Search Header Logo
Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif

Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif

Assessment

Presentation

Education

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

Putra Santoko

FREE Resource

36 Slides • 0 Questions

1

media
media
media

Teori Kontrol/Pilihan

Keyakinan Kelas

Segitiga Restitusi

Perubahan Paradigma

Aksi Nyata Modul 1.4

Budaya positif

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

PUTRA YUDHA SANTOKO
Oleh

2

media
media

“Merdeka”

menurut

Ki

Hajar

Dewantara


“...merdeka itu artinya; tidak
hanya terlepas dari perintah;
akan tetapi juga cakap
buat memerintah diri sendiri”

(Ki

Hajar

Dewantara,

pemikiran,

Konsepsi,

Keteladanan, Sikap Merdeka, Cetakan Kelima,
2013, Halaman 469)

3

media

Pertanyaan Pemantik

1. Hukuman dapat mendisiplinkan anak.
2. Pemberian hukuman dengan hal positif seperti membaca atau

membersihkan halaman sekolah dapat meningkatkan disiplin anak.

3. Memberi penghargaan dapat meningkatkan motivasi belajar anak.

Setuju/Tidak Setuju?

4

media
media

Perubahan Paradigma

Kegiatan Kepalan Tangan

Ada A dan B (Anda dan teman Anda).
Sobeklah secarik kertas kecil, tuliskan benda atau sesuatu yang sangat
berharga untuk Anda. Letakkan di salah satu tangan Anda dan
genggam benda/sesuatu tersebut dengan segala daya. Buatlah sebuah
kepalan.
Teman Anda (B) akan mencoba dengan sekuat tenaga, dengan
berbagai cara untuk meminta Anda memberikan benda tersebut. B bisa
membujuk, mengancam, menghardik, merayu, menyuap, apa saja agar
dapat membuka kepalan tangan Anda.

Apa yang terjadi?

5

media

Perubahan Paradigma Teori Kontrol/Teori Pilihan

(Ilusi Kontrol)

Ilusi guru mengontrol murid.
Ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa

bersalah dapat menguatkan karakter.

Ilusi bahwa semua penguatan positif efektif dan

bermanfaat

Ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk

memaksa.

6

media

Perubahan Paradigma Stimulus Respon-Teori Kontrol/Teori Pilihan

Siapa sesungguhnya yang memiliki kontrol?

Stimulus Respon

Teori Kontrol/Pilihan

Kita mencoba mengubah orang agar
berpandangan sama dengan kita.

Kita berusaha memahami pandangan orang
lain tentang dunia.

Perilaku buruk dilihat sebagai suatu kesalahan

Semua perilaku memiliki tujuan.

Orang lain bisa mengontrol saya.

Hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda.

Saya bisa mengontrol orang lain.

Anda tidak bisa mengontrol orang lain.

Pemaksaan ada pada saat bujukan gagal.

Kolaborasi dan konsensus menciptakan
pilihan-pilihan baru.

Model Berpikir Menang/Kalah

Model Berpikir Menang-menang.

7

media

Makna Disiplin
Belajar kontrol diri
dengan menggali
potensi kita, agar
tercapai tujuan
mulia, yaitu
sesuatu menjadi
seseorang yang
kita inginkan
berdasarkan
nilai-nilai yang kita
hargai.

Nilai-Nilai

Kebajikan Universal

1. Untuk menghindari hukuman

Keyakinan Kelas

5 Kebutuhan Dasar Manusia

Bertahan Hidup

Penguasaan

Kasih sayang dan Rasa Diterima

Kesenangan
Kebebasan

5 Posisi Kontrol

1. Menstabilkan Identitas

Teori Kontrol/Teori Pilihan (Dr. William Glasser)

Realitas (kebutuhan) kita berbeda.
Kita berusaha memahami
pandangan orang lain tentang
dunia.
Setiap orang memiliki gambaran
berbeda.

Semua perilaku
memiliki tujuan.

Anda tidak bisa
mengontrol orang lain,
hanya Anda yang bisa
mengontrol diri Anda.

-Model Berpikir
Menang-menang,

-Kolaborasi dan
konsensus menciptakan
pilihan-pilihan baru.

2. Untuk mendapatkan imbalan

3. Untuk menghargai diri sendiri

Teori Motivasi

3. Teman
4. Pemantau

5. Manajer

1.Penghukum

2.Pembuat Rasa Bersalah

Disiplin Positif

Motivasi
Intrinsik

Motivasi
Ekstrinsik

2. Validasi Kebutuhan

3. Menanyakan Keyakinan

Segitiga Restitusi

8

media

• Berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya belajar.
• Makna asal dari kata ini berkonotasi dengan disiplin diri dari

murid-murid Socrates dan Plato.

• Disiplin diri membuat orang menggali potensinya menuju

sebuah tujuan, apa yang dia hargai.

• Namun dalam budaya kita, makna kata disiplin telah berubah

menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain
untuk mendapatkan kepatuhan. Kecenderungan umum
adalah menghubungkan kata disiplin dengan
ketidaknyamanan, bukan dengan apa yang kita hargai, atau
pencapaian suatu tujuan mulia.

Apakah makna ‘Disiplin’?

Hak Cipta @ 2005 Yayasan Pendidikan Luhur

DIIZINKAN UNTUK DIPERBANYAK OLEH PELATIH BERSERTIFIKAT

9

media
media

Nilai-nilai kebajikan adalah sifat-sifat positif manusia yang merupakan tujuan mulia yang ingin dicapai setiap

individu. Nilai-nilai tersebut bersifat universal, dan lintas bahasa, suku bangsa, agama maupun latar belakang.

Setiap perilaku/perbuatan memiliki suatu tujuan. (Dr. William Glasser pada Teori Kontrol, 1984)

Dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun,

sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan. (Diane

Gossen, 1998)

Nilai-nilai kebajikan yang ingin dicapai oleh setiap anak Indonesia kita kenal dengan Profil Pelajar Pancasila.

-Beriman, Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia.

-Mandiri

-Bernalar Kritis

-Berkebinekaan Global

-Bergotong royong

-Kreatif

Nilai-Nilai Kebajikan Universal

10

media

Motivasi Internal
(Tujuan Disiplin Positif)

3. Untuk menghargai diri sendiri
Saya akan menjadi orang yang seperti apa bila saya

melakukannya?

Teori Motivasi Perilaku Manusia

Motivasi Eksternal

2. Untuk mendapatkan imbalan dari orang lain/institusi

Apa yang akan saya dapatkan apabila saya
melakukannya?

Motivasi Eksternal

1.

Untuk menghindari ketidaknyamanan/hukuman

Apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya?

11

media

Dihukum oleh Penghargaan

Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka
Panjang

Penghargaan menghukum

Penghargaan mengurangi ketepatan

Penghargaan tidak efektif

Penghargaan merusak hubungan

Bahwa penghargaan berlaku ‘sama’ dengan hukuman, dalam arti meminta atau membujuk seseorang melakukan
sesuatu untuk memenuhi suatu tujuan tertentu dari orang yang meminta/membujuk. Dorongannya eksternal dan akan
ada faktor ketergantungan. Beberapa dampak dari pemberian penghargaan (Alfie Kohn, 1993).

12

media

DIHUKUM OLEH PENGHARGAAN

Penghargaan menurunkan kualitas

Penghargaan mematikan
kreatifitas

Penghargaan mengurangi
motivasi intrinsik

13

media

Bentuk Program Kebajikan (Apresiasi)

Dalam memberikan apresiasi (pengakuan) perlu diingat
beberapa hal:

Beri pengakuan secara khusus.
Beri pengakuan secara pribadi.
Beri pengakuan kepada semua murid (bergantian).
Beri pengakuan secara konsisten.
Fokus pada proses.

14

media

Contoh Pengakuan/Apresiasi Kebajikan

Pembuka

Nilai Kebajikan

Situasi

Kemarin saya perhatikan

rasa empatimu besar sekali

pada saat menolong murid baru di
kelas kita.

Saya menghargai

kepedulianmu

pada saat kamu membantu
teman-temanmu di tugas kelompok.

Terima kasih untuk

rasa tanggung jawabmu

pada saat kamu memungut
kertas-kertas yang berserakan di
lantai.

15

media

TINDAKAN GURU

HUKUMAN ATAU

KONSEKUENSI

Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, “Saya tidak akan terlambat lagi”,
karena terlambat ke sekolah.

Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di sekolah.

Murid diminta untuk ‘push up’ 15 kali karena tidak menggunakan masker ke
sekolah.

Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret-coret.

Membersihkan tumpahan air di meja tulis karena tersenggol pada saat belajar.

Murid disuruh untuk mengenakan sepatu seharian di sekolah, karena tidak
mengenakan sepatu hitam.

Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat 10 menit untuk
pelajaran PJOK.

Tugas Perbedaan Hukuman dan Konsekuensi

16

media

TINDAKAN GURU

HUKUMAN ATAU

KONSEKUENSI

Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, “Saya tidak akan terlambat
lagi”, karena terlambat ke sekolah.

Hukuman

Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di
sekolah.

Hukuman

Murid diminta untuk ‘push up’ 15 kali karena tidak menggunakan
masker ke sekolah.

Hukuman

Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret-coret.

Konsekuensi

Membersihkan tumpahan air di meja tulis karena tersenggol pada saat
belajar.

Konsekuensi

Murid disuruh untuk tidak mengenakan sepatu seharian di sekolah,
karena tidak mengenakan sepatu hitam.

Hukuman

Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat 10 menit
untuk pelajaran PJOK.

Konsekuensi

17

media

Perbedaan Hukuman dan Konsekuensi

Hukuman

Konsekuensi

Sesuatu yang menyakitkan harus terjadi

Sesuatu harus terjadi

Membuat anak sakit (fisik maupun hati) untuk jangka

waktu lama

Membuat anak merasa tidak nyaman dalam

jangka waktu pendek

Anak membenci kedisiplinan

Anak menghargai disiplin

Paksaan

Stimulus-tanggapan

Mendorong anak menyakiti diri sendiri

Mendorong anak agar mudah menyesuaikan diri

Konsep diri yang buruk

Konsep diri yang baik

Anak belajar untuk menyembunyikan kesalahan

Anak belajar untuk mematuhi peraturan

Marah, rasa bersalah, dipermalukan, merasa tak

dihargai

Kehilangan hak, dibuat tidak nyaman, diasingkan

untuk sementara (time out)

Disadur dari Restitution, Diane Gossen, The Five Positions of Control, Yayasan Pendidikan Luhur

18

media

Apa itu ‘Restitusi’?

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk
memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali
pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat.
Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan
murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan
membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang
mereka ingin menjadi (tujuan mulia), dan bagaimana mereka
harus memperlakukan orang lain(Gossen; 2004)

19

media
media

20

media

9 Ciri-ciri Restitusi

1. Bukan untuk menebus kesalahan, namun untuk belajar dari

kesalahan.

2. Memperbaiki hubungan.
3. Tawaran, bukan paksaan.
4. Restitusi menuntun untuk melihat ke dalam diri.
5. Restitusi mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan.
6. Restitusi-diri adalah cara yang paling baik.
7. Restitusi fokus pada karakter bukan tindakan.
8. Restitusi fokus pada solusi.
9. Restitusi mengembalikan murid yang berbuat salah pada

kelompoknya.

21

media
media

Mengapa tidak peraturan saja, mengapa harus Keyakinan
Kelas?

Mengapa kita memiliki peraturan harus menggunakan helm bila
mengendarai kendaraan roda dua?

Mengapa kita memiliki peraturan 3M, menggunakan masker, mencuci
tangan dan menjaga jarak 1.5 meter?

Mengapa kita memiliki peraturan harus datang tepat waktu pada saat
mengikuti pelatihan?

Untuk mendukung motivasi intrinsik, kembali ke nilai-nilai/keyakinan-keyakinan
lebih menggerakkan seseorang dibandingkan mengikuti serangkaian
peraturan-peraturan.

22

media

Budaya Positif

Lingkungan Positif

Keyakinan Kelas

Peraturan Kelas

23

media
media
media

Yang mana yang merupakan keyakinan kelas, mengapa?

24

media
media
media

Kegiatan Pendalaman Keyakinan Kelas - Tabel T & Y

Hormat

25

media
media

Peraturan

Keyakinan kelas

Selalu kembalikan buku ke tempatnya

Dilarang Mengganggu Orang Lain

Hadir di sekolah 15 menit sebelum
pembelajaran dimulai

Dilarang Melakukan Kekerasan

Dilarang Menggunakan Narkoba

Bergantian atau menunggu giliran

Gunakan masker

Jangan berlari di kelas atau koridor

26

media
media

Peraturan

Keyakinan kelas

Selalu kembalikan buku ke tempatnya

Tanggung jawab

Dilarang Mengganggu Orang Lain

Menghormati Orang Lain

Hadir di sekolah 15 menit sebelum
pembelajaran dimulai

Menghormati Orang Lain, Berkomitmen

Dilarang Melakukan Kekerasan

Keselamatan, Menghormati Orang Lain.

Dilarang Menggunakan Narkoba

Kesehatan

Bergantian atau menunggu giliran

Menghormati orang lain, Bersabar

Gunakan masker

Kesehatan, Keselamatan

Jangan berlari di kelas atau koridor

Keselamatan, Keamanan

27

media
media

Kebutuhan Dasar Manusia

Penguasaan

Kasih Sayang dan
Rasa Diterima

Kebebasan

Kesenangan

Bertahan

Hidup

28

media

5 POSISI KONTROL

MOTIVASI:

IDENTITAS GAGAL
(Kontrol dari Luar)

IDENTITAS BERHASIL/SUKSES

(Kontrol dari Luar)

IDENTITAS BERHASIL/SUKSES

(Kontrol Diri)

Menghindari Hukuman

Mengharapkan Imbalan atau

Ketergantungan pada Orang Lain

Menghargai Diri Sendiri

PENGHUKUM

PEMBUAT RASA

BERSALAH

TEMAN

PEMANTAU

MANAJER

Guru Berbuat:

Menghardik

Menunjuk-nunjuk

Menyakiti
Menyindir

Berceramah dan

mengatakan,
“Seharusnya…”
“Ibu kecewa…”

Membuatkan alasan-alasan

untuk muridnya.

Menghitung dan mengukur

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan

Guru Berkata:

“Kalau kamu tidak

melakukannya, awas ya!

Rasakan!”

“Kamu seharusnya

kamu sudah tahu. Ibu

lelah sekali

mengatakannya. Ibu

stress…”

“Ayolah, lakukan demi

Ibu…”

“Masa kamu tidak mau,
ingat tidak Ibu pernah

bantu…”

“Apa peraturannya?”

“Apa yang kita yakini?

Apa yang bisa kau kerjakan untuk

memperbaiki masalah ini?”

Hasil:

Memberontak

Menyalahkan orang lain

Berbohong

Menyembunyikan

Menyangkal
Berbohong

Ketergantungan

Menyesuaikan diri, bila

diawasi

Menguatkan pribadi

Kaitan dengan

Dunia

Berkualitas

Murid meletakkan guru di

luar Dunia Berkualitas

Murid meletakkan

guru di dalam Dunia

Berkualitas

Murid meletakkan guru di

sebagai orang yang

sangat penting di Dunia

Berkualitas

Murid meletakkan guru
peraturan dan hukum di

dunia Berkualitas

Murid meletakkan dirinya sebagai
individu yang positif dalam Dunia
Berkualitas

Murid Berkata:

“Ah, biarkan saja. Nanti
juga marah-marah lagi.”

“Maafkan saya.”

“Saya pikir Bapak/Ibu teman

saya. Ternyata begitu.”

“Berapa banyak bintang

yang saya harus peroleh?”

“Berapa halaman yang

harus saya tulis?”

“Bagaimana caranya saya bisa

memperbaiki keadaan?”

Dampak pada

Murid:

Mengulangi kesalahan

Merasa rendah diri

Lemah, tidak mandiri,

tergantung

Menitikberatkan pada

sanksi atau hadiah untuk

dirinya.

Mengevaluasi diri, bagaimana cara

memperbaiki diri?

29

media

Tugas

Pernyataan-pernyataan

Siapa yang Mengatakan?

“Saya kecewa sekali dengan kamu…”

Pembuat orang merasa bersalah

“Kamu tidak pernah benar
melakukannya….”

Penghukum

“Ayolah, lakukan demi Ibu/Bapak…”

Teman

“Apakah kamu mau mendapatkan stiker
bintang hari ini?”

Pemantau

“Bagaimana kamu bisa menyelesaikan
masalah ini?”

Manajer

“Kamu selalu yang paling terakhir…”

Penghukum

30

media

Bergerak antara

Peraturan

Pemantau

Konsekuensi/Hadiah

Nilai-nilai

Manajer

Memperbaikinya

Kalau kamu tidak……
Saya akan _______________

(Diberi hukuman untuk membuat tidak nyaman)

Apa yang kamu yakini? Bagaimana memperbaiki masalah ini?
_______________

(Memperbaikinya. Kiat berdua mendapatkan apa yang kita
butuhkan )

31

media
media

32

media

Guru Berkata:
Berbuat salah itu hal yang manusiawi
Tidak ada manusia yang sempurna
Bapak/Ibu juga buat salah
Kita pasti bisa menyelesaikan permasalahan ini
Bapak/Ibu tidak tertarik untuk mencari tahu siapa yang benar,
siapa yang salah, Bapak/Ibu lebih tertarik untuk
menyelesaikan masalah.
Kalau kamu menyalahkan dirimu sendiri terus menerus,
apakah kamu bersikap baik pada dirimu sendiri?

Untuk membuat anak yang merasa
gagal karena berbuat salah menjadi
positif terhadap dirinya

Menstabilkan Identitas

33

media

Validasi Kebutuhan

Guru Berkata:

• Kamu bisa saja kan melakukan hal yang lebih buruk, tapi kamu tidak melakukannya kan?
• Kamu pasti punya alasan mengapa melakukannya.
• Apa yang penting bagi kamu?
• Kamu boleh tetap berusaha menjaga sikap itu, tapi tambahkan sikap yang lain, yang

baru.

• Maukah kamu belajar cara lain untuk mendapat yang kamu butuhkan tanpa harus

memukul?

• Apakah kamu bisa melakukan dengan lebih baik besok lagi?

Membantu murid mengenali basic
need/kebutuhan dasar yang ingin dipenuhinya
ketika melakukan kesalahan itu.

Pada dasarnya setiap tindakan manusia
tujuannya adalah memenuhi kebutuhan dasar,
apakah itu penguasaan, kebebasan, kasih
sayang dan rasa diterima, kesenangan, atau
bertahan hidup….

34

media

Menanyakan Keyakinan

Guru Berkata:

Apa nilai yang kita percaya di kelas/sekolah kita?
Nilai-nilai universal apa yang telah kita sepakati?
Kelas yang ideal itu seperti apa sih?
Kamu ingin jadi anak seperti apa?,..
Apa yang kamu rasakan? Ketika kamu melakukan itu,
kamu menjadi orang yang seperti apa?

Anak melihat kesalahannya dihubungkan
dengan norma sosial dan nilai-nilai yang
mendasari manusia berinteraksi dengan
orang lain.

media

35

media

Intervensi 30 detik

Intervensi ini bisa membantu murid kembali ke tujuan semula, dengan cukup singkat dan dengan cara non-konfrontatif.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan biasanya dikemukakan oleh seorang Pemantau dan Manajer.

Apakah kamu ingin berbuat lebih baik?

Apakah saat ini kamu sedang menjadi orang yang sedang kamu inginkan?

Apakah kamu bisa mengubah kegiatan/perilaku kamu saat ini menjadi sikap yang lebih
membantu?

Apakah wajar membuat kesalahan? Bisakah kita memperbaikinya?

Apa yang kamu lakukan saat ini sesuai (ok)?

Kapan kamu siap untuk mulai?

Peraturannya apa?

Sepertinya kamu punya masalah, saya bisa bantu apa?

Saat ini kamu seharusnya berbuat apa?

Apa yang bisa saya bantu agar kamu bisa melakukannya?

Apakah saya bisa bantu kamu agar dapat segera mulai?

Apakah tugas kamu saat ini?

Bagaimana kamu ingin diperlakukan pada kegiatan ini? Bisakah kamu melakukannya?

Apa yang kamu inginkan, peraturannya apa?

36

media

Terima Kasih

media
media
media

Teori Kontrol/Pilihan

Keyakinan Kelas

Segitiga Restitusi

Perubahan Paradigma

Aksi Nyata Modul 1.4

Budaya positif

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

PUTRA YUDHA SANTOKO
Oleh

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 36

SLIDE