NEW
Font size
WorksheetsUAS SP Farmakoekonomi Agust2025
Total questions: 30
Worksheet time: 15mins
Dalam sebuah studi farmakoekonomi, biaya transportasi pasien ke rumah sakit dikategorikan sebagai:
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Hidden cost
Seorang pasien kanker kehilangan penghasilan karena tidak bisa bekerja selama terapi. Biaya ini termasuk:
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Opportunity cost
Jika pasien mengalami rasa nyeri hebat akibat pengobatan, biaya ini masuk kategori:
Direct medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Non-reimbursable cost
Direct non-medical cost
Seorang peneliti ingin membandingkan dua terapi diabetes dengan outcome "penurunan HbA1c". Analisis paling tepat digunakan adalah:
Cost-benefit analysis
Cost-effectiveness analysis
Cost-minimization analysis
Cost-utility analysis
Budget impact analysis
Dalam analisis cost-effectiveness, satuan yang paling tepat digunakan untuk membandingkan efektivitas terapi hipertensi adalah:
Rupiah per tahun hidup berkualitas (QALY)
Rupiah per mmHg tekanan darah turun
Rupiah per utilitas
Rupiah per DALY
Rupiah per rasa nyeri yang hilang
Jika dua obat antituberkulosis memberikan efektivitas sama, tetapi harga berbeda, maka analisis yang tepat adalah:
CEA
CUA
CMA
CBA
BIA
Dalam cost-effectiveness analysis, hasil biasanya disajikan dalam bentuk:
Cost-benefit ratio
Incremental cost-effectiveness ratio (ICER)
Average cost per patient
Net present value
Cost-saving index
ICER dihitung dengan rumus:
(Efektivitas A - Efektivitas B) ÷ (Biaya A - Biaya B)
(Biaya A - Biaya B) ÷ (Efektivitas A - Efektivitas B)
(Biaya A ÷ Efektivitas A) - (Biaya B ÷ Efektivitas B)
(Total biaya ÷ jumlah pasien)
(Efektivitas ÷ biaya)
Jika ICER < threshold willingness-to-pay (WTP), maka terapi dianggap:
Tidak layak
Layak digunakan
Sama efektifnya
Hanya untuk kasus khusus
Perlu studi lanjutan
Studi membandingkan Obat A (biaya Rp10 juta, efektivitas 0,8 QALY) dan Obat B (biaya Rp7 juta, efektivitas 0,6 QALY). ICER obat A dibanding B adalah:
Rp1 juta per QALY
Rp7,5 juta per QALY
Rp10 juta per QALY
Rp15 juta per QALY
Rp20 juta per QALY
Biaya pembelian obat, konsultasi dokter, dan biaya laboratorium dikategorikan sebagai:
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Fixed cost
Dalam penelitian farmakoekonomi, biaya yang sering sulit diukur secara kuantitatif adalah:
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Average cost
Studi menunjukkan terapi baru memperpanjang hidup pasien rata-rata 2 bulan lebih lama daripada terapi lama dengan tambahan biaya Rp4 juta. ICER-nya adalah:
Rp2 juta per bulan hidup tambahan
Rp4 juta per bulan hidup tambahan
Rp8 juta per bulan hidup tambahan
Rp2 juta per tahun hidup tambahan
Rp24 juta per tahun hidup tambahan
Jika suatu terapi menghasilkan biaya lebih rendah dan efektivitas lebih tinggi dibanding terapi lain, maka terapi tersebut:
Dominated
Dominant
Cost-saving saja
Cost-effective
Net beneficial
Pasien gagal ginjal harus melakukan hemodialisis rutin. Kehilangan waktu kerja pasien akibat terapi ini masuk kategori biaya:
Direct medical
Direct non-medical
Indirect
Intangible
Opportunity
Untuk menentukan ambang batas kelayakan biaya (WTP threshold) biasanya menggunakan indikator:
Pendapatan per kapita
Anggaran belanja negara
Biaya rata-rata obat
Jumlah pasien
Total biaya kesehatan rumah sakit
Analisis cost-effectiveness dapat menjawab pertanyaan:
"Apakah biaya terapi setara dengan manfaat uangnya?"
"Apakah terapi paling murah?"
"Apakah terapi memberikan hasil terbaik per unit outcome kesehatan?"
"Apakah pasien merasa puas dengan terapi?"
"Apakah terapi meningkatkan kualitas hidup?"
Seorang peneliti memilih outcome penurunan tekanan darah (mmHg) dalam analisis ekonominya. Analisis ini masuk kategori:
CBA
CEA
CMA
CUA
CCA
Biaya yang dikeluarkan keluarga pasien untuk membeli makanan tambahan selama perawatan termasuk:
Direct medical cost
Direct non-medical cost
Indirect cost
Intangible cost
Implicit cost
Analisis farmakoekonomi yang menggunakan ukuran outcome dalam satuan "tahun hidup" (LYG) termasuk ke dalam:
CEA
CUA
CBA
CMA
BIA
Sebuah terapi baru lebih mahal tapi menurunkan angka rawat inap secara signifikan. Jenis biaya yang berkurang di sini adalah:
Direct medical
Indirect
Intangible
Direct non-medical
Fixed cost
Dalam evaluasi cost-effectiveness, "dominated" berarti:
Biaya lebih tinggi, efektivitas lebih rendah
Biaya lebih rendah, efektivitas lebih tinggi
Biaya dan efektivitas sama
Tidak signifikan perbedaan
Outcome tidak terukur
Seorang mahasiswa menilai bahwa intangible cost sulit dimasukkan ke dalam perhitungan farmakoekonomi. Argumen yang tepat adalah:
Karena biaya ini bersifat kasat mata
Karena tidak dapat diukur dalam uang secara langsung
Karena selalu sama pada setiap pasien
Karena nilainya kecil
Karena tidak relevan
Jika terapi A menghabiskan Rp20 juta dengan efektivitas 0,9 QALY, sedangkan terapi B Rp15 juta dengan efektivitas 0,85 QALY. ICER terapi A vs B adalah:
Rp50 juta/QALY
Rp100 juta/QALY
Rp25 juta/QALY
Rp10 juta/QALY
Rp20 juta/QALY
WTP threshold WHO biasanya merekomendasikan nilai maksimal ICER adalah:
1-3 kali GDP per kapita
5 kali GDP per kapita
Sama dengan GDP per kapita
10 kali GDP per kapita
Tidak ada batasan
Jika outcome diukur dalam DALY averted, analisis ini tetap termasuk dalam:
CEA
CUA
CBA
CMA
CCA
Seorang pasien menolak obat tertentu karena efek samping membuat kualitas hidupnya turun. Biaya yang sulit dihitung dari sisi ini termasuk:
Indirect
Direct medical
Intangible
Direct non-medical
Opportunity
Analisis farmakoekonomi paling tepat digunakan pemerintah untuk menentukan apakah obat baru dimasukkan ke formularium nasional adalah:
CMA
CEA
CBA
BIA
CUA
Jika suatu terapi memiliki ICER jauh di atas WTP threshold, maka rekomendasi kebijakan yang paling logis adalah:
Terapi diterapkan pada semua pasien
Terapi tidak layak dimasukkan ke daftar obat
Terapi diprioritaskan
Terapi disubsidi penuh
Terapi dinilai ulang
Dalam praktik farmasi, memahami jenis biaya kesehatan penting karena:
Hanya untuk pencatatan administrasi
Membantu rumah sakit memperoleh laba
Menjamin efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya
Agar pasien membayar lebih murah
Untuk menaikkan harga obat
