WorksheetsTATA KELOLA, MANAJEMEN RISIKO DAN PENGENDALIAN INTERN
Total questions: 30
Worksheet time: 19mins
Menurut IIA (the Institute of Internal Auditors) bahwa proses yang diselenggarakan oleh manajemen puncak organisasi untuk mengotorisasi, mengarahkan dan mengawasi manajemen dalam upaya pencapaian tujuan organisasi disebut:
Tata Kelola
Manajemen Risiko
Pengendalian Intern
Audit Intern
Berikut ini tipe-tipe outcomes (hasil) yang harus dipertimbangkan oleh manajemen:
Assurance, dan Risk Management
Participation, Rule of Law, Transparancy, Responsiveness, Consensus Orientation, Equity, Effectiveness and Efficiency
Financial, Compliance, Operations, dan Strategic
Accountability and Strategic Vision
Manajemen Risiko dilaksanakan secara terus menerus dan dimonitor secara berkala. Manajemen risiko bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali (one time event), definisi tersebut berdasarkan kata kunci:
Effected by people
Applied in strtegy setting
Provide reasonable assurance
On going process
Tujuan Implementasi penanganan risiko untuk mengimplementasikan rencana penaganan risiko agar risiko residual sesuai dengan yang diharapkan. Implementasi penanganan risiko seharusnya:
Memastikan mekanisme penanganan risiko sesuai dengan penilian risiko
Memastikan penanggungjawab, jadwal, impact yang diharapkan, anggaran dana, pengukuran kinerja, dan proses reviu telah berjalan sesuai dengan rencana
Mendokumentasikan hasil dan hambatan serta jalan keluar dalam implementasi penanganan risiko
Mendokumentasikan bagaimana secara praktisnya opsi yang dipilih itu akan diimplementasikan
Tujuan monitoring dan reviu, kecuali:
Memastikan langkah penanganan risiko benar-benar dilaksanakan dengan rencana
Mengantisipasi adanya perubahan risiko yang bersifat mendadak yang dapat berpengaruh pada profil risiko
Menentukan langkah selanjutnya yang diperlukan, terkait dengan penanggung jawab
Mengetahui kondisi akhir dari profil risiko dalam satu unit kerja
Masing-masing tahap proses manajemen risiko harus didokumentasikan secara layak. Dokumentasinya meliputi:
Mencakup mekanisme untuk menilai dan memonitor efektifitas penanganan risiko
Profil risiko, risiko, tren risiko
Metode, sumber data, analisis, hasil, serta alasan pengambilan keputusan
Risiko residual aktual, risiko residual yang diharapkan dan devisiasi
Penilaian resiko merupakan salah satu komponen pengendalian intern dalam COSO 2013, memilki beberapa prinsip, antara lain:
Pemilihan dan pengembangan kegiatan pengendalian
Identifikasi dan analisis perubahan yang signifikan
Komunikasi secara internal
Menetapkan struktur, wewenang dan tanggung jawab
Unsur pengendalian intern ke 4 adalah informasi dan komunikasi, yang terdiri atas dua sub unsur yaitu :
Sub informasi dan penerimaan
Pesan dan saluran
Pesan dan umpan balik
Saran komunikasi dan manajemen sistem informasi
Hubungan Antara Tata kelola, manajemen risiko, dan pengedalian intern menurui IIA adalah:
Manajemen risiko merupakan bagian dari tata kelola, dan tata kelola merupakan bagian dari pengendalian intern
Tata kelola merupakan bagian dari manajemen risiko dan manajemen resoko merupakan bagian dari pengendalian intern
Manajemen risiko merupakan bagian dari pengendalian intern dan pengendalian perupakan bagian dari tata kelola
Pengendalian intern merupakan bagian dari manajemen resiko dan manajemen risiko merupakan bagian dari tata kelola
Reformasi birokrasi bertujuan menciptakan pemerintah yang propesional, untuk itu diperlukan peran APIP yang efektif dalam wujud antara lain:
Memberi masukan yang dapat memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah.
Mampu melakukan berbagai penugasan seperti Audit, reviu, asistensi dan konsultasi
Memberi saran atau masukan atas temuan audit dari auditor eksternal
Melakukan pendampingan dalam penyusunan laporan keuangan Kementerian/Lembaga/Pemda
Audit intern mengalami evolusi yang pesat, yang dipicu oleh berbagai event resiko yang terjadi secara global. Berikut merupakan contoh perubahan-perubahan tersebut:
Audit intern semula berorentasi pada bidang manajemen menjadi berorentasi pada bidang Akuntansi
Pada masa lalu focus utama auditor intern adalah sebagai konsultasi intern
Saat itu focus utama peran auditor intern adalah sebagai “watchadong”
Saat ini, selain sebagai konsultan, auditor intern harus mampu berperan sebagai katalisator
Peran audit intern dalam pengendalian intern menurut Standar Pelaksanaan Audit Intern Paragrap 3130 adalah:
Kegiatan audit intern adalah menentukan jenis penangana yang efektif dan efisien unuk suatu risiko
Kegiatan audit intern harus dapat membantu auditi dalam mempertahankan dan memperbaiki pengendalian yang efektif dengan mengevaluasi efektivitas dan efisiensi serta dengan mendorong perbaikan terus menerus
Kegiatan audit intern harus dapat mengevaluasi evektifitas dan berkontribusi terhadap perbaikan proses manajemen risiko
Kegiatan audit intern meningkatkan kesuksesan langkah penanganan risiko dan mengontrol aksi risiko
Control self assessment (CSA) dengan memberi kuessioner kepada responden merupakan penilaian efektifitas pengendalian dengan pendekatan:
Pemantauan
Survei
Analisis
Reviu
Evaluasi dan penerapan manajemen risiko bertujuan untuk menilai tingkat kematangan manajemen risiko organisasi dengan tujuan untuk mengetahui:
Dampak risiko yang terjadi dalam organisasi
Penangan risiko yang terjadi dalam organisasi
Celah Antara kondisi tingkat kematangan manajemen risiko yang ada dengan yang diharapkan
Mengantisipasi besarnya risiko
Metode pendekatan Control self assessment (CSA) menurut Larry Hubbard terbagi atas beberapa pendekatan yaitu:
Workshop, survey dan analisi manajemen
Pemantauan, survai dan reviu
Analisis, pemantauan dan workshop
Reviu, workshop dan survei
Pengertian governance menurut United Nation Development Prigramme (UNDP) mengandung beberapa aspek yang disebut three legs, yaitu:
Politik, ekonomi dan sosial
Politik, ekonomi dan keamanan
Politik, ekonomi dan administrative
Politik, ekonomi dan hukum
Semua pihak (pemerintah, masyarakat, swasta) harus mampu memberikan pertanggungjawaban atas mandat yang diberikan, merupakan salah satu prinsif good gavernance, yaitu:
Transparansi
Akuntabilitas
Orientasi pada kesepakatan
Penegakan hukum
Kasaran penciptaan tata pemerintahan yang baik, antara lain adalah:
Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan private
Berkurangnya praktik kolusi dan nepotisme di birokrasi terutama pada jajaran pelaksanaan kegiatan
Terciptanya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintah yang efisien, efektif, professional, transparan dan akuntabel
Banyaknya peraturan pusat maupun daerah
Karektaristik new public management, antara lain adalah:
Lebih menekankan pada proses
Lebih ditekankan pada hasil outcome
Lebih menekankan gaya manajemen sektor publik
Lebih menekankan pada kedisiplinan yang tinggi dan tidak boros dalam menggunakan berbagai sumber
Batas pengambilan risiko yang dapat diterima sebagai bagian dari variasi relative pada pencapaian tujuan dalam tingkat toleransi yang diperkenankan dalam konteks organisasi secara keseluruhan merupakan:
Risiko murni
Risiko spekulatif
Risk appetite
Risk tolerance
Risiko yang mungkin terjadinya keuntungan ataupun kerugian merupakan risiko:
Murni
Spekulatif
Keuangan
Operasional
Pimpinan kantor dinas sosial kota PALEM, memasang banyak alat pemadam kebakaran, petunjuk evakuasi, penyelenggaraan pelatihan situasi gawat darurat secara berkala dan selalu mengecek alat Damkar-nya. Sikap pimpinan kantor tersebut dalam menyikapi resiko kebakaran adalah:
Risk taker
Risk holder
Risk maker
Risk avoidance
Risiko dilihat dari sudut pandang sebab terjadinya terdiri atas dua macam risiko, yaitu:
Risiko eksternal dan resiko internal
Risiko murni dan resiko spekulatif
Risiko strategis dan resiko ketaantan
Risiko keuangan dan resiko operasional
Risiko yang berhubungan dengan keandalan dalam proses pengambilan keputusan, adalah:
Risiko operasional
Risiko proyek
Risiko Pelaporan
Risiko Program
Manajemen risiko diharapkan dapat menjadi pedoman bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan, atau dengan kata kunci:
Geared ot achieve objektives
Design to identity potensial events
Evected by people
Provide reasonable assurance
Agar manajemen risiko dapat terlaksana secara efektif, suatu organisasi harus mengikuti prinsip antara lain:
Manajemen risiko bersifat transfaran dan inklusif
Manajemen risiko merupakan hal yang terpisah dengan organisasi
Manajemen risiko secara implisit menangani ketidak pastian
Manajemen risiko bersifat temporer
Tahap identifikasi risiko merupakan tahap untuk mengenali seluruh aktivitas, baik yang sedang maupun yang telah berjalan, atau dengan kata lain untuk menetapkan:
Apa, dimana, kapan,mengapa sesuatu dapat terjadi, dan siapa pelakunya sehingga dapat berdapak negatif terhadap pencapaian tujuan
Apa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana sesuatu dapat terjadi dan dapat berdampak negatif terhadap pencapaian tujuan
Apa kejadiannya dan apa probabilitas kejadian yang dapat berdampak negative terhadap pencapaian tujuan
Apa kejadiannya dan apa probabilitas kejadian yang dapat berdampak negative terhadap pencapaian tujuan
Opsi penanganan risiko antara lain adalah memutuskan untuk tidak memulai atau meneruskan suatu aktifitas yang berisiko tinggi atau dengan kata lain adalah:
Menerima risiko
Mengurangi konsekuensi risiko
Membagi risiko
Menghindari risiko
Dalam proses identifikasi risiko dan asesment risiko, dokumen yang terkait antara lain adalah:
Piagam manajemen risiko
Matriks analisis risiko
Daftar rencana tindakan
Catatan komunikasi dan konsultasi
Dalam membangun budaya peduli risiko terhadap beberapa hambatan dalam penerapan manajemen risiko antara lain:
Risiko pada sektor publik seringkali di pandang sebagai sesuatu yang negatif
Risiko dapat dialihkan ke perusahaan asuransi
Kurangnya pemahaman mengenai manajemen risiko
Adanya budaya nrimo (menerima)
