
Kuis Analisis Cerpen Durian Ayah karya Rizki Turama
Authored by Ms B1P
Other
9th Grade
Used 1+ times

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
8 questions
Show all answers
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Bacalah kutipan kalimat dari teks cerpen Durian Ayah berikut.
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang diharapkan. Karena itulah, perihal durian yang tak kunjung berbuah ini menjadi sesuatu yang cukup mengganjal hati ayah.
Diksi mengganjal dalam kutipan di atas bermakna... .
Menunjukkan bahwa ayah menginginkan pohon durian segera berbuah.
Menunjukkan bahwa ayah penasaran karena pohon durian tidak segera berbuah.
Menunjukkan bahwa pohon durian tidak berhasil ditanam ayah.
Menunjukkan bahwa ayah hatinya kesal akibat pohon durian yang tidak berbuah.
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Manakah dari kalimat berikut yang merupakan contoh dari majas simile?
“Pohon ini bisa kau anggap adikmu,” ujar ayah sekitar sepuluh tahun lalu.
Sampai setahun setengah kemudian durian tetap berdiri angkuh dengan daunnya yang lebat dan batang yang semakin menjulang, tanpa buah.
Ayah hanya tersenyum, “Sabarlah. Seperti manusia, pohon tidak matang dan dewasa di usia yang sama.
Tapi, seperti yang kukatakan tadi, pohon itu tetap kukuh. Malah sepertinya angkuh. Seolah ia sedang mengejek tenaga ayahku yang sudah jadi pensiunan.
3.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 2 pts
Bacalah kutipan kalimat berupa resolusi dari cerita pendek Durian Ayah berikut.
Dengan penuh semangat, kubawa durian itu ke rumah. Berteriak aku memanggil ayah. Tapi yang dipanggil tak kunjung menjawab. Aku jadi tak sabaran, ingin memberi kabar gembira ini. Namun kemudian, setelah mencari di sepenjuru rumah, kutemukan ayah di kamar. Telentang dan matanya tertutup. Tersenyum. Tak pernah menjawab lagi. Dari seluruh tubuhnya, menguar aroma durian matang.
Berdasarkan kutipan tersebut, simpulkan resolusinya.
Tokoh aku tidak berhasil menemukan ayah.
Ayah sedang tidur di kamarnya dalam keadaan tersenyum.
Tokoh aku tidak sabaran ingin memberi kabar kepada ayah.
Ayah meninggal dalam keadaan bahagia.
4.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Manakah dari kutipan kalimat berikut yang merupakan unsur kebahasaan kalimat deskriptif suasana, dari cerpen berjudul Durian Ayah?
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu. Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang diharapkan
Aku masih SMA waktu itu. Ayah memang suka begitu, mengatakan pohon-pohon tertentu sebagai kakak atau adik dari kami, anak-anaknya. Tolok ukur yang digunakannya jelas adalah usia. Rambutan di sudut kanan halaman depan rumah dibilang sebagai kakakku karena dia ditanam dua tahun lebih dulu daripada kelahiranku
Entah ajaib atau kebetulan, tujuh bunga yang tersisa itu terus bertahan meskipun hujan tak memberi belas kasihan. Akhirnya, waktu juga yang memperlihatkan bahwa harapan tak boleh dibunuh sebab kehidupan dimulai dari sana. Sebagaimana kehidupan tujuh bunga durian ayah.
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Manakah dari kalimat berikut yang menunjukkan adanya nilai agama di cerpen Durian Ayah?
“Apa benar Bapak mau menebang pohon ini?” tanya salah satu tukang tebang itu. Ayahku mengangguk. Mantap.
“Sayang sekali. Kenapa tak ditunggu sampai berbuah dulu, Pak?”
“Sebagai ucapan perpisahan,” kata ayah. Ia ingin memberi kenang-kenangan yang indah. Memohon maaf jika ada salah.
“Seperti manusia yang puasanya berhasil, tanaman akan memulai kehidupannya dari nol di masa itu. Suci. Tanpa dosa.” Kadang ayah memang aneh.
Tapi, kadang nasib tak ubahnya hati perawan yang sedang gundah, mudah berbalik arah. Musim hujan datang. Air dan angin datang silih berganti. Bunga-bunga yang sedang mekar itu runtuh satu per satu.
6.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Manakah dari kutipan kalimat berikut yang menunjukkan struktur orientasi teks cerita pendek Durian Ayah?
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu. Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
Orang lain mungkin akan mengira ayah sudah tak sehat akal, tapi aku tahu memang begitulah ayah dari dulu. Setiap ada pohon yang akan ditebang, ia akan merawat pohon itu dengan lebih baik dan menyiapkan pengganti yang juga baik. Sampai akhirnya lebaran telah tujuh hari berlalu. Ayah pun memanggil dua tukang untuk menebang.
Di antara semua pohon yang ditanam ayah, hanya durian yang sampai sekarang belum berbuah. Padahal tangan ayah setahuku cukup dingin. Ia hampir selalu berhasil dalam dunia cocok tanam. Hampir semua tanaman yang mendapat sentuhan tangannya akan jadi subur, menghasilkan apa yang diharapkan. Karena itulah, perihal durian yang tak kunjung berbuah ini menjadi sesuatu yang cukup mengganjal hati ayah.
Hampir setiap pagi, ia terpaksa menyapu reruntuhan bunga durian dengan wajah yang begitu murung. Hanya tinggal beberapa lagi yang masih bertahan di atas. Bisa dihitung dengan jari tangan. Dan mungkin karena berharap bisa jadi sangat menyakitkan, ia membunuh semua harapan yang tersisa. Merawat tanaman itu seadanya. Tak lagi sebagai sebuah tanaman istimewa yang bunganya telah ditunggu sekian lama.
7.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
30 sec • 1 pt
Manakah dari kutipan kalimat berikut yang menunjukkan komplikasi klimaks dari cerpen Durian Ayah?
Di suatu senja, aku terkejut ketika pulang mendapati ayah sedang memegang kapak. Dengan wajah marah, ayah mengayunkan kapak itu berkali-kali ke batang durian. Keringat bercucuran dari dahi dan wajahnya. Tidak sampai sepuluh menit, ayah berhenti. Napasnya satu-satu. Kapak di tangannya jatuh. Ia pun rubuh, terduduk di tanah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku hanya berdiri di antara ayah dan pohon itu. Pohon durian di depannya tetap kukuh. Kulitnya memang terkelupas di sana-sini. Satu dua tetes getah merembes dari celah-celah kulit pohon itu. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, pohon itu tetap kukuh. Malah sepertinya angkuh. Seolah ia sedang mengejek tenaga ayahku yang sudah jadi pensiunan.
Dengan penuh semangat, kubawa durian itu ke rumah. Berteriak aku memanggil ayah. Tapi yang dipanggil tak kunjung menjawab. Aku jadi tak sabaran, ingin memberi kabar gembira ini. Namun kemudian, setelah mencari di sepenjuru rumah, kutemukan ayah di kamar. Telentang dan matanya tertutup. Tersenyum. Tak pernah menjawab lagi.
Bunyi berdebug menghantam tanah cukup keras terdengar dari arah pohon durian. Aku segera berlari, mencari. Benar saja. Durian ayah yang telah matang, jatuh. Aromanya menguar menggiurkan. Kutolehkan kepala, ayah belum keluar rumah. Mungkin tidak mendengar duriannya jatuh
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Microsoft
or continue with
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?