

apa yaa
Presentation
•
Mathematics
•
8th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
Selly santi
Used 1+ times
FREE Resource
13 Slides • 0 Questions
1
6
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai graf dan istilah-istilah yang digunakan
dalam graf, matrik, representasi graf dalam matriks, cara kerja Algoritma Floyd-
Warshall untuk menentukan rute terpendek, serta kerangka pikiran dalam penelitian
ini
2.1.Graf
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai istilah-istilah yang digunakan
dalam graf serta dijelaskan mengenai jenis-jenis graf jika digolongkan
berdasarkan kriteria tertentu.
Definisi 2.1.1. (Munir, 2010:356)
Diberikan suatu himpunan tak kosong 𝑉 = { 𝑣1, 𝑣2, 𝑣3 ⋯𝑣𝑛} merupakan
himpunan titik dan 𝐸 = { 𝑒1, 𝑒2, 𝑒3 ⋯𝑒𝑛} merupakan himpunan sisi yang
menghubungkan sepasang titik. Suatu Graf 𝐺 didefinisikan sebagai pasangan
himpunan (𝑉, 𝐸) dengan notasi 𝐺 = (𝑉, 𝐸) merupakan himpunan tak kosong.
Contoh 2.1.1
Gambar 2.1.1 merupakan gambar graf G(V,E), A, B, Cdan Dmerupakan
himpunan titik pada graf G sedangkan e1, e2, e3 dan e4 merupakan himpunan sisi
pada graf.
e4
e3
e2
e1
D
C
B
A
Gambar 2.1.1 Graf G
• G
2
7
Definisi 2.1.2. (Suryadi, 1996:16)
Order dalam sebuah graf adalah banyaknya titik yang merupakan anggota
dari himpunan V, sedangkan Size dalam sebuah graf adalah banyaknya sisi
yang merupakan anggota dari himpunan E.
Contoh 2.1.2.
Pada contoh 2.1.1. Graf G memiliki 3 titik yaitu {A, B, C, D} sehingga
order darigraf 𝐺 adalah 4, dan memiliki 4 sisi yaitu {𝑒1,𝑒2,𝑒3,𝑒4} sehingga size
dari graf 𝐺 adalah 4.
Definisi 2.1.3. (Yaya, 2020:245)
Sisi yang menghubungkan sebuah titik dengan titik itu sendiri disebut
Loop. Sedangkan dua buah sisi yang menghubungkan dua titik yang sama
disebut Sisi Ganda.
Contoh 2.1.3.
Perhatikan gambar berikut !
Pada contoh 2.1.3. sisi v4 menghubungkan titik A dengan dirinya sendiri,
maka sisi v4 disebut sebagai loop. Kemudian, sisi v2 dan sisi v3 menghubungkan
titik B dengan titik C, maka sisi v2 dan sisi v3 disebutsebagai sisi ganda.
A
B
C
v1
v2
v3
v4
Gambar 2.1.3
3
8
Definisi 2.1.4. (Munir, 2010:357)
Berdasarkan ada atau tidaknya gelang atau sisi ganda, graf dapat
dibedakan menjadi 2 jenis:
1.Graf Sederhana (Simple Graph), adalah graf yang tidak memiliki gelang
atau sisi ganda.
2.Graf tak-sederhana (Unsimple Graph), adalah graf yang memiliki gelang
atau sisi ganda. Terdapat dua macam graf tak-sederhana, yaitu graf ganda
dan graf semu.
a.Graf ganda, adalah graf yang mengandung sisi ganda
b.Graf semu, adalah graf yang mengandung gelang
Contoh 2.1.3
Definisi 2.1.5. (Munir, 2010:358)
Berdasarkan orientasi arah pada sisi, graf dibedakan menjadi 2 jenis:
1.Graf tak berarah (undirected graph), adalah graf yang sisinya tidak
mempunyai orientasi arah.
2.Graf berarah (directed graph atau digraph), adalah graf yang setiap
sisinya diberikan arah
v1
v1
v2
v1
v3
v1
v4
v1
(a). Graf Sederhana
(b). Graf Ganda
4
9
Contoh 2.1.4.
2.2.Matriks
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai istilah-istilah yang digunakan
dalam matriks.
Definisi 2.2.1 (Howard Antoh, 1991:22)
Sebuah matriks adalah susunan segi empat siku-siku dari bilangan-
bilangan. Bilangan-bilangan dalam susunan tersebut dinamakan entri dalam
matriks.
Ukuran dalam matriks dinyatakan dengan banyaknya baris dan banyaknya
kolom. Matriks dinyatakan menggunakan huruf besar, sedangkan entri-entri
dalam matriks dinyatakan menggunakan huruf kecil.
Elemen pada baris ke-i dan kolom ke-j dari sebuah matriks 𝑀 dapat
dinyatakan sebagai 𝑚𝑖𝑗. Sebuah matriks 𝑀 berukuran 𝑚 × 𝑛 dituliskan
sebagai berikut :
𝐴𝑚×𝑛 =
[
𝑎11
𝑎12
𝑎13
𝑎21
𝑎22
𝑎23
𝑎31
𝑎32
𝑎33
⋯
⋯
⋯
𝑎1𝑛
𝑎2𝑛
𝑎3𝑛
⋮ ⋮
⋮
⋮⋮
𝑎𝑚1
𝑎𝑚2
𝑎𝑚3⋯𝑎𝑚𝑛]
Contoh 2.2.1
Perhatikan matriks berikut !
𝑀 = [
34
56
78
]
(a). Graf Tak Berarah
(b). Graf Berarah
5
10
Matriks M pada contoh 2.2.1 mempunyai 3 baris dan 2 kolom, sehingga
matriks M merupakan matriks berukuran 3 × 2 dengan entri-entri matriks :
𝑚11 = 3
𝑚12 = 4
𝑚21 = 5
𝑚31 = 7
𝑚22 = 6
𝑚32 = 8
2.3.Matriks Hubung
Definisi 2.3.1. (Siang 2004:272
Sebuah graf berarah dapat direpresentasikan menggunakan sebuah
matriks. Menurut Siang (2004:233), menyatakan graf sebagai suatu matriks
dapat mempermudah perhitungan-perhitungan yang diperlukan. Matriks yang
digunakan untuk merepresentasikan sebuah graf adalah Matriks Hubung.
Suatu graf berarah yang terdiri dari 𝑛 buah titik dapat membentuk matriks bujur
sangkar 𝑛 × 𝑛. Matriks ini merepresentasikan bobot dari seluruh sisi yang ada
pada graf dengan 𝑤𝑖,𝑗adalah elemen-elemen dari matriks tersebut. Jika
grafnya tak berarah, maka matriks hubung yang terbentuk adalah matriks
simetris (𝑤𝑖,𝑗 = 𝑤𝑗,𝑖 , ∀𝑖,𝑗). Jika bobot dari titik 𝑣𝑖 yang merupakan titik asal ke
titik 𝑣𝑗 yang merupakan titik tujuan disimbolkan dengan 𝑤𝑖,𝑗 , bobot
𝑤𝑖,𝑗mempunyai tiga kemungkinan nilai (Setiawan, dkk, 2017), yaitu:
𝑤𝑖,𝑗
(0) = {
0
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑠𝑖𝑠𝑖
∞
i = j dari titik vi ke titik vi itu sendiri
i ≠ j dan titik vi terhubung dengan titik vj
i ≠ j dan titik vi tidak terhubung dengan titik vj
Contoh 2.3.1
Perhatikan gambar dibawah ini !
6
11
Untuk membuat matriks yang merepresentasikan graf pada contoh 2.3.1 ,
langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat tabel yang
menyatakan bobot pada masing-masing sisi graf tersebut.
Pada contoh 2.3.1. sisi A terhubung dengan dirinya sendiri, maka bobot
pada sisi Abernilai 0. Kemudian, sisi A dan sisi Bbernilai 3. Sisi A dan sisi D
tidak terhubung sehingga bobot sisi tersebut adalah ∞. Perhatikan gambar pada
contoh 2.3.1 untuk memasukkan nilai pada masing-masing sisi graf.
Tabel 2.3.1 Tabel bobot antara masing-masing titik
A B C D E F G H
A 0 3 4
∞∞∞∞∞
B 3 0 2 3
∞∞∞∞
C 4 2 2 2 13
∞∞∞
D
∞3 2 0 2 12 6
∞
E
∞∞13 2 0
∞3
∞
F
∞∞∞12
∞0 3 8
G
∞∞∞6 3 3 0 19
H
∞∞∞∞∞8 19 0
Pada tabel 2.3.1 menyatakan bobot hubungan antara masing-masing titik graf
pada contoh 2.3.1. Perhatikan bahwa titik A terhubung dengan titik B , maka
pada tabel 2.3.1, elemen tabel berasal dari baris A dengan kolom B menyatakan
bobot dari titik A ke titik B yaitu 3. Untuk dua titim yang tidak dihubungkan
dengan sisi, maka bobotnya ditulis sebagai suatu bilangan yang sangat besar
yaitu ∞ artinya tidak ada sisi langsung yang menghubungkan kedua titik
tersebut.
Setelah membuat tabel yang menyatakan bobot pada masing-masing sisi graf,
selanjutnya adalah membuat matriks 𝑊(0) sebagai berikut :
7
12
𝑊(0)=
[
034
302
4
∞
∞
∞
∞
∞
2
3
∞
∞
∞
∞
2
2
13
∞
∞
∞
∞∞∞
3∞∞
2
0
2
12
6
∞
13
2
0
∞
3
∞
∞
12
∞
0
3
8
∞∞
∞∞
∞∞
6∞
3∞
38
019
190]
Keterangan :
𝑊(0)= matriks keterhubungan graf berlabel (berarah atau tidak berarah) pada
mula-mula
𝑤𝑖,𝑗
(0)= entri matriks keterhubungan graf berlabel (berarah atau tidak berarah)
pada mula-mula
2.4.Path Minimum
Penerapan graf berarah dan berlabel yang sering digunakan adalah mencari
jalur terpendek antara 2 titik. Selain mencari jalur terpendek, path minimun
juga dapat digunakan untuk mencari jalur tercepat. Metode dalam path
minimun yang dapat digunakan dalam mencari jalur terpendek yaitu algoritma
djikstra dan algoritma floyd-warshall.
2.4.1. Algoritma Dijkstra
Misalkan 𝐺 adalah graf berlabel (berarah maupun tidak berarah) dengan
titik-titik 𝑉(𝐺) = {𝑣1, 𝑣2, 𝑣3, . . . 𝑣𝑛} dan jalur terpendek yang dicari dimulai
dari 𝑣1 sampai 𝑣𝑛. Algoritma Dijkstra dimulai dari 𝑣𝑛. Dalam iterasinya,
Algoritma Dijkstra akan mencari satu titik yang terhubung dengan 𝑣1 dan
memiliki jumlah bobot yang terkecil diantara titik yang lain. Selanjutnya titik
yang terpilih pada setiap iterasi dipisahkan dan titik tersebut tidak diperhatikan
lagi pada iterasi selanjutnya.
Misalkan 𝑉(𝐺) = {𝑣1, 𝑣2, 𝑣3, . . . 𝑣𝑛} dan 𝐿 merupakan Himpunan
titik-titik Є 𝑉(𝐺) yang sudah terpilih dalam jalur path terpendek, 𝐷(𝑗) =
Jumlah bobot path terkecil dari 𝑣1ke 𝑣𝑗, 𝑤(𝑖,𝑗) = Bobot garis dari titik 𝑣1ke titik
8
13
𝑣𝑗, dan 𝑤 ∗(𝑖,𝑗)= Jumlah bobot path terkecil dari 𝑣1ke 𝑣𝑗, maka langkah kerja
Algoritma Dijkstra menurut Jong Jek Siang (2011: 299) adalah sebagai berikut:
1.Menentukan 𝑣𝑎 sebagai titik awal dan 𝑣𝑛 sebagai titik akhir.
2.Menentukan tabel representasi dari graf
3.Membuat matriks hubung .
4.Untuk iterasi pertama, lakukan:
a.Inisialisasi :
•𝐿 = { }
•𝑉(𝐺) = {𝑣1, 𝑣2, 𝑣3, . . . 𝑣𝑛}
b.Titik awal adalah 𝑣𝑎 maka lakukan D( 𝑣𝑗) = { 0, 𝑗 = 𝑎
∞, 𝑗 ≠ 𝑎 , ∀ 𝑣𝑗 ∈
𝑉(𝐺)
c.∀ 𝑣𝑗 ∈ 𝑉(𝐺) tentukan D( 𝑣𝑗)terkecil, maka titik permanen 𝑣𝑝
adalah 𝑣𝑗
d.𝐿 = 𝐿 ∪ { 𝑣𝑝 }
e.Jika 𝑣𝑛∈ L, maka iterasi berhenti, jika 𝑣𝑛 ∉ L maka iterasi
berlanjut
5.Untuk iterasi kedua dan seterusnya, lakukan:
a.Inisialisasi :
•𝐿 = 𝐿
•𝑉(𝐺) = V(G) – 𝑣𝑝
b.∀ 𝑣𝑗 ∈ 𝑉(𝐺) , lakukan
D( 𝑣𝑗) = min(𝐷( 𝑣𝑗), 𝐷( 𝑣𝑝) +
𝑊(𝑝, 𝑗) )
c.∀ 𝑣𝑗 ∈ 𝑉(𝐺) tentukan D( 𝑣𝑗)terkecil, maka titik permanen 𝑣𝑝
adalah 𝑣𝑗
d.𝐿 = 𝐿 ∪ { 𝑣𝑝 }
e.Jika 𝑣𝑛∈ L, maka iterasi berhenti, jika 𝑣𝑛 ∉ L maka iterasi
berlanjut
6.Tuliskan untuk pada setiap iterasi diatas kedalam tabel.
9
14
7.Tentukan lintasan terpendeknya dengan mendaftar titik permanen
pada tabel diatas mulai dari iterasi terakhir hingga iterasi pertama.
Perhatikan titik permanen pada iterasi ke- , apabila pada iterasi ke-
mengalami penurunan dibandingkan pada iterasi sebelumnya, maka
titik permanen pada iterasi ke- tersebut merupakan jalur yang harus
dilalui.
8.Panjang Lintasan dari ke adalah pada iterasi terakhir
9.Interpretasi
2.4.2. Algoritma Floyd-Warshall
Algoritma Floyd-Warshall adalah suatu metode yang melakukan
pemecahan masalah dengan memandang solusi yang akan diperoleh sebagai
suatu keputusan yang saling terkait. Algoritma Floyd-Warshall memiliki input
graf berarah dan berbobot (V,E), yang berupa daftar titik (node/titik V) dan
daftar sisi (sisi E). Bobot garis e dapat diberi simbol w(e). Jumlah bobot sisi-
sisi pada sebuah jalur adalah total bobot jalur tersebut. Sisi pada E
diperbolehkan memiliki bobot negatif, akan tetapi tidak diperbolehkan bagi
graf wij untuk memiliki siklus dengan bobot negatif. Algoritma ini menghitung
bobot terkecil dari semua jalur yang menghubungkan sebuah pasangan titik,
dan melakukannya sekaligus untuk semua pasangan titik.
Dalam menentukan lintasan terpendek dengan algoritma Floyd-
Warshall memulai iterasi dari titik awalnya kemudian memperpanjang lintasan
dengan mengevaluasi titik demi titik hingga mencapai titik tujuan dengan
jumlah bobot yang paling minimum. Algoritma Floyd-Warshall untuk mencari
lintasan terpendek adalah sebagai berikut (Widya & Andrasto, 2016):
1.𝑊 = 𝑊0; 𝑍 = 𝑍0
2.Untuk 𝑘 = 1 hingga 𝑛, lakukan:
Untuk 𝑖 = 1 hingga 𝑛, lakukan:
Untuk 𝑗 = 1 hingga 𝑛, lakukan:
a.Jika 𝑊[𝑖,𝑗] > 𝑊[𝑖,𝑘] + 𝑊[𝑘,𝑗] maka tukar 𝑊[𝑖,𝑗] dengan 𝑊[𝑖,𝑘] +
𝑊[𝑘,𝑗] . Ganti 𝑍𝑖,𝑗 dengan 𝑍𝑖,𝑘
10
15
b.Jika 𝑊[𝑖,𝑗] ≤ 𝑊[𝑖,𝑘] + 𝑊[𝑘,𝑗] maka 𝑊[𝑖,𝑗] tidak perlu ditukar
dengan 𝑊[𝑖,𝑘] + 𝑊[𝑘,𝑗]
3.𝑊∗ = 𝑊.
Keterangan:
𝑊0 = matriks keterhubungan graf berarah berbobot awal
𝑊∗ = matriks keterhubungan minimal
𝑊[𝑖,𝑗] = lintasan terpendek dari titik 𝑣𝑖 ke 𝑣𝑗
Contoh 2.4 :
Carilah path terpendek dari titik 𝑣1 ke 𝑣7 dalam graf berarah berlabel !
Penyelesaian
Membuat Tabel yang menyatakan bobot masing-masing sisi graf
Tabel 2.4. Tabel bobot antara masing-masing titik
𝑣1
𝑣2
𝑣3
𝑣4
𝑣5
𝑣6
𝑣7
𝑣1
0
3
9
∞
∞
∞
∞
𝑣2
∞
0
∞
7
1
∞
∞
𝑣3
∞
2
0
7
∞
∞
∞
𝑣4
∞
∞
∞
0
∞
2
8
𝑣5
∞
∞
4
5
0
9
∞
𝑣6
∞
∞
∞
∞
∞
0
4
𝑣7
∞
∞
∞
∞
∞
∞
0
11
16
Membuat matriks hubung yang merepresentasikan graf
W =
[
039
∞0∞
∞20
∞∞∞∞
71∞∞
7∞∞∞
∞∞∞
∞∞4
∞
∞
∞
∞
∞
∞
0∞28
509∞
∞
∞
∞
∞
0
∞
4
0]
Mula-mula 𝐿 = { } dan 𝑉 = {𝑣1, 𝑣2, 𝑣3, … 𝑣7}
𝐷𝑗 merupakan jumlah bobot terkecil dari 𝑣1 menuju 𝑣𝑗. Perhatikan matrik W,
untuk mencari 𝐷2 maka dilihat dari 𝑣1 menuju 𝑣2. Nilai dari 𝑣1 menuju 𝑣2=
3, maka nilai 𝐷2 = 𝑊(1,2) = 3. Lakukan langkah yang sama untuk
mencari 𝑣2, 𝑣3, … 𝑣7
Menentukan titik terkecil yaitu 𝑣2
𝐿 = 𝐿 ∪ {𝑣𝑝} = { } ∪ {𝑣2} = {𝑣2}
𝑉 − 𝐿 = {𝑣1, 𝑣2, 𝑣3, … 𝑣7} − {𝑣2} = {𝑣3, 𝑣4, 𝑣5, 𝑣6, 𝑣7 }
𝑘 = 2
Melakukan Iterasi kedua dan seterusnya
•untuk 𝑗 = 3:
𝐷(𝑗) = 𝐷(3)= 9 ; 𝐷(𝑘) + 𝑊(𝑘, 𝑗) =𝐷(2) + 𝑊(2,3) = 3 + ∞ =
∞. Oleh karena D(3) ≥ D(2) + W(2,3), maka harga D(3) tetap = 9
•untuk 𝑗 = 4 :
𝐷(𝑗) = 𝐷(4) = ∞ ; 𝐷(𝑘) + 𝑊(𝑘, 𝑗) =𝐷(2) + 𝑊(2,4) = 3 +
7 = 10. Oleh karena D(4) > D(2) + W(2,4), maka harga D(4) diubah
menjadi 10. Artinya untuk mencapai titik 𝑣4dari 𝑣1, jalur melalui 𝑣2,
•𝐷(2) = 𝑊(1,2) = 3
•𝐷(3) = 𝑊(1,3) = 9
•𝐷(4) = 𝑊(1,4) = ∞
•𝐷(5) = 𝑊(1,5) = ∞
•𝐷(6) = 𝑊(1,6) = ∞
•𝐷(7) = 𝑊(1,7) = ∞
12
17
yaitu 𝑣1 𝑣2 𝑣4(𝐷(2) + 𝑊(2,4)) memiliki bobot lebih kecil
dibandingkan jalur langsung 𝑣1𝑣4 (D(4)).
•untuk 𝑗 = 6
𝐷(𝑗) = 𝐷(6) = ∞ ; 𝐷(𝑘) + 𝑊(𝑘, 𝑗) = 𝐷(2) + 𝑊(2,6) = 3 +
∞ = ∞. Oleh karena 𝐷(6) > 𝐷(2) + 𝑊(2,6) maka harga D(6)
tetap seperti sebelumnya, yaitu ∞.
•untuk 𝑗 = 7
𝐷(𝑗) = 𝐷(7) = ∞ ; 𝐷(𝑘) + 𝑊(𝑘, 𝑗) = 𝐷(2) + 𝑊(2,7) = 3 +
∞ = ∞. Oleh karena 𝐷(7) > 𝐷(2) + 𝑊(2,7) maka harga D(7)
tetap seperti sebelumnya, yaitu ∞.
Langkah tersebut diulang-ulang terus hingga 𝑣7 ∈ 𝐿
Oleh karena 𝑣𝑛 = 𝑣7 ∈ 𝐿 , maka iterasi dihentikan. Path terendek dari
𝑣1 𝑘𝑒 𝑣7adalah 15 dengan jalur yang dibaca mundur sebagai berikut :
Pada titik terakhir (𝑣7) diperoleh penurunan jarak, yaitu dari 17 ke 15 maka
titik yang terpilih pada indeks 𝑘 = 4 inerupakan jalur path terpendek.
Pada iterasi dengan indeks 𝑘 = 6, diperoleh penurunan jarak pada kolom
𝐷(7) dari 17 ke 15. Itu berarti titik yang terpilih pada baris tersebut (𝑣6)
adalah jalur path (jalur𝑣6 → 𝑣7).
Berikutnya, pada kolom 𝐷[6] diperoleh penurunan jarak dari 13 ke 11. Itu
berarti titik pada indeks 𝑘 = 4, 𝑣4 adalah jalur path (jalur𝑣4 → 𝑣6 → 𝑣7).
Pada kolom 𝐷[4] tidak terjadi penurunan jarak (dari 9 tetap 9). Itu berarti
bahwa titik pada indeks 𝑘 = 3 (𝑣3) bukan jalur path. Naik 1 baris di atasnya,
terjadi penurunan jarak dari 10 𝑘𝑒 9, yaitu pada baris yang sesuai dengan
indeks 𝑘 = 5. Jadi, 𝑣5 adalah jalur path (jalur adalah 𝑣5 → 𝑣4 → 𝑣6 → 𝑣7).
Pada kolom 𝐷[5] terjadi penurunan jarak dari ∞ ke 4. Baris tersebut sesuai
dengan indeks 𝑘 = 2. Jadi, 𝑣2 adalah jalur path (jalur 𝑣2 → 𝑣5 → 𝑣4 → 𝑣6 →
𝑣7). Jadi, path terpendek adalah𝑣1 → 𝑣2 → 𝑣5 → 𝑣4 → 𝑣6 → 𝑣7 dengan total
panjang = 15. Hasil akhir dari algoritrna Dijkstra adalah path terpendek dari
13
18
titik 𝑣1 sernua titik lain. Untuk Mencari path terpendek dari semua titik,
algoritrna Dijkstra dapat diulang-ulang sebanyak 𝑛 kali yang dimulai dari
semua titik.
2.5.Python
Python merupakan bahasa pemrograman yang bersifat object-oriented.
Python dapat digunakan untuk membuat software aplikasi dalam bidang sains
dan teknik dengan efisien dan elegan.
Python memiliki kelebihan lain yang sangat penting dibanding bahasa
pemrograman yang terdahulu:
a.Python merupakan open-source software, yang artinya ia dapat diperoleh
secara gratis. Bahkan python sudah otomatis terinstall di Linux.
b.Python tersedia pada semua operating systems(OS) terkenal seperti Linux,
Unix, Win-dows, dan MacOS. Suatu script python yang ditulis pada OS
tertentu, dapat dijalankan di OS lain tapa ada modifikasi sedikitpun
c.Python lebih mudah dipelajari sekaligus lebih mudah "‘dibaca"’
dibandingkan dengan bahasa pemrograman lainnya.
d.Python dan program ekstensinya mudah diinstall.
e.Python berdiri di atas landasan pondasi Java and C++. Hal-hal
seperticlasses,methods,inheritance, yang kerapkali diimplementasikan
pada bahasa yang bersifatobject-oriented, juga dapat diimplementasikan
di python.
2.6.Penelitian Yang Relevan
Penelitian mengenai pencarian jalur terpendek menggunakan algoritma
Floyd-Warshall pernah dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya dengan
berbagai permasalahan yang berbeda. Ningrum, Friska dan Andrasto (2016)
dalam penelitiannya membahas mengenai penerapan algoritma Floyd-
Warshall dalam menentukan rute terpendek pada pemodelan jaringan wisata di
kota semarang. Metode pengumpulan data yang digunkan dalam penelitian ini
6
BAB II
LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan mengenai graf dan istilah-istilah yang digunakan
dalam graf, matrik, representasi graf dalam matriks, cara kerja Algoritma Floyd-
Warshall untuk menentukan rute terpendek, serta kerangka pikiran dalam penelitian
ini
2.1.Graf
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai istilah-istilah yang digunakan
dalam graf serta dijelaskan mengenai jenis-jenis graf jika digolongkan
berdasarkan kriteria tertentu.
Definisi 2.1.1. (Munir, 2010:356)
Diberikan suatu himpunan tak kosong 𝑉 = { 𝑣1, 𝑣2, 𝑣3 ⋯𝑣𝑛} merupakan
himpunan titik dan 𝐸 = { 𝑒1, 𝑒2, 𝑒3 ⋯𝑒𝑛} merupakan himpunan sisi yang
menghubungkan sepasang titik. Suatu Graf 𝐺 didefinisikan sebagai pasangan
himpunan (𝑉, 𝐸) dengan notasi 𝐺 = (𝑉, 𝐸) merupakan himpunan tak kosong.
Contoh 2.1.1
Gambar 2.1.1 merupakan gambar graf G(V,E), A, B, Cdan Dmerupakan
himpunan titik pada graf G sedangkan e1, e2, e3 dan e4 merupakan himpunan sisi
pada graf.
e4
e3
e2
e1
D
C
B
A
Gambar 2.1.1 Graf G
• G
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 13
SLIDE
Similar Resources on Wayground
8 questions
Transformasi 1
Presentation
•
9th Grade
10 questions
Bangun Ruang Sisi Lengkung
Presentation
•
9th Grade
10 questions
UKURAN PEMUSATAN DATA
Presentation
•
7th - 9th Grade
10 questions
Luas Permukaan BRSD
Presentation
•
8th Grade
11 questions
Materi Koordinat Kartesius
Presentation
•
8th Grade
7 questions
Sistem Koordinat Kartesius kelas 8
Presentation
•
8th Grade
9 questions
simetri putaran
Presentation
•
8th - 9th Grade
12 questions
Koordinat Kartesius
Presentation
•
8th Grade
Popular Resources on Wayground
28 questions
US History Regents Review
Quiz
•
11th Grade
36 questions
Biology Regents Review
Quiz
•
9th - 10th Grade
20 questions
Math Review
Quiz
•
3rd Grade
38 questions
Regents Life Science General Review
Quiz
•
9th Grade
20 questions
Math Review
Quiz
•
6th Grade
21 questions
EOY Grade 6 Benchmark Assessment - Content Skills
Quiz
•
6th Grade
20 questions
Inferences
Quiz
•
4th Grade
20 questions
Figurative Language Review
Quiz
•
6th Grade
Discover more resources for Mathematics
20 questions
summer trivia
Quiz
•
8th Grade
20 questions
Adjacent, Vertical, Complementary, Supplementary Angles
Quiz
•
8th Grade
51 questions
Alg 1 MP4 Quarterly Practice
Quiz
•
8th Grade
36 questions
WMS Pre-algebra Final Review
Quiz
•
8th - 9th Grade
60 questions
Math 8 Final Review (Class Review)
Quiz
•
8th Grade
55 questions
8th Grade Math Review
Quiz
•
8th Grade
22 questions
Linear, Quadratic or Exponential Functions
Quiz
•
7th - 9th Grade
10 questions
Key Features of Quadratic Functions
Interactive video
•
8th - 12th Grade