
RASA-RASA TKA
Authored by WAHYU ISKANDAR
Other
12th Grade
Used 1+ times

AI Actions
Add similar questions
Adjust reading levels
Convert to real-world scenario
Translate activity
More...
Content View
Student View
5 questions
Show all answers
1.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 10 pts
Rumah Kayu di Tepi Senja
Di punggung bukit karang yang bisu,
Berdiri ia, rumah kayu lapuk dimakan waktu.
Jendelanya menatap laut tanpa jemu,
Menghitung ombak yang datang dan berlalu.
Dindingnya mendengar bisik angin payau,
Menyimpan gema dari setiap musim kemarau.
Pernah ada tawa dan duka yang meresap ke dalam jiwa kayu,
Kini hanya sunyi yang setia menjadi tamu.
Langkah seorang nelayan pernah mengisi lantainya,
Disambut senyum istri di ambang pintunya.
Kisah mereka terukir tanpa kata,
Pada tiang-tiang yang kian renta.
Maka berdirilah ia, sebagai tugu kenangan,
Menjaga martabat hidup dalam kesederhanaan.
Sebuah pelajaran hening tentang ketabahan,
Bahwa yang fana pun bisa menyimpan keabadian.
PERTANYAAN: Suasana yang paling dominan ingin dibangun oleh penyair dalam puisi tersebut adalah ....
A. kemarahan dan pemberontakan
B. kegembiraan dan keriangan
C. ketakutan dan kengerian
D. kekhidmatan dan nostalgia
E. kebingungan dan kegelisahan
Answer explanation
Kunci Jawaban: D
Pembahasan: Puisi ini menggunakan diksi seperti "bisu", "lapuk", "tanpa jemu", "sunyi", "renta", dan "hening". Semua kata ini membangun suasana yang tenang dan reflektif. Tema tentang kenangan masa lalu ("pernah ada tawa dan duka", "kisah mereka terukir") membangkitkan perasaan rindu atau nostalgia. Kombinasi dari suasana yang tenang dan tema kenangan menciptakan nuansa kekhidmatan dan nostalgia.
2.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 10 pts
Rumah Kayu di Tepi Senja
Di punggung bukit karang yang bisu,
Berdiri ia, rumah kayu lapuk dimakan waktu.
Jendelanya menatap laut tanpa jemu,
Menghitung ombak yang datang dan berlalu.
Dindingnya mendengar bisik angin payau,
Menyimpan gema dari setiap musim kemarau.
Pernah ada tawa dan duka yang meresap ke dalam jiwa kayu,
Kini hanya sunyi yang setia menjadi tamu.
Langkah seorang nelayan pernah mengisi lantainya,
Disambut senyum istri di ambang pintunya.
Kisah mereka terukir tanpa kata,
Pada tiang-tiang yang kian renta.
Maka berdirilah ia, sebagai tugu kenangan,
Menjaga martabat hidup dalam kesederhanaan.
Sebuah pelajaran hening tentang ketabahan,
Bahwa yang fana pun bisa menyimpan keabadian.
PERTANYAAN: Penggunaan citraan (imaji) dalam larik "Dindingnya mendengar bisik angin payau" paling efektif untuk membangkitkan indra ....
A. penglihatan
B. peraba
C. pengecap
D. penciuman
E. pendengaran
Answer explanation
Kunci Jawaban: E
Pembahasan: Citraan atau imaji adalah penggunaan kata-kata untuk membangkitkan pengalaman inderawi pembaca. Larik "Dindingnya mendengar bisik angin payau" secara langsung menggunakan kata kerja yang berhubungan dengan indra pendengaran. Kata "bisik" memperkuat citraan suara yang lembut dan lirih.
3.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 10 pts
Rumah Kayu di Tepi Senja
Di punggung bukit karang yang bisu,
Berdiri ia, rumah kayu lapuk dimakan waktu.
Jendelanya menatap laut tanpa jemu,
Menghitung ombak yang datang dan berlalu.
Dindingnya mendengar bisik angin payau,
Menyimpan gema dari setiap musim kemarau.
Pernah ada tawa dan duka yang meresap ke dalam jiwa kayu,
Kini hanya sunyi yang setia menjadi tamu.
Langkah seorang nelayan pernah mengisi lantainya,
Disambut senyum istri di ambang pintunya.
Kisah mereka terukir tanpa kata,
Pada tiang-tiang yang kian renta.
Maka berdirilah ia, sebagai tugu kenangan,
Menjaga martabat hidup dalam kesederhanaan.
Sebuah pelajaran hening tentang ketabahan,
Bahwa yang fana pun bisa menyimpan keabadian.
PERTANYAAN: Rumah kayu dalam puisi tersebut pada akhirnya menjadi simbol dari ....
kegagalan dan keputusasaan
kemiskinan dan keterbelakangan
ketabahan dan keabadian memori
bahaya dan ancaman alam
kemajuan dan perubahan zaman
Answer explanation
Kunci Jawaban: ketabahan dan keabadian memori
Pembahasan: Meskipun rumah itu "lapuk" dan "renta", ia tetap "berdiri". Bait terakhir secara eksplisit menyebutnya sebagai "sebuah pelajaran hening tentang ketabahan" dan bagaimana "yang fana pun bisa menyimpan keabadian". Dengan demikian, rumah kayu tersebut melampaui wujud fisiknya dan menjadi simbol dari ketabahan dalam menghadapi waktu dan keabadian memori yang disimpannya.
4.
MULTIPLE SELECT QUESTION
1 min • 10 pts
Rumah Kayu di Tepi Senja
Di punggung bukit karang yang bisu,
Berdiri ia, rumah kayu lapuk dimakan waktu.
Jendelanya menatap laut tanpa jemu,
Menghitung ombak yang datang dan berlalu.
Dindingnya mendengar bisik angin payau,
Menyimpan gema dari setiap musim kemarau.
Pernah ada tawa dan duka yang meresap ke dalam jiwa kayu,
Kini hanya sunyi yang setia menjadi tamu.
Langkah seorang nelayan pernah mengisi lantainya,
Disambut senyum istri di ambang pintunya.
Kisah mereka terukir tanpa kata,
Pada tiang-tiang yang kian renta.
Maka berdirilah ia, sebagai tugu kenangan,
Menjaga martabat hidup dalam kesederhanaan.
Sebuah pelajaran hening tentang ketabahan,
Bahwa yang fana pun bisa menyimpan keabadian.
PERTANYAAN: Larik (baris) mana sajakah dalam puisi tersebut yang menggunakan majas personifikasi untuk menghidupkan gambaran rumah kayu?
[ ] Berdiri ia, rumah kayu lapuk dimakan waktu.
[ ] Jendelanya menatap laut tanpa jemu,
[ ] Dindingnya mendengar bisik angin payau,
[ ] Pada tiang-tiang yang kian renta.
Answer explanation
Kunci Jawaban: Pilihan 2 dan 3 dicentang.
Pembahasan: Personifikasi adalah majas yang memberikan sifat-sifat manusia kepada benda mati.
• Pilihan 2 (Benar): "Jendela menatap" memberikan kemampuan indra (melihat) kepada jendela.
• Pilihan 3 (Benar): "Dinding mendengar" memberikan kemampuan indra (mendengar) kepada dinding.
• Pilihan 1 dan 4 adalah deskripsi biasa yang tidak memberikan sifat insani pada objek. "Dimakan waktu" adalah metafora, bukan personifikasi. "Renta" bisa merujuk pada benda tua, tidak harus manusia.
5.
MULTIPLE CHOICE QUESTION
1 min • 10 pts
Rumah Kayu di Tepi Senja
Di punggung bukit karang yang bisu,
Berdiri ia, rumah kayu lapuk dimakan waktu.
Jendelanya menatap laut tanpa jemu,
Menghitung ombak yang datang dan berlalu.
Dindingnya mendengar bisik angin payau,
Menyimpan gema dari setiap musim kemarau.
Pernah ada tawa dan duka yang meresap ke dalam jiwa kayu,
Kini hanya sunyi yang setia menjadi tamu.
Langkah seorang nelayan pernah mengisi lantainya,
Disambut senyum istri di ambang pintunya.
Kisah mereka terukir tanpa kata,
Pada tiang-tiang yang kian renta.
Maka berdirilah ia, sebagai tugu kenangan,
Menjaga martabat hidup dalam kesederhanaan.
Sebuah pelajaran hening tentang ketabahan,
Bahwa yang fana pun bisa menyimpan keabadian.
PERTANYAAN: Amanat atau pesan utama yang dapat dipetik dari puisi tersebut adalah ....
Rumah harus dibangun di dekat laut agar pemandangannya indah.
Kehidupan modern telah menghancurkan nilai-nilai kesederhanaan.
Setiap tempat menyimpan jejak dan kenangan dari kehidupan yang pernah ada di sana.
Nasib seorang nelayan selalu berakhir dengan kesunyian dan kesedihan.
Bangunan tua sebaiknya dihancurkan untuk diganti dengan yang baru.
Answer explanation
Kunci Jawaban: Setiap tempat menyimpan jejak dan kenangan dari kehidupan yang pernah ada di sana.
Pembahasan: Puisi ini secara keseluruhan menceritakan bagaimana sebuah rumah kayu tua menjadi wadah atau saksi bisu dari kehidupan yang pernah terjadi ("menyimpan gema", "tawa dan duka yang meresap", "kisah mereka terukir"). Bait terakhir menegaskan perannya sebagai "tugu kenangan". Ini mengarah pada amanat bahwa setiap tempat, betapapun sederhananya, dapat menyimpan jejak dan kenangan yang abadi.
Access all questions and much more by creating a free account
Create resources
Host any resource
Get auto-graded reports

Continue with Google

Continue with Email

Continue with Classlink

Continue with Clever
or continue with

Microsoft
%20(1).png)
Apple
Others
Already have an account?