WorksheetsUAS Psikososial & Budaya dalam keperawatan
Total questions: 81
Worksheet time: 1hrs 21mins
Perawat membahas perubahan fungsi seksual akibat penyakit kronis dengan bahasa yang sopan dan tidak menghakimi. Apakah pendekatan yang dilakukan pada kasus tersebut?
Sikap etnosentris
Sensitivitas budaya dan seksual
Dominasi nilai perawat
Penghindaran topik sensitif
Intervensi spiritual
Seorang laki-laki, 15 tahun, mengatakan merasa bingung dan cemas terhadap perubahan fisik saat pubertas. Apakah peran perawat pada kasus tersebut?
Memberikan nasehat moral
Menghindari pembahasan
Memberikan edukasi perkembangan seksual
Menyerahkan pada orang tua
Mengarahkan pada disiplin ketat
Seorang perempuan, 54 tahun di rawat di RS karena mengalami gagal ginjal kronik dan akan dilakukan cuci darah. Atas permintaan keluarga, perawat memfasilitasi pasien untuk bertemu pemuka agama sesuai kepercayaannya. Apakah bentuk intervensi pada kasus tersebut?
Dukungan emosional
Dukungan sosial
Dukungan spiritual
Dukungan instrumental
Dukungan informasional
Seorang perempuan, 27 tahun dirawat di RSU karena ada benjolan di payudara kanan dan dilakukan mastektomi. Hasil pengkajian, pasien pasca mastektomi mengatakan tidak lagi merasa sebagai perempuan seutuhnya dan enggan bercermin. Apakah masalah yang dialami pada kasus tersebut?
Harga diri rendah
Gangguan identitas diri
Gangguan peran diri
Seorang laki-laki, 87 tahun tinggal di RPSTW Panti Lansia, sejak 6 bulan yang lalu istrinya meninggal dunia. Perawat mendengarkan pasien yang menceritakan perasaan sedih akibat kehilangan tanpa menghakimi. Apakah tujuan intervensi keperawatan pada kasus tersebut?
Mengalihkan perhatian
Mengurangi tangisan
Memfasilitasi proses berduka
Menghentikan kesedihan
Menguatkan rasionalisasi
Seorang perempuan, 64 tahun di rawat di RS karena mengalami gagal ginjal kronik dan akan dilakukan cuci darah. Pasien menolak membicarakan kondisi penyakitnya dan mengatakan hasil pemeriksaan salah. Apakah tahap berduka pada kasus tersebut?
Marah
Depresi
Penyangkalan
Penerimaan
Tawar-menawar
Seorang laki-laki, 50 tahun di rawat di RS karena mengalami gagal ginjal kronik dan penurunan kesadaran. Atas permintaan keluarga, perawat memfasilitasi pasien untuk bertemu pemuka agama sesuai kepercayaannya. Apakah peran perawat pada pasien menjelang ajal tersebut?
Memperpanjang hidup
Memberikan harapan palsu
Memberikan kenyamanan dan dukungan
Menghindari diskusi kematian
Fokus pada prosedur invasif
Seorang perawat menemukan bahwa pasien memiliki kebiasaan pengobatan tradisional yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Fenomena tersebut menggambarkan budaya terkait?
A. Pola perilaku biologis
B. Warisan genetik
C. Sistem nilai dan kepercayaan yang dipelajari
D. Kebiasaan individual
E. Adaptasi lingkungan semata
Pasien lebih memilih jamu dibanding obat medis karena kepercayaan keluarga. Perilaku ini dipengaruhi oleh:
Kepercayaan keluarga
Iklan televisi
Harga obat medis
Ketersediaan transportasi
Perawat mengedukasi pasien dengan mengaitkan pesan kesehatan pada nilai budaya setempat. Pendekatan ini bertujuan untuk:
Mengubah budaya pasien
Meningkatkan penerimaan perilaku sehat
Menghilangkan kepercayaan lokal
Menyeragamkan perilaku
Mempercepat tindakan medis
Perawat menyesuaikan intervensi keperawatan dengan nilai dan keyakinan pasien tanpa mengorbankan keselamatan. Pendekatan ini mencerminkan paradigma:
Biomedik
Tradisional
Keperawatan peka budaya
Medikalistik
Kuratif
Pasien menilai perawat yang jarang berbicara dianggap tidak peduli, meskipun tindakan keperawatan telah sesuai prosedur. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan:
Standar klinis
Persepsi budaya tentang caring
Kompetensi teknis
Peraturan rumah sakit
Hierarki profesi
Masyarakat menolak program imunisasi baru karena dianggap bertentangan dengan kebiasaan turun-temurun. Faktor utama penolakan tersebut adalah:
Kurangnya tenaga kesehatan
Hambatan budaya dan kepercayaan
Keterbatasan fasilitas
Masalah ekonomi
Kurangnya regulasi
Perawat mendapat pasien lebih memilih pengobatan tradisional sebelum ke fasilitas kesehatan. Perilaku ini paling tepat dipahami sebagai dampak dari:
Kurangnya pengetahuan medis
Sistem nilai dan kepercayaan budaya
Hambatan akses layanan
Pasien menunda ke rumah sakit karena menganggap sakit adalah bagian dari proses hidup. Pandangan ini mencerminkan persepsi sakit yang bersifat:
Biomedis
Fatalistik budaya
Preventif
Kuratif
Rehabilitatif
Perawat menghadapi pasien yang menolak pengobatan medis karena tidak sesuai dengan keyakinan budaya. Sikap perawat yang paling tepat adalah:
Memaksakan tindakan medis
Mengabaikan keyakinan pasien
Menghormati dan mencari pendekatan budaya
Menyerahkan sepenuhnya pada keluarga
Menghentikan perawatan
Perawat melibatkan keluarga dalam pengambilan keputusan keperawatan sesuai kebiasaan pasien. Tindakan ini menunjukkan penerapan:
Pendekatan individualistik
Pendekatan biomedis
Pendekatan psikososial budaya
Pendekatan administratif
Pendekatan kuratif
Perawat menemukan peningkatan pasien dari berbagai negara dengan latar budaya berbeda di rumah sakit. Dampak globalisasi terhadap praktik keperawatan adalah:
Standarisasi mutlak pelayanan
Penurunan kualitas asuhan
Meningkatnya kebutuhan kompetensi transkultural
Berkurangnya peran keluarga
Hilangnya nilai lokal
Dalam teori keperawatan transkultural, tujuan utama asuhan keperawatan adalah:
Menyeragamkan perawatan
Menghilangkan budaya pasien
Memberikan asuhan yang bermakna secara budaya
Mempercepat penyembuhan
Mengurangi biaya pelayanan
Pasien dari minoritas budaya merasa enggan mengungkapkan keluhan karena takut tidak dipahami. Masalah utama yang muncul adalah:
Masalah komunikasi budaya
Masalah ekonomi keluarga
Masalah administrasi rumah sakit
Masalah peralatan medis
Hambatan dalam komunikasi antara perawat dan pasien dapat disebabkan oleh:
Hambatan bahasa dan budaya
Kurangnya fasilitas
Tingkat pendidikan rendah
Faktor usia
Kondisi penyakit
Masyarakat mengadopsi gaya hidup barat yang berdampak pada meningkatnya penyakit degeneratif. Fenomena ini merupakan dampak globalisasi terhadap:
Nilai spiritual
Pola penyakit dan perilaku kesehatan
Sistem keluarga
Struktur sosial
Pelayanan tradisional
Seorang pasien menolak tindakan tertentu karena bertentangan dengan nilai adatnya. Perawat berupaya memahami makna budaya tersebut sebelum merencanakan asuhan. Tindakan perawat ini mencerminkan konsep utama:
Cultural shock
Culture care diversity
Ethnocentrism
Medical dominance
Biologism
Perawat menyadari bahwa praktik perawatan pasien berbeda antarbudaya dan tidak selalu sama dengan standar pribadinya. Kesadaran ini menunjukkan prinsip:
Culture care universality
Cultural imposition
Ethnosensitivity
Cultural humility
Cultural blindness
Dalam asuhan keperawatan, perawat mengidentifikasi nilai, kepercayaan, dan praktik budaya pasien. Langkah ini sesuai dengan tujuan utama teori Leininger yaitu:
Menyeragamkan asuhan
Memberikan asuhan yang bermakna secara budaya
Menghilangkan praktik tradisional
Mempercepat kesembuhan
Mengurangi biaya perawatan
Sunrise Model Leininger digunakan oleh perawat untuk:
Menentukan diagnosis medis
Mengkaji faktor budaya yang memengaruhi kesehatan
Menilai tingkat nyeri
Dalam Sunrise Model, faktor teknologi, agama, sosial, dan ekonomi dikaji karena:
Menentukan penyakit
Memengaruhi makna dan praktik perawatan
Menggantikan pemeriksaan fisik
Mengurangi peran keluarga
Menyeragamkan asuhan
Pasien merasa lebih nyaman dan kooperatif setelah perawat menghormati kebiasaan budayanya. Hasil ini menunjukkan manfaat utama asuhan keperawatan transkultural yaitu:
Penurunan biaya
Kepuasan dan penerimaan pasien
Peningkatan beban kerja
Standardisasi asuhan
Pengurangan peran keluarga
Pasien menolak praktik tertentu yang membahayakan kesehatan setelah edukasi budaya sensitif. Keputusan perawat untuk memodifikasi praktik tersebut menunjukkan:
Cultural care preservation
Cultural care accommodation
Cultural care repatterning
Cultural dominance
Cultural neglect
Pasien menolak penggunaan monitor jantung karena takut “ketergantungan mesin” dan tidak memahami fungsinya. Faktor budaya yang perlu dikaji perawat adalah:
Faktor ekonomi
Faktor pendidikan
Faktor teknologi
Faktor kebijakan
Faktor sosial
Perawat mengkaji pengalaman pasien sebelumnya terhadap penggunaan alat medis modern. Tujuan utama pengkajian ini adalah untuk mengetahui:
Tingkat nyeri
Persepsi dan penerimaan teknologi
Diagnosis medis
Dukungan keluarga
Status ekonomi
Pasien menolak transfusi darah karena keyakinan agama dan menyerahkan kesembuhan sepenuhnya pada Tuhan. Faktor utama yang memengaruhi keputusan pasien adalah:
Sosial
Budaya
Agama dan falsafah hidup
Pendidikan
Ekonomi
Perawat melibatkan tokoh keluarga dalam perencanaan asuhan karena keputusan bersifat kolektif. Pendekatan ini didasarkan pada pengkajian faktor:
Sosial dan kekeluargaan
Ekonomi
Pendidikan
Teknologi
Gaya hidup
Seorang perawat merawat pasien dari suku tertentu yang menolak makanan rumah sakit karena tidak sesuai dengan pantangan budaya. Perawat kemudian berkolaborasi dengan keluarga untuk menyediakan makanan yang sesuai tanpa mengganggu terapi medis. Tindakan perawat tersebut mencerminkan konsep:
Cultural imposition
Cultural care preservation
Cultural care accommodation
Cultural care repatterning
Ethnocentrism
Pasien lansia percaya bahwa penyakitnya disebabkan oleh kutukan leluhur. Perawat tidak menyangkal kepercayaan tersebut, tetapi tetap memberikan edukasi medis dengan bahasa yang dapat diterima pasien. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip:
Cultural sensitivity
Cultural conflict
Cultural care preservation
Cultural care repatterning
Cultural shock
Seorang ibu postpartum menolak mandi selama 40 hari karena kepercayaan budaya. Perawat menilai bahwa praktik ini berisiko terhadap kesehatan. Perawat kemudian mengedukasi dan menyepakati modifikasi praktik yang lebih aman. Tindakan perawat termasuk:
Cultural care accommodation
Cultural care preservation
Cultural care repatterning
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat mengkaji nilai budaya, kepercayaan, dan praktik kesehatan pasien sebagai bagian dari pengkajian holistik. Konsep utama teori Leininger yang diterapkan adalah:
Holistic care
Biomedical model
Culture care diversity and universality
Human caring
Transpersonal caring
Seorang pasien menolak transfusi darah karena keyakinan agama. Perawat menghormati keputusan pasien dan mendiskusikan alternatif terapi dengan tim kesehatan. Pendekatan perawat mencerminkan:
Cultural dominance
Cultural care preservation
Cultural conflict
Cultural shock
Cultural ignorance
Dalam model Sunrise, faktor yang paling berpengaruh terhadap praktik kesehatan masyarakat adalah:
Faktor teknologi
Faktor ekonomi
Faktor pendidikan
Faktor budaya dan sosial
Faktor lingkungan
Pasien dari budaya tertentu lebih nyaman dirawat oleh perawat dengan jenis kelamin yang sama. Perawat mengatur penugasan sesuai permintaan tersebut. Tindakan ini termasuk:
Cultural care accommodation
Cultural care repatterning
Cultural conflict
Cultural blindness
Cultural shock
Perawat memahami bahwa setiap budaya memiliki persamaan dan perbedaan dalam praktik perawatan kesehatan. Pernyataan ini sesuai dengan konsep:
Seorang perawat gagal memahami kebiasaan budaya pasien sehingga terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi. Situasi ini disebut:
Cultural dominance
Cultural conflict
Cultural awareness
Cultural care preservation
Cultural safety
Perawat menganggap budaya pasien kurang benar dibandingkan budaya sendiri. Sikap ini disebut:
Ethnocentrism
Cultural humility
Cultural competence
Cultural sensitivity
Cultural awareness
Perawat membantu pasien mempertahankan praktik budaya yang mendukung proses penyembuhan. Tindakan ini merupakan:
Cultural care repatterning
Cultural care preservation
Cultural care accommodation
Cultural imposition
Cultural conflict
Kompetensi budaya perawat paling tepat ditunjukkan dengan kemampuan:
Mengubah budaya pasien
Menghindari kontak budaya
Memberikan asuhan sesuai nilai budaya pasien
Mengutamakan standar pribadi
Menyeragamkan perawatan
Perawat mengintegrasikan nilai budaya pasien ke dalam rencana asuhan keperawatan. Tahap proses keperawatan yang dimaksud adalah:
A. Pengkajian
B. Diagnosa
C. Perencanaan
Dalam teori Leininger, tujuan utama asuhan keperawatan adalah:
Menyembuhkan penyakit
Memberikan perawatan standar
Memberikan asuhan yang bermakna secara budaya
Menghilangkan perbedaan budaya
Meningkatkan teknologi perawatan
Pasien menggunakan obat tradisional bersamaan dengan terapi medis. Perawat mengkaji potensi interaksi tanpa melarang langsung. Pendekatan ini mencerminkan:
Cultural imposition
Cultural care accommodation
Cultural shock
Cultural ignorance
Cultural dominance
Perawat menyadari keterbatasan pengetahuannya tentang budaya lain dan terus belajar. Sikap ini disebut:
Cultural awareness
Cultural humility
Cultural competence
Cultural sensitivity
Cultural knowledge
Dalam model Sunrise, faktor yang berkaitan dengan struktur kekuasaan dan kebijakan adalah:
Faktor teknologi
Faktor ekonomi
Faktor politik dan hukum
Faktor lingkungan
Faktor pendidikan
Perawat menyesuaikan metode komunikasi karena pasien tidak fasih berbahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan penerapan:
Cultural conflict
Cultural sensitivity
Cultural dominance
Cultural shock
Cultural ignorance
Perawat mengubah praktik perawatan yang berisiko dengan tetap menghormati nilai budaya pasien. Ini merupakan contoh:
Preservation
Accommodation
Repatterning
Imposition
Universality
Perbedaan cara pandang terhadap sakit dan sehat antarbudaya harus disikapi perawat dengan:
Penolakan
Pemaksaan
Penerimaan dan pemahaman
Penghindaran
Standarisasi
Tujuan penerapan keperawatan transkultural adalah:
Menyeragamkan perawatan
Menghilangkan budaya pasien
Meningkatkan kepuasan dan hasil kesehatan pasien
Mengurangi peran keluarga
Mempercepat tindakan medis
Perawat mempertimbangkan nilai spiritual pasien dalam pengambilan keputusan keperawatan. Aspek model Sunrise yang digunakan adalah:
Teknologi
Religi dan filosofi hidup
Politik
Pendidikan
Ekonomi
Asuhan keperawatan transkultural yang tidak sesuai budaya pasien berisiko menyebabkan:
Kepuasan pasien meningkat
Penurunan konflik
Penolakan asuhan
Peningkatan kepatuhan
Penyembuhan lebih cepat
Perawat menanyakan kebiasaan, nilai, dan kepercayaan pasien terkait kesehatan sebelum menyusun rencana asuhan. Tindakan ini merupakan langkah:
Pasien menyatakan lebih percaya pengobatan tradisional dibandingkan medis. Data tersebut termasuk dalam pengkajian aspek:
Biologis
Psikologis
Budaya
Lingkungan fisik
Administratif
Perawat menggunakan Sunrise Model Leininger untuk mengkaji pasien. Tujuan utama penggunaan model tersebut adalah untuk:
Menentukan diagnosis medis
Mengkaji faktor budaya yang memengaruhi perawatan
Mengukur tingkat nyeri
Menentukan lama rawat
Menilai status gizi
Perawat menanyakan siapa pengambil keputusan utama dalam keluarga pasien. Pengkajian ini berhubungan dengan faktor:
Teknologi
Pendidikan
Sosial dan kekeluargaan
Ekonomi
Kebijakan rumah sakit
Pasien menolak alat medis modern karena takut bertentangan dengan keyakinannya. Data ini paling tepat dikategorikan sebagai:
Masalah fisik
Masalah psikologis
Respons budaya terhadap teknologi
Gangguan kognitif
Masalah ekonomi
Pasien menolak tindakan keperawatan karena bertentangan dengan nilai budaya. Diagnosis keperawatan transkultural yang paling tepat adalah:
Ansietas
Ketidakpatuhan
Konflik nilai budaya dengan tindakan kesehatan
Pasien kesulitan menerima terapi karena perbedaan bahasa dan budaya. Diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
Gangguan komunikasi verbal terkait perbedaan budaya
Isolasi sosial
Ansietas
Ketidakberdayaan
Gangguan persepsi
Pasien hanya mau mengikuti perawatan setelah berkonsultasi dengan tokoh adat. Diagnosis keperawatan transkultural yang paling tepat:
Ketergantungan
Pengambilan keputusan kesehatan dipengaruhi nilai budaya
Risiko konflik
Gangguan peran
Koping tidak efektif
Pasien menolak diet rumah sakit karena tidak sesuai pantangan budaya. Diagnosis keperawatan yang paling sesuai adalah:
Ketidakseimbangan nutrisi
Ketidakpatuhan diet
Konflik budaya terkait pola makan
Risiko defisit cairan
Gangguan konsep diri
Perawat mengizinkan pasien menjalankan ritual budaya yang tidak membahayakan kesehatan. Intervensi ini termasuk:
Cultural care repatterning
Cultural care preservation
Cultural care imposition
Cultural conflict
Cultural neglect
Perawat menyesuaikan waktu tindakan agar sesuai dengan jadwal ibadah pasien. Jenis intervensi transkultural ini adalah:
Cultural care repatterning
Cultural care accommodation
Cultural care preservation
Cultural dominance
Cultural avoidance
Perawat mengedukasi pasien untuk mengganti praktik tradisional yang berisiko dengan alternatif yang lebih aman. Tindakan ini merupakan:
Cultural care preservation
Cultural care accommodation
Cultural care repatterning
Cultural neglect
Cultural blindness
Pasien menolak tindakan invasif karena takut efek spiritual. Intervensi awal perawat yang paling tepat adalah:
Memaksa demi keselamatan
Menghentikan perawatan
Memberikan edukasi dengan pendekatan sensitif budaya
Mengabaikan penolakan
Menyerahkan sepenuhnya pada keluarga
Perawat melibatkan keluarga dan tokoh masyarakat dalam edukasi kesehatan pasien. Tujuan utama intervensi ini adalah untuk:
Mengurangi tanggung jawab perawat
Meningkatkan penerimaan dan kepatuhan pasien
Mempercepat administrasi
Menghindari konflik tim
Menyeragamkan perawatan
Tujuan utama asuhan keperawatan transkultural adalah:
Menyeragamkan perawatan
Menghilangkan praktik budaya
Memberikan asuhan keperawatan yang bermakna dan dapat diterima secara budaya
Mempercepat kesembuhan secara medis
Mengurangi beban kerja perawat
Seorang pasien menolak penggunaan ventilator karena takut "melawan kehendak Tuhan". Perawat menganalisis bahwa keputusan pasien sangat dipengaruhi oleh keyakinan religius. Dalam Sunrise Model Leininger, faktor utama yang dominan adalah:
Faktor teknologi
Faktor sosial dan kekeluargaan
Faktor agama dan falsafah hidup
Faktor ekonomi
Faktor pendidikan
Pasien hanya mau menjalani tindakan medis setelah mendapat persetujuan keluarga besar dan tokoh adat. Analisis perawat berdasarkan Sunrise Model menunjukkan dominasi faktor:
Pendidikan
Sosial dan keterkaitan kekeluargaan
Nilai gaya hidup
Kebijakan rumah sakit
Teknologi
Pasien menolak infus karena menganggap alat tersebut “mengganggu keseimbangan tubuh alami”. Faktor Sunrise Model yang paling relevan dianalisis perawat adalah:
Faktor ekonomi
Faktor pendidikan
Faktor teknologi
Faktor kebijakan
Faktor lingkungan fisik
Perawat menemukan bahwa pasien tidak patuh kontrol karena keterbatasan biaya dan tidak memiliki jaminan kesehatan. Dalam Sunrise Model, kondisi ini berkaitan dengan faktor:
Sosial
Teknologi
Pendidikan
Ekonomi
Agama
Pasien menolak diet rumah sakit karena bertentangan dengan pantangan budaya sehari-hari. Analisis perawat menunjukkan pengaruh faktor Sunrise Model berupa:
Pendidikan
Kebijakan rumah sakit
Nilai budaya dan gaya hidup
Ekonomi
Teknologi
Keluarga pasien memprotes aturan jam kunjung karena dalam budaya mereka keluarga harus selalu mendampingi orang sakit. Faktor Sunrise Model yang mengalami konflik adalah:
A. Nilai budaya dengan teknologi
B. Faktor ekonomi dengan pendidikan
C. Faktor sosial-budaya dengan kebijakan rumah sakit
D. Faktor agama dengan teknologi
E. Faktor pendidikan dengan gaya hidup
Perawat menganalisis bahwa pasien sulit memahami edukasi kesehatan karena tingkat pendidikan rendah dan bahasa medis yang kompleks. Faktor Sunrise Model yang perlu dimodifikasi dalam intervensi adalah:
Teknologi
Pendidikan
Ekonomi
Agama
Kebijakan
Pasien lebih percaya ramuan tradisional dibanding obat dokter karena kebiasaan turun-temurun. Berdasarkan Sunrise Model, perawat harus mengevaluasi dominasi faktor:
Sosial dan keluarga
Pendidikan
Nilai budaya dan gaya hidup
Ekonomi
Teknologi
Perawat mengintegrasikan nilai budaya pasien dengan terapi medis agar pasien tetap menjalankan ritual yang tidak membahayakan. Keputusan ini menunjukkan pemanfaatan Sunrise Model pada tahap:
A. Pengkajian
B. Diagnosis
C. Analisis faktor budaya
D. Perencanaan intervensi transkultural
E. Dokumentasi
KELAS
