kulit
Intervensi mandiri untuk mengurangi sesak pada anak RHD adalah
Posisi semi-Fowler dan pantau RR/SpO₂
Memaksa minum banyak cairan
Makanan tinggi natrium
Latihan lari 30 menit
Menurunkan jam tidur
Orang tua bertanya tanda bahaya yang harus segera ke RS. Jawaban paling tepat
Nafsu makan meningkat
Tidur lebih lama
Sesak memburuk, bengkak bertambah, sianosis, cepat lelah
Sering meminta bermain
Batuk ringan setelah makan
Anak 10 tahun DM1 tampak gemetar, berkeringat dingin, bingung setelah olahraga. Tindakan pertama
Tambah insulin cepat kerja
Beri 15 g karbohidrat cepat, cek ulang gula darah
Batasi cairan
Beri makanan tinggi lemak
Tidurkan tanpa tindakan
Bayi dengan kolostomi sementara. Edukasi terpenting
Stoma tidak perlu dibersihkan
Perawatan stoma dan pencegahan iritasi kulit, tanda infeksi/dehidrasi
Tekan stoma agar kecil
Oles salep sembarang
Kantong tidak perlu diganti
Leukemia – risiko perdarahan (kebutuhan keamanan) Anak 7 tahun leukemia, trombosit 18.000/mm^3, tampak petekie dan gusi mudah berdarah. Prioritas tindakan keperawatan?
Ajarkan sikat gigi keras agar bersih
Anjurkan olahraga ringan agar bugar
Terapkan pencegahan perdarahan (hindari injeksi IM, tekan lama pasca venipunktur)
Berikan kompres hangat pada gusi berdarah
Batasi cairan agar tidak edema
Leukemia – risiko infeksi (kebutuhan keamanan keluarga) Anak 5 tahun leukemia, neutrofil sangat rendah, demam 38,6°C. Orang tua bertanya tindakan utama di rumah sakit. Respon paling tepat?
Demam itu wajar, tunggu saja
Segera terapkan isolasi protektif dan cuci tangan ketat
Berikan makanan pedas agar nafsu makan
Boleh kunjungan ramai agar anak senang
Kompres dingin saja tanpa evaluasi
Thalassemia – kelelahan dan oksigenasi Anak 9 tahun thalassemia mayor tampak pucat, cepat lelah, Hb 6 g/dL, menunggu transfusi. Intervensi prioritas?
Anjurkan aktivitas berat untuk melatih otot
Atur periode istirahat, hemat energi, pantau tanda hipoksia
Batasi tidur agar tidak lemas
Diet tinggi zat besi untuk menaikkan Hb cepat
Latihan napas dalam hanya saat sesak berat
Thalassemia – dukungan keluarga (kebutuhan psikososial) Ibu anak thalassemia merasa bersalah dan kelelahan karena jadwal transfusi rutin. Diagnosa keperawatan keluarga paling sesuai?
Ketidakefektifan pola napas
Risiko cedera
Koping keluarga tidak efektif
Gangguan eliminasi urin
Defisit perawatan diri
RHD – intoleransi aktivitas Anak 12 tahun riwayat demam rematik, sekarang mudah sesak saat aktivitas, ada murmur, kelelahan. Prioritas edukasi aktivitas?
Tetap ikut olahraga kompetitif agar kuat
Batasi aktivitas sesuai toleransi, istirahat cukup, pantau sesak/nyeri dada
Tidak perlu istirahat, yang penting makan
Minum banyak kopi agar tidak mengantuk
Stop semua aktivitas seumur hidup
RHD – pencegahan kekambuhan (keluarga) Orang tua bertanya cara mencegah serangan demam rematik berulang. Jawaban terbaik?
Tidak perlu kontrol bila anak terlihat sehat
Imunisasi saja sudah cukup
Kepatuhan profilaksis antibiotik sesuai program dan kontrol rutin
Perbanyak makanan tinggi garam
Menghindari mandi malam
Juvenile diabetes (DM tipe 1) – hipoglikemia Anak 10 tahun DM1, setelah olahraga tampak gemetar, berkeringat dingin, bingung. Tindakan pertama?
Suntik insulin tambahan
Berikan minuman manis/karbohidrat cepat serap bila sadar
Larang makan 24 jam
Berikan antibiotik
Berikan cairan IV tanpa cek gula
DM1 – edukasi keluarga (pemenuhan nutrisi) Ibu bingung soal diet anak DM1. Edukasi paling tepat?
Hentikan semua karbohidrat
Makan bebas asal insulin dinaikkan
Atur karbohidrat terukur, jadwal makan konsisten, pantau gula darah
Gula darah tidak perlu dipantau di rumah
Wilms tumor – pemeriksaan abdomen (keamanan). Anak 4 tahun dicurigai tumor Wilms, ada massa abdomen. Hal yang harus dihindari perawat?
Monitor tekanan darah
Pantau hematuria
Palpasi abdomen kuat untuk menilai ukuran massa
Edukasi orang tua tentang prosedur
Observasi nyeri
Nephrotic syndrome (NS) – edema dan cairan. Anak 6 tahun NS, edema periorbital, albumin rendah, urin berbusa. Intervensi utama?
Tinggikan asupan garam
Monitor intake-output, timbang harian, batasi natrium sesuai program
Dorong minum berlebihan
Latih lari tiap hari
Kompres hangat di perut
NS – risiko infeksi. Anak NS mendapat kortikosteroid. Tanda yang paling mengarah ke komplikasi infeksi yang harus segera dilaporkan?
Nafsu makan meningkat
Wajah membulat (moon face)
Demam dan nyeri perut hebat mendadak
Berat badan naik karena edema
Rambut rontok ringan
Sindrom Nefritik Akut (SNA) – hipertensi. Anak 8 tahun pasca infeksi tenggorok, urin cola, edema, TD meningkat. Prioritas pemantauan?
Warna rambut
Tekanan darah, status cairan, dan tanda kejang/ensefalopati hipertensi
Ketajaman penglihatan saja
Lingkar kepala
Turgor kulit saja
SNA – edukasi cairan. Orang tua bertanya tentang cairan. Edukasi paling tepat pada fase akut dengan oliguria?
“Minum sebanyak mungkin”
“Batasi cairan sesuai output + kebutuhan insensibel, ikuti instruksi tim”
“Tidak usah minum sama sekali”
“Minum minuman bersoda agar diuretik”
“Tidak perlu pantau BAK”
Glomerulonefritis Kronis (GNC) – kebutuhan pertumbuhan. Anak 13 tahun GNC, anemia, pertumbuhan terhambat, kelelahan, nafsu makan turun. Diagnosa paling sesuai?
Risiko trauma
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
Pola napas tidak efektif
Gangguan persepsi sensori
Konstipasi akut
Hirschsprung – tanda obstruksi. Bayi 3 hari belum BAB mekonium, muntah hijau, distensi abdomen. Tindakan awal prioritas?
Beri susu formula lebih banyak
Pijat perut kuat
NPO, pasang NGT dekompresi sesuai instruksi, observasi ketat
Lakukan enema rutin tanpa instruksi
Beri obat antidiare
Hirschsprung – perawatan pasca operasi (stoma). Anak pasca kolostomi, orang tua takut merawat stoma. Intervensi perawat paling tepat?
Larang orang tua menyentuh stoma
Ajarkan perawatan kulit peristoma dan penggantian kantong secara bertahap (return demonstration)
Tunda edukasi sampai pulang
Fokus hanya pada obat, bukan stoma
Biarkan stoma terbuka tanpa alat
Atresia ani – prioritas neonatus. Bayi baru lahir tidak ada lubang anus, perut kembung. Prioritas?
Langsung beri ASI banyak
NPO, cegah aspirasi, siapkan rujukan/operasi, monitor distensi
Pemberian laksatif oral
Latih BAB dengan stimulasi rektal
Oles minyak kayu putih
Atresia ductus hepaticus (biliary atresia) – kolestasis. Bayi 2 bulan, ikterik menetap, feses pucat, urin gelap, hepatomegali. Fokus nutrisi yang tepat?
Diet rendah kalori
Tinggi kalori, MCT, suplementasi vitamin larut lemak (A, D, E, K) sesuai program
Tinggi zat besi saja
Puasa berkala
Cairan manis saja
Retardasi mental – keselamatan & ADL. Anak 11 tahun disabilitas intelektual sedang, sulit perawatan diri. Rencana paling tepat?
Kerjakan semua ADL tanpa melibatkan anak
Latih ADL bertahap dengan penguatan positif & rutinitas konsisten
Beri hukuman bila tidak bisa
Hindari sekolah dan sosialisasi
Fokus akademik sulit saja
Autisme/ADHD – perilaku di kelas. Anak 8 tahun sering tidak fokus, impulsif, mengganggu teman. Strategi keperawatan/pendampingan paling tepat?
Instruksi panjang sekaligus
Lingkungan minim distraksi, aturan jelas, tugas dipecah pendek, reinforcement positif
Biarkan tanpa struktur agar kreatif
Beri label “nakal” agar jera
Kurangi tidur agar lelah
