

kreatifitas pembelajaran matematika
Presentation
•
Mathematics
•
University
•
Practice Problem
•
Hard
Standards-aligned
wiwin Rahayu
FREE Resource
84 Slides • 0 Questions
1
Buku ini terbit sebagai upaya penulis dalam menyongsong era revolusi
industri 4.0. Dimana terdapat beberapa tantangan yang membuat dunia
pendidikan kita sulit beradaptasi dengan dunia revolusi industri 4.0.
Salah satunya Sumber Daya Manusia (SDM). Kemampuan Berpikir
Kreatif sangat berperan dalam era revolusi industri 4.0 yaitu suatu
proses yang mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir divergen.
Berpikir divergen digunakan untuk mencari ide-ide untuk
menyelesaikan masalah sedangkan berpikir logis digunakan untuk
memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang
kreatif.
Selain itu, buku ini membahas pengajuan masalah mahasiswa yang ada
pada mata kuliah matematika diskrit. Matematika diskrit merupakan
bagian dari matematika yang mempelajari objek-objek diskrit. Disini
objek-objek diskrit diartikan sebagai objek-objek yang berbeda dan
saling lepas. Sehingga dilakukan analisis kepada mahasiswa. Analisis
proses berpikir kreatif menggunakan indikator kemampuan preparation
(persiapan), Incubation (Inkubasi), Ilumination (Ilmuniasi), maupun
Verification (verifikasi).
Novia Dwi Rahmawati, S.Si., M. Pd, dilahirkan di Trenggalek pada 15
November 1987. Menyelesaikan studi pendidikan Program Sarjana (S1)
Matematika di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
pada tahun 2010, Melanjutkan Program Magister (S2) Pendidikan
Matematika di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan selesai pada
tahun 2015. Kariernya di bidang pendidikan pada tahun 2015 sebagai
Dosen Tetap di Prodi Pendidikan Matematika Universitas Hasyim Asy’ari
Tebuireng Jombang sampai sekarang dan Tutor Universitas Terbuka pada tahun 2019
dengan mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional PGSD S-1.
ISBN: 978-623-228-508-8
2
3
4
5
Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika
oleh Novia Dwi Rahmawati
Hak Cipta © 2020 pada penulis
Edisi Pertama: Cetakan I ~ 2020
Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283
Telp: 0274-889398; 0274-882262; Fax: 0274-889057;
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memper banyak atau memindahkan sebagian
atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, secara elektronis maupun mekanis,
termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya, tanpa izin tertulis
dari penerbit.
ISBN: 978-623-228-508-8
Buku ini tersedia sumber elektronisnya
DATA BUKU:
Format: 17 x 24 cm; Jml. Hal.: xiv + 68; Kertas Isi: HVS 70 gram; Tinta Isi: BW; Kertas
Cover: Ivori 260 gram; Tinta Cover: Colour; Finishing: Perfect Binding: Laminasi Doff.
6
Untuk Ibu Tercinta
Musilah, S. Ag
&
Alm. Bapak
Abu Tholib, S. Ag
yang telah sabar dan ikhlas
dalam membimbing ananda
hingga mampu menyusun
karya sederhana ini.
7
8
M
eneliti merupakan hal yang penting dilakukan oleh individu
yang ingin terus maju. Bangsa Indonesia juga sangat mendorong
generasi muda untuk aktif melakukan penelitian. Pemerintah
pun sampai harus menyiapkan berbagai macam skim penelitian demi
mendorong tumbuh kembangnya kegiatan meneliti yang maju. Karena itu
membaca buku ini, saya merasa bangga sekali Sdri. Novia Dwi Rahmawati,
S. Si., M. Pd telah meneliti dan berhasil memperoleh temuan penelitian
tentang proses berpikir kreatif mahasiswa ketika dihadapkan dengan
tugas pengajuan masalah. Beliau mampu mendeskripsikan secara lengkap
proses berpikir tersebut mulai dari tahap preparation (persiapan), Incubation
(Inkubasi), Ilumination (Ilmuniasi), maupun Verifi cation (verifi kasi). Bahkan,
beliau juga mendeskripsikannya dipilah-pilah berdasarkan kemampuan
mahasiswa, yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Meskipun Jumlah responden yang digunakan dasar untuk pengambilan
keputusannya tidak besar, setidak-tidaknya, deskripsi yang digambarkan
dari hasil penelitiannya bisa memberikan Inspirasi kepada dosen khususnya
tentang adanya perbedaan proses berpikir kreatif mahasiswa dengan
kemampuanberbeda ketika mereka dihadapkan dengan tugas pengajuan
masalah matematika diskrit. Pengenalan akan proses ini dengan sendirinya
akan memberikan inspirasi kepada dosen tentang bagaimana mereka
harus memberikan intervensi yang sesuai agar proses berpikir mahasiswa
bisa lebih dioptimalkan. Oleh karena itu, dosen pengampu mata kuliah
matematika diskrit bahkan dosen mata kuliah lain pun sangat dianjurkan
untuk membaca buku ini dengan seksama.
Sebagai mantan Wakil Presiden Himpunan Matematika Indonesia
(IndoMS) periode 2002-2004 dan 2004-2006, serta sebagai dosen senior
PENGANTAR PAKAR
9
viii
Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika
Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang, saya
menyambut baik hadirnya buku ini. Buku ini layak dan bahkan perlu dibaca
oleh para dosen matematika Diskrit maupun dosen matakuliah lain yang
berkeinginan mengembangkan kreativitas mahasiswa melalui pengajuan
masalah. Buku ini sangat pantas dijadikan rujukan untuk menuntun
praktik pembelajaran kreativitas mahasiswa melalui pengajuan masalah
matematika diskrit dikelas. Para Dosen pantas mengoleksi buku ini sebagai
buku referensi mengajar.
Dr. Abdur Rahman As’ari, M. Pd, M. A.
(Graduate Studies of Mathematics Education
Universitas Negeri Malang)
10
P
uji syukur penulis ucapkan karena atas limpahan rahmat dan karunia
Allah SWT, serta atas izin-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penulisan buku yang berjudul “Proses Berpikir Kreatif Mahasiswa
dalam Pengajuan Masalah Matematika”.
Buku Kemampuan berpikir kreatif ini lahir dari hibah penelitian internal
LPPM. Penerbitan buku ini sebagai upaya penulis dalam menyongsong era
revolusi industri 4.0. Dimana terdapat beberapa tantangan yang membuat
dunia pendidikan kita sulit beradaptasi dengan dunia revolusi industri 4.0.
Salah satunya Sumber Daya Manusia (SDM). Kemampuan Berpikir Kreatif
sangat berperan dalam era revolusi industri 4.0 yaitu suatu proses yang
mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir divergen. Berpikir divergen
digunakan untuk mencari ide-ide untuk menyelesaikan masalah sedangkan
berpikir logis digunakan untuk memverifi kasi ide-ide tersebu3t menjadi
sebuah penyelesaian yang kreatif.
Penulis sadar bahwa buku ini masih jauh dari kata sempurna, maka kritik
dan saran dari pembaca amatlah penulis harapkan demi kesempurnaan
buku ini. Tak Lupa penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penulisan buku ini. Harapan penulis
semoga buku ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan
khususnya untuk penulis pribadi. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.
Jombang, 15 November 2018
Novia Dwi Rahmawati
PENGANTAR PENULIS
11
12
PENGANTAR PAKAR
vii
PENGANTAR PENULIS
ix
DAFTAR ISI
xi
DAFTAR TABEL
xiii
BAB 1 PENDAHULUAN
1
1.1 Berpikir Kreatif dalam Menyongsong Era Revolusi
Industri 4.0
1
1.2 Berpikir Kreatif Sebagai Tren Penelitian Pendidikan
Matematika
3
BAB 2 BERPIKIR KREATIF DALAM PENELITIAN PENDIDIKAN
MATEMATIKA
7
2.1 Berpikir Kreatif
7
2.2 Pengajuan Masalah
9
2.3 Pengajuan Masalah dalam Berpikir Kreatif
10
2.4 Metode Penelitian yang Digunakan
11
2.5 Waktu, Subjek, dan Tempat Penelitian
12
2.6 Teknik Pengumpulan Data
13
2.7 Teknik Analisis Data
14
BAB 3 DESKRIPSI PROSES BERPIKIR KREATIF MAHASISWA
YANG MEMPUNYAI PRESTASI TINGGI DALAM
PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA DISKRIT
17
3.1. Pemberian TPM Pertama
17
3.2. Pemberian TPM Kedua
23
3.3. Triangulasi Data
28
DAFTAR ISI
13
xii
Proses Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Matematika
BAB 4 DESKRIPSI PROSES BERPIKIR KREATIF MAHASISWA
YANG MEMPUNYAI PRESTASI SEDANG DALAM
PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA DISKRIT
31
4.1. Pemberian TPM Pertama
31
4.2. Pemberian TPM Kedua
37
4.3. Triangulasi Data
42
BAB 5 DESKRIPSI PROSES BERPIKIR KREATIF MAHASISWA
YANG MEMPUNYAI PRESTASI SEDANG DALAM
PENGAJUAN MASALAH MATEMATIKA DISKRIT
45
5.1. Pemberian TPM Pertama
45
5.2. Pemberian TPM Kedua
51
5.3. Triangulasi Data
56
DAFTAR PUSTAKA
61
GLOSARIUM
63
TENTANG PENULIS
67
-oo0oo-
14
Tabel 1.1 Indikator proses berpikir kreatif mahasiswa
dalam pengajuan masalah
11
Tabel 3.1 Hasil Analisis Pengambilan Data Pertama
dan Pengambilan Data Kedua pada Mahasiswa SS
28
Tabel 4.1 Hasil Analisis Pengambilan Data Pertama
dan Pengambilan Data Kedua pada Mahasiswa FN
42
Tabel 5.1 Hasil Analisis Pengambilan Data Pertama
dan Pengambilan Data
57
-oo0oo-
DAFTAR TABEL
15
16
1.1 BERPIKIR KREATIF DALAm mENyONGSONG ERA
REvOLUSI INDUSTRI 4.0
Perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 atau
revolusi industri dunia keempat dengan cepatnya perkembangan Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) yang telah mempengaruhi dalam kehidupan
manusia. Semua hal menjadi tanpa batas dengan penggunaan data yang
tidak terbatas juga. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan internet dan
teknologi digital yang sangat masif. Mengutip pernyataan filsuf Yunani
Aristoteles, “satu tanda khusus dari keseluruhan ilmu pengetahuan adalah
kekuatan pendidikan”. Maka revolusi industri 4.0 hanya bisa dihadapi
dengan sistem pendidikan tinggi yang sesuai zaman, dan menumbuhkan
kreativitas serta inovasi (Ristekdikti, 2018)
Era revolusi industri 4.0 merupakan tantangan berat bagi pendidik
Indonesia. Mengutip dari Jack Ma dalam pertemuan tahunan World
Economic Forum 2018, Pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika
tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, 30 tahun mendatang
kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang
sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan
ketrampilan sebagaimana saat ini terimplementasi, akan menghasilkan
peserta didik yang tidak mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus
mampu bersikap bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan.
Siapkah pendidik di Indonesia menghadapi Era Revolusi industri 4.0
ketika masih disibukkan oleh beban peyampaian muatan pengetahuan dan
ditambah berbagai tugas administratif? Saat ini pendidik merasa terbebani
dengan kurikulum dan beban administratif yang terlalu padat sehingga
tidak lagi memiliki waktu tersisa memberi peluang peserta didik menjelajahi
BAB 1
PENDAhULUAN
17
2
Proses Berpikir kreatif
daya-daya kreatif. Menurut Filsuf Khun apabila tantangan-tantangan baru
tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, maka segala
usaha akan menemui kegagalan. Tantangan yang baru menuntut proses
terobosan pemikiran apabila yang diinginkan adalah output yang bermutu
yang dapat bersaing dengan hasil karya dalam dunia yang serba terbuka
(Sukartono, 2018)
Dalam konteks pembelajaran abad 21, pembelajaran yang menerapkan
kreativitas, berpikir kritis, kerjasama, ketrampilan komunikasi, kemasyara-
katan dan ketrampilan karakter, tetap harus dipertahankan bahwa sebagai
lembaga peserta didik tetap memerlukan kemampuan teknik. Sejalan
dengan hal itu, Kemendikbud merumuskan bahwa pembelajaran abad
21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu
dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan
bekerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah (Litbang
Kemendikbud, 2015)
Upaya mendorong kemampuan berpikir kreatif sebagai bekal hidup
menghadapi tuntutan, perubahan, dan perkembangan zaman lazimnya
melalui pendidikan yang berkualitas. Semua bidang pendidikan tanpa
terkecuali pendidikan matematika harus memulai dan mengarahkan anak
didik menjadi pembelajar yang berkualitas dan kreatif (Siswono, 2008).
Sejalan dengan hal itu, Nadjafikhah et al (2012) menjelaskan bahwa, “One of
the goals of any educational system should be fostering creative persons”. Kutipan
tersebut menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari sistem pendidikan harus
mendorong orang kreatif.
Siswono (2008) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai suatu kegiatan
mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan
yang baru secara fasih dan fleksibel. Ide dalam pengertian disini merupakan
ide dalam mengajukan masalah matematika dengan tepat atau sesuai
dengan permintaanya. Berpikir Kreatif sangat berperan dalam era revolusi
industri 4.0 yaitu suatu proses yang mengkombinasikan berpikir logis dan
berpikir divergen. Berpikir divergen digunakan untuk mencari ide-ide
untuk menyelesaikan masalah sedangkan berpikir logis digunakan untuk
memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang kreatif.
18
Berpikir Kreatif Dalam Penelitian Pendidikan Matematika
3
1.2 BERPIKIR KREATIF SEBAGAI TREN PENELITIAN
PENDIDIKAN mATEmATIKA
Penelitian merupakan penyaluran rasa ingin tahu manusia terhadap
sesuatu/masalah dengan perlakuan tertentu (seperti memeriksa, mengusut,
menelaah, dan mempelajari secara cermat, dan sunguh-sungguh) sehingga
diperoleh sesuatu (seperti mencapai kebenaran, memperoleh jawaban,
pengembangan ilmu pengetahuan, dan sebagainya (Hasan, 2002). Sedangkan
menurut Siswono (2010), suatu kegiatan yang sistematis dan objektif untuk
mencari kebenaran dan memecahkan atau menjawab suatu permasalahan.
Kegiatan yang sistematis dan objektif tersebut adalah suatu pendekatan
ilmiah yang meliputi identifikasi masalah, pengembangan hipotesis,
melakukan observasi (pengumpulan data), menganalisis, dan kemudian
menyimpulkannya.
Berdasarkan hasil penelitian Sabandar (2009) tentang hasil pengumpulan
data dari berbagai sumber, yaitu laporan tesis dan disertasi, laporan penelitian
dari lembaga penelitian, dan artikel pada jurnal penelitian serta artikel
pada prosiding seminar nasional maupun internasional selama rentang
waktu 5 tahun (2003-2008), salah satu kesimpulannya menunjukkan bahwa
bidang kemampuan berpikir matematika seperti melakukan generalisasi
dan pembuktian juga masih memiliki peluang besar untuk diteliti. Sejalan
dengan itu, hasil penelitian Prahmana (2017) pada Journal for Research in
Mathematics Education (JRME) yang merupakan jurnal penelitian terbaik
dalam bidang pendidikan matematika. Adapun tema tentang kreatifitas dan
kebakatan serta berpikir matematis merupakan tema yang diterbitkan JRME
dapat dijadikan standar tren penelitian pendidikan.
Adapun peneliti yang pernah melakukan penelitian kemampuan kreatif
dalam pengajuan masalah adalah Komarudinet al(2014) Jurnal Elektronik
Pembelajaran Matematikadengan judul “ Proses Berpikir Kreatif Siswa Smp
Dalam Pengajuan Masalah Matematika ditinjau Dari Gaya Kognitif Siswa
(Studi Kasus Pada Siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Sukoharjo Tahun Pelajaran
2012/2013)” menunjukkan bahwa proses bepikir kreatif pada siswa FI dalam
pengajuan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah Wallas, yaitu
a) preparation, siswa membaca TPM dalam hati, mengamati petunjuk dan
informasi gambar pada TPM dengan cermat dan mengamati hal-hal yang
diketahui dan ditanyakan dengan sekali membaca TPM dan siswa dapat
19
4
Proses Berpikir kreatif
memengetahui informasi atau hal-hal yang diketahui dan ditanyakan pada
TPM; (b) incubation, siswa cenderung diam sejenak, hal ini sebagai langkah
mencari dan menyusun strategi penyelesaian untuk menjawab hal-hal yang
ditanyakan dalam TPM; (c) illumination, siswa menentukan atribut masalah
dan hal-hal lain yang digunakan untuk mengajukan masalah matematika
dan mengungkapkan secara verbal masalah tersebut sambil menundukkan
kepala, menuliskan masalah tersebut pada LJK, dan jika terjadi kesalahan
pada masalah yang diajukan, siswa cenderung memperbaiki masalah
tersebut; (d) verification, siswa melakukan dengan mengamati dan
mengoreksi kembali masalah matematika yang telah diajukan, menjelaskan
secara lisan prosedur penyelesaian masalah matematika yang diajukan
dan menyelesaikan masalah tersebut pada LJK, siswa mengamati dan
mengoreksi kembali penyelesaian yang telah dilakukan; (2) Siswa FD, yaitu
(a) preparation, siswa membaca TPM dalam hati, mengamati petunjuk dan
informasi gambar pada TPM dan mengamati hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dengan membaca kembali TPM; (b) incubation, siswa cenderung
diam sejenak, hal ini sebagai langkah mencari dan menyusun strategi
penyelesaian untuk menjawab hal-hal yang ditanyakan dalam TPM, dan
ketika menyusun strategi penyelesaian, siswa terlihat kurang tenang dan
gelisah sambil memainkan kedua tangan; (c) illumination, siswa menentukan
atribut masalah dan hal-hal lain yang digunakan untuk mengajukan masalah
matematika dengan terbata-bata, selanjutnya siswa menuliskan masalah
tersebut pada LJK, dan jika terjadi kesalahan pada masalah matematika yang
diajukan, siswa cenderung mengganti masalah tersebut dengan masalah
yang lain; (d) verification, siswa menjelaskan prosedur penyelesaian secara
lisan, lalu menyelesaikan masalah tersebut pada LJK dan siswa mengoreksi
kembali masalah dan penyelesaian yang telah dilakukan.
Penelitian dari Tatag Yuli Eko Siswono (2004) Buletin Pendidikan
Matematika dengan judul “Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam
Pengajuan Masalah (Problem Posing) Matematika Berpandu dengan Model
Wallas dan Creative Problem Solving (CPS)” menunjukkan bahwa Pada
penerapan model Wallas, proses berpikir kreatif subyek dari kelompok kreatif
pada tahap persiapan mampu dengan baik untuk mengumpulkan berbagai
macam informasi yang relevan dengan TPM. Kelompok kurang kreatif dan
tidak kreatif kurang mampu untuk mengumpulkan informasi yang relevan
20
Berpikir Kreatif Dalam Penelitian Pendidikan Matematika
5
dengan TPM. Pada tahap inkubasi dari kelompok kreatif, kurang kreatif,
maupun tidak kreatif cenderung untuk berhenti dan mengamati informasi
teks maupun gambar ketika menemui jalan buntu dalam menyelesaikan
TPM. Pada tahap iluminasi kelompok kreatif, dan kurang kreatif mampu
mendapatkan ide dan menjadikannya soal dengan penyelesaian yang
benar. Sedangkan pada kelompok tidak kreatif, mereka yakin dengan
ide mereka tapi dalam menyelesaikan soal mereka melakukan kesalahan.
Pada tahap verifikasi kelompok kreatif apabila menemui kesalahan mereka
memperbaikinya dengan mengerjakan kembali soal tersebut sampai
benar. Kurang kreatif cenderung untuk mengganti soal atau jawabannya.
Sedangkan pada kelompok tidak kreatif mereka memeriksa ulang soal dan
penyelesaian mereka dan cenderung untuk mengganti soal tanpa berusaha
untuk mencari penyelesaian soal terlebih dahulu.
Penelitian lain relevan selanjutnya adalah Silver (1997) dengan judul
“Fostering Creativity Through Instruction Rich In Mathematical Problem
Solving And Problem Posing” menyatakan bahwa terdapat hubungan antara
kemampuan berpikir kreatif dengan pengajuan masalah atau pemecahan
masalah (Volume 29 June 1997 Number 3. Electronic Edition ISSN1615-
679X). Dari beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa Berpikir
Kreatif memiliki pengaruh terhadap pengajuan masalah peserta didik.
21
2.1.BERPIKIR KREATIF
Santrock (2011) menjelaskan berpikir adalah memanipulasi atau
mengelola dan mentransformasikan informasi dalam memori. Ini sering
dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar, dan berpikir secara kritis,
membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah.
Berpikir kreatif adalah proses yang dinamis yang dapat dilukiskan
menurut proses atau jalannya. Proses berpikir itu ada pada pokoknya ada
tiga langkah, yaitu pembentukan pengertian, pembentukan pendapat,
dan penarikan kesimpulan. Pandangan ini menunjukkan jika seseorang
dihadapkan pada suatu situasi, maka dalam berpikir, orang tersebut akan
menyusun hubungan antara bagian-bagian informasi yang direkam sebagai
pengertian-pengertian. Kemudian orang tersebut membentuk pendapat-
pendapat yang sesuai dengan pengetahuannya. Setelah itu, ia akan membuat
kesimpulan yang digunakan untuk membahas atau mencari solusi dari
situasi tersebut (Suryabrata, 1990).
Ruggiero (1998) mengartikan berpikir sebagai suatu aktivitas mental
untuk membantu memformulasikan atau memecahkan suatu masalah,
membuat suatu keputusan atau memenuhi hasrat keingintahuan (fulfill a
desire to understand). Pendapat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang
merumuskan suatu masalah, memecahkan suatu masalah, ataupun
memahami sesuatu, maka ia melakukan suatu aktivitas berpikir.
The (2003) memberi batasan bahwa berpikir kreatif adalah suatu
rangkaian tindakan yang dilakukan orang dengan menggunakan akal
budinya untuk menciptakan buah pikiran baru dari kumpulan ingatan yang
berisi berbagai ide, keterangan, konsep, pengalaman, dan pengetahuan.
BAB 2
BERPIKIR KREATIF DALAm
PENELITIAN PENDIDIKAN
mATEmATIKA
22
8
Proses Berpikir kreatif
Pengertian ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif ditandai dengan
penciptaan sesuatu yang baru dari hasil berbagai ide, keterangan, konsep,
pengalaman, maupun pengetahuan yang ada dalam pikirannya. Sedangkan
Evans (1991) menjelaskan bahwa berpikir kreatif adalah suatu aktivitas
mental untuk membuat hubungan-hubungan yang terus menerus, sehingga
ditemukan kombinasi yang benar atau sampai seseorang itu menyerah.
Asosiasi kreatif terjadi melalui kemiripan-kemiripansesuatu atau melalui
pemikiran analogis. Asosiasi ide-ide membentuk ide-ide baru. Jadi,
berpikir kreatif mengabaikan hubungan-hubungan yang sudah mapan,
dan menciptakan hubungan hubungan-hubungan tersendiri. Pengertian
ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif merupakan kegiatan mental untuk
menemukan suatu kombinasi yang belum dikenal sebelumnya.
Proses berpikir kreatif merupakan suatu proses yang mengkombinasikan
berpikir logis dan berpikir divergen. Berpikir divergen digunakan untuk
mencari ide-ide untuk menyelesaikan masalah sedangkan berpikir
logis digunakan untuk memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah
penyelesaian yang kreatif. Untuk mengetahui proses berpikir kreatif siswa,
pedoman yang digunakan adalah proses kreatif yang dikembangkan oleh
Wallas (Munandar,2002) karena merupakan salah satu teori yang paling
umum dipakai untuk mengetahui proses berpikir kreatif dari para penemu
maupun pekerja seni yang menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat
tahap yaitu 1) Persiapan, 2) Inkubasi, 3) Iluminasi, dan 4) Verifikasi.
Pada tahap pertama seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan
masalah dengan cara mengumpulkan data yang relevan, dan mencari
pendekatan untuk menyelesaikannya. Pada tahap kedua, seseorang seakan-
akan melepaskan diri secara sementara dari masalah tersebut. Tahap ini
penting sebagai awal proses timbulnya inspirasi yang merupakan titik mula
dari suatu penemuan atau kreasi baru dari daerah pra sadar. Pada tahap
ketiga, seseorang mendapatkan sebuah pemecahan masalah yang diikuti
dengan munculnya inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan mengikuti
munculnya inspirasi dan gagasan baru. Pada tahap terakhir adalah tahap
seseorang menguji dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap
realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Pada tahap
verifikasi ini seseorang setelah melakukan berpikir kreatif.
23
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
9
2.2. PENGAjUAN mASALAh
Dalam pembelajaran matematika, pengajuan masalah menempati posisi
yang strategis. English (1997) menjelaskan pendekatan pengajuan masalah
dapat membantu siswa dalam mengembangkan keyakinan dan kesukaan
terhadap matematika, sebab ide-ide matematika siswa dicobakan untuk
memahami masalah yang sedang dikerjakan dan dapat meningkatkan
performannya dalam pengajuan masalah.
Silver dalam Siswono (2008) memberikan istilah pengajuan soal (problem
posing) diaplikasikan pada tiga bentuk aktivitas kognitif matematika yang
berbeda, yaitu:
a. Pengajuan pre-solusi (presolution posing) yaitu seorang siswa membuat
soal dari situasi yang diadakan.
b. Pengajuan didalam solusi (within-solution posing) yaitu seorang siswa
merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan.
c. Pengajuan setelah solusi (post solution posing), yaitu seorang siswa
memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk
membuat soal yang baru.
Dunlop (2001) menjelaskan bahwa pengajuan masalah sedikit berbeda
dengan pemecahan masalah, tetapi masih merupakan suatu alat valid untuk
mengajarkan berpikir matematis. Moses dalam Dunlop (2001) membicarakan
berbagai cara yang dapat mendorong berpikir kreatif siswa menggunakan
pengajuan masalah. Pertama, memodifikasi masalah-masalah dari buku
teks. Kedua, menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang mempunyai
jawaban ganda. Masalah yang hanya mempunyai jawaban tunggal tidak
mendorong berpikir matematika dengan kreatif, siswa hanya menerpakan
algoritma yang sudah diketahui.
9Silver dan Cai dalam Komarudin et al (2014) menjelaskan bahwa
pengajuan masalah berkorelasi positif dengan kemampuan memecahkan
masalah. Hal ini karena meningkatnya kemampuan pengajuan masalah
dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Pernyataan diatas
membuktikan bahwa dalam pembelajaran matematika, pengajuan masalah
menempati posisi yang strategis. Rahmawati (2016) mendefinisikan
Matematika diskrit merupakan bagian dari matematika yang mempelajari
objek-objek diskrit. Di sini objek-objek diskrit diartikan sebagai objek-objek
24
10
Proses Berpikir kreatif
yang berbeda dan saling lepas. Secara lebih umum, matematika diskrit
digunakan untuk menghitung banyak objek, mempelajari hubungan antara
himpunan-himpunan berhingga, dan menganalisis proses yang melibatkan
langkah-langkah yang banyaknya berhingga.
Dalam mendeskripsikan proses berpikir kreatif mahasiswa dalam
pengajuan masalah matematika diskrit, peneliti terlebih dahulu melakukan
penelitian terhadap tiga mahasiswa Semester IV Prodi Pendidikan
Matematika tahun akademik 2016/2017 Universitas Hasyim Asy’ari.
Penelitian pendahuluan ini dilakukan dengan memberikan tes tertulis.Pada
tes tertulis tersebut, mahasiswa ditugaskanuntuk mengajukan masalah
sebanyak-banyaknyaberdasarkan konteks atau situasi yang diberikan.
Berdasarkan hasil tes tertulisyang ditugaskankepada 3 mahasiswa tersebut
menghasilkan kesimpulan keterampilan berpikir kreatif yang berbeda-beda.
Jika ditinjau berdasarkan hasil berpikir kreatifnya dengan menggunakan
indikator dari Silver (1997) untuk menilai ketrampilan berpikir kreatif
(kefasihan, Fleksibilitas, Kebaharuan), diperoleh dua mahasiswa yang
mampu menunjukkan keterampilan berpikir kreatif tingkat tinggi, yaitu
kedua mahasiswa mampu menunjukkan ketiga komponen berpikir kreatif.
Sedangkan,mahasiswa satunya hanya mampu menunjukkan komponen
kefasihan dan Fle41ksibilitas dari komponen berpikir kreatif.Perbedaan
proses berpikir kreatif diatas disebabkan adanya perbedaan keterampilan
yang mereka miliki sehingga perbedaan keterampilan tersebut dapat
mempengaruhi cara mahasiswa dalammengajukan masalah matematika
diskrit dari konteks atau situasi yang diberikan.
2.3. PENGAjUAN mASALAh DALAm BERPIKIR KREATIF
Hwang, et al dalam komarudin (2014) yang mendefinisikan berpikir
kreatif
sebagai
kemampuan
untuk
menyelesaikan
masalah
atau
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan baru.Sejalan dengan itu,
Wallas dalam Siswono (2004) menjelaskan lebih rinci hubungan pengajuan
masalah yang meliputi keempat komponen utama kreativitas yang dipakai
dalam penelitian ini dan memberikan indikator untuk menilai kemampuan
berfikir kreatif peserta didik (Persiapan, Inkubasi, Iluminasi, dan Verifikasi)
menggunakan pengajuan masalah. dapat dilihat pada Tabel 1.1.
25
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
11
Tabel 1.1
Indikator proses berpikir kreatif mahasiswa dalam pengajuan masalah
Langkah
Wallas
Indikator proses berpikir kreatif mahasiswa dalam penga-
juan masalah
Preparation
1. Mahasiswa membaca TPM (tugas pengajuan masalah)
dalam hati.
2. Mahasiswa mengamati petunjuk dan informasi pada
TPM.
3. Mahasiswa dapat mengetahui hal-hal yang diketahui
dengan membaca TPM.
4. Mahasiswa dapat menyebutkan hal-hal yang diketahui
dan ditanyakan pada TPM
Incubation
1. Mahasiswa diam sejenak.
2. Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang
terdapat pada TPM.
3. Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah
matematika.
Illumina-
tion
1. Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk
mengajukan masalah matematika.
2. Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah
matematika yang diajukan.
3. Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diaju-
kan pada LJK (lembar jawaban kerja).
4. Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan
pada masalah matematika yang diajukan.
Verification
1. Mahasiswa mengamati dan mengoreksi kembali masalah
matematika yang telah diajukan.
2. Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah
matematika yang diajukan.
3. Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika yang
telah diajukan pada LJK.
26
12
Proses Berpikir kreatif
2.4. mETODE PENELITIAN yANG DIGUNAKAN
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan desain
penelitian studi kasus, yaitu penelitian difokuskan pada satu fenomena saja
yang dipilih dan ingin dipahami secara mendalam, dengan mengabaikan
fenomena-fenomena lainnya (Sukmadinata, 2012). Fenomena tersebut
berupa proses berpikir kreatif mahasiswa dalam pengajuan masalah
matematika diskrit. Karena sifatnya yang mendalam, maka melalui studi
kasus, umumnya dihasilkan gambaran yang longitudinal, yaitu hasil
pengumpulan dan analisis kasus/ fenomena dalam suatu jangka waktu
tertentu dengan memperhatikan segala aspek dalam fenomena tersebut.
Selanjutnya, fenomena tersebut digunakan untuk mendeskripsikan proses
berpikir kreatif mahasiswa dalam pengajuan masalah matematika diskrit.
Data utama dalam penelitian ini berupa hasil wawancara yang
dilakukan antara peneliti dan mahasiswa. Wawancara ini dilakukan pada
saat mahasiswa menyelesaikan tugas pengajuan masalah. Hal ini dilakukan
untuk mengamati fenomena-fenomena berpikir kreatif mahasiswa dalam
pengajuan masalah matematika diskrit. Peneliti mempelajari fenomena-
fenomena tersebut ketika mahasiswa menyelesaikan tugas pengajuan
masalah matematika diskrit secara lisan dan tulisan.
Metode wawancara dalam penelitian ini menggunakan think aloud
method. Metode ini dilakukan dengan menghadapkan mahasiswa dengan
situasi tertentu terkait dengan masalah matematika diskrit. Selanjutnya, dari
situasi tersebut mahasiswa diminta untuk mengajukan masalah sebanyak
mungkin sampai mahasiswa tidak mampu atau tidak dapat membuat
masalah lain untuk diajukan. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui
proses berpikir kreatif mahasiswa dalam pengajuan masalah matematika
diskrit. Setelah mengajukan masalah secara lisan, mahasiswa menuliskan
masalah yang diajukan pada lembar kerja yang telah disediakan. Setelah
proses wawancara selesai, mahasiswa diminta untuk menjawab masalah
yang diajukannya tersebut. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah masalah
yang diajukan mahasiswa telah benar dan mampu untuk menyelesaikannya.
27
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
13
2.5. WAKTU, SUBjEK, DAN TEmPAT PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Universitas Hasyim Asy`ari Jombang. Subjek
penelitian ini adalah mahasiswa Unhasy Jombang semester genap 2016/2017
yang telah menempuh mata kuliah matematika Diskrit. Waktu Penelitian ini
dilaksanakan mulai Mei 2017 sampai November 2017 dan dilakukan secara
bertahap.
a. Tahap persiapan, mencakup pembuatan proposal, pembuatan instrumen.
b. Tahap pelaksanaan, yaitu kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kampus
yang meliputi uji coba instrumen-instrumen dan pengumpulan data.
c. Tahap penyusunan, yaitu tahap pengolahan data dan penyusunan laporan.
Subjek dalam penelitian ini adalah tiga mahasiswa Semester IV Prodi
Pendidikan Matematika tahun akademik 2016/2017 Universitas Hasyim
Asy’ari. Satu mahasiswa berprestasi tinggi, satu mahasiswa berprestasi
sedang dan satu mahasiswa berprestasi rendah. Alasan pemilihan ketiga
mahasiswa tersebut sebagai subjek penelitian didasarkan pada beberapa
alasan: (1) Mahasiswa tersebut telah mendapatkan mata kuliah matematika
diskrit; (2) Mahasiswa mempunyai cukup pengetahuan dan pengalaman
tentang materi-materi matematika diskrit; dan (3) mahasiswa Semester IV
Prodi Pendidikan Matematika mampu mengomunikasikan pemikirannya
secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga upaya eksplorasi proses
berpikir kreatif mahasiswa dapat dilakukan.
2.6. TEKNIK PENGUmPULAN DATA
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
teknik think aloud method, yaitu mahasiswa diminta untuk mengungkapkan
ekspresi verbal tentang gagasan/ ide yang dipikirkan ketika mengajukan
masalah matematika diskrit. Setelah pengambilan data pertama, dilakukan
pengambilan data kedua untuk melihatkevalidan data penelitian pada
pengambilan data pertama. Dengan membandingkan kedua data tersebut,
diperoleh data proses berpikir kreatif mahsiswa sebagai data yang valid.
Adapun langkah-langkah teknik pengambilan data dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
28
14
Proses Berpikir kreatif
1. Memilih enam orang mahasiswa yang terdiri atas dua mahasiswa
berprestasi tinggi, dua mahasiswa berprestasi sedang dan dua
mahasiswa berprestasi rendah.
2. Menentukan waktu pengambilan data dengan mempertimbangkan
jadwal belajar, kegiatan ekstrakulikuler, dan bimbingan belajar
mahasiswa.
3. Melaksanakan pengambilan data proses berpikir kreatif mahasiswa
dengan cara sebagai berikut.
a) Meminta mahasiswa mengerjakan tugas pengajuan masalah yang
disertai dengan ekspresi verbal.
b) Memberikan beberapa pertanyaan kepada mahasiswa terkait
dengan proses berpikir kreatif mahasiswa.
c) Menggunakan alat bantu perekam berupa handycam.
4. Memilih tiga mahasiswa sebagai subjek penelitian yang terdiri atas Satu
mahasiswa berprestasi tinggi, satu mahasiswa berprestasi sedang dan
satu mahasiswa berprestasi rendah. Alasan pemilihan ketiga mahasiswa
tersebut sebagai subjek penelitian didasarkan pada beberapa alasan: (1)
Mahasiswa tersebut telah mendapatkan mata kuliah matematika diskrit;
(2) Mahasiswa mempunyai cukup pengetahuan dan pengalaman tentang
materi-materi matematika diskrit; dan (3) mahasiswa Semester IV Prodi
Pendidikan Matematika mampu mengomunikasikan pemikirannya
secara lisan maupun tulisan dengan baik sehingga upaya eksplorasi
proses berpikir kreatif mahasiswa dapat dilakukan
5. Menganalisis data tiga mahasiswa tersebut.
6. Melaksanakan pengambilan data kedua. Hal ini dilakukan untuk
melihat validitas data pada pengambilan data pertama.
7. Membandingkan hasil pengambilan data pertama dan data kedua
2.7. TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode
kualitatif, yaitu teknik analisis data yang bertolak dari asumsi tentang
realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Analisis
data dalam penelitian ini merupakan proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan tertulis dengan cara
mereduksi dan penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi.
29
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
15
Proses analisis data dalam penelitian ini diawali dengan mentranskrip
data verbal yang terkumpul, menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagai sumber, seperti dari hasil wawancara dan data tertulis, pengamatan
yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dan menyusunnya dalam
satuan-satuan yang selanjutnya dikategorikan berdasarkan kriteria.
Langkah-langkah analisis data selanjutnya sebagai berikut.
a. Reduksi Data
Reduksi data berarti memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus
penelitian. Reduksi data merupakan kegiatan yang mengacu pada proses
pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstraksian, dan
transformasi data mentah di lapangan, selanjutnya memverifikasi jawaban
siswa berdasarkan kebenaran penyelesaian yang dilakukan.
b. Penyajian Data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun dengan
baik dan runtut sehingga mudah dilihat, dibaca, dan dipahami serta
mempermudah dalam penarikan kesimpulan data penelitian.
c. Pengambilan Kesimpulan dan verifikasi
Setelah data disajikan, langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan
dan verifikasi. Untuk itu, diusahakan mencari pola, model, tema, hubungan,
atau persamaan dari hal-hal yang sering muncul sehingga berdasarkan data
tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan. Selanjutnya, verifikasi dapat
dilakukan dengan keputusan yang didasarkan pada reduksi data dan
penyajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam
penelitian.
30
Dalam pengajuan masalah matematika diskrit Pemberian TPM pertama
dengan mahasiswa SS dilakukan pada hari Rabu tanggal 13 September 2017
pada pukul 08.30 – 09.30 WIB. Selanjutnya untuk mengkonfirmasi masalah
yang diajukan mahasiswa SS, maka dilakukan pengecekan dengan meminta
mahasiswa untuk menyelesaikan masalah yang telah diajukan pada pukul
10.00 – 10.20 WIB, dan pengambilan data kedua dilaksanakan pada hari
Minggu tanggal 17 September 2017 pada pukul 08.30 – 09.30 WIB yang diikuti
oleh mahasiswa SS. Selanjutnya untuk mengkonfirmasi masalah yang diajukan
mahasiswa SS, maka dilakukan pengecekan dengan meminta mahasiswa untuk
menyelesaikan masalah yang telah diajukan pada pukul 10.00 – 10.20 WIB.
Berikut analisis data proses berpikir kreatif mahasiswa SS dalam pengajuan
masalah matematika pada pemberian TPM pertama dan kedua.
3.1. PEmBERIAN TPm PERTAmA
a) Preparation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
preparation, dilakukan dengan melihat bagaimana respon mahasiswa ketika
diberi tugas pengajuan masalah dan bagaimana cara mahasiswa memahami
hal yang diketahui dan ditanyakan dari tugas tersebut. Berikut analisis data
pada mahasiswa SS untuk kategori preparation.
BAB 3
DESKRIPSI PROSES BERPIKIR
KREATIF mAhASISWA yANG
mEmPUNyAI PRESTASI
TINGGI DALAm PENGAjUAN
mASALAh mATEmATIKA
DISKRIT
31
18
Proses Berpikir kreatif
Ketika diberikan TPM, mahasiswa SS terlihat antusias untuk mengikuti
proses wawancara. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa SS dengan langsung
membaca lembar TPM setelah lembar TPM tersebut diberikan. Mahasiswa SS
terlihat sangat mencermati TPM dengan membacanya dalam hati. Selanjutnya
mahasiswa mengamati petunjuk dan informasiuntuk mengajukan soal/
pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda pada lembar
TPM dengan cermat. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa SS terkait
hal tersebut.
P : Ibu mempunyai sebuah instrumen (sambil memegang lembar
instrumen), anda nanti akan dihadapkan pada sebuah situasi. Dan
cermati secara seksama akan ada perintah dari lembar instrumen
ini.(selanjutnya peneliti menyerahkan lembar tes kepada mahasiswa)
SS-1
: (Mahasiswa membaca dan mengamati TPM dalam hati)
P
: Sudah selesai membacanya?
SS-1
: Sudah Ibu (sambil mengangguk)
Setelah selesai membaca dan memperhatikan lembar TPM, selanjutnya
mahasiswa SS mengetahui situasi yang terdapat pada TPM, yaitu mahasiswa
diminta untuk mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan
syarat yang berbeda. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa SS
terkait hal tersebut.
P
: Sekarang dari situasi tadi, apa yang kamu ketahui?
SS-1
: Mengajukan pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda.
P
: Berkaitan dengan masalah apa pada lembar TPM itu?
SS-1
: Metode Fundamental pencacahan
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses preparation mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa membaca TPM dalam hati.
• Mahasiswa mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali membaca
TPM
• Mahasiswa menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari
TPM dengan lancar dan benar.
32
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
19
b) Incubation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
incubation, dilakukan dengan melihat bagaimana awal proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
dari daerah pra sadar mahasiswa. Berikut analisis data pada mahasiswa SS
untuk kategori incubation.
Dalam menemukan inspirasi atau solusi penyelesaian dari situasi
yang diberikan, mahasiswa SS melakukannya dengan memikirkan atau
merenungkan maksud dari pertanyaan pada lembar TPM, dimana mahasiswa
diminta untuk mengajukan mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama,
tetapi dengan syarat yang berbeda. Setelah mahasiswa memahami maksud
dari pertanyaan tersebut, selanjutnya mahasiswa SS mulai mengidentifikasi
kemungkinan adanya solusi penyelesaian berupa masalah matematika
diskrit yang dapat diajukan berdasarkan TPM dan pengetahuan atau
pengalaman yang dimiliki. Ketika proses identifikasi tersebut, mahasiswa
SS cenderung diam untuk beberapa saat. Hal ini sebagai upaya memberikan
kesempatan kepada pikiran untuk menemukan solusi penyelesaian dari
situasi dan pertanyaan yang diberikan. Berikut cuplikan wawancara dengan
mahasiswa SS terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan lembar TPM yang anda cermati, kira-kira masalah
apa yang mau diajukan?
SS-1
: (Mahasiswa diam sejenak sambil mencermati lembar TPM)
P
: (Memperhatikan mahasiswa yang sedang perpikir)
SS-1
: (Mahasiswa mengajukan masalah sambil memperhatikan masalah yang
sebelumnya diajukan)
Pada proses incubation, mahasiswa akan berusaha menghimpun berbagai
informasi dan pengetahun yang dimiliki, termasuk pengalaman yang
pernah dialami yang relevan dengan situasi dan masalah yang dihadapi.
Hal tersebut merupakan sebagai proses menyusun strategi penyelesaian
untuk menjawab masalah sedang dihadapi tersebut.
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses incubation mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal sebagai
berikut.
33
20
Proses Berpikir kreatif
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang terdapat pada
TPM.
• Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah matematika diskrit.
c) Illumination
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa
berupa illumination dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa
mendapatkan sebuah pemecahan masalah yang diikuti dengan munculnya
inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi
dan gagasan baru. Berikut analisis data pada mahasiswa SS untuk kategori
illumination.
Pada proses illumination, mahasiswa SS mengidentifikasi informasi
yang relevan berdasarkan situai dan pengetahuan yang dimiliki. Proses
identifikasi tersebut yang nantinya akan sampai pada penemuan atribut
masalah atau hal-hal lain yang akan digunakan untuk mengajukan masalah
matematika diskrit berdasarkan situasi yang terdapat pada lembar TPM.
Setelah mahasiswa mengidentifikasi dan menentukan atribut yang relevan
dengan situasi tersebut, selanjutnya mahasiswa mengungkapkan secara
verbal masalah matematika diskrit yang diajukan.
P
: Coba tunjukkan pengajuan masalah yang anda buat berdasarkan
situasi lembar situasi TPM?
SS-1
: (Menyodorkan lembar LJK yang berisi pengajuan masalah matematika
diskrit)
P
: Coba perhatikan lagi pengajuan masalah yang anda buat, berapa
banyak hidangan?(menegaskan pengajuan masalah yang dibuat
mahasiswa SS)
SS-1
: (Oh..iya bu. seharusnya Berapa banyak cara koki tersebut untuk
menyiapkan hidangan?)
Dalam sebuah kandang terdiri dari 4 ayam dan 7 bebek. seorang koki
ingin memasak 5 hidangan masakan dengan jumlah bebek yang dimasak
lebih banyak daripada jumlah ayamnya. Berapa banyak cara koki tersebut
untuk menyiapkan hidangan?
34
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
21
P
: Sekarang perbaiki pengajuan masalah yang anda buat pada LJK
SS-1
: Iya Ibu (sambil memperbaiki pengajuan masalah matematika diskrit pada
LJK)
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS diatas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses illumination mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk masalah
matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang diajukan.
d) verification
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
verification, dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa menguji
dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap realitas. Berikut
analisis data pada mahasiswa SS untuk kategori verification.
Pada proses verification, setiap kali mahasiswa SS selesai mengungkapkan
dan menuliskan masalah matematika yang sebelumnya diajukan secara verbal,
maka mahasiswa SS akan mengamati dan mengecek kembali masalah yang telah
diajukan. Mahasiswa SS mengungkapkan bahwa masalah matematika yang
telah diajukan dapat diselesaikan dengan menggunakan metode fundamenal
pencacahan. Dalam hal ini,mahasiswa SSmenyelesaikan masalah matematika
diskrit dengan menggunakan kombinasi. Berikut cuplikan wawancara dengan
mahasiswa SS terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan pengajuan masalah matematika diskrit pada LJK, bisa
diselesaikan dengan cara apa?
35
22
Proses Berpikir kreatif
SS-1
: Kombinasi
P
: Karena koki ingin menyiapkan 5 hidangan, dengan jumlah bebek
yang dimasak lebih banyak daripada jumlah ayam.Bagaimana
penyelesaiannya dengan kombinasi?
SS-1
: Saat bebek 5 ekor maka ayam tidak ada yang dihidangkan, kemu-
di an saat menghidangkan bebek 4 ekor maka 1 ekor ayam yang di-
hi dangkan, dan ketika menghidangkan 3 ekor bebek maka 2 ekor
ayam yang terhidangkan.
P
: Setelah itu langkah selanjutnya bagaimana?
SS-1
: Kombinasi bebek dikalikan dengan kombinasi ayam lanjut dijum-
lah kan ibu.
P
: Yakin dengan jawabannya?
SS-1
: Yakin bu (sambil tersenyum)
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses verification mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal seba-
gai berikut.
• Mahasiswa mengoreksi masalah matematika diskrit yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah matematika
yang diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika diskrit yang telah diaju-
kan pada LJK.
• Mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan
36
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
23
3.2. PEmBERIAN TPm KEDUA
a) Preparation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
preparation, dilakukan dengan melihat bagaimana respon mahasiswa ketika
diberi tugas pengajuan masalah dan bagaimana cara mahasiswa memahami
hal yang diketahui dan ditanyakan dari tugas tersebut. Berikut analisis data
pada mahasiswa SS untuk kategori preparation.
Ketika diberikan TPM, mahasiswa SS terlihat antusias untuk mengikuti
pro ses wawancara. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa SS dengan langsung
mem baca lembar TPM setelah lembar TPM tersebut diberikan. Mahasiswa SS
terlihat sangat mencermati TPM dengan membacanya dalam hati. Selanjut-
nya mahasiswa mengamati petunjuk dan informasiuntuk mengajukan soal/
pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda pada lembar
TPM dengan cermat. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa SS
terka it hal tersebut.
P
: Sudah siap ya hari ini untuk pemberian TPM kedua?
SS-2
: Siap bu..
P
: (Peneliti menyerahkan lembar tes kepada mahasiswa)
SS-2
: (Mahasiswa membaca dan mengamati TPM dalam hati)
P
: Sudah selesai?
SS-2
: Sudah
Setelah selesai membaca dan memperhatikan lembar TPM, selanjutnya
mahasiswa SS mengetahui situasi yang terdapat pada TPM, yaitu mahasiswa
diminta untuk mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan
syarat yang berbeda. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa SS
terkait hal tersebut.
P
: Sekarang dari situasi tadi, apa yang kamu ketahui?
SS-2
: Mengajukan pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda
P
: Berkaitan dengan masalah apa pada lembar TPM itu?
SS-2
: Metode Fundamental pencacahan
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses preparation mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal
37
24
Proses Berpikir kreatif
sebagai berikut.
• Mahasiswa membaca TPM dalam hati.
• Mahasiswa mengamati informasi dan petunjuk pada
• TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali membaca
TPM
• Mahasiswa menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari
TPM dengan lancar dan benar.
b) Incubation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
incubation, dilakukan dengan melihat bagaimana awal proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
dari daerah pra sadar mahasiswa. Berikut analisis data pada mahasiswa SS
untuk kategori incubation.
Dalam menemukan inspirasi atau solusi penyelesaian dari situasi
yang diberikan, mahasiswa SS melakukannya dengan memikirkan atau
merenungkan maksud dari pertanyaan pada lembar TPM, dimana mahasiswa
diminta untuk mengajukan mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama,
tetapi dengan syarat yang berbeda. Setelah mahasiswa memahami maksud
dari pertanyaan tersebut, selanjutnya mahasiswa SS mulai mengidentifikasi
kemungkinan adanya solusi penyelesaian berupa masalah matematika
diskrit yang dapat diajukan berdasarkan TPM dan pengetahuan atau
pengalaman yang dimiliki. Ketika proses identifikasi tersebut, mahasiswa
SS cenderung diam untuk beberapa saat. Hal ini sebagai upaya memberikan
kesempatan kepada pikiran untuk menemukan solusi penyelesaian dari
situasi dan pertanyaan yang diberikan. Berikut cuplikan wawancara dengan
mahasiswa SS terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan lembar TPM yang anda cermati, kira-kira masalah
apa yang mau diajukan?
SS-2
: (Mahasiswa sedang berpikir sambil mencermati lembar TPM)
P
: (Memperhatikan mahasiswa yang sedang perpikir)
SS-2
: Memilih jilbab yang terdiri dari 8 jilbab dengan jumlah jilbab saudi
lebih banyak daripada jilbab rawis
38
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
25
Pada proses incubation, mahasiswa akan berusaha menghimpun berbagai
informasi dan pengetahun yang dimiliki, termasuk pengalaman yang
pernah dialami yang relevan dengan situasi dan masalah yang dihadapi.
Hal tersebut merupakan sebagai proses menyusun strategi penyelesaian
untuk menjawab masalah sedang dihadapi tersebut.
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses incubation mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal sebagai
berikut.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang terdapat pada
TPM.
• Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah matematika.
c) Illumination
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa
berupa illumination dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa
mendapatkan sebuah pemecahan masalah yang diikuti dengan munculnya
inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi
dan gagasan baru. Berikut analisis data pada mahasiswa SS untuk kategori
illumination.
Pada proses illumination, mahasiswa SS mengidentifikasi informasi
yang relevan berdasarkan situai dan pengetahuan yang dimiliki. Proses
identifikasi tersebut yang nantinya akan sampai pada penemuan atribut
masalah atau hal-hal lain yang akan digunakan untuk mengajukan masalah
matematika diskrit berdasarkan situasi yang terdapat pada lembar TPM.
Setelah mahasiswa mengidentifikasi dan menentukan atribut yang relevan
dengan situasi tersebut, selanjutnya mahasiswa mengungkapkan secara
verbal masalah matematika diskrit yang diajukan.
P
: Berdasarkan situasi lembar situasi TPM, tunjukkan pengajuan
masalah yang anda buat ?
SS-2
: Sebuah tumpukan jilbab terdiri dari 10 jilbab saudi dan 6 jilbab
rawis. Berapa banyak cara memilih jilbab yang terdiri dari 8 jilbab
dengan jumlah jilbab saudi lebih banyak daripada jilbab rawis?
39
26
Proses Berpikir kreatif
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS diatas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses illumination mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk masalah
matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang diajukan.
d) verification
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
verification, dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa menguji
dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap realitas. Berikut
analisis data pada mahasiswa SS untuk kategori verification.
Pada proses verification, setiap kali mahasiswa SS selesai mengungkapkan
dan menuliskan masalah matematika yang sebelumnya diajukan secara
verbal, maka mahasiswa SS akan mengamati dan mengecek kembali
masalah yang telah diajukan. Mahasiswa SS mengungkapkan bahwa
masalah matematika yang telah diajukan dapat diselesaikan dengan
menggunakan metode fundamenal pencacahan. Dalam hal ini,mahasiswa
SSmenyelesaikan masalah matematika diskrit dengan menggunakan
kombinasi. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa SS terkait hal
tersebut.
P
: Berdasarkan pengajuan masalah matematika diskrit pada LJK, bisa
diselesaikan dengan cara apa?
SS-2
: Kombinasi
40
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
27
P
: Karena memilih jilbab yang terdiri 8 jilbab dengan jumlah jilbab
saudi lebih banyak daripada jilbab rawis. Bagaimana penyelesain
dengan kombinasi?
SS-2
: Saat memilih 7 jilbab saudi maka 1 jilbab rawis yang tepilih, Saat
memilih 6 jilbab saudi maka 2 jilbab rawis yang tepilih dan Saat
memilih 5 jilbab saudi maka 3 jilbab rawis yang tepilih.
P
: Yakin dengan jawabannya?
SS-2
: Yakin bu
P
: Coba diperiksa kembali lagi?
SS-2
: Oh iya bu, saat kita memilih 8 jilbab saudi maka tidak ada jilbab
rawis yang terpilih.
P
: Setelah itu langkah selanjutnya bagaimana?
SS-2
: Kombinasi jilbab saudi dikalikan dengan kombinasi jilbab rawis
selanjutnya dijumlahkan.
41
28
Proses Berpikir kreatif
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa SS di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses verification mahasiswa SS memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa mengoreksi masalah matematika diskrit yang
• telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah matematika
yang diajukan.
42
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
29
• Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika diskrit yang telah
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan
3.3. TRIANGULASI DATA
Setelah didapatkan hasil analisis data think aloud method dari
pengambilan data pertama dan kedua, selanjutnya dilakukan triangulasi
dengan membandingkan hasil pengambilan data pertama dengan hasil
pengambilan data kedua, sehingga diperoleh data yang sama atau valid.
Selanjutnya jika terdapat data yang berbeda maka akan direduksi. Adapun
hasil pengambilan data pertama dan pengambilan data kedua akan disajikan
sebagai berikut
a. mahasiswa SS
Hasil pengambilan data pertama dan pengambilan data kedua pada
mahasiswa SS dapat dilihat pada Tabel 3.1 sebagai berikut
43
30
Proses Berpikir kreatif
Tabel 3.1
Hasil Analisis Pengambilan Data Pertama dan Pengambilan Data Kedua pada
Mahasiswa SS
Langkah
wallas
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa pada Pengambilan
Data Pertama
Proses Berpikir Kreatif maha-
siswa Pada Pengambilan Data
Kedua
Prepara-
tion
• Mahasiswa membaca TPM
dalam hati.
• Mahasiswa mengamati in-
formasi dan petunjuk pada
TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-
hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan
hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dari TPM den-
gan lancar dan benar.
• Mahasiswa membaca TPM
dalam hati.
• Mahasiswa mengamati in-
formasi dan petunjuk pada
TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-
hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan
hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dari TPM den-
gan lancar dan benar.
Incuba-
tion
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan
maksud dari pertanyaan
yang terdapat pada TPM.
• Mahasiswa menyusun
rencana pengajuan masalah
matematika diskrit.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan
maksud dari pertanyaan
yang terdapat pada TPM.
• Mahasiswa menyusun
rencana pengajuan masalah
matematika diskrit.
44
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
31
Illumina-
tion
• Mahasiswa menentukan
atribut dan hal-hal lain
untuk masalah matematika
diskrit yang akan diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkap-
kan secara verbal masalah
matematika yang diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan
masalah matematika yang
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki
masalah jika terjadi kesala-
han pada masalah matema-
tika diskrit yang diajukan.
• Mahasiswa menentukan
atribut dan hal-hal lain
untuk masalah matematika
diskrit yang akan diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkap-
kan secara verbal masalah
matematika yang diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan
masalah matematika yang
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki
masalah jika terjadi kesala-
han pada masalah matema-
tika diskrit yang diajukan.
Verifica-
tion
• Mahasiswa mengoreksi
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan
prosedur penyelesaian
masalah matematika yang
diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan pada
LJK.
• Mahasiswa mengamati dan
mengecek kembali penyele-
saian yang telah diajukan
• Mahasiswa mengoreksi
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan
prosedur penyelesaian
masalah matematika yang
diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan pada
LJK.
• Mahasiswa mengamati dan
mengecek kembali penyele-
saian yang telah diajukan
45
32
Proses Berpikir kreatif
Kesimpulan proses berpikir kreatif yang valid untuk mahasiswa SS
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan antara
hasil pengambilan data pertama dengan hasil pengambilan data kedua.
Adanya kesamaan data pertama dan data kedua sehingga diperoleh data
proses berpikir kreatif dalam pengajuan masalah metamatika untuk ma-
hasiswa SS pada masing-masing kategori sebagai data yang valid, yaitu:
o Preparation
Pada proses ini, mahasiswa SS mengawali dengan membaca TPM dalam
hati, selanjutnya mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan
cermat, kemudian dilanjutkan mengetahui hal-hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM dan menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditan-
yakan dari TPM dengan lancar dan benar
o Incubation
Pada proses ini, Mahasiswa SS diam sejenak dan merenungkan maksud
dari pertanyaan yang terdapat pada TPM, selanjutnya menyusun rencana
pengajuan masalah matematika diskrit.
o Illumination
Pada proses ini, Mahasiswa SS menentukan atribut dan hal-hal lain untuk
masalah matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar. Dilanjut-
kan mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang diajukan
dengan lancar. Setelah itu Mahasiswa menuliskan masalah matematika
yang diajukan pada LJK. dan memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan
pada masalah matematika diskrit yang diajukan.
o Verification
Pada proses ini, Mahasiswa SS mengoreksi masalah matematika diskrit
yang telah diajukan. Selanjutnya menjelaskan prosedur penyelesaian
masalah matematika yang diajukan. Lalu mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit yang telah diajukan pada LJK dan setelah itu
mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan.
46
Pemberian TPM pertama dengan mahasiswa FN dilakukan pada hari
Rabu tanggal 13 September 2017 pada pukul 11.00 – 12.00 WIB. Selanjutnya
untuk mengkonfirmasi masalah yang diajukan mahasiswa FN, maka
dilakukan pengecekan dengan meminta mahasiswa untuk menyelesaikan
masalah yang telah diajukan pada pukul 12.30 – 13.50 WIB, dan pengambilan
data kedua dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 17 September 2017 pada
pukul 11.00 – 12.00 WIB yang diikuti oleh mahasiswa FN. Selanjutnya untuk
mengkonfirmasi masalah yang diajukan mahasiswa FN, maka dilakukan
pengecekan dengan meminta mahasiswa untuk menyelesaikan masalah
yang telah diajukan pada pukul 12.30 – 13.50 WIB. Berikut analisis data
proses berpikir kreatif mahasiswa FN dalam pengajuan masalah matematika
pada pemberian TPM pertama dan kedua.
4.1. PEmBERIAN TPm PERTAmA
a) Preparation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
preparation, dilakukan dengan melihat bagaimana respon mahasiswa ketika
diberi tugas pengajuan masalah dan bagaimana cara mahasiswa memahami
hal yang diketahui dan ditanyakan dari tugas tersebut. Berikut analisis data
pada mahasiswa FN untuk kategori preparation.
BAB 4
DESKRIPSI PROSES
BERPIKIR KREATIF
mAhASISWA yANG
mEmPUNyAI PRESTASI
SEDANG DALAm
PENGAjUAN mASALAh
mATEmATIKA DISKRIT
47
34
Proses Berpikir kreatif
Ketika diberikan TPM, mahasiswa FN terlihat antusias untuk mengikuti
proses wawancara. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa FN dengan langsung
membaca lembar TPM setelah lembar TPM tersebut diberikan. Mahasiswa
FN terlihat sangat mencermati TPM dengan membacanya dalam hati.
Selanjutnya mahasiswa mengamati petunjuk dan informasiuntuk
mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda pada lembar TPM dengan cermat. Berikut cuplikan wawancara
dengan mahasiswa FN terkait hal tersebut.
P
: Sudah siap ya, perhatikan instrumen berikut (sambil memegang
lembaR instrumen), anda nanti akan dihadapkan pada sebuah
situasi. Dan cermati secara seksama akan ada perintah dari lembar
instrumen ini (selanjutnya peneliti menyerahkan lembar tes kepada
mahasiswa).
FN-1
: Siap bu...
Selanjutnya (mahasiswa FN membaca dan mengamati TPM dalam hati)
P
: Sudah selesai membacanya?
FN-1
: Sudah bu
Setelah selesai membaca dan memperhatikan lembar TPM, selanjutnya
mahasiswa FN mengetahui situasi yang terdapat pada TPM, yaitu mahasiswa
diminta untuk mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan
syarat yang berbeda. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa FN
terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan situasi dalam TPM, apa yang anda ketahui?
FN-1
: Oh itu bu... (sambil memperhatikan lembar TPM)
Disuruh mengajukan pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat
yang berbeda
P
: Berkaitan dengan masalah apa pada lembar TPM itu?
FN-1
: Metode Fundamental pencacahan
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses preparation mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
48
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
35
• Mahasiswa membaca TPM dalam hati.
• Mahasiswa mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan
cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali membaca
TPM
• Mahasiswa menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari
TPM dengan lancar dan benar.
b) Incubation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
incubation, dilakukan dengan melihat bagaimana awal proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
dari daerah pra sadar mahasiswa. Berikut analisis data pada mahasiswa FN
untuk kategori incubation.
Dalam menemukan inspirasi atau solusi penyelesaian dari situasi
yang diberikan, mahasiswa FN melakukannya dengan memikirkan
atau merenungkan maksud dari pertanyaan pada lembar TPM, dimana
mahasiswa diminta untuk mengajukan mengajukan soal/pertanyaan
lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda. Setelah mahasiswa
memahami maksud dari pertanyaan tersebut, selanjutnya mahasiswa FN
mulai mengidentifikasi kemungkinan adanya solusi penyelesaian berupa
masalah matematika diskrit yang dapat diajukan berdasarkan TPM dan
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki. Ketika proses identifikasi
tersebut, mahasiswa FN cenderung diam untuk beberapa saat. Hal ini
sebagai upaya memberikan kesempatan kepada pikiran untuk menemukan
solusi penyelesaian dari situasi dan pertanyaan yang diberikan. Berikut
cuplikan wawancara dengan mahasiswa FN terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan lembar TPM, kira-kira masalah apa yang anda mau
diajukan?
FN-1
: (Mahasiswa diam sejenak sambil mencermati lembar TPM)
P
: Ayo, kira-kira masalah apa yang akan anda mau ajukan?
FN-1
: Itu bu.. memilih 3 sepasang sepatu yang akan sering digunakan.
Pada proses incubation, mahasiswa akan berusaha menghimpun berbagai
informasi dan pengetahun yang dimiliki, termasuk pengalaman yang
pernah dialami yang relevan dengan situasi dan masalah yang dihadapi.
49
36
Proses Berpikir kreatif
Hal tersebut merupakan sebagai proses menyusun strategi penyelesaian
untuk menjawab masalah sedang dihadapi tersebut.
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses incubation mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang terdapat pada
TPM.
• Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah matematika.
c) Illumination
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa
berupa illumination dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa
mendapatkan sebuah pemecahan masalah yang diikuti dengan munculnya
inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi
dan gagasan baru. Berikut analisis data pada mahasiswa FN untuk kategori
illumination.
Pada proses illumination, mahasiswa FN mengidentifikasi informasi
yang relevan berdasarkan situai dan pengetahuan yang dimiliki. Proses
identifikasi tersebut yang nantinya akan sampai pada penemuan atribut
masalah atau hal-hal lain yang akan digunakan untuk mengajukan masalah
matematika diskrit berdasarkan situasi yang terdapat pada lembar TPM.
Setelah mahasiswa mengidentifikasi dan menentukan atribut yang relevan
dengan situasi tersebut, selanjutnya mahasiswa mengungkapkan secara
verbal masalah matematika diskrit yang diajukan.
P
: Tunjukkan pada ibu pengajuan masalah yang anda buat
berdasarkan situasi lembar situasi TPM?
FN-1
: Di dalam sebuah kamar Tina terdapat 9 pasang sepatu Cat dan 3
pasang sepatu pantofel. Berapa banyak cara Tina memilih 3 pasang
sepatu yang akan sering digunakan dengan jumlah sepatu cat lebih
banyak dari pada sepatu pantofel?
P
: Coba perhatikan lagi pengajuan masalah yang anda buat, berapa
sepatu cat? (menegaskan pengajuan masalah yang dibuat mahasiswa FN)
FN-1
: Iya bu (sambil mengangguk)
50
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
37
P
: Sepatu Kets penulisan yang benar. Sekarang perbaiki pengajuan
masalah yang anda buat pada LJK
FN-1
: Iya bu (sambil memperbaiki pengajuan masalah matematika diskrit pada
LJK)
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN diatas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses illumination mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk masalah
matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang diajukan.
d) verification
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
verification, dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa menguji
dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap realitas. Berikut
analisis data pada mahasiswa FN untuk kategori verification.
Pada proses verification, setiap kali mahasiswa FN selesai mengungkapkan
dan menuliskan masalah matematika yang sebelumnya diajukan secara
verbal, maka mahasiswa FN akan mengamati dan mengecek kembali
masalah yang telah diajukan. Mahasiswa FN mengungkapkan bahwa
masalah matematika yang telah diajukan dapat diselesaikan dengan
menggunakan metode fundamenal pencacahan. Dalam hal ini,mahasiswa
FNmenyelesaikan masalah matematika diskrit dengan menggunakan
kombinasi. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa FN terkait hal
tersebut.
51
38
Proses Berpikir kreatif
P
: Pengajuan masalah matematika diskrit yang anda buat pada LJK,
bisa diselesaikan dengan cara apa?
FN-1
: Kombinasi bu
P
: Karena memilih 3 pasang sepatu dengan jumlah sepatu kets lebih
banyak daripada sepatu pantofel. Bagaimana penyelesaiannya
dengan kombinasi?
FN-1
: Saat lebih sering menggunakan 2 sepatu kets maka sepatu pantoefel
hanya 1 sepatu yang digunakan.
P
: Yakin dengan jawabanya?
FN-1
: Yakin bu
P
: Coba apa tidak terlintas saat ketiganya sepatu kets yang sering
digunakan?
FN-1
: Em...(sambil mencermati lagi LJKnya) Iya bu, saat lebih sering
menggunakan 3 sepatu kets maka sepatu pantofel tidak digunakan.
P
: Setelah itu langkah selanjutnya bagaimana?
FN-1
: Kombinasi kets dikalikan dengan kombinasi pantofel lanjut
dijumlahkan ibu
P
: Yakin dengan jawabannya?
FN-1
: Yakin bu (sambil memperbaiki LJK)
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses verification mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa mengoreksi masalah matematika diskrit yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah matematika
yang diajukan.
52
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
39
• Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika diskrit yang telah
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum teliti.
4.2. PEmBERIAN TPm KEDUA
a) Preparation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
preparation, dilakukan dengan melihat bagaimana respon mahasiswa ketika
diberi tugas pengajuan masalah dan bagaimana cara mahasiswa memahami
hal yang diketahui dan ditanyakan dari tugas tersebut. Berikut analisis data
pada mahasiswa FN untuk kategori preparation.
Ketika diberikan TPM, mahasiswa FN terlihat antusias untuk mengikuti
proses wawancara. Hal ini dilakukan oleh mahasiswa FN dengan langsung
membaca lembar TPM setelah lembar TPM tersebut diberikan. Mahasiswa
FN terlihat sangat mencermati TPM dengan membacanya dalam hati.
Selanjutnya mahasiswa mengamati petunjuk dan informasiuntuk
mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda pada lembar TPM dengan cermat. Berikut cuplikan wawancara
dengan mahasiswa FN terkait hal tersebut.
P
: Sudah siap ya, untuk TPM kedua?
FN-2
: Siap ibu
P
: Perhatikan dan cermati situasi pada lembar instrumen berikut.
FN-2
: (Mahasiswa FN membaca dan mengamati TPM dalam hati)
P
: Sudah?
FN-2
: (Mengangguk)
Setelah selesai membaca dan memperhatikan lembar TPM, selanjutnya
mahasiswa FN mengetahui situasi yang terdapat pada TPM, yaitu mahasiswa
diminta untuk mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan
syarat yang berbeda. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa FN
terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan situasi dalam TPM, apa yang anda ketahui?
FN-2
: Mengajukan pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda.
53
40
Proses Berpikir kreatif
P
: Berkaitan dengan masalah apa pada lembar TPM itu?
FN-2
: Metode Fundamental pencacahan
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses preparation mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa membaca TPM dalam hati.
• Mahasiswa mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali membaca
TPM
• Mahasiswa menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari
TPM dengan lancar dan benar.
b) Incubation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
incubation, dilakukan dengan melihat bagaimana awal proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
dari daerah pra sadar mahasiswa. Berikut analisis data pada mahasiswa FN
untuk kategori incubation.
Dalam menemukan inspirasi atau solusi penyelesaian dari situasi
yang diberikan, mahasiswa FN melakukannya dengan memikirkan
atau merenungkan maksud dari pertanyaan pada lembar TPM, dimana
mahasiswa diminta untuk mengajukan mengajukan soal/pertanyaan
lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda. Setelah mahasiswa
memahami maksud dari pertanyaan tersebut, selanjutnya mahasiswa FN
mulai mengidentifikasi kemungkinan adanya solusi penyelesaian berupa
masalah matematika diskrit yang dapat diajukan berdasarkan TPM dan
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki. Ketika proses identifikasi
tersebut, mahasiswa FN cenderung diam untuk beberapa saat. Hal ini
sebagai upaya memberikan kesempatan kepada pikiran untuk menemukan
solusi penyelesaian dari situasi dan pertanyaan yang diberikan. Berikut
cuplikan wawancara dengan mahasiswa FN terkait hal tersebut.
P
: Masalah apa yang anda mau ajukan berdasarkan lembar TPM ?
FN-2
: (Mahasiswa sedang bepikir serta mencermati lembar TPM)
P
: Permasalahan apa? (kembali menegaskan kepada mahasiswa)
54
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
41
FN-2
: Pengambilan bola yang terdiri dari 6 bola dengan jumlah bola biru
lebih banyak daripada bola merah.
Pada proses incubation, mahasiswa akan berusaha menghimpun berbagai
informasi dan pengetahun yang dimiliki, termasuk pengalaman yang
pernah dialami yang relevan dengan situasi dan masalah yang dihadapi.
Hal tersebut merupakan sebagai proses menyusun strategi penyelesaian
untuk menjawab masalah sedang dihadapi tersebut.
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses incubation mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang terdapat pada
TPM.
• Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah matematika.
c) Illumination
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
illumination dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa mendapatkan
sebuah pemecahan masalah yang diikuti dengan munculnya inspirasi dan ide-
ide yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi dan gagasan baru.
Berikut analisis data pada mahasiswa FN untuk kategori illumination.
Pada proses illumination, mahasiswa FN mengidentifikasi informasi
yang relevan berdasarkan situai dan pengetahuan yang dimiliki. Proses
identifikasi tersebut yang nantinya akan sampai pada penemuan atribut
masalah atau hal-hal lain yang akan digunakan untuk mengajukan masalah
matematika diskrit berdasarkan situasi yang terdapat pada lembar TPM.
Setelah mahasiswa mengidentifikasi dan menentukan atribut yang relevan
dengan situasi tersebut, selanjutnya mahasiswa mengungkapkan secara
verbal masalah matematika diskrit yang diajukan.
P
: Tunjukkan pada ibu pengajuan masalah yang anda buat berdasar-
kan situasi lembar situasi TPM?
FN-2
: Di dalam sebuah kotak terdapat 10 bola merah dan 12 biru. Berapa
ba nyak cara pengambilan bola yang terdiri dari 6 bola dengan
jumlah bola biru lebih banyak daripada bola merah
55
42
Proses Berpikir kreatif
P
: Pengajuan masalah sudah dituliskan pada LJK
FN-2
: Sudah bu
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN diatas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses illumination mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk masalah
matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang diajukan.
d) verification
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
verification, dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa menguji
dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap realitas. Berikut
analisis data pada mahasiswa FN untuk kategori verification.
Pada proses verification, setiap kali mahasiswa FN selesai mengungkapkan
dan menuliskan masalah matematika yang sebelumnya diajukan secara verbal,
maka mahasiswa FN akan mengamati dan mengecek kembali masalah yang telah
diajukan. Mahasiswa FN mengungkapkan bahwa masalah matematika yang
telah diajukan dapat diselesaikan dengan menggunakan metode fundamenal
pencacahan. Dalam hal ini,mahasiswa FNmenyelesaikan masalah matematika
diskrit dengan menggunakan kombinasi. Berikut cuplikan wawancara dengan
mahasiswa FN terkait hal tersebut.
P
: Pengajuan masalah matematika diskrit yang anda buat pada LJK,
bisa diselesaikan dengan cara apa?
FN-2
: Kombinasi
P
: Karena mengambil bola yang yang terdiri dari 6 bola dengan
56
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
43
jumlah bola biru lebih banyak daripada bola merah. Bagaimana
penyelesaiannya dengan kombinasi?
FN-2
: Saat mengambil 5 bola biru, maka bola merah terambil 1, saat
mengambil 4 bola biru, maka bola merah terambil 2
P
: Coba diperiksa kembali?
FN-2
: Iya bu...ada
P
: coba sebutkan!
FN-2
: Saat mengambil 6 bola biru, maka bola merah tidak terambil
P
: Setelah itu langkah selanjutnya bagaimana?
FN-2
: Kombinasi bola warna biru dikalikan dengan kombinasi bola
warna merah lalu dijumlahkan
P : Yakin dengan jawabannya?
FN-2
: Yakin bu (sambil memperbaiki LJK)
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa FN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses verification mahasiswa FN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa mengoreksi masalah matematika diskrit yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah matematika
yang diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika diskrit
• yang telah diajukan pada LJK.
57
44
Proses Berpikir kreatif
• Mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum teliti.
4.3. TRIANGULASI DATA
Setelah didapatkan hasil analisis data think aloud method dari pengambilan
data pertama dan kedua, selanjutnya dilakukan triangulasi dengan
membandingkan hasil pengambilan data pertama dengan hasil pengambilan
data kedua, sehingga diperoleh data yang sama atau valid. Selanjutnya jika
terdapat data yang berbeda maka akan direduksi. Adapun hasil pengambilan
data pertama dan pengambilan data kedua akan disajikan sebagai berikut
a. mahasiswa FN
Hasil pengambilan data pertama dan pengambilan data kedua pada
mahasiswa FN dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut
Tabel 4.1
Hasil Analisis Pengambilan Data Pertama dan
Pengambilan Data Kedua pada Mahasiswa FN
Lang-
kah
wallas
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa pada Pengambilan
Data Pertama
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa Pada Pengambilan
Data Kedua
Prepa-
ration
• Mahasiswa membaca TPM
dalam hati.
• Mahasiswa mengamati in-
formasi dan petunjuk pada
TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-
hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan
hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dari TPM den-
gan lancar dan benar.
• Mahasiswa membaca TPM
dalam hati.
• Mahasiswa mengamati in-
formasi dan petunjuk pada
TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-
hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan
hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dari TPM den-
gan lancar dan benar.
58
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
45
Lang-
kah
wallas
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa pada Pengambilan
Data Pertama
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa Pada Pengambilan
Data Kedua
Incu-
bation
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan
maksud dari pertanyaan
yang terdapat pada TPM.
• Mahasiswa menyusun
rencana pengajuan masalah
matematika.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan
maksud dari pertanyaan
yang terdapat pada TPM.
• Mahasiswa menyusun
rencana pengajuan masalah
matematika.
Illumi-
nation
• Mahasiswa menentukan
atribut dan hal-hal lain
untuk masalah matematika
diskrit yang akan diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkap-
kan secara verbal masalah
matematika yang diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan
masalah matematika yang
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki
masalah jika terjadi kesala-
han pada masalah matema-
tika diskrit yang diajukan.
• Mahasiswa menentukan
atribut dan hal-hal lain
untuk masalah matematika
diskrit yang akan diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkap-
kan secara verbal masalah
matematika yang diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan
masalah matematika yang
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki
masalah jika terjadi kesala-
han pada masalah matema-
tika diskrit yang diajukan
59
46
Proses Berpikir kreatif
Lang-
kah
wallas
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa pada Pengambilan
Data Pertama
Proses Berpikir Kreatif ma-
hasiswa Pada Pengambilan
Data Kedua
Verifi-
cation
• Mahasiswa mengoreksi
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan
prosedur penyelesaian
masalah matematika yang
diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan pada
LJK.
• Mahasiswa mengamati dan
mengecek kembali penyele-
saian yang telah diajukan,
akan tetapi belum teliti
• Mahasiswa mengoreksi
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan
prosedur penyelesaian
masalah matematika yang
diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan pada
LJK.
• Mahasiswa mengamati dan
mengecek kembali penyele-
saian yang telah diajukan,
akan tetapi belum teliti
60
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
47
Kesimpulan proses berpikir kreatif yang valid untuk mahasiswa FN
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan
antara hasil pengambilan data pertama dengan hasil pengambilan data
kedua. Adanya kesamaan data pertama dan data kedua sehingga diper-
oleh data proses berpikir kreatif dalam pengajuan masalah metamatika
untuk mahasiswa FN pada masing-masing kategori sebagai data yang
valid, yaitu:
o Preparation
Pada proses ini, mahasiswa FN mengawali dengan membaca TPM
dalam hati, selanjutnya mengamati informasi dan petunjuk pada TPM
dengan cermat, kemudian dilanjutkan mengetahui hal-hal yang diketa-
hui dengan sekali membaca TPM dan menyebutkan hal-hal yang diketa-
hui dan ditanyakan dari TPM dengan lancar dan benar
o Incubation
Pada proses ini, Mahasiswa FN diam sejenak dan merenungkan maksud
dari pertanyaan yang terdapat pada TPM, selanjutnya menyusun ren-
cana pengajuan masalah matematika diskrit.
o Illumination
Pada proses ini, Mahasiswa FN menentukan atribut dan hal-hal lain
untuk masalah matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
Dilanjutkan mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar. Setelah itu Mahasiswa menuliskan masalah
matematika yang diajukan pada LJK. dan memperbaiki masalah jika
terjadi kesalahan pada masalah matematika diskrit yang diajukan.
o Verification
Pada proses ini, Mahasiswa FN mengoreksi masalah matematika diskrit
yang telah diajukan. Selanjutnya menjelaskan prosedur penyelesaian
masalah matematika yang diajukan. Lalu mahasiswa menyelesaikan ma-
salah matematika diskrit yang telah diajukan pada LJK dan setelah itu
mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum teliti.
61
Pemberian TPM pertama dengan mahasiswa HN dilakukan pada hari
Rabu tanggal 13 September 2017 pada pukul 14.30 – 15.30 WIB. Selanjutnya
untuk mengkonfirmasi masalah yang diajukan mahasiswa HN, maka
dilakukan pengecekan dengan meminta mahasiswa untuk menyelesaikan
masalah yang telah diajukan pada pukul 16.00 – 16.20 WIB, dan pengambilan
data kedua dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 17 September 2017 pada
pukul 14.30 – 15.30 WIB yang diikuti oleh mahasiswa HN. Selanjutnya untuk
mengkonfirmasi masalah yang diajukan mahasiswa HN, maka dilakukan
pengecekan dengan meminta mahasiswa untuk menyelesaikan masalah
yang telah diajukan pada pukul 16.00 – 16.20 WIB. Berikut analisis data proses
berpikir kreatif mahasiswa HN dalam pengajuan masalah matematika pada
pemberian TPM pertama dan kedua.
5.1. PEmBERIAN TPm PERTAmA
a) Preparation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
preparation, dilakukan dengan melihat bagaimana respon mahasiswa ketika
diberi tugas pengajuan masalah dan bagaimana cara mahasiswa memahami
hal yang diketahui dan ditanyakan dari tugas tersebut. Berikut analisis data
pada mahasiswa HN untuk kategori preparation.
BAB 5
DESKRIPSI PROSES BERPIKIR
KREATIF mAhASISWA
yANG mEmPUNyAI
PRESTASI SEDANG DALAm
PENGAjUAN mASALAh
mATEmATIKA DISKRIT
62
50
Proses Berpikir kreatif
Ketika diberikan TPM, mahasiswa HN terlihat sedikit cemas untuk
mengikuti proses wawancara. Setelah peneliti memberi motivasi, mahasiswa
HN mulai membaca lembar TPM yang telah diberikan peneliti. Mahasiswa
HN mulai mencermati TPM dengan membacanya dalam hati. Selanjutnya
mahasiswa mengamati petunjuk dan informasiuntuk mengajukan soal/
pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda pada lembar
TPM dengan cermat. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa HN
terkait hal tersebut.
P
: Sudah siap ya?
HN-1
: Bu, saya belajar dulu ya.. (dengan wajah sedikit cemas)
P
: (Mencoba menenangkan mahasiswa FN). Sekarang perhatikan
instrumen berikut (sambil memegang lembar instrumen), anda nanti
akan dihadapkan pada sebuah situasi. Dan cermati secara seksama
akan ada perintah dari lembar instrumen ini (selanjutnya peneliti
menyerahkan lembar tes kepada mahasiswa).
HN-1 : Iya bu (dengan wajah mulai tenang)
P
: Silahkan dibaca dulu ya..
HN-1 : (Mahasiswa HN membaca dan mengamati TPM dalam hati)
P
: Sudah selesai?
HN-1 : (Mengangukkan kepala)
Setelah selesai membaca dan memperhatikan lembar TPM, selanjutnya
mahasiswa HN mengetahui situasi yang terdapat pada TPM, yaitu
mahasiswa diminta untuk mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama,
tetapi dengan syarat yang berbeda. Berikut cuplikan wawancara dengan
mahasiswa HN terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan situasi dalam TPM, apa yang anda ketahui?
HN-1
: (Terdiam sebentar)
P
: (Memperhatikan mahasiswa)
HN-1
: Mengajukan pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda
P
: Berkaitan dengan masalah apa pada lembar TPM itu?
HN-1 : Kombinasi bu
P
: Kombinasi itu masuk materi apa ya?
HN-1 : Metode Fundamental pencacahan
63
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
51
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses preparation mahasiswa HN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa membaca TPM dalam hati, pada langkah ini mahasiswa terlihat
sedikit cemas.
• Mahasiswa mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari TPM
dengan lancar dan benar.
b) Incubation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
incubation, dilakukan dengan melihat bagaimana awal proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
dari daerah pra sadar mahasiswa. Berikut analisis data pada mahasiswa HN
untuk kategori incubation.
Dalam menemukan inspirasi atau solusi penyelesaian dari situasi
yang diberikan, mahasiswa HN melakukannya dengan memikirkan
atau merenungkan maksud dari pertanyaan pada lembar TPM, dimana
mahasiswa diminta untuk mengajukan mengajukan soal/pertanyaan
lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda. Setelah mahasiswa
memahami maksud dari pertanyaan tersebut, selanjutnya mahasiswa HN
mulai mengidentifikasi kemungkinan adanya solusi penyelesaian berupa
masalah matematika diskrit yang dapat diajukan berdasarkan TPM dan
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki. Ketika proses identifikasi
tersebut, mahasiswa HN cenderung diam untuk beberapa saat. Hal ini
sebagai upaya memberikan kesempatan kepada pikiran untuk menemukan
solusi penyelesaian dari situasi dan pertanyaan yang diberikan. Berikut
cuplikan wawancara dengan mahasiswa HN terkait hal tersebut.
P
: Berdasarkan lembar TPM, kira-kira masalah apa yang anda mau
diajukan?
HN-1
: (Mahasiswa diam sejenak sambil mencermati lembar TPM)
P
: Kira-kira masalah apa yang akan anda mau ajukan?
HN-1
: Memilih tempat parkir yang terdiri 6 mobil dengan jumlah mobil
kijang lebih banyak dari pada mobil avanza
64
52
Proses Berpikir kreatif
Pada proses incubation, mahasiswa akan berusaha menghimpun berbagai
informasi dan pengetahun yang dimiliki, termasuk pengalaman yang
pernah dialami yang relevan dengan situasi dan masalah yang dihadapi.
Hal tersebut merupakan sebagai proses menyusun strategi penyelesaian
untuk menjawab masalah sedang dihadapi tersebut.
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN di atas, dapat
disimpulkan bahwa pada proses incubation mahasiswa HN memperlihatkan
hal-hal sebagai berikut.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang terdapat pada
TPM.
• Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah matematika.
c) Illumination
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa
berupa illumination dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa
mendapatkan sebuah pemecahan masalah yang diikuti dengan munculnya
inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi
dan gagasan baru. Berikut analisis data pada mahasiswa HN untuk kategori
illumination.
Pada proses illumination, mahasiswa HN mengidentifikasi informasi
yang relevan berdasarkan situai dan pengetahuan yang dimiliki. Proses
identifikasi tersebut yang nantinya akan sampai pada penemuan atribut
masalah atau hal-hal lain yang akan digunakan untuk mengajukan masalah
matematika diskrit berdasarkan situasi yang terdapat pada lembar TPM.
Setelah mahasiswa mengidentifikasi dan menentukan atribut yang relevan
dengan situasi tersebut, selanjutnya mahasiswa mengungkapkan secara
verbal masalah matematika diskrit yang diajukan.
P
: Berdasarkan situasi lembar TPM, tunjukkan pada ibu pengajuan
masalah yang anda buat?
HN-1
: Di dalam parkiran terdapat 8 mobil Avanza dan 10 mobil kijang.
Beberapa banyak cara untuk memilih tempat parkir yang terdiri 6
mobil dengan jumlah mobil kijang lebih banyak daripada avanza.
P
: Coba perhatikan lagi pengajuan masalah yang anda buat, beberapa
65
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
53
banyak cara untuk memilih tempat parkir? (menegaskan pengajuan
masalah yang dibuat mahasiswa HN)
HN-1
: Berapa bu (sambil tersenyum)
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN diatas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses illumination mahasiswa HN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk masalah
matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang diajukan.
d) verification
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
verification, dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa menguji
dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap realitas. Berikut
analisis data pada mahasiswa HN untuk kategori verification.
Pada
proses
verification,
setiap
kali
mahasiswa
HN
selesai
mengungkapkan dan menuliskan masalah matematika yang sebelumnya
diajukan secara verbal, maka mahasiswa HN akan mengamati dan mengecek
kembali masalah yang telah diajukan. Mahasiswa HN mengungkapkan
bahwa masalah matematika yang telah diajukan dapat diselesaikan dengan
menggunakan metode fundamenal pencacahan. Dalam hal ini,mahasiswa
HNmenyelesaikan masalah matematika diskrit dengan menggunakan
kombinasi. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa HN terkait hal
tersebut.
P
: Pengajuan masalah matematika diskrit yang anda buat pada LJK,
bisa diselesaikan dengan cara apa?
66
54
Proses Berpikir kreatif
HN-1 : Emm.. Kombinasi bu
P
: Karena memilih tempat parkir yang terdiri 6 mobil dengan
jumlah mobil kijang lebih banyak dari pada avanza. Bagaimana
penyelesaiannya dengan kombinasi?
HN-1 : Saat memilih tempat parkir terdiri 5 mobil kijang maka 1 mobil
avanza yang terparkir.
P
: Yakin dengan jawabannya?
HN-1 : yakin bu
P
: Hanya itu saja cara untuk memilih tempat parkir lebih banyak
mobil kijang daripada mobil avanza ?
HN-1 : (Mencermati kembali LJK nya)
P
: Apa tidak terlintas tempat parkir yang terdiri 4 mobil kijang dan 2
mobil avanza dan semua parkir terisi mobil kijang semua.
HN-1 : Hehehe iya bu
P
: Setelah itu langkah selanjutnya bagaimana?
HN-1 : Kombinasi kijang dikalikan dengan kombinasi avanza lanjut
dijumlahkan ibu
P
: Tuliskan jawaban anda pada LJK
HN-1 : Iya bu
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses verification mahasiswa HN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
67
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
55
• Mahasiswa mengoreksi masalah matematika diskrit yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah matematika
yang diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika diskrit yang telah
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum teliti.
5.2. PEmBERIAN TPm KEDUA
a) Preparation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
preparation, dilakukan dengan melihat bagaimana respon mahasiswa ketika
diberi tugas pengajuan masalah dan bagaimana cara mahasiswa memahami
hal yang diketahui dan ditanyakan dari tugas tersebut. Berikut analisis data
pada mahasiswa HN untuk kategori preparation.
Ketika diberikan TPM, mahasiswa HN terlihat sedikit cemas untuk
mengikuti proses wawancara. Setelah peneliti membuat suasana rileks,
mahasiswa HN mulai membaca lembar TPM yang telah diberikan peneliti.
Mahasiswa HN mulai mencermati TPM dengan membacanya dalam
hati. Selanjutnya mahasiswa mengamati petunjuk dan informasiuntuk
mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda pada lembar TPM dengan cermat. Berikut cuplikan wawancara
dengan mahasiswa HN terkait hal tersebut.
P
: Sudah siap ya untuk mendapatkan TPM ke dua
HN-2
: (Tersenyum dengan sedikit cemas)
P
: Cermati secara seksama lembar intrumen berikut, anda nanti
akan dihadapkan pada sebuah situasi dan perintah dari lembar
instrumen ini (selanjutnya peneliti menyerahkan lembar tes kepada
mahasiswa).
HN-2 : (Mahasiswa HN membaca dan mengamati TPM dalam hati)
P
: Sudah selesai membacanya?
HN-2 : Sudah bu
Setelah selesai membaca dan memperhatikan lembar TPM, selanjutnya
mahasiswa HN mengetahui situasi yang terdapat pada TPM, yaitu
68
56
Proses Berpikir kreatif
mahasiswa diminta untuk mengajukan soal/pertanyaan lain yang sama,
tetapi dengan syarat yang berbeda. Berikut cuplikan wawancara dengan
mahasiswa HN terkait hal tersebut.
P
: Coba anda perhatikan situasi dalam TPM, apa yang anda ketahui?
HN-2 : Mengajukan pertanyaan lain yang sama, tetapi dengan syarat yang
berbeda
P
: Berkaitan dengan masalah apa pada lembar TPM itu?
HN-2 : Metode Fundamental pencacahan
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN di atas, dapat
disimpulkan bahwa pada proses preparation mahasiswa HN memperlihatkan
hal-hal sebagai berikut.
• Mahasiswa membaca TPM dalam hati, pada langkah ini mahasiswa
terlihat sedikit cemas.
• Mahasiswa mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan
cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali membaca
TPM
• Mahasiswa menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan dari
TPM dengan lancar dan benar.
b) Incubation
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
incubation, dilakukan dengan melihat bagaimana awal proses timbulnya
inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru
dari daerah pra sadar mahasiswa. Berikut analisis data pada mahasiswa HN
untuk kategori incubation.
Dalam menemukan inspirasi atau solusi penyelesaian dari situasi
yang diberikan, mahasiswa HN melakukannya dengan memikirkan
atau merenungkan maksud dari pertanyaan pada lembar TPM, dimana
mahasiswa diminta untuk mengajukan mengajukan soal/pertanyaan
lain yang sama, tetapi dengan syarat yang berbeda. Setelah mahasiswa
memahami maksud dari pertanyaan tersebut, selanjutnya mahasiswa HN
mulai mengidentifikasi kemungkinan adanya solusi penyelesaian berupa
masalah matematika diskrit yang dapat diajukan berdasarkan TPM dan
69
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
57
pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki. Ketika proses identifikasi
tersebut, mahasiswa HN cenderung diam untuk beberapa saat. Hal ini
sebagai upaya memberikan kesempatan kepada pikiran untuk menemukan
solusi penyelesaian dari situasi dan pertanyaan yang diberikan. Berikut
cuplikan wawancara dengan mahasiswa HN terkait hal tersebut.
P : Berdasarkan lembar TPM, masalah apa yang anda mau ajukan?
HN-2
: (Mahasiswa diam sejenak sambil mencermati lembar TPM)
P : Kira-kira masalah apa yang akan anda mau ajukan?
HN-2
: Memilih 3 buah dengan jumlah apel lebih banyak dari pada jeruk.
Pada proses incubation, mahasiswa akan berusaha menghimpun berbagai
informasi dan pengetahun yang dimiliki, termasuk pengalaman yang
pernah dialami yang relevan dengan situasi dan masalah yang dihadapi.
Hal tersebut merupakan sebagai proses menyusun strategi penyelesaian
untuk menjawab masalah sedang dihadapi tersebut.
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN di atas, dapat
disimpulkan bahwa pada proses incubation mahasiswa HN memperlihatkan
hal-hal sebagai berikut.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan maksud dari pertanyaan yang terdapat pada
TPM.
• Mahasiswa menyusun rencana pengajuan masalah matematika.
c) Illumination
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa
berupa illumination dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa
mendapatkan sebuah pemecahan masalah yang diikuti dengan munculnya
inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi
dan gagasan baru. Berikut analisis data pada mahasiswa HN untuk kategori
illumination.
Pada proses illumination, mahasiswa HN mengidentifikasi informasi
yang relevan berdasarkan situai dan pengetahuan yang dimiliki. Proses
identifikasi tersebut yang nantinya akan sampai pada penemuan atribut
masalah atau hal-hal lain yang akan digunakan untuk mengajukan masalah
matematika diskrit berdasarkan situasi yang terdapat pada lembar TPM.
70
58
Proses Berpikir kreatif
Setelah mahasiswa mengidentifikasi dan menentukan atribut yang relevan
dengan situasi tersebut, selanjutnya mahasiswa mengungkapkan secara
verbal masalah matematika diskrit yang diajukan.
P
: Berdasarkan situasi lembar TPM, tunjukkan pada ibu pengajuan
masalah yang anda buat?
HN-2
: Ana mempunyai 5 apel dan 7 jeruk. Dia akan memberikan kepada
adiknya sebanyak 3 buah. Berapa banyak cara Ana memilih 3 buah
dengan jumlah apel lebih banyak daripada jeruk?
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN diatas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses illumination mahasiswa HN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
• Mahasiswa menentukan atribut dan hal-hal lain untuk masalah
matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan masalah matematika yang diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki masalah jika terjadi kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang diajukan.
d) verification
Untuk mengetahui bagaimana proses berpikir kreatif mahasiswa berupa
verification, dilakukan dengan melihat bagaimana cara mahasiswa menguji
dan memeriksa pemecahan masalah tersebut terhadap realitas. Berikut
analisis data pada mahasiswa HN untuk kategori verification.
Pada
proses
verification,
setiap
kali
mahasiswa
HN
selesai
mengungkapkan dan menuliskan masalah matematika yang sebelumnya
diajukan secara verbal, maka mahasiswa HN akan mengamati dan mengecek
kembali masalah yang telah diajukan. Mahasiswa HN mengungkapkan
71
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
59
bahwa masalah matematika yang telah diajukan dapat diselesaikan dengan
menggunakan metode fundamenal pencacahan. Dalam hal ini,mahasiswa
HNmenyelesaikan masalah matematika diskrit dengan menggunakan
kombinasi. Berikut cuplikan wawancara dengan mahasiswa FN terkait hal
tersebut.
P
: Berdasarkan pengajuan masalah matematika diskrit yang anda
buat pada LJK, bisa diselesaikan dengan cara apa?
HN-2 : Kombinasi
P
: Karena memilih 3 buah dengan jumlah apel lebih banyak dari pada
jeruk. Bagaimana penyelesaiannya dengan kombinasi?
HN-2 : Saat memilih 2 buah dengan apel maka buah jeruk yang terpilih 1
P
: Yakin dengan jawabannya?
HN-2 : yakin bu
P
: Coba diperiksa kembali LJK nya?
HN-2 : Iya bu, saat memilih 3 buah dengan apel maka buah jeruk tidak
terpilih
P
: Setelah itu langkah selanjutnya bagaimana?
HN-2 : Hasil dari Kombinasi buah apel dikalikan dengan kombinasi buah
jeruk lanjut dijumlahkan ibu
Berdasarkan analisis data pada mahasiswa HN di atas, dapat disimpulkan
bahwa pada proses verification mahasiswa HN memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut.
72
60
Proses Berpikir kreatif
• Mahasiswa mengoreksi masalah matematika diskrit yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan prosedur penyelesaian masalah matematika
yang diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan masalah matematika diskrit yang telah
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum teliti.
5.3. TRIANGULASI DATA
Setelah didapatkan hasil analisis data think aloud method dari
pengambilan data pertama dan kedua, selanjutnya dilakukan triangulasi
dengan membandingkan hasil pengambilan data pertama dengan hasil
pengambilan data kedua, sehingga diperoleh data yang sama atau valid.
Selanjutnya jika terdapat data yang berbeda maka akan direduksi. Adapun
hasil pengambilan data pertama dan pengambilan data kedua akan disajikan
sebagai berikut
a. mahasiswa hN
Hasil pengambilan data pertama dan pengambilan data kedua pada
mahasiswa HN dapat dilihat pada Tabel 5.1sebagai berikut
73
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
61
Tabel 5.1
Hasil Analisis Pengambilan Data Pertama dan Pengambilan Data
Kedua pada Mahasiswa HN
Lang-
kah
wallas
Proses Berpikir Kreatif
mahasiswa pada
Pengambilan Data Pertama
Proses Berpikir Kreatif
mahasiswa Pada
Pengambilan Data Kedua
Prepa-
ration
• Mahasiswa membaca TPM
dalam hati, pada langkah ini
mahasiswa terlihat sedikit
cemas.
• Mahasiswa mengamati
informasi dan petunjuk pada
TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-
hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan
hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dari TPM dengan
lancar dan benar.
• Mahasiswa membaca TPM
dalam hati, pada langkah ini
mahasiswa terlihat sedikit
cemas
• Mahasiswa mengamati
informasi dan petunjuk pada
TPM dengan cermat.
• Mahasiswa mengetahui hal-
hal yang diketahui dengan
sekali membaca TPM
• Mahasiswa menyebutkan
hal-hal yang diketahui dan
ditanyakan dari TPM dengan
lancar dan benar.
Incu-
bation
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan
maksud dari pertanyaan yang
terdapat pada TPM.
• Mahasiswa menyusun
rencana pengajuan masalah
matematika.
• Mahasiswa diam sejenak.
• Mahasiswa merenungkan
maksud dari pertanyaan
yang terdapat pada TPM.
• Mahasiswa menyusun
rencana pengajuan masalah
matematika.
Illumi-
nation
• Mahasiswa menentukan
atribut dan hal-hal lain untuk
masalah matematika diskrit
yang akan diajukan dengan
lancar.
• Mahasiswa menentukan
atribut dan hal-hal lain untuk
masalah matematika diskrit
yang akan diajukan dengan
lancar.
74
62
Proses Berpikir kreatif
Lang-
kah
wallas
Proses Berpikir Kreatif
mahasiswa pada
Pengambilan Data Pertama
Proses Berpikir Kreatif
mahasiswa Pada
Pengambilan Data Kedua
• Mahasiswa mengungkapkan
secara verbal masalah
matematika yang diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan
masalah matematika yang
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki
masalah jika terjadi kesalahan
pada masalah matematika
diskrit yang diajukan.
• Mahasiswa mengungkapkan
secara verbal masalah
matematika yang diajukan
dengan lancar.
• Mahasiswa menuliskan
masalah matematika yang
diajukan pada LJK.
• Mahasiswa memperbaiki
masalah jika terjadi
kesalahan pada masalah
matematika diskrit yang
diajukan
Verifi-
cation
• Mahasiswa mengoreksi
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan
prosedur penyelesaian
masalah matematika yang
diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan pada LJK.
• Mahasiswa mengamati
dan mengecek kembali
penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum
teliti
• Mahasiswa mengoreksi
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan.
• Mahasiswa menjelaskan
prosedur penyelesaian
masalah matematika yang
diajukan.
• Mahasiswa menyelesaikan
masalah matematika diskrit
yang telah diajukan pada
LJK.
• Mahasiswa mengamati
dan mengecek kembali
penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum
teliti
75
Deskripsi Berpikir Kreatif Mahasiswa
63
Kesimpulan proses berpikir kreatif yang valid untuk mahasiswa hN
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa ada kesamaan
antara hasil pengambilan data pertama dengan hasil pengambilan data
kedua. Adanya kesamaan data pertama dan data kedua sehingga diper-
oleh data proses berpikir kreatif dalam pengajuan masalah metamatika
untuk mahasiswa HN pada masing-masing kategori sebagai data yang
valid, yaitu:
o Preparation
Pada proses ini, mahasiswa HN mengawali dengan membaca TPM
dalam hati, pada langkah ini mahasiswa terlihat sedikit cemas. selan-
jutnya mengamati informasi dan petunjuk pada TPM dengan cermat,
kemudian dilanjutkan mengetahui hal-hal yang diketahui dengan sekali
membaca TPM dan menyebutkan hal-hal yang diketahui dan ditanyakan
dari TPM dengan lancar dan benar
o Incubation
Pada proses ini, Mahasiswa HN diam sejenak dan merenungkan maksud
dari pertanyaan yang terdapat pada TPM, selanjutnya menyusun ren-
cana pengajuan masalah matematika diskrit.
o Illumination
Pada proses ini, Mahasiswa HN menentukan atribut dan hal-hal lain
untuk masalah matematika diskrit yang akan diajukan dengan lancar.
Dilanjutkan mengungkapkan secara verbal masalah matematika yang
diajukan dengan lancar. Setelah itu Mahasiswa menuliskan masalah
matematika yang diajukan pada LJK. dan memperbaiki masalah jika
terjadi kesalahan pada masalah matematika diskrit yang diajukan.
o Verification
Pada proses ini, Mahasiswa HN mengoreksi masalah matematika diskrit
yang telah diajukan. Selanjutnya menjelaskan prosedur penyelesaian
masalah matematika yang diajukan. Lalu mahasiswa menyelesaikan ma-
salah matematika diskrit yang telah diajukan pada LJK dan setelah itu
mahasiswa mengamati dan mengecek kembali penyelesaian yang telah
diajukan, akan tetapi belum teliti.
76
DAFTAR PUSTAKA
Dunlop, James. 2001. Mathematical Thinking. http://www.mste.uiuc.edu/
courses/ci431sp02/students/jdunlap/WhitePaper Download March
25, 2017
English, Lyn D. 1997. Promoting A problem Posing Classroom, Teaching
Children Mathematics, November 1997. P. 172-179
Evans, James R. 1991. Creative Thinking in the Decision and Management
Sciences. Cincinnati: South-Western Publishing Co
Hasan, Iqbal. 2002. Pokok-Pokok MateriMetodologi Penelitian Dan Aplikasinya.
Jakarta: Ghalia Indonesia
Kemendikbud, 2015. Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013
Komarudin, Sujadi, Imam dan Kusmayadi, Tri A. 2014. Proses Berpikir Kreatif
Siswa Smp Dalam Pengajuan Masalah Matematikaditinjau Dari Gaya Kognitif
Siswa. Jurnal Elektronik Pembelajaran Matematika. ISSN: 2339-1685,
Volume 2, Nomer 1 Maret 2014, hal 29 – 43
Munandar, S. C. Utami. (2002). Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Nadjafikhah, Mehdi., Yaftian, Narges., and Bakhshalizadeh, Shahrnaz. 2012.
Mathematical creativity: some definitions and characteristics, Procedia -
Social and Behavioral Sciences 31 (2012). p. 285 – 291
Prahmana, R.C.I. 2017. Design Research (Teori dan Implementasinya: Suatu
Pengantar). Depok: Rajawali Pers
Rahmawati, Novia Dwi. 2016. Peningkatan Kualitas Pembelajaran
Matematika Diskrit Melalui Problem Based Learning Pada Mahasiswa
Semester IV Prodi Pendidikan Matematika Universitas Hasyim Asy’ari.
Universitas Hasyim Asy’ari Jombang: Penelitian, tidak diterbitkan.
Ristekdikti. 2018. Kreatif dan Inovatif di Era Revolusi Industri 4.0, 8 (1), 10-
11. Jakarta: Ristekdikti
Ruggiero, Vincent R. 198. The Art of Thinking. A Guide to Critical and
Creative Thought. New York: Longman, An Imprint of Addison Wesley
Longman, Inc.
Sabandar, J. 2009. Tren Penelitian Pendidikan Matematika. (Makalah UPI).
77
Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Santrock, John W. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group
Silver, Edward A. (1997). Fostering Creativity through Instruction Rich in
MathematicalProblem Solving and Thinking in Problem Posing. http://
www.fiz.karlsruhe.de/ fiz/publications/zdm ZDM Volum 29 (June
1997) Number 3. Electronic Edition ISSN1615-679X. didownload tanggal
25 Maret 2017
Siswono, Tatag Y.E. 2004. Identifikasi Proses Berpikir Kreatif Siswa dalam
Pengajuan Masalah (Problem Posing)Matematika Berpandu dengan Modal
Wallas dan Creative Problem Solving. Buletin Pendidikan Matematika,
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Pattimura,
Ambon Volume 6, Nomer 2, Oktober 2004. ISSN 1412-2278, hal. 114-124
. 2008. Model Pembelajaran Matematika Berbasis Pengaju an dan Pemecahan
Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. Surabaya:
Unesa University Press
. 2010. Penelitian Pendidikan Matematika. Surabaya: Unesa University Press
Sukartono. 2018. Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya terhadap Pendidikan
di Indonesia. http://fkip.ums.ac.id/2018/12/07/pgsd-por-fkip-ums-
selenggarakan-seminar-nasional-pendidikan/. Di akses 4 Mei 2019
Suryabrata, Sumadi. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: CV Rajawali
The Liang Gie. 2003. Teknik Berpkir Kreatif. Yogyakarta: Sabda Persabda
Yogyakarta
78
GLOSARIUm
Analisis Data
Suatu upaya atau proses pengolahan data menjadi sebuah informasi
baru agar karakteristik data tersebut lebih mudah berguna dan dimengerti
untuk solusi suatu permasalahan dari penelitian.
Berpikir
memanipulasi atau mengelola dan mentransformasikan informasi
dalam memori. Ini sering dilakukan untuk membentuk konsep, bernalar,
dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan
memecahkan masalah.
Berpikir kreatif
proses yang dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses atau jalannya.
Proses berpikir itu ada pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu pembentukan
pengertian, pembentukan pendapat, dan penarikan kesimpulan. Pandangan
ini menunjukkan jika seseorang dihadapkan pada suatu situasi, maka
dalam berpikir, orang tersebut akan menyusun hubungan antara bagian-
bagian informasi yang direkam sebagai pengertian-pengertian. Kemudian
orang tersebut membentuk pendapat-pendapat yang sesuai dengan
pengetahuannya.
Data Kualitatif
data yang berbentuk kata-kata atau narasi.
Fleksibilitas
dapat mengajukan masalah yang memiliki cara penyelesaian yang
berbeda-beda serta menggunakan pendekatan “what-if-not?” untuk
mengajukan masalah.
Indikator
ukuran hasil belajar yang spesifik dan dapat diukur yang menunjukkan
ketercapaian kompetensi dasar.
79
68
Proses Berpikir kreatif
Illumination
yang memiliki arti Iluminasi. Untuk mengetahui bagaimana proses
berpikir kreatif mahasiswa berupa illumination dilakukan dengan melihat
bagaimana cara mahasiswa mendapatkan sebuah pemecahan masalah
yang diikuti dengan munculnya inspirasi dan ide-ide yang mengawali dan
mengikuti munculnya inspirasi dan gagasan baru.
Incubation
yang memiliki arti Inkubasi. Untuk mengetahui bagaimana proses
berpikir kreatif mahasiswa berupa incubation, dilakukan dengan melihat
bagaimana awal proses timbulnya inspirasi yang merupakan titik mula dari
suatu penemuan atau kreasi baru dari daerah pra sadar mahasiswa.
Kebaharuan
Dapat memeriksa beberapa masalah yang diajukan kemudian
mengajukan suatu masalah yang berbeda.
Kefasihan
dapat membuat banyak masalah yang dapat dipecahkan serta berbagi
masalah yang diajukan.
Preparation
yang memiliki arti Persiapan. Untuk mengetahui bagaimana proses
berpikir kreatif mahasiswa berupa preparation, dilakukan dengan melihat
bagaimana respon mahasiswa ketika diberi tugas pengajuan masalah dan
bagaimana cara mahasiswa memahami hal yang diketahui dan ditanyakan
dari tugas.
Wawancara
teknik percakapan dan tanya-tanya, baik langsung maupun tidak
langsung antara dosen dengan mahasiswa berdasarkan pedoman tertentu.
valid
konsistensi antara wawancara pertama dengan wawancara kedua.
80
Glosarium
69
LjK
singkatan dari Lembar Jawaban Kerja.
TPm
singkatan dari Tugas Pengajuan Masalah.
verification
yang memiliki arti verifikasi untuk mengetahui bagaimana proses
berpikir kreatif mahasiswa berupa verification, dilakukan dengan melihat
bagaimana cara mahasiswa menguji dan memeriksa pemecahan masalah
tersebut terhadap realitas.
Triangulasi
pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu.
Ada tiga macam triangulasi dalam pengujian kredibilitas yaitu triangulasi
sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu
81
INDEKS
A
Akademik, 9, 12
analisis, 9, 11, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 33, 34, 35,
36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 44, 46, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 60, 62
Artikel, 3
B
Berpikir Kreatif, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25,
26, 30, 33, 34, 35, 37, 38, 40, 41, 42, 46, 49, 50, 52, 53, 55, 56, 57, 58, 62
C
Cermat, 3, 4, 17, 18, 19, 22, 23, 24, 28, 31, 33, 34, 35, 37, 39, 40, 44, 46, 49, 50, 51,
54, 55, 56, 60, 63
D
Data, 1, 3, 8, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 32, 33, 34,
35, 36, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 46, 48, 49, 50, 51, 52, 53, 54, 56, 57, 58, 59, 60, 62
Deskripsi, 9, 11
E
Era Revolusi Industri 4.0, 1, 2, 3
F
Fundamental, 18, 23, 34, 39, 50, 56
G
Generalisasi, 3
h
Hasil,2, 3, 7, 9, 11, 14
I
Inovasi, 1
Indikator, 9, 10
82
72
Proses Berpikir kreatif
j
Jawaban, 3, 5, 11, 14
Jurnal, 3
K
Kreativitas, 2, 10
Kualitatif, 11, 14
L
Litbang, 2
m
Mahasiswa,9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28,
29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49,
50, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63
Mata Kuliah, 12, 13
O
Observasi, 3
P
Pendidikan Matematika, 13, 14
Pengajuan Masalah, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 16, 17, 19, 20, 21, 22, 25, 26, 29,
30, 31, 33, 35, 36, 37, 38, 41, 42, 45, 46, 47, 49, 51, 52, 53, 55, 57, 58, 59, 61,
62, 63
Penelitian, 3, 5, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15
Pengalaman, 7, 13, 18, 19, 24, 35, 40, 41, 51, 56, 57
Pengembangan, 3
Pengetahuan, 1, 7, 13, 18, 19, 24, 25, 35, 36, 40, 41, 51, 52, 56, 57
S
Seminar, 3
Siswono, 2, 3, 8, 10
Subjek, 12, 13
83
Indeks
73
T
Teori, 7
U
Universitas Hasyim Asy’ari, 9, 12
v
Valid, 9, 13, 29, 30, 44, 45, 60, 62
Validitas, 14
W
Wawancara, 11, 14, 17, 19, 21, 22, 23, 24, 26, 33, 34, 35, 37, 39, 40, 42, 49, 50,
51, 53, 55, 56, 59
Z
Zaman, 1
84
BIOGRAFI PENULIS
Novia Dwi Rahmawati, S.Si., m. Pd, dilahirkan di Trenggalek pada
15 November 1987. Menyelesaikan studi pendidikan Program Sarjana
(S1) Matematika di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim
Malang pada tahun 2010, Melanjutkan Program Magister (S2) Pendidikan
Matematika di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan selesai pada tahun
2015. Kariernya di bidang pendidikan pada tahun 2015 sebagai Dosen Tetap
di Prodi Pendidikan Matematika Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng
Jombang sampai sekarang dan Tutor Universitas Terbuka pada tahun 2019
dengan mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional PGSD S-1.
Sejauh ini penulis telah melakukan penelitian baik itu mandiri,
Hibah Internal Kampus dan Hibah KEMENRISTEKDIKTI dan sebagai
Pembimbing KBMI (Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia) dan ExpoKMI
(Expo Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia) pada tahun 2017. Selain itu
sebagai Anggota Indonesia Mathematical Society (IndoMS), Masyarakat
Kombinatorika Indonesia (InaCombS), Editor Journal on Arithmetic:
Akademic Journal of Math, telah menulis buku bersama rekan sejawat dosen
yaitu buku kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pemecahan masalah
fungsi pembangkit. Hasil publikasi dapat dilihat
https://scholar.google.co.id/citations?user=WknSzuQAAAAJ&hl=id
Buku ini terbit sebagai upaya penulis dalam menyongsong era revolusi
industri 4.0. Dimana terdapat beberapa tantangan yang membuat dunia
pendidikan kita sulit beradaptasi dengan dunia revolusi industri 4.0.
Salah satunya Sumber Daya Manusia (SDM). Kemampuan Berpikir
Kreatif sangat berperan dalam era revolusi industri 4.0 yaitu suatu
proses yang mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir divergen.
Berpikir divergen digunakan untuk mencari ide-ide untuk
menyelesaikan masalah sedangkan berpikir logis digunakan untuk
memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang
kreatif.
Selain itu, buku ini membahas pengajuan masalah mahasiswa yang ada
pada mata kuliah matematika diskrit. Matematika diskrit merupakan
bagian dari matematika yang mempelajari objek-objek diskrit. Disini
objek-objek diskrit diartikan sebagai objek-objek yang berbeda dan
saling lepas. Sehingga dilakukan analisis kepada mahasiswa. Analisis
proses berpikir kreatif menggunakan indikator kemampuan preparation
(persiapan), Incubation (Inkubasi), Ilumination (Ilmuniasi), maupun
Verification (verifikasi).
Novia Dwi Rahmawati, S.Si., M. Pd, dilahirkan di Trenggalek pada 15
November 1987. Menyelesaikan studi pendidikan Program Sarjana (S1)
Matematika di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
pada tahun 2010, Melanjutkan Program Magister (S2) Pendidikan
Matematika di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan selesai pada
tahun 2015. Kariernya di bidang pendidikan pada tahun 2015 sebagai
Dosen Tetap di Prodi Pendidikan Matematika Universitas Hasyim Asy’ari
Tebuireng Jombang sampai sekarang dan Tutor Universitas Terbuka pada tahun 2019
dengan mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional PGSD S-1.
ISBN: 978-623-228-508-8
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 84
SLIDE
Similar Resources on Wayground
81 questions
Pendampingan P5 Kab Gresik
Presentation
•
University - Professi...
75 questions
Kode Etik dan Dewan Kehormatan Guru Indonesia
Presentation
•
University
79 questions
OCIK_LKPD REAKSI REDOKS
Presentation
•
12th Grade
76 questions
Perencanaan Berbasis Data (PBD)
Presentation
•
Professional Development
84 questions
CANVA MOBILE HP
Presentation
•
12th Grade
82 questions
Bilangan
Presentation
•
KG
81 questions
KONSEP KESETARAAN BELAJAR MELALUI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Presentation
•
University
76 questions
Ice breaking
Presentation
•
KG - University
Popular Resources on Wayground
20 questions
STAAR Review Quiz #3
Quiz
•
8th Grade
20 questions
Equivalent Fractions
Quiz
•
3rd Grade
6 questions
Marshmallow Farm Quiz
Quiz
•
2nd - 5th Grade
20 questions
Main Idea and Details
Quiz
•
5th Grade
20 questions
Context Clues
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Inferences
Quiz
•
4th Grade
19 questions
Classifying Quadrilaterals
Quiz
•
3rd Grade
12 questions
What makes Nebraska's government unique?
Quiz
•
4th - 5th Grade