Font size
S
M
L
XL
WorksheetsPretest TOT Penanganan Gangrep dan SC
Total questions: 100
Worksheet time: 50mins
Name
Class
Date
1.
Hormon gonadotrofin pemacu pertumbuhan folikel ovaria sapi adalah
a)
a. Follicle stimulating hormone (FSH)
b)
b. Luteinizing hormone (LH)
c)
c. Growth hormone
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
2.
Luteinizing hormone dihasilkan oleh
a)
a. Korpus luteum
b)
b. Folikel ovaria
c)
c. Pituitari anterior
d)
d. Pituitari posterior
e)
e. Hipothalamus
3.
Hormon untuk proses ovulasi dan pembentukan korpus luteum sapi adalah
a)
a. Follicle stimulating hormone (FSH)
b)
b. Luteinizing hormone (LH)
c)
c. Growth hormone
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
4.
Follicle stimulating hormone dihasilkan oleh
a)
a. Korpus luteum
b)
b. Folikel ovaria
c)
c. Pituitari anterior
d)
d. Pituitari posterior
e)
e. Hipothalamus
5.
Hormon yang mengatur gejala tingkah laku birahi sapi adalah
a)
a. Follicle stimulating hormone (FSH)
b)
b. Luteinizing hormone (LH)
c)
c. Growth hormone
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
6.
Progesteron dihasilkan oleh
a)
a. Korpus luteum
b)
b. Folikel ovaria
c)
c. Pituitari anterior
d)
d. Pituitari posterior
e)
e. Hipothalamus
7.
Pada periode kebuntingan sapi hormon utamanya adalah
a)
a. Follicle stimulating hormone (FSH)
b)
b. Luteinizing hormone (LH)
c)
c. Growth hormone
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
8.
Gonadotrophin releasing hormone (GnRH) dihasilkan oleh
a)
a. Korpus luteum
b)
b. Folikel ovaria
c)
c. Pituitari anterior
d)
d. Pituitari posterior
e)
e. Hipothalamus
9.
Pada proses partus kontraksi uterus dipacu sapi oleh hormon
a)
a. Progesteron dari korpus luteum
b)
b. Oxytocin dari pituitari anterior
c)
c. Oxytocin dari pituitari posterior
d)
d. Estrogen dari folikel ovaria
e)
e. Relaksin dari pituitari anterior
10.
Menjelang proses partus pada sapi terbebas
a)
a. Estrogen dari folikel
b)
b. Progesteron dari korpus luteum
c)
c. Relaksin dari hipothalamus
d)
d. Prostaglandin F2? dari endometrium
e)
e. Oxytocin dari pituitari anterior
11.
Spermatozoa sapi diproduksi di dalam
a)
a. Skrotum
b)
b. Testes
c)
c. Epididymis
d)
d. Kelenjar bulbourethralis
e)
e. Prostata
12.
Plasma semen sapi diproduksi oleh
a)
a. Skrotum
b)
b. Testes
c)
c. Epididymis
d)
d. Ductus deferens
e)
e. Ureter
13.
Proses pemasakan spermatozoa sapi terjadi dalam
a)
a. Skrotum
b)
b. Testes
c)
c. Epididymis
d)
d. Kelenjar bulbourethralis
e)
e. Prostata
14.
Pengaturan suhu proses spermatogenesis diatur oleh
a)
a. Skrotum
b)
b. Testes
c)
c. Epididymis
d)
d. Kelenjar bulbourethralis
e)
e. Prostata
15.
Libido pejantan sapi ditentukan dengan adanya hormon
a)
a. Skrotum
b)
b. Testes
c)
c. Epididymis
d)
d. Kelenjar bulbourethralis
e)
e. Prostata
16.
Sebagai signaler pada saat birahi sapi betina menghasilkan
a)
a. Testosteron
b)
b. Estrogen
c)
c. Progesteron
d)
d. Pheromon
e)
e. ?-endorphin
17.
Tanda gejala birahi sapi betina sbb, kecuali:
a)
a. Kebengkakan vulva
b)
b. Lendir vulva berdarah
c)
c. Kemerahan mukosa vulva
d)
d. Dinaiki dan menaiki sapi lain
e)
e. Lendir vulva jernih
18.
Pengawinan sapi dengan menggunakan pejantan dilakukan pada saat
a)
a. Proestrus
b)
b. Standing heat
c)
c. 12 jam dr standing heat
d)
d. Proestrus
e)
e. Metestrus
19.
Inseminasi buatan pada sapi terbaik dilakukan pada saat
a)
a. Proestrus
b)
b. Standing heat
c)
c. 12 jam dr standing heat
d)
d. Proestrus
e)
e. Metestrus
20.
Deposisi semen sapi terbaik diinseminasikan pada
a)
a. Vagina
b)
b. Os eksterna servik
c)
c. Cincin servik
d)
d. Korpus uteri
e)
e. Kornu uteri
21.
Satu dosis semen beku sapi menurut SNI minimum berisi spermatozoa sebanyak
a)
a. 5.000.000 sel
b)
b. 10.000.000 sel
c)
c. 15.000.000 sel
d)
d. 20.000.000 sel
e)
e. 25.000.000 sel
22.
Thawing semen beku sapi terbaik direndam dalam
a)
a. Air es selama 30 detik
b)
b. Air 30* C selama 30 detik
c)
c. Air 30* C selama 10 menit
d)
d. Air 40* C selama 30 detik
e)
e. Air 40* C selama 10 menit
23.
Parameter reproduksi untuk evaluasi keberhasilan IB adalah sbb, kecuali
a)
a. S/C
b)
b. CR
c)
c. PAI (pregnant per AI)
d)
d. ADG
e)
e. Days open
24.
Persentase sapi bunting dari hasil IB pertama disebut
a)
a. S/C
b)
b. CR
c)
c. PAI
d)
d. ADG
e)
e. Days open
25.
Jumlah sapi bunting untuk tiap perlakuan IB disebut
a)
a. S/C
b)
b. CR
c)
c. PAI (pregnant per AI)
d)
d. ADG
e)
e. Days open
26.
Jumlah hari dari partus sampai bunting kembali disebut
a)
a. S/C
b)
b. CR
c)
c. PAI (pregnant per AI)
d)
d. ADG
e)
e. Days open
27.
Jumlah inseminasi yang dibutuhkan untuk tiap kebuntingan disebut
a)
a. S/C
b)
b. CR
c)
c. PAI (pregnant per AI)
d)
d. ADG
e)
e. Days open
28.
Syarat sinkronisasi estrus sapi dengan PGF2??sbb, kecuali
a)
a. Tidak bunting
b)
b. Bersiklus estrus
c)
c. BCS optimum
d)
d. Tidak ada leleran vulva
e)
e. Pada fase folikuler
29.
Prostaglandin F2??untuk sinkronisasi estrus mempunyai target organ yaitu
a)
a. Hipothalamus
b)
b. Ovaria
c)
c. Folikel
d)
d. Korpus luteum
e)
e. Pituitari anterior
30.
Kinerja PGF untuk sinkronisasi estrus ditingkatkan dengan penambahan pemberian
a)
a. FSH
b)
b. LH
c)
c. PMSG
d)
d. LH
e)
e. GnRH
31.
Adanya folikel ovulasi setelah sinkronisasi estrus ditandai sbb, kecuali
a)
a. Ereksi servik
b)
b. Ereksi kornu uteri
c)
c. Terabanya folikel
d)
d. Atonia uterus
e)
e. Perubahan alat kelamin luar
32.
Sista folikel (follicular cysts) pada sapi disebabkan oleh adanya defisiensi:
a)
a. FSH
b)
b. LH ringan
c)
c. LH berat
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
33.
Pada sapi bunting tiga bulan rabaan per rektum sbb, kecuali
a)
a. Asimetri kornu uteri
b)
b. Slippimg of the fetal membranes
c)
c. Teraba kotiledon dan karunkula
d)
d. Kornu uteri tergantung di ruang abdomen
e)
e. Fremitus arteria uterina media
34.
Hormon yang berperan penting dalam proses kelahiran pada sapi sebagai berikut, kecuali
a)
a. Estrogen
b)
b. Oksitosin
c)
c. Relaksin
d)
d. Prostaglandin
e)
e. FSH
35.
Hormon yang dikeluarkan fetus dalam proses kelahiran adalah:
a)
a. Kortisol
b)
b. Estrogen
c)
c. Oksitosin
d)
d. Relaksin
e)
e. Prostaglandin
36.
Fertilisasi pada sapi terjadi pada alat reproduksi berikut ini, yaitu:
a)
a. Ovarium
b)
b. Oviduct
c)
c. Uterus
d)
d. Cervix
e)
e. Vagina
37.
Abortus pada sapi yang disebabkan oleh infeksi adalah sebagai berikut, kecuali
a)
a. Brusellosis
b)
b. Vibrosis
c)
c. Trikomoniasis
d)
d. IBR-IPV
e)
e. Antraks
38.
Salah satu penyebab gangguan reproduksi adalah adanya gangguan fungsional (organ reproduksi tidak berfungsi dengan baik) Berikut adalah contoh kasus gangguan fungsional, kecuali
a)
a. Sista ovarium
b)
b. Subestrus
c)
c. Anestrus
d)
d. Ovulasitertunda
e)
e. CLP (Corpus luteum persisten)
39.
Presentasi dan posisi fetus yang normal berturut - turut ialah
a)
a. Longitudinal anterior dan Dorso Sacral
b)
b. Longitudinal anterior dan Dorso Ilial Kiri
c)
c. Longitudinal anterior dan Dorso Pubis
d)
d. Dorso Sacral dan Longitudinal Anterior
e)
e. Dorso Pubis dan Longitudinal Anterior
40.
Tanda eksternal dari kelahiran pertama ialah
a)
a. Ekor tampak menegak
b)
b. Amnion sudah pecah dan lidah pedet terjulur
c)
c. Induk berteriak keras dan mengejan
d)
d. Kepala fetus dan bagian bahu telah keluar
e)
e. Retensi plasenta
41.
Secara normal setelah terlihatnya amnion pada vulva, pedet lahir dalam waktu
a)
a. 1 Jam
b)
b. 2 Jam
c)
c. 3 Jam
d)
d. 4 Jam
e)
e. 5 Jam
42.
Retensi plasenta adalah
a)
a. Kegagalan pelepasan plasenta anak (krypta caruncula) dan plasenta induk (vili kotiledon
b)
b. Suatu kondisi selaput fetus menetap lebih lama dari 1 - 4 jam di dalam serviks setelah kelahiran
c)
c. Suatu kondisi selaput fetus menetap lebih lama dari 8 - 12 jam di dalam uterus setelah kelahiran
d)
d. Suatu kondisi selaput fetus menetap lebih lama dari 1 - 4 jam di dalam uterus setelah kelahiran
e)
e. Suatu kondisi selaput fetus menetap lebih lama dari 4 - 8 jam di dalam uterus setelah kelahiran
43.
Metode klinis pada diagnosa kebuntingan diantaranya
a)
a. Konsentrasi Darah
b)
b. Teknik Imunologik
c)
c. Teknik Rontgent
d)
d. Teknik Biomedik
e)
e. Konsentrasi Urine
44.
Radang uterus dengan eksudasi nanah dalam uterus dikenal dengan sebutan
a)
a. Endometritis
b)
b. Piometra
c)
c. Metritis
d)
d. Mukometra
e)
e. Hidrometra
45.
Berikut patogen opportunis yang umum terdapat pada lumen vagina sapi, kecuali
a)
a. Escherichia coli
b)
b. Campylobacter fetus
c)
c. Streptococcus sp.
d)
d. Staphylococcus sp.
e)
e. Corynebacterium pyogenes
46.
Piometra biasanya berakibat adanya
a)
a. Hipofungsi ovaria
b)
b. Atrofi ovaria
c)
c. Hipoplasi ovaria
d)
d. Korpus luteum persisten
e)
e. Sista lutea
47.
Piometra pada sapi dapat diobati dengan senyawa di bawah ini, kecuali
a)
a. Antibiotika
b)
b. Infusi intrauterine yodium povidon 1-2%
c)
c. Estrogen
d)
d. Estradiol benzoate
e)
e. Progesteron
48.
Perkiraan lama kebuntingan sapi adalah
a)
a. 114 hari
b)
b. 155 hari
c)
c. 280 hari
d)
d. 305 hari
e)
e. 330 hari
49.
Tipe plasentasi sapi adalah
a)
a. Kotiledonaria
b)
b. Zonaria
c)
c. Diskoidalis
d)
d. Difusa kompleta
e)
e. Diffusa inkompleta
50.
Kantong janin sapi yang paling luar adalah
a)
a. Amnion
b)
b. Allantois,
c)
c. Allantokhorion
d)
d. Tali pusat
e)
e. Yolk sac
51.
Fetus dalam kandungan berada di dalam kantong
a)
a. Amnion
b)
b. Allantois,
c)
c. Allantokhorion
d)
d. Tali pusat
e)
e. Yolk sac
52.
Yang dimaksud dengan kantong ketuban pertama (first water bag) adalah kantong
a)
a. Amnion
b)
b. Allantois,
c)
c. Allantokhorion
d)
d. Tali pusat
e)
e. Yolk sac
53.
Sistem pertautan antara induk sapi dan fetusnya lewat
a)
a. Amnion
b)
b. Allantois,
c)
c. Allantokhorion
d)
d. Tali pusat
e)
e. Yolk sac
54.
Sista folikel (follicular cysts) pada sapi disebabkan oleh adanya defisiensi:
a)
a. FSH
b)
b. LH ringan
c)
c. LH berat
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
55.
Gejala sista folikel kebanyakan adalah:
a)
a. Anestrus
b)
b. Nimfomania
c)
c. Subestrus
d)
d. Estrus irregular
e)
e. Estrus pendek
56.
Terapi hormonal sapi penderita sista folikel terbaik menggunakan:
a)
a. FSH
b)
b. Estrogen
c)
c. PMSG
d)
d. PGF2?
e)
e. GnRH
57.
Sista lutea (luteal cysts) pada sapi disebabkan oleh adanya defisiensi:
a)
a. FSH
b)
b. LH ringan
c)
c. LH berat
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
58.
Gejala sista lutea kebanyakan adalah:
a)
a. Anestrus
b)
b. Nimfomania
c)
c. Subestrus
d)
d. Estrus irregular
e)
e. Estrus pendek
59.
Terapi hormonal sapi penderita sista lutea terbaik menggunakan:
a)
a. FSH
b)
b. Estrogen
c)
c. PMSG
d)
d. PGF2?
e)
e. GnRH
60.
Arti pentingnya BVD pada reproduksi sapi adalah sbb, kecuali
a)
a. Repeat breeding
b)
b. Abortus
c)
c. Immunosuppression,
d)
d. Infertilitas
e)
e. Parturient paresis
61.
Infeksi IBR pada sapi potong di Indonesia, lebih banyak bentuk
a)
a. Respirasi
b)
b. Reproduksi
c)
c. Gastrointestinal
d)
d. Immunosuppresi
e)
e. Teratogenik
62.
Hipofungsi ovaria merupakan bentuk gangguan ovaria karena rendahnya
a)
a. Follicle stimulating hormone (FSH)
b)
b. Luteinizing hormone (LH)
c)
c. Growth hormone
d)
d. Estrogen
e)
e. Progesteron
63.
Fetus mati di dalam kandungan dan terjadi pengerasan jaringan, disebut
a)
a. Abortus
b)
b. Prematur
c)
c. Stillbirth
d)
d. Mummifikasi fetus
e)
e. Maserasi fetus
64.
Fetus dikeluarkan pada saatnya dalam keadaan mati, disebut
a)
a. Abortus
b)
b. Prematur
c)
c. Stillbirth
d)
d. Mummifikasi fetus
e)
e. Maserasi fetus
65.
Fetus dikeluarkan sebelum saatnya dalam keadaan hidup, disebut
a)
a. Abortus
b)
b. Prematur
c)
c. Stillbirth
d)
d. Mummifikasi fetus
e)
e. Maserasi fetus
66.
Fetus dikeluarkan sebelum saatnya dalam keadaan mati, disebut
a)
a. Abortus
b)
b. Prematur
c)
c. Stillbirth
d)
d. Mummifikasi fetus
e)
e. Maserasi fetus
67.
Fetus mati di dalam kandungan dan terjadi otolisis jaringan lunak, disebut
a)
a. Abortus
b)
b. Prematur
c)
c. Stillbirth
d)
d. Mummifikasi fetus
e)
e. Maserasi fetus
68.
Korpus luteum persisten terjadi pada kasus-kasus ini, kecuali
a)
a. Endometritis
b)
b. Metritis septika
c)
c. Piometra
d)
d. Repeat breeding
e)
e. Mummifikasi fetus
69.
Sapi yang mengalami anestrus pasca beranak kemungkinan sbb, kecuali
a)
a. Endometritis subklinis
b)
b. Metritis septika
c)
c. Hipofungsi ovaria
d)
d. Korpus luteum persisten
e)
e. Sista lutea (luteal cyst)
70.
Rendahnya BCS sapi (< 2,5) pasca beranak cenderung untuk
a)
a. Anestrus karena korpus luteum persisten
b)
b. Anestrus karena hipofungsi
c)
c. Repeat breeding karena kegagalan fertilisasi
d)
d. Repeat breeding karena kegagalan konsepsi
e)
e. Estrus irreguler
71.
Faktor-faktor di bawah ini menyebabkan prolapsus uteri postpartum, kecuali
a)
a. BCS rendah saat partus
b)
b. Hipokalsemia
c)
c. Hipomagnesemia
d)
d. Inertia uterina
e)
e. Hiperestrogenismus
72.
Senyawa berikut dapat diinjeksi pasca reposisi kasus prolapsus uteri sapi, kecuali
a)
a. Progestagen
b)
b. Estrogen
c)
c. Oxytocin
d)
d. Estradiol
e)
e. Ergometrin
73.
Faktor-faktor di bawah ini menyebabkan retensi plasenta, kecuali
a)
a. BCS rendah saat partus
b)
b. Hipokalsemia
c)
c. Uremia
d)
d. Inertia uterina
e)
e. Plasentitis
74.
Berikut penyakit infeksi penyebab utama abortus sapi, kecuali
a)
a. Brucellosis
b)
b. BVD
c)
c. IBR
d)
d. SE
e)
e. Trichomoniasis
75.
Sapi dara latent carrier brucellosis akan muncul seropositifnya setelah terjadinya kebuntingan, karena pengaruh
a)
a. Dexamethasone
b)
b. Estradiol
c)
c. Progesteron
d)
d. Cortisol
e)
e. Erythritol
76.
Berikut penyebab utama prolpsus uteri pada sapi, kecuali
a)
a. Hipokalsemia
b)
b. Inersia uteri
c)
c. Vaginitis
d)
d. Hiperestrogenismus
e)
e. Sapi silangan
77.
Penyebab endometritis subklinis pada sapi di Indonesia kecuali:
a)
a. Escherechia coli
b)
b. Streptococcus zooepidemicus
c)
c. Staphylococcus sp.
d)
d. Taylorella equigenitalis
e)
e. Corynebacterium pyogenes
78.
Sapi yang selalu ditambatkan di kandang akan banyak mengalami:
a)
a. Anestrus
b)
b. Nimfomania
c)
c. Subestrus
d)
d. Estrus irregular
e)
e. Estrus pendek
79.
Gejala hipofungsi ovaria pada sapi adalah:
a)
a. Anestrus
b)
b. Nimfomania
c)
c. Subestrus
d)
d. Estrus irregular
e)
e. Estrus pendek
80.
Terapi hormonal sapi penderita sista lutea terbaik menggunakan:
a)
a. FSH
b)
b. Estrogen
c)
c. PMSG
d)
d. PGF2?
e)
e. GnRH
81.
Pada sinkronisasi estrus sapi untuk mengantisipasi ovulasi tertunda perlu ditambah
a)
a. FSH
b)
b. Estrogen
c)
c. PMSG
d)
d. PGF2?
e)
e. GnRH
82.
Implan intravagina CIDR untuk sinkronisasi estrus mengandung
a)
a. Progesteron
b)
b. Estrogen
c)
c. PMSG
d)
d. PGF2?
e)
e. HCG
83.
Untuk meningkatkan efisiensi sinkronisasi CIDR dapat diberi tambahan implant
a)
a. Progesteron
b)
b. Estrogen
c)
c. PMSG
d)
d. PGF2?
e)
e. HCG
84.
Perdarahan yang terkadang terjadi pada sapi betina pasca estrus disebut
a)
a. Estrual bleeding
b)
b. Proestrual bleeding
c)
c. Menstrual bleeding
d)
d. Metestrual bleeding
e)
e. Luteal bleeding
85.
Repeat breeding pada sapi perah akseptor IB di Indonesia paling umum karena
a)
a. Endometritis subklinis
b)
b. Endometritis klinis
c)
c. Hipofungsi ovaria
d)
d. Piometra
e)
e. Silent heat
86.
Kasus anestrus pada sapi potong pasca beranak di Indonesia terbanyak karena
a)
a. Endometritis subklinis
b)
b. Endometritis klinis
c)
c. Hipofungsi ovaria
d)
d. Piometra
e)
e. Silent heat
87.
Operasi Caesar pada sapi dilakukan dengan insisi pada
a)
a. Flank kiri dorsal
b)
b. Flank kiri ventral
c)
c. Flank kanan dorsal
d)
d. Flank kanan ventral
e)
e. Linea mediana
88.
Operasi Caesar dilakukan di bawah
a)
a. Anaestesi umum
b)
b. Anaestesi lokal
c)
c. Anaestesi topikal
d)
d. Anaestesi paravertebral
e)
e. Anestesi epidural
89.
Dystocia terjadi pada sapi, kecuali bila
a)
a. Malpresentasi
b)
b. Malposisi
c)
c. Malpostur
d)
d. Insufisiensi dilatasi servik
e)
e. Servik dilatasi penuh
90.
Kontra Indikasi dari tindakan SC ialah
a)
a. Fetus telah mati di dalam dan uterus yang telah pecah
b)
b. Prognosa fausta
c)
c. Anomali fetus
d)
d. Inersia Uterina
e)
e. Maserasi fetus
91.
Preparasi hewan dalam tindakan SC terdiri dari
a)
a. Anamnesa dan Restrain
b)
b. Anamnesa, Restrain dan Lokasi Incisi
c)
c. Signalemen, Anamnesa dan Lokasi Incisi
d)
d. Signalemen, Anamnesa dan Restrain
e)
e. Signalemen, Anamnesa, Restraint dan lokasi Incisi
92.
Persiapan sebelum melakukan Sectio Caesaria terdiri dari
a)
a. Persiapan lokasi, alat dan bahan, hewan dan tim operasi
b)
b. Persiapan lokasi, hewan dan tim operasi
c)
c. Persiapan ruang, alat dan bahan serta tim operasi
d)
d. Persiapan ruang, hewan dan tim operasi
e)
e. Persiapan ruang, alat dan bahan, hewan, tim operasi dan pemeriksaan organ reproduksi
93.
Dalam tindakan SC sebaiknya dilakukan di lokasi
a)
a. Kandang pemeliharaan
b)
b. Gudang
c)
c. Ruang kelahiran yang kosong
d)
d. Padang rumput
e)
e. Tempat pemerahan
94.
Apabila tindakan SC dilakukan dengan posisi rebah lantai yang ideal haruas dilapisi jerami
a)
a. 10 - 20 cm
b)
b. 20 - 30 cm
c)
c. 30 - 40 cm
d)
d. 40 - 50 cm
e)
e. 50 - 60 cm
95.
Pada saat tindakan SC dengan posisi berbaring, sapi harus ditempatkan pada posisi
a)
a. Lateral sinister
b)
b. Lateral dexter
c)
c. Ventrodorsal
d)
d. Dorsoventral
e)
e. Lateral
96.
Dalam menjahit daerah incisi pada uterus dapat menggunakan benang jahit
a)
a. Polypropylen
b)
b. Polybutester
c)
c. Catgut Chromic
d)
d. Silk
e)
e. Nylon
97.
Jahitan kulit pasca operasi SC harus tetap dipertahankan minimal selama
a)
a. 7 Hari
b)
b. 14 Hari
c)
c. 21 Hari
d)
d. 28 Hari
e)
e. 35 Hari
98.
Berikut kasus yang harus dipertimbangkan untuk pemberian anti-inflamasi non-steroid ialah
a)
a. Torsi Uterus
b)
b. Fetal Monster
c)
c. Kebuntingan melebihi umur 300 hari
d)
d. Anomali fetal
e)
e. Maserasi fetus
99.
Berikut bakteri paling umum yang menginfeksi uterus pasca-partum
a)
a. Escherichia coli
b)
b. Staphylococcus aureus
c)
c. Clostridium botolinum
d)
d. Clostridium Perfringens
e)
e. Salmonella spp
100.
Setelah diberi tindakan SC, sapi harus diobservasi kembali selama
a)
a. 1 - 12 Jam
b)
b. 12 - 24 Jam
c)
c. 24 - 48 Jam
d)
d. 48 - 72 Jam
e)
e. 48 - 60 Jam
Reset
