NEW
Font size
WorksheetsQuiz 8 BPN Agustus 2025
Total questions: 50
Worksheet time: 38mins
Gambar di bawah adalah grafik arteri dari seorang pasien berusia 70 tahun yang menderita PPOK di unit perawatan intensif. Bagaimana interpretasi gambaran grafik tersebut?
Adanya blood clot
Underdamped
Tubing error
Atrial fibbrilasi
Kinking pada kanula arteri
Anda menemukan mesin anestesi dengan penyerap sodalime dan alat penguap desfluran tidak digunakan selama 48 jam terakhir. Namun, aliran fresh gas dibiarkan mengalir pada 2L/menit untuk yang terakhir 48 jam. Tindakan berikut manakah yang paling tepat sebelum menggunakan mesin ini?
Ganti mesin
Ganti penyerab sodalime, mesin anestesi tetap sama
Flush mesin anestesi selama satu jam, kemudian gunakan mesin yang sama
Gunakan fresh gas flow pada satu jam pertama
Ganti voporiser
Seorang pasien wanita berusia 20 tahun dengan diagnosis limfoma baru-baru ini menerima kemoterapi. Manakah cara berikut yang paling efektif dalam mencegah mual/muntah?
Metoklopramid 10mg IV dan siklizin 50mg IV
Ondansetron 8mg IV dan deksametason 8mg IV
Droperidol 1,25mg IV dan proklorperazin 12,5mg IV
Metoklopramid 10mg IV dan ondansetron 8mg IV
roklorperazin 12,5mg IV dan deksametason 8mg IV
Seorang wanita berusia 66 tahun dijadwalkan menjalani mastektomi dengan pembersihan aksila. Riwayat kesehatannya meliputi hipertensi dan gangguan ginjal kronis dengan laju filtrasi glomerulus 27ml/menit. Analgesik berikut manakah yang paling tepat digunakan untuk meredakan nyeri pasca operasi pada pasien ini?
Morfin
Fentanil
Natrium Diklofenak
Tramadol
Remifentanil
Seorang pasien laki-laki usia 45 tahun dengan riwayat diabetes tipe 2 menjalani operasi elektif untuk pengangkatan kantung empedu. Pada saat operasi, pasien mengalami komplikasi pembedahan sehingga pasien mengalami perdarahan sebanyak 1.500 cc. Pasien diputuskan untuk diberikan transfusi darah. Manakah dibawah ini pernyataan yang benar tentang pemberian transfusi trombosit pada pasien:
Pemberian transfusi 1 unit trombosit dapat meningkatkan nilai trombosit sebanyak 10.000 – 15.000.
Pemberian transfusi 1 unit trombosit apheresis dapat meningkatkan nilai trombosit sebanyak 20.000 – 40.000.
Dilakukan pemeriksaan ulang pada pasien untuk menilai kebutuhan transfuse trombosit, jika trombosit didapatkan 100.000 dapat dilakukan transfusi trombosit sebanyak 1 unit
Pemberian Transfusi trombosit profilaksis dapat diberikan bila nilai trombosit kurang dari 5.000
Pemberian transfusi 1 unit trombosit dapat meningkatkan nilai trombosit sebanyak 5.000 – 10.000.
Anak wanita 6 tahun, berat badan 20 kg datang ke IGD dengan lemah, pucat dan
nyeri perut paska kecelakaan lalu lintas. Dari hasil pemeriksaan didapatkan akral
dingin basah pucat, Nadi 168x/ menit, tekanan darah 53/41 mmHg, dan didapatkan
jejas pada perut kanan atas. Kemudian dilakukan resusitasi dengan menggunakan
cairan kristaloid. TS Bedah curiga pasien mengalami perdarahan internal abdomen
akibat robekan pada hepar sehingga merencanakan untuk pembedahan darurat
eksplorasi laparotomi. Pembedahan berlangsung selama 3 jam dengan total
perdarahan sebanyak 1500 cc diganti dengan cairan kristaloid sebesar 2000 cc, PRC
500 cc, dan FFP 500 cc karena produk darah sangat terbatas. Sebelum ekstubasi
pasien nampak pucat dan dari hasil pemeriksaan masih didapatkan rembesan darah
dari lokasi operasi padahal operator sudah yakin betul tidak ada jahitan yang
terlepas. Pasien tidak di ekstubasi, kemudian dilakukan perawatan intensif di ICU
sembari melakukan pemeriksaan darah lengkap dan faal hemostasis untuk
mengevaluasi kemungkinan non surgical bleeding. Apa kemungkinan penyebab
tersering non surgical bleeding paska transfusi masif ?
Von Willebrand Dissease
Dilutional Anemia
Dilutional trombositopenia
Citrate Toxicity
Hypothermia
Seorang laki laki, usia 30 tahun, dengan berat badan 60 kg, status fisik ASA I, akan menjalani operasi laparotomi eksplorasi atas indikasi peritonitis difus ec appendicitis perforasi. Intraoperasi, pasien mengalami perdarahan sebanyak 400ml. Pernyataan yang tepat di bawah ini terkait pemberian cairan dalam anestesi adalah :
Pada kasus ini, sebaiknya diberikan cairan kristaloid sebanyak 1200ml
Pemberian koloid memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan kristaloid dengan jumlah yang sesuai
Pemberian Normal Saline dalam jumlah besar, tidak berhubungan dengan kejadian metabolic acidosis
Pemberian cairan sebagai ganti perdarahan menggunakan cairan koloid dengan perbandingan 1:1
Cairan koloid menjadi pilihan untuk rumatan cairan
Cedera saraf perifer merupakan komplikasi yang sering terjadi dapat disebabkan oleh posisi pembedahan dengan anestesi regional maupun anestesia umum. Biasanya akan pulih 6-12 minggu, akan tetapi ada yang menetap. Cedera saraf perifer paling sering terjadi pada :
N. Radialis
N. Medianus
N. Ulnaris
N. Axillaris
N. Tibialis
Seorang pasien berusia 78 tahun dijadwalkan untuk operasi bypass arteri koroner. Sebagai bagian dari pemantauan rutin, spektroskopi inframerah digunakan. Manakah dari pernyataan berikut tentang oksimetri yang benar?
Oksimetri nadi tidak bergantung pada perbedaan penyerapan sinar merah dan inframerah antara hemoglobin teroksigenasi dan tereduksi
Hemoglobin teroksigenasi menyerap lebih banyak cahaya merah
Karboksihemoglobin dan oksihemoglobin menyerap cahaya pada 770nm secara serupa.
Methemoglobin memiliki koefisien absorpsi yang berbeda pada warna merah dan infra merah panjang gelombang merah
Semakin besar rasio penyerapan inframerah, semakin tinggi angka saturasi
Setelah inisiasi cardiopulmonary bypass, saturasi oksigen otak turun dari 45% menjadi 35%. Etiologi yang mungkin dari penurunan ini mencakup semua hal berikut kecuali
Mengurangi konsentrasi hemoglobin
Mengurangi konsentrasi oksigen arteri
Peningkatan perfusi serebral.
Penurunan PaC02
Peningkatan konsumsi oksigen serebral
Tidak ada masalah sebelumnya yang melibatkan anestesi baik dengan dia atau keluarganya. Pasien diberi ventilasi menggunakan mode kontrol volume yang diatur pada laju pernapasan 12 napas/menit, volume tidal 450 mL, rasio I:E 1:2, dan tidak ada tekanan ekspirasi akhir positif (PEEP). Dua puluh menit setelah dimulainya pembedahan, terjadi peningkatan yang berkelanjutan pada end-tidal C02 menjadi 48 mm Hg terlihat pada kapnograf. Tanda-tanda vital stabil. Apa penyebab yang paling mungkin?
Hiperalimentasi
Hipertermia ganas
Hipertiroidisme
Emboli paru
Semua salah
Seorang pasien dengan syok kardiogenik menjalani pompa balon intra-aorta. Apa hal berikut yang akan Anda singkirkan sebelum menggunakan pompa?
Angina tidak stabil
Infark miokard akut
Regurgitasi aorta
Aritmia ventrikel
Regurgitasi mitral akut
Seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun diberi ventilasi menggunakan volume-controlled. Bentuk gelombang normal EtCO2 bertahap (lebih dari 15 menit) berubah sebagai berikut. Kondisi yang menggambarkan peristiwa tersebut adalah...
Nafas spontan
Hipoventilasi
Malfungsi katup inspirasi
Malfungsi katup ekspirasi
Absorber tidak berfungsi
Seorang anak usia 10 tahun, dengan berat badan 30kg, menjalani operasi laparotomi eksplorasi atas indikasi trauma tumpul abdomen. Pascaoperasi pasien tampak anemis sehingga dokter memutuskan melakukan pemeriksaan laboratorium. Didapatkan hasil Hemoglobin 6,0 gr/dL. Berapa banyak transfusi PRC yang diberikan pada pasien untuk meningkatkan Hemoglobin pasien tersebut menjadi 9 gr/dL?
100 ml
200 ml
300 ml
400 ml
500 ml
Pasien laki laki usia 18 tahun, dengan berat badan 50 kg, menjalani operasi laparotomi eksplorasi atas indikasi trauma tajam abdomen. Pascaoperasi pasien tampak anemis sehingga dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium. Didapatkan hasil Hemoglobin 6 gr/dL Pertanyaan : Pernyataan di bawah ini yang kurang tepat adalah?
Konsentrasi hemoglobin di bawah 7 gr/dL menyebabkan peningkatan cardiac output untuk menjaga delivery oksigen
Target hemoglobin pada setiap pasien adalah sama
Pada pasien dengan hematokrit normal, sebaiknya mendapatkan transfusi darah setelah perdarahan sekitar 10-20% dari volume darah tubuh
Perkiraan volume darah tubuh berbeda antara seorang laki laki dan perempuan dengan berat badan yang sama
Pada kasus selain trauma masif, untuk menggantikan perdarahan, dibutuhkan cairan kristaloid lebih banyak dibandingkan cairan koloid
Seorang pasien usia 55 tahun dengan riwayat diabetes tipe 2 menjalani operasi elektif untuk pengangkatan kantung empedu. Pada saat operasi, pasien mengalami komplikasi pembedahan sehingga pasien mengalami perdarahan sebanyak 1.800 cc. Pasien diputuskan untuk diberikan transfusi darah. Pernyataan yang tepat mengenai transfusi darah adalah:
Reaksi transfusi terberat dapat dicegah dengan uji indirect Coomb test
Tujuan dari abbreviated crossmatch yang dilakukan dalam 5 menit adalah untuk mengkonfirmasi kompatibilitas Rhesus
Pada pasien dengan trauma, protokol transufsi masif dilakukan dengan pemberian transfusi whole blood : fresh frozen plasma : trombosit dengan rasio 1:1:1
Transfusi trombosit profilaksis diindikasikan pada pasien dengan trombosit <50.000 x 109/L
Fresh frozen plasma tidak perlu dihangatkan hingga 37oC sebelum diberikan untuk transfusi
Seorang pasien usia 57 tahun dengan riwayat Diabetes Mellitus tipe 2 menjalani operasi elektif untuk pengangkatan kantung empedu. Pada saat operasi, pasien mengalami komplikasi pembedahan sehingga pasien mengalami perdarahan sebanyak 1.800 cc. Pasien diputuskan untuk diberikan transfusi darah. Pernyataan yang tepat mengenai komplikasi transfusi darah adalah:
Reaksi imun non-hemolitik terbagi atas klasifikasi akut (intravaskular) atau delayed (ekstravaskular)
Reaksi imun hemolitik terjadi karena adalnya sensitisasi resipien terhadap sel darah putih/trombosit/ protein plasma dari donor
Transfusion-related acute lung injury (TRALI) terjadi karena laju pemberian produk darah melebihi curah jantung pasien
Salah satu penyebab perdarahan non-surgical setelah protokol transfusi masif adalah trombositopenia karena dilusi
Pada pasien yang dibius, reaksi hemolisis akut dapat dinilai berdasarkan tanda penurunan laju jantung, peningkatan tekanan darah dan penurunan temperatur tubuh
Seorang laki-laki 25 tahun, datang dibawa ke Ruang Resusitasi Instalasi Gawat Darurat dengan riwayat kecelakaan lalu lintas 30 menit sebelum masuk rumah sakit.Pasien dengan penurunan kesadaran dan didapatkan jejas pada clavicula kanan dan luka terbuka pada kepala bagian temporal kanan. Tekanan darah 80/30 mmHg dan laju nadi 130x permenit. Akral dingin dan pucat. Jika pasien direncakan resusitasi dengan cairan dan diperlukan komponen darah. Berapakah perbandingan komponen darah yang diberikan pada pasien ?
1 PRC : 2 FFP : 3 Trombocyte Concentrate
2 PRC : 1 FFP : 1 Trombocyte Concentrate
1 PRC : 1 FFP : 1 Trombocyte Concentrate
2 PRC : 1 FFP : 2 Trombocyte Concentrate
3 PRC : 2 FFP
Pernyataan yang tepat mengenai terapi cairan pengganti intraoperatif untuk kehilangan cairan selama pembedahan pada pasien yang menjalani Tindakan diatas:
Pada semua prosedur, pemberian cairan koloid harus diberikan sebagai cairan maintenance
Pemberian cairan tambahan pengganti dapat diganti dengan pemberian produk darah sebanyak 2-4 ml/KgBB
Cairan tambahan pengganti dengan jumlah 2-4 mL/KgBB dengan menggunakan kristaloid
Cairan tambahan pengganti dengan jumlah 4-8 mL/KgBB dengan menggunakan Kristaloid
Cairan tambahan pengganti dengan jumlah 2-4 mL/KgBB dengan menggunakan Koloid
Seorang anak usia 3 tahun dengan berat badan 18 kg datang untuk menjalani operasi pembedahan darurat laparotomi eksplorasi untuk kecurigaan ileus obstruktif di rumah sakit tempat anda bekerja. Sebagai bagian dari manajemen anestesi, penting untuk mengetahui kebutuhan cairan yang akan diberikan pada pasien. Anda bertugas untuk menilai dan mengelola terapi cairan untuk pasien ini selama periode intraoperasi. Berapakah estimated blood volume pada pasien tersebut ?
1280 mL
1440 mL
1680 mL
1350 mL
1170 mL
Saat anda bertugas jaga IRD ada pasien dikonsulkan kepada saudara untuk rencana tindakan operasi. Pasien adalah laki-laki dengan trauma di daerah bahu karena KLL, didapatkan fraktur terbuka dan rencana akan dilakukan pemasangan implant (ORIF). Dari pemeriksaan didapatkan gangguan membuka mulut (hanya 2 jari) karena bekas luka bakar 2 tahun yang lalu di wajah dan perioral. Saat ini pasien tampak tenang dansesekali mengeluhkan nyeri di bahunya, GCS 456, TD 138/74 mmHg, nadi 92 x/menit. Jika menggunakan alat bantu USG dalam melakukan peripheral blok pada pasien ini, hal berikut ini yang tidak benar adalah:
Jangan lakukan pendekatan agresif ujung jarum ke tengah saraf yang dituju
Steril drapping tetap diperlukan pada blok saraf dengan menggunakan USG
Penting memahami anatomi dan sono-anatomi area yang akan dilakukan blok dengan baik
Letakan ujung jarum sedekat mungkin dengan target saraf
Pemilihan ultrasound probe untuk lokasi saraf yang superficial lebih baik menggunakan jenis kurva
Seorang perempuan 64 tahun, direncanakan operasi open batu ureter kanan, dengan keluhan nyeri pinggang kanan hilang timbul. Sejak 3 hari sebelum ke poliklinik, ada keluhan mual muntah hilang timbul. Saat ini muntah tidak ada, masih kadang mual. Tidak ada riwayat sesak nafas, aktivitas saat ini terbatas karena mual mula nya. Pernah ada riwayat kencing berdarah 3 bulan yang lalu, tidak pernah ada riwayat keluar batu. Transmisi rangsang proprioseptif melalui:
serabut A Beta
serabut C
serabut B
serabut A alpha
serabut A gamma
Seorang pasien menjalani operasi ekstremitas bawah dalam anestesi epidural. Selama
prosedur digunakan pneumatic tourniquet. Satu jam paska inflasi, dengan tekana
mendekati 100 mmHg di atas sistolik, pasien mengeluh terasa nyeri seperti terbakar
di daerah operasi. Apa tindakan yang tepat untuk kejadian tersebut:
Menghentikan stimulus tindakan operasi
Deflasi tourniquet
Memberikan suplemen analgetik intravena
Meminta spool cairan normal saline dingin pada area operasi
Menambah suplemen obat epidural
Seorang laki – laki usia 71 tahun datang ke IGD setelah terjatuh dari sepeda. Pasien didiagnosa open fraktur digiti 4 pedis sinistra. Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 180/100 mmHg, nadi 55-65x/menit irreguler. Pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, dan transplant ginjal. Pemeriksaan laboratorium dan faal hemostasis dalam batas normal. Pemeriksaan X-ray dada didapatkan kardiomegali dengan CTR 65%. EKG didapatkan irama AF slow response. Pasien direncanakan untuk dioperasi debridemen dan pinning oleh dokter bedah. Jenis anestesi yang tepat untuk pasien tersebut diatas adalah:
Epidural block
Subarachnoid block
Anestesi umum TIVA
Anestesi umum inhalasi masker
Peripheral nerve block
Seorang laki-laki usia 32 tahun dibawa ke IGD oleh ambulans dengan fraktur femur kanan terbuka akibat kecelakaan lalu lintas. Pada survey primer didapatkan kulit tampak pucat, akral dingin, tekanan darah 80/65 mmHg, nadi 112 kali per menit, nadi teraba lemah, dan saturasi O2 97% dengan pemberian oksigen sungkup 10 liter per menit. Tampak jejas di abdomen kiri atas, sehingga dicurigai adanya internal bleeding. Setelah resusitasi dan stabilisasi pasien dibawa ke kamar operasi. Durante operasi ditemukan laserasi omentum, trauma lien dan fraktur femur yang dilakukan Laparotomi eksplorasi dan ORIF plate-screw. Paska operasi pasien dibawa ke ruang pemulihan. Jumlah perdarahan kurang lebih 2000 cc, dengan pemberian kristaloid 3000 cc, koloid 500 cc. Post operasi hasil pemeriksaan laboratorium adalah Hb 6,2 gr% Ht 18,5% dan diputuskan pemberian darah PRC. Pada saat pasien diberikan darah PRC, pasien tampak sesak, dan menjadi gelisah. Pasien diberikan adrenalin dan hidrokortison, kemudian keluhan sesak berkurang. Setelah ditelusuri pasien memiliki riwayat alergi yang diduga berhubungan dengan defisiens IgA. Pada kasus anafilaksis pasien defisiensi IgA, pemberian transfusi dianjurkan:
CMV negative packed
Leukoreduced packed red cell
Washed packed red cell
Cross-matched ulang segera untuk mengganti PRC sebelumnya
Stop transfusi, berikan manitol dan furosemide
Seorang laki-laki usia 26 tahun dengan fraktur terbuka femur bilateral akan menjalani operasi cito dengan anestesi umum. Pasien tidak memiliki riwayat asma, alergi, dan penyakit lain sebelumnya. Saat ini tanda-tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan golongan darah A. Selama operasi pasien mengalami perdarahan dan diberikan transfusi darah. Saat transfusi berlangsung suhu menjadi 39,4 derajat Celsius, laju nadi 160 kali per menit, tekanan darah 82/52 mmHg, urin merah. Perdarahan dari luka operasi sulit dihentikan. Setelah dilakukan pengecekan, pasien ditransfusi dengan golongan darah B. Pernyataan yang salah terkait kasus diatas adalah:
Beratnya gejala tidak bergantung pada volume darah yang sudah ditransfusikan
Terjadi reaksi hemolitik akibat inkompatibilitas darah
Urin sebaiknya dianalisis Hh urine
Transfusi darah harus dihentikan segera
Pasien sebaiknya diberikan diuretic osmotik
Seorang Laki-laki usia 36 tahun dibawa ke unit gawat darurat setelah mengalami kecelakaan motor. Ia mengalami cedera parah pada kaki kanannya, termasuk patah tulang dan luka terbuka. Pada pemeriksaan fisik ditemukan jejas pada area panggul yang disertai luka terbuka pada kaki kanan. Pasien datang dengan kondisi sulit dibangunkan, tanda vital 80/50 mmHg, nadi 130 kali per menit, pernafasan 23 kali per menit, saturasi 98% dengan udara bebas, akral dingin, capillary time >3 detik. Langkah pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan survei primer, pemasangan akses intravena dan pemberian cairan kristaloid 1.000 cc. Pernyataan yang tepat mengenai pemberian cairan kristaloid adalah pada pasien ini adalah:
Pemberian cairan kristaloid dan cairan koloid akan memberikan efektivitas yang sama pada perbaikan klinis apabila diberikan dalam jumlah yang sama
Pemberian cairan kristaloid yang banyak (>5-6 L) dalam waktu cepat tidak berhubungan dengan edema jaringan
Normal saline (NaCl 0,9%) yang diberikan dengan volume besar dapat menyebabkan asidosis metabolik hiperkloremik
Pemberian cairan berlebihan tidak berhubungan dengan gangguan transportasi oksigen, mempercepat penyembuhan jaringan dan fungsi usus paska pembedahan
Pemberian cairan hipotonik harus diberikan secara cepat untuk mencegah hemolisis
Seorang remaja laki-laki membawa temannya yang mengalami patah tulang pada lengan
akibat kecelakaan olahraga. Pasien dikonsultasikan untuk tindakan ORIF dan pemasangan
wire cito. Hasil pemeriksaan penunjang sebelum operasi didapatkan Hb 12,2 gr/dL, Hct
39,1%, Leukosit 10.600/µL, Trombosit 435.000/µL. Total perdarahan selama operasi adalah
2.000 cc. Selama operasi, pasien diberikan cairan kristaloid, koloid, dan produk darah.
Pernyataan yang tepat mengenai pemberian cairan koloid adalah:
Waktu paruh cairan koloid di intravaskuler adalah 2-3 jam.
Cairan koloid diberikan bersama dengan cairan kristaloid apabila terapi cairan yang dibutuhkan lebih dari 3-4 L sebelum transfusi dilakukan
Pelarut cairan koloid adalah ringer laktat
Dextran dapat digunakan sebagai ekspansi volume dan meningkatkan risiko pengentalan darah serta agregrasi sel darah merah.
Koloid yang merupakan produk turunan dari darah meliputi gelatin dan dextrose starch.
Seorang wanita usia 54 tahun dibawa ke rumah sakit setelah kecelakaan mobil yang serius.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan jejas pada bagian bahu dan memar pada bagian lengan
atas. Pasien datang dengan kondisi sadar penuh, mengeluhkan nyeri pada bagian bahu
tetapi masih dapat menggerakkan tangan walau ruang gerak terbatas nyeri. Tanda vital
120/70 mmHg, nadi 98a kali per menit, pernafasan 22 kali per menit, saturasi 97% dengan
udara bebas. Pada pemeriksaan radiologi, ditemukan pasien mengalami patah tertutup 1/3
proximal humerus. Pasien direncanakan untuk operasi ORIF dengan pemasangan plate
screw. Pernyataan yang tepat mengenai terapi cairan perioperatif:
Pasien yang puasa tidak akan mengalami defisit elektrolit.
Defisit cairan pada pasien berpuasa sebelum operasi dapat dihitung dengan perkiraan berat badan dikali dengan 2.
Defisit cairan preoperatif dapat diperberat oleh hiperventilasi, demam, dan berkeringat.
Perkiraan volume darah pasien laki-laki dewasa dapat dihitung dengan perhitungan berat badan x 85 ml/kg
Transfusi darah direkomendasikan sebelum hematrokrit turun hingga 30
Pasien Primigravida umur 27 tahun, hamil usia gestasi 37 minggu masuk kamar bersalin dengan keluhan pusing , mata kabur dan confuse. Pemeriksaan selanjutnya , tekanan darah 190/110, refleks refleks
meningkat , clonus dan proteinuria 3+. Terapi yang tepat untuk kondisi pasien tersebut adalah
Methyldopa tablet
Hydralazine dan magnesium
Observasi ketat , terapi segera diberikan jika kondisi memburuk
Labetalol tablet
Kehamilan segera diterminasi
Laki-laki, 60 tahun menjalani operasi Total Hip Athroplasty. Pasien dinilai dengan ASA 2 dengan komorbid Rheumatoid Arthritis, anemia dengan Hb 11.0, dan imobilisasi. Pasien rutin diberikan obat golongan glukokortikoid dan antikoagulan selama beberapa bulan. Pasien direncanakan untuk anestesia combined spinal-epidural. Intraoperatif, pasien mengeluh pusing dan tidak nyaman setelah operator memasukkan polymethylmethacrylate. Saat dilakukan pemeriksaan TD
70/40, nadi 120x/menit, RR 26-30x/menit, SpO2 95% dengan room air. Jika pasien dibeikan LMWH profilaksis satu dosis per hari, kapan kateter epidural sebaiknya dilepaskan dari pasien dan kapan heparin dilanjutkan kembali?
Kateter dilepaskan 6-10 jam pascapembedahan dosis terahir, dan pemberian dosis heparin berikutnya dilakukan 4 jam kemudian
Kateter dilepaskan 10-12 jam pascapembedahan dosis terakhir, dan pemberian dosis heparin berikutnya dilakukan 2 jam kemudian
Kateter dilepaskan 4-6 jam pascapembedahan dosis terakhir, dan pemberian dosis heparin berikutnya dilakukan 2 jam kemudian
Kateter dilepaskan 10-12 jam pascapembedahan dosis terakhir, dan pemberian dosis heparin berikutnya dilakukan 4 jam kemudian
Kateter dilepaskan 4-6 jam pascapembedahan dosis terakhir, dan pemberian dosis heparin berikutnya dilakukan 4 jam kemudian
Seorang laki-laki berusia 48 tahun menjalani operasi pembedahan mata. Dokter
anestesi menggunakan teknik regional anestesi dengan menyuntikkan anestesi lokal di
daerah episklera bola mata pasien. Teknik anestesi regional ini adalah
Subtenon blok
Peribulbar blok
Retrobulbar blok
Facial blok
Ophtalmic blok
Seorang parturient usia 21 tahun menjalani pembedahan section caesarea dengan
anestesi spinal. Beberapa saat setelah obat spinal disuntikkan, pasien merasa ibu jari
tangannya kesemutan.
Dermatome C4
Dermatome C6
Dermatome C7
Dermatome C5
Dermatome C8
Pasien laki-laki 80 tahun menjalani operasi hip replacement karena riwayat terjatuh di kamar mandi 1 bulan lalu. Operasi berjalan dengan anestesia kombinasi blok subarakhnoid dan epidural. Pasien dengan status fisisk ASA 2 karena riwayat hipertensi terkontrol (TD praoperasi 130/80 mmH, nadi 65x/menit) dengan obat bisoprolol dan amlodipin. Sebelum sakit pasien mengatakan masih dapat beraktivitas seperti biasa dan rutin berjalan 30 menit setiap harinya. Setelah anestesia subarakhnoid dengan bupivakain heavy 10 mg, didapatkan tekanan darah pasien turun hingga 70/40 mmHg, nadi 80x/menit. Setelah diberikan efedrin beberapa kali hingga total 5 mg, tekanan darah kembali turun. Akhirnya pasien diberikan norepinefrin hingga akhir operasi. Pasien geriatri rentan mengalami delirium pascaoperasi, terutama pascaoperasi hip. Berikut bukan merupakan usaha yang dapat mencegah delirium pascaoperasi:
Stimulasi kogitif dengan orientasi jam dinding dan kalendar
Mempertahankan keteter urin hingga pasien dapat pulang ke rumah
Mobilisasi segera setelah operasi
Manajemen nyeri yang baik
Menggunakan alat bantu pendengaran
Seorang laki-laki usia 57 tahun mengalami kecelakaan lalu lintas, dibawa ke RS dengan
penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan pasien tampak jejas di dada, perut dan luka
terbuka pada paha kanan, dengan tekanan darah 72/44 mmHg dan laju nadi 160 kali per
menit. Tatalaksana awal dilakukan dengan primary survey dan pemberian cairan kristaloid
1000 cc. Pernyataan yang benar tentang kristaloid adalah:
Saline 0,9% adalah cairan yang tepat untuk mengatasi hyperchloremic metabolic acidosis
Kristaloid merupakan cairan yang mengandung substansi molekul yang berat seperti protein dan polimer glukosa
Kristaloid memiliki efektifitas yang sama dengan koloid untuk mengembalikan cairan intravaskular jika diberikan dengan jumlah yang adekuat
Laktat pada cairan Ringer Laktat akan dikonversi menjadi bikarbonat oleh ginjal
Waktu paruh kristaloid di intravaskular adalah 60 menit
Seorang bayi laki-laki usia 7 bulan dengan berat badan 8 kg dirawat untuk rencana tindakan uretroplasti. Dari pengakuan ibu pasien, pasien terakhir minum air putih 4 jam yang lalu sebelum dilakukan pembedahan. Pasien tidak terdapat keluhan BAB cair. Tatalaksana pemberian terapi cairan yang tepat pada pasien ini adalah
Pada kasus ini, dianjurkan memberikan cairan pengganti puasa sebanyak 80 ml dalam waktu 1 jam menggunakan Ringer Laktat atau D5
Penggantian cairan puasa diberikan secara bolus karena jumlahnya sedikit
Penggantian puasa tidak terlalu penting karena jumlahnya sedikit dan puasa sudah diatur lebih longgar
Puasa 4 jam perlu diperhitungkan penggantiannya sebanyak 128 ml dengan D5¼NS
Normal saline lebih dianjurkan dari Ringer Laktat karena mencegah asidosis hiperkloremik
Seorang anak usia 9 tahun paska tonsilektomi pada pembedahan rawat jalan, 4 jam kemudian datang ke UGD dengan keluhan muntah darah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, tampak pucat, kesadaran agak gelisah, tekanan darah 95/50 mmHg, laju nadi 128 kali per menit, laju napas 25 kali per menit, tampak perdarahan aktif dari luka operasi. Dari pemeriksaan penunjang, didapatkan Hb 8,8 g/dl. Pasien akan dilakukan pembedahan darurat untuk eksplorasi pendarahan. Apa yang pertama anda lakukan pada pasien ini?
Tranfusi darah dengan Packed Red Cell
Intubasi endotrakeal dengan Crash intubation
Intubasi endotrakeal dengan teknik Rapid Sequence Induction
Resusitasi cairan dengan kristaloid
Intubasi endotrakeal dengan Awake Blind Nasal Intubation
Pasien laki-laki 52 tahun dirawat di Unit Perawatan Intensif setelah dilakukan operasi koreksi scoliosis selama 10 jam. Intraoperatif terdapat perdarahan masif dan pasien mendapatkan transfuse sebanyak 5 unit PRC, 3 unit FFP, dan 3 unit TC. Saat di ICU, pasien dicurigai TRALI (transfusion related acute lung injury). Temuan apakah yang tidak sesuai dengan diagnosis TRALI?
Durasi gejala beberapa hari jika diterapi
Hipoksemia
Edema pulmonal
Biasanya terjadi 24 jam pascatranfusi
Terutama berhubungan dengan transfusi Platelet dan FFP
Seorang laki laki, usia 30 tahun, dengan berat badan 60 kg, status fisik ASA I, akan menjalani operasi laparotomi eksplorasi atas indikasi peritonitis difus ec appendicitis perforasi. Intraoperasi, pasien mengalami perdarahan sebanyak 400ml. Pernyataan yang tepat di bawah ini terkait pemberian cairan dalam anestesi adalah :
Pada kasus ini, sebaiknya diberikan cairan kristaloid sebanyak 1200ml
Pemberian koloid memiliki efektivitas lebih tinggi dibandingkan kristaloid dengan jumlah yang sesuai
Pemberian Normal Saline dalam jumlah besar, tidak berhubungan dengan kejadian metabolic acidosis
Pemberian cairan sebagai ganti perdarahan menggunakan cairan koloid dengan perbandingan 1:1
Cairan koloid menjadi pilihan untuk rumatan cairan
Seorang anak usia 10 tahun, dengan berat badan 30kg, menjalani operasi laparotomi eksplorasi atas indikasi trauma tumpul abdomen. Pascaoperasi pasien tampak anemis sehingga dokter memutuskan melakukan pemeriksaan laboratorium. Didapatkan hasil Hemoglobin 6,0 gr/dL. Berapa banyak transfusi PRC yang diberikan pada pasien untuk meningkatkan Hemoglobin pasien tersebut menjadi 9 gr/dL?
100 ml
200 ml
300 ml
400 ml
500 ml
Pasien laki laki usia 18 tahun, dengan berat badan 50 kg, menjalani operasi laparotomi eksplorasi atas indikasi trauma tajam abdomen. Pascaoperasi pasien tampak anemis sehingga dokter memutuskan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium. Didapatkan hasil Hemoglobin 6 gr/dL Pernyataan di bawah ini yang kurang tepat adalah?
Konsentrasi hemoglobin di bawah 7 gr/dL menyebabkan peningkatan cardiac
output untuk menjaga delivery oksigen
Target hemoglobin pada setiap pasien adalah sama
Pada pasien dengan hematokrit normal, sebaiknya mendapatkan transfusi
darah setelah perdarahan sekitar 10-20% dari volume darah tubuh
Perkiraan volume darah tubuh berbeda antara seorang laki laki dan
perempuan dengan berat badan yang sama
Pada kasus selain trauma masif, untuk menggantikan perdarahan, dibutuhkan
cairan kristaloid lebih banyak dibandingkan cairan koloid.
Seorang wanita 35 tahun G1 P0A0 gemelli hamil usia kandungan 35 minggu
direncanakan untuk operasi SC elektif. Pada saat dilakukan persiapan di meja operasi
pasien diposisikan supine. Kemudian tiba tiba terjadi hipotensi sebelum dilakukan
tindakan pembiusan. Penanganan untuk kondisi diatas?
Maintenance pemberian cairan kristaloid sudah cukup
Memberikan oksigen nasal kanul 2 lt/menit
Memiringkan pasien ke kanan
Melakukan left uterine displacement
Mencegah kompresi aorta abdominalis
Wanita primipara usia 25 tahun, akan dilakukan labour analgesia dengan teknik
epidural kontinyu. Pasien sudah mengeluh sakit perut hilang timbul. Pemeriksaan
laboratorium dalam batas normal dengan faal hemostasis dalam batas normal.
Dimanakah letak Optimal analgesia yang dibutuhkan dalam persalinan kala 2 fase
aktif
L2-L5
T12-L1
T8-S4
T10-S4
T10-L1
Seorang perempuan primigravida umur kehamilan 31-32 minggu yang direncanakan akan dilakukan SC emergensi karena pecah ketuban dan gawat janin, pasien mengeluh nafas cepat dan agak berat saat tidur terlentang, pasien didapatkan dengan status fisik ASA 2 karena kehamilan. Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal dengan faal haemostasis dalam batas normal Apa kondisi fisiologis kardiovaskuler yang mengarah pada kondisi di atas?
Anemia yang timbul akibat produksi sel darah merah yang relatif kurang.
Penurunan produksi renin, angiotensin dan aldosteron sehingga terjadi
retensi air
Sampai kehamilan aterm volume plasma dapat meningkat sampai 30 persen
Hormon progesteron berhubungan dengan dengan peningkatan konsentrasi
protein plasma
Peningkatan absorpsi Natrium dan retensi air sehingga terjadi relative
hipervolemia
Wanita 60 tahun datang ke IGD dengan luka pada tungkai kanan. Pasien diketahui
menderita diabetes mellitus, namun tidak rutin mengkonsumsi obat anti diabetik.
Saat pemeriksaan didapatkan pasien tampak mengantuk, tekanan darah 89/56
mmHg, HR 112x/menit, Suhu 38,2, GDS 300mg/dl, leukosit 27.600. Pasien
didiagnosis dengan sepsis ec ulcus pedis dextra dan direncanakan debridement oleh
dokter spesialis bedah. Pasien telah dilakukan debridement oleh dokter spesialis
bedah. 3 jam perawatan di ICU, terdapat malfungsi ventilator. Residen yang bertugas
melakukan diskoneksi pasien dari ventilator dan melakukan ventilasi dengan bagging
O2 100%. Pada monitor, tampak nadi turun menjadi 30x/menit dan tek
Pasang pacemaker eksternal
Pemberian dopamine
Pastikan posisi ETT
Pemberian atropine
Pemberian epinephrine
Manakah dari beberapa pemeriksaan laboratorium di bawah ini yang masuk dalam
perhitungan MELD Score?
a. SGPT
b. Trombosit
c. Bilirubin
d. Clotting time
e. Albumin
Seorang laki-laki dirujuk dari Puskesmas ke Unit Gawat Darurat Rumah sakit setelah
mengalami kecelakaan lalu lintas. Kondisi pasien didapatkan luka robek pada area kepala,
keluar darah segar dari hidung dan mulut, dan jejas pada area perut. Telah diberikan
Oropharyngeal Airway device oleh petugas perujuk dan oksigen dengan Non Rebreathing
mask udara alir 10 L/menit. Laju nafas 32x/menit, saturasi oksigen 95%, dengan frekuensi
nadi 130 x/menit. Tekanan darah 80/60 mmhg. Kesadaran pasien GCS 214, temperatur 32
℃. Jika dilakukan intubasi dengan teknik rapid sequence induction, apakah muscle relaxant
yang dipilih?
a. Cisatracurium
b. Atracurium
c. Vecuronium
d. Suksinil kolin
e. Pancuronium
Functional residual capacity (FRC) adalah volume paru diakhir ekshalasi normal. Functional
residual capacity dapat diukur dengan Teknik wash out nitrogen atau wash out helium ataudengan cara body plethysmography. Faktor-faktor yang dapat merubah functional residual
capacity adalah:
a. Sex
b. Body habitus/posture
c. Diaphragmatic tone
d. Lung disease
e. Semua jawaban benar
Wanita usia 29 tahun dengan komorbid porphyria direncanakan laparotomy darurat
karena kehamilan ektopik terganggu. Frekuensi denyut jantung 92x/menit, tekanan darah 110/60. Obat induksi apakah yang paling tidak aman untuk pasien tersebut?
a. Isoflurane
b. Thiopentone
c. Propofol
d. Suxamethonium
e. Ketamine
Laki-laki 50 tahun dengan diagnose meningioma, dari pemeriksaan fisik didapatkan status fisik ASA 3 dengan peningkatan TIK kronis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD 150/90 mmHg, N 60x/menit, RR, 20x/I, suhu 37 C. pemeriksaanlaboratorium dalam batas normal dengan faal haemostasis dalam batas normal. Direncanakan dilakukan kraniotomi trepanasi. Hal yang tidak mempengaruhi tekanan intra kranial adalah
a. Massa otak
b. Aliran darah vena
c. Cairan limfe
d. Cairan serebro spinal
e. Aliran darah ke serebral
