Search Header Logo
BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN

Assessment

Presentation

Religious Studies

11th Grade

Hard

Created by

ahl allah

Used 12+ times

FREE Resource

10 Slides • 0 Questions

1

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN BAG 1

Slide image

2


Seorang muslim sejati, harus senantiasa berlomba-lomba dalam ketaatan, dan selalu bersegera dalam kebaikan. Karena, umur itu pendek dan ajal itu terbatas. 

berlomba menjadi jamaah yang terbaik dengan cara, datang ke masjid sebelum waktu sholat untuk mencari shof pertama dalam jamaah misalnya.

Berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan ukhrawi adalah hal yang terpuji, yang akan bisa memperkaya kehidupan, dan menjadikan seorang muslim berambisi untuk bisa mengangkat dirinya baik di hadapan Allah. Sedangkan berlomba-lomba dalam masalah duniawi adalah tercela, karena akan membuat lalai dari Allah dan akhirat, dan membawa kepada kejelekan dan kemungkaran, serta mendorong untuk meninggalkan kewajiban, mengambil yang haram

3

Ketika kita mengkaji sejarah Islam, kita akan mendapati bahwa ‘Umar bin Khaṭṭāb, selalu menempatkan Abu Bakar sebagai rekan kompetisinya. ‘Umar selalu berusaha untuk bisa lebih unggul dari Abū Bakar dalam amal dan pengorbanan. Demikianlah para sahabat, dan masih banyak lagi para assalafuṣ-ṣālihīn yang sangat pantas kita jadikan teladan dalam menapaki kehidupan. Mereka berkompetisi guna menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt. Di sisi lain, mereka pun tentu senentiasa bersinergi dalam kebaikan. Bersinergi dalam rangka mengembangkan dan menyebarkan Islam ke seluruh pelosok bumi. Ternyata menjadi pribadi kompetitif itu perlu, kompetisi yang sesuai dengan porsinya, kompetisi dalam kebaikan tentunya.

Slide image

4

Slide image

5

SURAT AL-BAQOROH AYAT 148

وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


6

MAKSUD KANDUNGAN AYAT

Dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan (fastabiqul-khairāt). Menghadap ke Kiblat (Kaʻbah) bukanlah tujuan, tapi harus dipahami bahwa umat Islam itu adalah satu. Di mana pun berada. Sebab arah kiblatnya satu.

Makna yang dapat kita ambil dari kandungan ayat ini adalah hendaknya kita giat bekerja serta berlomba dalam segala bentuk kebaikan, baik salat, bersedekah, menuntut ilmu, dan amalan positif yang lainnya. Kita harus berkompetisi dalam melakukan hal-hal yang positif. 

Slide image

7

SURAT FATIR AYAT: 32

ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ

وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ

Terjemah Arti: Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.



8

PENJELASAN AYAT

Ada beberapa macam umat muslim dalam menjadikan al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya

1. Kelompok pertama adalah Dzoolimun linafsihi (mereka yang menzalimi dirinya sendiri), yaitu orang-orang yang meninggalkan perintah-perintah Allah Swt. dan mengerjakan larangannya.

2. Kelompok kedua Muqtashid (bersikap pertengahan), yaitu selain melaksanakan semua kewajiban dan menjauhi segala larangan. Juga terkadang masih meninggalkan perkara yang disunahkan dan melakukan perkara-perkara yang dimakruhkan.

3. Kelompok ketiga, Saabiqun bil khoyroot yaitu mereka yang bersikap segera melakukan kebaikan-kebaikan dengan izin Allah Swt. Golongan ini selalu mengerjakan perbuatan yang diwajibkan dan disunahkan serta menjahui perkara yang diharamkan dan dimakruhkan

Slide image

9

SURAT AL-NAHL AYAT 97

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.


10

PENJELASAN AYAT

Pada ayat di atas, Allah Swt. menjanjikan kelak akan memberikan kehidupan yang sejahtera kepada siapapun, baik laki-laki atau perempuan, apabila mereka mau beriman dan beramal saleh. Dan balasan Allah Swt. bernilai lebih tinggi daripada yang dikerjakan.


Ada beberapa pendapat ahli tafsir dalam memahami ungkapan kata ‘ḥayātan toyyiban ‘ di antaranya adalah :

1). Menurut Ibnu Kaṡı̄r bahwa yang disebut dengan ḥayātan toyyiban adalah ketentraman jiwa.

2). Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ḥayātan toyyiban adalah hidup sejahtera dan bahagia dengan rezeki yang halal dan baik.

3). Adapun menurut ‘Alı̄ bin Abı̄Ṭālib yang dinamakan ḥayātan toyyiban adalah kehidupan yang disertai qanā‘ah (menerima dengan suka hati) terhadap pemberian Allah Swt..

Slide image

BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN BAG 1

Slide image

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 10

SLIDE