NEW
Font size
S
M
L
XL
WorksheetsTO 1 MANDIRI_PPG 2025 AKIDAH AKHLAK
Total questions: 50
Worksheet time: 2hrs 40mins
Name
Class
Date
1.
Dalam perjalanannya, Akidah Islam telah menjadi fondasi utama bagi seluruh ajaran Islam yang lain, baik dalam aspek ibadah, muamalah, maupun akhlak. Akidah Islam merupakan keyakinan dasar yang meneguhkan keesaan Allah, kenabian Muhammad, dan kebenaran ajaran Islam, serta mendorong umat Islam untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip keimanan dalam seluruh aspek kehidupan. Tanpa akidah yang kuat, praktik keislaman hanya menjadi ritual kosong tanpa makna spiritual yang mendalam. Oleh sebab itu, pendidikan akidah sejak dini sangat penting untuk membentuk generasi muslim yang memiliki keimanan kokoh, ketakwaan tinggi, dan akhlak mulia. Seorang pendidik perlu merumuskan tujuan pembelajaran di ranah sikap yang sesuai agar peserta didik tidak hanya memahami aspek kognitif dari akidah, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilainya dalam perilaku sehari-hari.
Berdasarkan uraian di atas, rumusan tujuan pembelajaran ranah sikap yang PALING sesuai dengan indikator supaya peserta didik dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia adalah:
a)
Peserta didik menunjukkan perilaku yang mencerminkan keimanan yang kuat, ketakwaan yang konsisten dalam beribadah, dan akhlak mulia dalam interaksi sosial, berdasarkan pemahaman tentang hakikat dan posisi akidah dalam ajaran Islam.
b)
Peserta didik mampu mendeskripsikan konsep keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia berdasarkan teori tentang akidah Islam yang telah dipelajari dalam pembelajaran.
c)
Peserta didik dapat menyebutkan contoh perilaku yang sesuai dengan prinsip-prinsip akidah Islam dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus menerapkannya secara konsisten.
d)
Peserta didik mampu menganalisis hubungan antara akidah, ibadah, dan akhlak dalam ajaran Islam secara teoritis dalam diskusi kelas.
e)
Peserta didik menunjukkan minat untuk memahami akidah Islam, meskipun belum menerapkannya dalam perilaku dan sikap sehari-hari.
2.
Asmaul Husna merupakan istilah dalam Islam yang merujuk pada nama-nama Allah yang indah dan agung, yang masing-masing mengandung makna dan sifat-sifat kesempurnaan Allah. Pemahaman terhadap Asmaul Husna tidak hanya penting untuk mempertebal iman, tetapi juga sebagai dasar untuk berpikir kritis dalam memahami hakikat ketuhanan dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam pembelajaran Asmaul Husna, peserta didik diarahkan untuk tidak sekadar menghafal nama-nama tersebut, tetapi juga untuk menganalisis maknanya, membandingkan satu sifat dengan sifat lainnya, serta mengkaji relevansi Asmaul Husna dalam kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu, perumusan tujuan pembelajaran harus mampu mendorong peserta didik untuk berpikir mendalam, analitis, dan reflektif.
Berdasarkan narasi di atas, rumusan tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang PALING sesuai untuk mendukung indikator berpikir kritis dalam memahami konsep dasar Asmaul Husna adalah:
a)
Peserta didik mampu menghafal 99 nama Allah yang terkandung dalam Asmaul Husna beserta artinya dengan benar sesuai dengan urutan yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadits.
b)
Peserta didik dapat menyebutkan minimal 30 nama dari Asmaul Husna berikut maknanya secara lisan dan tertulis dalam ujian praktik maupun tertulis sebagai bentuk penguasaan hafalan.
c)
Peserta didik mampu menganalisis keterkaitan antara makna Asmaul Husna dengan perilaku manusia, serta menjelaskan secara kritis bagaimana penerapan sifat-sifat tersebut dapat mempengaruhi pola pikir dan tindakan seorang muslim dalam kehidupan sehari-hari.
d)
Peserta didik dapat mengelompokkan nama-nama Asmaul Husna berdasarkan kategori tertentu seperti sifat kasih sayang, keadilan, dan kekuasaan, sesuai dengan buku teks pelajaran yang telah ditentukan.
e)
Peserta didik dapat mendiskusikan bersama teman sekelas tentang nama-nama Allah yang paling sering disebut dalam doa sehari-hari, lalu menyimpulkan daftar nama-nama tersebut berdasarkan frekuensinya.
3.
Dalam ajaran Islam, akhlak memiliki posisi yang sangat fundamental. Akhlak tidak hanya merupakan pelengkap keimanan, melainkan juga menjadi manifestasi nyata dari keimanan seseorang. Rasulullah SAW diutus ke dunia salah satunya untuk menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana sabdanya, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad). Akhlak Islam mencakup hubungan manusia dengan Tuhannya, sesama manusia, dan makhluk lain, serta dengan dirinya sendiri. Salah satu bentuk nyata akhlak mulia dalam kehidupan sosial adalah semangat gotong royong, yaitu saling membantu dalam kebaikan dan membangun kebersamaan yang harmonis dalam masyarakat. Dalam proses pendidikan, pembelajaran akhlak harus difokuskan bukan hanya pada aspek pengetahuan, tetapi juga keterampilan sosial yang aplikatif. Seorang pendidik perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang dapat menumbuhkan keterampilan bekerja sama secara ikhlas dan efektif, membangun sinergi, dan memperkuat ikatan sosial antar peserta didik melalui aktivitas gotong royong.
Berdasarkan narasi tersebut, rumusan tujuan pembelajaran ranah keterampilan yang PALING sesuai untuk mendukung indikator semangat gotong royong peserta didik adalah:
a)
Peserta didik mampu mendiskusikan pengertian gotong royong dalam kelompok kecil serta menyimpulkan pentingnya kerja sama berdasarkan nilai-nilai akhlak Islam.
b)
Peserta didik mampu membuat makalah tentang pentingnya akhlak dalam mempererat hubungan sosial dalam masyarakat Islam dan mempresentasikannya di depan kelas.
c)
Peserta didik dapat menyebutkan contoh aktivitas gotong royong dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan mengaitkannya dengan nilai-nilai akhlak Islam.
d)
Peserta didik dapat merancang proyek kegiatan sosial sederhana yang mencerminkan nilai gotong royong, meskipun tanpa melibatkan praktik nyata dalam lingkup komunitas.
e)
Peserta didik mampu menunjukkan keterampilan bekerja sama dalam kegiatan gotong royong yang diselenggarakan di sekolah atau masyarakat, dengan menerapkan prinsip-prinsip akhlak Islam seperti keikhlasan, tanggung jawab, saling menghormati, dan menjaga kebersamaan.
4.
Ilmu kalam sebagai cabang ilmu dalam tradisi keislaman telah melahirkan beragam aliran pemikiran, seperti Asy’ariyah, Maturidiyah, Mu’tazilah, dan Salafiyah, yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam memahami konsep ketuhanan, sifat-sifat Allah, dan hubungan antara akal dan wahyu. Meskipun terdapat perbedaan yang signifikan, semua aliran tersebut berkembang dalam konteks keilmuan Islam dan berkontribusi terhadap dinamika pemikiran teologis umat Islam. Dalam realitas sosial-keagamaan, perbedaan ini sering kali menimbulkan perdebatan bahkan konflik apabila tidak disikapi dengan bijaksana. Oleh karena itu, peserta didik perlu diarahkan untuk memiliki sikap yang menghargai warisan tradisi, terbuka terhadap keberagaman pandangan, dan mampu mengambil hikmah dari perbedaan tersebut. Dalam menyusun tujuan pembelajaran, guru perlu merumuskan indikator ranah sikap yang mendorong peserta didik untuk mengembangkan penerimaan terhadap tradisi keilmuan Islam tanpa bersikap eksklusif atau fanatik terhadap satu pandangan saja.
Berdasarkan narasi tersebut, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah sikap yang PALING sesuai agar peserta didik memiliki penerimaan terhadap tradisi adalah:
a)
Peserta didik menunjukkan keberpihakan pada satu aliran kalam tertentu dengan semangat membela kebenaran mutlak dan menolak pandangan yang berbeda karena dianggap menyimpang dari aqidah yang benar.
b)
Peserta didik menunjukkan sikap terbuka dan menghargai keragaman pandangan dalam ilmu kalam, serta menerima keberadaan berbagai aliran sebagai bagian dari kekayaan intelektual tradisi Islam yang perlu dipelajari secara objektif dan adil.
c)
Peserta didik menghindari pembahasan mengenai aliran-aliran dalam ilmu kalam agar tidak menimbulkan konflik dalam diskusi kelas dan menjaga keharmonisan antar teman.
d)
Peserta didik menerima pandangan aliran yang dominan di masyarakat sebagai satu-satunya acuan yang sah, tanpa mempertimbangkan konteks historis dan kontribusi aliran lainnya dalam perkembangan teologi Islam.
e)
Peserta didik lebih fokus pada hafalan nama-nama aliran dalam ilmu kalam beserta tokohnya daripada menggali dan memahami esensi ajaran masing-masing aliran secara mendalam.
5.
Tasawuf merupakan cabang ilmu dalam tradisi Islam yang membahas tentang penyucian jiwa, pembinaan akhlak, dan pendekatan diri kepada Allah melalui jalan spiritualitas yang berlandaskan Al-Qur'an dan Sunnah. Objek pembahasan tasawuf meliputi aspek batiniah manusia, seperti hati, ruh, nafsu, dan hubungan makhluk dengan Khaliknya. Dalil tentang pentingnya pembersihan jiwa terdapat dalam firman Allah: "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (QS. Asy-Syams: 9-10). Dengan memahami objek pembahasan tasawuf, peserta didik diharapkan tidak hanya mengetahui konsep-konsep dasar secara teoritis, tetapi juga mampu mengembangkan pola pikir yang dinamis dan inovatif dalam memahami dinamika kehidupan spiritual dalam konteks kekinian. Oleh karena itu, rumusan indikator tujuan pembelajaran harus mendorong peserta didik untuk mampu mengeksplorasi konsep-konsep baru yang relevan dengan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan modern.
Berdasarkan narasi tersebut, rumusan indikator tujuan pembelajaran ranah pengetahuan yang PALING sesuai agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir dinamis dan inovatif adalah:
a)
Peserta didik mampu menghafalkan definisi tasawuf dan menyebutkan dalil-dalil naqli yang berkaitan dengan objek pembahasannya secara tepat dan berurutan sesuai dengan buku ajar.
b)
Peserta didik dapat menyusun daftar istilah penting dalam tasawuf, seperti qalb, nafs, dan ruh, beserta pengertian dari masing-masing istilah berdasarkan teks klasik yang disediakan.
c)
Peserta didik mampu membedakan antara aspek syariat dan aspek tasawuf dalam praktik keagamaan berdasarkan contoh-contoh kasus yang terdapat dalam kitab-kitab tasawuf tradisional.
d)
Peserta didik dapat menganalisis konsep-konsep inti dalam objek pembahasan tasawuf dan mengembangkan interpretasi inovatif yang mengaitkannya dengan problematika kontemporer seperti krisis spiritualitas di era modern.
e)
Peserta didik dapat mengulang penjelasan tentang hubungan antara ruh dan hati dalam tasawuf dengan menggunakan bahasa sederhana yang dapat dipahami oleh teman sekelas.
6.
Dalam proses merancang tujuan pembelajaran untuk materi Aqidah Islam, khususnya tentang "Allah dan Kemaha-Esa-an Allah," guru perlu mempertimbangkan struktur keilmuan yang mengorganisasikan materi secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat memahami konsep tauhid dengan benar. Dalam pendekatan Problem-Based Learning (PBL), guru mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam menemukan konsep melalui pemecahan masalah yang kontekstual. Hal ini menuntut guru untuk tidak hanya merancang tujuan yang sekadar menghafal dalil tentang keesaan Allah, melainkan juga mendorong peserta didik untuk mampu menganalisis keterkaitan konsep tauhid dengan fenomena kehidupan sehari-hari. Perencanaan tujuan harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, seperti tingkat perkembangan berpikir, latar belakang sosial, dan kebutuhan belajar, agar tujuan pembelajaran menjadi relevan dan bermakna.
Berdasarkan narasi tersebut, rumusan kegiatan perencanaan tujuan pembelajaran yang PALING sesuai dengan struktur keilmuan dan karakteristik peserta didik untuk materi "Allah dan Kemaha-Esa-an Allah" dalam pendekatan PBL adalah:
a)
Guru menyusun tujuan pembelajaran yang hanya menuntut peserta didik untuk menghafal 10 dalil naqli tentang kemahaesaan Allah tanpa memberikan kesempatan untuk memahami atau mengkaitkan makna dalil tersebut dalam kehidupan nyata.
b)
Guru menetapkan tujuan pembelajaran agar peserta didik dapat menyebutkan pengertian Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat berdasarkan buku teks, tanpa memberikan ruang untuk refleksi terhadap implementasi nilai tauhid dalam perilaku.
c)
Guru merancang tujuan pembelajaran agar peserta didik mampu mengidentifikasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan penyimpangan terhadap prinsip kemahaesaan Allah, lalu memecahkan masalah tersebut melalui analisis nilai-nilai tauhid berdasarkan dalil-dalil naqli dan akli, sesuai dengan kemampuan berpikir kritis mereka.
d)
Guru menyusun tujuan pembelajaran yang berfokus pada pembuatan poster tentang nama-nama Allah, tanpa mengaitkannya dengan pemahaman mendalam tentang makna kemahaesaan-Nya.
e)
Guru mengarahkan peserta didik untuk membuat cerpen bertema keesaan Allah, meskipun tidak diberikan panduan analisis struktur keilmuan materi ajar yang benar tentang Tauhid.
7.
Dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran pada materi Asmaul Husna dengan pendekatan Project-Based Learning (PjBL), guru dituntut untuk memfasilitasi peserta didik dalam proses eksplorasi makna mendalam dari nama-nama Allah yang agung, serta bagaimana sifat-sifat Allah tersebut berimplikasi terhadap pembentukan karakter mulia. Guru tidak hanya menyampaikan definisi nama-nama Allah secara verbal, melainkan mengarahkan peserta didik untuk menganalisis makna setiap sifat Asmaul Husna berdasarkan struktur keilmuan, yakni dengan memahami aspek ontologis (hakikat), epistemologis (sumber pengetahuan), dan aksiologis (nilai guna) dari masing-masing sifat Allah. Dalam pendekatan PjBL, peserta didik diajak untuk mengkaji kasus nyata di masyarakat yang dapat direfleksikan berdasarkan pemahaman terhadap Asmaul Husna, serta mengembangkan proyek kreatif yang menunjukkan aplikasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan pembelajaran juga harus mempertimbangkan karakteristik peserta didik seperti kemampuan berpikir, kreativitas, dan latar belakang sosial-budaya.
Berdasarkan narasi tersebut, aktivitas guru dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran yang PALING sesuai untuk memfasilitasi analisis materi ajar "makna dan sifat Asmaul Husna" berdasarkan struktur keilmuan dan karakteristik peserta didik adalah:
a)
Guru membacakan 99 Asmaul Husna secara berulang-ulang dan meminta peserta didik menyalin maknanya di buku catatan tanpa perlu melakukan diskusi atau refleksi terhadap makna dan implikasi sifat-sifat tersebut dalam kehidupan.
b)
Guru membimbing peserta didik untuk mengidentifikasi makna beberapa nama Allah dalam Asmaul Husna, kemudian mengaitkan sifat-sifat tersebut dengan proyek nyata, seperti membuat kampanye sosial bertema kasih sayang, keadilan, dan kejujuran, berdasarkan hasil analisis makna sifat Asmaul Husna secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.
c)
Guru meminta peserta didik membuat daftar nama-nama Allah beserta arti harfiahnya tanpa perlu mengembangkan pemahaman lebih lanjut tentang bagaimana sifat-sifat tersebut dapat membentuk perilaku positif di masyarakat.
d)
Guru mengarahkan peserta didik untuk hanya menghafalkan Asmaul Husna dan membuat kartu ucapan dengan gambar visual nama-nama Allah tanpa ada analisis mendalam terhadap maknanya.
e)
Guru membagi peserta didik dalam kelompok untuk berlomba menghafal Asmaul Husna sebanyak mungkin dalam waktu terbatas, dengan penilaian utama berdasarkan kecepatan dan jumlah hafalan, bukan pada pemahaman makna dan penerapannya.
8.
Dalam konteks evaluasi pembelajaran akhlak Islam, seorang guru menggunakan pendekatan Discovery-Based Learning (DBL) untuk mengkaji konsep akhlak mahmudah (terpuji) dan akhlak mazmumah (tercela). Guru tidak memberikan jawaban secara langsung kepada peserta didik, melainkan merancang evaluasi yang mendorong peserta didik menemukan sendiri karakteristik akhlak-akhlak tersebut melalui pengamatan kasus nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat. Evaluasi yang dirancang harus mampu mengukur pemahaman peserta didik terhadap konsep akhlak berdasarkan analisis struktur keilmuan (hakikat akhlak, sumber akhlak dalam Islam, serta implikasinya dalam perilaku sosial) dan memperhatikan karakteristik peserta didik seperti usia, latar belakang budaya, dan tingkat kemampuan berpikir kritis. Guru mengharapkan evaluasi ini mampu menilai kemampuan peserta didik untuk bukan hanya mengetahui contoh akhlak mahmudah dan mazmumah, tetapi juga menganalisis sebab akibat munculnya perilaku tersebut serta menyarankan solusi perbaikan akhlak dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan narasi tersebut, bentuk evaluasi yang PALING sesuai untuk menguraikan materi ajar konsep akhlak mahmudah dan mazmumah berdasarkan struktur keilmuan dan karakteristik peserta didik adalah:
a)
Guru memberikan studi kasus tentang perilaku sosial di lingkungan sekolah, lalu meminta peserta didik untuk mengidentifikasi jenis akhlak yang ditunjukkan, menganalisis faktor penyebabnya berdasarkan prinsip akhlak Islam, serta memberikan alternatif solusi untuk memperbaiki perilaku tersebut dalam bentuk presentasi proyek kelompok.
b)
Guru hanya memberikan soal pilihan ganda tentang definisi akhlak mahmudah dan mazmumah yang jawabannya sudah tersedia dalam buku teks tanpa meminta analisis lebih lanjut terhadap kasus nyata.
c)
Guru meminta peserta didik membuat daftar 20 contoh akhlak terpuji dan tercela berdasarkan referensi kitab klasik Islam, tanpa menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka saat ini.
d)
Guru membagikan ringkasan materi akhlak terpuji dan tercela, kemudian menguji peserta didik melalui kuis cepat tanpa ada proses penemuan makna akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
e)
Guru membebaskan peserta didik memilih topik proyek akhlak apa saja tanpa memberikan arahan spesifik tentang fokus pada konsep mahmudah atau mazmumah, sehingga evaluasi menjadi kurang terarah.
9.
Seorang guru yang mengimplementasikan pendekatan TPACK dalam perencanaan pembelajaran Ilmu Kalam berusaha merancang alur materi ajar tentang berbagai aliran dalam Ilmu Kalam seperti Mu'tazilah, Asy'ariyah, Maturidiyah, dan Syiah dengan mempertimbangkan integrasi konten, pedagogi, dan teknologi. Guru harus menyusun urutan penyajian materi yang logis, mulai dari konsep dasar Ilmu Kalam, latar belakang kemunculan aliran, prinsip-prinsip teologis yang membedakan masing-masing aliran, serta bagaimana penerapan prinsip tersebut berinteraksi dengan perkembangan sosial-politik pada masa itu. Dalam menentukan alur ini, guru juga harus menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik, seperti tingkat kemampuan berpikir analitis, kemampuan literasi digital, serta latar belakang keagamaan dan budaya mereka. Penggunaan teknologi seperti peta konsep digital, video animasi tentang sejarah perdebatan teologis, dan forum diskusi daring menjadi bagian penting dalam memperdalam pemahaman peserta didik terhadap materi yang kompleks.
Berdasarkan narasi tersebut, alur materi ajar yang PALING logis dan sesuai dengan pendekatan TPACK untuk mengajarkan karakteristik utama berbagai aliran Ilmu Kalam kepada peserta didik adalah:
a)
Memulai pembelajaran dengan menonton video dokumenter tentang sejarah Islam secara umum, lalu langsung meminta peserta didik membuat presentasi tentang salah satu aliran tanpa memberikan panduan tentang prinsip teologisnya.
b)
Meminta peserta didik membaca makalah tentang semua aliran Ilmu Kalam, lalu langsung mengadakan ujian esai tanpa proses pembimbingan dalam menganalisis perbedaan pokok antaraliran.
c)
Menyajikan konsep-konsep kontroversial dari setiap aliran dalam bentuk kuis interaktif tanpa memberikan pengantar tentang sejarah dan perkembangan masing-masing aliran secara kontekstual.
d)
Mengawali dengan menjelaskan definisi Ilmu Kalam, dilanjutkan dengan membahas latar belakang sosial-politik kemunculan berbagai aliran, kemudian menganalisis prinsip-prinsip teologis masing-masing aliran dengan bantuan peta konsep digital dan diskusi forum daring untuk memperdalam pemahaman, sambil memperhatikan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
e)
Langsung membandingkan kesimpulan ajaran antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah tanpa membahas landasan filosofis dan sosiologis dari masing-masing aliran, serta tanpa memperhatikan karakteristik peserta didik dalam memilih media pembelajaran.
10.
Dalam proses pelaksanaan materi ajar tentang aliran-aliran tasawuf dan tokoh-tokohnya dengan pendekatan Discovery Learning (DL), seorang guru mengajak peserta didik untuk menemukan sendiri sejarah munculnya tasawuf beserta faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Guru merancang aktivitas pembelajaran yang dimulai dengan mengamati sumber-sumber primer dan sekunder tentang perkembangan tasawuf klasik, seperti kondisi sosial-politik masa Umayyah dan Abbasiyah, perubahan dalam praktik keagamaan umat Islam, serta munculnya tokoh-tokoh seperti Hasan al-Bashri, Rabiah al-Adawiyah, dan Al-Junaid al-Baghdadi. Guru mengarahkan peserta didik untuk menganalisis keterkaitan antara kemunduran moral masyarakat dan munculnya gerakan spiritual tasawuf. Aktivitas tersebut dirancang untuk memperhatikan karakteristik peserta didik, termasuk kemampuan berpikir kritis, minat terhadap sejarah Islam, serta kemampuan melakukan sintesis dari berbagai sumber.
Berdasarkan narasi tersebut, alur pelaksanaan materi ajar yang PALING logis dan sesuai dengan pendekatan DL dalam menyampaikan sejarah munculnya tasawuf dan faktor-faktor pendukungnya adalah:
a)
Guru membuka dengan ceramah panjang lebar tentang seluruh tokoh tasawuf dan aliran-alirannya tanpa memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengeksplorasi atau mengaitkan dengan faktor-faktor sosial yang melatarbelakanginya.
b)
Guru langsung memberikan tugas menulis esai tentang tokoh tasawuf tertentu tanpa mendiskusikan sejarah lahirnya tasawuf dan kondisi sosial-politik yang menjadi latar belakangnya.
c)
Guru menyuruh peserta didik membaca buku tasawuf secara mandiri di luar kelas lalu mengerjakan soal pilihan ganda tanpa adanya interaksi, eksplorasi sumber, atau diskusi kelompok yang membangun penemuan makna.
d)
Guru memutar film dokumenter tentang tokoh-tokoh tasawuf tanpa mengaitkan dengan konteks historis munculnya tasawuf dan tidak meminta peserta didik melakukan analisis faktor-faktor penyebabnya.
e)
Guru mengajak peserta didik mengamati fenomena sosial-politik masa awal Islam melalui sumber-sumber historis, mendiskusikan kebutuhan masyarakat akan pembaruan spiritual, mengidentifikasi faktor-faktor lahirnya tasawuf, serta menganalisis peran tokoh-tokoh utama dalam membentuk aliran-aliran tasawuf secara terstruktur berdasarkan penemuan dan diskusi aktif.
11.
Dalam pelaksanaan pembelajaran tasawuf dengan pendekatan pelayanan konseling, guru menghadapi tantangan dalam membimbing peserta didik memahami objek pembahasan tasawuf yang mencakup hubungan spiritual dengan Tuhan (ḥablun min Allāh) serta hubungan sosial dengan sesama manusia (ḥablun min al-nās). Guru merancang strategi pembelajaran yang mengintegrasikan pembinaan kesadaran batin melalui refleksi harian, muhasabah (introspeksi), dzikir, serta keterlibatan sosial seperti kerja bakti, berbagi makanan, dan saling menghargai perbedaan. Pelayanan konseling yang digunakan menekankan aspek pengembangan potensi spiritual dan moral peserta didik, disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis mereka. Guru juga merancang evaluasi yang menilai kemampuan peserta didik dalam mengintegrasikan pengalaman batiniah dengan perilaku sosial yang mencerminkan nilai-nilai tasawuf.
Berdasarkan narasi tersebut, alur pelaksanaan materi ajar yang PALING logis dan tepat dengan pendekatan pelayanan konseling dalam menjelaskan ruang lingkup hubungan antara makhluk dengan Tuhan dan makhluk dengan sesama adalah:
a)
Mengawali pembelajaran dengan penjelasan akademik tentang definisi tasawuf dari segi bahasa dan istilah, lalu memberikan tugas membaca buku rujukan tentang sejarah tasawuf tanpa mengaitkan dengan pengalaman spiritual peserta didik secara pribadi.
b)
Menjalankan pembelajaran dengan metode ceramah penuh tanpa aktivitas refleksi, konseling spiritual, atau latihan penguatan relasi sosial dan spiritual yang dibutuhkan peserta didik dalam kehidupan nyata.
c)
Membuka pembelajaran dengan diskusi reflektif tentang pengalaman spiritual peserta didik, mengaitkan makna ḥablun min Allāh melalui praktik ibadah yang bernilai ikhlas dan mendalam, dilanjutkan dengan studi kasus mengenai perilaku sosial (ḥablun min al-nās) yang menunjukkan kasih sayang, empati, dan toleransi, kemudian guru memfasilitasi sesi konseling kelompok untuk mendalami makna tasawuf dalam keseharian peserta didik.
d)
Memberikan modul tentang makna tasawuf dan menyuruh peserta didik menuliskannya kembali dengan gaya bahasa sendiri tanpa eksplorasi mendalam tentang penerapannya dalam relasi dengan Tuhan dan manusia.
e)
Menayangkan film tentang tokoh sufi besar, kemudian meminta peserta didik membuat esai tentang film tersebut tanpa ada proses pembimbingan konseling yang mengarahkan pada makna aktualisasi diri spiritual dan sosial.
12.
Seorang guru dalam perencanaan tujuan pembelajaran mencoba menerapkan program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di kelasnya. Ia memahami bahwa nilai-nilai P5 seperti beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif harus diintegrasikan secara logis dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Guru kemudian mendesain pengembangan materi ajar berbasis proyek, misalnya dengan mengangkat tema “Kearifan Lokal untuk Dunia” dan melibatkan peserta didik dalam penelitian tentang budaya lokal. Peserta didik diajak untuk melakukan observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat, menyusun laporan, lalu mempresentasikan hasilnya di depan komunitas sekolah. Dalam proses tersebut, guru juga memperhatikan variasi gaya belajar peserta didik, kecenderungan minat mereka, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk menentukan bagian proyek yang sesuai dengan potensi masing-masing.
Berdasarkan narasi tersebut, pengembangan materi ajar yang PALING tepat dalam perencanaan tujuan pembelajaran berbasis nilai-nilai P5 adalah:
a)
Guru menentukan seluruh proyek secara sepihak tanpa melibatkan peserta didik dalam pemilihan tema, tugas, dan cara penyajian, sehingga peserta didik hanya mengikuti instruksi secara pasif tanpa keterlibatan personal.
b)
Guru mengarahkan seluruh peserta didik untuk menyalin teori tentang kearifan lokal dari buku teks tanpa mengaitkan pengetahuan tersebut dengan realitas kehidupan sekitar mereka ataupun nilai-nilai P5 yang seharusnya dikembangkan.
c)
Guru menyusun rencana pelajaran yang berfokus hanya pada nilai kreatif, mengabaikan aspek gotong royong, kebinekaan global, dan ketakwaan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi kurang holistik.
d)
Guru menekankan pada output hasil proyek saja tanpa memfasilitasi proses refleksi tentang makna nilai P5 dalam kehidupan nyata peserta didik, sehingga proses belajar menjadi semata-mata berorientasi produk.
e)
Guru mendesain pengembangan materi ajar melalui proyek berbasis penelitian budaya lokal, membimbing peserta didik mengenali makna nilai P5 secara nyata, memberikan ruang kreatif sesuai gaya belajar dan potensi peserta didik, serta mendorong refleksi kritis tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara individu maupun dalam komunitas.
13.
Dalam upaya mengimplementasikan program Penguatan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (PPRA) di sekolah berbasis Islam moderat, seorang guru berupaya mengintegrasikan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat dan kebaikan bagi seluruh alam ke dalam pelaksanaan tujuan pembelajaran. Guru mendesain materi ajar yang mendorong peserta didik memahami Islam sebagai ajaran kasih sayang universal yang menekankan prinsip toleransi, keadilan sosial, penghargaan terhadap keragaman, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama makhluk. Misalnya, dalam materi Pendidikan Agama Islam, guru tidak hanya mengajarkan teori tentang rahmatan lil ‘alamin, tetapi mengaitkannya dengan projek nyata seperti kegiatan berbagi sembako lintas agama, program penghijauan lingkungan, dan kampanye sosial tentang hak-hak minoritas. Guru juga mempertimbangkan karakteristik peserta didik yang beragam dalam gaya belajar, minat, dan latar belakang sosial, untuk memastikan bahwa setiap anak merasa terlibat dan berkontribusi.
Berdasarkan narasi tersebut, bentuk pengembangan materi ajar yang PALING logis dalam melaksanakan tujuan pembelajaran berbasis nilai-nilai PPRA adalah:
a)
Guru menyusun rencana pembelajaran yang mengintegrasikan prinsip rahmatan lil ‘alamin ke dalam tema proyek-proyek sosial lintas agama dan budaya, mengaitkan ajaran Islam dengan aksi nyata seperti penghijauan dan bantuan sosial, serta mengadaptasi metode pembelajaran agar sesuai dengan potensi, minat, dan latar belakang peserta didik, sehingga semua peserta didik mengalami secara langsung makna Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
b)
Guru hanya memberikan ceramah tentang konsep rahmatan lil ‘alamin secara teoritis selama satu sesi, tanpa menyertakan praktik lapangan atau keterlibatan peserta didik dalam aktivitas sosial nyata.
c)
Guru menentukan program rahmatan lil ‘alamin hanya sebatas lomba hafalan ayat-ayat Al-Qur'an tanpa penjelasan aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam memperlakukan sesama makhluk dengan kasih sayang.
d)
Guru membatasi kegiatan rahmatan lil ‘alamin dalam bentuk tugas membuat makalah ilmiah tentang toleransi, tanpa mendesain proyek sosial atau pengalaman langsung yang memungkinkan peserta didik berinteraksi dalam keragaman sosial.
e)
Guru hanya mengaitkan nilai rahmatan lil ‘alamin dengan program internal sekolah tanpa membuka peluang kolaborasi dengan komunitas eksternal seperti masyarakat umum, lembaga sosial, atau organisasi lintas iman.
14.
Dalam praktik kehidupan bermasyarakat, guru memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan materi ajar yang menginternalisasikan nilai-nilai moderasi beragama yang ditunjukkan dalam perilaku sehari-hari. Misalnya, di lingkungan sosial yang multikultural dan multireligius, guru diharapkan menanamkan prinsip-prinsip Islam sebagai agama yang moderat, berorientasi pada keseimbangan (tawazun), keadilan (‘adl), toleransi (tasamuh), dan menghargai perbedaan (i’tidal). Dalam perencanaan pembelajaran, guru merancang materi ajar yang tidak hanya memuat konsep teoritis tentang moderasi beragama, tetapi juga menghadirkan contoh nyata di masyarakat seperti kolaborasi antarumat beragama dalam kegiatan sosial, resolusi konflik secara damai, hingga kampanye toleransi berbasis media digital. Guru juga menyesuaikan pendekatan dengan karakteristik peserta didik yang beragam dalam hal latar belakang, minat, dan kecenderungan berpikir, untuk mengoptimalkan pemahaman mereka tentang pentingnya sikap moderat dalam beragama.
Berdasarkan narasi tersebut, pilihan pengembangan materi ajar yang PALING sesuai untuk mengevaluasi tujuan pembelajaran berbasis nilai-nilai moderasi beragama adalah:
a)
Guru menyusun materi ajar hanya berdasarkan teori tentang prinsip wasathiyah tanpa memberikan peluang kepada peserta didik untuk melihat implementasinya dalam kehidupan masyarakat yang beragam, sehingga materi terkesan hanya dogmatis dan kurang aplikatif.
b)
Guru mengembangkan materi ajar berbasis problem-based learning (PBL), dimana peserta didik diajak untuk menganalisis kasus nyata praktik moderasi beragama di masyarakat seperti kerjasama lintas iman, kemudian membuat proyek sosial yang mencerminkan nilai keseimbangan, keadilan, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan minat dan potensi mereka.
c)
Guru fokus mengajarkan konsep moderasi beragama dalam bentuk ceramah satu arah tanpa mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman langsung peserta didik di lingkungan sosial mereka yang heterogen.
d)
Guru membuat materi ajar tentang moderasi beragama hanya sebatas hafalan prinsip-prinsip Islam moderat tanpa latihan berpikir kritis tentang penerapannya dalam konteks sosial yang aktual dan dinamis.
e)
Guru mengembangkan materi ajar dengan membatasi contoh moderasi hanya pada konteks komunitas Muslim, tanpa membuka wawasan tentang pentingnya hubungan harmonis antar berbagai umat beragama dalam masyarakat plural.
15.
Dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di tengah masyarakat yang multikultural, guru menghadapi tantangan untuk tidak hanya mentransfer pengetahuan tentang ajaran Islam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam sebagai agama yang moderat (wasathiyah). Guru harus mampu membangun materi ajar yang bukan hanya menyampaikan hukum-hukum syariat secara kaku, tetapi lebih pada membentuk peserta didik yang memiliki pola pikir inklusif, mampu menghargai perbedaan, menolak kekerasan, serta berkontribusi pada perdamaian sosial. Hal ini menjadi krusial mengingat meningkatnya potensi konflik sosial berbasis agama di era modern, baik secara lokal maupun global. Dalam konteks ini, penyusunan materi ajar harus berbasis alasan-alasan yang kuat, tidak hanya karena tuntutan kurikulum, tetapi juga karena kebutuhan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan narasi di atas, alasan yang PALING TEPAT untuk mengembangkan materi ajar Islam sebagai agama moderat (wasathiyah) adalah:
a)
Karena nilai-nilai wasathiyah hanya sebatas menjadi tuntutan administratif dari pemerintah dalam pelaksanaan kurikulum berbasis karakter sehingga perlu diikuti tanpa refleksi kritis atas implementasinya.
b)
Karena Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin perlu dipertahankan hanya dalam tataran konsep ideal tanpa perlu diaktualisasikan dalam hubungan sosial nyata yang dinamis.
c)
Karena nilai-nilai moderasi beragama cukup diajarkan dalam bentuk teori tanpa perlu dikontekstualisasikan dengan problematika sosial kontemporer yang kompleks.
d)
Karena dalam konteks masyarakat plural dan dinamis, penguatan nilai moderasi beragama dalam materi ajar Islam menjadi kunci utama dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga mampu membangun hubungan sosial yang damai, adil, toleran, serta berkontribusi aktif dalam menciptakan harmoni di tengah keberagaman.
e)
Karena pendidikan Islam modern harus berfokus pada menjaga tradisi semata tanpa perlu mengadaptasikan ajaran moderat Islam dengan kebutuhan perubahan zaman yang cepat.
16.
Dalam konteks pembelajaran materi tauhid di lingkungan pendidikan menengah, guru agama Islam dituntut untuk tidak hanya menyampaikan definisi tauhid secara teoritis, tetapi juga mengaitkan pemahamannya dengan permasalahan nyata yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, fenomena penyimpangan tauhid dalam bentuk ketergantungan pada kekuatan selain Allah, perilaku musyrik modern, hingga krisis keyakinan akibat pengaruh globalisasi. Untuk itu, pendekatan Problem Based Learning (PBL) menjadi strategi yang tepat agar peserta didik tidak hanya menghafal konsep tauhid, melainkan juga mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan mencari solusi atas persoalan keimanan di era kontemporer. Oleh karena itu, pemilihan rancangan pembelajaran harus mempertimbangkan karakteristik struktur keilmuan tauhid, yang bersifat rasional, berbasis dalil, dan aplikatif dalam membentuk pola pikir kritis dan reflektif terhadap realitas sosial.
Berdasarkan narasi di atas, rancangan pembelajaran berbasis masalah yang PALING TEPAT untuk diterapkan pada materi tauhid adalah:
a)
Menerapkan metode ceramah sepanjang pembelajaran sehingga peserta didik hanya mendengar penjelasan guru tentang konsep tauhid tanpa diberi kesempatan berdiskusi dan berdebat atas fenomena keimanan kontemporer.
b)
Mendesain pembelajaran berbasis masalah dengan merancang skenario masalah aktual terkait penyimpangan tauhid, memandu peserta didik menemukan akar masalah, menganalisisnya dengan prinsip-prinsip tauhid yang shahih, dan merumuskan solusi aplikatif berdasarkan ajaran Islam yang murni.
c)
Mengarahkan peserta didik untuk membaca satu sumber buku tauhid kemudian membuat rangkuman tanpa perlu mengaitkannya dengan permasalahan aktual dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan ketauhidan.
d)
Menggunakan pendekatan hafalan semata atas ayat-ayat Al-Qur'an tentang tauhid tanpa mendorong peserta didik mengaitkan makna ayat tersebut dengan realitas sosial yang mereka alami di lingkungan sekitar.
e)
Mengandalkan pemberian tugas proyek jangka panjang tentang tauhid tanpa integrasi langsung dengan masalah-masalah nyata yang sedang berkembang di kalangan peserta didik dan masyarakat luas.
17.
Dalam praktik pembelajaran tauhid di kelas, guru yang profesional tidak hanya bertugas untuk mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang keesaan Allah, tetapi juga harus mampu membumikan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Misalnya, membimbing peserta didik memahami bahwa tauhid tidak hanya soal keyakinan batin, tetapi juga harus tercermin dalam sikap jujur, adil, rendah hati, dan bertanggung jawab dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, dalam struktur keilmuan Islam, tauhid adalah dasar utama yang harus mengintegrasikan antara iman (keyakinan), ilmu (pengetahuan), dan amal (praktik). Dengan mengadopsi pendekatan Problem Based Learning (PBL), guru harus menyusun rancangan pembelajaran yang berpusat pada masalah nyata yang berkaitan dengan tantangan iman dalam keseharian peserta didik, agar mereka tidak hanya mampu berpikir kritis, tetapi juga membangun kesadaran beragama yang autentik.
Berdasarkan narasi di atas, rancangan pembelajaran berbasis masalah yang PALING TEPAT adalah:
a)
Merancang pembelajaran yang menghadirkan kasus nyata terkait lemahnya praktik tauhid di kalangan remaja, kemudian mengarahkan peserta didik untuk menganalisis penyebabnya, mencari dalil penguat dari Al-Qur'an dan Hadis, serta membuat rencana aksi konkret dalam memperbaiki sikap mereka berdasarkan nilai-nilai tauhid.
b)
Menyusun pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan definisi tauhid, nama-nama sifat Allah, dan dalil pendukungnya tanpa melibatkan refleksi mendalam tentang bagaimana tauhid seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c)
Mengembangkan skenario pembelajaran dengan membuat peserta didik membaca buku teks tauhid kemudian menulis laporan ringkas tanpa memberikan studi kasus aktual yang relevan dengan kehidupan peserta didik.
d)
Mendesain pembelajaran dengan mengutamakan ceramah satu arah, di mana guru memaparkan semua konsep tentang tauhid sementara peserta didik hanya menjadi pendengar pasif tanpa kesempatan berdiskusi.
e)
Memberikan tugas proyek membuat poster tentang tauhid, tetapi tanpa pengarahan yang jelas tentang bagaimana hubungan antara prinsip tauhid dan tindakan nyata dalam kehidupan sosial peserta didik.
18.
Dalam suatu sekolah berbasis teknologi modern, guru pendidikan agama Islam berusaha mengintegrasikan nilai-nilai Asmaul Husna ke dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL). Guru tersebut memanfaatkan platform digital seperti Learning Management System (LMS), aplikasi kuis daring, hingga forum diskusi virtual untuk mendorong peserta didik memahami dan menerapkan sifat-sifat Allah, seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Al-Adl (Maha Adil) dalam keseharian mereka. Melalui pendekatan ini, guru mengangkat kasus nyata tentang persaingan tidak sehat antar siswa dalam kegiatan akademik daring, lalu meminta peserta didik mengidentifikasi nilai Asmaul Husna yang relevan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan membuat proyek digital (poster elektronik, video pendek, atau infografis) sebagai solusi berbasis nilai Islami.
Berdasarkan narasi kasus tersebut, rancangan pembelajaran berbasis masalah yang PALING TEPAT untuk mendorong penerapan nilai Asmaul Husna melalui penggunaan teknologi adalah:
a)
Menginstruksikan peserta didik untuk membuat catatan manual tentang nama-nama Asmaul Husna tanpa menghubungkannya dengan kasus nyata dan tanpa memanfaatkan media teknologi yang tersedia.
b)
Meminta peserta didik untuk sekadar menghafalkan 99 Asmaul Husna menggunakan aplikasi hafalan daring tanpa mendorong refleksi kritis atas makna penerapannya dalam situasi konkret.
c)
Mendesain pembelajaran di mana peserta didik mengkaji kasus persaingan tidak sehat melalui forum diskusi daring, mengidentifikasi sifat Asmaul Husna yang dapat diterapkan, dan menghasilkan proyek digital kreatif sebagai upaya solutif nyata.
d)
Menggunakan video ceramah tentang Asmaul Husna tanpa memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mendiskusikan atau menerapkan maknanya dalam konteks persoalan sosial digital yang mereka alami.
19.
Dalam sebuah sekolah menengah atas yang memiliki latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi peserta didik yang sangat beragam, seorang guru Pendidikan Agama Islam ingin menerapkan pembelajaran tentang akhlak mahmudah (terpuji) dan akhlak mazmumah (tercela). Guru menyadari bahwa karakteristik peserta didik di kelasnya sangat berbeda: sebagian memiliki latar belakang keluarga religius, sebagian lainnya berasal dari lingkungan sosial yang kurang mendukung praktik keagamaan secara optimal. Untuk itu, guru merancang pembelajaran yang mampu menyesuaikan dengan perbedaan individual peserta didik, dengan tujuan agar semua siswa, tanpa terkecuali, dapat memahami dan menginternalisasi nilai-nilai akhlak Islam sesuai kemampuan dan latar belakang mereka.
Guru kemudian menyusun skenario pembelajaran yang melibatkan aktivitas reflektif personal, diskusi kelompok berdasarkan kasus nyata, dan presentasi pendek yang menggambarkan tantangan pribadi peserta didik dalam mengamalkan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan kasus tersebut, strategi pembelajaran yang PALING TEPAT untuk diterapkan agar sesuai dengan pendekatan berbasis perbedaan individu dalam materi akhlak adalah:
a)
Menggunakan satu modul pembelajaran cetak yang sama untuk seluruh siswa tanpa modifikasi atau penyesuaian konten, dan menilai pemahaman mereka hanya melalui tes tertulis standar.
b)
Meminta seluruh peserta didik menonton film yang menggambarkan akhlak terpuji, kemudian menuliskan pendapatnya secara seragam tanpa mempertimbangkan latar belakang atau pengalaman pribadi.
c)
Menugaskan siswa membuat daftar 10 akhlak mahmudah dan 10 akhlak mazmumah yang dijelaskan dalam buku ajar, lalu meminta mereka menghafalkannya untuk kemudian diujikan secara lisan di depan kelas.
d)
Mendesain satu kegiatan presentasi kelompok dengan topik-topik akhlak tertentu yang telah ditentukan guru, tanpa memberikan ruang bagi siswa untuk memilih berdasarkan relevansi pengalaman pribadi mereka.
e)
Mendesain kegiatan pembelajaran yang memungkinkan siswa mengungkapkan tantangan pribadi dalam menerapkan akhlak, melakukan refleksi berdasarkan pengalaman mereka sendiri, dan mempresentasikan nilai akhlak yang paling relevan dengan kehidupannya, dengan bimbingan guru yang empatik terhadap perbedaan latar belakang individu.
20.
Dalam perkuliahan Ilmu Kalam, seorang dosen merancang pembelajaran mengenai kontribusi para tokoh utama seperti Imam Abu al-Hasan al-Ash'ari, Imam al-Maturidi, dan para mutakallimin lainnya. Materi ajar berfokus pada bagaimana para tokoh tersebut berkontribusi dalam memperkaya konsep tentang sifat-sifat Allah, kehendak bebas manusia, dan hubungan antara akal dan wahyu. Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang kemampuan akademik, gaya belajar, dan pengalaman keagamaan. Sebagian mahasiswa lebih cepat memahami konsep melalui diskusi argumentatif, sebagian lainnya lebih nyaman belajar melalui penulisan reflektif atau visualisasi konsep.
Untuk mengakomodasi perbedaan individu ini, dosen memilih model pembelajaran berbasis perbedaan individu, dengan menyediakan berbagai pilihan metode tugas: ada yang berupa debat ilmiah, ada yang membuat mind map pemikiran tokoh, dan ada yang menulis esai analisis.
Dalam konteks kasus tersebut, pilihan pendekatan pembelajaran yang PALING TEPAT agar semua mahasiswa dapat mengoptimalkan potensi mereka sesuai dengan gaya belajar masing-masing adalah:
a)
Memberikan tugas tunggal berbentuk makalah panjang tanpa memberikan opsi lain, agar semua mahasiswa berusaha menyesuaikan diri dengan standar akademik yang sama.
b)
Menyelenggarakan kuliah umum satu arah tanpa kesempatan interaktif atau eksplorasi mandiri terhadap kontribusi para tokoh Ilmu Kalam.
c)
Membagi mahasiswa ke dalam kelompok besar tanpa memperhatikan perbedaan minat atau gaya belajar, lalu meminta mereka mempresentasikan hasil bacaannya.
d)
Menyediakan beberapa pilihan tugas yang beragam seperti debat ilmiah, pembuatan mind map, dan penulisan esai, agar mahasiswa bisa memilih format yang paling sesuai dengan kekuatan dan preferensinya.
e)
Memberikan soal-soal hafalan tentang biografi tokoh dan meminta mahasiswa menghafalnya untuk diujikan secara lisan dalam satu sesi.
21.
Dalam pembelajaran tasawuf di kelas pendidikan tinggi, seorang dosen menyusun program studi mengenai perkembangan aliran-aliran tasawuf seperti tasawuf falsafi, tasawuf akhlaki, dan tasawuf sunni. Pembelajaran diarahkan untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga menganalisis kontribusi tokoh-tokoh besar seperti Al-Hallaj, Al-Ghazali, dan Ibnu Arabi terhadap dinamika spiritualitas Islam. Mahasiswa berasal dari latar belakang yang sangat beragam: ada yang lebih responsif terhadap pembelajaran berbasis teks klasik, ada yang lebih mampu memahami konsep melalui video animasi penjelasan tasawuf, ada pula yang lebih tertarik menggunakan platform digital interaktif untuk eksplorasi konsep-konsep sufistik.
Menghadapi kenyataan tersebut, dosen memutuskan untuk mengintegrasikan teknologi pendidikan berbasis Learning Management System (LMS) yang memungkinkan mahasiswa memilih berbagai jenis sumber pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing, seperti video, e-book, forum diskusi virtual, dan kuis interaktif.
Dalam konteks tersebut, pendekatan pembelajaran yang PALING TEPAT untuk mengakomodasi perbedaan individu dan memanfaatkan teknologi adalah:
a)
Memberikan hanya satu sumber pembelajaran berupa diktat teks, mengharuskan semua mahasiswa membaca dan memahami materi dalam format yang sama.
b)
Menugaskan seluruh mahasiswa membuat makalah dengan pendekatan seragam tentang seluruh aliran tasawuf tanpa memperhatikan preferensi belajar.
c)
Mengadakan seminar offline satu arah di mana dosen mendominasi penjelasan tanpa ada opsi lain bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi secara mandiri.
d)
Membagi mahasiswa dalam kelompok berdasarkan nilai akademik sebelumnya tanpa mempertimbangkan gaya belajar dan minatnya.
e)
Menyediakan berbagai sumber pembelajaran berbasis teknologi seperti video, e-book, forum diskusi virtual, dan kuis online, sehingga mahasiswa dapat memilih metode yang sesuai dengan gaya belajar mereka.
22.
Dalam sebuah program pengembangan kurikulum berbasis pembelajaran mendalam (deep learning), seorang dosen Tasawuf di fakultas tarbiyah merancang sebuah proyek pembelajaran yang tidak hanya meminta mahasiswa memahami konsep-konsep teoritis tentang hubungan antara makhluk dengan Tuhan (hablum min Allah) dan hubungan antar sesama makhluk (hablum min al-nas), melainkan juga menuntut mereka untuk mengaitkan konsep tersebut dengan refleksi kehidupan nyata. Mahasiswa diminta mengerjakan tugas-tugas reflektif, melakukan observasi sosial terhadap perilaku komunitas keagamaan tertentu, lalu mengaitkannya dengan prinsip-prinsip tasawuf dalam relasi vertikal dan horizontal. Di kelas, dosen memfasilitasi diskusi mendalam, memberikan pertanyaan pemantik kritis, dan menyediakan berbagai sumber literasi klasik dan kontemporer.
Dalam kerangka tersebut, dosen mempertimbangkan perbedaan kemampuan analitis, latar belakang keagamaan, serta minat belajar masing-masing mahasiswa agar seluruh peserta didik dapat mengeksplorasi makna hablum min Allah dan hablum min al-nas secara personal dan kontekstual.
Pendekatan pembelajaran PALING TEPAT yang sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam dan memperhatikan karakteristik individu mahasiswa tersebut adalah:
a)
Memberikan ceramah satu arah tentang teori tasawuf tanpa membiarkan mahasiswa melakukan eksplorasi atau refleksi lebih dalam.
b)
Mengadakan ujian pilihan ganda tentang definisi hubungan makhluk dengan Tuhan dan hubungan antar sesama tanpa memberikan kesempatan diskusi.
c)
Mengharuskan mahasiswa hanya menghafal dalil-dalil terkait hubungan vertikal dan horizontal tanpa memahami aplikasinya dalam kehidupan nyata.
d)
Mendesain proyek reflektif yang mendorong mahasiswa menghubungkan konsep hablum min Allah dan hablum min al-nas dengan pengalaman kehidupan sehari-hari melalui tugas observasi, refleksi pribadi, dan diskusi kritis.
e)
Membatasi sumber pembelajaran hanya dari satu buku teks tanpa memperbolehkan mahasiswa mengakses sumber-sumber lain yang relevan.
23.
Seorang dosen pengampu mata kuliah Tasawuf di sebuah perguruan tinggi Islam berusaha mengembangkan pembelajaran berbasis deep learning (pembelajaran mendalam) agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep hablum min Allah (hubungan antara makhluk dengan Tuhan) dan hablum min al-nas (hubungan antar sesama makhluk) secara teoritis, tetapi mampu menginternalisasikannya dalam sikap dan perilaku nyata. Untuk mencapai tujuan tersebut, dosen mengembangkan berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari studi kasus, proyek komunitas, refleksi jurnal pribadi, hingga pengembangan karya berbasis pengalaman spiritual. Dalam perencanaannya, dosen mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif, afektif, serta karakteristik gaya belajar mahasiswa, sehingga tiap mahasiswa diberi kesempatan memilih metode eksplorasi yang paling sesuai untuk mendalami ruang lingkup hubungan vertikal dan horizontal dalam tasawuf.
Dalam konteks tersebut, dosen perlu memilih strategi pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, reflektif, dan analitis mahasiswa, sehingga pemahaman mereka terhadap hablum min Allah dan hablum min al-nas menjadi otentik dan bermakna.
Strategi pembelajaran PALING TEPAT untuk diterapkan dalam kasus di atas berdasarkan prinsip deep learning dan pendekatan pedagogi berbasis karakteristik peserta didik adalah:
a)
Mengandalkan metode ceramah konvensional selama seluruh sesi perkuliahan tanpa memberi ruang diskusi atau eksplorasi lebih lanjut terhadap konsep hablum min Allah dan hablum min al-nas.
b)
Mengarahkan mahasiswa hanya untuk membuat makalah ilmiah tentang teori hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama, tanpa aktivitas pembelajaran berbasis pengalaman langsung.
c)
Menerapkan pendekatan berbasis proyek reflektif, tugas kolaboratif komunitas, dan pembelajaran kontekstual yang mendorong mahasiswa memahami serta mengaplikasikan konsep hablum min Allah dan hablum min al-nas melalui pengalaman nyata.
d)
Memberikan kuis hafalan berulang tentang definisi hablum min Allah dan hablum min al-nas, dengan fokus utama pada penguasaan materi teoretis tanpa keterlibatan emosional.
e)
Memusatkan pembelajaran pada tugas-tugas ujian pilihan ganda formal yang hanya mengukur aspek kognitif tingkat dasar tanpa mengeksplorasi kemampuan analitis atau reflektif mahasiswa.
24.
Dalam sebuah program peningkatan mutu pendidikan di perguruan tinggi, seorang dosen merancang perkuliahan yang bertujuan mengintegrasikan materi tentang pengertian pendidikan nilai dan pendidikan karakter dalam kehidupan nyata mahasiswa. Dosen tersebut menyadari bahwa materi pendidikan nilai (moral education) dan pendidikan karakter (character education) bukan hanya sekadar teori yang perlu dipahami, melainkan harus menjadi bagian integral dari pembentukan pribadi mahasiswa. Untuk itu, ia menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) yang diperkaya dengan pemanfaatan teknologi digital, seperti platform refleksi daring, jurnal pembelajaran berbasis blog, serta penggunaan aplikasi kolaboratif untuk proyek pengembangan karakter.
Mahasiswa didorong untuk tidak hanya menghafal definisi pendidikan nilai dan karakter, melainkan juga melakukan analisis kritis, menghubungkan teori dengan realitas sosial, serta membuat proyek yang mencerminkan penerapan nilai-nilai karakter, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat, melalui media digital.
Dalam konteks ini, strategi pembelajaran PALING TEPAT untuk memastikan penguatan pengertian pendidikan nilai dan pendidikan karakter melalui pendekatan pembelajaran berbasis teknologi adalah:
a)
Menggunakan metode ceramah satu arah selama perkuliahan untuk memaparkan teori pendidikan nilai dan pendidikan karakter tanpa mengintegrasikan proyek atau aktivitas berbasis teknologi.
b)
Menerapkan pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam yang mengkombinasikan analisis reflektif, proyek berbasis teknologi, diskusi digital kolaboratif, serta pemanfaatan media sosial akademik untuk eksplorasi nilai-nilai karakter.
c)
Mewajibkan mahasiswa untuk menghafal seluruh definisi pendidikan nilai dan pendidikan karakter dan mengujinya dengan tes tulis berbasis pilihan ganda standar tanpa aktivitas aplikasi nyata.
d)
Menugaskan mahasiswa membuat presentasi statis tentang tokoh-tokoh pendidikan karakter tanpa melakukan refleksi pribadi terhadap nilai yang dipelajari.
e)
Membatasi proses pembelajaran hanya dengan tugas resume artikel tanpa memberi ruang untuk eksplorasi kreatif atau reflektif melalui platform digital.
25.
Dalam era perkembangan teknologi yang semakin pesat, penting bagi dosen untuk merancang pembelajaran yang tidak hanya mengutamakan aspek konten dan pedagogi, tetapi juga memanfaatkan teknologi secara efektif. Pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam, salah satu materi yang diajarkan adalah konsep dan urgensi moderasi beragama sebagai fondasi hidup bermasyarakat di tengah keberagaman. Seorang dosen ingin memastikan mahasiswa mampu memahami prinsip-prinsip moderasi beragama, seperti toleransi, keadilan, keseimbangan, dan anti-ekstremisme, serta mampu menerapkannya dalam praktik sosial.
Untuk itu, dosen memilih pendekatan TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge), dengan mengintegrasikan materi moderasi beragama melalui platform digital kolaboratif, video pembelajaran interaktif, forum diskusi daring, dan proyek digital berbasis kasus-kasus nyata dalam masyarakat multikultural. Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengembangkan sikap moderat dalam berpikir dan bertindak melalui teknologi yang familiar bagi mereka.
Dalam konteks penerapan tersebut, rancangan pembelajaran BERBASIS TPACK yang paling sesuai untuk memastikan penguasaan konsep dan urgensi moderasi beragama adalah:
a)
Mengintegrasikan materi moderasi beragama melalui media digital interaktif, platform kolaboratif, serta mengarahkan mahasiswa untuk membuat proyek aplikasi nilai-nilai moderasi menggunakan teknologi yang relevan dengan kehidupan mereka.
b)
Mengajarkan konsep moderasi beragama hanya dengan menggunakan metode ceramah di kelas tanpa mengintegrasikan teknologi digital atau aktivitas pembelajaran kolaboratif berbasis daring.
c)
Memberikan tugas menulis makalah tentang moderasi beragama secara individu tanpa ada penggunaan teknologi ataupun diskusi kolaboratif daring.
d)
Membatasi diskusi tentang moderasi beragama pada kelompok kecil tanpa memanfaatkan teknologi modern dalam proses presentasi atau evaluasi hasil pembelajaran.
e)
Melakukan evaluasi moderasi beragama dengan ujian pilihan ganda konvensional tanpa memberi ruang aplikasi dalam dunia nyata atau penggunaan media teknologi.
26.
Dalam suatu pengamatan kelas di sebuah sekolah menengah, seorang mahasiswa PPL mencatat bahwa guru Pendidikan Agama Islam menyampaikan materi tentang Allah dan Kemaha-Esa-an Allah hanya menggunakan metode ceramah konvensional dan teks dari buku cetak lama. Materi yang diberikan hanya menekankan aspek dogmatis tanpa membuka ruang diskusi, tidak mengaitkan dengan realitas kehidupan kekinian, dan tidak memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis. Akibatnya, sebagian besar peserta didik tampak pasif, merasa materi tidak relevan dengan kehidupan mereka, dan tidak terlibat secara emosional maupun intelektual dalam pembelajaran.
Sebagai calon guru yang memahami pentingnya pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBL) untuk menumbuhkan karakter unggul dan daya saing global, mahasiswa diminta untuk merancang solusi inovatif yang bisa menciptakan suasana belajar yang aman, aktif, serta relevan dengan kebutuhan zaman, khususnya dalam membahas konsep keesaan Allah dalam kehidupan modern.
Berdasarkan kasus tersebut, strategi pembelajaran PBL yang paling tepat untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik dan mendorong lahirnya lulusan yang berkarakter unggul dan berdaya saing adalah:
a)
Mengganti seluruh konten pembelajaran dengan video dakwah daring tanpa membahas kembali konteks keesaan Allah dalam Al-Qur’an dan kehidupan kontemporer.
b)
Melibatkan peserta didik dalam hafalan intensif ayat-ayat tauhid tanpa ada penguatan keterkaitan dengan tantangan sosial keagamaan masa kini.
c)
Memberikan lembar kerja berisi soal-soal pilihan ganda tanpa disertai studi kasus atau proyek yang mendorong pemikiran reflektif dan solutif.
d)
Mengembangkan skenario masalah seperti fenomena penyimpangan pemahaman tauhid di media sosial, lalu meminta peserta didik bekerja dalam kelompok untuk mencari solusi berdasarkan nilai Kemaha-Esa-an Allah secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
e)
Mendorong peserta didik untuk membuat presentasi power point tentang definisi tauhid tanpa harus menjawab tantangan kontekstual di sekitar mereka.
27.
Dalam pengamatan praktik mengajar di sebuah sekolah menengah, seorang mahasiswa PPL menemukan bahwa penyajian materi tauhid dan berbagai aspeknya masih dilakukan dengan metode ceramah satu arah yang bersifat hafalan. Guru hanya membacakan definisi tentang tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat dari buku teks klasik tanpa mengaitkannya dengan realitas kehidupan modern. Ketika peserta didik diajak berdiskusi, sebagian besar siswa merasa konsep yang dijelaskan terasa jauh dari pengalaman mereka sehari-hari, terutama dalam menghadapi fenomena seperti penyalahgunaan agama di media sosial atau munculnya ideologi ekstrem yang mengatasnamakan tauhid. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakcocokan antara materi ajar dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik abad 21 yang menuntut pemikiran kritis, kreatif, serta solusi berbasis nilai-nilai keislaman yang aplikatif.
Sebagai calon pendidik yang memahami pentingnya pendekatan Project Based Learning (PjBL), mahasiswa diminta untuk memilih strategi yang paling efektif agar pembelajaran tauhid menjadi bermakna, kontekstual, membangun suasana belajar nyaman, dan menghasilkan lulusan yang berkarakter unggul serta berdaya saing di tingkat global.
Berdasarkan kasus tersebut, strategi berbasis PjBL yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan penyajian materi tauhid tersebut adalah:
a)
Menugaskan siswa membaca definisi tauhid dari buku paket dan menghafalkannya tanpa harus mengaitkannya dengan tantangan kekinian.
b)
Mengadakan ujian tertulis berbentuk pilihan ganda yang menguji hafalan istilah-istilah dalam tauhid saja tanpa pengayaan konteks sosial modern.
c)
Mengajak peserta didik membuat poster tentang nama-nama Allah tanpa diskusi mendalam terkait makna dan implikasinya dalam kehidupan nyata.
d)
Memperbanyak penyampaian materi tauhid melalui slideshow presentasi guru tanpa memberi kesempatan peserta didik melakukan refleksi kritis.
e)
Mendesain proyek kelompok di mana peserta didik melakukan penelitian kecil tentang bagaimana pemahaman tauhid dapat menangkal radikalisme atau intoleransi dalam kehidupan nyata, lalu mempresentasikan temuan mereka dalam bentuk video kreatif atau pameran kelas.
28.
Dalam sebuah observasi kelas Pendidikan Agama Islam tingkat sekolah menengah, seorang mahasiswa PPL menemukan bahwa guru menyajikan materi nilai-nilai Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari hanya dengan metode ceramah hafalan. Peserta didik diminta untuk menghafal 99 nama Allah beserta artinya, namun tanpa penguatan pada makna kontekstual dalam kehidupan modern, seperti penerapan sifat Al-Adl (Maha Adil) dalam membangun keadilan sosial, atau sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dalam mendorong kepedulian terhadap lingkungan. Akibatnya, peserta didik merasa materi tersebut tidak relevan dengan kehidupan mereka yang penuh tantangan global, seperti isu lingkungan, toleransi, dan keadilan sosial. Guru juga tidak memberikan ruang bagi peserta didik untuk menemukan sendiri relevansi nilai-nilai Asmaul Husna dalam dunia nyata.
Sebagai calon pendidik yang memahami pentingnya pendekatan Discovery-Based Learning (DBL) dalam menciptakan suasana belajar yang membahagiakan, inspiratif, serta mengarah pada pembentukan karakter unggul dan berdaya saing, strategi terbaik yang harus dipilih mahasiswa untuk memperbaiki penyajian materi tersebut adalah:
Berdasarkan kasus tersebut, langkah strategis berbasis DBL yang paling tepat adalah:
a)
Mengajak peserta didik secara aktif mengeksplorasi pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan contoh konkret penerapan sifat-sifat Asmaul Husna, lalu mendiskusikannya dalam forum kelas.
b)
Menugaskan peserta didik untuk menghafal seluruh 99 Asmaul Husna dalam satu semester tanpa memberikan contoh konkret penerapannya.
c)
Memperbanyak latihan tertulis tentang makna harfiah dari Asmaul Husna tanpa mengaitkannya dengan dinamika kehidupan sosial yang berkembang.
d)
Menyediakan bahan bacaan tambahan tentang sejarah penghafalan Asmaul Husna oleh ulama klasik tanpa refleksi penerapannya saat ini.
e)
Membuat kelompok untuk membuat daftar sifat-sifat Asmaul Husna secara manual di papan tulis, tanpa menghubungkannya dengan aktivitas kehidupan modern.
29.
Dalam sebuah observasi di kelas Pendidikan Agama Islam pada jenjang SMA, seorang guru menyampaikan materi tentang akhlak terpuji (mahmudah) dan akhlak tercela (mazmumah) hanya melalui metode ceramah satu arah tanpa memberikan contoh yang relevan dengan konteks kehidupan masa kini. Siswa hanya diberikan daftar sifat-sifat seperti jujur, amanah, sabar, dengki, dusta, dan sebagainya tanpa mengaitkan bagaimana nilai-nilai ini dapat dihadirkan dalam tantangan zaman modern seperti penggunaan media sosial, budaya konsumerisme, atau keberagaman sosial. Akibatnya, siswa merasa materi yang diajarkan terlalu teoretis, sulit dipahami, dan tidak membangun kesadaran aplikatif terhadap perilaku sehari-hari mereka di lingkungan nyata.
Sebagai calon guru profesional yang memahami pentingnya pembelajaran berbasis Discovery Learning (DL) untuk membentuk lulusan yang berkarakter unggul dan berdaya saing, pendekatan terbaik yang dapat diambil mahasiswa dalam mengatasi kasus tersebut adalah:
Berdasarkan kasus tersebut, model pembelajaran DL yang paling tepat untuk meningkatkan pemahaman siswa adalah:
a)
Mengulang kembali materi tentang akhlak mahmudah dan mazmumah dengan metode hafalan tradisional yang berfokus pada definisi teks kitab klasik.
b)
Mengajak siswa untuk menemukan dan mengkaji contoh-contoh nyata dari perilaku akhlak terpuji dan akhlak tercela melalui pengamatan, wawancara, atau studi kasus di lingkungan sekitarnya lalu mendiskusikannya dalam kelompok
c)
Memberikan siswa tugas membuat daftar sifat terpuji dan tercela berdasarkan materi buku teks tanpa harus dikaitkan dengan kehidupan modern.
d)
Menyampaikan materi secara dominan melalui tayangan video tanpa melibatkan siswa dalam proses refleksi aktif terhadap makna nilai-nilai tersebut.
e)
Menggunakan kuis cepat berbasis aplikasi daring yang hanya menguji hafalan istilah akhlak mahmudah dan mazmumah tanpa pendalaman makna.
30.
Dalam suatu kajian Ilmu Kalam di sebuah perguruan tinggi, ditemukan sebuah praktik pembelajaran di mana dosen hanya menyampaikan materi tentang sifat-sifat Allah, qadha dan qadar, kebebasan manusia, iman dan kufur, serta hubungan akal dan wahyu dengan cara ceramah konvensional yang terlalu tekstual dan tidak relevan dengan perkembangan zaman. Mahasiswa lebih banyak mendengarkan penjelasan teoritis tanpa diberi kesempatan untuk menghubungkan konsep-konsep tersebut dengan realitas dunia modern, seperti tantangan globalisasi, kemajuan teknologi, atau masalah sosial yang melibatkan pandangan dunia agama. Hal ini menyebabkan pemahaman mahasiswa terbatas dan kurang mampu mengaplikasikan konsep Ilmu Kalam dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Sebagai mahasiswa yang berorientasi pada pengembangan kompetensi pedagogik yang adaptif dengan teknologi, strategi yang paling tepat untuk menciptakan suasana belajar yang lebih relevan, kreatif, dan berkarakter unggul serta berdaya saing, dengan mengintegrasikan TPACK dalam proses pembelajaran Ilmu Kalam adalah:
Berdasarkan kasus tersebut, strategi terbaik yang harus diterapkan dalam pembelajaran adalah:
a)
Menyampaikan materi dengan lebih banyak membaca teks-teks klasik tentang sifat-sifat Allah tanpa mengaitkannya dengan isu kontemporer.
b)
Menggunakan metode ceramah tradisional yang mengutamakan hafalan konsep-konsep dasar Ilmu Kalam tanpa bantuan teknologi atau media interaktif.
c)
Mengintegrasikan teknologi seperti aplikasi simulasi atau pembelajaran daring, yang memungkinkan mahasiswa untuk mengeksplorasi sifat-sifat Allah dan konsep-konsep lainnya dalam konteks kehidupan modern dan diskusi interaktif dengan menggunakan forum online.
d)
Menyediakan hanya catatan materi yang sudah disiapkan tanpa memberi ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam pemahaman konten melalui diskusi kelompok.
e)
Menggunakan model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) yang hanya fokus pada penulisan makalah panjang tanpa media teknologi atau pendalaman materi secara langsung.
31.
Dalam salah satu sesi kuliah di program studi Pendidikan Agama Islam, seorang dosen menyajikan materi tentang aliran-aliran dalam tasawuf, seperti aliran ma’rifat, mahabbah, dan fana’, serta mengulas kontribusi tokoh-tokoh seperti al-Ghazali, Rabi'ah al-Adawiyah, dan Ibn Arabi secara tekstual tanpa mempertimbangkan konteks kehidupan mahasiswa masa kini yang menghadapi tantangan eksistensial, krisis makna hidup, serta tekanan mental dari lingkungan sosial modern. Penyampaian materi yang terlalu normatif dan minim dialog ini menyebabkan sebagian mahasiswa merasa bahwa tasawuf hanyalah wacana keilmuan klasik yang tidak menyentuh realitas psikologis dan spiritual mereka.
Sebagai mahasiswa yang peka terhadap permasalahan peserta didik, strategi pembelajaran berbasis pelayanan bimbingan konseling yang paling tepat untuk memperbarui pendekatan dalam penyampaian materi tasawuf guna menciptakan suasana belajar yang progresif serta relevan dengan kebutuhan zaman adalah:
Manakah pendekatan yang paling sesuai untuk mengatasi kasus tersebut?
a)
Meminta mahasiswa membuat makalah mengenai sejarah tokoh-tokoh sufi dan mempresentasikannya dalam forum kelas tanpa menyinggung kondisi kejiwaan atau tantangan spiritual kontemporer.
b)
Menyampaikan materi melalui media digital seperti video dokumenter tentang kehidupan para tokoh sufi, tanpa ada proses refleksi atau pendalaman psikologis bersama mahasiswa.
c)
Memberikan tugas kepada mahasiswa untuk menelusuri kitab-kitab tasawuf klasik, lalu menyusunnya menjadi modul tanpa keterlibatan bimbingan atau diskusi pribadi.
d)
Mengadakan kuliah tamu dengan narasumber ahli tasawuf, namun pembahasan hanya difokuskan pada pendekatan akademik tanpa menyentuh nilai terapeutik tasawuf.
e)
Mengintegrasikan pendekatan bimbingan konseling dalam pembelajaran tasawuf dengan mengangkat isu-isu psikologis yang dialami mahasiswa, lalu menghubungkannya dengan nilai-nilai spiritual tasawuf melalui refleksi kelompok, sesi konseling mikro, dan diskusi berbasis pengalaman pribadi.
32.
Dalam sebuah proses perkuliahan Pendidikan Agama Islam, dosen menyampaikan materi tentang tasawuf sebagai hubungan antara makhluk dengan Tuhan (hablum min Allah) yang disampaikan melalui metode ceramah satu arah dan bersifat tekstual. Materi hanya berpusat pada doktrin keagamaan tanpa mempertimbangkan kebutuhan peserta didik yang memiliki perbedaan latar belakang kemampuan, gaya belajar, bahkan terdapat mahasiswa dengan kebutuhan khusus dalam aspek kognitif dan psikomotorik. Salah satu mahasiswa dengan gangguan pemusatan perhatian terlihat mengalami kesulitan memahami istilah-istilah abstrak dalam ajaran tasawuf, sementara mahasiswa lain merasa pembelajaran tidak memberdayakan potensi individual mereka.
Dalam konteks tersebut, pendekatan pembelajaran berbasis pelayanan ABK yang paling sesuai untuk menciptakan lingkungan belajar yang akomodatif dan tetap mengembangkan spiritualitas mahasiswa secara setara adalah:
a)
Menginstruksikan seluruh mahasiswa untuk membaca kitab klasik tasawuf dan mempresentasikan isi kitab tersebut tanpa ada penyesuaian bagi mahasiswa yang kesulitan membaca teks panjang dan berat secara konseptual.
b)
Memberikan tugas diskusi kelompok tanpa membentuk kelompok heterogen dan tanpa memperhatikan gaya belajar maupun hambatan belajar mahasiswa tertentu.
c)
Menugaskan mahasiswa membuat ringkasan tertulis dari ceramah dosen dengan deadline yang sama, tanpa memberikan alternatif bentuk penugasan bagi mahasiswa dengan kebutuhan belajar khusus.
d)
Mendesain pembelajaran diferensiasi dengan menyediakan materi tasawuf dalam berbagai media seperti audio, visual, dan cerita kontekstual, serta melibatkan pendamping belajar untuk mahasiswa ABK guna memastikan mereka dapat mengakses makna spiritual tasawuf sesuai kapasitasnya.
e)
Menghapus komponen materi hablum min Allah dalam RPS agar lebih sederhana dan fokus pada aspek yang lebih praktis saja, demi memudahkan pemahaman semua mahasiswa tanpa pengecualian.
33.
Dalam sebuah studi lapangan di sebuah lembaga pendidikan tinggi keagamaan, ditemukan praktik penyajian materi tasawuf yang terlalu fokus pada doktrin normatif seperti kewajiban dzikir, wirid, dan ketaatan mutlak tanpa memberi ruang diskusi kritis atau reflektif kepada mahasiswa. Materi tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hablum min Allah) disampaikan secara satu arah, tanpa konteksisasi terhadap tantangan zaman seperti krisis spiritual, kecemasan sosial, dan kehilangan makna hidup di era digital. Mahasiswa merasa bahwa pendekatan ini terlalu abstrak dan tidak menyentuh kebutuhan spiritual kontemporer mereka. Akibatnya, pembelajaran menjadi kurang bermakna dan tidak memberi kontribusi nyata terhadap pembentukan karakter unggul dan daya saing lulusan.
Sebagai calon pendidik professional yang memahami pentingnya kebermaknaan dan adaptasi dalam proses belajar, pendekatan pembelajaran paling relevan untuk menjawab tantangan kasus tersebut adalah:
a)
Pendekatan contextual teaching and learning (CTL), karena memungkinkan mahasiswa mengaitkan nilai-nilai spiritual tasawuf dengan kehidupan nyata melalui pengalaman konkret dan refleksi kontekstual yang relevan dengan tantangan zaman.
b)
Pendekatan ekspositori klasik yang menekankan transfer informasi dari dosen ke mahasiswa secara sistematis dan utuh, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman pada ajaran tasawuf.
c)
Pendekatan kompetisi kelompok untuk memperkuat semangat berlomba-lomba dalam kebaikan, dengan menugaskan mahasiswa menghafal teks klasik tentang hablum min Allah.
d)
Pendekatan berbasis hafalan dan keteladanan dosen, agar mahasiswa lebih fokus meniru pola hidup spiritual dari guru yang dianggap mewakili praktik tasawuf.
e)
Pendekatan blended learning yang sepenuhnya mengganti pertemuan tatap muka dengan modul daring dan kuis reflektif untuk mempercepat capaian kognitif mahasiswa.
34.
Di sebuah program studi pendidikan agama Islam, dosen menyampaikan materi tentang tujuan pendidikan nilai dan pendidikan karakter dengan pendekatan yang bersifat normatif, berpusat pada hafalan definisi, dan menyebutkan macam-macam karakter positif seperti jujur, tanggung jawab, dan disiplin secara terpisah dari konteks keseharian mahasiswa. Pendekatan ini tidak memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan dinamika kehidupan mereka sebagai generasi digital yang menghadapi tantangan seperti krisis integritas di media sosial, individualisme, serta lemahnya budaya refleksi. Akibatnya, mahasiswa memahami materi hanya secara teoritis tanpa mampu menginternalisasi dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Sebagai calon pendidik profesional yang mampu berpikir kritis dan solutif, pendekatan paling relevan dan progresif untuk menjawab kelemahan penyajian materi tersebut adalah:
a)
Menggunakan pendekatan behavioristik dengan penekanan pada penguatan stimulus-respons agar mahasiswa terbiasa menunjukkan perilaku sesuai nilai-nilai yang diajarkan.
b)
Menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis refleksi kritis dan kolaboratif, di mana mahasiswa diajak mendiskusikan dan menganalisis dilema nilai dalam kehidupan nyata serta merancang solusi berbasis nilai karakter yang kontekstual.
c)
Menggunakan pendekatan klasikal yang sistematis dengan menugaskan mahasiswa menyalin dan merangkum ulang isi buku teks sebagai bentuk penguatan nilai.
d)
Menggunakan pendekatan konservatif berbasis narasi keteladanan tokoh sejarah tanpa dihubungkan dengan persoalan kontemporer yang dihadapi mahasiswa.
e)
Menggunakan pendekatan berbasis proyek hafalan nilai-nilai karakter yang dikompilasi dalam bentuk portofolio individu.
35.
Dalam salah satu mata kuliah Pendidikan Agama Islam di sebuah perguruan tinggi, dosen menyampaikan materi prinsip-prinsip moderasi beragama seperti sikap tengah (tawassuth), adil (ta‘adul), toleransi (tasamuh), dan saling menghormati (ihtiram) hanya dalam bentuk ceramah satu arah. Dosen lebih fokus pada aspek definisi tekstual dan sejarah tokoh, tanpa mengaitkan dengan konteks sosial mahasiswa yang hidup di era digital dengan tantangan polarisasi, ujaran kebencian, dan fanatisme sempit di media sosial. Mahasiswa pun merasa kesulitan memahami relevansi nilai-nilai moderasi dalam menghadapi tantangan zaman. Akibatnya, nilai-nilai tersebut hanya dipahami sebagai doktrin normatif tanpa aktualisasi dalam realitas hidup.
Sebagai mahasiswa yang dibekali pengetahuan pedagogik dan dituntut berpikir kritis serta kreatif, pendekatan paling tepat dan relevan untuk memperbaiki penyajian materi tersebut agar menciptakan lingkungan belajar yang membahagiakan adalah:
a)
Pendekatan berbasis hafalan istilah dan kutipan tokoh klasik untuk membentuk kepekaan terhadap makna nilai moderasi secara mendalam.
b)
Pendekatan klasikal berbasis narasi historis agar mahasiswa memahami akar konsep moderasi dari sejarah keislaman.
c)
Pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang menugaskan mahasiswa membuat kampanye digital tentang pentingnya toleransi beragama di masyarakat multikultural.
d)
Pendekatan otoritatif, di mana dosen memberi arahan nilai-nilai secara ketat dan menghindari perdebatan agar tercipta disiplin akademik.
e)
Pendekatan berbasis individual refleksi moral, di mana mahasiswa menulis pengalaman pribadi terkait keberagamaan.
36.
Dalam suatu kelas Pendidikan Agama Islam tingkat SMA, guru mengembangkan pembelajaran aqidah Islam dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL). Peserta didik diberi studi kasus berupa konflik antar teman akibat perbedaan keyakinan keagamaan yang disertai narasi sejarah perbedaan dalam kalam Islam. Dalam proses belajar, peserta didik dibagi dalam kelompok, berdiskusi secara intensif, mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi berdasarkan prinsip-prinsip aqidah Islam tentang toleransi, dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Meskipun kegiatan belajar aktif, guru mengalami kendala dalam menentukan teknik asesmen yang dapat menggambarkan sikap keberagamaan, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan komunikasi peserta didik.
Dalam konteks pembelajaran PBL tersebut, teknik asesmen paling tepat yang dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluasi secara menyeluruh aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan adalah:
a)
Tes pilihan ganda berbasis kognitif yang mengukur penguasaan konsep aqidah Islam dalam bentuk hafalan istilah dan dalil.
b)
Penilaian formatif berupa angket sikap dengan skala Likert yang diisi secara individu tanpa dikaitkan dengan aktivitas pembelajaran.
c)
Asesmen autentik berupa rubrik observasi, lembar penilaian presentasi kelompok, dan jurnal refleksi individu yang menggambarkan pemahaman nilai aqidah dalam konteks sosial.
d)
Tes lisan individual untuk mengevaluasi pemahaman dan kemampuan menjawab pertanyaan tentang dalil-dalil dalam ilmu aqidah secara spontan.
e)
Penugasan membuat ringkasan bacaan dari kitab aqidah klasik tanpa dikaitkan dengan dinamika kelompok atau aktivitas diskusi kelas.
37.
Dalam pembelajaran Aqidah Islam di kelas XI MA, seorang guru menerapkan pendekatan Project-Based Learning (PjBL) untuk menanamkan nilai-nilai keimanan kepada Allah SWT melalui proyek penyusunan kampanye digital bertema “Tauhid Sebagai Dasar Kehidupan”. Siswa diminta merancang konten kampanye berupa video singkat, poster digital, dan narasi reflektif yang dapat dipublikasikan di media sosial. Tujuan dari proyek ini tidak hanya untuk mengukur pemahaman kognitif siswa tentang tauhid, tetapi juga menilai keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kesadaran spiritual mereka dalam menyampaikan pesan keislaman secara kontekstual dan menarik.
Dalam konteks pembelajaran tersebut, instrumen asesmen yang paling tepat dan holistik untuk mengevaluasi aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik berdasarkan karakteristik mereka adalah:
a)
Tes pilihan ganda dengan butir soal yang menekankan aspek hafalan dalil-dalil tauhid dan konsep-konsep dalam kitab aqidah.
b)
Kuesioner refleksi spiritual yang hanya berisi pernyataan umum terkait pengalaman keimanan pribadi peserta didik tanpa dikaitkan dengan proyek.
c)
Rubrik penilaian proyek yang memuat indikator sikap religius, penguasaan materi tauhid, keterampilan desain media dakwah, dan kontribusi kolaboratif.
d)
Observasi informal guru saat siswa bekerja dalam kelompok tanpa adanya instrumen atau pedoman penilaian yang baku.
e)
Lembar evaluasi diri peserta didik yang hanya berfokus pada perasaan mereka selama proses belajar berlangsung.
38.
Dalam suatu praktik pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas XII MA, seorang guru menerapkan pendekatan Discovery Learning (DL) untuk membimbing peserta didik menemukan makna dan penerapan nilai-nilai Asmaul Husna, khususnya sifat Ar-Rahman, Al-Adl, dan Al-Halim, melalui kegiatan pengamatan sosial di lingkungan sekitar. Peserta didik diminta mencatat temuan perilaku masyarakat yang mencerminkan atau bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, lalu mendiskusikan relevansinya dalam konteks kehidupan berbangsa. Guru ingin mengetahui bagaimana peserta didik mengeksplorasi nilai ketuhanan melalui interaksi sosial dan bagaimana proses penemuan tersebut membentuk pemahaman dan karakter mereka.
Dalam konteks tersebut, teknik asesmen yang paling tepat digunakan oleh guru dengan mempertimbangkan lingkungan belajar dan aspek sikap, pengetahuan, serta keterampilan peserta didik adalah:
a)
Tes tertulis berbentuk pilihan ganda yang mengukur penguasaan peserta didik terhadap definisi dan arti harfiah dari Asmaul Husna.
b)
Lembar observasi umum yang hanya menilai partisipasi siswa secara global tanpa indikator yang mengarah pada nilai Asmaul Husna.
c)
Ujian esai tertulis yang mewajibkan siswa menjelaskan perbedaan antara masing-masing nama Allah dari sudut pandang teologis semata.
d)
Penilaian portofolio berbasis proyek yang hanya mencakup produk akhir tanpa melihat proses penemuan nilai-nilai.
e)
Jurnal reflektif yang ditulis siswa secara berkala untuk merefleksikan proses penemuan makna Asmaul Husna dalam pengalaman sosial mereka, dilengkapi dengan panduan penilaian sikap, pemahaman makna, dan analisis kontekstual.
39.
Dalam rangka menerapkan pembelajaran berbasis karakter di kelas XI MA, seorang guru merancang kegiatan pembelajaran mengenai akhlak mahmudah (terpuji), seperti kejujuran, amanah, tawadhu', dan sabar, yang dikontekstualisasikan dengan kehidupan digital siswa masa kini. Siswa diminta membuat vlog pendek berisi pengalaman mereka menerapkan satu nilai akhlak terpuji dalam interaksi daring, baik di media sosial maupun dalam komunitas virtual pembelajaran. Seluruh kegiatan dilakukan dalam suasana belajar kolaboratif berbasis proyek dengan pendekatan teknologi.
Guru ingin mengevaluasi keberhasilan pembelajaran tidak hanya dari hasil produk video, tetapi juga dari bagaimana siswa menyerap nilai-nilai akhlak dan mampu menunjukkan perubahan sikap serta refleksi pribadi selama proses pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini, instrumen asesmen yang paling sesuai untuk mengukur aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara holistik dalam lingkungan belajar berbasis digital dan kolaboratif adalah:
a)
Portofolio digital yang mencakup catatan refleksi pribadi siswa, rubrik penilaian keterampilan kolaborasi, dan jurnal perubahan sikap dalam proses pembuatan proyek.
b)
Tes pilihan ganda online mengenai definisi dan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang akhlak mahmudah.
c)
Ujian esai tertulis yang mengukur kemampuan kognitif siswa tentang konsep akhlak mahmudah dalam tradisi Islam klasik.
d)
Lembar observasi umum tanpa indikator sikap atau keterampilan yang spesifik selama kegiatan berlangsung.
e)
Angket kepuasan siswa terhadap pembelajaran yang hanya mengukur persepsi mereka terhadap guru.
40.
Dalam perkuliahan Ilmu Kalam di Program Studi Pendidikan Agama Islam, dosen menyusun skenario pembelajaran kolaboratif yang menuntut mahasiswa memahami serta membandingkan berbagai aliran dalam Ilmu Kalam, seperti Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan Maturidiyyah, dengan tokoh-tokoh pemikir utamanya dan objek pembahasan masing-masing aliran, seperti konsep sifat Allah, kehendak bebas manusia, dan hubungan antara akal dan wahyu. Mahasiswa tidak hanya ditugaskan untuk membaca teks klasik dan kontemporer, tetapi juga berdiskusi secara aktif dalam kelompok untuk menyusun analisis kritis terhadap relevansi pemikiran kalam klasik dengan isu-isu modern seperti pluralisme, sekularisme, dan sains.
Pembelajaran ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menguasai aspek pengetahuan (kognitif), tetapi juga mengembangkan sikap ilmiah dan saling menghargai perbedaan pemikiran, serta keterampilan berpikir reflektif dan komunikasi ilmiah. Dalam konteks ini, teknik asesmen yang paling tepat untuk menilai ketercapaian tujuan pembelajaran secara menyeluruh adalah:
a)
Tes objektif pilihan ganda tentang definisi dan karakteristik masing-masing aliran Ilmu Kalam.
b)
Penilaian diri (self-assessment) berbasis skala Likert terhadap persepsi pemahaman mahasiswa setelah membaca sumber bacaan.
c)
Tes uraian individu tentang tokoh dan doktrin masing-masing aliran berdasarkan diktat perkuliahan.
d)
Penilaian berbasis presentasi kelompok yang dikombinasikan dengan rubrik penilaian sikap ilmiah, kerja sama tim, serta kemampuan mengaitkan doktrin klasik dengan fenomena kekinian.
e)
Tes lisan (oral test) oleh dosen di akhir perkuliahan tanpa rubrik penilaian yang jelas.
41.
Dalam sebuah sesi perkuliahan Tasawuf di kelas Pendidikan Agama Islam, dosen menyajikan materi tentang perkembangan aliran tasawuf amali dan tasawuf falsafi, serta kontribusi tokoh-tokoh seperti al-Ghazali, Ibnu Arabi, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Jalaluddin Rumi dalam membentuk kerangka spiritualitas Islam klasik maupun kontemporer. Mahasiswa diminta mengkaji pemikiran para tokoh tersebut dan menyusun refleksi kritis tentang bagaimana ajaran mereka dapat diimplementasikan dalam menghadapi tantangan modern seperti individualisme, konsumerisme, dan krisis makna hidup.
Pembelajaran ini dirancang dengan tujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami aspek konseptual, tetapi juga menumbuhkan sikap spiritual, dan mampu mengekspresikan nilai-nilai tasawuf dalam praktik kehidupan serta komunikasi tertulis yang reflektif. Dosen menghendaki adanya asesmen yang dapat mengukur capaian pada ketiga aspek tersebut secara holistik.
Berdasarkan uraian di atas, instrumen asesmen yang paling tepat digunakan dalam konteks tersebut adalah:
a)
Kuis pilihan ganda daring yang berfokus pada identifikasi aliran dan nama-nama tokoh tasawuf beserta periode sejarahnya.
b)
Ujian akhir semester berupa esai tentang perbedaan tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang dikerjakan secara individual tanpa diskusi.
c)
Portofolio refleksi spiritual mahasiswa yang mencakup jurnal harian, analisis tokoh, dan pemaknaan nilai tasawuf dalam kehidupan pribadi dan sosial, dilengkapi rubrik penilaian aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
d)
Debat kelas antar kelompok tentang superioritas tasawuf amali dibandingkan tasawuf falsafi tanpa rubrik penilaian yang sistematis.
e)
Tes lisan secara acak oleh dosen tentang biografi tokoh tasawuf tanpa alat ukur sikap dan nilai aplikatif.
42.
Dalam rangka memperkuat pemahaman mendalam mahasiswa terhadap objek pembahasan utama dalam tasawuf, seperti konsep tazkiyatun nafs, maqamat, ahwal, fana’, baqa’, dan hubungan spiritual antara hamba dan Tuhan, seorang dosen merancang rangkaian pembelajaran berbasis refleksi dan dialog. Pada tahap awal, mahasiswa mengikuti penilaian diagnostik berupa kuis singkat dan kuesioner sikap religius untuk memetakan pemahaman awal dan kesiapan spiritual masing-masing. Setelah beberapa pertemuan dan tugas proyek tentang tokoh dan konsep tasawuf, dosen hendak melanjutkan ke tahap asesmen formatif lanjutan.
Untuk itu, dosen perlu memilih teknik asesmen yang bukan hanya mampu menggali progres pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, tetapi juga mampu merefleksikan perubahan sikap spiritual mereka, dengan tetap mempertimbangkan hasil asesmen awal sebelumnya sebagai dasar perbandingan kemajuan.
Berdasarkan kondisi tersebut, teknik asesmen yang paling tepat untuk digunakan adalah:
a)
Refleksi tertulis terstruktur berbasis rubrik sikap, pengetahuan, dan praktik spiritual yang membandingkan pemahaman awal dan akhir mahasiswa.
b)
Tes objektif pilihan ganda yang menekankan hafalan konsep tasawuf dan terminologi Arab klasik.
c)
Penilaian antar teman (peer assessment) terhadap partisipasi dalam diskusi tanpa instrumen refleksi pribadi.
d)
Tes lisan satu arah yang menilai jawaban spontan mahasiswa terhadap pertanyaan-pertanyaan teoritis.
e)
Ujian praktik membaca teks klasik tasawuf tanpa mengaitkan maknanya dengan konteks spiritual pribadi.
43.
Dalam proses pembelajaran Tasawuf, seorang dosen di Program Studi Pendidikan Agama Islam merancang strategi pembelajaran reflektif dan transformatif dengan mengintegrasikan konteks kekinian terhadap objek-objek utama dalam tasawuf seperti konsep tazkiyatun nafs, maqamat (tingkatan spiritual), ahwal (keadaan batin), hingga fana’ dan baqa’. Mahasiswa sebelumnya telah menjalani asesmen awal berupa kuesioner sikap spiritual dan diskusi kelompok tentang makna hubungan vertikal dan horizontal dalam perspektif tasawuf.
Setelah setengah semester berlalu, dosen ingin mengetahui perubahan capaian belajar mahasiswa baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotor, terutama dalam kaitannya dengan hasil asesmen awal. Oleh karena itu, dosen ingin memilih instrumen asesmen yang memungkinkan mahasiswa merefleksikan kembali perjalanan spiritual mereka selama pembelajaran, serta mengevaluasi transformasi dalam pemahaman dan praktik nilai-nilai tasawuf.
Dalam konteks ini, instrumen asesmen yang paling tepat digunakan adalah:
a)
Kuis pilihan ganda yang menguji hafalan mahasiswa tentang istilah tasawuf dan tokohnya.
b)
Tes lisan spontan tanpa panduan rubrik untuk menilai keterampilan spiritual mahasiswa.
c)
Lembar observasi umum yang hanya digunakan oleh dosen tanpa partisipasi aktif mahasiswa.
d)
Jurnal reflektif naratif berbasis rubrik dengan indikator aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang membandingkan hasil awal dan capaian saat ini.
e)
Ujian esai akhir semester yang berfokus pada teori tasawuf dari buku teks utama.
44.
Dalam sebuah proses perkuliahan Pendidikan Nilai dan Karakter di program studi kependidikan, seorang dosen menyadari bahwa pembelajaran yang bermakna menuntut integrasi antara dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor. Mahasiswa telah menjalani asesmen awal berupa angket sikap terhadap nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi, serta pretest pengetahuan dasar mengenai konsep nilai dan pembentukan karakter. Hasil asesmen awal menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih memiliki kecenderungan memahami nilai secara teoritis namun belum menunjukkan konsistensi dalam perilaku nyata.
Dosen kemudian merancang serangkaian aktivitas pembelajaran berbasis pengalaman dan kolaboratif, yang mendorong mahasiswa mengamati serta menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan kampus dan sosial. Pada akhir pembelajaran, dosen ingin menerapkan teknik asesmen yang tidak hanya menilai sejauh mana pemahaman mahasiswa meningkat, tetapi juga memetakan perubahan sikap dan keterampilan yang telah berkembang secara progresif dari data awal.
Dalam konteks tersebut, teknik asesmen yang paling tepat digunakan adalah:
a)
Tes objektif pilihan ganda yang memuat teori pendidikan karakter dari para tokoh.
b)
Tes esai tentang perbandingan antara pendidikan karakter Barat dan Islam.
c)
Observasi kelas oleh dosen berdasarkan pengalaman langsung di ruang belajar.
d)
Forum diskusi daring dengan penilaian partisipasi mahasiswa sebagai indikator nilai.
e)
Penilaian berbasis rubrik otentik dari tugas proyek individu yang dikaitkan dengan refleksi hasil asesmen awal dan capaian sikap, pengetahuan, serta keterampilan.
45.
Dalam perkuliahan mata kuliah Pendidikan Agama Islam, dosen menyajikan topik "Islam sebagai Agama yang Moderat" dengan pendekatan tematik dan kontekstual. Di awal pembelajaran, dosen melakukan asesmen awal terhadap sikap mahasiswa mengenai konsep wasathiyah (moderat) dengan menggunakan angket tertutup dan terbuka yang mengeksplorasi pandangan mereka terhadap isu-isu seperti toleransi beragama, keadilan sosial, dan penyikapan terhadap perbedaan. Hasilnya menunjukkan variasi pemahaman dan sikap, dari yang masih konservatif hingga yang terbuka dan inklusif.
Untuk mengukur sejauh mana pembelajaran berdampak pada perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa secara menyeluruh, dosen ingin menggunakan instrumen asesmen yang tidak hanya menilai teori, tetapi juga bagaimana mahasiswa merespons kasus nyata yang berkaitan dengan praktik moderasi beragama.
Instrumen asesmen yang paling tepat digunakan dalam konteks ini adalah:
a)
Tes objektif pilihan ganda untuk mengukur pemahaman tentang dalil moderasi dalam Al-Qur'an dan Hadis.
b)
Studi kasus berbasis rubrik penilaian otentik yang memungkinkan mahasiswa menganalisis dan memberikan solusi dari sudut pandang moderasi Islam.
c)
Ujian akhir semester berbasis narasi sejarah tokoh-tokoh moderat dalam Islam.
d)
Presentasi kelompok tentang nilai-nilai Islam dalam konteks global.
e)
Diskusi terbuka yang tidak terstruktur mengenai pandangan pribadi mahasiswa.
46.
Seorang guru Pendidikan Agama Islam di tingkat SMA sedang mengajar topik “Rukun Iman dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari” dalam mata pelajaran Aqidah Islam. Ia menggunakan media presentasi berbasis PowerPoint, memberikan tugas membaca artikel daring, dan mengarahkan peserta didik untuk berdiskusi dalam kelompok kecil melalui aplikasi WhatsApp. Dalam penerapannya, guru lebih fokus pada penyampaian materi melalui presentasi visual dan kurang memberikan ruang eksplorasi makna dalam kehidupan nyata, sehingga sebagian besar siswa hanya mereproduksi kembali isi materi tanpa menunjukkan pemahaman kritis. Selain itu, guru belum mengevaluasi bagaimana penggunaan teknologi mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran.
Mahasiswa sebagai calon guru ditugaskan untuk mengkaji praktik tersebut dan merancang perencanaan pembelajaran yang lebih berorientasi pada kualitas dan berkelanjutan. Berdasarkan analisis praktik tersebut, tindakan mana yang mencerminkan best practice dalam merencanakan pembelajaran Aqidah Islam berbasis konten, pedagogi, dan teknologi?
a)
Mengganti semua media pembelajaran teknologi dengan metode ceramah agar siswa lebih tertib.
b)
Memberikan soal pilihan ganda saja untuk memastikan siswa memahami isi PowerPoint.
c)
Mengintegrasikan pertanyaan reflektif, studi kasus berbasis kehidupan nyata, dan penggunaan teknologi interaktif seperti Padlet atau Google Jamboard dalam diskusi.
d)
Membatasi penggunaan teknologi agar siswa tidak terganggu fokusnya pada materi.
e)
Menghapus diskusi daring karena tidak efektif dalam membangun pemahaman konsep keimanan.
47.
Seorang guru di jenjang SMA sedang mengajarkan materi akhlak mahmudah (terpuji) dan akhlak mazmumah (tercela). Dalam pelaksanaannya, guru menggunakan modul cetak sebagai satu-satunya sumber belajar, menyampaikan materi secara monologis, dan menghindari penggunaan teknologi karena dianggap mengganggu fokus siswa. Untuk mengukur pemahaman, guru hanya memberikan tugas merangkum materi buku dan menuliskannya di buku tugas. Beberapa siswa menunjukkan ketertarikan untuk mengaitkan pembahasan dengan fenomena sosial digital, seperti budaya pamer di media sosial atau ujaran kebencian, namun guru menanggapi dengan menyuruh mereka kembali ke materi buku tanpa ruang diskusi.
Sebagai calon guru, mahasiswa diminta menganalisis dan mengidentifikasi praktik baik (best practice) yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tersebut dengan memadukan konten keislaman, pedagogi aktif, dan teknologi yang relevan.
Manakah dari pilihan berikut yang paling mencerminkan praktik baik?
a)
Mengembangkan pembelajaran berbasis proyek yang mendorong siswa membuat kampanye digital tentang akhlak mahmudah dan mengkritisi perilaku mazmumah di media sosial.
b)
Menambahkan lebih banyak halaman materi cetak untuk memperdalam aspek teori akhlak.
c)
Menghapus diskusi kelompok agar pembelajaran lebih tertib dan terarah.
d)
Mengalihkan semua kegiatan belajar ke platform digital tanpa mempertimbangkan kesiapan siswa.
e)
Mengandalkan hafalan definisi akhlak mahmudah dan mazmumah sebagai penilaian utama.
48.
Dalam proses pembelajaran mata kuliah Ilmu Kalam, seorang dosen menyajikan materi tentang aliran-aliran besar seperti Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah, termasuk tokoh-tokoh pemikir besar dan fokus pembahasan masing-masing aliran, seperti hubungan antara akal dan wahyu, serta konsep qadha dan qadar. Dosen menggunakan slide PowerPoint yang penuh teks, dan menjelaskan materi secara satu arah selama 90 menit. Untuk mengukur capaian pembelajaran, dosen memberikan tes pilihan ganda di akhir pertemuan tanpa menyesuaikan dengan karakteristik mahasiswa dan tanpa memberikan umpan balik. Beberapa mahasiswa tampak kesulitan memahami perbedaan prinsip dari tiap aliran karena pendekatan yang digunakan kurang interaktif dan minim kontekstualisasi.
Jika Anda adalah mahasiswa calon pendidik, praktik evaluasi pembelajaran seperti apa yang dapat Anda usulkan sebagai best practice untuk memperbaiki evaluasi pembelajaran dosen tersebut?
a)
Mengganti seluruh bentuk evaluasi menjadi esai agar mahasiswa lebih bebas menjawab sesuai pemahamannya.
b)
Menghapus evaluasi kognitif dan menggantinya dengan observasi sikap saja karena sifat pembahasannya abstrak.
c)
Mengembangkan evaluasi berbasis proyek yang menugaskan mahasiswa untuk membuat infografis interaktif yang membandingkan aliran-aliran dalam Ilmu Kalam dan menjelaskannya melalui video pendek.
d)
Menunda evaluasi sampai akhir semester agar tidak mengganggu pembahasan teori.
e)
Menggunakan soal-soal hafalan dengan bobot nilai tertinggi untuk menekankan pentingnya mengingat nama tokoh dan aliran.
49.
Seorang guru Akidah Akhlak di sekolah menengah mencoba mengintegrasikan pembelajaran berbasis teknologi digital dengan bantuan platform pembelajaran daring dan penggunaan kecerdasan buatan dalam menyajikan materi. Dalam praktiknya, guru tersebut menyusun materi tentang konsep keesaan Allah (tauhid) dan penerapan akhlak terpuji di media interaktif. Namun, sebagian besar materi yang ia gunakan hanya berupa salinan dari berbagai sumber tanpa penyaringan dan tanpa kontekstualisasi dengan kondisi peserta didik saat ini. Guru juga kesulitan membedakan antara penggunaan teknologi sebagai alat bantu dan sebagai pendekatan pedagogis. Meskipun siswa terlihat tertarik karena tampilannya modern, namun banyak yang tidak memahami esensi nilai-nilai akidah dan akhlak yang disampaikan.
Sebagai calon guru profesional, bagaimana Anda menilai kompetensi guru tersebut dalam penguasaan materi dan potensi pengembangan dirinya di era digital dan AI?
a)
Guru tersebut perlu mengembangkan literasi digital dan pedagogi digital untuk mengelola konten berbasis AI agar tidak hanya menarik secara visual tetapi juga bermakna secara substantif.
b)
Guru tersebut cukup berhasil dalam mengintegrasikan teknologi dan tidak perlu mengevaluasi kembali strategi pembelajarannya.
c)
Penguasaan guru sudah mencukupi karena ia sudah menggunakan media digital dalam pembelajaran, terlepas dari pemahaman siswa.
d)
Guru sebaiknya menghindari penggunaan AI karena berpotensi merusak nilai-nilai agama yang bersifat sakral.
e)
Guru harus mengganti pendekatannya dengan metode hafalan konvensional agar nilai-nilai akidah lebih mudah dipahami siswa.
50.
Di sebuah sekolah berbasis teknologi, seorang guru Akidah Akhlak memutuskan untuk menggunakan platform AI interaktif dalam mengajar materi akhlak terpuji seperti jujur, amanah, dan tolong-menolong. Guru tersebut menggunakan chatbot berbasis AI untuk menjawab pertanyaan siswa, video pembelajaran buatan AI, serta sistem kuis otomatis yang menyesuaikan tingkat kesulitan berdasarkan jawaban siswa. Namun setelah beberapa minggu, guru menemukan bahwa meskipun siswa tampak aktif secara digital, pemahaman mereka terhadap nilai-nilai spiritual dan moral tidak mengalami peningkatan signifikan. Sebagian siswa malah hanya fokus pada fitur AI yang menarik, bukan pada konten pembelajaran. Guru mulai menyadari bahwa penggunaan AI belum sepenuhnya mempertimbangkan gaya belajar Gen Z dan Alpha yang menghendaki pembelajaran yang reflektif, kontekstual, dan kolaboratif.
Sebagai mahasiswa calon guru profesional, tindakan ilmiah apa yang paling tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut?
a)
Guru harus mengganti semua fitur AI dengan metode ceramah dan hafalan agar nilai moral bisa lebih ditekankan secara langsung dan tradisional.
b)
Guru cukup menambahkan lebih banyak video AI agar siswa lebih tertarik dan proses belajar bisa lebih efisien serta menyenangkan.
c)
Guru sebaiknya memisahkan aspek teknologi dari pembelajaran moral agar tidak terjadi distraksi terhadap nilai-nilai spiritual siswa.
d)
Guru perlu melakukan evaluasi gaya belajar siswa dan memadukan AI dengan metode kontekstual untuk membangun makna pembelajaran secara mendalam.
e)
Guru cukup memberikan tugas proyek kelompok berbasis digital tanpa perlu menyesuaikan dengan karakteristik siswa Gen Z dan Alpha.
Reset
