wayground logo

Free Printable Worksheets

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

quiz by shinta

Total questions: 116

Worksheet time: 58mins

Name
Class
Date
1.

Infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh Malassezia furfur adalah:

a)

a. Tinea Nigra

b)

b. Dermatofitosis

c)

c. Ptiriasis Versicolor

d)

d. Impetigo

2.

Salah satu genus yang menjadi etiologi Dermatofitosis (Tinea) adalah:

a)

a. Poxvirus

b)

b. Microsporum

c)

c. Staphylococcus

d)

d. Chlamydia

3.

Akne Vulgaris (Jerawat) paling sering terjadi pada kelompok usia:

a)

a. Neonatus

b)

b. Wanita usia reproduktif

c)

c. Remaja 15-18 tahun

d)

d. Usia Lanjut

4.

Tipe lesi Akne Vulgaris non-inflamasi meliputi:

a)

a. Papul dan Pustel

b)

b. Komedo terbuka/tertutup

c)

c. Kista

d)

d. Nodul dan Abses

5.

Penatalaksanaan farmakologi untuk Akne Vulgaris ringan-sedang adalah:

a)

a. Isotretinoin Oral

b)

b. Antibiotik Oral

c)

c. Topikal Retinoid, Antimikroba

d)

d. Prosedur Bedah

6.

Miliaria (Biang Keringat) disebabkan oleh pecahnya:

a)

a. Folikel Pilosebaseus

b)

b. Ductus kelenjar keringat ekrin yang tersumbat

c)

c. Pembuluh darah

d)

d. Sel Schwann

7.

Miliaria Rubra (Prickly Heat) ditandai makula/papul eritematosa + vesikel punktat pada lapisan:

a)

a. Vesikel subkorneal

b)

b. Papilla dermis

c)

c. Epidermis

d)

d. Stratum Korneum

8.
  • Penyakit inflamasi kronis folikel rambut pada daerah intertriginosa dan anogenital adalah:

a)
  • a. Akne Vulgaris

b)
  • b. Impetigo

c)
  • c. Hidradenitis Supuratif

d)
  • d. Furunkel

9.

Miliaria Profunda ditandai dengan papul flesh colored (warna kulit) dan dapat menyebabkan:

a)

a. Abses dingin

b)

b. Nikolsky sign (+)

c)

c. Heat exhaustion

d)

d. Eosinofilia

10.

Etiologi Impetigo Bullous yang sering terjadi pada neonatus dan bayi adalah:

a)

a. Streptococcus Beta Hemolyticus

b)

b. Mycobacterium TB

c)

c. S. aureus

d)

d. Chlamydia Trachomatis

11.

Impetigo Non-Bullous ditandai dengan lesi papul/krusta berwarna:

a)

a. Merah terang

b)

b. Hitam

c)

c. Kuning seperti madu (honey-colored crusted)

d)

d. Abu-abu kebiruan

12.

Lesi pustul kecil berbentuk kubah di muara folikel rambut adalah deskripsi dari:

a)

a. Furunkel

b)

b. Karbunkel

c)

c. Folikulitis superfisial (Bockhart Impetigo)

d)

d. Abses

13.

Nodul inflamatori yang dalam di sekitar folikel rambut dan dapat berkembang menjadi abses adalah:

a)

a. Furunkel

b)

b. Folikulitis

c)

c. Karbunkel

d)

d. Erisipelas

14.

Koalesensi (gabungan) dari multipel Furunkel yang lebih luas dan sangat nyeri disebut:

a)

a. Abses

b)

b. Karbunkel

c)

c. Sellulitis

d)

d. Skrofuloderma

15.

Ektima adalah impetigo yang tidak diobati dan berkembang menjadi ulkus punched out yang dalam ke:

a)

a. Epidermis

b)

b. Dermis

c)

c. Jaringan Subkutan

d)

d. Otot

16.

Selulitis adalah infeksi pada dermis dalam dan jaringan subkutan dengan batas:

a)

a. Tegas (sharply demarcated)

b)

b. Tidak jelas (ill-defined)

c)

c. Indurasi

d)

d. Berkrusta

17.

Erysipelas ditandai dengan eritema merah terang, edema, dan batas:

a)

a. Tidak jelas (ill-defined)

b)

b. Tegas (sharply demarcated)

c)

c. Bergaung

d)

d. Bersisik

18.

Kondisi di mana S. aureus melepaskan toksin sehingga terjadi ruam makular dan tanda Nikolsky (+) adalah:

a)

a. Impetigo Non Bullous

b)

b. Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS)

c)

c. Erisipelas

d)

d. Lepra

19.

Skrofuloderma merupakan bentuk Tuberkulosis Kutis:

a)

a. Primer

b)

b. Sekunder

c)

c. Tersier

d)

d. Kongenital

20.

Skrofuloderma ditandai dengan pembesaran KGB tanpa tanda limfadenitis TB yang bersifat:

a)

a. Panas dan nyeri

b)

b. Rekurensi 2 kali dalam 6 bulan

c)

c. Abses dingin (cold abscess )

d)

d. Papul eritematosa

21.

Ruam pada Varicella (Cacar Air) bersifat polimorf dan menyebar secara:

a)

a. Sentripetal (dari luar ke tengah)

b)

b. Sentrifugal (dari tengah ke luar)

c)

c. Mengikuti dermatom

d)

d. Di area intertriginosa

22.

Herpes Zoster disebabkan oleh:

a)

a. VZV (infeksi primer)

b)

b. Reaktivasi VZV endogen di ganglion sensorik

c)

c. Poxvirus

d)

d. HPV

23.

Gambaran klinis Herpes Zoster yang khas adalah erupsi vesikel berkelompok yang

a)

: a. Meluas ke seluruh tubuh

b)

b. Unilateral dan mengikuti jalur segmental saraf (dermatom)

c)

c. Dijumpai lesi "Dewdrop on a rose petals"

d)

d. Papul kubah dengan lekukan di tengah

24.

Pengobatan Varicella menggunakan Acyclovir. Penggunaan Salisilat harus dihindari karena berisiko menyebabkan:

a)

a. Sindrom Stevens-Johnson

b)

b. Sindrom Reye

c)

c. Anafilaksis

d)

d. Hepatotoksisitas

25.

Lesi pada Molluscum Contagiosum ditandai dengan papul kubah putih/pink mutiara dengan ciri khas:

a)

a. Krusta berwarna madu

b)

b. Lekukan di tengah (umbilication)

c)

c. Ulkus punched out

d)

d. Spider hand

26.

Verruca Vulgaris (Common Warts) disebabkan oleh:

a)

a. Poxvirus

b)

b. HPV (Human Papilloma Virus)

c)

c. VZV

d)

d. Sarcoptes scabiei

27.

Tanda kardinal pada Scabies, selain pruritus nokturnal dan riwayat keluarga , adalah adanya:

a)

a. Lesi punched out

b)

b. Terowongan (kunikulus) dan tungau

c)

c. Papul kubah dengan lekukan di tengah

d)

d. Black dot

28.

Penatalaksanaan standar untuk Scabies adalah krim Permethrin 5% yang dioleskan:

a)

a. Setiap hari

b)

b. Di area lesi saja

c)

c. Seluruh tubuh selama 8-14 jam

d)

d. Hanya di malam hari

29.

Pediculosis Pubis disebabkan oleh:

a)

a. Sarcoptes scabiei

b)

b. Pediculus humanus var capitis

c)

c. Pthirus pubis

d)

d. Larva cacing tambang

30.

Ciri khas infeksi Pediculosis Pubis adalah bercak abu/kebiruan pada pubis yang disebut:

a)

a. Macula Serulae

b)

b. Spider Hand

c)

c. Black Dot (Telur kutu)

d)

d. Honey-colored crusted

31.

Creeping Eruption (Cutaneous Larva Migrans) disebabkan oleh larva cacing tambang, yaitu:

a)

a. Sarcoptes scabiei

b)

b. Ascaris Lumbricoides

c)

c. Ancylostoma braziliense

d)

d. Mycobacterium leprae

32.

Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis adalah (tersirat):

a)

a. Sifilis

b)

b. Gonore

c)

c. Klamidia

d)

d. Kusta

33.

Condyloma Acuminata (Kutil Kelamin) memiliki gambaran klinis:

a)

a. Papul bersisik

b)

b. Vegetasi bertangkai, permukaan papilomatus (kembang kol)

c)

c. Ulkus punched out

d)

d. Bercak hipopigmentasi anestesi

34.

Penatalaksanaan Condyloma Acuminata dapat menggunakan Podophyllin dengan konsentrasi:

a)

a. Salep 0,1%

b)

b. Tincture 25%

c)

c. Krim 5%

d)

d. Lotion 1%

35.

Waktu pencucian Podophyllin setelah diaplikasikan adalah:

a)

a. 1 jam

b)

b. 4-6 jam

c)

c. 12 jam

d)

d. 24 jam

36.

Etiologi Kusta adalah bakteri:

a)

a. Staphylococcus aureus

b)

b. Mycobacterium leprae

c)

c. Treponema Pallidum

d)

d. Varicella Zoster Virus

37.

Tanda khas pada lesi kulit Kusta adalah bercak kulit yang:

a)

a. Pruritus nokturnal

b)

b. Anestesi (tidak terasa)

c)

c. Timbul lepuh kendur

d)

d. Hiperkeratotik

38.

Tipe Kusta Pausibasiler (PB) menurut klasifikasi WHO ditandai dengan bercak BTA:

a)

a. BTA (+) berkerumun

b)

b. BTA (+) bercak 1-5, batas tegas, unilateral/bilateral asimetrisx

c)

c. BTA (-)

d)

d. BTA (+) bercak banyak bilateral simetris, batas kurang tegas

39.

Lama pengobatan MDT untuk Kusta tipe Pausibasiler (PB) Dewasa adalah:

a)

a. 3 bulan

b)

b. 6-9 bulan

c)

c. 12-18 bulan

d)

d. Seumur hidup

40.

Lama pengobatan MDT untuk Kusta tipe Multibasiler (MB) Dewasa adalah:

a)

a. 6-9 bulan

b)

b. 12-18 bulan

c)

c. 2 tahun

d)

d. 3 tahun

41.

Reaksi Kusta Tipe II disebut Erythema Nodosum Leprosum dan terkait dengan Imunitas:

a)

a. Seluler

b)

b. Humoral (Kompleks Imun)

c)

c. Tipe I (IgE)

d)

d. Sitotoksik

42.

Manifestasi kecacatan Kusta primer diakibatkan:

a)

a. Ulkus, kontraktur

b)

b. Langsung (anestesi, claw hand, kulit kering)

c)

c. Reaksi alergi obat

d)

d. Fixed drug eruption

43.

Klasifikasi Kusta Pausibasiler (PB) dicirikan oleh hasil Slit Skin Smear (BTA) yang:

a)

a. Sangat positif

b)

b. Berrak 1-5

c)

c. Lebih dari 5

d)

d. Tidak spesifik

44.

Macula Serulae pada Pedikulosis Pubis adalah bercak:

a)

a. Merah terang

b)

b. Kuning madu

c)

c. Abu/kebiruan

d)

d. Putih mutiara

45.

Tanda Nikolsky negatif ditemukan pada kasus:

a)

a. SSSS

b)

b. Impetigo Bullous/Impetigo Non Bullous

c)

c. Varicella

d)

d. Ecthyma

46.

Erythrasma disebabkan oleh Corynebacterium Minutissimum dan ditandai bercak cobelat kemerahan di area:

a)

a. Wajah

b)

b. Ekstremitas bawah

c)

c. Intertriginosa

d)

d. Kulit kepala

47.

Penatalaksanaan Hidradenitis Supuratif Stadium I (mild) adalah:

a)

a. Antibiotik Oral

b)

b. Prosedur bedah

c)

c. Topikal Klindamisin

d)

d. Adalimumab (Biologik)

48.

Keluhan nyeri dalam (deep lancinating) dan parestesia di dermatom (prodromal) adalah gejala khas dari:

a)

a. Varicella

b)

b. Herpes Zoster

c)

c. Impetigo

d)

d. Kusta

49.

Tinea Nigra disebabkan oleh:

a)

a. Malassezia furfur

b)

b. Candida albicans

c)

c. Exophilia werneckii

d)

d. Microsporum spp

50.

Scabies Norwegia (Kusta dengan tungau sangat banyak) sering terjadi pada pasien:

a)

a. Anak-anak

b)

b. Immunocompromised

c)

c. Remaja

d)

d. Usia lanjut

51.

Achondroplasia (Dwarfism) disebabkan oleh mutasi gen:

a)

a. Fibrilin-1

b)

b. COL1A1/COL1A2

c)

c. FGFR3

d)

d. TNF-alpha

52.

Ciri khas Osteogenesis Imperfecta (selain fraktur patologis) adalah adanya:

a)

a. Frontal bossing

b)

b. Sklera berwarna biru

c)

c. Spider hand

d)

d. Kista

53.

Marfan Syndrome disebabkan oleh mutasi pada:

a)

a. Kolagen Tipe I

b)

b. Fibrilin-1

c)

c. FGFR3

d)

d. Staphylococcus aureus

54.

Kondisi di mana kegagalan menutup Spinal cord pada janin disebut:

a)

a. Polydactyl

b)

b. Syndactyl

c)

c. Spina Bifida

d)

d. Torticolis

55.

Torticolis (Wry Neck) disebabkan oleh kontraksi abnormal pada otot:

a)

a. Trapezius

b)

b. Sternocleidomastoideus (SCM) yang ketat

c)

c. Latissimus Dorsi

d)

d. Biceps

56.

Developmental Dysplasia of Hip (DDH) memiliki faktor risiko:

a)

a. Anak laki-laki , pertama, sungsang

b)

b. Anak perempuan, pertama, sungsang

c)

c. Mutasi FGFR3

d)

d. Mutasi Kolagen

57.

Pada Developmental Dysplasia of Hip (DDH), manuver yang dilakukan untuk mengecek apakah sendi panggul yang dislokasi dapat direduksi adalah manuver:

a)

a. Barlow

b)

b. Ortolani

c)

c. Galleazzi

d)

d. Trendelenburg

58.

Infeksi tulang (Osteomielitis) pada pasien dengan anemia sel sabit secara khas disebabkan oleh:

a)

a. Staph-aureus

b)

b. Salmonella spp

c)

c. Mycobacterium TB

d)

d. Chlamydia trachomatis

59.

Proses pembentukan tulang baru di sekitar infeksi Osteomielitis disebut:

a)

a. Sequestrum (nekrosis tulang)

b)

b. Involucrum

c)

c. Perrosteum

d)

d. Debridement

60.

Gold standard untuk diagnosis Osteomielitis adalah:

a)

a. X-Ray

b)

b. MRI (sensitivitas tinggi u/ infeksi dini)

c)

c. Aspirasi/Biopsi Tulang

d)

d. CT Scan

61.

Infeksi supuratif/bernanah pada otot rangka disebut:

a)

a. Pyomyositis

b)

b. Myositis

c)

c. Pyoderma

d)

d. Osteomielitis

62.

Pada stadium II (Supuratif) dari Pyomyositis, gejala khas yang ditemukan adalah:

a)

a. Otot keras, tak fluktuasi

b)

b. Demam ringan

c)

c. Pembentukan abses sentral dan teraba fluktuasi

d)

d. Gejala sepsis

63.

Infeksi Spondilitis pada tulang belakang yang disebabkan Tuberkulosis disebut:

a)

a. Spondylotic Myelopathy

b)

b. Potts Disease

c)

c. Spina Bifida

d)

d. Osteogenesis Imperfecta

64.

Primary Survey (ABCDE) pada trauma dimulai dengan:

a)

a. Breathing

b)

b. Circulation

c)

c. Airway & C-spine control

d)

d. Disability

65.

Komplikasi yang paling ditakuti pada cedera muskuloskeletal yang membutuhkan Fasciotomy adalah:

a)

a. Dislokasi

b)

b. Sprain

c)

c. Compartment Syndrome

d)

d. Rupture

66.

Komplikasi yang paling ditakuti pada cedera muskuloskeletal yang membutuhkan Fasciotomy adalah:

a)

a. Dislokasi

b)

b. Sprain

c)

c. Compartment Syndrome

d)

d. Rupture

67.

Cedera pada ligamen akibat robekan serabut ligamen disebut:

a)

a. Strain (otot/tendon)

b)

b. Sprain

c)

c. Rupture

d)

d. Fraktur

68.

Terapi awal yang sering digunakan untuk cedera jaringan lunak adalah protokol

a)

a. ATLS

b)

b. NIKOLSKY

c)

c. PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevate)

d)

d. Fasciotomy

69.

Jenis Fraktur Incomplete yang khas pada anak-anak adalah:

a)

a. Transverse

b)

b. Oblique

c)

c. Spiral

d)

d. Greenstick

70.

Klasifikasi Open Fracture yang melibatkan cedera vaskular dan membutuhkan emergency vascular repair adalah Gustilo-Anderson Tipe:

a)

a. I

b)

b. II

c)

c. IIIB

d)

d. IIIC

71.

Dislokasi yang paling berisiko merusak pembuluh darah (popliteal) dan membutuhkan cek Neurovascular Distal Status adalah:

a)

a. Dislokasi bahu

b)

b. Dislokasi siku

c)

c. Dislokasi Lutut

d)

d. Dislokasi pinggul

72.

NSAID yang merupakan COX-1 Selective Inhibitor dan digunakan untuk Gout Akut adalah:

a)

a. Allopurinol

b)

b. Colchicine

c)

c. Indomethacin

d)

d. Celecoxib

73.

Obat pilihan untuk Gout Kronis, yang menghambat sintesis asam urat dengan enzim Xanthine Oxidase, adalah:

a)

a. Probenecid

b)

b. Colchicine

c)

c. Allopurinol, Febuxostat

d)

d. Ibuprofen

74.

Obat Gout yang merupakan Uricosuric agent dan bekerja dengan menghambat reabsorpsi Tubulus Proksimal adalah:

a)

a. Allopurinol

b)

b. Colchicine

c)

c. Probenecid/Sulfinpyrazone

d)

d. Diclofenac

75.

Obat yang digunakan untuk Gout Akut & profilaksis yang bekerja dengan menekan Inflamasi dan tidak menghambat COX-2 adalah:

a)

a. Indomethacin

b)

b. Allopurinol

c)

c. Colchicine

d)

d. Celecoxib

76.

Obat yang termasuk COX-2 selective inhibitor adalah:

a)

a. Ibuprofen

b)

b. Indomethacin

c)

c. Celecoxib

d)

d. Acetosal

77.

Kortikosteroid dengan Short acting (durasi aksi $<12 jam) adalah:

a)

a. Prednisolone, Prednisone

b)

b. Dexamethasone, Bethamethasone

c)

c. Hydrocortisone, Cortisone

d)

d. Triamcinolone

78.

Kortikosteroid dengan Long acting (durasi aksi $>36 jam) adalah:

a)

a. Prednisolone

b)

b. Dexamethasone, Bethamethasone

c)

c. Hydrocortisone

d)

d. Cortisone

79.

Bisphosphonates (Alendronate) digunakan untuk terapi Osteoporosis, yang berfungsi untuk:

a)

a. Mengurangi fraktur vertebral dan pinggul

b)

b. Analogue PTH

c)

c. Menghambat Cyclophilin

d)

d. Menghambat TNF-alpha

80.

Obat Osteoporosis yang merupakan Analogue PTH (Parathyroid Hormone) adalah:

a)

a. Denosumab

b)

b. Calcitonin

c)

c. Teriparatide

d)

d. Raloxifene

81.

Salah satu kontraindikasi penggunaan Kortikosteroid adalah:

a)

a. Dermatitis Atopik

b)

b. Osteoporosis

c)

c. Reaksi Alergi Obat

d)

d. Gout Akut

82.

Penetrasi Kortikosteroid Topikal paling rendah terjadi pada area

a)

a. Wajah

b)

b. Skrotum

c)

c. Telapak/Kuku/Lutut

d)

d. Kulit Kepala

83.

Clobetasol propionate termasuk dalam klasifikasi Kortikosteroid Topikal dengan potensi:

a)

a. Rendah

b)

b. Sedang

c)

c. Poten (kelas I-II)

d)

d. Long acting

84.

Asam Salisilat dosis 3-20% memiliki efek:

a)

a. Keratoplastik

b)

b. Keratolitik (mengelupas)

c)

c. Emolien

d)

d. Antipruritus

85.

Selenium Disulfide 1% dalam sampo digunakan untuk terapi:

a)

a. Akne vulgaris

b)

b. Tinea pedis

c)

c. Dermatitis Seboroik

d)

d. Kusta

86.

Urea dengan konsentrasi 10-20% berfungsi sebagai:

a)

a. Keratolitik

b)

b. Astringen

c)

c. Emolien

d)

d. Antiseptik

87.

Reaksi alergi obat yang dapat diperkirakan (predictable), seperti toksisitas/overdosis, disebut Reaksi:

a)

a. Non-Imunologik

b)

b. Imunologik

c)

c. Tipe I

d)

d. Tipe IV

88.

Reaksi alergi obat yang tidak dapat diperkirakan (unpredictable), seperti idiosinkrasi atau pseudo-alergik, disebut Reaksi:

a)

a. Non-Imunologik

b)

b. Imunologik

c)

c. Fixed Drug Eruption

d)

d. Tipe I

89.

Urtikaria, Angioedema, dan Anafilaksis termasuk dalam klasifikasi Coombs & Gell Tipe:

a)

a. Tipe II (Sitotoksik)

b)

b. Tipe III (Kompleks Imun)

c)

c. Tipe I (IgE)

d)

d. Tipe IV (Sel T)

90.

Reaksi alergi obat Tipe IV (dimediasi Sel T) ditunjukkan oleh:

a)

a. Anemia, Sitopenia

b)

b. Vaskulitis

c)

c. Dermatitis Kontak, Erupsi Makulopapular

d)

d. Urtikaria

91.

Manifestasi alergi obat yang ditandai dengan bercak kulit yang berulang di tempat yang sama saat pajanan obat adalah:

a)

a. Urtikaria Angioedema

b)

b. Serum Sickness

c)

c. Fixed Drug Eruption (FDE)

d)

d. DRESS Syndrome

92.

Terapi sistemik (anaksfilaksis) untuk hipersensitivitas gigitan serangga adalah:

a)

a. Losion Calamin

b)

b. Kortikosteroid Topikal

c)

c. Adrenalin (1:1000 IM), Kortikosteroid, Antihistamin

d)

d. Acyclovir

93.

Cyclosporin bekerja dengan memblok aktivasi sel T dan menghambat transkripsi gen:

a)

a. TNF-alpha

b)

b. IL-2

c)

c. Cyclophilin

d)

d. IL-6

94.

Salah satu efek samping dari Cyclosporin adalah:

a)

a. Hipoglikemia

b)

b. Nefrotoksisitas,

c)

c. Fraktur

d)

d. Sklera Biru

95.

DRESS Syndrome termasuk reaksi tipe berat yang melibatkan:

a)

a. Kardiovaskular

b)

b. Keterlibatan Multiorgan (hati/ginjal),

c)

c. Hanya kulit

d)

d. Hanya saraf

96.

Obat DMARDs klasik tradisional meliputi Sulfasalazin, Hidroksiklorokuin, Colchicine, dan:

a)

a. Minosiklin

b)

b. Methotrexate

c)

c. Adalimumab

d)

d. Leflunomid

97.

Denosumab adalah obat Osteoporosis yang berfungsi mengurangi fraktur vertebral dan:

a)

a. Lutut

b)

b. Pinggul

c)

c. Siku

d)

d. Kaki

98.

Stratum Corneum adalah barrier utama dalam proses:

a)

a. Sekresi

b)

b. Termoregulasi

c)

c. Absorbsi perkutaneus obat

d)

d. Sintesis Vitamin D

99.

Sediaan Oil in Water memiliki daya pendingin yang lebih baik, sedangkan Water in Oil memiliki daya emolien yang lebih besar dan penetrasi yang:

a)

a. Rendah

b)

b. Sedang

c)

c. Kuat

d)

d. Tidak ada

100.

Aluminum Acetate 5% (Burow's Solution) berfungsi sebagai:

a)

a. Emolien

b)

b. Keratolitik

c)

c. Astringen

d)

d. Teratogenik

101.

Lapisan epidermis tempat terjadinya mitosis (pertumbuhan sel baru) dan terdapat melanosit adalah:

a)

a. Stratum Korneum

b)

b. Stratum Spinosum

c)

c. Stratum Basale/Germinativum

d)

d. Stratum Granulosum

102.

Sel yang berfungsi melindungi dari infeksi dan terdapat di Stratum Spinosum adalah:

a)

a. Sel Merkel

b)

b. Sel Langerhans

c)

c. Melanosit

d)

d. Fibroblast

103.

Lapisan kulit yang berfungsi sebagai shock absorber dan isolasi termoregulasi adalah:

a)

a. Dermis Papiler

b)

b. Dermis Retikular

c)

c. Epidermis

d)

d. Subkutan (Hipodermis/Jaringan Adiposa)

104.

Reseptor saraf pada kulit yang bertanggung jawab untuk sensasi sentuhan adalah:

a)

a. Nociceptor

b)

b. Pacinian Corpuscle

c)

c. Thermoreceptor

d)

d. Meissner Corpuscle

105.

Reseptor saraf pada kulit yang bertanggung jawab untuk sensasi tekanan adalah:

a)

a. Nociceptor

b)

b. Pacinian Corpuscle

c)

c. Thermoreceptor

d)

d. Meissner Corpuscle

106.

Fungsi kulit dalam termoregulasi dilakukan melalui proses:

a)

a. Ekskresi garam

b)

b. Sintesis Vitamin D

c)

c. Vasodilatasi & Vasokonstriksi

d)

d. Sekresi hormon

107.

Fungsi kulit dalam sintesis Vitamin D dibantu oleh:

a)

a. Pembuluh darah

b)

b. Sinar UV

c)

c. Kelenjar keringat

d)

d. Melanin

108.

Lapisan Stratum Korneum (Lapisan Tanduk) berfungsi sebagai:

a)

a. Tempat mitosis

b)

b. Pengaturan suhu

c)

c. Pelindung trauma/terluar

d)

d. Memproduksi nutrisi untuk epidermis

109.

Kemampuan jaringan otot untuk merespon jika dirangsang disebut:

a)

a. Kontraktilitas

b)

b. Elastisitas

c)

c. Exitabilitas

d)

d. Tetanus

110.

Filamen tebal pada anatomi mikro otot tersusun dari:

a)

a. Aktin

b)

b. Tropomiosin

c)

c. Troponin

d)

d. Miosin

111.

Filamen tipis pada anatomi mikro otot tersusun dari:

a)

a. Miosin

b)

b. Aktin

c)

c. Sarkomer

d)

d. Kepala Miosin

112.

Unit fungsional terkecil pada otot, yang dibatasi oleh dua Garis Z, adalah:

a)

a. Pita A

b)

b. Pita I

c)

c. Sarkomer

d)

d. Sarkoplasma Retikulum

113.

Pita Gelap (Pita A) pada Sarkomer tersusun dari:

a)

a. Hanya Filamen Aktin

b)

b. Hanya Filamen Miosin

c)

c. Filamen Aktin-Miosin (tindih)

d)

d. Hanya Garis Z

114.
  • Pada mekanisme kontraksi (Sliding Filament Theory), ion yang dilepaskan dari Sarcoplasmic Reticulum (SR) dan berikatan dengan Troponin adalah:

a)

Na+

b)

K+

c)

Ca2+

d)

ATP

115.
  • Kontraksi otot di mana tidak terjadi pemendekan otot tetapi ketegangan otot konstan disebut:

a)
  • a. Isotonik

b)
  • b. Isometrik

c)
  • c. Tetanus

d)
  • d. Muscle Twitch

116.

Rigor Mortis (kaku otot setelah kematian) terjadi karena:

a)

a. Gagal suplai Kalsium

b)

b. ATP habis, sehingga relaksasi tidak terjadi

c)

c. Penumpukan asam laktat

d)

d. Pelepasan asetilkolin