wayground logo

Free Printable Worksheets

NEW

Font size

S
M
L
XL
Worksheets

Hematologi 1.1

Total questions: 66

Worksheet time: 33mins

Name
Class
Date
1.

Tn. Betis usia 46 tahun dibawa ke RS dengan keluhan lemas sejak 2 minggu. Keluhan batuk-batuk sejak 1 bulan, sering keringat dingin pada malam hari sejak 3 minggu, berat badan menurun 4 kilogram dalam sebulan terakhir. Riwayat hipertensi sejak 5 tahun, tidak terkontrol. Pemeriksaan: TD 170/100 mmHg, nadi 90 x/menit, pernapasan 24 x/menit, suhu 36 °C. Laboratorium: Hb 7 g/dL, leukosit 7000/µL, trombosit 200.000/µL, MCV 78 fL, MCHC 27 g/dL. Apa kemungkinan diagnosis pada pasien ini?

a)

Anemia hemolitik

b)

Anemia defisiensi besi

c)

Anemia sideroblastik

d)

Anemia megaloblastik

e)

Anemia penyakit kronis

2.

Tn. Rodi, usia 49 tahun, mengeluh badan lemas dan lesu. Keluhan sejak 6 bulan, berkemih sedikit sekitar setengah gelas per hari. Dibawa ke dokter dan dianjurkan cuci darah. Pemeriksaan: TD 160/100 mmHg, nadi 102 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,3 °C; konjungtiva anemis; hepatosplenomegali (-). Laboratorium: Hb 8,3 g/dL, leukosit 6000/µL, trombosit 260.000/µL. Hasil pemeriksaan penunjang yang paling sesuai adalah

a)

Bilirubin indirek meningkat, retikulosit meningkat

b)

Bilirubin indirek meningkat, serum iron normal, ferritin normal

c)

Retikulosit normal, gambaran sumsum tulang hipoplastik

d)

Serum iron menurun, TIBC menurun, ferritin meningkat

e)

TIBC meningkat, saturasi transferin menurun

3.

Ny. Edela, usia 50 tahun, kontrol penyakit rheumatoid arthritis yang telah diderita lama. Keluhan badan lemas dan sering pusing. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis. Laboratorium: Hb 9,2 g/dL, leukosit 8000/µL, trombosit 270.000/µL; apusan darah tepi anemia normokromik normositik; serum iron turun, TIBC turun, ferritin normal. Terapi paling tepat untuk pasien tersebut adalah

a)

Transfusi PRC

b)

Pemberian zat besi

c)

Pemberian asam folat

d)

Pemberian kortikosteroid

e)

Pemberian vitamin B12

4.

Perempuan 20 tahun, G1P0A0, datang karena sering merasa lemah. Pasien rutin mengonsumsi teh setiap hari. Tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan fisik tampak pucat, konjungtiva pucat. Laboratorium: Hb 10 g/dL. Apakah diagnosis paling memungkinkan pada kasus ini?

a)

Anemia megaloblastik

b)

Anemia aplastik

c)

Anemia defisiensi zat besi

d)

Anemia hemolitik

e)

Anemia defisiensi asam folat

5.

Ny. Arya, 30 tahun, mengeluh pandangan sering berkunang-kunang disertai mudah lelah dan lesu sejak 6 bulan. Bekerja di ladang dan jarang menggunakan alas kaki. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, nadi 88 x/menit, RR 24 x/menit, suhu 37 °C; konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik. Laboratorium: Hb 9 g/dL, leukosit 9700/µL, trombosit 255.000/µL; darah tepi menunjukkan eritrosit mikrositik hipokrom. Apakah kemungkinan diagnosis pasien ini?

a)

Anemia karena perdarahan akut

b)

Anemia defisiensi besi

c)

Anemia thalassemia mayor

d)

Anemia akibat penyakit kronis

e)

Anemia defisiensi asam folat

6.

An. Quin, usia 17 tahun, mengeluh lemas, mudah lelah, dan cepat mengantuk saat upacara di sekolah. Pasien jarang makan daging dan lebih sering makan sayuran untuk menjaga berat badan. Laboratorium: Hb 9,5 g/dL, MCV 55 fL, MCHC 30 g/dL. Apakah diagnosis pasien ini?

a)

Anemia defisiensi besi

b)

Anemia defisiensi folat

c)

Anemia hemolitik

d)

Anemia aplastik

e)

Anemia penyakit kronis

7.

Tn. Ovie, 30 tahun, datang dengan keluhan mudah lelah, sulit konsentrasi, dan cepat mengantuk. Petani yang sering minum teh dan kopi hingga 5 gelas per hari. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, nadi 82 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 37 °C; konjungtiva anemis (+/-), lidah bengkak, kuku koilonychia. Laboratorium: Hb 9 g/dL. Pemeriksaan penunjang yang tepat pada pasien ini adalah

a)

Hematokrit

b)

Tes Schilling

c)

Serum iron, TIBC, dan ferritin

d)

Tes Coombs

e)

Elektroforesis hemoglobin

8.

Ny. Patricia, 24 tahun, mudah lelah sejak 3 bulan. Menstruasi tidak teratur dan sangat banyak sejak 1 tahun terakhir, tidak mengonsumsi suplemen. Pemeriksaan: konjungtiva anemis, atrofi papil lidah (+), koilonychia (+), ikterus (-), splenomegali (-). Laboratorium: Hb 9,2 g/dL, MCV 70 fL, MCHC 25 g/dL. Hasil pemeriksaan penunjang yang paling mungkin didapatkan adalah

a)

Bilirubin indirek meningkat, serum iron normal, ferritin normal

b)

Bilirubin indirek meningkat, retikulosit meningkat, tes Coombs positif

c)

Serum iron menurun, TIBC menurun, ferritin normal atau meningkat

d)

TIBC meningkat, serum iron menurun, ferritin menurun

e)

Retikulosit normal, sumsum tulang hipoplastik

9.

Ny. Chelsea, 28 tahun, lemas 2 bulan. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, nadi 92 x/menit, RR 20 x/menit, T 36,6 °C. Laboratorium: Hb 9 g/dL, leukosit 6400/µL, trombosit 250.000/µL, MCV 60 fL, MCHC 28 g/dL; apusan darah tepi mikrositik hipokrom. Bagaimanakah farmakokinetik obat yang diberikan pada pasien ini?

a)

Absorpsi ferritin di ileum proksimal

b)

Absorpsi transferrin di ileum proksimal

c)

Absorpsi ferrous sulfat di ileum proksimal

d)

Absorpsi ion feri di duodenum

e)

Absorpsi ion ferus di duodenum

10.

An. Moon, 2 tahun, tampak pucat. Lahir kurang bulan. Pemeriksaan: berat 8 kg; tidak ada pembesaran organ; konjungtiva anemis; kuku sendok. Laboratorium: Hb 8 g/dL, leukosit 8.400/µL, trombosit 268.000/µL, MCV 68 fL, MCHC 29 g/dL. Bagaimanakah tatalaksana yang tepat pada pasien ini?

a)

Pemberian besi elemental 3–6 mg/kgBB/hari

b)

Transfusi PRC 240 mL

c)

Transfusi PRC 240 mL disertai asam folat oral 0,5–1 mg/hari

d)

Transfusi PRC 120 mL disertai besi elemental

e)

Transfusi PRC serta deferoksamin dan vitamin C

11.

Ny. Selty, 20 tahun, keluhan lelah. Pasien selalu membeli kopi setiap pagi sebelum berangkat dan sering tidak sarapan. Pemeriksaan: TD 100/80 mmHg, HR 80 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 37 °C; konjungtiva anemis, lidah tampak seperti sendok, kuku koilonychia. Edukasi yang tepat untuk diberikan kepada pasien adalah

a)

Ganti kopi dengan teh, makan banyak daging merah

b)

Hindari minum kopi, perbanyak makan nasi

c)

Kurangi konsumsi kopi, perbanyak makan daging merah

d)

Pantang makan daging merah

e)

Campur kopi dengan susu dan makan banyak daging merah

12.

Ny. Alesia, 25 tahun, lemas 2 minggu dan nafsu makan menurun. Pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, RR 18 x/menit, nadi 89 x/menit, suhu 36,8 °C; konjungtiva anemis. Laboratorium: Hb 10,5 g/dL dan serum Fe 45 mcg/dL (normal 60–170 mcg/dL). Bagaimanakah edukasi gizi bagi pasien ini?

a)

Pemberian Fe dengan asam fitat

b)

Pemberian Fe dengan tanin

c)

Pemberian Fe dengan asam askorbat

d)

Pemberian Fe dengan asam oksalat

e)

Pemberian Fe dengan kalsium

13.

An. Bill, 10 tahun, lemas dan pucat; sulit makan; tidak menyukai sayur maupun daging. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, nadi 90 x/menit, RR 26 x/menit, suhu 36,7 °C; konjungtiva anemis, atrofi papil lidah (+). Laboratorium: Hb 5,6 g/dL, leukosit 4.100/µL, trombosit 389.000/µL; MCV 68 fL, MCH 19 pg, MCHC 22 g/dL. Penatalaksanaan yang tepat adalah

a)

Preparat besi oral + vitamin C

b)

Iron dextran IV

c)

Preparat besi oral + asam folat

d)

Transfusi PRC

e)

Pemberian whole blood

14.

Ny. Rita, 27 tahun, G1P0A0 usia gestasi 24 minggu, diagnosa anemia. Pemeriksaan: TD 100/70 mmHg, HR 89 x/menit, RR 21 x/menit, suhu 36,7 °C; konjungtiva anemis. Ferritin 12 ng/mL; darah tepi hipokrom mikrositik. Rencana tatalaksana yang disarankan adalah

a)

Sulfas ferosus 3 × 325 mg

b)

Fero fumarat 2 × 325 mg

c)

Fero glukonat 3 × 325 mg

d)

Besi poliskarida 4 × 150 mg

e)

Rencana transfusi darah

15.

Ny. Grayson, 25 tahun, mudah mengantuk 1 bulan. Tanda vital normal. Laboratorium: Hb 8,5 g/dL, leukosit 9000/µL, trombosit 230.000/µL; TIBC meningkat; serum iron menurun. Cara pemberian terapi yang paling tepat adalah

a)

Transfusi PRC hingga Hb normal lalu lanjut besi oral

b)

Mengobati penyakit dasar saja

c)

Pemberian asam folat 1 mg/hari hingga menopause

d)

Besi oral hingga target Hb tercapai, dilanjutkan 3–6 bulan

e)

Diet tinggi kalori dan glukosa 3 bulan

16.

Ny. Yuri, 25 tahun, lemas 2 bulan. Pemeriksaan: TD 100/60 mmHg, nadi 80 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,5 °C; konjungtiva anemis, sklera ikterik (-), lidah mengkilat (+), hepar dan limpa tidak teraba. Laboratorium: Hb 7,8 g/dL, MCV 62 fL, MCHC 25 g/dL, serum besi menurun, TIBC meningkat. Tindak lanjut pengobatan yang tepat adalah

a)

Pemeriksaan Hb setelah 3 bulan pengobatan

b)

Pemeriksaan hematokrit setelah 2 minggu pengobatan

c)

Pemeriksaan retikulosit setelah 2 minggu pengobatan

d)

Pemeriksaan ferritin dan serum iron setelah 3 minggu pengobatan

e)

Pemeriksaan darah lengkap setelah 3 minggu pengobatan

17.

An. Glesia, 14 tahun, pucat, letih, dan lelah sejak 1 hari. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, ikterus (-), hepatosplenomegali (+), apusan darah tepi Hb 9 g/dL dengan basophilic stippling dan sel target. Apakah diagnosis pada pasien ini?

a)

Anemia defisiensi besi

b)

Anemia megaloblastik

c)

Anemia aplastik

d)

DIC

e)

Thalassemia

18.

An. Ristu, 7 tahun, pucat sejak 3 bulan, lemas, sulit belajar dan konsentrasi; memiliki riwayat transfusi darah. Pemeriksaan: konjungtiva anemis, ikterus, hepatosplenomegali; Hb 5,5 g/dL. Analisis Hb: HbA2 10%, HbF 68%. Diagnosis yang tepat adalah

a)

Thalassemia beta mayor

b)

Anemia megaloblastik

c)

Anemia defisiensi besi

d)

Thalassemia alfa mayor

e)

Anemia penyakit kronis

19.

An. Kinley, 10 tahun, lemah, kurus, pubertas terlambat; hepatosplenomegali; laboratorium Hb 7 g/dL. Elektroforesis Hb menunjukkan HbF 60%. Diagnosis yang tepat adalah

a)

Thalassemia beta

b)

Anemia megaloblastik

c)

Anemia defisiensi besi

d)

Thalassemia alfa

e)

Anemia penyakit kronis

20.

An. Cathrine, 5 tahun, pucat sejak 1 bulan, lemas, sulit belajar dan konsentrasi; sering transfusi. Pemeriksaan fisik: konjungtiva anemis, hepatosplenomegali. Pemeriksaan penunjang yang ditemukan pada pasien ini adalah

a)

Punched out lesion

b)

Hair on end

c)

Codman triangle

d)

Helmet cell

e)

Cigar cell

21.

An. Melinda, 12 tahun, konsentrasi menurun sejak 2 minggu. Pemeriksaan: konjungtiva anemis; laboratorium Hb 8,0 g/dL; MCV rendah; tidak ada pembesaran organ. Pemeriksaan penunjang: HbA2 10% dan HbF 8%. Indeks Mentzer 10. Apakah diagnosis yang paling tepat?

a)

Thalassemia alfa mayor

b)

Thalassemia minor

c)

Thalassemia beta mayor

d)

Thalassemia intermedia

e)

Sickle cell disease

22.

An. Alziah, 13 tahun, lemas dan pucat, tampak ikterus; riwayat transfusi; hepatosplenomegali. Laboratorium: Hb 6,6 g/dL, leukosit 4600/µL, trombosit 297.000/µL. Pemeriksaan penunjang yang mungkin ditemukan pada pasien adalah

a)

Punched out lesion

b)

Hair on end

c)

Codman triangle

d)

Helmet cell

e)

Cigar cell

23.

An. Kiyah, 8 tahun, pucat dan lemas sejak 1 minggu; keluhan serupa berulang, terakhir 3 bulan lalu. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, nadi 84 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 36,5 °C; konjungtiva anemis; ikterus; hepatomegali dan splenomegali. Laboratorium: Hb 6,5 g/dL, Hct 25%, leukosit 4.500/µL, trombosit 345.000/µL, MCV 69 fL, MCH 19 pg, MCHC 21 g/dL. Terapi yang tepat adalah

a)

Preparat Fe

b)

Eritropoietin

c)

Transfusi PRC

d)

Transfusi FFP

e)

Transfusi whole blood

24.

Pasien telah menjalani transfusi rutin PRC selama 3 tahun. Pemeriksaan MDT menunjukkan gambaran sel berbentuk sferosit target. Efek samping transfusi yang tepat adalah

a)

Amiloidosis

b)

Sarkoidosis

c)

Anemia

d)

Deplesi besi

e)

Hemosiderosis

25.

An. Cliff, 16 tahun, datang ke RS dengan keluhan pucat sejak satu bulan. Riwayat transfusi darah. Pemeriksaan: Hb 7,2 g/dL, MCV 70 fL, MCH 28 pg, ditemukan poikilositosis, sel target, eliptosit, basophilic stippling, retikulosit meningkat, teraba hepatosplenomegali. Terapi tambahan yang paling tepat adalah

a)

Imunosupresif

b)

Radioterapi

c)

Kemoterapi

d)

Transplantasi sumsum tulang

e)

Kelasi besi

26.

Tn. Ringgo, 29 tahun, mengeluh BAK merah gelap sejak 3 hari. Penderita epilepsi, sedang minum fenitoin. Pemeriksaan: Hb 8,6 g/dL, bilirubin indirek meningkat, LDH meningkat, retikulosit 12%, uji Coombs negatif. Kemungkinan penyebab yang paling tepat adalah

a)

Anemia penyakit kronis

b)

Anemia megaloblastik

c)

Idiopathic autoimmune hemolytic anemia

d)

Defisiensi G6PD

e)

Defisiensi enzim lainnya yang jarang

27.

Ny. Jissa, 29 tahun, datang ke RS dengan BAK berwarna merah 3 hari, seluruh tubuh kuning, perut distensi. Pemeriksaan: Hb 8,3 g/dL, bilirubin indirek meningkat, LDH meningkat, retikulosit 8%, uji Coombs positif. Kemungkinan penyebab keluhan adalah

a)

Anemia pernisiosa

b)

Autoimmune hemolytic anemia

c)

Anemia penyakit kronik

d)

Anemia aplastik

e)

Defisiensi G6PD

28.

Tn. Angga, 32 tahun, ke UGD dengan keluhan kencing berwarna merah kehitaman 1 minggu, demam, diberikan obat kotrimoksazol sebelumnya. Pemeriksaan: konjungtiva anemis, sklera ikterik, hepatosplenomegali, bilirubin tidak terkonjugasi meningkat, retikulosit 10%, sferosit pada apusan darah tepi. Kemungkinan penyebab keluhan adalah

a)

Anemia pernisiosa

b)

Anemia megaloblastik

c)

Anemia defisiensi besi

d)

Autoimmune hemolytic anemia

e)

Defisiensi G6PD

29.

Tn. Nizar, 60 tahun, datang ke IGD karena lemas dan pucat, kencing merah sejak 2 hari, sklera ikterik. Riwayat minum antibiotik nitrofurantoin. Pemeriksaan: Hb 7,6 g/dL, MCH 30 pg, saturasi iron menurun, TIBC menurun. Terapi lanjutan yang tepat adalah

a)

Pemberian eritropoietin

b)

Transfusi PRC bila indikasi disertai penghentian obat

c)

Suplementasi besi oral saja

d)

Pemberian vitamin B9 saja

e)

Asam askorbat dosis tinggi

30.

An. Bala, 10 tahun, dibawa ke puskesmas dengan keluhan lemas 1 minggu, penurunan prestasi belajar. Pemeriksaan: TD normal, HR 80 kali/menit, purpura di ekstremitas bawah, Hb 8,2 g/dL, WBC 3.000/ mm3, PLT 60.000/ mm3, retikulosit 0,2%. Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien

a)

Hemofilia

b)

Henoch–Schönlein purpura

c)

ITP

d)

Anemia penyakit kronis

e)

Anemia aplastik

31.

Pasien wanita 27 tahun sering muncul bintik-bintik merah di kulit sejak 1 bulan, badan lemas, memar mudah. TD 120/80 mmHg, HR 88 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37,7°C. Aspirasi sumsum tulang: sel-sel hiposelular dan berlemak. Terapi definitif yang paling sesuai adalah

a)

Infus dengan cairan NaCl 0,9%

b)

Transfusi PRC

c)

Transplantasi sumsum tulang

d)

Terapi imunosupresif

e)

Transfusi trombosit

32.

Ny. Jessi, 45 tahun, ke IGD dengan keluhan lemas dan pusing. Riwayat diet buruk dan gastritis kronik. Pemeriksaan laboratorium: Hb 9 g/dL, MCV 102 fL, MCH 37 pg. Apakah diagnosis yang paling mungkin

a)

Anemia kekurangan zat besi

b)

Leukemia akut

c)

Leukemia kronis

d)

Anemia pernisiosa

e)

Anemia karena defisiensi asam folat

33.

Tn. Cinta, 31 tahun, ke UGD dengan lemas, mudah lelah, demam, pucat 2 minggu. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, HR 72 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37°C, hepatosplenomegali. Hb 7,6 g/dL, MCV 80 fL, leukosit 500/ mm3, trombosit 120.000/ mm3. Pada apusan darah tepi tampak sel blast. Diagnosis paling sesuai adalah

a)

Anemia sideroblastik

b)

Anemia hemolitik

c)

Anemia defisiensi besi

d)

Anemia megaloblastik

e)

Leukemia akut

34.

Ny. Balqis, 55 tahun, datang ke IGD dengan lemas dan pusing 2 minggu. Pemeriksaan: TD 110/70 mmHg, HR 112 kali/menit, RR 20 kali/menit, suhu 37,1°C, Hb 8,2 g/dL, MCV 112 fL, MCH 40 pg. Apakah diagnosis yang paling mungkin

a)

Anemia kekurangan zat besi

b)

Leukemia mieloid akut

c)

Leukemia limfositik kronis

d)

Anemia defisiensi vitamin B12

e)

Anemia defisiensi vitamin B9

35.

Seorang pria 18 tahun dibawa ke UGD dengan demam sejak kemarin, nyeri kepala, mudah memar. Riwayat hipertensi, disangkal. Tanda vital: TD 140/90 mmHg, HR 100 kali/menit, RR 19 kali/menit, suhu 38,7°C. Pemeriksaan umum: konjungtiva anemis, sklera ikterik (+), petekie generalisata, hepatosplenomegali. Laboratorium: Hb 9 g/dL, MCV 112 fL, MCH 26 pg, Neutrofil hipersegmentasi. Obat yang mungkin dikonsumsi oleh pasien

a)

Carbamazepin

b)

Asam valproat

c)

Fenitoin

d)

Diazepam

e)

Alprazolam

36.

Apabila dilakukan pemeriksaan apus darah tepi pada pasien dengan keluhan konjungtiva anemis, Hb 8,1 g/dL, HCT 25%, leukosit 7000/µL, trombosit 300.000/µL, hasil yang sesuai adalah

a)

Cigar cell

b)

Heinz bodies

c)

Ring sideroblast

d)

Target cell

e)

Neutrofil hypersegmented

37.

Tn. Michael, 37 tahun, datang ke poliklinik dengan keluhan lemas sejak 1 minggu. Riwayat sering mengonsumsi alkohol. Pemeriksaan fisik: TD 120/70 mmHg, nadi 88x/menit, RR 20x/menit, suhu 36,7°C, glositis (+). Indeks eritrosit: MCV 120 fL, MCH 89 pg, MCHC 34 g/dL. Pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk mengetahui penyebab pasien ini adalah

a)

Darah lengkap

b)

Profil besi

c)

Uji Coombs

d)

Uji Schilling

e)

Asam folat serum

38.

Tn. Dedi, 25 tahun, datang ke RS dengan keluhan mudah lelah. Pasien epilesi yang telah 1 tahun konsumsi fenitoin. TD 110/80 mmHg, nadi 78x/menit, RR 20x/menit, suhu 37°C. Pemeriksaan penunjang: Hb 8,9 g/dL, MCV 115 fL, tes Schilling normal. Terapi yang sesuai untuk pasien ini adalah

a)

Deferasirox 10 mg/kgBB/hari

b)

Thiamin 1 mg/hari

c)

Asam folat 1 mg/hari

d)

Vitamin B12 1 mg/hari

e)

Zat besi 3×65 mg/hari

39.

Laki-laki 25 tahun ke puskesmas dengan keluhan demam sejak 3 minggu, nyeri kepala, dan nyeri seluruh tubuh. Pasien tampak sakit sedang, konjungtiva anemis, sklera ikterik. Laboratorium: Hb 8,3 g/dL. Pada apusan darah tebal tampak gambaran sesuai anemia hemolitik. Apakah patofisiologi komplikasi tersebut yang paling mungkin

a)

Proses autoimun

b)

Defisiensi asam folat

c)

Defisiensi tiamin

d)

Destruksi sel darah merah

e)

Destruksi zat besi

40.

Tn. Angga, 26 tahun, datang ke RS dengan keluhan pandangan kabur dan telinga berdenging sejak 2 bulan. Pada pemeriksaan didapatkan wajah kemerahan dan splenomegali. Laboratorium: Hb 20 g/dL, leukosit 12.000/µL, trombosit 450.000/µL. Kemungkinan diagnosis pasien adalah

a)

Leukemia mieloid kronik

b)

Idiopathic thrombocytopenic purpura

c)

Polisitemia sekunder

d)

Polisitemia relatif

e)

Polisitemia vera

41.

Tn. Dafoe, 41 tahun, pekerja kebun di pegunungan selama 10 tahun, mengeluh mudah lelah 2 minggu, pusing, dan telapak tangan serta kaki terasa panas. TD 140/100 mmHg, nadi 87x/menit, RR 19x/menit, suhu 36,6°C. Laboratorium: Hb 19 g/dL, leukosit 8.000/µL, trombosit 250.000/µL, hematokrit 54%. Diagnosis pada pasien ini adalah

a)

Polisitemia vera

b)

Polisitemia relatif

c)

Polisitemia fisiologis

d)

Pseuderitrositosis

e)

Polisitemia patologis

42.

Tn. Albert, 50 tahun, datang dengan keluhan sakit kepala berulang selama 1 bulan. Tampak wajah kemerahan dan telapak tangan hiperemis. TD 140/90 mmHg, nadi 87x/menit, RR 24x/menit, suhu 37°C. Laboratorium: Hb 19 g/dL, leukosit 9.000/µL, trombosit 350.000/µL. Apakah diagnosis yang paling mungkin

a)

Polisitemia vera

b)

Polisitemia relatif

c)

Polisitemia fisiologis

d)

Polisitemia sekunder

e)

Trombositosis esensial

43.

Tn. Nicholas, 40 tahun, pusing dan mudah lelah sejak 2 minggu. Hipertensi, konsumsi hydrochlorothiazide, dan minum alkohol. TD 150/100 mmHg, frekuensi napas 20x/menit. Laboratorium: Hb 19 g/dL, RBC 4,6×10^6/mm^3, eritropoietin normal. Apakah diagnosis yang paling mungkin

a)

Eritrositosis relatif

b)

Polisitemia sekunder

c)

Polisitemia vera

d)

Pseuderitrositosis

e)

Polisitemia intermiten

44.

Tn. Regar, 52 tahun, sering merasa mudah lelah, badan nyeri, dan gatal. Riwayat sakit lambung. TD 160/100 mmHg, nadi 87x/menit, RR 22x/menit, suhu 36,8°C, hepatosplenomegali (+). Laboratorium: Hb 19 g/dL, MCV 94 fL, MCHC 35 g/dL, eritrosit 8 juta/µL, hematokrit 52%, leukosit 16.000/µL, trombosit 600.000/µL. Histopatologi sumsum tulang: megakariosit abnormal, sedikit fibrosis. Tatalaksana awal yang tepat adalah

a)

Khelasi besi

b)

Aspirin

c)

Flebotomi

d)

Kortikosteroid

e)

Deferoksamin

45.

An. Bagas, 2 tahun, dibawa orang tuanya ke poliklinik anak dengan keluhan bercak kemerahan timbul pada betis kiri 3 hari, disertai nyeri perut yang hilang timbul. Pemeriksaan: serum IgA meningkat, LED meningkat, kreatinin 2,2 mg/dL. Kemungkinan diagnosis pasien adalah

a)

Disseminated intravascular coagulation

b)

Idiopathic thrombocytopenic purpura

c)

Hemofilia klasik

d)

Penyakit Von Willebrand

e)

Henoch–Schönlein purpura

46.

An. Viosa, 18 tahun, nyeri perut hebat 2 hari, demam, dan tampak bintik serta ruam hemoragik yang menonjol dan dapat diraba pada kedua tungkai. Laboratorium: Hb 12 g/dL, leukosit 7.000/µL, trombosit 40.000/µL, hematuria. Kemungkinan diagnosis pasien adalah

a)

Disseminated intravascular coagulation

b)

Idiopathic thrombocytopenic purpura

c)

Hemofilia klasik

d)

Penyakit Von Willebrand

e)

Henoch–Schönlein purpura

47.

An. Alban, 10 tahun, kedua tungkai dan lengan bawah bengkak kemerahan sejak 7 hari, nyeri sendi, demam. Ditemukan purpura simetris pada kedua tungkai bawah dan lengan bawah, nyeri tekan, serta keluhan gastrointestinal. Kemungkinan diagnosis pasien adalah

a)

Disseminated intravascular coagulation

b)

Idiopathic thrombocytopenic purpura

c)

Hemofilia klasik

d)

Penyakit Von Willebrand

e)

Henoch–Schönlein purpura

48.

Tn. Damian, 20 tahun, muncul bintik-bintik merah pada kedua tungkai dan lengan sejak 2 hari. Ada petekie dan ekimosis, tanpa hepatosplenomegali. Lab: Hb 11,8 g/dL, leukosit 6.100/µL, PT normal, aPTT normal. Kemungkinan diagnosis pasien adalah

a)

Disseminated intravascular coagulation

b)

Idiopathic thrombocytopenic purpura

c)

Hemofilia klasik

d)

Penyakit Von Willebrand

e)

Henoch–Schönlein purpura

49.

An. Jebar, 11 tahun, bengkak pada lutut kanan dan kemerahan pada tangan dan kaki sejak 4 minggu. Luka pada lutut sukar berhenti berdarah. Lab: Hb 12 g/dL, leukosit 8.000/µL, trombosit 85.000/µL, PT 11 menit (normal), aPTT 25 detik (normal). Penyebab kelainan pasien adalah

a)

Defek faktor Von Willebrand

b)

Infeksi virus yang menyerang trombosit

c)

Penurunan produksi sel myeloid di sumsum tulang

d)

Autoantibodi IgG yang menyerang trombosit

e)

Gangguan faktor koagulasi

50.

An. David, 16 tahun, mimisan 30 menit. Keluhan memar di beberapa bagian tubuh. TD 120/90 mmHg, HR 87x/menit, RR 22x/menit, suhu 37,2°C. Abdomen tidak teraba nyeri, limpa tidak membesar. Lab: Hb 11,8 g/dL, trombosit 60.000/µL, fibrinogen normal, PT 13 detik. Kemungkinan penyebab kondisi ini adalah

a)

Vaskulitis deposisi IgA

b)

Autoimun tipe II

c)

Kelainan herediter X-linked resesif

d)

Hipoplasia sumsum tulang

e)

Infeksi EBV

51.

An. Bora, 13 tahun, bintik-bintik merah di ekstremitas bawah 2 hari. Riwayat demam berdarah 1 minggu lalu. Tanda vital stabil; ditemukan purpura pada ekstremitas bawah. Laboratorium: trombosit rendah. Apakah manajemen awal yang tepat

a)

Prednison

b)

Transfusi trombosit

c)

Transfusi whole blood

d)

IVIg

e)

Siklofosfamid

52.

An. Dolpina, 15 tahun, sering mimisan dan gusi berdarah 2 minggu. Tidak demam. Pemeriksaan lanjutan: Hb 11,5 g/dL, PT normal, aPTT memanjang, penurunan faktor VIII, uji ristocetin positif. Apakah diagnosis pasien

a)

Hemofilia A

b)

Hemofilia B

c)

Immune thrombocytopenic purpura

d)

Thrombotic thrombocytopenic purpura

e)

Penyakit Von Willebrand

53.

An. Aika, 13 tahun, epistaksis berulang dan menorrhagia. Pemeriksaan: trombosit 250.000/µL, faktor Von Willebrand rendah. Bagaimanakah hasil pemeriksaan faal hemostasis yang sesuai

a)

Waktu perdarahan memanjang, aPTT normal

b)

Waktu perdarahan normal, PT memanjang

c)

aPTT memanjang, waktu perdarahan normal

d)

Waktu perdarahan dan PT normal

e)

Waktu perdarahan dan PT memanjang

54.

An. Sonya, 28 tahun, sering mimisan dan memar. Pemeriksaan: Hb 11 g/dL, trombosit 380.000/µL, bleeding time memanjang, PT normal, aPTT memanjang, tes ristocetin terganggu. Tatalaksana yang paling tepat adalah

a)

Whole blood

b)

Konsentrat faktor VIII/IX

c)

Kriopresipitat

d)

PRC

e)

Konsentrat trombosit

55.

An. Rasta, 2 minggu, dibawa ke IGD karena kejang 5 menit. Saat kejang tangan dan kaki kejonjot dan mata menelentik ke atas. Tidak demam. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan PT memanjang. Diagnosis yang paling tepat adalah

a)

Anemia defisiensi kongenital

b)

Perdarahan karena defisiensi vitamin K

c)

Thalassemia beta mayor

d)

Hemofilia A

e)

Hemofilia B

56.

By. Lora, neonatus, perdarahan sulit berhenti pada bekas suntikan hepatitis B. Pemeriksaan: pucat (-), ikterik (-), hepatosplenomegali (-). Lab: Hb 12,1 g/dL, trombosit 172.000/µL, waktu protrombin memanjang. Diagnosis yang paling mungkin dialami pasien ini adalah

a)

Hemofilia A

b)

Hemofilia B

c)

Pseudohemofilia (Von Willebrand disease)

d)

ITP

e)

Defisiensi faktor koagulasi tergantung vitamin K

57.

An. Bobo, 6 tahun, perdarahan berulang pada sendi dan memar. Riwayat perdarahan lama saat sirkumsisi. Pemeriksaan: trombosit 360.000/µL, bleeding time normal, clotting time memanjang, PT normal, aPTT memanjang, tes ristocetin normal. Diagnosis pada pasien ini adalah

a)

Demam berdarah dengue

b)

ITP

c)

Hemofilia

d)

DIC

e)

Penyakit Von Willebrand

58.

An. Gabe, 4 tahun, mudah memar dan terjadi hemartrosis spontan pada lutut kiri. Riwayat perdarahan lama saat imunisasi. Lab: Hb 14 g/dL, leukosit 8.000/µL, trombosit 225.000/µL, clotting time dan aPTT memanjang, PT normal, defisiensi faktor IX (+). Apakah jenis kelainan yang paling tepat

a)

Kuantitatif trombosit

b)

Kualitatif trombosit

c)

Koagulasi

d)

Trombosis

59.

Tn. Damanso, usia 42 tahun datang ke puskesmas dengan batuk sejak 3 minggu, demam, penurunan berat badan, dan keringat malam. Riwayat minum OAT (+). Pemeriksaan fisik TD 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit, laju napas 20 x/menit, suhu 37,8°C. Sputum BTA (+/−). Fototoraks tampak perselubungan pada apeks paru kanan. Bagaimana patofisiologi pada penyakit ini?

a)

Hipersensitivitas yang diperantarai IgE dan menyebabkan sel mast melepaskan histamin

b)

Hipersensitivitas yang diperantarai IgG dan IgM yang menyebabkan kerusakan sel target

c)

Hipersensitivitas kompleks antigen–antibodi

d)

Hipersensitivitas yang diperantarai sel T sehingga membentuk granuloma pada parenkim paru

e)

Hipersensitivitas yang diperantarai sel B yang mengakibatkan pelepasan histamin

60.

Seorang anak berusia 14 tahun yang sedang dirawat di puskesmas mengalami penurunan kesadaran setelah mendapat suntikan antibiotik. Pasien pusing, mata berair dan merah, somnolen. Tekanan darah 50/palpasi, frekuensi nadi 190 x/menit kecil dan lemah, frekuensi napas 40 x/menit, suhu 40°C. Apakah tatalaksana awal yang paling tepat?

a)

Beri oksigen, pasang infus koloid, berikan dosis maintenance, berikan kortikosteroid intramuskular

b)

Beri oksigen, pasang infus kristaloid, berikan adrenalin intramuskular

c)

Beri oksigen, pasang infus kristaloid, berikan dosis maintenance, berikan kortikosteroid intramuskular

d)

Beri oksigen, pasang infus, lakukan resusitasi cairan, berikan kortikosteroid dan antibiotik

e)

Beri oksigen, pasang infus koloid, lakukan resusitasi cairan, berikan kortikosteroid intravena

61.

Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun dibawa ke unit gawat darurat dengan sesak napas 10 menit setelah mengonsumsi roti selai kacang. Tanda vital: tekanan darah 80/60 mmHg, nadi 110 x/menit, frekuensi napas 38 x/menit, suhu 36,8°C; akral dingin, urtikaria, bibir bengkak. Apakah terapi awal yang sebaiknya diberikan?

a)

Oksigenasi dan terapi cairan Ringer Laktat sesuai kebutuhan cairan tubuh

b)

Adrenalin intramuskular

c)

Terapi cairan Ringer Laktat sesuai kebutuhan cairan

d)

Deksametason intravena

e)

Aminofilin drip

62.

Seorang laki-laki 25 tahun di unit gawat darurat mengeluh jantung berdebar dan sesak 5 menit setelah pemberian antibiotik intravena. Tekanan darah 80/60 mmHg, nadi sulit diraba, akral dingin. Apakah patomekanisme yang tepat?

a)

Reaksi imun tipe 3

b)

Reaksi imun tipe 2

c)

Reaksi imun tipe 5

d)

Reaksi imun tipe 1

e)

Reaksi imun tipe 4

63.

Tn. Diego, usia 56 tahun, datang dengan batuk berdahak kadang berdarah sejak 3 minggu disertai demam subfebris, keringat malam, dan penurunan berat badan. Tanda vital TD 120/80 mmHg, HR 80 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 37,5°C; pada pemeriksaan paru terdengar ronkhi di regio apeks. Tipe reaksi hipersensitivitas apakah yang terjadi pada kasus ini?

a)

Tipe I

b)

Tipe II

c)

Tipe III

d)

Tipe IV

e)

Tipe V

64.

Seorang laki-laki 23 tahun di IGD tiba-tiba tidak sadar setelah sebelumnya mengeluh sesak, gelisah, dan lemas setelah pemberian antibiotik intravena. Kesadaran somnolen, TD 85/40 mmHg, nadi 120 x/menit, napas 30 x/menit, suhu 37,5°C, sianosis, pupil isokor, refleks cahaya +/+, dan wheezing di seluruh lapang paru. Apakah jenis reaksi hipersensitivitas yang tepat?

a)

Cell-mediated hypersensitivity

b)

Immune-complex reaction

c)

Immediate hypersensitivity reaction

d)

Cytotoxic hypersensitivity reaction

e)

Delayed hypersensitivity reaction

65.

Seorang laki-laki berusia 33 tahun datang ke unit gawat darurat dengan sesak napas tiba-tiba, gelisah, muka kemerahan, mual, batuk, dan palpitasi setelah disengat tawon saat bekerja di ladang. Pemeriksaan: TD 130/80 mmHg, nadi 110 x/menit, respirasi 28 x/menit, suhu 37,1°C; flushing wajah; luka bekas sengatan kemerahan di kaki tanpa nanah. Apakah penatalaksanaan awal yang paling tepat?

a)

Pemberian epinefrin intravena

b)

Pemberian epinefrin intramuskular

c)

Pemberian difenhidramin intravena

d)

Resusitasi jantung paru

e)

Menilai airway, breathing, dan circulation

66.

Tn. Glodi, usia 42 tahun, datang dengan keluhan demam dan tidak enak badan sejak 1 bulan. Pasien rutin mengonsumsi fenitoin untuk epilepsi. Tanda vital: TD 120/80 mmHg, HR 80 x/menit, RR 22 x/menit, suhu 37°C. Hasil laboratorium: Hb 12 g/dL, leukosit 400/µL, trombosit 160.000/µL. Apakah diagnosis yang paling mungkin?

a)

Anemia aplastik

b)

Agranulositosis

c)

Pansitopenia

d)

Multiple myeloma

e)

Myelodysplastic syndrome