WorksheetsSOAL UAS MANAJEMEN KEPERAWATAN
Total questions: 105
Worksheet time: 1hrs 19mins
Sebuah rumah sakit akan mengimplementasikan sistem rekam medis elektronik (EMR) menggantikan sistem manual yang telah digunakan selama 15 tahun. Banyak perawat senior menunjukkan kekhawatiran dan penolakan terhadap perubahan ini. Sebagai kepala bidang keperawatan, langkah pertama yang paling tepat sesuai Model Dasar Perubahan adalah:
Langsung melatih semua perawat menggunakan sistem EMR baru
Melakukan tahap "unfreeze" dengan mengidentifikasi dan memecah hambatan terhadap perubahan
Memberikan sanksi kepada perawat yang menolak perubahan
Melakukan tahap "refreeze" dengan menetapkan kebijakan penggunaan EMR
Menunda implementasi hingga semua perawat setuju
Seorang direktur keperawatan merencanakan perubahan besar dalam sistem keperawatan primer. Untuk memastikan keberhasilan, peran eksekutif yang paling penting adalah:
Hanya mengawasi dari jauh tanpa terlibat langsung
Mendelegasikan semua tanggung jawab kepada staf
Menjadi pemimpin perubahan, memfasilitasi sumber daya dan mengatasi kendala
Menunggu hasil tanpa intervensi
Fokus hanya pada aspek finansial
Sebuah rumah sakit merencanakan untuk mengubah metode pemberian obat dari sistem manual ke sistem barcode. Sebelum implementasi, dilakukan analisis dampak perubahan. Tujuan utama analisis dampak perubahan adalah:
Mencari alasan untuk membatalkan perubahan
Memahami bagaimana perubahan akan memengaruhi pemangku kepentingan, alur kerja, sistem, dan peran
Hanya untuk memenuhi persyaratan administratif
Menunda implementasi selama mungkin
Mengurangi biaya implementasi tanpa mempertimbangkan dampaknya
Di sebuah klinik rawat jalan, staf keperawatan menolak penggunaan aplikasi mobile untuk dokumentasi karena merasa tidak memiliki keterampilan teknologi yang memadai. Strategi paling tepat untuk mengatasi hambatan ini adalah:
Memaksa penggunaan aplikasi tanpa pelatihan
Mengganti semua staf dengan yang lebih muda
Menyediakan program pelatihan keterampilan teknis dan perilaku yang diperlukan
Membatalkan perubahan secara permanen
Memberikan sanksi bagi yang tidak bisa menggunakan
Rumah sakit Anda mengadopsi teknologi telemedicine sebagai respons terhadap pandemi dan meningkatnya permintaan layanan jarak jauh. Ini merupakan contoh perubahan yang dipicu oleh sumber:
Internal - restrukturisasi organisasi
Eksternal - kemajuan teknologi disruptif dan perubahan pasar
Internal - perubahan kebijakan internal
Internal - pergantian manajemen
Eksternal - regulasi pemerintah
Untuk memastikan bahwa perubahan implementasi protokol pencegahan jatuh bertahan dalam jangka panjang, tindakan keberlanjutan yang paling efektif adalah:
Hanya melakukan pelatihan satu kali di awal
Mengintegrasikan protokol ke dalam sistem penghargaan, kebijakan, dan praktik sehari-hari dengan pelatihan berkelanjutan
Menghentikan monitoring setelah bulan pertama
Hanya mengandalkan poster dan pengumuman
Tidak melakukan evaluasi berkala
Dalam proses implementasi model asuhan keperawatan berbasis tim, komunikasi dua arah antara manajemen dan staf sangat penting. Manfaat utama komunikasi dua arah dalam konteks ini adalah:
Hanya untuk memenuhi formalitas
Membangun kepercayaan dan keterlibatan, serta membuat staf merasa dihargai
Memaksa staf untuk menerima perubahan
Menunda proses implementasi
Menghindari tanggung jawab manajemen
Seorang kepala ruangan mengimplementasikan perubahan jadwal dinas dengan melibatkan staf dalam proses pengambilan keputusan dan mendengarkan feedback mereka. Strategi ini efektif untuk:
Meningkatkan resistensi terhadap perubahan
Mengurangi resistensi dengan membuat pemangku kepentingan merasa dihargai dan terinformasi
Memperlambat proses perubahan secara tidak perlu
Mengalihkan tanggung jawab kepada staf
Menciptakan konflik dalam tim
Untuk mempersiapkan perawat menghadapi implementasi sistem pencatatan asuhan keperawatan elektronik, fokus program pelatihan yang paling tepat adalah:
Hanya aspek teknis tanpa aspek perilaku
Hanya teori tanpa praktik
Kompetensi teknis dan perilaku yang diperlukan di status baru
Hanya untuk perawat junior, senior tidak perlu
Pelatihan umum tanpa kaitan dengan sistem baru
Setelah 3 bulan implementasi protokol hand hygiene baru, rumah sakit perlu melakukan evaluasi. Pendekatan evaluasi yang paling komprehensif adalah:
Hanya menghitung jumlah hand sanitizer yang digunakan
Pemantauan berkelanjutan terhadap tingkat adopsi dan dampak terhadap angka infeksi nosokomial
Hanya bertanya kepada kepala ruangan
Tidak perlu evaluasi jika tidak ada komplain
Evaluasi hanya di bulan pertama saja
Sebuah puskesmas akan mengubah sistem pendaftaran pasien dari manual ke online. Banyak petugas lansia yang merasa cemas karena tidak familiar dengan teknologi. Akar resistensi dalam kasus ini adalah:
Ketidaksetujuan terhadap kebijakan manajemen
Ketakutan dan persepsi ancaman terhadap kemampuan melakukan pekerjaan
Keinginan untuk pindah kerja
Masalah gaji dan tunjangan
Konflik antar petugas
Untuk memastikan perubahan protokol pemberian obat high alert dapat dipertahankan, organisasi harus:
Hanya mengandalkan pengawasan ketat sementara
Menciptakan rencana komunikasi satu arah
Mencegah kembalinya kebiasaan lama melalui integrasi dalam sistem penghargaan dan kebijakan
Menghentikan semua pelatihan setelah implementasi
Fokus hanya pada sanksi bagi pelanggar
Dalam mengimplementasikan sistem keselamatan pasien baru, strategi untuk mengurangi resistensi yang paling efektif melibatkan:
Komunikasi satu arah dari manajemen ke staf
Komunikasi proaktif dan partisipasi inklusif
Mengabaikan kekhawatiran staf
Implementasi tiba-tiba tanpa pemberitahuan
Fokus pada aspek hukuman
Setelah rumah sakit berhasil mengimplementasikan metode asuhan keperawatan baru, langkah untuk memastikan metode ini menjadi "cara kita bekerja" adalah:
Menghentikan semua program pelatihan
Kembali menerapkan metode lama secara bertahap
Mengintegrasikan metode baru ke dalam budaya organisasi dan praktik sehari-hari
Hanya memantau di unit percontohan
Membiarkan setiap unit memilih metode sendiri
Untuk mengevaluasi apakah perubahan sistem triase di IGD berhasil, metode yang paling komprehensif adalah:
Hanya menghitung biaya implementasi
Mengevaluasi seberapa cepat perubahan diadopsi dan seberapa baik staf memenuhi standar baru
Hanya melihat jumlah komplain yang berkurang
Tidak perlu evaluasi formal
Hanya bertanya kepada kepala IGD
Seorang perawat ICU mengamati bahwa angka Hospital-Acquired Pneumonia (HAP) pada pasien dengan ETT di unitnya cukup tinggi. Ia ingin menerapkan EBP untuk mengatasi masalah ini. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah:
Langsung mengganti semua protokol perawatan mulut
Mengumpulkan data internal tentang praktik perawatan mulut saat ini dan membandingkannya dengan data eksternal
Menyalahkan perawat shift lain
Menunggu instruksi dari dokter
Mengabaikan masalah karena dianggap normal di ICU
Sebuah tim keperawatan di ruang bedah telah mengidentifikasi masalah tingginya infeksi luka operasi. Setelah mengumpulkan data internal dan eksternal, mereka menemukan gap yang signifikan. Langkah EBP selanjutnya yang tepat adalah:
Langsung mengubah semua prosedur tanpa kajian literatur
Menunda penanganan masalah
Mengidentifikasi jenis dan sumber evidence dengan mengkaji konsep riset dan merencanakan kajian literatur
Menyalahkan dokter bedah
Menunggu rumah sakit lain menyelesaikan masalah serupa
Perawat telah menemukan 5 artikel penelitian tentang penggunaan chlorhexidine untuk oral care pada pasien ventilator. Sebelum menerapkannya, langkah kritis yang harus dilakukan adalah:
Langsung implementasi tanpa evaluasi kualitas artikel
Memilih artikel yang paling baru tanpa pertimbangan lain
Mengabaikan artikel yang hasilnya berbeda
Menganalisis evidence secara kritis: menilai dan memberi bobot evidence, sintesis evidence terbaik, dan mengkaji kemungkinan pelaksanaan
Hanya membaca abstrak tanpa membaca keseluruhan artikel
Setelah menganalisis bukti penelitian tentang protokol pencegahan jatuh, kepala ruangan perlu menyusun rencana implementasi. Aktivitas yang termasuk dalam mendesain perubahan praktik adalah:
Langsung implementasi tanpa perencanaan
Hanya memberitahu staf tentang perubahan
Menunggu persetujuan dari semua pihak tanpa batas waktu
Mengabaikan kebutuhan sumber daya
Mendefinisikan perubahan, mengidentifikasi sumber yang diperlukan, mendesain penilaian uji coba, dan mendesain rencana pelaksanaan
Rumah sakit akan mengimplementasikan protokol hand hygiene berbasis bukti. Setelah desain selesai, langkah yang harus dilakukan adalah:
Menunda implementasi tanpa alasan
Langsung menerapkan di seluruh rumah sakit tanpa uji coba
Hanya menerapkan di satu ruangan tanpa evaluasi
Melakukan uji coba, mengkaji seluruh proses, hasil akhir (outcome) dan biaya, kemudian membuat kesimpulan dan rekomendasi
Menunggu rumah sakit lain berhasil terlebih dahulu
Setelah uji coba protokol pencegahan dekubitus berbasis bukti berhasil menunjukkan penurunan angka dekubitus, langkah terakhir yang harus dilakukan adalah:
Menghentikan semua aktivitas terkait program
Kembali ke metode lama
Mengintegrasikan dan mempertahankan perubahan dengan mengkomunikasikan pada stakeholder, mengintegrasikan dalam standar praktik, dan memantau proses serta outcome
Hanya melaporkan ke manajemen tanpa tindak lanjut
Menunggu masalah baru muncul
Seorang perawat ingin menyusun pertanyaan klinik menggunakan format PICO tentang efektivitas terapi musik untuk menurunkan kecemasan pasien pre-operasi. Komponen PICO yang tepat adalah:
P: semua pasien rumah sakit, I: terapi musik, C: tidak ada, O: kepuasan pasien
P: pasien pre-operasi, I: terapi musik, C: perawatan standar tanpa musik, O: tingkat kecemasan
P: perawat, I: pelatihan, C: tidak ada pelatihan, O: kinerja
P: dokter, I: konsultasi, C: tidak ada konsultasi, O: diagnosis
P: keluarga pasien, I: edukasi, C: tidak ada edukasi, O: pengetahuan
Dalam hierarki bukti (pyramid of evidence), seorang perawat menemukan berbagai jenis publikasi tentang perawatan luka. Urutan dari kualitas bukti TERTINGGI ke TERENDAH adalah:
Opini pakar - Laporan kasus - RCT - Systematic review
Systematic review - RCT - Studi kohort - Studi kontrol kasus - Laporan kasus - Opini pakar
RCT - Systematic review - Opini pakar - Studi kohort
Laporan kasus - Studi kohort - RCT - Systematic review
Opini pakar - Systematic review - RCT - Laporan kasus
Seorang manajer keperawatan ingin menerapkan hasil penelitian tentang penggunaan sarung tangan bersih versus steril untuk perawatan luka post-operasi. Model utilisasi riset yang berfokus pada penerapan di tingkat praktisi individual dengan penekanan pada pemikiran kritis adalah:
Model Iowa
Model Stetler
Model Rogers
Model PRECEDE-PROCEED
Model Difusi Inovasi
Sebuah rumah sakit ingin menerapkan riset ke dalam praktik organisasi secara menyeluruh untuk meningkatkan kualitas asuhan. Model utilisasi riset yang paling sesuai adalah:
Model Stetler (fokus individual)
Model Iowa (fokus organisasi)
Model teori Peplau
Model Henderson
Model Orem
Perawat di ruang rawat inap menghadapi tantangan dari keluarga pasien yang sering mempertanyakan alasan intervensi keperawatan berdasarkan informasi yang mereka dapatkan dari internet. Respons profesional yang tepat sesuai prinsip EBP adalah:
Menyatakan bahwa informasi internet tidak valid tanpa penjelasan
Mengabaikan pertanyaan keluarga
Menjadi marah karena otoritas perawat dipertanyakan
Menjelaskan bahwa praktik yang dilakukan berbasis pada bukti ilmiah terbaik, kepekaan klinik, dan mempertimbangkan nilai serta preferensi pasien
Menyerahkan semua pertanyaan kepada dokter
Karakteristik pelayanan profesional yang mencerminkan penerapan EBP adalah:
Mengikuti rutinitas tanpa evaluasi
Hanya berdasarkan instruksi dokter
Mempertahankan layanan berkualitas melalui tindakan inovatif, kreatif berbasis bukti
Menghindari perubahan praktik
Mengutamakan kecepatan tanpa mempertimbangkan kualitas
Bukti terbaik (best evidence) dalam konteks praktik keperawatan profesional digunakan untuk:
Mempersulit proses kerja perawat
Mengurangi otonomi perawat sepenuhnya
Sebagai upaya tenaga profesional mengintegrasikan pengetahuan tentang asuhan terbaik ke dalam praktik untuk meningkatkan kualitas dengan mengutamakan keselamatan pasien
Menggantikan semua praktik lama tanpa pertimbangan
Hanya untuk kepentingan penelitian akademis
Tahap V dalam menumbuhkan budaya ilmiah setelah penerapan hasil riset adalah:
Menghentikan semua kegiatan
Menyimpan hasil tanpa dibagikan
Sosialisasikan/diseminasikan pada pihak-pihak lain
Kembali ke praktik lama
Mengabaikan hasil evaluasi
Seorang pasien datang ke IGD dengan keluhan demam, batuk, dan sesak napas. Pasien memiliki riwayat kontak dengan pasien konfirmasi COVID-19 5 hari yang lalu. Langkah pertama yang harus dilakukan petugas di pintu masuk IGD adalah:
Langsung memasukkan pasien ke ruang tunggu umum
Melakukan skrining dan triase di area khusus terpisah untuk mengidentifikasi suspek COVID-19
Menolak pasien dan menyuruh pulang
Langsung merujuk ke rumah sakit lain tanpa pemeriksaan
Meminta pasien menunggu di luar tanpa pemeriksaan
Berdasarkan hasil triase, pasien dengan saturasi oksigen 88% , frekuensi napas 32x/menit , dan distress pernapasan berat dikategorikan dalam label triase:
Hijau (tidak darurat)
Kuning (gawat tidak darurat)
Merah (gawat darurat)
Hitam (meninggal)
Biru (observasi)
Seorang pasien datang dengan gejala ringan flu tanpa sesak, saturasi oksigen 98% , dan dapat berjalan sendiri. Pasien ini memiliki hasil rapid test positif. Dalam sistem triase, pasien dikategorikan:
Merah (prioritas pertama)
Kuning (prioritas kedua)
Hijau (prioritas ketiga)
Hitam (tidak ada harapan)
Putih (tidak perlu penanganan)
Rumah sakit perlu membagi area pelayanan berdasarkan tingkat risiko penularan COVID-19. Zona yang diperuntukkan untuk area perawatan pasien konfirmasi atau suspek COVID-19 adalah:
Zona Hijau
Zona Kuning
Zona Merah
Zona Putih
Zona Biru
Area poliklinik umum, administrasi, dan ruang tunggu pasien non-COVID dikategorikan dalam zona:
Zona Merah (risiko tinggi)
Zona Kuning (risiko sedang)
Zona Hijau (risiko rendah/area bebas)
Zona Oranye (risiko sangat tinggi)
Zona Hitam (area kontaminasi)
Pasien konfirmasi COVID-19 tanpa gejala (asimtomatik) dengan kondisi umum baik, penatalaksanaan yang tepat adalah:
Rawat inap di ICU
Isolasi mandiri di rumah atau RS Darurat minimal 10 hari sejak diagnosis
Tidak perlu isolasi karena tidak ada gejala
Langsung boleh beraktivitas normal dengan masker
Harus rawat inap di rumah sakit rujukan
Rumah sakit dengan keterbatasan SDM dan ruangan untuk pemisahan zona COVID-19 dapat melakukan:
Menolak semua pasien COVID-19
Mencampur pasien COVID-19 dan non-COVID di satu ruangan
Pengaturan jadwal pelayanan, pembagian jam shift, dan dekontaminasi/sterilisasi setelah pelayanan pasien COVID-19
Menutup pelayanan rumah sakit
Tidak perlu protokol khusus
Seorang perawat akan memberikan obat kepada pasien Ny. Siti di ruang rawat inap. Sebelum memberikan obat, perawat harus melakukan identifikasi pasien. Metode identifikasi yang BENAR sesuai Sasaran Keselamatan Pasien adalah:
Menanyakan nomor kamar pasien
Menggunakan dua identitas pasien seperti nama lengkap dan tanggal lahir, tidak boleh menggunakan nomor kamar
Hanya melihat papan nama di tempat tidur
Menanyakan kepada pasien di sebelahnya
Menggunakan nomor urut tempat tidur
Di ruang ICU, dokter memberikan instruksi melalui telepon kepada perawat untuk memberikan dopamin 5mcg/kg/menit . Prosedur komunikasi efektif yang harus dilakukan perawat adalah:
Langsung melaksanakan instruksi tanpa konfirmasi
Menuliskan perintah secara lengkap, membacakan kembali (read back), dan meminta konfirmasi dari dokter
Hanya mendengarkan tanpa mencatat
Meminta teman sejawat untuk mengkonfirmasi
Menunggu dokter datang langsung
Rumah sakit menyimpan elektrolit konsentrat seperti KCl 7,46% di unit perawatan umum tanpa pengamanan khusus. Tindakan yang sesuai dengan Sasaran Keselamatan Pasien adalah:
Membiarkan elektrolit konsentrat di semua unit tanpa pembatasan
Memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi
Menyimpan di lemari biasa tanpa label
Memberikan akses bebas kepada semua petugas
Tidak perlu pengaturan khusus
Sebelum operasi appendektomi, tim bedah harus melakukan prosedur "Time Out". Yang dimaksud dengan Time Out adalah:
Istirahat sejenak sebelum operasi
Prosedur yang dilakukan tepat sebelum insisi untuk memverifikasi tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien, dan kelengkapan dokumen oleh seluruh tim operasi
Waktu tunggu pasien di ruang operasi
Waktu makan tim bedah
Diskusi kasus setelah operasi
Seorang manajer keperawatan menghadapi konflik antara dua perawat senior yang sama-sama kompeten terkait perbedaan metode dalam memberikan edukasi pasien diabetes. Manajer memutuskan untuk mengadakan diskusi terbuka, mendengarkan kedua pihak, dan bersama-sama mencari solusi yang menggabungkan kelebihan dari kedua metode untuk kepentingan pasien. Proses yang dilakukan manajer pada tahap:
Aftermath
Identifikasi
Pengkajian
Implementasi
Evaluasi
Di IGD yang sangat sibuk, dua perawat memperebutkan penggunaan satu syringe pump terakhir untuk pasien masing-masing. Kepala IGD harus segera memutuskan berdasarkan prioritas medis. Pasien A dalam kondisi kritis membutuhkan obat inotropik segera, sementara pasien B kondisinya lebih stabil. Kepala IGD memutuskan memberikan syringe pump untuk pasien A. Strategi penyelesaian konflik yang digunakan adalah:
Kolaborasi
Kompromi
Kompetisi
Akomodasi
Menghindari
Dua kelompok perawat di ruang anak memiliki perbedaan pendapat tentang jadwal shift. Kelompok A ingin sistem 3 shift, kelompok B ingin sistem 2 shift panjang. Keduanya memiliki argumen yang kuat. Akhirnya kepala ruangan memfasilitasi diskusi dan disepakati sistem 2 shift namun dengan kompensasi libur tambahan sesuai usulan kelompok A. Kedua pihak merasa tidak sepenuhnya puas tetapi menerima keputusan. Strategi yang digunakan adalah:
Kolaborasi
Kompromi
Kompetisi
Akomodasi
Menghindari
Terjadi ketegangan antara perawat X dan Y terkait pembagian tugas kecil yang sebenarnya tidak signifikan. Manajer menilai bahwa ketidaksepakatan ini tidak membahayakan pelayanan pasien, biaya penyelesaian (waktu dan energi untuk mediasi formal) lebih besar daripada manfaatnya, dan masalah kemungkinan bisa terselesaikan sendiri seiring waktu. Strategi yang dipilih manajer adalah:
Menghindari
Kolaborasi
Kompromi
Kompetisi
Akomodasi
Seorang perawat baru menyadari bahwa ia telah salah menegur rekan kerjanya di depan pasien terkait kesalahan yang ternyata bukan kesalahan rekan tersebut. Perawat baru ini ingin memperbaiki hubungan dan belajar dari kesalahan. Ia memutuskan untuk meminta maaf secara terbuka dan mengakui kesalahannya. Strategi yang digunakan adalah:
Kompetisi
Kompromi
Menghindari
Akomodasi
Smoothing
Dalam konflik antara perawat junior dan senior terkait metode perawatan luka, kepala ruangan memutuskan untuk mengalah pada pendapat senior untuk menjaga harmoni tim, meskipun sebenarnya metode junior juga valid. Isu ini tidak terlalu kritis dan kepala ruangan menilai menjaga stabilitas tim lebih penting saat ini. Strategi yang digunakan adalah:
Kompetisi
Kompromi
Akomodasi
Kolaborasi
Menghindari
Dua perawat bertengkar dengan emosi tinggi di ruang perawat. Kepala ruangan segera melakukan intervensi dengan cara berbicara dengan tenang, menyejukkan suasana, dan meminta keduanya untuk cooling down terlebih dahulu sebelum membahas persoalan. Strategi yang digunakan kepala ruangan adalah:
Smoothing
Kompromi
Menghindari
Kompetisi
Akomodasi
Tim keperawatan dan tim farmasi mengalami konflik terkait sistem permintaan dan distribusi obat yang dianggap tidak efisien oleh kedua pihak. Manajer pelayanan mengadakan pertemuan gabungan dimana kedua tim duduk bersama, berbagi perspektif, mengidentifikasi akar masalah bersama-sama, dan merancang sistem baru yang mengintegrasikan kebutuhan kedua pihak. Hasilnya adalah sistem yang lebih baik dan memuaskan semua pihak. Strategi yang digunakan adalah:
Kompetisi
Kompromi
Menghindari
Akomodasi
Kolaborasi
Seorang manajer keperawatan yang efektif dalam menyelesaikan konflik menunjukkan karakteristik: selalu memandang konflik sebagai hal yang wajar dalam organisasi, percaya bahwa semua pihak dapat berkontribusi dalam solusi, bersikap terbuka dalam komunikasi, dan berusaha membuat semua pihak puas tanpa mengorbankan satu pihak. Pendekatan yang digunakan manajer adalah:
Kompetisi
Akomodasi
Kompromi
Kolaborasi
Menghindari
Seorang perawat yang pendiam dan jarang bersuara dalam rapat tim ternyata menjadi korban bullying oleh sekelompok perawat lain. Ia menjadi tempat menampung kehinaan dan perlakuan tidak menyenangkan. Dalam analisa konflik, peran yang dialami perawat ini adalah:
Penyerang
Korban
Penghasut
Mediator
Observator
Seorang perawat tertentu sering memicu pertengkaran antara dua kelompok di ruangannya namun ia sendiri tidak terlibat langsung. Ia suka mengadu-domba dan mengamati konflik yang terjadi. Peran yang dimainkan perawat ini dalam konflik adalah:
Penyerang
Korban
Penghasut
Mediator
Fasilitator
Setelah dilakukan ronde keperawatan pada pasien dengan masalah luka dekubitus, pasien merasa puas dengan hasil pelayanan, masalah dapat teratasi, dan perawat dapat menumbuhkan cara berpikir yang kritis dan sistematis. Aspek evaluasi yang dinilai adalah:
Evaluasi struktur
Evaluasi proses
Evaluasi hasil
Evaluasi input
Evaluasi administratif
Setelah penyajian masalah di nurse station, tim ronde keperawatan mendatangi bed pasien bersama-sama. Di bed pasien, perawat primer, konselor, dan kepala ruangan melakukan pemeriksaan ulang dan menanyakan keluhan pasien secara langsung. Tahap yang dilakukan adalah:
Tahap pra
Tahap penyajian masalah
Tahap validasi data di bed pasien
Tahap kesimpulan
Tahap dokumentasi
Saat pelaksanaan ronde keperawatan di nurse station, perawat primer menjelaskan kasus Ny. Ana dengan pertanyaan: "Apa diagnosis keperawatan? Apa data yang mendukung? Bagaimana intervensi yang sudah dilakukan? Apa hambatan yang ditemui?" Tahap yang sedang dilakukan adalah:
Tahap pra
Tahap pelaksanaan - penyajian masalah di nurse station
Tahap validasi data di bed pasien
Tahap pasca ronde
Tahap evaluasi
Di ruang penyakit dalam, terdapat pasien Tn. Budi dengan diabetes mellitus yang mengalami luka kaki diabetik yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan berbagai tindakan keperawatan. Tim keperawatan memutuskan untuk melakukan kegiatan dimana perawat primer, perawat konselor, dan kepala ruangan mengunjungi pasien bersama-sama untuk mendiskusikan masalah dan mencari solusi. Kegiatan yang dilakukan adalah:
Pre-conference
Post-conference
Timbang terima
Ronde keperawatan
Supervisi individual
Di tengah shift jaga sore (pukul 17.00 ), kepala ruangan mengadakan pertemuan singkat untuk mengevaluasi progress pekerjaan yang sudah dilakukan dan membahas kendala yang dihadapi di paruh waktu shift. Jenis konferensi ini adalah:
Pre-conference
Post-conference
Middle conference
Ronde keperawatan
Konferensi khusus
Penggunaan kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer. Termasuk jenis MKPK apakah RS X tersebut?
Model Praktik Keperawatan Professional III
Model Praktik Keperawatan Professional II
Model Praktik Keperawatan Professional I
Model Praktik Keperawatan Professional Pemula
Model Praktik Keperawatan Profesional
Setiap jabatan keperawatan memiliki uraian tugas dan kewenangan yang berbeda, walaupun ada tugas yang beririsan. Matrik penugasan Responsible, Accountable, Consulted, Informed (RACI), Analisa Beban Kerja (ABK) dibuat agar tidak ada pekerjaan yang tumpang tindih, atau ada pekerjaan yang tidak dikerjakan. Termasuk tugas jabatan apakah menyusun rancangan dan pelaksanaan pengembangan pelayanan keperawatan?
Kepala Bidang Keperawatan
Kepala Seksi Keperawatan
Pengawas Keperawatan
Kepala Ruangan
Perawat Primer
Hasil survei kepuasan pelanggan di RSUM Tingginya tingkat keluhan pasien seperti waktu tunggu poliklinik 4 jam, Turn Around Time di IGD > 8 jam, Perawat kurang ramah. Kepala Unit kerja di RSUM mengadakan Rapat Koordinasi untuk membahas konsep-konsep penting dalam analisis strategi manajerial. Bentuk analisis manakah yang paling cocok untuk kasus tersebut?
SWOT Analysis
TOWS Analysis
Matriks SPACE
SWOT
Problem-Based Analysis (PBA)
Banyak kepala ruang di RS Paripurna berasal dari jalur klinis dan tidak memiliki latar belakang manajemen. RS bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk menyelenggarakan pelatihan manajerial keperawatan. Termasuk jenis strategi:
WO Strategy
SO Strategy
WT Strategy
ST Strategy
OW Strategy
Manajer Keperawatan RS H mengidentifikasi Strengths - Weakness Opportunity- Threat (SWOT) perusahaannya. Diperoleh score Strengths 2, Weakness 3, Opportunity 3, Threat 2,35. Berapakah Scor akhir SWOT dan berada pada kuadran apakah RSH tersebut?
-1, +0,65 (Stability)
1, +0,65 (Growth)
+1, -0,65 (Survive)
+1, -0,65 (Diversifikasi)
-1, +0,65 (Defensif)
Sebagai bagian dari evaluasi pengelolaan tenaga keperawatan di sebuah rumah sakit, seorang manajer keperawatan perlu mempertimbangkan kebijakan rumah sakit yang berkaitan dengan penghargaan terhadap staf perawat dan kompetensi. Manajer ini juga harus memikirkan bagaimana kebijakan tersebut dapat membantu mendukung retensi staf dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan. Kebijakan rumah sakit yang baik dalam pengelolaan ketenagaan perawat adalah.....
Tidak perlu memprioritaskan pengelolaan ketenagaan secara komprehensif.
Mengabaikan penghargaan terhadap perawat jika jumlah perawat sudah cukup.
Mencakup penghargaan terhadap staf perawat dan mendokumentasikan kompetensi mereka, serta mempertimbangkan kebutuhan pasien.
Fokus hanya pada pengelolaan staf administratif dan bukan perawat klinis.
Tidak perlu memperhatikan kualitas asuhan keperawatan dalam kebijakan ketenagaan.
Kepala bidang keperawatan menugaskan semua kepala ruangan untuk memilih satu orang perawat untuk diikutsertakan dalam pelatihan keperawatan yang akan dilakukan. Masing-masing kepala ruang memilih perawat yang memiliki kinerja baik diantaranya. Apakah tindakan yang sedang dilakukan oleh kepala bidang keperawatan dalam kasus tersebut?
Membagi tenaga keperawatan sesuai ketergantungan pasien
Memberikan reward kepada kepala ruang
Meningkatkan kualitas ketenagaan keperawatan
Menilai kinerja perawat pelaksana
Memilih perawat terbaik
Seorang kepala ruang ditugaskan untuk menghitung kebutuhan tenaga perawat di ruang rawat. Kepala ruang menghitung jumlah pasien yang masih memerlukan bantuan perawat secara menyeluruh, pasien yang masih memerlukan bantuan perawat sebagian, dan pasien yang mandiri dalam melakukan aktifitasnya. Apakah tindakan yang sedang dilakukan oleh kepala ruang dalam kasus tersebut? Tandai satu oval saja.
Membagi perawat untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien
Menghitung jumlah hari libur perawat per tahun
Membantu pasien melakukan aktifitasnya
Menghitung tingkat ketergantungan pasien
Menghitung beban kerja perawat
Manajer Keperawatan perlu terus berupaya meningkatkan kualitas ketenagaan sesuai standar akreditasi. Menetapkan pengaturan ketenagaan di ruang rawat sesuai dengan kebutuhan pasien berdasarkan klasifikasi ketergantungan pasien serta kebijakan rumah sakit. Termasuk kepada apakah kegiatan tersebut?
Pengelolaan manajemen sumberdaya manusia (SDM) perawat
Pelaksanaan penilaian kinerja staf perawat
Pelaksanaan standar akreditasi rumah sakit
Pendidikan formal Perawat Primer, melakukan pengkajian awal: Ners
Pembentukan komite keperawatan
Kepala Bidang RSF menetapkan metode dengan pengaturan pelayanan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh sekelompok perawat kepada sekelompok pasien dibawah pimpinan seorang perawat profesional yang memiliki pengetahuan yang baik berdasarkan pendidikan dan pengalaman kerja sesuai aturan yang berlaku. Menggunakan model asuhan apakah di RSF tersebut?
Model Asuhan Keperawatan Primer/Utama
Metode Fungsional
Model Asuhan Keperawatan Alokasi Pasien/Total
Model Asuhan Keperawatan TIM/Kelompok
Model Asuhan Keperawatan Modular
Ners A sedang membuat surat kepada Bidang Keperawatan ada beberapa staf perawatnya yang akan asesmen kompetensi untuk kenaikan level perawat klinis. Motivasi untuk meningkatkan level Sebelumnya perawat yang akan naik level tersebut sudah diberikan bimbingan teknis mentoring. Sedang berperan apakah Kepala ruangan tersebut?
Interpersonal
Informasional
Decisional
Role model
Kredensialing
Kepala ruangan Teratai mempunyai 27 staf keperawatan dengan 30 Bed BOR 80%. Untuk meningkatkan kemampuan staf menjalankan fungsi POSAC, kepala ruangan melakukan Acutiting kepada staffnya. Apakah yang termasuk fungsi Acutiting Kepala Ruangan?
Menyusun jadwal dinas perawat
Menghitung kebutuhan perawat di ruang pelayanan
Melakukan penilaian kinerja kepada staff setiap bulan
Motivasi untuk meningkatkan level kompetensi
Memberikan tugas pendelegasian pada saat cuti
Ners H pada tahun 2024 terpilih sebagai kepala ruangan teladan di Tingkat rumah sakit HS. Pengawas keperawatan selalu memberikan nilai tinggi pada capaian kinerja bulanannya. Apakah bentuk indikator kepemimpinan keperawatan yang Efektif dari kepala ruangan tersebut?
Memiliki keterampilan kepemimpinan yang baik dalam mengarahkan dan memotivasi staf keperawatan
Terdapat sistem pemantauan yang memastikan kualitas pelayanan keperawatan dipertahankan dan ditingkatkan secara berkesinambungan
Staf keperawatan mendapatkan pelatihan berkelanjutan dan kesempatan untuk pengembangan profesional
Adanya sistem yang jelas untuk melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja perawat
Staf keperawatan mengikuti protokol dan standar yang ditetapkan oleh rumah sakit dan organisasi keperawatan
Tingkat kepuasan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan. Kepuasan pelanggan tergantung kesesuaian antara prestasi produk dengan harapan pembeli. Kepuasan pasien adalah pelayanan yang di berikan dapat diketahui setelah pasien pulang kerumah atau meninggalkan tempat pelayanan Kesehatan. Termasuk indikator apakah hal tersebut?
Indikator Kondisi Pasien
Indikator Mutu Pelayanan
Indikator klinik mutu pelayanan keperawatan
Indikator Mutu Asuhan Keperawatan
Indikator Pengendalian Mutu Pelayanan Keperawatan
Rumah sakit menerapkan proses untuk meningkatkan efektifitas komunikasi lisan dan/ telepon di antara para Profesional Pemberi Asuhan (PPA), proses pelaporan hasil kritis pada pemeriksaan diagnostik dan proses komunikasi saat serah terima. Apakah yang paling tepat dilakukan saat hand over?
Hand over dilakukan hanya antar PPA di rawat inap dan mencatat serah terima telah dilakukan dan kepada siapa tanggung jawab pelayanan diserahterimakan, ada tanda tangan, tanggal dan waktu pencatatan
PPA mencatat serah terima telah dilakukan dan kepada siapa tanggung jawab pelayanan diserahterimakan tanpa mencantumkan nama, ada tanda tangan, tanggal dan waktu pencatatan
PPA mencatat serah terima telah dilakukan dan kepada siapa tanggung jawab pelayanan diserahterimakan, ada tanda tangan, tanggal dan waktu pencatatan
Hand over dilakukan dari IGD ke rawat inap dan mencatat serah terima telah dilakukan dan kepada siapa tanggung jawab pelayanan diserahterimakan, ada tanda tangan dan tanggal
Hand over dilakukan pada saat pergantian dinas perawat dari dinas Pagi, Sore, Malam
Ners melakukan asuhan keperawatan di rumah sakit memiliki risiko klinik. Manajemen dan seluruh staf perlu menyusun risiko dan melakukan antisipasi agar tidak terjadi insiden keselamatan. Risiko klinis apakah yang dapat terjadi pada pelayanan di rumah sakit?
Risiko staf di layanan khusus, tertular pasien, kesehatan kerja
Risiko akibat ketidakseregaman tata kelola dokumen, integritas rekam medis, penggunaan teknologi, risiko IT
Risiko terkait patient flow, risiko ketidakberlanjutan layanan, risiko akibat pulang dengan keinginan sendiri
Populasi lantan yang perlu mendapatkan perlindungan, pentingnya informed consent untuk perlindungan dari tindakan berisiko
Risiko keamanan, keamanan gedung, pra konstruksi kebakaran, bencana, alat kesehatan, dan utilitas
Advokasi merupakan tanggung jawab profesional perawat untuk memberlakukan langkah-langkah pertahanan dan perlindungan bagi pasien. Ada faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan advokat dalam manajemen rumah sakit. Termasuk faktor apakah tingkat pendidikan keperawatan tinggi?
Manfaat advokat
Faktor tujuan advokat
Faktor cara advokat
Faktor peran advokat
Faktor Pendukung
Rina adalah seorang mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi di kampus. Ia memiliki jadwal kuliah yang padat, ditambah dengan tugas-tugas dari dosen dan kegiatan organisasi. Rina sering merasa kehabisan waktu untuk menyelesaikan tugasnya, bahkan kadang harus begadang untuk menyelesaikannya. Suatu hari, Rina menghadiri seminar tentang manajemen waktu dan mendapatkan beberapa tips untuk mengatur waktunya dengan lebih baik. Apa yang seharusnya dilakukan Rina agar dapat mengelola waktunya dengan lebih efektif?
Mengabaikan kegiatan organisasi dan fokus hanya pada kuliah.
Membuat daftar tugas harian dan mengatur prioritas berdasarkan deadline.
Menunda semua tugas hingga hari terakhir sebelum deadline.
Menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial untuk relaksasi.
Mencari bantuan dari teman untuk menyelesaikan semua tugas tanpa berusaha sendiri.
Perawat Siti merasa kewalahan dengan jumlah pasien yang harus dirawat setiap hari. Ia sering kali terlambat memberikan obat. Apa yang seharusnya dilakukan Siti untuk meningkatkan manajemen waktunya?
Mengabaikan pasien yang tidak kritis.
Membuat jadwal pemberian obat yang teratur.
Menunggu hingga pasien meminta obat.
Menghabiskan waktu lebih banyak di ruang istirahat.
Meninggalkan catatan medis untuk tugas lain.
Perawat Joko memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas. Ia sering merasa bingung harus mulai dari mana. Apa saran terbaik untuk Joko?
Menyelesaikan tugas yang paling mudah terlebih dahulu.
Mengabaikan tugas yang tidak penting.
Menggunakan teknik prioritas untuk menentukan tugas yang paling mendesak.
Menghabiskan waktu untuk berbincang dengan rekan kerja.
Menetapkan waktu untuk bersantai sebelum mulai bekerja.
Perawat Ana sering kali merasa stres karena tugasnya menumpuk menjelang akhir shift. Apa yang sebaiknya ia lakukan untuk mencegah hal ini?
Menyelesaikan semua tugas di akhir shift.
Membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil dan menyelesaikannya secara bertahap.
Mengeluh kepada rekan kerja.
Meninggalkan beberapa tugas untuk hari berikutnya.
Mengabaikan tugas yang tidak mendesak.
Perawat Budi bertugas di unit gawat darurat dan sering kali harus beralih dari satu pasien ke pasien lain dengan cepat. Apa yang bisa Budi lakukan untuk meningkatkan efisiensi kerjanya?
Mencatat semua informasi pasien di kertas terpisah.
Menggunakan teknologi untuk mencatat dan mengingat informasi pasien.
Mengabaikan penggunaan alat bantu.
Menghabiskan waktu untuk menjelaskan kepada setiap pasien mengenai prosedur.
Perawat Lisa memiliki banyak janji temu dengan pasien. Ia sering kali terlambat karena tidak memperhitungkan waktu perjalanan. Apa yang seharusnya dia lakukan?
Mengabaikan waktu perjalanan dan hanya fokus pada pasien.
Mencatat waktu perjalanan dan menyesuaikan jadwal janji temu.
Mengabaikan pasien untuk datang tepat waktu.
Membuat semua pasien menunggu.
Mengambil rute yang lebih lambat.
Perawat Rudi merasa sulit tidur karena memikirkan semua tugas yang harus diselesaikan. Apa yang seharusnya ia lakukan untuk mengelola stresnya?
Mengabaikan semua tugas hingga keesokan harinya.
Membuat daftar tugas sebelum tidur untuk merencanakan hari berikutnya.
Menghabiskan waktu di media sosial.
Mengeluh kepada rekan kerja.
Tidak memikirkan tugas sama sekali.
Perawat Maya sering merasa tidak ada cukup waktu untuk memberikan perhatian penuh kepada pasien. Apa yang bisa dia lakukan?
Menerima lebih sedikit pasien.
Menghabiskan lebih banyak waktu dengan tugas administratif.
Mengabaikan pasien yang membutuhkan perhatian lebih.
Menggunakan teknik komunikasi yang efisien.
Mengurangi waktu istirahat.
Perawat Andi sering kali kesulitan dalam kolaborasi dengan tim medis. Apa yang bisa Andi lakukan untuk meningkatkan manajemen waktu dalam timnya?
Mengabaikan pendapat anggota tim lain.
Mengadakan satu anggota tim untuk semua tugas.
Bekerja sendiri tanpa melibatkan tim.
Menunda komunikasi hingga ada masalah.
Menghadiri rapat tim secara rutin untuk berbagi informasi.
Perawat Rina memiliki jadwal yang sangat padat, dan ia sering kali melewatkan sesi pelatihan. Apa yang sebaiknya dilakukan Rina?
Mengabaikan pelatihan dan fokus pada tugas harian.
Mengadakan rekan kerja untuk memberi tahu apa yang dia lewatkan.
Mengatur ulang jadwal untuk menyertakan waktu pelatihan.
Menghabiskan waktu lebih banyak di media sosial.
Mengabaikan pelatihan yang tidak bersifat wajib.
Perawat Taufik merasa kesulitan dalam mengatur waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Apa yang sebaiknya dilakukan Taufik?
Mengabaikan kehidupan pribadi demi pekerjaan.
Mengatur batasan waktu untuk pekerjaan dan waktu pribadi.
Menerima semua tugas tambahan yang ditawarkan.
Menghabiskan waktu lebih banyak di tempat kerja.
Mengeluh kepada rekan kerja tentang kesibukannya.
Perawat Fira sering menghabiskan waktu untuk menyusun laporan medis. Apa yang bisa dia lakukan untuk menghemat waktu di sini?
Menggunakan template laporan untuk mempercepat proses.
Menyusun laporan pada akhir hari tanpa mencatat sepanjang hari.
Mengabaikan laporan jika tidak ada waktu.
Menghabiskan waktu untuk detail yang tidak penting.
Mengandalkan ingatan untuk laporan.
Perawat Dika merasa lelah karena sering bekerja lembur. Apa yang sebaiknya dia lakukan untuk mengatur waktu kerjanya?
Mengambil shift lembur secara rutin.
Mengabaikan kesehatan pribadi.
Mengabaikan waktu istirahat.
Menghabiskan waktu di ruang istirahat lebih lama.
Mempelajari cara mengatakan tidak pada tugas tambahan jika sudah cukup.
Perawat Lila sering merasa kesulitan dalam mengingat semua obat yang harus diberikan kepada pasien. Apa yang bisa dia lakukan?
Mengandalkan ingatan sepenuhnya.
Menggunakan aplikasi atau catatan untuk mencatat jadwal obat.
Mengabaikan pasien yang tidak kritis.
Menunda pemberian obat hingga pasien meminta.
Menghabiskan waktu lebih banyak berbincang dengan pasien.
Perawat Siti mengalami konflik dengan dokter mengenai metode perawatan pasien. Apa langkah pertama yang seharusnya diambil Siti untuk menyelesaikan konflik ini?
Mengabaikan masalah dan melanjutkan tugas.
Menghadapi dokter secara langsung dengan sikap defensif.
Mencari waktu yang tepat untuk berdiskusi secara terbuka.
Mengeluh kepada rekan kerja.
Mengancam untuk melaporkan dokter.
Perawat Roni memiliki banyak pasien dengan kebutuhan yang berbeda. Apa yang sebaiknya dia lakukan untuk mengelola waktu dengan baik?
Mengabaikan pasien dengan kebutuhan rendah.
Membagi waktu dengan adil antara semua pasien.
Menghabiskan semua waktu dengan pasien yang paling kritis.
Mengandalkan rekan kerja untuk menangani pasien lain.
Menunda interaksi dengan pasien.
Perawat Joko dan perawat Rina sering berselisih tentang cara menangani pasien. Apa yang seharusnya mereka lakukan untuk mengatasi konflik ini?
Mengabaikan satu sama lain.
Mengadakan pertemuan untuk membahas perbedaan pandangan.
Mengadalkan manajer untuk menyelesaikan masalah.
Berusaha menunjukkan siapa yang lebih baik.
Mengeluh kepada pasien tentang rekan kerja.
Perawat Ana merasa bahwa dia tidak dihargai oleh timnya. Dia merasa terasing dan frustasi. Apa langkah yang seharusnya diambil Ana?
Menghadapi semua anggota tim dengan kemarahan.
Membicarakan perasaannya dengan tim secara terbuka.
Mengabaikan perasaan dan melanjutkan pekerjaan.
Menyalahkan rekan kerja atas ketidakpuasan.
Mengundurkan diri dari tim.
Perawat Budi dan dokter sering bertengkar mengenai rencana perawatan pasien. Apa pendekatan yang terbaik untuk menyelesaikan konflik ini?
Mengabaikan pendapat satu sama lain.
Menggunakan pendekatan kolaboratif untuk mencapai kesepakatan.
Menghentikan komunikasi dan bekerja secara terpisah.
Menyalahkan satu sama lain.
Meminta bantuan pihak ketiga yang netral.
Perawat Lila menemukan bahwa pasien merasa bingung dengan instruksi yang diberikan oleh tim medis. Apa yang seharusnya dilakukan Lila untuk mengatasi konflik ini?
Mengabaikan kekhawatiran pasien.
Mengklarifikasi instruksi dan memastikan pasien paham.
Mengeluh kepada rekan kerja tentang pasien.
Meminta pasien untuk mencari informasi sendiri.
Menyalahkan tim medis lainnya.
Dalam sebuah rapat, perawat Taufik merasa bahwa ide-idenya diabaikan oleh manajer. Apa yang seharusnya dilakukan Taufik?
Menghentikan partisipasi dalam rapat.
Menyampaikan pendapat dengan tenang dan meminta umpan balik.
Mengeluh kepada rekan kerja setelah rapat.
Menyalahkan manajer.
Meninggalkan tim.
Perawat Rudi bekerja dengan seorang rekan yang memiliki gaya kerja berbeda. Apa yang seharusnya dia lakukan untuk menghindari konflik?
Mengabaikan perbedaan dan terus bekerja.
Mengadukan rekan kerja kepada manajer.
Menyalahkan rekan kerja atas kesalahan.
Menghindari komunikasi.
Membicarakan perbedaan gaya kerja secara terbuka.
Perawat Fira dan perawat Dika terlibat dalam konflik terkait pembagian tugas. Apa yang sebaiknya mereka lakukan?
Mengabaikan permasalahan dan melanjutkan pekerjaan.
Mengadakan diskusi untuk merundingkan pembagian tugas yang adil.
Mengeluh kepada pasien.
Menyalahkan satu sama lain.
Mengadalkan manajer untuk memutuskan.
Perawat Nia merasa tidak nyaman karena rekannya sering berbicara tentangnya di belakang. Apa yang seharusnya dia lakukan?
Menghadapi rekan tersebut secara langsung dan membahas perasaannya.
Mengabaikan masalah dan tidak berkomunikasi.
Mengeluh kepada rekan kerja lain.
Menyalahkan orang lain atas tindakan rekan tersebut.
Mengundurkan diri dari tim.
Rumah Sakit Harapan Sehat mencatat tingkat hunian tempat tidur (BOR) yang tinggi, namun waktu pelayanan keperawatan lambat dan keluhan pasien meningkat. Manajer Keperawatan merencanakan efisiensi pelayanan dengan mengadopsi sistem modular nursing dan pelatihan ulang tim perawat. Strategi TOWS apakah yang paling sesuai? Pilih satu jawaban saja.
SO Strategy
WO Strategy
ST Strategy
WT Strategy
OW Strategy
RS Mitra Citra mengalami kesulitan merekrut perawat baru karena keterbatasan anggaran, sementara beban kerja meningkat. Direktur Keperawatan merencanakan mengoptimalkan penggunaan teknologi telemonitoring dan sistem asuhan kolaboratif. Jenis strategi dalam TOWS yang digunakan adalah: Pilih satu jawaban saja.
WT Strategy
WO Strategy
SO Strategy
ST Strategy
OW Strategy
RS Sentosa melaporkan turnover perawat mencapai 25% per tahun. Penyebab utamanya adalah kurangnya jenjang karier dan program pengembangan profesional. Manajemen merespons dengan merancang career ladder dan beasiswa S2 keperawatan. Pendekatan strategi yang digunakan termasuk:
WT Strategy
WO Strategy
SO Strategy
ST Strategy
OW Strategy
Manajemen RSU Sumber Kasih menyadari rendahnya citra profesi perawat di mata masyarakat. Mereka merancang program branding profesi perawat melalui media sosial dan seminar publik. Jenis strategi dalam TOWS yang diterapkan adalah:
SO Strategy
WT Strategy
ST Strategy
WO Strategy
OW Strategy
RSUD Bintang Timur mengalami pemangkasan anggaran operasional, terutama pada unit keperawatan. Untuk menjaga mutu pelayanan, kepala ruangan menerapkan sistem task shifting dan penjadwalan fleksibel. Strategi ini termasuk dalam:
WT Strategy
WO Strategy
SO Strategy
ST Strategy
OW Strategy
Pemerintah memberikan subsidi alat bedside monitoring canggih untuk rumah sakit. RS Cahaya Sehat memanfaatkannya untuk meningkatkan kecepatan respon perawat dalam perawatan pasien akut. Strategi yang paling sesuai adalah:
SO Strategy
WT Strategy
WO Strategy
ST Strategy
OW Strategy
Dalam situasi darurat, perawat Tia dan perawat Rina memiliki pandangan berbeda tentang tindakan yang harus diambil. Apa yang seharusnya mereka lakukan?
Mengabaikan pendapat satu sama lain dan bertindak sesuai pemikiran masing-masing.
Mengambil keputusan secara cepat tanpa diskusi.
Mengumpulkan informasi dan merundingkan keputusan bersama.
Menyalahkan satu sama lain setelah situasi selesai.
Mengadalkan instruksi dari pihak ketiga.
46. Setelah validasi data di bed pasien, tim ronde kembali ke nurse station untuk melakukan:
A. Istirahat dan mengakhiri ronde
B. Diskusi lanjutan dan kesimpulan
C. Mendokumentasikan tanpa diskusi
D. Langsung ke pasien berikutnya
E. Melakukan timbang terima
