Search Header Logo
Plato, Aristoteles, dan Rene Descartes

Plato, Aristoteles, dan Rene Descartes

Assessment

Presentation

Education

University

Practice Problem

Hard

Created by

uswah hasanah

Used 1+ times

FREE Resource

18 Slides • 0 Questions

1

media

FILSAFAT UMUM

2

media

Plato (lahir sekitar 427 SM - meninggal sekitar 347

SM) seorang filsuf dan matematikawan Yunani,
secara spesifik dari Athena. Dilihat dari perspektif
sejarah filsafat, Plato digolongkan sebagai
filsuf Yunani Kuno. Ia adalah penulis philosophical
dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di
Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia
barat.[2]

Plato colli and makkenda diyakini sebagai seorang

filsuf yang berperan besar dalam perkembangan
filsafat Yunani Kuno dan filsafat barat secara umum.
Sumbangsih yang besar juga diberikan oleh guru
Plato, yakni Sokrates , dan murid Plato,
yakni Aristoteles.[2]Selain sebagai filsuf, Plato juga
dikenal sebagai salah satu peletak dasar agama-
agama barat dan spiritualitas.[3]

ADD A FOOTER

2

3

media

KEADILAN?

Menurut Plato, keadilan memiliki

pengertian bahwa seseorang
membatasi dirinya pada kerja dan
tempat dalam hidup yang sesuai
dengan bidangnya atau dengan kata
lain bekerja sesuai dengan
kemampuannya.

ADD A FOOTER

3

4

media

NEGARA?

pemikiran Plato mengenai negara yang

ideal adalah negara yang menganut
prinsip kebajikan (virtue). Kebajikan
dalam hal ini adalah pengetahuan. Atas
dasar ini Plato melihat pentingnya
lembaga pendidikan bagi kehidupan
kenegaraan. Negara yang mengabaikan
prinsip kebajikan jauh dari negara yang
didambakan manusia.

ADD A FOOTER

4

5

media

PEMIMPIN?

Plato berpendapat bahwa yang

berhak menjadi seorang penguasa
adalah seorang fisuf (the philosopher
king) atau orang yang
berpengetahuan. Ia amat
mengedepankan pentingnya
pengetahuan bagi seorang
penguasa, karena menurutnya
pengetahuan berkorelasi dengan
kebajikan.

ADD A FOOTER

5

6

media

PEMBAGIAN KERJA

Plato membagi tiga jenis kelas

dengan berdasarkan fungsi, yakni :
kelas penguasa (yang mengetahui
segala sesuatu), kelas pejuang atau
pembantu penguasa (yang penuh
semangat) dan kelas pekerja (yang
lebih mengutamakan keinginan dan
nafsu).

ADD A FOOTER

6

7

media

Stratifikasi kelas yang dibuat oleh Plato tidak bersifat kasta, yang

pengelompokannya berdasarkan keturunan atau biologis. Plato

menginginkan sebuah masyarakat di mana setiap anak diberikan

latihan dan pendidikan yang sesuai dengan kekuatannya, di mana

kepada setiap individu diberikan kesempatan untuk menduduki

jabatan yang setingi-tingginya sesuai dengan kecakapan, pendidikan

dan pengalamannya.

ADD A FOOTER

7

8

media

Aristoteles merupakan murid dari Plato. Ia berguru

kepada Plato ketika usianya 18 tahun dan belajar
hingga 20 tahun lamanya.

Setelah Plato meninggal, ia meninggalkan Athena

dan melakukan pengembaraan ke Asia Kecil,
kemudian ke Macedonia dan akhirnya menjadi guru
dari Iskandar Agung.

Tulisan Aristoteles tidak hanya mengenai politik,

tetapi juga ekonomi, etika, metafisika, teologi dan
fisika. Meskipun murid dari Plato, namun pemikiran
Aristoteles berbeda jauh dengan Plato

ADD A FOOTER

8

9

media

zoon politikon

Aristoteles melihat bahwa manusia

adalah makhluk politik (zoon politikon),
artinya bahwa manusia adalah makhluk
masyarakat atau makhluk negara yang
mencapai kesempurnaannya hanya
dalam masyarakat atau negara.
Sehingga orang yang tidak memerlukan
masyarakat atau negara, dianggapnya
bukan manusia, tetapi seperti hewan
atau dewa. Tujuan didirikannya negara
juga untuk kebaikan diri manusia.

ADD A FOOTER

9

10

media

Pemimpin

Ia menolak konsepsi Plato yang melihat
bahwa pemimpin-pemimpin yang bijaksana
dapat menggantikan kedaulatan hukum.
Menurut Aristoteles, sebesar apapun
kebijaksanaan seorang pemimpin tidak akan
mampu menggantikan hukum. Oleh
karenanya pemerintahan yang berdasarkan
hukum (berkonstitusi) harus memiliki tiga
unsur, yakni pertama, pemerintahan untuk
kepentingan umum. Kedua, pemerintahan
yang berdasarkan hukum dijalankan
berdasarkan ketentuan umum, bukan
berdasarkan peraturan-peraturan yang
sewenang. Ketiga, pemerintahan berkonstitusi
merupakan pemerintah yang terpilih oleh
masyarakatnya.

10

11

media

Negara

Bentuk negara yang ideal menurut

Aristoteles adalah oligarki, yakni
pemerintahan orang-orang tertentu
berdasarkan harta, darah atau turunan,
kedudukan, pendidikan dan sebagainya
(yang berdasarkan pada kualitas, mutu),
dengan bentuk demokrasi, yakni
pemerintahan berdasarkan orang banyak
(yang berdasarkan pada kuantitas).

ADD A FOOTER

11

12

media

Fungsi Negara

Aristoteles membagi fungsi negara menjadi

tiga, yakni pembahasan, administratif dan
pengadilan. Aristoteles juga melihat bahwa
hukum harus diletakkan di atas segalanya.
Konstitusi (negara) hanya ada, apapun bentuk
pemerintahannya, jika hukum berkuasa.
Hukum juga berlaku bagi seorang penguasa,
oleh karena itu penguasa yang baik adalah
yang seseorang yang tahu dan juga tunduk
pada hukum.

ADD A FOOTER

12

13

media

Perbudakan

Meskipun pemikiran Aristoteles

mengagungkan demokrasi, akan tetapi ada
satu pemikirannya yang bertentangan dengan
konsepsi umum demokrasi yakni perbudakan.
Aristoteles sama sekali tidak melarang
adanya perbudakan, ia bahkan melihat bahwa
perbudakan adalah suatu hal yang lumrah
dan bahkan menurutnya fitrah manusia.
Sebab ada orang yang dilahirkan untuk
berkuasa dan ada pula yang lahir untuk
dikuasai.

ADD A FOOTER

13

14

media

René Descartes (31 Maret 1596 – 11 Februari 1650),
juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam
literatur berbahasa Latin, merupakan
seorang filsuf dan matematikawan Prancis. Karyanya
yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637)

dan Meditationes de prima Philosophia (1641).

ADD A FOOTER

14

15

media

3 pengetahuan dapat diragukan,
yaitu:
Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan.

Contoh: memasukkan kayu lurus ke dalam air, kayu tersebut tampak
bengkok.

Fakta umum tentang dunia. Contoh: api itu panas, benda yang berat akan

jatuh juga dapat diragukan. Descartes menyatakan bagaimana jika kita
mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari sana kita mendapatkan
pengetahuan umum tersebut.

Logika dan matematika, prinsip-prinsip logika dan matematika juga dapat

diragukan. Contoh: bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa
memasukkan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam
suatu matriks.

Berdasarkan keraguan tersebut, Descartes mengeluarkan pendapat yaitu cogito
ergo sum (aku berfikir, maka aku ada).

15

16

media

Wujud Jiwa

Sesungguhnya, keraguan terhadap segala sesuatu

dalam pengetahuan kita dapat menyampaikan kita
kepada sebuah kebenaran yang tidak diragukan.
Maka, manakala aku meragukan bahwa aku sedang
melakukan kerja berpikir dan kerja berpikir ini mesti
ada supaya aku bisa berpikir. Begitulah descartes
mengucapkan ungkapan terkenalnya cogito ergo
sum (aku berpikir, maka aku ada). Disini kita melihat
bahwa descartes menetapkan wujud jiwa dan bukan
badan, karena descartes berbicara tentang zat yang
berpikir, bukan badan yang dapat diindera.

16

17

media

Bukti adanya Tuhan

Rene Descartes mencoba membuktikan eksistensi tuhan (Allah) dengan tiga

bukti. Bukti pertama, disini Descartes meminjam metode keraguan, dengan
urutan sebagai berikut:

Keraguan adalah bukti bahwa manusia menyadari bahwa dirinya bersifat

kurang dan terbatas.

Manusia tidak akan menyadari kekurangan yang ada pada dirinya kecuali jika

ia memiliki ide (konsep) tentang “kesempurnaan) dan ide (konsep) tentang
“eksistensi yang betul-betul sempurna”.

• Konsep tentang “kesempurnaan” mampu diwujudkan oleh manusia dalam

dirinya, karena dirinya adalah eksistensi yang bersifat kurang dan sesuatu
yang kurang tidak bisa menjadi sumber dari sesuatu yang sempurna.

• Konsep tentang kesempurnaan diletakkan dalam jiwa kita oleh suatu

eksistensi yang sungguh sempurna, yaitu allah.

17

18

media

Prinsip Logika

Tidak menerima sesuatu apa pun sebagai kebenaran, kecuali bila

saya melihat bahwa hal itu sungguh-sungguh jelas dan tegas,
sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu
merobohkannya.

Pecahkanlah setiap kesulitan atau masalah itu sebanyak mungkin

bagian, sehingga tidak ada suatu keraguan apa pun yang mampu
merobohkannya.

Bimbinglah pikiran dengan teratur, dengan memulai dari hal yang

sederhana dan mudah diketahui, kemudian secara bertahap sampai
pada yang paling sulit dan kompleks.

Dalam proses pencarian dan penelaahan hal-hal sulit, selamanya

harus dibuat perhitungan-perhitungan yang sempurna serta
pertimbangan-pertimbangan yang menyeluruh, sehingga kita
menjadi yakin bahwa tidak ada satu pun yang terabaikan atau
ketinggalan dalam penjelajahan itu.

18

media

FILSAFAT UMUM

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 18

SLIDE