Font size
Worksheetsquiz by shinta
Total questions: 116
Worksheet time: 58mins
Infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh Malassezia furfur adalah:
a. Tinea Nigra
b. Dermatofitosis
c. Ptiriasis Versicolor
d. Impetigo
Salah satu genus yang menjadi etiologi Dermatofitosis (Tinea) adalah:
a. Poxvirus
b. Microsporum
c. Staphylococcus
d. Chlamydia
Akne Vulgaris (Jerawat) paling sering terjadi pada kelompok usia:
a. Neonatus
b. Wanita usia reproduktif
c. Remaja 15-18 tahun
d. Usia Lanjut
Tipe lesi Akne Vulgaris non-inflamasi meliputi:
a. Papul dan Pustel
b. Komedo terbuka/tertutup
c. Kista
d. Nodul dan Abses
Penatalaksanaan farmakologi untuk Akne Vulgaris ringan-sedang adalah:
a. Isotretinoin Oral
b. Antibiotik Oral
c. Topikal Retinoid, Antimikroba
d. Prosedur Bedah
Miliaria (Biang Keringat) disebabkan oleh pecahnya:
a. Folikel Pilosebaseus
b. Ductus kelenjar keringat ekrin yang tersumbat
c. Pembuluh darah
d. Sel Schwann
Miliaria Rubra (Prickly Heat) ditandai makula/papul eritematosa + vesikel punktat pada lapisan:
a. Vesikel subkorneal
b. Papilla dermis
c. Epidermis
d. Stratum Korneum
Penyakit inflamasi kronis folikel rambut pada daerah intertriginosa dan anogenital adalah:
a. Akne Vulgaris
b. Impetigo
c. Hidradenitis Supuratif
d. Furunkel
Miliaria Profunda ditandai dengan papul flesh colored (warna kulit) dan dapat menyebabkan:
a. Abses dingin
b. Nikolsky sign (+)
c. Heat exhaustion
d. Eosinofilia
Etiologi Impetigo Bullous yang sering terjadi pada neonatus dan bayi adalah:
a. Streptococcus Beta Hemolyticus
b. Mycobacterium TB
c. S. aureus
d. Chlamydia Trachomatis
Impetigo Non-Bullous ditandai dengan lesi papul/krusta berwarna:
a. Merah terang
b. Hitam
c. Kuning seperti madu (honey-colored crusted)
d. Abu-abu kebiruan
Lesi pustul kecil berbentuk kubah di muara folikel rambut adalah deskripsi dari:
a. Furunkel
b. Karbunkel
c. Folikulitis superfisial (Bockhart Impetigo)
d. Abses
Nodul inflamatori yang dalam di sekitar folikel rambut dan dapat berkembang menjadi abses adalah:
a. Furunkel
b. Folikulitis
c. Karbunkel
d. Erisipelas
Koalesensi (gabungan) dari multipel Furunkel yang lebih luas dan sangat nyeri disebut:
a. Abses
b. Karbunkel
c. Sellulitis
d. Skrofuloderma
Ektima adalah impetigo yang tidak diobati dan berkembang menjadi ulkus punched out yang dalam ke:
a. Epidermis
b. Dermis
c. Jaringan Subkutan
d. Otot
Selulitis adalah infeksi pada dermis dalam dan jaringan subkutan dengan batas:
a. Tegas (sharply demarcated)
b. Tidak jelas (ill-defined)
c. Indurasi
d. Berkrusta
Erysipelas ditandai dengan eritema merah terang, edema, dan batas:
a. Tidak jelas (ill-defined)
b. Tegas (sharply demarcated)
c. Bergaung
d. Bersisik
Kondisi di mana S. aureus melepaskan toksin sehingga terjadi ruam makular dan tanda Nikolsky (+) adalah:
a. Impetigo Non Bullous
b. Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS)
c. Erisipelas
d. Lepra
Skrofuloderma merupakan bentuk Tuberkulosis Kutis:
a. Primer
b. Sekunder
c. Tersier
d. Kongenital
Skrofuloderma ditandai dengan pembesaran KGB tanpa tanda limfadenitis TB yang bersifat:
a. Panas dan nyeri
b. Rekurensi 2 kali dalam 6 bulan
c. Abses dingin (cold abscess )
d. Papul eritematosa
Ruam pada Varicella (Cacar Air) bersifat polimorf dan menyebar secara:
a. Sentripetal (dari luar ke tengah)
b. Sentrifugal (dari tengah ke luar)
c. Mengikuti dermatom
d. Di area intertriginosa
Herpes Zoster disebabkan oleh:
a. VZV (infeksi primer)
b. Reaktivasi VZV endogen di ganglion sensorik
c. Poxvirus
d. HPV
Gambaran klinis Herpes Zoster yang khas adalah erupsi vesikel berkelompok yang
: a. Meluas ke seluruh tubuh
b. Unilateral dan mengikuti jalur segmental saraf (dermatom)
c. Dijumpai lesi "Dewdrop on a rose petals"
d. Papul kubah dengan lekukan di tengah
Pengobatan Varicella menggunakan Acyclovir. Penggunaan Salisilat harus dihindari karena berisiko menyebabkan:
a. Sindrom Stevens-Johnson
b. Sindrom Reye
c. Anafilaksis
d. Hepatotoksisitas
Lesi pada Molluscum Contagiosum ditandai dengan papul kubah putih/pink mutiara dengan ciri khas:
a. Krusta berwarna madu
b. Lekukan di tengah (umbilication)
c. Ulkus punched out
d. Spider hand
Verruca Vulgaris (Common Warts) disebabkan oleh:
a. Poxvirus
b. HPV (Human Papilloma Virus)
c. VZV
d. Sarcoptes scabiei
Tanda kardinal pada Scabies, selain pruritus nokturnal dan riwayat keluarga , adalah adanya:
a. Lesi punched out
b. Terowongan (kunikulus) dan tungau
c. Papul kubah dengan lekukan di tengah
d. Black dot
Penatalaksanaan standar untuk Scabies adalah krim Permethrin 5% yang dioleskan:
a. Setiap hari
b. Di area lesi saja
c. Seluruh tubuh selama 8-14 jam
d. Hanya di malam hari
Pediculosis Pubis disebabkan oleh:
a. Sarcoptes scabiei
b. Pediculus humanus var capitis
c. Pthirus pubis
d. Larva cacing tambang
Ciri khas infeksi Pediculosis Pubis adalah bercak abu/kebiruan pada pubis yang disebut:
a. Macula Serulae
b. Spider Hand
c. Black Dot (Telur kutu)
d. Honey-colored crusted
Creeping Eruption (Cutaneous Larva Migrans) disebabkan oleh larva cacing tambang, yaitu:
a. Sarcoptes scabiei
b. Ascaris Lumbricoides
c. Ancylostoma braziliense
d. Mycobacterium leprae
Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis adalah (tersirat):
a. Sifilis
b. Gonore
c. Klamidia
d. Kusta
Condyloma Acuminata (Kutil Kelamin) memiliki gambaran klinis:
a. Papul bersisik
b. Vegetasi bertangkai, permukaan papilomatus (kembang kol)
c. Ulkus punched out
d. Bercak hipopigmentasi anestesi
Penatalaksanaan Condyloma Acuminata dapat menggunakan Podophyllin dengan konsentrasi:
a. Salep 0,1%
b. Tincture 25%
c. Krim 5%
d. Lotion 1%
Waktu pencucian Podophyllin setelah diaplikasikan adalah:
a. 1 jam
b. 4-6 jam
c. 12 jam
d. 24 jam
Etiologi Kusta adalah bakteri:
a. Staphylococcus aureus
b. Mycobacterium leprae
c. Treponema Pallidum
d. Varicella Zoster Virus
Tanda khas pada lesi kulit Kusta adalah bercak kulit yang:
a. Pruritus nokturnal
b. Anestesi (tidak terasa)
c. Timbul lepuh kendur
d. Hiperkeratotik
Tipe Kusta Pausibasiler (PB) menurut klasifikasi WHO ditandai dengan bercak BTA:
a. BTA (+) berkerumun
b. BTA (+) bercak 1-5, batas tegas, unilateral/bilateral asimetrisx
c. BTA (-)
d. BTA (+) bercak banyak bilateral simetris, batas kurang tegas
Lama pengobatan MDT untuk Kusta tipe Pausibasiler (PB) Dewasa adalah:
a. 3 bulan
b. 6-9 bulan
c. 12-18 bulan
d. Seumur hidup
Lama pengobatan MDT untuk Kusta tipe Multibasiler (MB) Dewasa adalah:
a. 6-9 bulan
b. 12-18 bulan
c. 2 tahun
d. 3 tahun
Reaksi Kusta Tipe II disebut Erythema Nodosum Leprosum dan terkait dengan Imunitas:
a. Seluler
b. Humoral (Kompleks Imun)
c. Tipe I (IgE)
d. Sitotoksik
Manifestasi kecacatan Kusta primer diakibatkan:
a. Ulkus, kontraktur
b. Langsung (anestesi, claw hand, kulit kering)
c. Reaksi alergi obat
d. Fixed drug eruption
Klasifikasi Kusta Pausibasiler (PB) dicirikan oleh hasil Slit Skin Smear (BTA) yang:
a. Sangat positif
b. Berrak 1-5
c. Lebih dari 5
d. Tidak spesifik
Macula Serulae pada Pedikulosis Pubis adalah bercak:
a. Merah terang
b. Kuning madu
c. Abu/kebiruan
d. Putih mutiara
Tanda Nikolsky negatif ditemukan pada kasus:
a. SSSS
b. Impetigo Bullous/Impetigo Non Bullous
c. Varicella
d. Ecthyma
Erythrasma disebabkan oleh Corynebacterium Minutissimum dan ditandai bercak cobelat kemerahan di area:
a. Wajah
b. Ekstremitas bawah
c. Intertriginosa
d. Kulit kepala
Penatalaksanaan Hidradenitis Supuratif Stadium I (mild) adalah:
a. Antibiotik Oral
b. Prosedur bedah
c. Topikal Klindamisin
d. Adalimumab (Biologik)
Keluhan nyeri dalam (deep lancinating) dan parestesia di dermatom (prodromal) adalah gejala khas dari:
a. Varicella
b. Herpes Zoster
c. Impetigo
d. Kusta
Tinea Nigra disebabkan oleh:
a. Malassezia furfur
b. Candida albicans
c. Exophilia werneckii
d. Microsporum spp
Scabies Norwegia (Kusta dengan tungau sangat banyak) sering terjadi pada pasien:
a. Anak-anak
b. Immunocompromised
c. Remaja
d. Usia lanjut
Achondroplasia (Dwarfism) disebabkan oleh mutasi gen:
a. Fibrilin-1
b. COL1A1/COL1A2
c. FGFR3
d. TNF-alpha
Ciri khas Osteogenesis Imperfecta (selain fraktur patologis) adalah adanya:
a. Frontal bossing
b. Sklera berwarna biru
c. Spider hand
d. Kista
Marfan Syndrome disebabkan oleh mutasi pada:
a. Kolagen Tipe I
b. Fibrilin-1
c. FGFR3
d. Staphylococcus aureus
Kondisi di mana kegagalan menutup Spinal cord pada janin disebut:
a. Polydactyl
b. Syndactyl
c. Spina Bifida
d. Torticolis
Torticolis (Wry Neck) disebabkan oleh kontraksi abnormal pada otot:
a. Trapezius
b. Sternocleidomastoideus (SCM) yang ketat
c. Latissimus Dorsi
d. Biceps
Developmental Dysplasia of Hip (DDH) memiliki faktor risiko:
a. Anak laki-laki , pertama, sungsang
b. Anak perempuan, pertama, sungsang
c. Mutasi FGFR3
d. Mutasi Kolagen
Pada Developmental Dysplasia of Hip (DDH), manuver yang dilakukan untuk mengecek apakah sendi panggul yang dislokasi dapat direduksi adalah manuver:
a. Barlow
b. Ortolani
c. Galleazzi
d. Trendelenburg
Infeksi tulang (Osteomielitis) pada pasien dengan anemia sel sabit secara khas disebabkan oleh:
a. Staph-aureus
b. Salmonella spp
c. Mycobacterium TB
d. Chlamydia trachomatis
Proses pembentukan tulang baru di sekitar infeksi Osteomielitis disebut:
a. Sequestrum (nekrosis tulang)
b. Involucrum
c. Perrosteum
d. Debridement
Gold standard untuk diagnosis Osteomielitis adalah:
a. X-Ray
b. MRI (sensitivitas tinggi u/ infeksi dini)
c. Aspirasi/Biopsi Tulang
d. CT Scan
Infeksi supuratif/bernanah pada otot rangka disebut:
a. Pyomyositis
b. Myositis
c. Pyoderma
d. Osteomielitis
Pada stadium II (Supuratif) dari Pyomyositis, gejala khas yang ditemukan adalah:
a. Otot keras, tak fluktuasi
b. Demam ringan
c. Pembentukan abses sentral dan teraba fluktuasi
d. Gejala sepsis
Infeksi Spondilitis pada tulang belakang yang disebabkan Tuberkulosis disebut:
a. Spondylotic Myelopathy
b. Potts Disease
c. Spina Bifida
d. Osteogenesis Imperfecta
Primary Survey (ABCDE) pada trauma dimulai dengan:
a. Breathing
b. Circulation
c. Airway & C-spine control
d. Disability
Komplikasi yang paling ditakuti pada cedera muskuloskeletal yang membutuhkan Fasciotomy adalah:
a. Dislokasi
b. Sprain
c. Compartment Syndrome
d. Rupture
Komplikasi yang paling ditakuti pada cedera muskuloskeletal yang membutuhkan Fasciotomy adalah:
a. Dislokasi
b. Sprain
c. Compartment Syndrome
d. Rupture
Cedera pada ligamen akibat robekan serabut ligamen disebut:
a. Strain (otot/tendon)
b. Sprain
c. Rupture
d. Fraktur
Terapi awal yang sering digunakan untuk cedera jaringan lunak adalah protokol
a. ATLS
b. NIKOLSKY
c. PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevate)
d. Fasciotomy
Jenis Fraktur Incomplete yang khas pada anak-anak adalah:
a. Transverse
b. Oblique
c. Spiral
d. Greenstick
Klasifikasi Open Fracture yang melibatkan cedera vaskular dan membutuhkan emergency vascular repair adalah Gustilo-Anderson Tipe:
a. I
b. II
c. IIIB
d. IIIC
Dislokasi yang paling berisiko merusak pembuluh darah (popliteal) dan membutuhkan cek Neurovascular Distal Status adalah:
a. Dislokasi bahu
b. Dislokasi siku
c. Dislokasi Lutut
d. Dislokasi pinggul
NSAID yang merupakan COX-1 Selective Inhibitor dan digunakan untuk Gout Akut adalah:
a. Allopurinol
b. Colchicine
c. Indomethacin
d. Celecoxib
Obat pilihan untuk Gout Kronis, yang menghambat sintesis asam urat dengan enzim Xanthine Oxidase, adalah:
a. Probenecid
b. Colchicine
c. Allopurinol, Febuxostat
d. Ibuprofen
Obat Gout yang merupakan Uricosuric agent dan bekerja dengan menghambat reabsorpsi Tubulus Proksimal adalah:
a. Allopurinol
b. Colchicine
c. Probenecid/Sulfinpyrazone
d. Diclofenac
Obat yang digunakan untuk Gout Akut & profilaksis yang bekerja dengan menekan Inflamasi dan tidak menghambat COX-2 adalah:
a. Indomethacin
b. Allopurinol
c. Colchicine
d. Celecoxib
Obat yang termasuk COX-2 selective inhibitor adalah:
a. Ibuprofen
b. Indomethacin
c. Celecoxib
d. Acetosal
Kortikosteroid dengan Short acting (durasi aksi $<12 jam) adalah:
a. Prednisolone, Prednisone
b. Dexamethasone, Bethamethasone
c. Hydrocortisone, Cortisone
d. Triamcinolone
Kortikosteroid dengan Long acting (durasi aksi $>36 jam) adalah:
a. Prednisolone
b. Dexamethasone, Bethamethasone
c. Hydrocortisone
d. Cortisone
Bisphosphonates (Alendronate) digunakan untuk terapi Osteoporosis, yang berfungsi untuk:
a. Mengurangi fraktur vertebral dan pinggul
b. Analogue PTH
c. Menghambat Cyclophilin
d. Menghambat TNF-alpha
Obat Osteoporosis yang merupakan Analogue PTH (Parathyroid Hormone) adalah:
a. Denosumab
b. Calcitonin
c. Teriparatide
d. Raloxifene
Salah satu kontraindikasi penggunaan Kortikosteroid adalah:
a. Dermatitis Atopik
b. Osteoporosis
c. Reaksi Alergi Obat
d. Gout Akut
Penetrasi Kortikosteroid Topikal paling rendah terjadi pada area
a. Wajah
b. Skrotum
c. Telapak/Kuku/Lutut
d. Kulit Kepala
Clobetasol propionate termasuk dalam klasifikasi Kortikosteroid Topikal dengan potensi:
a. Rendah
b. Sedang
c. Poten (kelas I-II)
d. Long acting
Asam Salisilat dosis 3-20% memiliki efek:
a. Keratoplastik
b. Keratolitik (mengelupas)
c. Emolien
d. Antipruritus
Selenium Disulfide 1% dalam sampo digunakan untuk terapi:
a. Akne vulgaris
b. Tinea pedis
c. Dermatitis Seboroik
d. Kusta
Urea dengan konsentrasi 10-20% berfungsi sebagai:
a. Keratolitik
b. Astringen
c. Emolien
d. Antiseptik
Reaksi alergi obat yang dapat diperkirakan (predictable), seperti toksisitas/overdosis, disebut Reaksi:
a. Non-Imunologik
b. Imunologik
c. Tipe I
d. Tipe IV
Reaksi alergi obat yang tidak dapat diperkirakan (unpredictable), seperti idiosinkrasi atau pseudo-alergik, disebut Reaksi:
a. Non-Imunologik
b. Imunologik
c. Fixed Drug Eruption
d. Tipe I
Urtikaria, Angioedema, dan Anafilaksis termasuk dalam klasifikasi Coombs & Gell Tipe:
a. Tipe II (Sitotoksik)
b. Tipe III (Kompleks Imun)
c. Tipe I (IgE)
d. Tipe IV (Sel T)
Reaksi alergi obat Tipe IV (dimediasi Sel T) ditunjukkan oleh:
a. Anemia, Sitopenia
b. Vaskulitis
c. Dermatitis Kontak, Erupsi Makulopapular
d. Urtikaria
Manifestasi alergi obat yang ditandai dengan bercak kulit yang berulang di tempat yang sama saat pajanan obat adalah:
a. Urtikaria Angioedema
b. Serum Sickness
c. Fixed Drug Eruption (FDE)
d. DRESS Syndrome
Terapi sistemik (anaksfilaksis) untuk hipersensitivitas gigitan serangga adalah:
a. Losion Calamin
b. Kortikosteroid Topikal
c. Adrenalin (1:1000 IM), Kortikosteroid, Antihistamin
d. Acyclovir
Cyclosporin bekerja dengan memblok aktivasi sel T dan menghambat transkripsi gen:
a. TNF-alpha
b. IL-2
c. Cyclophilin
d. IL-6
Salah satu efek samping dari Cyclosporin adalah:
a. Hipoglikemia
b. Nefrotoksisitas,
c. Fraktur
d. Sklera Biru
DRESS Syndrome termasuk reaksi tipe berat yang melibatkan:
a. Kardiovaskular
b. Keterlibatan Multiorgan (hati/ginjal),
c. Hanya kulit
d. Hanya saraf
Obat DMARDs klasik tradisional meliputi Sulfasalazin, Hidroksiklorokuin, Colchicine, dan:
a. Minosiklin
b. Methotrexate
c. Adalimumab
d. Leflunomid
Denosumab adalah obat Osteoporosis yang berfungsi mengurangi fraktur vertebral dan:
a. Lutut
b. Pinggul
c. Siku
d. Kaki
Stratum Corneum adalah barrier utama dalam proses:
a. Sekresi
b. Termoregulasi
c. Absorbsi perkutaneus obat
d. Sintesis Vitamin D
Sediaan Oil in Water memiliki daya pendingin yang lebih baik, sedangkan Water in Oil memiliki daya emolien yang lebih besar dan penetrasi yang:
a. Rendah
b. Sedang
c. Kuat
d. Tidak ada
Aluminum Acetate 5% (Burow's Solution) berfungsi sebagai:
a. Emolien
b. Keratolitik
c. Astringen
d. Teratogenik
Lapisan epidermis tempat terjadinya mitosis (pertumbuhan sel baru) dan terdapat melanosit adalah:
a. Stratum Korneum
b. Stratum Spinosum
c. Stratum Basale/Germinativum
d. Stratum Granulosum
Sel yang berfungsi melindungi dari infeksi dan terdapat di Stratum Spinosum adalah:
a. Sel Merkel
b. Sel Langerhans
c. Melanosit
d. Fibroblast
Lapisan kulit yang berfungsi sebagai shock absorber dan isolasi termoregulasi adalah:
a. Dermis Papiler
b. Dermis Retikular
c. Epidermis
d. Subkutan (Hipodermis/Jaringan Adiposa)
Reseptor saraf pada kulit yang bertanggung jawab untuk sensasi sentuhan adalah:
a. Nociceptor
b. Pacinian Corpuscle
c. Thermoreceptor
d. Meissner Corpuscle
Reseptor saraf pada kulit yang bertanggung jawab untuk sensasi tekanan adalah:
a. Nociceptor
b. Pacinian Corpuscle
c. Thermoreceptor
d. Meissner Corpuscle
Fungsi kulit dalam termoregulasi dilakukan melalui proses:
a. Ekskresi garam
b. Sintesis Vitamin D
c. Vasodilatasi & Vasokonstriksi
d. Sekresi hormon
Fungsi kulit dalam sintesis Vitamin D dibantu oleh:
a. Pembuluh darah
b. Sinar UV
c. Kelenjar keringat
d. Melanin
Lapisan Stratum Korneum (Lapisan Tanduk) berfungsi sebagai:
a. Tempat mitosis
b. Pengaturan suhu
c. Pelindung trauma/terluar
d. Memproduksi nutrisi untuk epidermis
Kemampuan jaringan otot untuk merespon jika dirangsang disebut:
a. Kontraktilitas
b. Elastisitas
c. Exitabilitas
d. Tetanus
Filamen tebal pada anatomi mikro otot tersusun dari:
a. Aktin
b. Tropomiosin
c. Troponin
d. Miosin
Filamen tipis pada anatomi mikro otot tersusun dari:
a. Miosin
b. Aktin
c. Sarkomer
d. Kepala Miosin
Unit fungsional terkecil pada otot, yang dibatasi oleh dua Garis Z, adalah:
a. Pita A
b. Pita I
c. Sarkomer
d. Sarkoplasma Retikulum
Pita Gelap (Pita A) pada Sarkomer tersusun dari:
a. Hanya Filamen Aktin
b. Hanya Filamen Miosin
c. Filamen Aktin-Miosin (tindih)
d. Hanya Garis Z
Pada mekanisme kontraksi (Sliding Filament Theory), ion yang dilepaskan dari Sarcoplasmic Reticulum (SR) dan berikatan dengan Troponin adalah:
Na+
K+
Ca2+
ATP
Kontraksi otot di mana tidak terjadi pemendekan otot tetapi ketegangan otot konstan disebut:
a. Isotonik
b. Isometrik
c. Tetanus
d. Muscle Twitch
Rigor Mortis (kaku otot setelah kematian) terjadi karena:
a. Gagal suplai Kalsium
b. ATP habis, sehingga relaksasi tidak terjadi
c. Penumpukan asam laktat
d. Pelepasan asetilkolin
