Search Header Logo
Materi PAI Bab 2

Materi PAI Bab 2

Assessment

Presentation

Religious Studies

11th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

Sugiyono Sugiyono

Used 1+ times

FREE Resource

88 Slides • 0 Questions

1

media

Memenuhi Janji, Syukuri
Nikmat, Jaga Lisan,
Tutup Aib

ِمْيِحَّرلا ِنْٰحَّْرلا ِالله ِمْسِب

Rian Hidayat,

S.Pd.I., M.Pd., Gr

Muslim yang

baik

adalah

muslim

yang

berakhlak

mulia

2

media

3

media

4

media

5

media

6

media

7

media

8

media

9

media

10

media

11

media

12

media

13

media

14

media

15

media

16

media

17

media

18

media

19

media

20

media

21

media

22

media

23

media

24

media

25

media

26

media

27

media

28

media

29

media

30

media

31

media

32

media

33

media

34

media

35

media

36

media

37

media

38

media

39

media

40

media

41

media

42

media

43

media

44

media

45

media

46

media

Kita Mulai Dengan Membaca

47

media

• Peserta didik dapat:
• 1. Menganalisis cabang iman: memenuhi janji, mensyukuri

nikmat, memelihara lisan, menutupi aib orang lain.

• 2. Mempresentasikan tentang memenuhi janji, mensyukuri

nikmat, memelihara lisan, menutupi aib orang lain, sehingga
dapat meyakini bahwa cabang iman tersebut adalah bagian dari
ajaran agama.

• 3. Membiasakan sikap tanggung jawab, memenuhi janji,

mensyukuri nikmat, memelihara lisan, menutupi aib orang lain.

48

media

Pembahasan dalam PPT ini
mencakup:
1.

Memenuhi Janji

2.

Mensyukuri Nikmat

3.

Memelihara Lisan

4.

Menutupi Aib Orang Lain

Kata Kunci: • Syukur Nikmat • Akad • Aib • Fitrah • Akidah • Shuhuf/Shahifah • Syariah • Ghibah •

Akhlak

49

media

Rasulullah Saw. bersabda, ‘’Kalian tak akan masuk surga, sampai kalian beriman dan saling mencintai.
Maukah kalian aku tunjukkan satu amalan, jika dilakukan membuat kalian saling mencintai? Itu adalah

sebarkan salam’’ (HR. Muslim).

Berlandaskan Hadis tersebut, selain iman, syarat masuk surga adalah adanya suasana yang saling mencintai

antarsesama manusia. Saling mencintai baru terasa, apabila salam sudah disebarkan. Bahkan, terhadap
orang yang belum dikenal. Rasulullah juga bersabda, ‘’Berikan salam kepada orang yang kalian kenal, dan

orang yang tidak dikenal.’’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Menyebarkan salam berarti menyebarkan kedamaian. Sebab, kata salam mengandung makna kedamaian,
keselamatan, dan keamanan. Karena itu, orang yang mengucapkan salam, hakikatnya mengucapkan doa

kepada pihak yang diberi salam, agar senantiasa mendapat kedamaian, kasih sayang, dan berkah dari Allah

Swt.

Menebarkan Salam (Kedamaian)

Setiap muslim yang mengucapkan salam, akan diganjar dengan kebaikan (pahala). Setiap ucapan,

‘’Assalamu ‘alaikum.’’ Sabda Rasulullah Saw., ‘’Orang ini mendapat 10 kebaikan.’’ Jika ada yang

mengucapkan, ‘’Assalamu’alaikum wa rahmatullah.’’ Orang ini, mendapat 20 kebaikan.’’ Begitu juga, jika ada
lagi yang mengucapkan, ‘’Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.’’ Orang terakhir ini mendapat 30

kebaikan.’’ (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah).

Jika sehari-hari, kita sudah terbiasa mengucapkan salam, seharusnya tidak ada lagi yang sampai hati berbuat
zalim, menipu, membuka aib orang lain. Sebab, semua perilaku tersebut sangat bertentangan dengan hakikat
salam. Yakni, memberikan kedamaian, ketenteraman dan keselamatan, termasuk memohon keberkahan dari

Allah Swt.

50

media

Dinul Islam terdiri dari 3 pokok (rukun) ajaran, yaitu: Pertama: Akidah. Kedua; Syariah. Ketiga:

Akhlak

Ketiganya (Akidah, Syariah dan Akhlak) harus menyatu dan tidak boleh terpisah. Akidah (Iman)

menghasilkan Syariah (Islam), dan Syariah tidak melupakan Akhlak (Ihsan).

M. Quraish Shihab dalam karyanya ”Mutiara Hati” memaparkan bahwa iman itu
bertingkat-tingkat yang secara berturut-turut dimulai pengetahuan yang disertai
rasa takut, harapan, kekaguman, keyakinan, lalu cinta yang ditandai hubungan

harmonis, dan puncaknya adalah leburnya hati dan pikiran. Iman adalah

ketundukan hati kepada kebenaran, ketulusan lisan dalam pembenaran, dan

patuhnya anggota tubuh dalam kebenaran”.

Hadits ini menjelaskan, bahwa iman itu memiliki 63 cabang (bagian). Di antara cabang iman yang dibahas, sesuai materi ajar
ada 4, yakni: (1) Memenuhi Janji, (2) Mensyukuri Nikmat, (3) Memelihara Lisan, dan (4) Menutupi Aib Orang Lain. Berikut ini,

mari kita kaji bersama tentang keempat cabang iman tersebut:

“Iman itu memiliki 63 cabang, sedangkan malu menjadi bagian dari cabang iman.”

(HR. al-Bukhāri)

Al-Qur’án menggariskan, misalnya yang tersurat dalam Q.S. al-A’rāf/7: 96, Q.S. Ibrahīm/14: 23,

dan Q.S. Yūnus/10: 9, bahwa orang beriman yang dibarengi dengan amal shaleh (sebagai
realisasi Syariah dan Akhlak), dijanjikan kehidupan dunianya penuh dengan kebahagiaan,

keberkahan, kemuliaan, dan di akhirat nanti dimasukkan ke dalam surga.

51

media

Memenuhi
Janji

52

media

Pengertian

Pengertian Memenuhi Janji

Janji

Perjanjian / Ikatan yang kuat

Bahasa Arab

memenuhi janji merupakan kewajiban dan menjadi tanda orang itu beriman atau tidak

ِِۗدْوُقُعْلِبِ اْوُ فْوَا ااْوُ نَمٓا َنْيِذَّلا اَهُّ يَآيٰ

….dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya. (Q.S. al-Isrā’/17: 34).

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji!....” (Q.S. al-Maidah’/05: 01).

53

media

Orang yang selalu menepati janjinya, akan

dipercaya semua orang; selalu dicari

keberadaannya, karena jiwa amanahnya sudah
membekas di hati banyak orang. Jika tidak ada
modal, banyak menyodori untuk membantunya,

dan masih banyak lagi keuntungan yang
didapatkan. Belum lagi di akhirat nanti

Boleh jadi, ada orang yang bisa mengelabui

semua orang, tetapi si pelaku ini, tidak akan bisa
kembali kepada orang-orang yang sudah ditipu,
apalagi di zaman sekarang ini, dunia komunikasi
begitu mudahnya dapat diakses, hancur sudah

karirnya, dan sangat sulit mengembalikan

reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun

MEMENUHI JANJI

Memenuhi janji menjadi faktor penting keberhasilan

dan kesuksesan seseorang.

Orang tidak menepati janji, hidupnya sangat

mengenaskan, tidak dipercaya orang.

54

media

55

media

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari
sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap
roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini

Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau

Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang

demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak
mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami

lengah terhadap ini.” (Q.S. al-A’rāf/7: 172)

“(Sungguh beruntung pula) orang-orang yang
memelihara amanat dan janji mereka.” (QS. Al-

Mukminun ayat 8)

PEMBAGIAN JANJI

Janji Kepada Allah Swt

Janji Kepada Sesama Manusia

Janji kepada manusia adalah janji-janji yang sudah dibuat dan
disepakati, baik sebagai pribadi maupun dengan lembaga atau

pihak lain. Islam menggariskan, bahwa tidak semua janji itu
ditunaikan. Seperti Sabda Rasulullah Saw.: “Setiap syarat

(ikatan janji) yang tidak sesuai dengan Kitabullah, menjadi batil,
meskipun seratus macam syarat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

56

media

Mendapatkan predikat sebagai muttaqin dan menjadi sebab tergapainya sifat muttaqin (Q.S. Ali Imrān/3: 76).

Menjadi sebab datangnya keberhasilan, keamanan dan ketenteraman, serta jauh adanya konflik dan
perselisihan.
MANFAAT
MEMENUHI

JANJI
Menghindari pertumpahan darah, dan terjaga dari mengambil hak orang lain, baik dari pihak muslim atau non
muslim (Q.S. al-Anfāl/8: 72).

Dapat menghapus kesalahan, dan menjadi sebab dimasukkan ke dalam surga (Q.S. al-Baqarah/2: 40, dan
Q.S al-Māidah/5: 12).

57

media

58

media

Mensyukuri
Nikmat

59

media

Pengertian

Pengertian Mensyukuri Nikmat

Syukur

pemberian, anugerah,

kebaikan, dan kesenangan

membuka atau menampakkan

SYUKUR merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt. dengan setulus hati.
Makna lainnya adalah pujian atau pengakuan terhadap segala nikmat Allah Swt. yang dibuktikan dengan

kerendahan hati dan ketulusan menerimanya yang diwujudkan melalui ucapan, sikap, dan perilaku.

NIkmat

Kufur

menutup dan menyembunyikan.

MENSYUKURI NIKMAT adalah berterima kasih kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah

dianugerahkan kepada kita. Caranya adalah menggunakan segala nikmat tersebut, sesuai dengan tujuan

nikmat itu diberikan. Misalnya nikmat tangan, mata, dan kaki, semuanya digunakan untuk hal-hal yang benar

menurut Allah Swt, bukan keinginan nafsu, syahwat, apalagi perbuatan maksiat

60

media

61

media

Dalil Mensyukuri Nikmat (1)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu

memaklumkan, “Sesungguhnya jika
kamu bersyukur, niscaya Aku akan

menambah (nikmat) kepadamu, tetapi

jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka pasti azab-Ku sangat berat.”

(Q.S. Ibrahīm/14: 7).

Dalil

Syukur -1

62

media

Dalil Mensyukuri Nikmat (2)

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada
Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan

barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka

sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri;

dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka
sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”

(Q.S. Luqmān/31: 12)

Dalil

Syukur -2

63

media

Contoh tidak baik dilakukan umat Yahudi, sebagai umat yang paling kufur

nikmat. Bersama Nabi Musa a.s. umat Yahudi menikmati begitu banyak nikmat,
khususnya nikmat keberhasilan menghadapi Fir’aun dan bala tentaranya yang
menindas dan membunuh setiap anak laki-lakinya yang baru lahir. Lalu Allah

Swt. menyelamatkan mereka, namun semua itu diingkari, bahkan di satu masa,

sampai berani membunuh nabi mereka.

Q.S. al-Baqarah/2: 49,

dan Q.S. al-Qashas/28: 4

Jadilah umat atau pribadi yang pandai mensyukuri nikmat. Sadar dan paham

bahwa begitu banyak nikmat Allah Swt. yang sudah dianugerahkan kepada kita.

Q.S al-Baqarah/2: 152

dan 172

Hanya sayangnya, seringkali kita memahami nikmat itu hanya berupa

harta benda, uang, dan fasilitas mewah lainnnya, padahal yang termasuk

nikmat adalah hidup sehat, keluarga bahagia, menjalankan shalat

secara istiqamah, terhindar dari segala cobaan, terhalang melakukan

dosa dan kemaksiatan.

Mensyukuri Nikmat

64

media

PERWUJUDAN NIKMAT

Pribadi yang bersyukur kepada Allah Swt., ditandai dengan pengakuan, kerelaan, dan kepuasan hati

atas segala nikmat yang diterima.

Dilanjutan dengan lisan yang selalu mengucapkan syukur, misalnya banyak-banyak mengucapkan

hamdalah dan kalimat-kalimat pujian yang disampaikan (Q.S. ad-Dhuhā/93: 11)

“Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung
nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat

zalim lagi sangat kufur.” (Q.S. Ibrahīm/14: 34).

Setelah itu, semua nikmat tersebut diwujudkan dan difungsikan oleh anggota tubuhnya dalam

ketaatan hanya kepada Allah Swt.

Syukur harus

dilakukan dengan 3
hal, yakni: melalui
hati, lisan, dan
anggota badan.

IMAM AL-GHAZALI membagi syukur itu, menjadi 3 bagian, yaitu: ilmu, hal (keadaan),
dan amal (perbuatan). Melalui ilmunya, seseorang menyadari bahwa segala nikmat yang
diterima itu semata-mata berasal dari Allah Swt. Keadaannya menyatakan kegembiraan.

Selanjutnya, amal perbuatannya sesuai dan sejalan dengan fungsi nikmat tersebut

diberikan.

65

media

Jauh Lebih Produktif

Lebih Bahagia dan Optimis

Keuntungan
Menjadi Ahli

Syukur

Mafaatnya kembali ke Diri Sendiri

Orang yang bersyukur, emosinya stabil, dan itu menjadikannya lebih bahagia, sigap mencari

solusi dan alternatif terbaik, dan melokalisasi persoalan, bukan melebarkannya, apalagi
menyalahkan pihak lain. Semuanya, diambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa yang

terjadi.

Saat menghadapi problem, orang yang bersyukur, masih dapat memanfaatkan peluang yang
tersisa, sekecil apapun, untuk menangkap peluang yang lain. Tidak menghabiskan waktunya

untuk mengeluh dan sesal diri.

Dunia ini sudah jutaan atau ribuan tahun, tetapi rahmat dan kasih Allah Swt. masih tetap

dilimpahkan ke seluruh makhluknya, dan semuanya tercukupi. Ketika seseorang bersyukur

maka nikmatnya akan Allah tambah, dan itu berarti bermanfaat untuk diri sendiri.

66

media

67

media

Memelihara
Lisan

68

media

Melalui lisan yang tidak tertata, muncul pertengkaran dan perselisihan. Lisan juga, bisa membuat

malapetaka yang besar, bahkan pembunuhan yang tidak terkira akibatnya. Selanjutnya, penggunaan
lisan yang tidak terjaga, menjadikan perang yang menimbulkan korban jiwa mulai dari hitungan yang

kecil, sampai mencapai ribuan, bahkan jutaan

Sebaliknya, melalui lisan juga muncul pelbagai macam kedamaian, kesejukan, cinta dan harapan yang

tersemai di lubuk jiwa untuk satuan, puluhan, ribuan, jutaan bahkan milyaran umat manusia. Masih

banyak manusia yang tetap memelihara harapan, meski kondisinya memprihatinkan dan mengenaskan,

karena masih percaya kepada janji-janji yang disampaikan.

Misalnya, melalui lisan para nabi dan rasul, dalam bentuk wahyu atau shuhuf (shahifah), saat kini masih

banyak dijumpai manusia beriman dengan segala plus minusnya. Karena itu, kita semua, termasuk

sebagai pelajar harus tetap rajin belajar dan sungguh menuntut ilmu.

Pentingnya Menjaga Lisan

ۙاًدْيِدَس الْوَق اْولْوُقَو َهللّٰا اوُقَّتا اوُنَما َنْيِذ
َّ
لا اَهُّيآٰي٧٠ َع اًزْوَف َزاَف ْدَقَف ٗهلْوُسَرَو َهللّٰا ِعِطُّي ْنَمَو ْْۗمكَبْوُنُذ ْمكل ْرِفْغَيَو ْمكلاَمْعا ْمكل ْحِلْصُّي ًمِْْظِ ا٧١

70. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. 71.
Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan

Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” (Q.S. al-Ahzāb/33: 70-71)

69

media

BAHAGIA DAN SUSAH KARENA LIDAH

َنْولَمْعَي اْوُناك اَمِب ْمُهلُجْراَو ْمِهْيِدْياَو ْمُهُتَنِسلا ْمِهْْلَع ُدَهْشت َمْوَّي٢٤

Tipis sekali perbedaan antara bahagia dan celaka serta senang susah, hanya dari penggunaan lidah. Apalagi jika
dikaitkan dengan ajaran Islam yang sudah memberi rambu-rambu dalam penggunan lidah. Kita diingatkan oleh

Allah Swt. dengan fiman-Nya, yakni:

“Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang

dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. an-Nūr/24: 24).

Ayat ini menjelaskan, saat orang-orang yang begelimang dosa akan diazab oleh Allah Swt. di akhirat nanti,

mereka membantah dan mengingkari perbuatan buruk mereka, maka anggota tubuhnya menjadi saksi. Lidah,
lisan, tangan dan kaki mereka menjadi saksi dan menceritakan dengan rinci apa saja yang mereka lakukan,

sehingga tidak bisa berdalih lagi.

َنْوُبِسكَي اْوُناك اَمِب ْمُهلُجْرا ُدَهْشتَو ْمِهْيِدْيا ٓاَنُمِلكُتَو ْمِهِهاَوْفا ىٰٓلَع ُمِتْخن َمْوَْل

ا٦٥

“Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki

merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Yāsīn/36: 65)

70

media

KESELAMATAN TERGANTUNG LISAN

Rasulullah Saw. juga mengingatkan kita, bahwa keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya dalam
menjaga lisannya. Seperti makna dasar Islam sendiri yang berarti selamat dan aman. Semua itu, mengajarkan

kepada kita bahwa lidah dan lisan ini, harus digunakan dengan benar, sehingga diri sendiri terselamatkan, apalagi

pihak lain. Rasulullah Saw. bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah
Saw. bersabda: “barang siapa yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah
berbiacara yang baik, atau (jika tidak mampu)

maka diamlah.” (HR. al-Bukhāri)

71

media

Penggunaan lisan yang tidak pada tempatnya, mengakibatkan 3 hal (fitnah, ghibah, dan buhtan)

Lisan: Antara Fitnah, Ghibah, dan Buhtan

Fitnah

Fitnah adalah bahasa Arab yang terdapat dalam al-Qur’an dan dipakai oleh orang Indonesia, tetapi makna fitnah yang

dipahami oleh orang Indonesia berbeda dengan makna fitnah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an kata fitnah
memiliki beberapa arti, antara lain cobaan, ujian, musibah dan ada juga yang berarti siksa di akhirat, seperti terdapat dalam
Surah al-Baqarah ayat 217. Ini artinya siksa bagi orang kafir kelak di akhirat lebih besar dari pada pembunuhan.

Demikian penjelasan M. Quraish Shihab.

“Fitnah (pemusyrikan dan penindasan) lebih kejam daripada pembunuhan.”

QS. al-Baqarah ayat 217

Ghibah

Buhtan

ْۗ ِلْتَقلا َنِم ُرَبكا ُةَنْتِفلاَو

72

media

FITNAH

Makna fitnah yang dipahami masyarakat di Indonesia berdasarkan KBBI adalah perkataan bohong atau tanpa
berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik,

merugikan kehormatan orang). Dalam pembahasan bab ini, maksud dari fitnah adalah yang dipahami

masyarakat Indonesia, yakni merupakan komunikasi satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan

stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan fakta palsu yang dapat

mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang

Islam melarang perbuatan fitnah, karena banyak bahaya yang ditimbulkan,
antara lain: penderitaan menyebar kemana-mana, dan jangan lupa bahwa

tangisan dan rintian doa orang yang difitnah (termasuk orang dizalimi),
doanya cepat diterima oleh Allah Swt; dan mencelakai diri sendiri, baik

cepat maupun lambat.

73

media

GHIBAH & BUHTAN

Melalui lidah yang tidak tertata juga, muncul ghibah (lihat isi kandungan Q.S. al-Hujurat/49: 12), termasuk buhtan.
Keduanya sama-sama menimbulkan perselisihan, pertengkaran, dan akibat buruk lain yang lebih besar. Pada titik

inilah, sekali lagi, sangat penting bagi kita semua, agar pandai-pandai menjaga lidah dan lisan.

Ghibah adalah membicarakan orang lain yang tidak hadir, sesuatu yang tidak disenanginya. Termasuk yang

dibicarakan itu, sesuai dengan keadaan orang yang dibicarakan. Jika yang dibicarakan itu, keburukan orang yang

disebut, tidak disandang oleh yang bersangkutan, itulah yang dinamakan buhtan/ ناتهب )
bohong besar).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah

Saw bersabda: tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat
menjawab Allah dan Rasulnya lebih tahu. Rasul menjawab,
“kamu menyebut saudaramu sesuatu yang tidak disukainya.”

Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana jika yang

disebutkan itu benar? Rasulullah menjawab, “jika yang

disebutkan itu benar, maka kamu telah melakukan ghibah
(membicarakan aib orang). Dan sekiranya yang disebutkan

itu tidak benar, maka engkau telah melakukan buhtan

(kebohongan).” (HR. Muslim)

74

media

Menjauhi kebiasaan berkata bohong dan tidak bermanfaat. Jangan pula berbicara yang berlebihan

Jauhi pembicaraan yang batil, kotor, dan jorok

CARA

MENJAGA

LISAN

Jangan berbicara dusta atau palsu. Ingat! Tanda-tanda orang munafik, salah satunya, jika berbicara
berdusta atau bohong.

Jangan gunakan lisanmu untuk menggunjing (Q.S. al-Hujurāt/49: 12)

Jangan berkata kasar (Q.S. Ali Imrān/3: 159). Jauhi pula melakukan celaan dan melaknat orang lain.

Jangan mengadu domba, dan jangan pula mudah marah

Jawablah panggilan orang tua dengan sopan dan santun (Q.S. al-Isrā’/17: 28), serta jauhi banyak
berbantah-bantahan.

75

media

76

media

77

media

78

media

Menutup Aib

79

media

Pengertian ‘Aib

Pengertian Menutup Aib

cela, cacat, nista, noda, perilaku hina, atau ada juga

bermakna kiasan, yaitu: arang di muka.

Begitu beratnya keburukan akibat aib yang dibuka, maka siapa pun kita, jika mengetahui aib, maka
hendaklah kita menutupi dan menyimpan rapat-rapat aib tersebut, jangan sampai malah disebar ke
khalayak ramai. Kenapa bisa begitu? Jawabannya jika kita sendiri mempunyai aib, inginnya aib itu

disimpan rapat-rapat dan enggan jika aib itu tersiar.

Setiap manusia, tampil dengan kelebihan dan kekurangan. Itu sifat dasar
yang dimiliki setiap orang. Hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang,

sepanjang hidupnya adalah terus menemukan kelebihan, dan di saat yang
bersamaan mampu mengurangi kekurangan dirinya. Di antara kekurangan
itu, muncul aib-aib yang harus ditutupi, dikarenakan pelbagai macam sebab

dan alasan.

Tidak ada satu pun manusia yang ingin aib dibuka. Aib adalah keburukan yang bersifat rahasia. Disebabkan

sifatnya yang rahasia, biasanya hanya diketahui oleh yang bersangkutan, atau beberapa orang tertentu.

80

media

81

media

Aib Dzahir

Aib

Tersembunyi

MACAM-
MACAM

AIB

Yaitu aib yang nampak dan dapat diketahui secara lahir, jika diperhatikan
betul. Misalnya cacat pada barang-barang perdagangan, contohnya buah-

buahan yang busuk, atau mebeler yang kelihatan cacatnya.

Yaitu aib yang tidak nampak, karena disembunyikan. Tidak terlihat, meski
sudah diperhatikan betul-betul. Ambil contoh, beras yang sudah dicampur
antara beras premium, super, dengan golongan yang biasa. Atau kacang-
kacangan yang bagus atasnya, sementara yang bawah kondisinya kurang

baik. Semuanya tidak kelihatan, jika tidak diurai atau dibuka semuanya

Kedua macam aib ini, dapat disematkan kepada manusia, meski yang banyak dibicarakan
adalah aib yang masuk kelompok kedua. Kedua aib inilah yang ingin disembunyikan dan
ditutupi, jangan sampai tersiar ke khalayak ramai, karena menimbulkan malu, bahkan bisa

menyebabkan minder.

82

media

‘AIB DAN MEDSOS

Di antara penyalahgunaan teknologi adalah orang begitu mudah membuka aib orang lain. Hal ini boleh jadi

dilatarbelakangi adanya rivalitas (persaingan), persinggungan kepentingan, bahkan sifat iri dengki yang dimiliki.
Saat ini, orang begitu mudah tumbang nama baik dan martabatnya dari penyalahgunaan media sosial (medsos),

baik dari WhatsApp, Twitter, Instagram maupun Facebook, Telegram, bahkan Blog.

Contohnya, ada raja, presiden atau calon presiden,
perdana menteri, atau tokoh berpengaruh, bisa turun
tahta sendiri atau diturunkan oleh rakyatnya, akibat

aibnya dibuka di tengah-tengah masyarakatnya, melalui

medsos atau media internet lainnya. Hal ini bukan
hanya terjadi di negara kita, tetapi juga terjadi di

negara-negara lain.

Peristiwa tersebut, membawa kesadaran kepada kita, agar hidup ini
jangan banyak kesalahan, dosa dan kemaksiatan (baik pelanggaran

menurut pandangan Allah Swt. maupun manusia). Sebab,

banyaknya kesalahan sama saja dengan menumpuk aib dan

berakibat hidupnya banyak dilakukan hanya untuk menutupi aib,
akhirnya tidak menemukan ketenangan dan ketenteraman dalam

hidupnya.

83

media

SARING SEBELUM SHARING

Tersimpul, bahwa aib itu harus ditutupi. Jangan mudah menggerakkan jari yang dikaitkan dengan medsos. Teliti
dan selektiflah dalam menerima informasi. Jika itu benar, share! Sebaliknya, jika tidak, ya jangan dishare. Begitu
juga, tercela sekali, jika ada orang yang mencari-cari kesalahan atau aib seseorang. Kita diingatkan oleh Allah

Swt. melalui firmannya, yaitu:

الَو اْوُسَّسَجت ا

لَّو ٌمْثِا ِ
نَّظِلا َضْعَب َّنِا ِِّۖ
نَّظِلا َنِ م اًرْيِث
ك اْوُبِنَتْجا اوُنَما َنْيِذ
َّ
لا اَهُّيآٰي َي ْمكُضْعَّب ْبَتْغ

َّوَت َهللّٰا َّنِاْۗ َهللّٰا اوُقَّتاَو ُْۗهْوُمُتْهِركَف اًتْيَم ِهِْْخا َمْحل لكأَّي ْنا ْمكُدَحا ُّبِحيا ْۗاًضْعَب ٌٌا ٌمَِِّْْر ١٢

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan

janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian

yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa

jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang” (Q.S. al-

Hujurāt/49: 12).

84

media

TUTUP AIB SUDARAMU!

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw.

Bersabda: “Barang siapa menutupi aib
saudaranya di dunia, maka Allah akan

menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR.

Muslim).

Disebabkan madharatnya yang begitu besar bagi

perkembangan masyarakat luas, MUI (Majelis

Ulama Indonesia) memfatwakan haram melihat

tayangan infotainment tertentu yang isinya

mengumbar aib. MUI dengan jelas menyatakan
infotainment haram, karena merusak keluarga,

masyarakat dan negara, terkecuali untuk

kepentingan hukum atau penyelidikan. Fatwa ini

dikeluarkan pada bulan Oktober 2012.

85

media

86

media

87

media

Tentang Penulis

Rian Hidayat, S.Pd.I., M.Pd., Gr

GPAI SMP-SMA Semesta Semarang

Konselor MIBS Semarang

Pengurus MGMP PAI SMA Kota Semarang

Pengurus MGMP PAI SMA Jawa Tengah

FB: Rian Hidayat Abi

IG: @rianhidayatabi

Twitter: @rianhidayatabi

Youtube 1: Rian Hidayat Abi

Youtube 2: Pendidikan Agama Islam

88

media
media

Memenuhi Janji, Syukuri
Nikmat, Jaga Lisan,
Tutup Aib

ِمْيِحَّرلا ِنْٰحَّْرلا ِالله ِمْسِب

Rian Hidayat,

S.Pd.I., M.Pd., Gr

Muslim yang

baik

adalah

muslim

yang

berakhlak

mulia

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 88

SLIDE