NEW
Font size
WorksheetsHematologi 1.1
Total questions: 66
Worksheet time: 33mins
Tn. Betis usia 46 tahun dibawa ke RS dengan keluhan lemas sejak 2 minggu. Keluhan batuk-batuk sejak 1 bulan, sering keringat dingin pada malam hari sejak 3 minggu, berat badan menurun 4 kilogram dalam sebulan terakhir. Riwayat hipertensi sejak 5 tahun, tidak terkontrol. Pemeriksaan: TD 170/100 mmHg, nadi 90 x/menit, pernapasan 24 x/menit, suhu 36 °C. Laboratorium: Hb 7 g/dL, leukosit 7000/µL, trombosit 200.000/µL, MCV 78 fL, MCHC 27 g/dL. Apa kemungkinan diagnosis pada pasien ini?
Anemia hemolitik
Anemia defisiensi besi
Anemia sideroblastik
Anemia megaloblastik
Anemia penyakit kronis
Tn. Rodi, usia 49 tahun, mengeluh badan lemas dan lesu. Keluhan sejak 6 bulan, berkemih sedikit sekitar setengah gelas per hari. Dibawa ke dokter dan dianjurkan cuci darah. Pemeriksaan: TD 160/100 mmHg, nadi 102 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,3 °C; konjungtiva anemis; hepatosplenomegali (-). Laboratorium: Hb 8,3 g/dL, leukosit 6000/µL, trombosit 260.000/µL. Hasil pemeriksaan penunjang yang paling sesuai adalah
Bilirubin indirek meningkat, retikulosit meningkat
Bilirubin indirek meningkat, serum iron normal, ferritin normal
Retikulosit normal, gambaran sumsum tulang hipoplastik
Serum iron menurun, TIBC menurun, ferritin meningkat
TIBC meningkat, saturasi transferin menurun
Ny. Edela, usia 50 tahun, kontrol penyakit rheumatoid arthritis yang telah diderita lama. Keluhan badan lemas dan sering pusing. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis. Laboratorium: Hb 9,2 g/dL, leukosit 8000/µL, trombosit 270.000/µL; apusan darah tepi anemia normokromik normositik; serum iron turun, TIBC turun, ferritin normal. Terapi paling tepat untuk pasien tersebut adalah
Transfusi PRC
Pemberian zat besi
Pemberian asam folat
Pemberian kortikosteroid
Pemberian vitamin B12
Perempuan 20 tahun, G1P0A0, datang karena sering merasa lemah. Pasien rutin mengonsumsi teh setiap hari. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan fisik tampak pucat, konjungtiva pucat. Laboratorium: Hb 10 g/dL. Apakah diagnosis paling memungkinkan pada kasus ini?
Anemia megaloblastik
Anemia aplastik
Anemia defisiensi zat besi
Anemia hemolitik
Anemia defisiensi asam folat
Ny. Arya, 30 tahun, mengeluh pandangan sering berkunang-kunang disertai mudah lelah dan lesu sejak 6 bulan. Bekerja di ladang dan jarang menggunakan alas kaki. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, RR 24 x/menit, suhu 37 °C; konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik. Laboratorium: Hb 9 g/dL, leukosit 9700/µL, trombosit 255.000/µL; darah tepi menunjukkan eritrosit mikrositik hipokrom. Apakah kemungkinan diagnosis pasien ini?
Anemia karena perdarahan akut
Anemia defisiensi besi
Anemia thalassemia mayor
Anemia akibat penyakit kronis
Anemia defisiensi asam folat
An. Quin, usia 17 tahun, mengeluh lemas, mudah lelah, dan cepat mengantuk saat upacara di sekolah. Pasien jarang makan daging dan lebih sering makan sayuran untuk menjaga berat badan. Laboratorium: Hb 9,5 g/dL, MCV 55 fL, MCHC 30 g/dL. Apakah diagnosis pasien ini?
Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi folat
Anemia hemolitik
Anemia aplastik
Anemia penyakit kronis
Tn. Ovie, 30 tahun, datang dengan keluhan mudah lelah, sulit konsentrasi, dan cepat mengantuk. Petani yang sering minum teh dan kopi hingga 5 gelas per hari. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, nadi 82 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 37 °C; konjungtiva anemis (+/-), lidah bengkak, kuku koilonychia. Laboratorium: Hb 9 g/dL. Pemeriksaan penunjang yang tepat pada pasien ini adalah
Hematokrit
Tes Schilling
Serum iron, TIBC, dan ferritin
Tes Coombs
Elektroforesis hemoglobin
Ny. Patricia, 24 tahun, mudah lelah sejak 3 bulan. Menstruasi tidak teratur dan sangat banyak sejak 1 tahun terakhir, tidak mengonsumsi suplemen. Pemeriksaan: konjungtiva anemis, atrofi papil lidah (+), koilonychia (+), ikterus (-), splenomegali (-). Laboratorium: Hb 9,2 g/dL, MCV 70 fL, MCHC 25 g/dL. Hasil pemeriksaan penunjang yang paling mungkin didapatkan adalah
Bilirubin indirek meningkat, serum iron normal, ferritin normal
Bilirubin indirek meningkat, retikulosit meningkat, tes Coombs positif
Serum iron menurun, TIBC menurun, ferritin normal atau meningkat
TIBC meningkat, serum iron menurun, ferritin menurun
Retikulosit normal, sumsum tulang hipoplastik
Ny. Chelsea, 28 tahun, lemas 2 bulan. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, nadi 92 x/menit, RR 20 x/menit, T 36,6 °C. Laboratorium: Hb 9 g/dL, leukosit 6400/µL, trombosit 250.000/µL, MCV 60 fL, MCHC 28 g/dL; apusan darah tepi mikrositik hipokrom. Bagaimanakah farmakokinetik obat yang diberikan pada pasien ini?
Absorpsi ferritin di ileum proksimal
Absorpsi transferrin di ileum proksimal
Absorpsi ferrous sulfat di ileum proksimal
Absorpsi ion feri di duodenum
Absorpsi ion ferus di duodenum
An. Moon, 2 tahun, tampak pucat. Lahir kurang bulan. Pemeriksaan: berat 8 kg; tidak ada pembesaran organ; konjungtiva anemis; kuku sendok. Laboratorium: Hb 8 g/dL, leukosit 8.400/µL, trombosit 268.000/µL, MCV 68 fL, MCHC 29 g/dL. Bagaimanakah tatalaksana yang tepat pada pasien ini?
Pemberian besi elemental 3–6 mg/kgBB/hari
Transfusi PRC 240 mL
Transfusi PRC 240 mL disertai asam folat oral 0,5–1 mg/hari
Transfusi PRC 120 mL disertai besi elemental
Transfusi PRC serta deferoksamin dan vitamin C
Ny. Selty, 20 tahun, keluhan lelah. Pasien selalu membeli kopi setiap pagi sebelum berangkat dan sering tidak sarapan. Pemeriksaan: TD 100/80 mmHg, HR 80 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 37 °C; konjungtiva anemis, lidah tampak seperti sendok, kuku koilonychia. Edukasi yang tepat untuk diberikan kepada pasien adalah
Ganti kopi dengan teh, makan banyak daging merah
Hindari minum kopi, perbanyak makan nasi
Kurangi konsumsi kopi, perbanyak makan daging merah
Pantang makan daging merah
Campur kopi dengan susu dan makan banyak daging merah
Ny. Alesia, 25 tahun, lemas 2 minggu dan nafsu makan menurun. Pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, RR 18 x/menit, nadi 89 x/menit, suhu 36,8 °C; konjungtiva anemis. Laboratorium: Hb 10,5 g/dL dan serum Fe 45 mcg/dL (normal 60–170 mcg/dL). Bagaimanakah edukasi gizi bagi pasien ini?
Pemberian Fe dengan asam fitat
Pemberian Fe dengan tanin
Pemberian Fe dengan asam askorbat
Pemberian Fe dengan asam oksalat
Pemberian Fe dengan kalsium
An. Bill, 10 tahun, lemas dan pucat; sulit makan; tidak menyukai sayur maupun daging. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, nadi 90 x/menit, RR 26 x/menit, suhu 36,7 °C; konjungtiva anemis, atrofi papil lidah (+). Laboratorium: Hb 5,6 g/dL, leukosit 4.100/µL, trombosit 389.000/µL; MCV 68 fL, MCH 19 pg, MCHC 22 g/dL. Penatalaksanaan yang tepat adalah
Preparat besi oral + vitamin C
Iron dextran IV
Preparat besi oral + asam folat
Transfusi PRC
Pemberian whole blood
Ny. Rita, 27 tahun, G1P0A0 usia gestasi 24 minggu, diagnosa anemia. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, HR 89 x/menit, RR 21 x/menit, suhu 36,7 °C; konjungtiva anemis. Ferritin 12 ng/mL; darah tepi hipokrom mikrositik. Rencana tatalaksana yang disarankan adalah
Sulfas ferosus 3 × 325 mg
Fero fumarat 2 × 325 mg
Fero glukonat 3 × 325 mg
Besi poliskarida 4 × 150 mg
Rencana transfusi darah
Ny. Grayson, 25 tahun, mudah mengantuk 1 bulan. Tanda vital normal. Laboratorium: Hb 8,5 g/dL, leukosit 9000/µL, trombosit 230.000/µL; TIBC meningkat; serum iron menurun. Cara pemberian terapi yang paling tepat adalah
Transfusi PRC hingga Hb normal lalu lanjut besi oral
Mengobati penyakit dasar saja
Pemberian asam folat 1 mg/hari hingga menopause
Besi oral hingga target Hb tercapai, dilanjutkan 3–6 bulan
Diet tinggi kalori dan glukosa 3 bulan
Ny. Yuri, 25 tahun, lemas 2 bulan. Pemeriksaan: TD 100/60 mmHg, nadi 80 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,5 °C; konjungtiva anemis, sklera ikterik (-), lidah mengkilat (+), hepar dan limpa tidak teraba. Laboratorium: Hb 7,8 g/dL, MCV 62 fL, MCHC 25 g/dL, serum besi menurun, TIBC meningkat. Tindak lanjut pengobatan yang tepat adalah
Pemeriksaan Hb setelah 3 bulan pengobatan
Pemeriksaan hematokrit setelah 2 minggu pengobatan
Pemeriksaan retikulosit setelah 2 minggu pengobatan
Pemeriksaan ferritin dan serum iron setelah 3 minggu pengobatan
Pemeriksaan darah lengkap setelah 3 minggu pengobatan
An. Glesia, 14 tahun, pucat, letih, dan lelah sejak 1 hari. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, ikterus (-), hepatosplenomegali (+), apusan darah tepi Hb 9 g/dL dengan basophilic stippling dan sel target. Apakah diagnosis pada pasien ini?
Anemia defisiensi besi
Anemia megaloblastik
Anemia aplastik
DIC
Thalassemia
An. Ristu, 7 tahun, pucat sejak 3 bulan, lemas, sulit belajar dan konsentrasi; memiliki riwayat transfusi darah. Pemeriksaan: konjungtiva anemis, ikterus, hepatosplenomegali; Hb 5,5 g/dL. Analisis Hb: HbA2 10%, HbF 68%. Diagnosis yang tepat adalah
Thalassemia beta mayor
Anemia megaloblastik
Anemia defisiensi besi
Thalassemia alfa mayor
Anemia penyakit kronis
An. Kinley, 10 tahun, lemah, kurus, pubertas terlambat; hepatosplenomegali; laboratorium Hb 7 g/dL. Elektroforesis Hb menunjukkan HbF 60%. Diagnosis yang tepat adalah
Thalassemia beta
Anemia megaloblastik
Anemia defisiensi besi
Thalassemia alfa
Anemia penyakit kronis
An. Cathrine, 5 tahun, pucat sejak 1 bulan, lemas, sulit belajar dan konsentrasi; sering transfusi. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, hepatosplenomegali. Pemeriksaan penunjang yang ditemukan pada pasien ini adalah
Punched out lesion
Hair on end
Codman triangle
Helmet cell
Cigar cell
An. Melinda, 12 tahun, konsentrasi menurun sejak 2 minggu. Pemeriksaan: konjungtiva anemis; laboratorium Hb 8,0 g/dL; MCV rendah; tidak ada pembesaran organ. Pemeriksaan penunjang: HbA2 10% dan HbF 8%. Indeks Mentzer 10. Apakah diagnosis yang paling tepat?
Thalassemia alfa mayor
Thalassemia minor
Thalassemia beta mayor
Thalassemia intermedia
Sickle cell disease
An. Alziah, 13 tahun, lemas dan pucat, tampak ikterus; riwayat transfusi; hepatosplenomegali. Laboratorium: Hb 6,6 g/dL, leukosit 4600/µL, trombosit 297.000/µL. Pemeriksaan penunjang yang mungkin ditemukan pada pasien adalah
Punched out lesion
Hair on end
Codman triangle
Helmet cell
Cigar cell
An. Kiyah, 8 tahun, pucat dan lemas sejak 1 minggu; keluhan serupa berulang, terakhir 3 bulan lalu. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, nadi 84 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 36,5 °C; konjungtiva anemis; ikterus; hepatomegali dan splenomegali. Laboratorium: Hb 6,5 g/dL, Hct 25%, leukosit 4.500/µL, trombosit 345.000/µL, MCV 69 fL, MCH 19 pg, MCHC 21 g/dL. Terapi yang tepat adalah
Preparat Fe
Eritropoietin
Transfusi PRC
Transfusi FFP
Transfusi whole blood
Pasien telah menjalani transfusi rutin PRC selama 3 tahun. Pemeriksaan MDT menunjukkan gambaran sel berbentuk sferosit target. Efek samping transfusi yang tepat adalah
Amiloidosis
Sarkoidosis
Anemia
Deplesi besi
Hemosiderosis
An. Cliff, 16 tahun, datang ke RS dengan keluhan pucat sejak satu bulan. Riwayat transfusi darah. Pemeriksaan: Hb 7,2 g/dL, MCV 70 fL, MCH 28 pg, ditemukan poikilositosis, sel target, eliptosit, basophilic stippling, retikulosit meningkat, teraba hepatosplenomegali. Terapi tambahan yang paling tepat adalah
Imunosupresif
Radioterapi
Kemoterapi
Transplantasi sumsum tulang
Kelasi besi
Tn. Ringgo, 29 tahun, mengeluh BAK merah gelap sejak 3 hari. Penderita epilepsi, sedang minum fenitoin. Pemeriksaan: Hb 8,6 g/dL, bilirubin indirek meningkat, LDH meningkat, retikulosit 12%, uji Coombs negatif. Kemungkinan penyebab yang paling tepat adalah
Anemia penyakit kronis
Anemia megaloblastik
Idiopathic autoimmune hemolytic anemia
Defisiensi G6PD
Defisiensi enzim lainnya yang jarang
Ny. Jissa, 29 tahun, datang ke RS dengan BAK berwarna merah 3 hari, seluruh tubuh kuning, perut distensi. Pemeriksaan: Hb 8,3 g/dL, bilirubin indirek meningkat, LDH meningkat, retikulosit 8%, uji Coombs positif. Kemungkinan penyebab keluhan adalah
Anemia pernisiosa
Autoimmune hemolytic anemia
Anemia penyakit kronik
Anemia aplastik
Defisiensi G6PD
Tn. Angga, 32 tahun, ke UGD dengan keluhan kencing berwarna merah kehitaman 1 minggu, demam, diberikan obat kotrimoksazol sebelumnya. Pemeriksaan: konjungtiva anemis, sklera ikterik, hepatosplenomegali, bilirubin tidak terkonjugasi meningkat, retikulosit 10%, sferosit pada apusan darah tepi. Kemungkinan penyebab keluhan adalah
Anemia pernisiosa
Anemia megaloblastik
Anemia defisiensi besi
Autoimmune hemolytic anemia
Defisiensi G6PD
Tn. Nizar, 60 tahun, datang ke IGD karena lemas dan pucat, kencing merah sejak 2 hari, sklera ikterik. Riwayat minum antibiotik nitrofurantoin. Pemeriksaan: Hb 7,6 g/dL, MCH 30 pg, saturasi iron menurun, TIBC menurun. Terapi lanjutan yang tepat adalah
Pemberian eritropoietin
Transfusi PRC bila indikasi disertai penghentian obat
Suplementasi besi oral saja
Pemberian vitamin B9 saja
Asam askorbat dosis tinggi
An. Bala, 10 tahun, dibawa ke puskesmas dengan keluhan lemas 1 minggu, penurunan prestasi belajar. Pemeriksaan: TD normal, HR 80 kali/menit, purpura di ekstremitas bawah, Hb 8,2 g/dL, WBC 3.000/ mm3, PLT 60.000/ mm3, retikulosit 0,2%. Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien
Hemofilia
Henoch–Schönlein purpura
ITP
Anemia penyakit kronis
Anemia aplastik
Pasien wanita 27 tahun sering muncul bintik-bintik merah di kulit sejak 1 bulan, badan lemas, memar mudah. TD 120/80 mmHg, HR 88 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37,7°C. Aspirasi sumsum tulang: sel-sel hiposelular dan berlemak. Terapi definitif yang paling sesuai adalah
Infus dengan cairan NaCl 0,9%
Transfusi PRC
Transplantasi sumsum tulang
Terapi imunosupresif
Transfusi trombosit
Ny. Jessi, 45 tahun, ke IGD dengan keluhan lemas dan pusing. Riwayat diet buruk dan gastritis kronik. Pemeriksaan laboratorium: Hb 9 g/dL, MCV 102 fL, MCH 37 pg. Apakah diagnosis yang paling mungkin
Anemia kekurangan zat besi
Leukemia akut
Leukemia kronis
Anemia pernisiosa
Anemia karena defisiensi asam folat
Tn. Cinta, 31 tahun, ke UGD dengan lemas, mudah lelah, demam, pucat 2 minggu. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, HR 72 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37°C, hepatosplenomegali. Hb 7,6 g/dL, MCV 80 fL, leukosit 500/ mm3, trombosit 120.000/ mm3. Pada apusan darah tepi tampak sel blast. Diagnosis paling sesuai adalah
Anemia sideroblastik
Anemia hemolitik
Anemia defisiensi besi
Anemia megaloblastik
Leukemia akut
Ny. Balqis, 55 tahun, datang ke IGD dengan lemas dan pusing 2 minggu. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, HR 112 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37,1°C, Hb 8,2 g/dL, MCV 112 fL, MCH 40 pg. Apakah diagnosis yang paling mungkin
Anemia kekurangan zat besi
Leukemia mieloid akut
Leukemia limfositik kronis
Anemia defisiensi vitamin B12
Anemia defisiensi vitamin B9
Seorang pria 18 tahun dibawa ke UGD dengan demam sejak kemarin, nyeri kepala, mudah memar. Riwayat hipertensi, disangkal. Tanda vital: TD 140/90 mmHg, HR 100 kali/menit, RR 19 kali/menit, suhu 38,7°C. Pemeriksaan umum: konjungtiva anemis, sklera ikterik (+), petekie generalisata, hepatosplenomegali. Laboratorium: Hb 9 g/dL, MCV 112 fL, MCH 26 pg, Neutrofil hipersegmentasi. Obat yang mungkin dikonsumsi oleh pasien
Carbamazepin
Asam valproat
Fenitoin
Diazepam
Alprazolam
Apabila dilakukan pemeriksaan apus darah tepi pada pasien dengan keluhan konjungtiva anemis, Hb 8,1 g/dL, HCT 25%, leukosit 7000/µL, trombosit 300.000/µL, hasil yang sesuai adalah
Cigar cell
Heinz bodies
Ring sideroblast
Target cell
Neutrofil hypersegmented
Tn. Michael, 37 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan lemas sejak 1 minggu. Riwayat sering mengonsumsi alkohol. Pemeriksaan fisik: TD 120/70 mmHg, nadi 88x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,7°C, glositis (+). Indeks eritrosit: MCV 120 fL, MCH 89 pg, MCHC 34 g/dL. Pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk mengetahui penyebab pasien ini adalah
Darah lengkap
Profil besi
Uji Coombs
Uji Schilling
Asam folat serum
Tn. Dedi, 25 tahun, datang ke RS dengan keluhan mudah lelah. Pasien epilesi yang telah 1 tahun konsumsi fenitoin. TD 110/80 mmHg, nadi 78x/menit, RR 20x/menit, suhu 37°C. Pemeriksaan penunjang: Hb 8,9 g/dL, MCV 115 fL, tes Schilling normal. Terapi yang sesuai untuk pasien ini adalah
Deferasirox 10 mg/kgBB/hari
Thiamin 1 mg/hari
Asam folat 1 mg/hari
Vitamin B12 1 mg/hari
Zat besi 3×65 mg/hari
Laki-laki 25 tahun ke puskesmas dengan keluhan demam sejak 3 minggu, nyeri kepala, dan nyeri seluruh tubuh. Pasien tampak sakit sedang, konjungtiva anemis, sklera ikterik. Laboratorium: Hb 8,3 g/dL. Pada apusan darah tebal tampak gambaran sesuai anemia hemolitik. Apakah patofisiologi komplikasi tersebut yang paling mungkin
Proses autoimun
Defisiensi asam folat
Defisiensi tiamin
Destruksi sel darah merah
Destruksi zat besi
Tn. Angga, 26 tahun, datang ke RS dengan keluhan pandangan kabur dan telinga berdenging sejak 2 bulan. Pada pemeriksaan didapatkan wajah kemerahan dan splenomegali. Laboratorium: Hb 20 g/dL, leukosit 12.000/µL, trombosit 450.000/µL. Kemungkinan diagnosis pasien adalah
Leukemia mieloid kronik
Idiopathic thrombocytopenic purpura
Polisitemia sekunder
Polisitemia relatif
Polisitemia vera
Tn. Dafoe, 41 tahun, pekerja kebun di pegunungan selama 10 tahun, mengeluh mudah lelah 2 minggu, pusing, dan telapak tangan serta kaki terasa panas. TD 140/100 mmHg, nadi 87x/menit, RR 19x/menit, suhu 36,6°C. Laboratorium: Hb 19 g/dL, leukosit 8.000/µL, trombosit 250.000/µL, hematokrit 54%. Diagnosis pada pasien ini adalah
Polisitemia vera
Polisitemia relatif
Polisitemia fisiologis
Pseuderitrositosis
Polisitemia patologis
Tn. Albert, 50 tahun, datang dengan keluhan sakit kepala berulang selama 1 bulan. Tampak wajah kemerahan dan telapak tangan hiperemis. TD 140/90 mmHg, nadi 87x/menit, RR 24x/menit, suhu 37°C. Laboratorium: Hb 19 g/dL, leukosit 9.000/µL, trombosit 350.000/µL. Apakah diagnosis yang paling mungkin
Polisitemia vera
Polisitemia relatif
Polisitemia fisiologis
Polisitemia sekunder
Trombositosis esensial
Tn. Nicholas, 40 tahun, pusing dan mudah lelah sejak 2 minggu. Hipertensi, konsumsi hydrochlorothiazide, dan minum alkohol. TD 150/100 mmHg, frekuensi napas 20x/menit. Laboratorium: Hb 19 g/dL, RBC 4,6×10^6/mm^3, eritropoietin normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin
Eritrositosis relatif
Polisitemia sekunder
Polisitemia vera
Pseuderitrositosis
Polisitemia intermiten
Tn. Regar, 52 tahun, sering merasa mudah lelah, badan nyeri, dan gatal. Riwayat sakit lambung. TD 160/100 mmHg, nadi 87x/menit, RR 22x/menit, suhu 36,8°C, hepatosplenomegali (+). Laboratorium: Hb 19 g/dL, MCV 94 fL, MCHC 35 g/dL, eritrosit 8 juta/µL, hematokrit 52%, leukosit 16.000/µL, trombosit 600.000/µL. Histopatologi sumsum tulang: megakariosit abnormal, sedikit fibrosis. Tatalaksana awal yang tepat adalah
Khelasi besi
Aspirin
Flebotomi
Kortikosteroid
Deferoksamin
An. Bagas, 2 tahun, dibawa orang tuanya ke poliklinik anak dengan keluhan bercak kemerahan timbul pada betis kiri 3 hari, disertai nyeri perut yang hilang timbul. Pemeriksaan: serum IgA meningkat, LED meningkat, kreatinin 2,2 mg/dL. Kemungkinan diagnosis pasien adalah
Disseminated intravascular coagulation
Idiopathic thrombocytopenic purpura
Hemofilia klasik
Penyakit Von Willebrand
Henoch–Schönlein purpura
An. Viosa, 18 tahun, nyeri perut hebat 2 hari, demam, dan tampak bintik serta ruam hemoragik yang menonjol dan dapat diraba pada kedua tungkai. Laboratorium: Hb 12 g/dL, leukosit 7.000/µL, trombosit 40.000/µL, hematuria. Kemungkinan diagnosis pasien adalah
Disseminated intravascular coagulation
Idiopathic thrombocytopenic purpura
Hemofilia klasik
Penyakit Von Willebrand
Henoch–Schönlein purpura
An. Alban, 10 tahun, kedua tungkai dan lengan bawah bengkak kemerahan sejak 7 hari, nyeri sendi, demam. Ditemukan purpura simetris pada kedua tungkai bawah dan lengan bawah, nyeri tekan, serta keluhan gastrointestinal. Kemungkinan diagnosis pasien adalah
Disseminated intravascular coagulation
Idiopathic thrombocytopenic purpura
Hemofilia klasik
Penyakit Von Willebrand
Henoch–Schönlein purpura
Tn. Damian, 20 tahun, muncul bintik-bintik merah pada kedua tungkai dan lengan sejak 2 hari. Ada petekie dan ekimosis, tanpa hepatosplenomegali. Lab: Hb 11,8 g/dL, leukosit 6.100/µL, PT normal, aPTT normal. Kemungkinan diagnosis pasien adalah
Disseminated intravascular coagulation
Idiopathic thrombocytopenic purpura
Hemofilia klasik
Penyakit Von Willebrand
Henoch–Schönlein purpura
An. Jebar, 11 tahun, bengkak pada lutut kanan dan kemerahan pada tangan dan kaki sejak 4 minggu. Luka pada lutut sukar berhenti berdarah. Lab: Hb 12 g/dL, leukosit 8.000/µL, trombosit 85.000/µL, PT 11 menit (normal), aPTT 25 detik (normal). Penyebab kelainan pasien adalah
Defek faktor Von Willebrand
Infeksi virus yang menyerang trombosit
Penurunan produksi sel myeloid di sumsum tulang
Autoantibodi IgG yang menyerang trombosit
Gangguan faktor koagulasi
An. David, 16 tahun, mimisan 30 menit. Keluhan memar di beberapa bagian tubuh. TD 120/90 mmHg, HR 87x/menit, RR 22x/menit, suhu 37,2°C. Abdomen tidak teraba nyeri, limpa tidak membesar. Lab: Hb 11,8 g/dL, trombosit 60.000/µL, fibrinogen normal, PT 13 detik. Kemungkinan penyebab kondisi ini adalah
Vaskulitis deposisi IgA
Autoimun tipe II
Kelainan herediter X-linked resesif
Hipoplasia sumsum tulang
Infeksi EBV
An. Bora, 13 tahun, bintik-bintik merah di ekstremitas bawah 2 hari. Riwayat demam berdarah 1 minggu lalu. Tanda vital stabil; ditemukan purpura pada ekstremitas bawah. Laboratorium: trombosit rendah. Apakah manajemen awal yang tepat
Prednison
Transfusi trombosit
Transfusi whole blood
IVIg
Siklofosfamid
An. Dolpina, 15 tahun, sering mimisan dan gusi berdarah 2 minggu. Tidak demam. Pemeriksaan lanjutan: Hb 11,5 g/dL, PT normal, aPTT memanjang, penurunan faktor VIII, uji ristocetin positif. Apakah diagnosis pasien
Hemofilia A
Hemofilia B
Immune thrombocytopenic purpura
Thrombotic thrombocytopenic purpura
Penyakit Von Willebrand
An. Aika, 13 tahun, epistaksis berulang dan menorrhagia. Pemeriksaan: trombosit 250.000/µL, faktor Von Willebrand rendah. Bagaimanakah hasil pemeriksaan faal hemostasis yang sesuai
Waktu perdarahan memanjang, aPTT normal
Waktu perdarahan normal, PT memanjang
aPTT memanjang, waktu perdarahan normal
Waktu perdarahan dan PT normal
Waktu perdarahan dan PT memanjang
An. Sonya, 28 tahun, sering mimisan dan memar. Pemeriksaan: Hb 11 g/dL, trombosit 380.000/µL, bleeding time memanjang, PT normal, aPTT memanjang, tes ristocetin terganggu. Tatalaksana yang paling tepat adalah
Whole blood
Konsentrat faktor VIII/IX
Kriopresipitat
PRC
Konsentrat trombosit
An. Rasta, 2 minggu, dibawa ke IGD karena kejang 5 menit. Saat kejang tangan dan kaki kejonjot dan mata menelentik ke atas. Tidak demam. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan PT memanjang. Diagnosis yang paling tepat adalah
Anemia defisiensi kongenital
Perdarahan karena defisiensi vitamin K
Thalassemia beta mayor
Hemofilia A
Hemofilia B
By. Lora, neonatus, perdarahan sulit berhenti pada bekas suntikan hepatitis B. Pemeriksaan: pucat (-), ikterik (-), hepatosplenomegali (-). Lab: Hb 12,1 g/dL, trombosit 172.000/µL, waktu protrombin memanjang. Diagnosis yang paling mungkin dialami pasien ini adalah
Hemofilia A
Hemofilia B
Pseudohemofilia (Von Willebrand disease)
ITP
Defisiensi faktor koagulasi tergantung vitamin K
An. Bobo, 6 tahun, perdarahan berulang pada sendi dan memar. Riwayat perdarahan lama saat sirkumsisi. Pemeriksaan: trombosit 360.000/µL, bleeding time normal, clotting time memanjang, PT normal, aPTT memanjang, tes ristocetin normal. Diagnosis pada pasien ini adalah
Demam berdarah dengue
ITP
Hemofilia
DIC
Penyakit Von Willebrand
An. Gabe, 4 tahun, mudah memar dan terjadi hemartrosis spontan pada lutut kiri. Riwayat perdarahan lama saat imunisasi. Lab: Hb 14 g/dL, leukosit 8.000/µL, trombosit 225.000/µL, clotting time dan aPTT memanjang, PT normal, defisiensi faktor IX (+). Apakah jenis kelainan yang paling tepat
Kuantitatif trombosit
Kualitatif trombosit
Koagulasi
Trombosis
Tn. Damanso, usia 42 tahun datang ke puskesmas dengan batuk sejak 3 minggu, demam, penurunan berat badan, dan keringat malam. Riwayat minum OAT (+). Pemeriksaan fisik TD 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, laju napas 20 x/menit, suhu 37,8°C. Sputum BTA (+/−). Fototoraks tampak perselubungan pada apeks paru kanan. Bagaimana patofisiologi pada penyakit ini?
Hipersensitivitas yang diperantarai IgE dan menyebabkan sel mast melepaskan histamin
Hipersensitivitas yang diperantarai IgG dan IgM yang menyebabkan kerusakan sel target
Hipersensitivitas kompleks antigen–antibodi
Hipersensitivitas yang diperantarai sel T sehingga membentuk granuloma pada parenkim paru
Hipersensitivitas yang diperantarai sel B yang mengakibatkan pelepasan histamin
Seorang anak berusia 14 tahun yang sedang dirawat di puskesmas mengalami penurunan kesadaran setelah mendapat suntikan antibiotik. Pasien pusing, mata berair dan merah, somnolen. Tekanan darah 50/palpasi, frekuensi nadi 190 x/menit kecil dan lemah, frekuensi napas 40 x/menit, suhu 40°C. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat?
Beri oksigen, pasang infus koloid, berikan dosis maintenance, berikan kortikosteroid intramuskular
Beri oksigen, pasang infus kristaloid, berikan adrenalin intramuskular
Beri oksigen, pasang infus kristaloid, berikan dosis maintenance, berikan kortikosteroid intramuskular
Beri oksigen, pasang infus, lakukan resusitasi cairan, berikan kortikosteroid dan antibiotik
Beri oksigen, pasang infus koloid, lakukan resusitasi cairan, berikan kortikosteroid intravena
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dibawa ke unit gawat darurat dengan sesak napas 10 menit setelah mengonsumsi roti selai kacang. Tanda vital: tekanan darah 80/60 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 38 x/menit, suhu 36,8°C; akral dingin, urtikaria, bibir bengkak. Apakah terapi awal yang sebaiknya diberikan?
Oksigenasi dan terapi cairan Ringer Laktat sesuai kebutuhan cairan tubuh
Adrenalin intramuskular
Terapi cairan Ringer Laktat sesuai kebutuhan cairan
Deksametason intravena
Aminofilin drip
Seorang laki-laki 25 tahun di unit gawat darurat mengeluh jantung berdebar dan sesak 5 menit setelah pemberian antibiotik intravena. Tekanan darah 80/60 mmHg, nadi sulit diraba, akral dingin. Apakah patomekanisme yang tepat?
Reaksi imun tipe 3
Reaksi imun tipe 2
Reaksi imun tipe 5
Reaksi imun tipe 1
Reaksi imun tipe 4
Tn. Diego, usia 56 tahun, datang dengan batuk berdahak kadang berdarah sejak 3 minggu disertai demam subfebris, keringat malam, dan penurunan berat badan. Tanda vital TD 120/80 mmHg, HR 80 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 37,5°C; pada pemeriksaan paru terdengar ronkhi di regio apeks. Tipe reaksi hipersensitivitas apakah yang terjadi pada kasus ini?
Tipe I
Tipe II
Tipe III
Tipe IV
Tipe V
Seorang laki-laki 23 tahun di IGD tiba-tiba tidak sadar setelah sebelumnya mengeluh sesak, gelisah, dan lemas setelah pemberian antibiotik intravena. Kesadaran somnolen, TD 85/40 mmHg, nadi 120 x/menit, napas 30 x/menit, suhu 37,5°C, sianosis, pupil isokor, refleks cahaya +/+, dan wheezing di seluruh lapang paru. Apakah jenis reaksi hipersensitivitas yang tepat?
Cell-mediated hypersensitivity
Immune-complex reaction
Immediate hypersensitivity reaction
Cytotoxic hypersensitivity reaction
Delayed hypersensitivity reaction
Seorang laki-laki berusia 33 tahun datang ke unit gawat darurat dengan sesak napas tiba-tiba, gelisah, muka kemerahan, mual, batuk, dan palpitasi setelah disengat tawon saat bekerja di ladang. Pemeriksaan: TD 130/80 mmHg, nadi 110 x/menit, respirasi 28 x/menit, suhu 37,1°C; flushing wajah; luka bekas sengatan kemerahan di kaki tanpa nanah. Apakah penatalaksanaan awal yang paling tepat?
Pemberian epinefrin intravena
Pemberian epinefrin intramuskular
Pemberian difenhidramin intravena
Resusitasi jantung paru
Menilai airway, breathing, dan circulation
Tn. Glodi, usia 42 tahun, datang dengan keluhan demam dan tidak enak badan sejak 1 bulan. Pasien rutin mengonsumsi fenitoin untuk epilepsi. Tanda vital: TD 120/80 mmHg, HR 80 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 37°C. Hasil laboratorium: Hb 12 g/dL, leukosit 400/µL, trombosit 160.000/µL. Apakah diagnosis yang paling mungkin?
Anemia aplastik
Agranulositosis
Pansitopenia
Multiple myeloma
Myelodysplastic syndrome
