Search Header Logo
KEANEKARAGAMAN HAYATI

KEANEKARAGAMAN HAYATI

Assessment

Presentation

Biology

10th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Wici Sura'

Used 3+ times

FREE Resource

64 Slides • 0 Questions

1

media

IPA Biologi

UNTUK SMA/MA KELAS X

Bab 1

Keanekaragaman Hayati

2

media

Pendahuluan

Keanekaragaman hayati yang terdapat di tiap
wilayah berbeda-beda. Bandingkan
keanekaragaman hayati pada kedua ekosistem
tersebut.
Tuliskan beberapa pertanyaan dan diskusikan
dengan temanmu untuk memprediksi jawaban
permasalahan tersebut.

3

media

C

E

Daftar Isi
Keanekaragaman
Hayati Indonesia

Klasifikasi
Makhluk
Hidup

Menghilangnya
Keanekaragaman
Hayati

Usaha Pelestarian
Keanekaragaman
Hayati

A

Tingkat
Keanekaragaman
Hayati

D

F

Tipe
Ekosistem

B

4

media

Tingkat Keanekaragaman HayatiA

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah variasi organisme hidup pada
tiga tingkatan, yaitu tingkat gen, spesies, dan ekosistem.
Berdasarkan pengertiannya, keanekaragaman hayati dapat dibedakan menjadi
tiga macam, yaitu keanekaragaman gen (genetik), keanekaragaman spesies
(jenis), dan keanekaragaman ekosistem.

5

media

Keanekaragaman Gen

Keanekaragaman gen adalah perbedaan atau variasi gen yang terjadi dalam suatu spesies
makhluk hidup. Keanekaragaman gen pada organisme dalam satu spesies disebut
varietas/ras.
Contohnya adalah varietas buah mangga (Mangifera indica), misalnya mangga gedong gincu
(a), mangga apel (b), mangga gadung (c), dan mangga indramayu (d).
Keanekaragaman sifat genetik pada suatu organisme dikendalikan oleh gen. Namun,
ekspresi gen suatu organisme juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat hidupnya.

a

c

b

d

1

6

media

Keanekaragaman jenis (spesies) adalah perbedaan yang dapat ditemukan pada suatu
komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup di suatu tempat.
Ada beberapa jenis organisme yang memiliki ciri-ciri fisik yang hampir sama. Misalnya,
hewan dari kelompok genus Panthera terdiri atas beberapa spesies, antara lain harimau
(Panthera tigris) (a), singa (Panthera leo) (b), macan tutul (Panthera pardus) (c), dan jaguar
(Panthera onca) (d).

a

c

b

d

Keanekaragaman Jenis (Spesies)

2

7

media

Ekosistem terbentuk karena berbagai kelompok spesies menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Satu spesies dengan spesies lainnya saling memengaruhi. Interaksi juga
terjadi antara spesies dengan lingkungan abiotik tempat hidupnya.

Ekosistem alami, misalnya hutan, rawa,

mangrove, sungai, dan padang rumput.

Memiliki keanekaragaman spesies lebih

tinggi, tetapi keanekaragaman genetik
lebih rendah dibandingkan ekosistem
buatan.

Ekosistem buatan, misalnya agroekosistem

dalam bentuk sawah, ladang, dan kebun.

Memiliki keanekaragaman spesies lebih

rendah, tetapi keanekaragaman genetik
yang lebih tinggi dibandingkan ekosistem
alami.

Ekosistem alami

Ekosistem buatan

Keanekaragaman Ekosistem

3

8

media

Tipe Ekosistem
B

9

media

Ekosistem Perairan (Akuatik)

Plankton
Neuston

Nekton

Perifiton

Bentos

1

10

media

Hutan Hujan Tropis

1)Terdapat di wilayah khatulistiwa

2)Curah hujan sangat tinggi.

3)Matahari bersinar sepanjang tahun dengan suhu
lingkungan 21–30°C.

4)Flora terdiri atas pohon tinggi berkanopi, semak belukar,
herba, tanaman merambat (liana), dan tanaman epifit.

5)Fauna terdiri atas hewan yang dapat terbang dan
memanjat, serta Mammalia.

Ekosistem darat meliputi area yang sangat
luas yang disebut bioma.

Ekosistem Darat

2

11

media

Sabana

1) Terdapat di daerah tropis.
2) Curah hujan 90–150 cm/tahun.
3) Dibedakan menjadi sabana murni dan sabana campuran.
4) Flora terdiri atas rumput, gebang, Eucalyptus, dan Acacia.
5) Fauna terdiri atas serangga dan berbagai jenis Mammalia.

Ekosistem Darat

2

12

media

Padang Rumput

1) Terdapat di daerah tropis hingga beriklim sedang.
2) Curah hujan 25–50 cm/tahun.
3) Daerah bercurah hujan tinggi ditumbuhi oleh rumput

berukuran tinggi dan subur, sedangkan daerah bercurah
hujan rendah ditumbuhi oleh rumput yang pendek.

4) Fauna terdiri atas serangga, hewan pengerat, reptil,

burung, dan berbagai jenis Mammalia.

Ekosistem Darat

2

13

media

Gurun

1) Suhu lingkungan ekstrim (siang hari mencapai 60°C,

sedangkan malam hari mencapai 0°C).

2) Curah hujan sangat rendah (kurang dari 25 cm/tahun).
3) Dibedakan menjadi sabana murni dan sabana campuran.
4) Flora terdiri atas tumbuhan xerofit (seperti kaktus),

kurma, dan semak belukar.

5) Fauna terdiri atas semut, kalajengking, kadal, ular, tikus,

burung, dan unta.

Ekosistem Darat

2

14

media

Hutan Gugur

1) Terdapat di daerah yang memiliki empat musim.
2) Curah hujan antara 75–100 cm/tahun.
3) Tumbuhan hutan gugur seperti elm, beech, oak, dan maple.
4) Pada musim dingin, beberapa hewan mengalami

hibernasi, menyimpan makanan, membentuk lemak di
bawah kulit, maupun melakukan migrasi ke daerah yang
lebih hangat.

Ekosistem Darat

2

15

media

16

media

Taiga

1) Terdapat di daerah antara subtropis dan kutub.
2) Curah hujan antara 75–100 cm/tahun.
3) Tumbuhan dominan berdaun jarum (konifer).
4) Fauna terdiri atas moose, ajak, beruang hitam, lynx,

serigala, serangga, dan burung.

Ekosistem Darat

2

17

media

Tundra

Bioma tundra dibedakan menjadi tundra arktik (a)
dan tundra alpin (b).
1) Tundra arktik terdapat di daerah kutub utara

dan sekitarnya. Vegetasi yang dominan di
bioma ini adalah lumut Sphagnum, liken
“reindeer”, serta pohon willow dan birch.
Hewan-hewan yang hidup di bioma tundra,
antara lain caribou, muskox, rubah, dan
burung ptarmigan.

2) Tundra alpin terdapat di puncak pegunungan

yang tinggi. Vegetasi didominasi oleh rumput
alang-alang, perdu, lumut daun, dan liken.

Ekosistem Darat

2

18

media

Indonesia merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia, dengan berbagai
keadaan alam yang berbeda dan
kekhususan kehidupan di dalamnya. Hal
inilah yang menyebabkan Indonesia
memiliki keanekaragaman flora, fauna,
dan mikroorganisme yang tinggi.

C

Keanekaragaman
Hayati Indonesia

19

media

Kekayaan Flora, Fauna, dan
Mikroorganisme di Indonesia

Indonesia merupakan negara megabiodiversitas.
Indonesia hanya memiliki 1,3% dari total luas daratan di dunia,
tetapi memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi.
Indonesia memiliki sejumlah spesies endemik tertinggi di dunia.
Spesies endemik terbanyak terdapat di Sulawesi, Papua, dan
Kepulauan Mentawai di pantai barat Sumatera.
Keanekaragaman hayati tertinggi terdapat di Papua, kemudian
Sumatra, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Maluku.
Contoh hewan endemik Indonesia, yaitu Leucopsar rothschildi (burung
jalak bali) dan Macrocephalon maleo (burung maleo).

Leucopsar rothschildi
(burung jalak bali)

Macrocephalon maleo

(burung maleo)

1

20

media

Penyebaran Flora Indonesia

Flora Indonesia termasuk flora
kawasan Malesiana.

1) Flora dataran Sunda, antara lain tumbuhan dari Famili Dipterocarpaceae dan

tumbuhan Famili Nepenthaceae.

2) Flora dataran Sahul, antara lain sagu (Metroxylon sagu) dan tumbuhan dari

Famili Myristicaceae.

3) Flora kawasan Wallacea, antara lain leda (Eucalyptus deglupta) yang memiliki

batang berwarna-warni.

Penyebaran Keanekaragaman Hayati di Indonesia

2

21

media

Franz Wilhelm Junghuhn, mengklasifikasikan iklim di Pulau Jawa
secara vertikal. Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut,
flora Indonesia dibagi menjadi beberapa kelompok berikut.

1) Daerah dengan ketinggian 0–650 m ditumbuhi jenis tanaman

seperti pandan, bakau, dan kapuk (Ceiba pentandra) (a).

2) Daerah dengan ketinggian 650–1.500 m ditumbuhi oleh

tanaman kina, aren, dan rasamala (Altingia excelsa) (b).

3) Daerah dengan ketinggian 1.500–2.500 m ditumbuhi

tanaman cemara gunung dan berri.

4) Daerah dengan ketinggian di atas 2.500 m ditumbuhi oleh

tanaman seperti lumut, liken, dan bunga edelweiss.

a

Ceiba pentandra

(kapuk)

b

Altingia excelsa

(rasamala)

Penyebaran Flora Indonesia

22

media

Kawasan penyebaran fauna Indonesia dipisahkan oleh garis Wallace, Weber, dan Lydekker.

Kawasan Indonesia bagian barat dibatasi oleh garis
imajiner Wallace yang terletak di antara Kalimantan dan
Sulawesi serta antara Bali dan Lombok.

Jenis fauna kawasan Indonesia bagian barat, antara lain
harimau, macan tutul (Panthera pardus) (a), gajah (Elephas
maximus) (b), badak jawa, banteng, orang utan, beruang
madu, merak hijau, dan burung jalak bali.

1) Kawasan Indonesia bagian barat

a

b

Penyebaran Fauna Indonesia

23

media

Kawasan peralihan meliputi Sulawesi, Maluku,
Sumbawa, Sumba, Lombok, dan Timor. Kawasan
peralihan ini dibatasi oleh garis Wallace di sebelah
barat dan garis Lydekker di sebelah timur.

Pada kawasan ini, terdapat peluang percampuran
antara unsur fauna oriental dan fauna australis.

Jenis fauna kawasan peralihan, antara lain anoa
pegunungan, anoa dataran rendah (Bubalus
depressicornis) (a), komodo (Varanus komodoensis) (b),
babi rusa, maleo, duyung, kuskus beruang, burung
rangkong, dan kupu-kupu Sulawesi.

a

b

2) Kawasan Peralihan

24

media

Kawasan Indonesia timur dibatasi oleh garis

Lydekker yang meliputi Papua dan pulau-pulau
di sekitarnya.

Jenis fauna kawasan Indonesia bagian timur,

antara lain kanguru pohon, walabi kecil
(Dorcopsulus vanheurni) (a), burung kakatua raja
(Probosciger aterrimus) (b), burung kasuari
gelambir ganda, burung cenderawasih ekor pita,
kasturi raja, kupu-kupu sayap burung, ular sanca
hijau, dan buaya Irian.

a

b

2) Kawasan Indonesia bagian timur

25

media

Fungsi dan Manfaat Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Makanan pokok penduduk Indonesia adalah beras (padi),

jagung, singkong, ubi jalar, talas, ataupun sagu.

Diperkirakan terdapat sekitar 400 jenis tanaman penghasil

buah, contohnya rambutan (Nephelium lappaceum) (a) dan
manggis (Garcinia mangostana) (b). Selain itu, terdapat sekitar
370 tanaman penghasil sayuran, 70 jenis tanaman berumbi,
dan 55 jenis tanaman penghasil rempah-rempah.

Sumber makanan juga berasal dari beragam hewan darat, air

tawar, dan air laut.

a

b

3

Keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan

26

media

Beberapa tanaman obat yang berasal dari Indonesia
yaitu sebagai berikut.
Buah merah (Pandanus conoideus) (a) dimanfaatkan

sebagai obat kanker (tumor), kolesterol tinggi, dan
diabetes.

Mengkudu atau pace (Morinda citrifolia) (b) untuk

menurunkan tekanan darah tinggi.

Kina (Cinchona calisaya, Cinchona officinalis) (c), kulitnya

digunakan untuk obat malaria.

Selain tumbuh-tumbuhan, beberapa jenis hewan juga
dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Contohnya,
madu lebah untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

a

b

c

Keanekaragaman hayati sebagai sumber obat-obatan

27

media

Keanekaragaman hayati sebagai sumber kosmetik

Beberapa tumbuhan digunakan untuk kosmetik, antara lain
sebagai berikut.
Bunga mawar, melati (Jasminum grandiflorum) (a), cendana

(Santalum album) (b), kenanga, dan kemuning dimanfaatkan
untuk wewangian (parfum).

Kemuning, bengkuang, alpukat, dan beras digunakan sebagai

lulur tradisional.

Urang aring dan lidah buaya digunakan untuk pelumas dan

penghitam rambut.

b

a

28

media

Keanekaragaman hayati sebagai sumber sandang

Beberapa tanaman digunakan untuk bahan sandang atau
pakaian, yaitu sebagai berikut.
Rami (Boehmeria nivea), kapas (Gossypium arboreum) (a), sisal

(Agave sisalana) (b), kenaf, dan jute dimanfaatkan seratnya
untuk dipintal menjadi kain atau bahan pakaian.

Tanaman labu air dimanfaatkan oleh Suku Dani di lembah

Baliem (Papua) sebagai bahan untuk membuat koteka (horim)
laki-laki. Sementara itu, untuk membuat pakaian wanita,
digunakan tumbuhan wen dan kem.

b

a

Beberapa hewan juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pakaian, yaitu sebagai berikut.
Ulat sutera untuk membuat kain sutera yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi.
Kulit beberapa jenis hewan, seperti sapi dan kambing untuk membuat jaket dan sepatu.
Bulu burung dapat digunakan untuk membuat aksesori pakaian.

29

media

Sebagian besar rumah di Indonesia menggunakan kayu,

terutama rumah adat. Beberapa tumbuhan yang dimanfaatkan
kayunya, antara lain jati, kelapa, nangka, meranti, keruing,
rasamala, ulin, dan bambu.

Di Pulau Timor dan Alor, daun lontar dan gebang digunakan

untuk membuat atap dan dinding rumah. Di Pulau Timor,
alang-alang dimanfaatkan untuk membuat atap rumah.

Beberapa jenis tumbuhan palem (Nypa fruticans, Oncosperma

tigillarium, dan Oncosperma horridum) juga dimanfaatkan untuk
membuat rumah di Sumatra dan Kalimantan.

Borassus flabellifer

(daun lontar)

Keanekaragaman hayati sebagai sumber papan

30

media

Budaya nyekar pada masyarakat Jawa menggunakan bunga

mawar, kenanga, kantil, dan melati.

Upacara kematian di Toraja menggunakan berbagai jenis

tumbuhan misalnya limau, daun kelapa, pisang, dan rempah-
rempah.

Upacara Ngaben di Bali menggunakan 39 jenis tumbuhan yang

mengandung minyak atsiri yang berbau harum.

Tebu hitam dan kelapa gading juga digunakan untuk

menghanyutkan abu jenazah ke sungai.

Umat Islam menggunakan hewan ternak pada hari raya Qurban.
Umat Nasrani menggunakan pohon cemara saat perayaan natal.

Jasminum grandiflorum

(bunga melati)

Keanekaragaman hayati sebagai aspek budaya

31

media

Plasma nutfah (sumber daya genetik) adalah bagian tubuh tumbuhan, hewan, atau

mikroorganisme yang mempunyai fungsi dan kemampuan mewariskan sifat.

Setiap organisme yang masih liar di alam maupun yang sudah dibudidayakan

manusia mengandung plasma nutfah.

Plasma nutfah berguna untuk merakit varietas unggul pada suatu spesies,

misalnya spesies yang tahan terhadap suatu penyakit atau memiliki produktivitas
tinggi.

Plasma nutfah akan mempertahankan mutu sifat dari suatu organisme dari

generasi ke generasi berikutnya, misalnya padi Rojolele akan mewariskan sifat
pulen dan rasa enak serta ubi jalar Cilembu dan buah duku Palembang akan
mewariskan sifat rasa manis.

Keanekaragaman plasma nutfah dapat tetap terjaga melalui pelestarian semua

jenis organisme.

Keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah

32

media

Menghilangnya
Keanekaragaman

Hayati

D

33

media

Hilangnya Habitat

Daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) menunjukkan

bahwa hilangnya habitat yang diakibatkan manajemen pertanian dan hutan yang
tidak berkelanjutan menjadi penyebab terbesar hilangnya keanekaragaman hayati.

Bertambahnya jumlah penduduk, menyebabkan semakin bertambah pula

kebutuhan yang harus dipenuhi.

Lahan yang tersedia untuk kehidupan tumbuhan dan hewan semakin sempit karena

digunakan untuk tempat tinggal penduduk, dibabat untuk digunakan sebagai lahan
pertanian, atau dijadikan lahan industri.

1

34

media

Zat pencemar (polutan) dapat mencemari lingkungan dan bersifat toksik bagi

beberapa organisme.

Nitrogen oksida dan sulfur oksida dari kendaraan bermotor jika bereaksi dengan air

akan membentuk hujan asam yang merusak ekosistem.

Penggunaan chlorofluorocarbon (CFC) yang berlebihan menyebabkan lapisan ozon

di atmosfer berlubang. Intensitas sinar ultraviolet yang masuk ke bumi meningkat
dan menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan organisme.

Pencemaran Tanah, Udara, dan Air

2

35

media

Perubahan Iklim

Salah satu penyebab perubahan iklim adalah pencemaran udara oleh gas karbon

dioksida (CO2) yang menimbulkan efek rumah kaca.

Menurut Raven (1995), efek rumah kaca meningkatkan suhu udara 1–3°C dalam kurun

waktu 100 tahun.

Kenaikan suhu tersebut menyebabkan pencairan es di kutub dan kenaikan permukaan

air laut sekitar 1–2 m yang berakibat terjadinya perubahan struktur dan fungsi
ekosistem lautan.

3

36

media

Eksploitasi Tanaman dan Hewan

Eksploitasi hewan dan tumbuhan secara besar-

besaran biasanya dilakukan terhadap komoditas
yang memiliki nilai ekonomi tinggi, misalnya kayu
hutan untuk bahan bangunan dan ikan tuna sirip
kuning untuk pecinta makanan laut.

Eksploitasi yang berlebihan dapat menyebabkan

kepunahan spesies-spesies tertentu, apalagi jika
tidak diimbangi dengan usaha
pengembangbiakannya.

Penebangan hutan

secara liar

4

37

media

Adanya Spesies Pendatang

Masuknya spesies dari luar ke suatu daerah seringkali

mendesak spesies lokal yang sebenarnya merupakan
spesies penting dan langka di daerah tersebut.

Beberapa spesies asing tersebut dapat menjadi spesies

invasif yang menguasai ekosistem.

Contohnya, ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis)

yang merupakan spesies endemik Danau Ayamaru,
Papua Barat. Ikan pelangi terancam punah karena
dimangsa oleh ikan mas (Cyprinus carpio) yang menjadi
spesies invasif di danau tersebut.

Melanotaenia ayamaruensis

(ikan pelangi)

5

38

media

Industrialisasi Pertanian dan Hutan

Para petani cenderung menanam tumbuhan atau memelihara hewan

yang bersifat unggul dan menguntungkan, sedangkan tumbuhan dan
hewan yang kurang unggul dan kurang menguntungkan akan
disingkirkan.

Selain itu, suatu lahan pertanian atau hutan industri umumnya

hanya ditanami satu jenis tanaman (monokultur), misalnya teh, karet,
dan kopi.

Kedua hal tersebut dapat menyebabkan menurunnya

keanekaragaman hayati tingkat spesies.

6

39

media

Usaha Pelestarian
Keanekaragaman

Hayati

E

40

media

Menjamin kelestarian fungsi ekosistem sebagai penyangga kehidupan.
Mencegah kepunahan spesies yang disebabkan oleh kerusakan habitat dan

pemanfaatan yang tidak terkendali.

Menyediakan sumber plasma nutfah untuk mendukung pengembangan dan

budidaya kultivar-kultivar tanaman pangan, obat-obatan, maupun hewan ternak.

Konservasi keanekaragaman hayati dapat dilakukan secara in situ maupun ex situ.
Konservasi in situ dilakukan di dalam habitat aslinya, misalnya mendirikan cagar
alam, taman nasional, suaka margasatwa, taman hutan raya, dan taman laut.
Sementara itu, konservasi ex situ dilakukan di luar habitat aslinya, seperti
mendirikan kebun raya, taman safari, kebun koleksi, atau kebun binatang.

Tujuan pelestarian/konservasi keanekaragaman hayati

41

media

Klasifikasi
Makhluk Hidup

Klasifikasi makhluk hidup adalah
pengelompokan makhluk hidup
berdasarkan ciri-ciri tertentu. Cabang ilmu
biologi yang mempelajari klasifikasi
makhluk hidup disebut taksonomi.

F

42

media

Dasar-Dasar Klasifikasi

Klasifikasi sistem alamiah adalah
klasifikasi untuk membentuk takson-
takson yang sesuai kehendak alam.
Organisme di bumi dibagi menjadi dua
kingdom, yaitu hewan dan tumbuhan.
hewan dikelompokkan berdasarkan
persamaan habitat dan perilakunya,
sedangkan tumbuhan dikelompokkan
berdasarkan ukuran dan strukturnya.

1

Klasifikasi Sistem Alamiah

Klasifikasi sistem artifisial adalah
klasifikasi untuk tujuan praktis, misalnya
berdasarkan kegunaannya. Berdasarkan
kegunaannya, tumbuhan dikelompokkan
menjadi tanaman obat, tanaman hias,
tanaman makanan pokok, tanaman
sayuran, tanaman sandang, dan
sebagainya.

Klasifikasi Sistem Artifisial (Buatan)

43

media

Pada sistem filogenetik, klasifikasi
didasarkan pada hubungan kekerabatan
antarorganisme, dengan melihat
kesamaan ciri morfologi, struktur
anatomi, fisiologi, dan etologi (perilaku
hewan).
Hubungan kekerabatan antarorganisme
tersebut digambarkan sebagai pohon
filogenetik.

Klasifikasi Sistem Filogenetik

Klasifikasi sistem modern dibuat
berdasarkan hubungan kekerabatan
organisme (filogenetik), ciri-ciri gen atau
kromosom, serta ciri-ciri biokimia.

Klasifikasi Sistem Modern

Dasar-Dasar Klasifikasi

1

44

media

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

Tingkatan takson adalah tingkatan unit atau kelompok makhluk
hidup yang disusun mulai dari tingkat tertinggi hingga tingkat
terendah.

Semakin tinggi tingkatan takson, semakin banyak anggota takson,
dan semakin banyak pula perbedaan ciri antaranggota takson.

Sebaliknya, semakin rendah tingkatan takson, semakin sedikit
anggota takson, dan semakin banyak pula persamaan ciri
antaranggota takson.

2

45

media

Kingdom merupakan tingkatan takson
tertinggi dengan jumlah anggota takson
terbesar. Organisme di bumi
dikelompokkan menjadi beberapa
kingdom, yaitu Animalia, Plantae, Fungi
(jamur), Monera (Archaebacteria dan
Eubacteria), dan Protista.

a. Kingdom (Kerajaan)
atau Regnum (Dunia)

Filum digunakan untuk takson hewan,
sedangkan divisi digunakan untuk
takson tumbuhan.

Kingdom Animalia dibagi menjadi
beberapa filum, yaitu Chordata,
Echinodermata, dan Platyhelminthes.

Kingdom Plantae dibagi menjadi tiga
divisi, antara lain Bryophyta,
Pteridophyta, dan Spermatophyta.

b. Phylum (Filum)
atau Divisio (Divisi)

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

2

46

media

Nama kelas tumbuhan
menggunakan akhiran -
edoneae (untuk
tumbuhan berbiji
tertutup), -opsida (untuk
lumut), -phyceae (untuk
alga), dan lain-lain.

c. Classis (Kelas)

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

2

Nama ordo pada
tumbuhan biasanya
menggunakan
akhiran –ales.

d. Ordo (Bangsa)

Nama famili pada tumbuhan
biasanya menggunakan
akhiran -aceae, tetapi ada
pula yang tidak. Sementara
itu, nama famili pada hewan
menggunakan akhiran kata -
idae.

e. Familia (Famili/Suku)

47

media

Kaidah penulisan
nama genus, yaitu
huruf besar pada kata
pertama dan dicetak
miring atau
digarisbawahi.
Contohnya, famili
Poaceae terdiri atas
genus Zea, Saccharum,
Triticum, dan Oryza.

f. Genus (Marga)

Nama spesies terdiri atas dua
kata, di mana kata pertama
menunjukkan nama genusnya
sedangkan kata kedua adalah
nama spesifiknya.
Contohnya, pada genus Rosa
terdapat spesies Rosa
multiflora (a), Rosa canina (b),
Rosa rugosa (c), Rosa alba, Rosa
gigantea, dan Rosa dumalis.

g. Species (Spesies/Jenis)

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

2

a

b

c

48

media

Istilah varietas dan kultivar digunakan dalam spesies
tumbuhan, sedangkan istilah ras digunakan dalam spesies
hewan.

Varietas secara botani adalah populasi tanaman dalam satu
spesies yang menunjukkan perbedaan ciri yang jelas.
Penulisan varietas secara botani didahului dengan singkatan
var, dan nama varietas dicetak miring atau digarisbawahi.
Contohnya, Oryza sativa var indica dan Zea mays L. var tunicata.

h. Varietas (Ras)

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

2

49

media

Varietas secara agronomi (kultivar) adalah sekelompok
tanaman yang memiliki satu atau lebih ciri khas yang dapat
dibedakan secara jelas.

Cara penulisan dengan memberi tanda petik dan tidak dicetak
miring.

Contoh, kultivar pada spesies Rosa alba, terdiri atas Rosa alba
’Mormors rose’ (a), Rosa alba ‘Blush hip’ (b), dan Rosa alba
‘Suaveolens’ (c).

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

2

a

b

c

h. Varietas (Ras)

50

media

Tingkatan Takson dalam Klasifikasi

2

Di antara tingkatan takson yang telah disebutkan di halaman-
halaman sebelumnya, terkadang terdapat tingkatan antara, yang
penulisannya menggunakan nama subtakson.

Contohnya, di bawah filum ada subfilum, di bawah ordo ada subordo,
di bawah famili ada subfamili, dan seterusnya.

Di atas tingkatan takson, terdapat supertakson.

Contohnya, di atas kelas ada superkelas, di atas ordo ada superordo,
di atas famili ada tingkatan superfamili, dan seterusnya.

51

media

Sistem Tata Nama Makhluk Hidup

3

Setiap jenis makhluk hidup diberikan nama ilmiah atau nama Latin.
Sebagian besar nama tersebut bukan istilah asli dalam bahasa Latin,
melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama kali
memberikan deskripsi, lalu dilatinkan.

Orang yang memberikan deskripsi suatu spesies disebut deskriptor. Nama
spesies yang diberikan oleh ahli pada mulanya merupakan deskripsi
lengkap suatu organisme. Namun, dalam perkembangannya, nama
tersebut diubah menjadi nama genus dan spesies yang ringkas dan jelas.

Nama ilmiah berlaku secara universal. Tidak seperti nama lokal di mana
spesies akan disebut berbeda di daerah yang berbeda.

52

media

Sistem Tata Nama Makhluk Hidup

3

Carolus Linnaeus (1735) memperkenalkan sistem pemberian nama
ilmiah untuk setiap jenis spesies yang disebut binomial
nomenklatur, dengan mengikuti kaidah sebagai berikut.
Menggunakan bahasa latin atau bahasa lain yang dilatinkan.

Terdiri atas dua kata, di mana kata pertama merupakan nama
genus, sedangkan kata kedua merupakan nama spesies yang
spesifik.

Huruf pertama pada kata pertama ditulis dengan huruf besar,
huruf selanjutnya ditulis dengan huruf kecil.

Nama genus dan nama spesies dicetak miring atau
digarisbawahi terpisah.

Nama deskriptor dituliskan di belakang nama spesies, dengan
huruf tegak tanpa garis bawah.

Contoh penulisan
nama ilmiah:
Glycine max Merr
atau Glycine max
Merr (kedelai).
Merr adalah nama
deskriptor (E.D.
Merrill).

53

media

Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup

4

Sistem Dua Kingdom

(Aristoteles)

Plantae

Animalia

Sistem Tiga Kingdom

(Ernst Haeckel )

Protista

Plantae

Animalia

Sistem Tiga Kingdom

(Ernst Haeckel )

Monera

Protista

Plantae

Animalia

54

media

Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup

4

Sistem Lima Kingdom

(R. H. Whittaker)

Sistem Enam Kingdom

(Carl Woese)

Archaebacteria

Eubacteria

Monera

Protista

Fungi

Plantae

Animalia

Protista

Fungi

Plantae

Animalia

55

media

Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup

4

Sistem Delapan Kingdom
(Thomas Cavalier-Smith )

Archaebacteria

Eubacteria

Chromista

Fungi

Plantae

Animalia

Archezoa

Protozoa

Sistem Tiga Domain

(Carl Woese dan lain-lain)

Archaea

Eukarya

Bacteria

56

media

Identifikasi Makhluk Hidup

5

Dalam melakukan identifikasi diperlukan hal-hal berikut.
Pengetahuan tentang klasifikasi makhluk hidup.

Buku referensi (pustaka) atau sumber referensi lainnya.

Pedoman atau kunci determinasi.

Gambar organisme yang sudah diketahui dan telah memiliki nama.

Spesimen acuan (berupa organisme yang diawetkan).

Kegiatan identifikasi diawali dengan mengamati ciri-cirinya, membandingkan
organisme tersebut dengan organisme acuan yang sudah diketahui sebelumnya,
kemudian diberikan nama.

57

media

Identifikasi Makhluk Hidup

5

Kunci determinasi adalah petunjuk praktis untuk

mengklasifikasikan organisme ke dalam suatu tingkatan
takson.

Setiap langkah dalam kunci determinasi disusun

berdasarkan ciri-ciri organisme yang merupakan bentuk
alternatif (berlawanan) sehingga disebut kunci dikotom.

Contoh ciri organisme bentuk alternatif, yaitu berbiji

belah dengan berbiji tunggal, batang berkambium
dengan batang tidak berkambium, dan lain-lain.

Kunci Determinasi

58

media

1. A. Tidak bertulang belakang ke nomor (2)

B. Mempunyai ruas-ruas tulang belakang ke nomor (3)

2. A. Tubuh lunak, kaki tidak berbuku-buku (Mollusca)

B. Tubuh tidak lunak, kaki berbuku-buku ke nomor (4)

3. A. Bergerak dengan sirip (Pisces)

B. Bergerak bukan dengan sirip ke nomor (6)

4. A. Bersayap ke nomor (5)

B. Tidak bersayap (Crustacea)

5. A. Bersayap sisik (Lepidoptera)

B. Bersayap lurus (Orthoptera)

a

b

c

Langkah-langkah:

1. Amatilah ciri-ciri hewan yang

tersedia, kemudian cocokkan ciri-
cirinya dengan pernyataan yang
terdapat dalam setiap langkah kunci
determinasi.

2. Tuliskan nomor-nomor urutan yang

tertera di setiap awal pernyataan
yang sesuai hingga mendapatkan
nama kelompok atau takson yang
tertera di akhir pernyataan.

d

Contoh identifikasi spesies dengan kunci determinasi sederhana

59

media

1A. Tidak bertulang belakang (2), lihat pernyataan nomor 2.
2B. Tubuh tidak lunak, kaki berbuku-buku (4), lihat pernyataan nomor 4.
4B. Tidak bersayap (Crustacea)
Oleh karena itu, udang termasuk ke dalam kelompok Crustacea.

a

b

1A. Tidak bertulang belakang (2), lihat pernyataan nomor 2.
2A. Tubuh lunak, kaki tidak berbuku-buku (Mollusca)
Oleh karena itu, cumi-cumi termasuk ke dalam kelompok Mollusca.

Udang

Cumi-cumi

Contoh identifikasi spesies dengan kunci determinasi sederhana

60

media

1A. Tidak bertulang belakang (2), lihat pernyataan nomor 2.
2B. Tubuh tidak lunak, kaki berbuku-buku (4), lihat pernyataan nomor 4.
4A. Bersayap (5), lihat pernyataan nomor 5.
5A. Bersayap sisik (Lepidoptera)
Oleh karena itu, kupu-kupu termasuk ke dalam kelompok Lepidoptera.

1B. Mempunyai ruas-ruas tulang belakang (3), lihat pernyataan nomor 3.

3A. Bergerak dengan sirip (Pisces)

Oleh karena itu, ikan termasuk ke dalam kelompok Pisces.

Kupu-kupu

Ikan

Contoh identifikasi spesies dengan kunci determinasi sederhana

c

d

61

media

Contoh identifikasi spesies dengan kunci determinasi sederhana

a

b

c

d

No.

Nama Hewan

Urutan Nomor Determinasi

Golongan

a.

Udang

1A – 2B – 4B

Crustacea

b.

Cumi-cumi

1A – 2A

Mollusca

c.

Kupu-kupu

1A – 2B – 4A – 5A

Lepidoptera

d.

Ikan

1B – 3A

Pisces

62

media

Glosarium

Cagar alam adalah perlindungan alam baik flora, fauna, dan keindahannya di
suatu areal atau hutan.

Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli, unik, atau
yang telah mengalami degradasi, untuk dilindungi serta dilestarikan, dan
dipergunakan untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.

Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah terdapatnya berbagai macam
variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat, yang terlihat pada berbagai
tingkatan persekutuan makhluk hidup yang meliputi tingkatan ekosistem,
tingkatan jenis (spesies), dan tingkatan genetik.

63

media

Glosarium

Konservasi ex situ adalah usaha pelestarian keanekaragaman hayati yang
dilakukan di luar habitat aslinya.

Konservasi in situ adalah usaha pelestarian keanekaragaman hayati yang
dilakukan di habitat aslinya.

Kunci determinasi adalah petunjuk praktis untuk mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan suatu organisme ke dalam suatu tingkatan takson tertentu.

Tingkatan takson adalah tingkatan unit atau kelompok makhluk hidup yang
disusun mulai dari tingkatan tertinggi hingga tingkatan terendah.

64

media

Selamat
Belajar!

Sumber gambar:

www.shutterstock.com

pixabay.com

media

IPA Biologi

UNTUK SMA/MA KELAS X

Bab 1

Keanekaragaman Hayati

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 64

SLIDE