wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Ujian Tulis Blok KGD_remedial

Total questions: 63

Worksheet time: 2hrs 6mins

Name
Class
Date
1.
NIM
4 lines
2.
Tutorial
4 lines
3.
Apakah prioritas utama penatalaksanaan keperawatan gawat darurat?
a)
Life saving
b)
Mencegah cedera sekunder
c)
Melakukan monitoring intensif
d)
Menyembuhkan penyakit pasien
e)
Memberikan perawatan selanjutnya
4.
Lingkup keperawatan gawat darurat adalah …
a)
Tempat kejadian, ruang gawat darurat dan ruang perawatan intensif
b)
Pre-hospital, proses evakuasi dan transportasi, serta intra hospital/ruang gawat darurat
c)
Penyelamatan nyawa (aktual) dan ancaman kehidupan (potensial)
d)
Penatalaksanaan cepat, tepat dan aman
e)
Instalasi Gawat Darurat
5.
Tn. M usia 42 tahun dan Ny. S usia 40 tahun mengalami tabrakan dengan mobil di jalan tol. Pada saat kejadian Tn. M dalam keadaan sadar, saat dikeluarkan dari mobil Tn. Munir menjerit kesakitan, tungkai sinistra tibia fibula tampak bengkok, bengkak, dan terdapat luka robek yang mengeluarkan darah. Sedangkan Ny. S saat kejadian dalam keadaan tidak sadar dan ditemukan adanya jejas pada dada dekstra dan diduga mengalami henti nafas. Pada kasus diatas, pernyataan manakah yang benar menurut kondisi gawat dan darurat?
a)
Ny. S termasuk dalam kategori gawat dan Tn. M termasuk dalam kategori darurat
b)
Ny. S termasuk dalam kategori darurat dan Tn. M termasuk dalam kategori gawat
c)
Ny. S dan Tn. M termasuk dalam katagori darurat
d)
Ny. S dan Tn. M termasuk dalam kategori gawat dan darurat
e)
Ny. S dan Tn. M tidak termasuk dalam kategori gawat dan darurat
6.
Bagaimana cara perawat caring dalam berkomunikasi di area gawat darurat?
a)
Berkomunikasi dengan bahasa yang sederhana dan jelas, sehingga mudah dimengerti
b)
Bicara dengan nada yang hangat dan suara yang penuh perhatian
c)
Menatap mata saat berbicara dengan pasien
d)
Memberikan senyuman yang tulus, dan bersabar menghadapai pasien
e)
Semua benar
7.
Perawat gawat darurat menangani beberapa pasien yang dating bersamaan. Salah satu pasien mengalami gejala sesak napas yang parah. Pasien tersebut memiliki riwayat asma yang tidak terkontrol. Perawat berupaya menjadi advokat bagi pasien dengan memastikan bahwa pasien mendapat obat-obatan yang tepat dan penanganan yang sesuai Apa faktor yang lazim menjadi penghambat fungsi advokasi perawat di area gawat darurat dalam kasus ini?
a)
Keterbatasan pengetahuan tentang penanganan asma yang sesuai
b)
Kurangnya dukungan dari dokter spesialis paru
c)
Keterbatasan waktu dan tekanan untuk menangani pasien lain yang membutuhkan penanganan juga
d)
Keterbatasan sarana komunikasi dengan keluarga pasien
e)
Beban mental perawat
8.
Seorang perawat gawat darurat bekerja di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit X. Saat sedang bertugas, seorang pasien datang dengan gejala sesak napas yang parah. Pasien tersebut memiliki riwayat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang tidak terkontrol. Setelah melakukan pemeriksaan awal, perawat mengetahui bahwa pasien tersebut telah menggunakan inhaler bronkodilator, tetapi gejalanya tidak kunjung membaik. Dalam konteks kasus ini, bagaimana perawat dapat berperan sebagai advokat bagi pasien?
a)
Membantu pasien untuk mengetahui kemungkinan opsi perawatan yang tersedia untuk PPOK.
b)
Mengadvokasi untuk peningkatan akses pasien terhadap pelayanan kesehatan yang lebih terjangkau.
c)
Menyuarakan kebutuhan pasien kepada dokter spesialis paru agar pasien dapat segera diberikan terapi tambahan.
d)
Menganjurkan agar pasien menerima perawatan rawat inap agar kondisinya dapat dimonitor secara lebih intensif.
e)
Memberikan informasi yang dibutuhkan pasien
9.
Seorang perawat gawat darurat menangani seorang pasien dengan kanker stadium lanjut. Dokter meresepkan terapi eksperimental yang belum disetujui untuk pasien, dengan harapan dapat memperpanjang hidupnya. Namun, perawat mengetahui bahwa pasien tidak diberi informasi lengkap tentang sifat eksperimental dari terapi tersebut dan potensi risikonya. Dalam situasi ini, perawat dihadapkan pada dilema etis terkait prinsip-prinsip apa?
a)
Dilema etik autonomi dan veracity.
b)
Dilema etik beneficence dan justice.
c)
Dilema etik nonmaleficence dan fidelity.
d)
Dilema etik confidentiality dan veracity.
e)
Dilema etik informed consent dan compassion.
10.
Seorang perawat gawat darurat sedang merawat pasien yang baru tiba dengan luka tembak di perut. Pasien tersebut ditemukan di lokasi kejadian kriminal, dan polisi meminta informasi tentang kondisi pasien untuk penyelidikan. Namun, pasien menolak memberikan informasi dan meminta agar kerahasiaannya dijaga. Dalam situasi ini, perawat dihadapkan pada dilema etis terkait prinsip-prinsip apa?
a)
Dilema etik confidentiality dan veracity
b)
Dilema etik beneficence dan nonmaleficence.
c)
Dilema etik veracity dan fidelity.
d)
Dilema etik justice dan autonomy.
e)
Dilema etik veracity dan autonomy.
11.
Perawat di triase di unit gawat darurat kedatangan 2 pasien: pasien dengan luka bakar parah dan kesulitan bernapas, sementara yang lain memiliki luka ringan tetapi pendarahan yang signifikan. Manakah prioritas triase yang tepat?
a)
Tidak ada prioritas tertentu, tetapi kedua pasien harus menerima perawatan segera.
b)
Prioritaskan pasien berdasarkan urutan kedatangan mereka ke unit gawat darurat.
c)
Prioritaskan pasien dengan kesulitan bernapas dan luka bakar parah karena keparahan cederanya yang lebih tinggi.
d)
Prioritaskan pasien dengan luka ringan tetapi mengalami pendarahan yang cukup banyak karena pendarahan dapat mengancam jiwa lebih cepat.
e)
Prioritaskan pasien berdasarkan usia mereka, memberikan prioritas kepada yang lebih muda terlebih dahulu.
12.
Ambulance membawa pasien kecelakaan bus dengan beberapa pasien dengan cedera yang berbeda. Seorang penumpang memiliki cedera kepala dan kehilangan banyak darah, sementara yang lain mengalami patah tulang terbuka dan perdarahan aktif. Bagaimana memprioritaskan penanganan pasien berdasarkan prinsip triase?
a)
Prioritaskan penanganan pasien cedera kepala parah dan kehilangan banyak darah karena risiko kehilangan darah yang signifikan.
b)
Prioritaskan penanganan pasien patah tulang terbuka dan perdarahan aktif karena kemungkinan kehilangan darah yang cepat, menyebabkan syok hipovolemik
c)
Prioritaskan penanganan pasien dengan cedera kepala karena berpotensi menyebabkan kerusakan otak akibat perdarahan internal
d)
Prioritaskan penanganan pasien berdasarkan urutan kedatangan mereka ke lokasi kejadian.
e)
Prioritaskan berdasarkan tingkat keparahan dan potensi ancaman terhadap kehidupan pasien.
13.
Terdapat kecelakaan bus dengan sejumlah korban. Tim emergency yang telah berada ditempat melakukan triage. Pada salah satu korban yang ditangani terdapat korban henti nafas, setelah dilakukan pengkajian dini dan tindakan chin-lift, korban masih tidak bernafas. Berdasarkan kasus, warna label apakah yang diberikan pada korban tersebut?
a)
Merah
b)
Putih
c)
Kuning
d)
Hijau
e)
Hitam
14.
Apakah penatalaksanaan kegawatdaruratan pada pasien dengan irama EKG berikut?
a)
CPR dan defibrilasi
b)
CPR tanpa defibrilasi
c)
Pemasangan heart monitor
d)
Pemasangan ventilator ventilator mekanik
e)
Pemberian injeksi epinefrin dan anti aritmia
15.
Laki-laki usia 55 tahun di bawa ke IGD karena penurunan kesadaran. Perawat melakukan primary survey dan memasangkan heart monitor. Hasil pengkajian: TD 43/22 mmHg, frekuensi nadi 44 x/menit, frekuensi pernapasan 13 x/menit, SpO2 85 %. Setelah 10 menit, pasien apnue dan irama EKG ventrikel takikardi dan nadi karotis tidak teraba
a)
Membuka jalan napas dengan tehnik jaw trust dan melakukan bagging
b)
Pemberian terapi drip Dobutamin via syringe pump 1,2 ml/jam (2 meq)
c)
Penyadapan EKG untuk menentukan irama jantung yang akurat
d)
Melakukan resusitasi jantung paru dan defibrilasi 200 Joule
e)
Memberikan kardioversi dengan energi 100 Joule
16.
Laki-laki berusia 29 tahun dibawa ke UGD karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Hasil pengkajian: tidak ada napas, dan denyut nadi karotis tidak teraba. Setelah menyelesaikan 5 siklus kompresi dada dan napas buatan, nadi karotis pasien teraba, namun tidak ada napas. Apakah tindakan yang tepat dilakukan oleh perawat?
a)
Lakukan kompresi dan bantuan napas dengan rasio 15:2
b)
Berikan bantuan napas sebanyak 10- 12 x/menit
c)
Berikan bantuan napas sebanyak 30x/menit
d)
Berikan 2x napas buatan yang kuat
e)
RJP dihentikan
17.
Laki-laki usia 20 tahun dibawa ke unit gawat darurat setelah mengalami kecelakaan motor. Hasil pengkajian: fraktur terbuka pada femur sinistra, pasien tampak pucat, dan denyut nadi cepat dan teraba lemah. Berdasarkan gejala ini, pasien kemungkinan mengalami:
a)
Syok kardiogenik
b)
Syok neurogenic
c)
Syok septic
d)
Syok anafilaktik
e)
Syok hipovolemik
18.
Laki-laki usia 20 tahun dibawa ke unit gawat darurat setelah mengalami kecelakaan motor. Hasil pengkajian: fraktur terbuka pada femur sinistra, pasien tampak pucat, dan denyut nadi cepat dan teraba lemah. Apakah prioritas penatalaksanaan kegawatdaruratan?
a)
Hentikan perdarahan
b)
Resusitasi cairan
c)
Evaluasi luka lain
d)
Evaluasi dan stabilisasi tulang
e)
Pantau tanda-tanda vital
19.
Laki-laki usia 65 tahun dibawa keluarga ke unit gawat darurat dengan keluhan sesak napas yang semakin memburuk dalam beberapa jam terakhir. Hasil pemeriksaan fisik: kulit dingin, pucat dan lembab, edema paru dengan ronki pada auskultasi paru, distensi vena jungularis, frekuensi nadi 140 x/menit, TD 80/50 mmHg, frekuensi napas 28 kali/menit. Pasien juga mengeluhkan nyeri dada yang menyebar ke lengan kiri selama lebih dari 20 menit dan tidak hilang dengan istirahat. Riwayat penyakit jantung koroner dan riwayat serangan jantung 1 bulan yang lalu. Apakah interpretasi perawat dari kasus tersebut?
a)
Status asmatikus
b)
Serangan jantung berulang
c)
Pnemonia
d)
Syok hipovolemia
e)
Syok kardiogenik
20.
Perempuan usia 30 tahun dibawa keluarga ke unit gawat darurat dengan keluhan kulit merah, gatal-gatal, sesak napas, dan peningkatan denyut jantung setelah mengonsumsi makanan laut. Pasien juga melaporkan perasaan gelisah dan pusing. Apakah interpretasi perawat dari kasus ini?
a)
Hipoglikemia
b)
Syok anafilaksis
c)
Infeksi saluran pernapasan atas
d)
Serangan asma
e)
Syok kardiogenik
21.
Apakah masalah keperawatan pada pasien dengan fraktur tertutup pada ekstremitas yang segera diatasi setelah pasien dibawa ke IGD?
a)
Risiko ketidakseimbangan volume cairan
b)
Kekurangan volume cairan b.d perdarahan aktif
c)
Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka
d)
Nyeri akut b.d spasme otot, pergeseran fragmen tulang
e)
Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan rangka muskuloskeletal
22.
Penatalaksanaan kegawatdaruratan utama pada fraktur yang ditangani di IGD adalah
a)
Gangguan pola napas
b)
Gangguan mobilitas fisik
c)
Bersihan jalan napas tidak efektif
d)
Nyeri dan penangan perdarahan
e)
Risiko cedera
23.
Laki-laki usia 20 tahun masuk ke UGD karena mengalami kecelakaan lalu lintas 2 jam yang lalu. Hasil pengkajian: pasien mengalami multiple trauma, nyeri hebat di dada, skala 9 (1-10), jejas pada area thorak, krepitasi di costae ke 4 thorak bagian kiri, frekuensi napas 18 kali/menit, napas dangkal dan gerakan dada paradoksal. Apakah interpretasi atas keadaan pasien tsb?
a)
Tension Pneumothoraks
b)
Open Pneumothoraks
c)
Fraktur iga
d)
Hemothorak
e)
Flail Chest
24.
Laki-laki usia 35 tahun dibawa ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal. Hasil pengkajian: luka memar di bagian thorak, frekuensi pernapasan 32 kali/menit, ekspansi dada tidak simetris, dan deviasi trakhea ke arah kanan, perkusi hipersonor pada sisi kiri thorak, dan adanya barrel chest. Trauma dada apakah yang terjadi pada kasus tersebut?
a)
Tension Pneumothoraks
b)
Open Pneumothoraks
c)
Tamponade Jantung
d)
Hemothorak
e)
Flail Chest
25.
Laki-laki usia 35 tahun dibawa ke UGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal. Hasil pengkajian: luka memar di bagian thorak, frekuensi pernapasan 32 kali/menit, ekspansi dada tidak simetris, dan deviasi trakhea ke arah kanan, perkusi hipersonor pada sisi kiri thorak, dan adanya barrel chest. Apakah penatalaksaan kegawatdaruratan pada kasus tersebut?
a)
Needle cricotyroidektomi
b)
Neelde thorakosintesis
c)
Torakotomi
d)
Intubasi
e)
WSD
26.
Laki-laki usia 35 tahun masuk ke UGD dengan luka tembak di thorak. Hasil pemeriksaan fisik: luka seluas 2 cm mengeluarkan darah dan gelembung udara, dan terdapat sucking chest wound sehingga udara masuk ke rongga pleura melalui defek pada dinding dada. Apakah penatalaksaan pada kasus tersebut?
a)
Pemasangan needle torakosintesis
b)
Pemasangan kassa oklusif tiga sisi
c)
Pemasangan WSD
d)
Pericardiosintesis
e)
Torakotomi
27.
Laki-laki usia 45 tahun dengan riwayat keluhan nyeri dada dua jam, nyeri menjalar ke punggung. Hasil pemeriksaan EKG ST depresi dan T inverted. TD 130/80 mmHg. Hasil pemeriksan laboratorium Troponin T dan I normal. Apakah klasifikasi acut coronary sindrome pasien tersebut?
a)
STEMI
b)
NSTEMI
c)
Heart Atack
d)
Angina Pectoris
e)
Unstabel Angina Pectoris
28.
Laki-laki usia 45 tahun dibawa ke UGD karena mengalami nyeri dada tiba-tiba pada waktu sedang istirahat. Hasil EKG: ST elevasi lead II, III, dan aVF. Hasil Laboratorium: Troponin T dan I di atas normal. Apakah klasifikasi Klinis Acute Coronary Syndrome pasien tersebut:
a)
STEMI
b)
NSTEMI
c)
Heart Atack
d)
Angina Pectoris
e)
Unstabel Angina Pectoris
29.
Laki-laki usia 45 tahun dibawa ke UGD karena mengalami nyeri dada tiba-tiba pada waktu sedang istirahat. Hasil EKG: ST elevasi lead II, III, dan aVF. Hasil Laboratorium: Troponin T dan I diatas normal. Apakah treatment revaskularisasi utama yang dilakukan pada pasien jika onset <12 jam?
a)
PCI (Percutaneous Coronary Intervention)
b)
Terapi trombolisis
c)
Pemberian morphin
d)
Pemberian NTG sublingual
e)
Pemberian clopidogrel dan aspirin
30.
Apa yang dimaksud dengan status asmatikus?
a)
Tahap asma yang gejalanya mulai membaik
b)
Kondisi asma yang stabil tanpa gejala
c)
Serangan asma yang parah dan mengancam jiwa
d)
Reaksi alergi terhadap obat-obatan
e)
Komplikasi kronis akibat asma yang tidak terkontrol
31.
Perempuan berusia 35 tahun datang ke unit gawat darurat dengan gejala sesak napas yang semakin memburuk, batuk yang tidak produktif, dan wheezing yang terdengar jelas pada kedua paru-parunya. Riwayat medisnya mencatat bahwa dia memiliki riwayat asma yang sudah lama. Setelah dilakukan evaluasi, pasien didiagnosis dengan status asmatikus. Apa yang menjadi pembeda utama antara serangan asma biasa dan status asmatikus?
a)
Durasi serangan
b)
Keparahan gejala
c)
Kehadiran wheezing
d)
Riwayat alergi
e)
Respons terhadap terapi bronkodilator
32.
Perempuan usia 32 tahun, dibawa ke IGD oleh suaminya setelah mengalami serangan asma berat selama lebih dari 1 jam yang tidak membaik dengan inhaler. Keluarga melaporkan bahwa sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien mengalami batuk terus-menerus, sesak napas berat, dan tidak bisa berbicara panjang. Saat tiba di IGD, pasien tampak sangat lemah, berkeringat, dan terlihat menggunakan otot bantu napas. Tidak ada suara mengi yang terdengar jelas. Pasien memiliki riwayat penyakit asma sejak remaja, sering kambuh terutama saat cuaca dingin atau terpapar asap dan menggunakan inhaler (Salbutamol) tetapi tidak teratur. Apa penanganan keperawatan gawat darurat pada pasien ini?
a)
Memberikan cairan IV dalam jumlah besar untuk mengatasi dehidrasi dan menunggu respon pasien sebelum memberikan obat asma
b)
Memberikan terapi oksigen 2 L/menit dan menunggu hingga pasien stabil sebelum memberikan bronkodilator
c)
Berikan oksigen 10 L/menit, nebulisasi salbutamol, kortikosteroid IV, dan persiapan intubasi jika perlu
d)
Lakukan fisioterapi dada dan meminta pasien melakukan latihan napas dalam untuk mengatasi sesak
e)
Memberikan sedasi ringan untuk menenangkan pasien karena tampak panik dan takut
33.
Kasus 1. Laki-laki (Tn. A) usia 42 terjatuh tiba-tiba di rumah saat beraktivitas dan keluarga langsung mengantar pasien ke IGD. Sebelum kejadian, pasien mengalami nyeri kepala, muntah sebanyak 2 kali, kesemutan atau baal pada tangan kanan. Tampak anggota gerak kanan lebih lemah dibandingkan kiri. Pasien memiliki riwayat stroke iskemik 5 tahun yang lalu dengan kelemahan anggota gerak kanan. Riwayat hipertensi sejak 20 tahun yang lalu. Riwayat penggunaan obat yaitu Amlodipin 1x10 mg. Pasien masuk IGD dengan penurunan kesadaran (GCS awal adalah 9 dengan E2M5V2). Hasil pemeriksaan penunjang CT-Scan Kepala didapatkan ICH di lobus temporo parietal kanan estimasi volume 68 cc yang menyebabkan pergeseran garis tengah sejauh 1,2 cm ke kiri dan perdarahan di ventrikel lateralis bilateral infark cerebri kronis dikapsula interna kiri. Apa interpretasi perawat pada pasien Tn. A ?
a)
Stroke hemorragic e.c ICH di lobus temporo-parietal kanan
b)
Stroke hemorragic e.c perdarahan subaraknoid
c)
Stroke iskemia berulang di kapsula interna kiri
d)
Trauma kepala sedang dengan GCS 9
e)
Hipertensi emergency
34.
Kasus 1. Laki-laki (Tn. A) usia 42 terjatuh tiba-tiba di rumah saat beraktivitas dan keluarga langsung mengantar pasien ke IGD. Sebelum kejadian, pasien mengalami nyeri kepala, muntah sebanyak 2 kali, kesemutan atau baal pada tangan kanan. Tampak anggota gerak kanan lebih lemah dibandingkan kiri. Pasien memiliki riwayat stroke iskemik 5 tahun yang lalu dengan kelemahan anggota gerak kanan. Riwayat hipertensi sejak 20 tahun yang lalu. Riwayat penggunaan obat yaitu Amlodipin 1x10 mg. Pasien masuk IGD dengan penurunan kesadaran (GCS awal adalah 9 dengan E2M5V2). Hasil pemeriksaan penunjang CT-Scan Kepala didapatkan ICH di lobus temporo parietal kanan estimasi volume 68 cc yang menyebabkan pergeseran garis tengah sejauh 1,2 cm ke kiri dan perdarahan di ventrikel lateralis bilateral infark cerebri kronis dikapsula interna kiri. Apa tindakan keperawatan prioritas yang harus dilakukan saat pasien Tn A tiba di IGD ?
a)
Membuka dan memastikan jalan napas bebas dan memberikan oksigen sesuai dengan kebutuhan
b)
Mengukur tekanan darah dan memberikan obat antihipertensi sesuai instruksi
c)
Melakukan pemeriksaan fisik lengkap dan pencatatan riwayat Kesehatan
d)
Menyediakan kenyamanan dan ketenangan bagi pasien dan keluarganya
e)
Menghubungi ahli saraf untuk konsultasi lebih lanjut
35.
Kasus 1. Laki-laki (Tn. A) usia 42 terjatuh tiba-tiba di rumah saat beraktivitas dan keluarga langsung mengantar pasien ke IGD. Sebelum kejadian, pasien mengalami nyeri kepala, muntah sebanyak 2 kali, kesemutan atau baal pada tangan kanan. Tampak anggota gerak kanan lebih lemah dibandingkan kiri. Pasien memiliki riwayat stroke iskemik 5 tahun yang lalu dengan kelemahan anggota gerak kanan. Riwayat hipertensi sejak 20 tahun yang lalu. Riwayat penggunaan obat yaitu Amlodipin 1x10 mg. Pasien masuk IGD dengan penurunan kesadaran (GCS awal adalah 9 dengan E2M5V2). Hasil pemeriksaan penunjang CT-Scan Kepala didapatkan ICH di lobus temporo parietal kanan estimasi volume 68 cc yang menyebabkan pergeseran garis tengah sejauh 1,2 cm ke kiri dan perdarahan di ventrikel lateralis bilateral infark cerebri kronis dikapsula interna kiri. Apa langkah penanganan definitif yang paling tepat untuk mengatasi kondisi pasien Tn. A ?
a)
Pemberian antikoagulan untuk mencegah pembentukan gumpalan darah lebih lanjut
b)
Dekompresi dengan craniectomy untuk mengurangi tekanan intrakranial
c)
Observasi intensif di ICU dengan manajemen tekanan darah ketat
d)
Terapi trombolitik untuk melarutkan bekuan darah di otak
e)
Evakuasi perdarahan melalui prosedur craniotomy
36.
Kasus 1. Laki-laki (Tn. A) usia 42 terjatuh tiba-tiba di rumah saat beraktivitas dan keluarga langsung mengantar pasien ke IGD. Sebelum kejadian, pasien mengalami nyeri kepala, muntah sebanyak 2 kali, kesemutan atau baal pada tangan kanan. Tampak anggota gerak kanan lebih lemah dibandingkan kiri. Pasien memiliki riwayat stroke iskemik 5 tahun yang lalu dengan kelemahan anggota gerak kanan. Riwayat hipertensi sejak 20 tahun yang lalu. Riwayat penggunaan obat yaitu Amlodipin 1x10 mg. Pasien masuk IGD dengan penurunan kesadaran (GCS awal adalah 9 dengan E2M5V2). Hasil pemeriksaan penunjang CT-Scan Kepala didapatkan ICH di lobus temporo parietal kanan estimasi volume 68 cc yang menyebabkan pergeseran garis tengah sejauh 1,2 cm ke kiri dan perdarahan di ventrikel lateralis bilateral infark cerebri kronis dikapsula interna kiri. Apakah diagnosa keperawatan prioritas pada pasien Tn. A ?
a)
Penurunan kapasitas adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral (stroke hemoragik)
b)
Gangguan penyapihan ventilator berhubungan dengan hambatan upaya napas (efek sedasi)
c)
Risiko ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan prosedur pembedahan mayor (post op craniotomy)
d)
Risiko aspirasi berhubungan dengan penurunan kesadaran, terpasang NGT, kondisi terpasang ETT
e)
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
37.
Kasus 2. Laki-laki usia 65 tahun di bawa ke IGD oleh keluarga karena mengalami penurunan kesadaran. Pengkajian airway didapatkan gurgling (+), snoring (+), stridor (-), sekret (+) berwarna kekuningan, konsistensi kental, dalam jumlah sedang. Breathing: respiratory rate 25x/menit. Circulation: HR 115x/menit; TD 115/76 mmHg; MAP 74, CRT 3 detik , SpO2 90%; akral hangat. Disability: GCS E2M3V3; pupil isokor: 2mm/2mm; Hasil AGD: pH: 7.55, PCO2: 34 mmHg, HCO3: 23 mmol/L. Hasil Ct-Scan menunjukkan infark cerebri temporal dan occipital, dan hasil foto thorax menunjukkan efusi pleura. Pasien tidak bisa berbicara dengan jelas dan hemiparesis dextra. Pasien memiliki riwayat stroke berulang (saat ini stroke ke-3). Apa interpretasi perawat pada kasus 2?
a)
Stroke hemorragic yang menyebabkan penurunan kesadaran
b)
Stroke hemorragic e.c infrak serebri temporal dan occipital
c)
Gagal napas akut: asidosis respiratoril akibat hiperventilasi
d)
Trauma kepala berat dengan GCS 8
e)
Stroke iskemia berulang
38.
Kasus 2. Laki-laki usia 65 tahun di bawa ke IGD oleh keluarga karena mengalami penurunan kesadaran. Pengkajian airway didapatkan gurgling (+), snoring (+), stridor (-), sekret (+) berwarna kekuningan, konsistensi kental, dalam jumlah sedang. Breathing: respiratory rate 25x/menit. Circulation: HR 115x/menit; TD 115/76 mmHg; MAP 74, CRT 3 detik , SpO2 90%; akral hangat. Disability: GCS E2M3V3; pupil isokor: 2mm/2mm; Hasil AGD: pH: 7.55, PCO2: 34 mmHg, HCO3: 23 mmol/L. Hasil Ct-Scan menunjukkan infark cerebri temporal dan occipital, dan hasil foto thorax menunjukkan efusi pleura. Pasien tidak bisa berbicara dengan jelas dan hemiparesis dextra. Pasien memiliki riwayat stroke berulang (saat ini stroke ke-3). Apakah penatalaksanaan yang harus diberikan perawat untuk mengatasi masalah airway pada pasien kasus 2?
a)
Melakukan suctioning
b)
Memiringkan kepala pasien
c)
Mengkaji kepatenan jalan napas
d)
Pasang OPA dengan reflek menelan positif
e)
Mengkaji reflek menelan atau reflek muntah pasien
39.
Kasus 2. Laki-laki usia 65 tahun di bawa ke IGD oleh keluarga karena mengalami penurunan kesadaran. Pengkajian airway didapatkan gurgling (+), snoring (+), stridor (-), sekret (+) berwarna kekuningan, konsistensi kental, dalam jumlah sedang. Breathing: respiratory rate 25x/menit. Circulation: HR 115x/menit; TD 115/76 mmHg; MAP 74, CRT 3 detik , SpO2 90%; akral hangat. Disability: GCS E2M3V3; pupil isokor: 2mm/2mm; Hasil AGD: pH: 7.55, PCO2: 34 mmHg, HCO3: 23 mmol/L. Hasil Ct-Scan menunjukkan infark cerebri temporal dan occipital, dan hasil foto thorax menunjukkan efusi pleura. Pasien tidak bisa berbicara dengan jelas dan hemiparesis dextra. Pasien memiliki riwayat stroke berulang (saat ini stroke ke-3). Perawat mengatur posisi pasien dengan elevasi kepala 300 dengan kepala dan dada sejajar tanpa melakukan fleksi. Apakah rasionalisasi spesifik dari tindakan tsb terkait dengan kondisi penyakit pasien?
a)
Meningkatkan aliran darah balik vena yang dapat mengurangi edema serebri
b)
Memperbaiki fungsi pernapasan dan mengurangi risiko pneumonia
c)
Menstabilkan tekanan darah dan mencegah hipotensi ortostatik
d)
Mengurangi rasa nyeri dan ketidaknyamanan akibat stroke
e)
Mempertahan MAP dan perfusi ke serebral
40.
Kasus 2. Laki-laki usia 65 tahun di bawa ke IGD oleh keluarga karena mengalami penurunan kesadaran. Pengkajian airway didapatkan gurgling (+), snoring (+), stridor (-), sekret (+) berwarna kekuningan, konsistensi kental, dalam jumlah sedang. Breathing: respiratory rate 25x/menit. Circulation: HR 115x/menit; TD 115/76 mmHg; MAP 74, CRT 3 detik , SpO2 90%; akral hangat. Disability: GCS E2M3V3; pupil isokor: 2mm/2mm; Hasil AGD: pH: 7.55, PCO2: 34 mmHg, HCO3: 23 mmol/L. Hasil Ct-Scan menunjukkan infark cerebri temporal dan occipital, dan hasil foto thorax menunjukkan efusi pleura. Pasien tidak bisa berbicara dengan jelas dan hemiparesis dextra. Pasien memiliki riwayat stroke berulang (saat ini stroke ke-3). Gangguan asam basa apa yang terjadi pasien dan mengapa keadaan tersebut dapat terjadi?
a)
Alkalosis metabolik akibat muntah
b)
Alkalosis respiratori akibat hiperventasi
c)
Asidosis respiratori akibat hipoventilasi
d)
Asidosis metabolik akibat metabolisme anaerob: iskemia serebral
e)
Gangguan asam basa campuran: alkalosis respiratorik metabolik
41.
Berikut adalah salah satu manifestasi klinis dari cedera kepala. Disebut apakah tanda di samping ini?
a)
Racoon eyes
b)
Batlle sign
c)
Tanda halo
d)
Rinorea
e)
Otorea
42.
Berikut adalah salah satu manifestasi klinis dari cedera kepala. Disebutkan apakah keadaan pada gambar berikut?
a)
Batlle sign
b)
Tanda halo
c)
Papil edema
d)
Racoon eyes
e)
Periorbital swelling
43.
Kasus 3. Perempuan usia 84 tahun masuk IGD karena sesak nafas selama 3 hari dan keadaan umum lemah. Pasien dengan riwayat nyeri tulang belakang akibat fraktur vertebra torakal 2-4. Hasil pemeriksaan fisik: pasien terlihat sesak disertai adanya sputum, frekuensi napas 28 x/menit, suhu 390C, ronki basah kasar pada kedua lapangan paru. Hasil pemeriksaan foto torak berupa infiltrat bilateral dan gambaran odem paru, leukosit 14.600, darah tepi 91% neutropil batang. Pasien mendapat antibiotik ceftriaxone 2 gr/24 jam, lasix 2 mg/jam, analgetik, sedasi dan cairan Ringer Laktat 1500 ml dengan produksi urin 15 ml/jam. Hasil laboratorium menunjukkan nilai ureum 274 mmol/L dan kreatinin 6.7 mg/dl. Apakah masalah prioritas yang tepat pada kasus tersebut?
a)
Retensi Urin
b)
Hipervolemia
c)
Gangguan eliminasi urin
d)
Risiko ketidakseimbangan cairan
e)
Risiko ketidakseimbangan elektrolit
44.
Kasus 3. Perempuan usia 84 tahun masuk IGD karena sesak nafas selama 3 hari dan keadaan umum lemah. Pasien dengan riwayat nyeri tulang belakang akibat fraktur vertebra torakal 2-4. Hasil pemeriksaan fisik: pasien terlihat sesak disertai adanya sputum, frekuensi napas 28 x/menit, suhu 390C, ronki basah kasar pada kedua lapangan paru. Hasil pemeriksaan foto torak berupa infiltrat bilateral dan gambaran odem paru, leukosit 14.600, darah tepi 91% neutropil batang. Pasien mendapat antibiotik ceftriaxone 2 gr/24 jam, lasix 2 mg/jam, analgetik, sedasi dan cairan Ringer Laktat 1500 ml dengan produksi urin 15 ml/jam. Hasil laboratorium menunjukkan nilai ureum 274 mmol/L dan kreatinin 6.7 mg/dl. Apakah rasionalisasi dari pemberian diuretik pada pasien pada kasus 3?
a)
Memperbaiki keseimbangan elektrolit
b)
Mengoreksi keseimbangan cairan berdasarkan BB harian
c)
Meningkatkan produksi urin dan mengurangi edema paru dan ekstremitas
d)
Memperbaiki abnormalitas metabolisme dengan menurunkan pemercahan protein dan mencegah akumulasi toksik
e)
Mengoreksi hyperkalemia dan hipertensi berat, asidosis metabolic dan uremia simptomatik
45.
Kasus 3. Perempuan usia 84 tahun masuk IGD karena sesak nafas selama 3 hari dan keadaan umum lemah. Pasien dengan riwayat nyeri tulang belakang akibat fraktur vertebra torakal 2-4. Hasil pemeriksaan fisik: pasien terlihat sesak disertai adanya sputum, frekuensi napas 28 x/menit, suhu 390C, ronki basah kasar pada kedua lapangan paru. Hasil pemeriksaan foto torak berupa infiltrat bilateral dan gambaran odem paru, leukosit 14.600, darah tepi 91% neutropil batang. Pasien mendapat antibiotik ceftriaxone 2 gr/24 jam, lasix 2 mg/jam, analgetik, sedasi dan cairan Ringer Laktat 1500 ml dengan produksi urin 15 ml/jam. Hasil laboratorium menunjukkan nilai ureum 274 mmol/L dan kreatinin 6.7 mg/dl. Penyebab paling mungkin dari gagal ginjal yang dialami pasien tsb adalah:
a)
Gagal ginjal akut post-renal
b)
Gagal ginjal akut prerenal
c)
Gagal ginjal akut renal
d)
Glomerulonefritis
e)
Nefrolitiasis
46.
Kasus 4. Laki-laki usia 50 tahun mendatangi IGD dengan riwayat keluhan 2 hari terakhir sering buang air kecil lebih dari 6 kali sehari, volume urine banyak, dan sering haus. Tekanan darah 90/70 mmHg, frekuensi napas 29x/menit, kulit kering, hematocrit 40%. Kadar Gula Darah saat di IGD 450 md/dl. Pemeriksaan AGD pH: 7.20, HCO3 20 mmol/L, PCO2 38 mmHg. Apakah pengkajian riwayat penyakit yang diharus segera ditanyakan kepada pasien atau keluarga pasien adalah …
a)
Riwayat penyakit Diabetes Mellitus
b)
Riwayat penyakit Gagal Ginjal
c)
Riwayat Penyakit Hipertensi
d)
Riwayat penyakit Hepatitis
e)
Riwayat penyakit Astma
47.
Kasus 4. Laki-laki usia 50 tahun mendatangi IGD dengan riwayat keluhan 2 hari terakhir sering buang air kecil lebih dari 6 kali sehari, volume urine banyak, dan sering haus. Tekanan darah 90/70 mmHg, frekuensi napas 29x/menit, kulit kering, hematocrit 40%. Kadar Gula Darah saat di IGD 450 md/dl. Pemeriksaan AGD pH: 7.20, HCO3 20 mmol/L, PCO2 38 mmHg. Kondisi kegawatdaruratan apakah yang mungkin di alami oleh pasien kasus 4?
a)
Hiperosmolar Hiperglikemia
b)
Diabetes Ketoasidosis
c)
Hiperglikemia
d)
Hipoglikemia
e)
Hipovolemia
48.
Kasus 4. Laki-laki usia 50 tahun mendatangi IGD dengan riwayat keluhan 2 hari terakhir sering buang air kecil lebih dari 6 kali sehari, volume urine banyak, dan sering haus. Tekanan darah 90/70 mmHg, frekuensi napas 29x/menit, kulit kering, hematocrit 40%. Kadar Gula Darah saat di IGD 450 md/dl. Pemeriksaan AGD pH: 7.20, HCO3 20 mmol/L, PCO2 38 mmHg. Gangguan asam basa apakah yang terjadi pada pasien dan mengapa hal tsb dapat terjadi?
a)
Asidosis metabolik akibat muntah
b)
Asidosis respiratorik akibat hipoventilasi
c)
Asidosis respiratorik akibat metabolisme anaerob
d)
Asidosis respiratorik akibat tubuh memecah lemak sebagai sumber energi yang menghasilkan keton
e)
Asidosis metabolik akibat polyuria, kehilangan cairan dan elektrolit yang disebabkan oleh hiperglikemia
49.
Kasus 5. Laki-laki usia 70 tahun tiba di IGD dengan riwayat keluhan lemas, pucat, berkeringat banyak, saat diwawancara mengeluh pandangan kabur dan selanjutnya tidak sadarkan diri. Kadar Gula darah sewaktu 65 mg/dl, Hba1c 10. Tekanan darah 190/90 mmHg, frekuensi napas 23x/menit, kulit lembab, hematocrit 30%. Berikut ini manakah tindakan yang tidak tepat pasien saat di IGD?
a)
Hiperosmolar Hiperglikemia
b)
Diabetes Ketoasidosis
c)
Hipoglikemia
d)
Hiperglikemia
e)
Hipovolemia
50.
Kasus 5. Laki-laki usia 70 tahun tiba di IGD dengan riwayat keluhan lemas, pucat, berkeringat banyak, saat diwawancara mengeluh pandangan kabur dan selanjutnya tidak sadarkan diri. Kadar Gula darah sewaktu 65 mg/dl, Hba1c 10. Tekanan darah 190/90 mmHg, frekuensi napas 23x/menit, kulit lembab, hematocrit 30%. Kondisi kegawatdaruratan apakah yang sedang di alami oleh pasien kasus 5?
a)
Manajemen Airway
b)
Manajemen Breathing
c)
Monitor kadar Glukosa setiap 24 jam
d)
Berikan Glukosa 40% segera secara bolus
e)
Monitor keadekuatan status sirkulasi sistemik
51.
Kasus 5. Laki-laki usia 70 tahun tiba di IGD dengan riwayat keluhan lemas, pucat, berkeringat banyak, saat diwawancara mengeluh pandangan kabur dan selanjutnya tidak sadarkan diri. Kadar Gula darah sewaktu 65 mg/dl, Hba1c 10. Tekanan darah 190/90 mmHg, frekuensi napas 23x/menit, kulit lembab, hematocrit 30%. Berikut alasan yang tidak tepat terkait kondisi hipoglikemia dan hiperglikemia?
a)
Onset gejala hiperglikemia lebih cepat dari pada hipoglikemia
b)
Hipoglikemia dapat menyebabkan kehilangan kesadaran atau kejang secara tiba-tiba.
c)
Hipoglikemia dapat menyebabkan komplikasi akut seperti kerusakan otak permanen
d)
Hipoglikemia dapat menyebabkan aritmia (detak jantung tidak teratur) dan peningkatan risiko serangan jantung,
e)
Hipoglikemia dapat mempengaruhi kemampuan motorik dan kognitif, membuat pasien tidak mampu merespons dengan benar atau mencari bantuan.
52.
Kasus 6. Laki-laki usia 40 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri seperti ditusuk-tusuk di bagian punggung kaki kanan dengan skala 5, nyeri dirasakan hilang timbul. Pasien mengatakan nyerinya karena di gigit ular pada saat disawah, terdapat luka gigitan (2 taring), kaki pasien dibebat dengan kain, punggung kaki kanan pasien mengalami odema, berwarna kehitaman, dan pasien tampak lemah. Pasien mendapatkan drip Serum Anti Bisa Ular (SABU) 1 vial (5 ml) dalam NaCl 0,9% 500 cc dengan kecepatan 30 tpm dan diberikan bantalan di sekitar luka. Mengapa punggung kaki kanan pasien mengalami edema dan perubahan warna kehitaman?
a)
Infeksi sekunder
b)
Reaksi alergi umum
c)
Cedera jaringan lunak
d)
Gangguan peredaran darah
e)
Reaksi inflamasi lokal akibat bisa ular
53.
Kasus 6. Laki-laki usia 40 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri seperti ditusuk-tusuk di bagian punggung kaki kanan dengan skala 5, nyeri dirasakan hilang timbul. Pasien mengatakan nyerinya karena di gigit ular pada saat disawah, terdapat luka gigitan (2 taring), kaki pasien dibebat dengan kain, punggung kaki kanan pasien mengalami odema, berwarna kehitaman, dan pasien tampak lemah. Pasien mendapatkan drip Serum Anti Bisa Ular (SABU) 1 vial (5 ml) dalam NaCl 0,9% 500 cc dengan kecepatan 30 tpm dan diberikan bantalan di sekitar luka. Selain Serum Anti Bisa Ular, terapi tambahan apakah yang mungkin diperlukan segera untuk pasien tsb?
a)
Diuretik untuk mengurangi edema
b)
Analgesik untuk mengurangi nyeri
c)
Antasida untuk mencegah iritasi lambung
d)
Antihistamin untuk mencegah reaksi alergi
e)
Kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi umum
54.
Kasus 6. Laki-laki usia 40 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri seperti ditusuk-tusuk di bagian punggung kaki kanan dengan skala 5, nyeri dirasakan hilang timbul. Pasien mengatakan nyerinya karena di gigit ular pada saat disawah, terdapat luka gigitan (2 taring), kaki pasien dibebat dengan kain, punggung kaki kanan pasien mengalami odema, berwarna kehitaman, dan pasien tampak lemah. Pasien mendapatkan drip Serum Anti Bisa Ular (SABU) 1 vial (5 ml) dalam NaCl 0,9% 500 cc dengan kecepatan 30 tpm dan diberikan bantalan di sekitar luka. Jika pasien mengalami reaksi alergi setelah pemberian Serum Anti Bisa Ular, langkah yang harus dilakukan adalah…
a)
Menghentikan pemberian serum dan memberikan antihistamin
b)
Melanjutkan pemberian serum tanpa perubahan
c)
Mengganti serum dengan antibiotic
d)
Mengurangi kecepatan infus serum
e)
Menambah dosis serum
55.
Kasus 6. Laki-laki usia 40 tahun dibawa ke IGD dengan keluhan nyeri seperti ditusuk-tusuk di bagian punggung kaki kanan dengan skala 5, nyeri dirasakan hilang timbul. Pasien mengatakan nyerinya karena di gigit ular pada saat disawah, terdapat luka gigitan (2 taring), kaki pasien dibebat dengan kain, punggung kaki kanan pasien mengalami odema, berwarna kehitaman, dan pasien tampak lemah. Pasien mendapatkan drip Serum Anti Bisa Ular (SABU) 1 vial (5 ml) dalam NaCl 0,9% 500 cc dengan kecepatan 30 tpm dan diberikan bantalan di sekitar luka. Apakah tindakan yang tidak seharusnya dilakukan pada pasien tsb?
a)
Membebat area gigitan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh dasar sekitar luka yang akan memperparah edema
b)
Penggunaan bantalan di sekitar luka untuk membatasi pergerakan dan mencegah penyebaran bisa
c)
Pemberian SABU yang di encerkan dalam 500 ml NaCl
d)
Kecepatan drip SABU 30 tpm
e)
Terlambat membawa pasien ke IGD
56.
Kasus 7. Perempuan usia 67 tahun masuk IGD dengana riwayat keluhan lemas, BAB sejak 3 hari berwarna kehitaman dan lengket seperti lem. Hasil pengkajian: pasien terlihat pucat, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis, tekanan darah 126/70 mmHg, frekuensi napas 22x/menit, nadi 88x/menit, suhu: 36,6’C, akral dingin, CRT >3detik, mual (+), muntah (+), pusing (+). Hasil Laboratorium HB 5,6 g/dl, Hematrocit 18.4%. Apakah interpretasi perawat pada kasus tsb?
a)
Fisura Ani akibat feses yang keras
b)
Hemorrhoid / wasir
c)
Hematemesis
d)
Anemia
e)
Melena
57.
Kasus 7. Perempuan usia 67 tahun masuk IGD dengana riwayat keluhan lemas, BAB sejak 3 hari berwarna kehitaman dan lengket seperti lem. Hasil pengkajian: pasien terlihat pucat, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis, tekanan darah 126/70 mmHg, frekuensi napas 22x/menit, nadi 88x/menit, suhu: 36,6’C, akral dingin, CRT >3detik, mual (+), muntah (+), pusing (+). Hasil Laboratorium HB 5,6 g/dl, Hematrocit 18.4%. Apakah penyebab feses berwarna hitam dan lengket seperti lem pada pasien tsb?
a)
Overdosis obat
b)
Keracunan makanan
c)
Mengkonsumsi suplemen zat besi
d)
Feses mengandung darah yang dicerna, yang berasal dari saluran cerna bawah
e)
Feses mengandung darah yang dicerna, yang berasal dari saluran cerna atas
58.
Kasus 7. Perempuan usia 67 tahun masuk IGD dengana riwayat keluhan lemas, BAB sejak 3 hari berwarna kehitaman dan lengket seperti lem. Hasil pengkajian: pasien terlihat pucat, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis, tekanan darah 126/70 mmHg, frekuensi napas 22x/menit, nadi 88x/menit, suhu: 36,6’C, akral dingin, CRT >3detik, mual (+), muntah (+), pusing (+). Hasil Laboratorium HB 5,6 g/dl, Hematrocit 18.4%. Apa penatalaksanaan kegawatdaruratan pada pasien tsb?
a)
Pengkajian mendalam dilakukan untuk menemukan penyebabnya
b)
Resusitasi cairan dan transfusi darah
c)
Kaji GCS dan pantau balance cairan
d)
Pemberian suplemen zat besi
e)
Pembebabasan jalan napas
59.
Kasus 7. Perempuan usia 67 tahun masuk IGD dengana riwayat keluhan lemas, BAB sejak 3 hari berwarna kehitaman dan lengket seperti lem. Hasil pengkajian: pasien terlihat pucat, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis, tekanan darah 126/70 mmHg, frekuensi napas 22x/menit, nadi 88x/menit, suhu: 36,6’C, akral dingin, CRT >3detik, mual (+), muntah (+), pusing (+). Hasil Laboratorium HB 5,6 g/dl, Hematrocit 18.4%. Apakah diagnosa keperawatan prioritas pada pasien tsb?
a)
Resiko syok
b)
Nyeri akut b.d agen cedera biologis / erosi gastric
c)
Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif/perdarahan massif
d)
Penurunan curah jantung b.d hypovolemia, kehilangan cairan aktif/perdarahan massif
e)
Gangguan keseimbangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif/perdarahan saluran cerna
60.
Kasus 8. Laki-laki usia 19 Tahun BB 65 Kg, masuk IGD karena mengalami luka bakar. Pasien masuk dengan keluhan luka bakar yang luas dan sesak nafas. Hasil pengkajian didapatkan GCS M6,V5,E4, tampak luka bakar yang luas pada wajah, lengan, badan bagian depan dan belakang sertai tungkai kaki (luas 70%) derajat IIb yang disertai bulla, nyeri hebat yang menetap di seluruh kulit yang terbakar dengan skala nyeri 8, terdengar suara napas stridor. Keluarga yang mengantar mengatakan pasien terkena ledakan kompor gas. Tampak bulu hidung dan alis terbakar beserta badan disertai bulla, dyspnea, RR 30 x/menit, SPO2 85%, TD 100/70 mmHg, suhu 36OC, nadi 90x/menit teraba lemah, turgor kulit menurun, akral teraba dingin. Apakah masalah kegawatdaruratan utama pada pasien tsb?
a)
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d trauma inhalasi yang ditandai dengan bunyi napas stridor, sesak dan penurunan saturasi oksigen
b)
Resiko syok hypovolemia b.d luka bakar yang luas mencapai 70%
c)
Resiko infeksi b.d kerusakan integritas kulit yang luas mencapai 70% disertai bulla
d)
Nyeri akut b.d luka bakar ditandai dengan nyeri menetap diseluruh kulit terbakar dengan skala nyeri 8
e)
Hipovomia b.d kehilangan cairan (pergesaran cairan intravaskuler ke ruang interstitial)
61.
Kasus 8. Laki-laki usia 19 Tahun BB 65 Kg, masuk IGD karena mengalami luka bakar. Pasien masuk dengan keluhan luka bakar yang luas dan sesak nafas. Hasil pengkajian didapatkan GCS M6,V5,E4, tampak luka bakar yang luas pada wajah, lengan, badan bagian depan dan belakang sertai tungkai kaki (luas 70%) derajat IIb yang disertai bulla, nyeri hebat yang menetap di seluruh kulit yang terbakar dengan skala nyeri 8, terdengar suara napas stridor. Keluarga yang mengantar mengatakan pasien terkena ledakan kompor gas. Tampak bulu hidung dan alis terbakar beserta badan disertai bulla, dyspnea, RR 30 x/menit, SPO2 85%, TD 100/70 mmHg, suhu 36OC, nadi 90x/menit teraba lemah, turgor kulit menurun, akral teraba dingin. Apakah penalaksanaan kegawatdaruratan pada pasien tersebut?
a)
Resusitasi cairan dan pantau haluaran urine
b)
Kolaborasi pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi
c)
Membebaskan airway, pemberian oksigen dan posisi semi fowler
d)
Pemberian anti nyeri dan kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
e)
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
62.
Kasus 8 Laki-laki usia 19 Tahun BB 65 Kg, masuk IGD karena mengalami luka bakar. Pasien masuk dengan keluhan luka bakar yang luas dan sesak nafas. Hasil pengkajian didapatkan GCS M6,V5,E4, tampak luka bakar yang luas pada wajah, lengan, badan bagian depan dan belakang sertai tungkai kaki (luas 70%) derajat IIb yang disertai bulla, nyeri hebat yang menetap di seluruh kulit yang terbakar dengan skala nyeri 8, terdengar suara napas stridor. Keluarga yang mengantar mengatakan pasien terkena ledakan kompor gas. Tampak bulu hidung dan alis terbakar beserta badan disertai bulla, dyspnea, RR 30 x/menit, SPO2 85%, TD 100/70 mmHg, suhu 36OC, nadi 90x/menit teraba lemah, turgor kulit menurun, akral teraba dingin. Berapakah kebutuhan cairan pasien tersebut?
a)
18.200 / 24 jam
b)
10.000 / 8 jam pertama
c)
10.000 / 16 selanjutnya
d)
2 kolf NaCl 0,9% /8 jam pertama
e)
Tidak dapat diidenfikasi karena data tidak lengkap
63.
Tuliskan topik yang mudah di pahami dan yang sulit dipahami !
4 lines