Search Header Logo
Falsafah Batang Garing Dalam Simbol Dayak Kal-Teng

Falsafah Batang Garing Dalam Simbol Dayak Kal-Teng

Assessment

Presentation

Education

10th Grade

Practice Problem

Hard

Created by

rospala hanisah

FREE Resource

28 Slides • 0 Questions

1

media

2

media

BAB I

BATANG GARING

3

media

Fase

: E

Sarana dan Prasarana

4

media

?

1.

2.

3.

4.

5

media

Kegiatan Pendahuluan

1.

2.

3.

4.

5.

6

media

JENIS ASESMEN

Asesmen diagnostic Kognitif

Asesmen Formatif

Asesmen Sumatif

BENTUK ASESMEN

Sikap (profil pelajar Pancasila) : Observasi Guru

Tertulis

: Soal Latihan

Perfrom

: Prestasi

REMEDIAL

PENGAYAAN

1.

2.

3.

4.

7

media

masyarakat suku Dayak Kalimantan Tengah:

pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan,

atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Tradisi: adat kebiasaan

moyang) yang masih

.

Formatif : Menuliskan

yang berkaitan dengan Falsafah Batang Garing suku Dayak

Kalimantan Tengah.

dan mengisi titik-titik.

8

media

Suku Dayak, khususnya Dayak Kalimantan tengah memiliki cara yang unik dalam

memandang alam dan lingkungan. Alam digambarkan dalam bentuk simbol-simbol yang

masih diyakini hingga saat ini. Salah satu simbol tersebut adalah Batang Garing atau Batang

Haring yang diartikan sebagai Pohon Kehidupan yang merupakan lambang keseimbangan

antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.

GambarSimbol Batang Garing

Simbol ini menggambarkan asal usul penciptaan manusia dan alam semesta. Gambar

burung Tingang (Enggang) sebagai simbol penguasa dunia atas dan gambar Tambun (Naga)

adalah simbol penguasa dunia bawah. Bagian dari pohon Batang Garing yang berbentuk

9

media

tombak dan mengarah ke atas menggambarkan Ranying Mahatala Langit sebagai sumber

kehidupan. Gambar guci berisi air dan dahan yang berlekuk di bagian bawah pohon

menggambarkan Jata atau dunia bawah. Daun-daun yang ada di pohon Batang Garing

menggambarkan ekor Burung Enggang. Setiap dahan memiliki tiga buah yang menghadap ke

atas dan bawah, menggambarkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja

Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja bunu atau buno. Buah tersebut dijadikan

pengingat agar selalu menghargai antar sesama manusia. Batang Garing dipahami oleh suku

Dayak Ngaju sebagai klasifikasi tingkatan alam; alam atas, bumi dan alam bawah (air)

(Salilah, 1984). Batang Garing menghubungkan antara dunia atas dan bawah, yang

diibaratkan sebagai tubuh manusia yang memiliki jantung, leher, jantung, saraf, rahim, dan

kaki (Wardani et al., 2020).

Simbol Batang Garing tidak hanya dipandang dalam dimensi vertikal, tetapi juga

dipandang sebagai dimensi horizontal yang menggambarkan kehidupan alam semesta

(kosmos) yang berkaitan dengan hidup, mati dan kelahiran. Arti dalam kehidupan tidak hanya

dipandang dari segi kesejahteraan, realitas atau objektivitas, tetapi juga dipandang melalui

keseimbangan kosmos.

Apabila kosmos/alam semesta berada pada keseimbangan dan keserasiannya, maka

kehidupa manusia dan makhluk lainnya juga akan baik.

Pemahaman tentang alam oleh suku Dayak Ngaju memberikan informasi bahwa alam

atas, bumi dan alam bawah adalah satu kesatuan. Implikasi dari pemahaman tersebut terlihat

dalam adat- istiadat mereka yang sangat menghormati dan menghargai alam lingkungan

tempat tinggal mereka. Jika ada tanda terdapat ketidak seimbangan antara manusia dengan

alam, maka suku Dayak Ngaju mengadakan upacara Manyanggar dan ritual Hinting Pali

10

media

untuk menyeimbangkan kembali hubungan manusia dengan alam. Tanda-tanda alam tersebut,

misalnya: seringnya terjadi bencana, pertikaian, gagal panen, wabah penyakit dan lain

sebagainya (Usop, 2015).

Simbol Batang Garing masih dipegang teguh oleh suku Dayak Ngaju karena didalam

falsafahnya berisi ajaran tentang mental untuk ikut bertanggungjawab, melestarikan

keberlangsungan tradisi, nilai-nilai luhur yang bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat

luas, dan instropeksi (pengendalian diri). Gambaran tentang keseimbangan dalam kehidupan

antara manusia-manusia, manusia-alam dan manusia-Tuhan tercermin dalam simbol Batang

Garing ini. Apabila salah satu unsur dalam tatanan alam semesta terganggu maka berdampak

pada ketidak seimbangan kosmos.

Hubungan antara suku Dayak Ngaju dengan lingkungan alamnya yang digambarkan

sebagai bumi, langit dan laut yang selalu melekat pada manusia. Rasa kesinambungan dengan

alam juga ditemukan dalam mitologi pohon Batang Garing (Sukiada, 2018) yang sangat

menarik karena dianggap sebagai personifikasi manusia yang secara anatomis memiliki

rambut, tangan, kaki, darah, tulang, lapisan daging, pernapasan, dan organ tubuh yang lain.

Jadi, pohon Batang Garing dianggap sebagai saudara tua karena diciptakan terlebih dahulu

sebelum manusia. Pepohonan dalam berbagai kehidupan budaya Dayak diyakini memiliki

kekuatan sebagai pemberi petunjuk kehidupan, pemberi naungan, pemberi perlindungan.

Menurut pandangan orang Dayak Ngaju, pohon disamakan dengan manusia, sehingga hutan

yang terdiri dari berbagai macam pohon menjadi satu ikatan yang tidak dapat dilepaskan.

Manusia dan hutan adalah dua subjek dengan kapasitasnya masing-masing.

11

media

Manusia tidak hanya diposisikan pada level subjek saja, terutama dalam

memperlakukan hutannya, tetapi alam juga dapat menjadi subjek yang mempengaruhi

perilaku manusia di sekitarnya (Misrita & Elbaar, 2019).

12

media

BAB II

FALSAFAH BATANG GARING

PADA MASYARAKAT DAYAK

KALIMANTAN TENGAH

13

media

Pohon, dalam

suku Dayak dianggap

sebagai sumber

kehidupan dan

dilambangkan sebagai

pohon kehidupan atau

Batang Garing (Santosa

& Djamari, 2015).

Batang Garing memiliki

arti sebagai simbol

keseimbangan manusia-

alam dan manusia-

manusia, serta Tuhan-

manusia (Amin & Ripot,

2017).

Hubungan antara masyarakat Dayak Ngaju dengan bumi/ tanah dan hutan/pohon

sangat kuat dan terungkap dalam sistem adat Dayak. Dalam sistem adat tersebut ada

ungkapan rasa syukur kepada bumi dan hutan agar tidak kehilangan dayanya yang berdampak

pada kerusakan manusia. Apabila manusia merusak alam, maka Hatala Ranying (Tuhan)

akan murka yang ditunjukkan dengan adanya peristiwa bencana yang mengganggu kehidupan

manusia seperti banjir, kemarau panjang, wabah penyakit, dan terbatasnya sumber makanan

pokok. Kepercayaan tersebut memiliki nilai moral bahwa manusia harus menghargai alam,

tidak merusak dan melakukan eksploitasi sesuai kebutuhan saja serta melakukan pelestarian

14

media

alam. Menurut kepercayaan suku Dayak Ngaju, apabila alam dirusak, maka kerusakan

tersebut merupakan awal munculnya malapetaka karena Hatala Ranying (Tuhan) yang murka

tidak dapat dibatalkan oleh manusia. Konsekuensi dari kepercayaan adat tersebut dianggap

netral terhadap konservasi alam tetapi sampai batas tertentu konsep tersebut dapat

meningkatkan kesadaran untuk melindungi alam. Hal ini dikarenakan hutan, bumi, sungai dan

seluruh lingkungannya adalah bagian dari kehidupan.

15

media

BAB III

NILAI-NILAI
YANG TERKANDUNG
DALAM SIMBOL BATANG GARING
SUKU DAYAK

16

media

Alam dan manusia memiliki hubungan timbal balik, selama ini kita memahami

hubungan tersebut hanya sebagai subjek dan objek. Alam dengan segala isinya dianggap

sebagai suatu objek seperti hutan yang dapat dimanfaatkan sesuai keinginan manusia

sebagai subjeknya.

Manusia mengeksploitasi hutan hanya untuk kepentingan ekonomi. Pemahaman

terhadap hubungan antara manusia dengan alam yang hanya sebagai subjek dan objek

semacam ini tidak dapat dipertahankan lagi. Seperti yang telah terbukti banyak

17

media

mendatangkan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Untuk memahami

pentingnya alam dan hubungannya dengan manusia, dapat dikaji melalui kearifan lokal

suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.

Suku Dayak Ngaju memiliki peran penting dalam mengola ekosistem. Bagi

masyarakat Dayak keberadaan sungai, tanah, dan hutan menjadi ciri khas dari etnis tersebut.

Hal ini juga berlaku dalam sistem pertanian ladang berpindah di kawasan hutan tempat

mereka tinggal. Dalam sistem ladang berpindah, terdapat pola yang terstruktur dimulai dari

mengelompokkan hutan alam, hutan buatan, lahan kosong dan ladang berdasarkan kondisi

ekologi dan topografinya (Widen, 2017). Suku Dayak asli pada umumnya menganut aliran

konservasionis, mereka menyusun strategi untuk keberlanjutan keanekaragaman hayati dan

konservasi lingkungan untuk mempertahankan kebutuhan hidup yang berkelanjutan.

Hutan, dalam sudut pandang suku Dayak Ngaju memiliki ikatan yang tidak bisa

dilepaskan karena sudah bertahun-tahun hidup di pedalaman hutan (Bella et al., 2021).

Hutan tidak lagi sebagai objek untuk dieksploitasi tetapi memiliki nilai yang lebih, tidak

seperti pandangan para kapitalis yang melihat hutan hanya sebagai alat pemenuhan

ekonomi. Hubungan antara suku Dayak Ngaju dengan alam merupakan hubungan saling

mempengaruhi yang berlangsung secara terus menerus (Cambah, 2022). Hubungan antara

Dayak dan alam dalam teori ekologi modern adalah hubungan timbal balik, dimana posisi

manusia tidak hanya berada pada level subjek, terutama dalam melestarikan hutan, tetapi

alam juga dapat menjadi subjek yang dapat mempengaruhi perilaku manusia di sekitarnya.

Sejak ribuan tahun yang lalu, masyarakat Dayak Kalimantan menggunakan pengetahuan

tradisionalnya tentang sistem ladang berpindah untuk mengelola sumber daya alam dan

keanekaragaman hayati di hutan. Pada awalnya, mereka mempelajari tentang

18

media

konsep keterbatasan sumber daya alam, dimana pemanfaatan yang berlebihan dan tidak

bijaksana akan mengurangi ketersediaan dan kelestariannya.

Pengetahuan tradisional masyarakat Dayak merupakan akumulasi dari pengetahuan

dan pemahaman manusia tentang alam semesta, termasuk hubungan spiritual dengan Yang

Maha Kuasa, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan manusia, yang tercermin dalam

bahasa, organisasi, nilai, dan sistem hukum, menjadi etika. yang mengatur perilaku suatu

masyarakat. Suku Dayak percaya bahwa sumber daya alam memiliki keterbatasan, sehingga

memerlukan konservasi, kecuali untuk jenis tertentu ketersediaan sumber daya yang melebihi

permintaan (Pirard et al., 2016).

Nilai-nilai luhur yang ada di suku Dayak Ngaju, didasarkan pada kepercayaan Hindu

Kaharingan (Sulandra, 2022). Kepercayaan Kaharingan menganggap bahwa semua benda dan

makhluk memiliki gana (roh), dan hanya ada satu Tuhan yang disebut Ranying Hatala Langit

yang menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Penciptaan manusia dan alam semesta

digambarkan dengan lambang Batang Garing (pohon kehidupan) yang di dalamnya terdapat

burung enggang sebagai lambang penguasa dunia atas dan naga sebagai lambang penguasa

alam bawah. Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah sangat menghargai dan menjaga

lingkungan alam dan sosialnya (Suswandari et al., 2022).

Nilai karakter pada simbol Batang Garing ini tentu harus kita tanamkan dalam

kehidupan kita sehari-hari, sebagai bentuk jati diri kita sebagai suku Dayak, sehingga

symbol batang garing tidak hanya sekedar symbol namun juga menjadi jati diri seseorang.

19

media

BAB IV

IMPLEMENTASI NILAI FILOSOFI
BATANG GARING DALAM
INTERAKSI SOSIAL
MASYARAKAT DAYAK
DI KOTA PALANGKA RAYA

20

media

Kepedulian masyarakat Dayak Ngaju tentang kesadaran lingkungan diwujudkan

melalui kearifan lokal simbol Batang Garing. Perilaku peduli lingkungan yang masih

dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Ngaju adalah menjaga dan melestarikan alam yang

bertujuan untuk menjaga keberlanjutan keseimbangan alam. Lingkungan alam memiliki

posisi utama yang menghubungkan antara Tuhan dan manusia. Lingkungan dan ekosistem

menjadi bagian terpenting dalam kehidupan bagi suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.

Kehidupan suku Dayak Ngaju tidak dapat dipisahkan dari alam, karena alam

memberikan sumber daya yang melimpah kepada masyarakat dan masyarakat mengolah serta

memelihara sumber daya alam tersebut untuk keberlanjutan alam dan manusia. Aspek-aspek

tersebut tidak dapat dipisahkan dari kearifan local.

Lingkungan adalah salah satu faktor terpenting dalam proses kehidupan. Lingkungan

dapat membentuk pola pikir manusia (Giusti, 2019) dan dapat mengubah cara pandang

seseorang terhadap berbagai permasalahan (Cummins, 2000). Lingkungan mampu

membentuk manusia, dan manusia juga dapat membentuk lingkungan. Lingkungan

menentukan kelangsungan hidup manusia. Lingkungan menjadi tempat untuk berinteraksi dan

belajar. Manusia mengenal berbagai bahasa, budaya, dan kondisi alam yang dapat

meningkatkan kecerdasan ekologis melalui lingkungannya.

Lingkungan memiliki hubungan timbal balik dengan makhluk hidup yang ada di

dalamnya. Ketika lingkungan semakin buruk, itu juga berdampak negatif pada kualitas

hidup masyarakat (Ramli et al., 2022). Manusia memiliki peran dalam pemanfaatan dan

perubahan lingkungan. Pelestarian lingkungan sangat diperlukan baik secara individu

21

media

maupun secara kelompok, hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan daya dukung

lingkungan baik secara kualitas maupun kuantitas. Kondisi bumi saat ini semakin rapuh jika

dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan masalah lingkungan

yang dihadapi oleh manusia dan makhluk hidup lainnya yang hidup di bumi (Paradewari et

al., 2018).

Salah satu faktor penyebab masalah lingkungan adalah rendahnya kesadaran

terhadap lingkungan. Individu yang kurang berempati terhadap lingkungan akan menghasilkan

perilaku dan sikap yang dapat merusak lingkungan (Riyanto, 2020). Perilaku membuang

sampah sembarangan merupakan wujud dari rendahnya karakter kepedulian lingkungan

(Manikam et al., 2019). Peduli lingkungan adalah salah satu karakter yang menunjukkan

sikap manusia dalam menjaga dan peduli terhadap lingkungannya dalam kehidupan sehari

hari serta mengembangkan usaha untuk memperbaiki kerusakan lingkungan hidup yang

terjadi. Dengan demikian, karakter peduli lingkungan merupakan suatu sikap yang dimiliki

oleh seseorang yang berusaha untuk memperbaiki dan mengelola lingkungannya dengan

benar sehingga sumber daya lingkungan dapat dinikmati secara berkelanjutan tanpa merusak

keadaannya, serta menjaga dan melestarikan sehingga ada manfaat yang berkesinambungan

(Purwanti, 2017). Nilai karakter peduli lingkungan dalam pendidikan memiliki tujuan agar

peserta didik mempunyai pengetahuan dan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai

peran terhadap lingkungan di sekitarnya dan dapat menciptakan perubahan.

Pendidikan merupakan salah satu media yang tepat untuk membekali siswa dengan

memberikan pemahaman bahwa manusia memiliki peran penting dalam keseimbangan

lingkungan. Krisis ekologi yang terjadi saat ini hanya dapat diselesaikan dengan merubah

sudut pandang dan perilaku manusia ke arah yang mendasar. Salah satu cara mengubah

22

media

perilaku adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan media utama dalam membangun

kepribadian siswa, serta kecerdasan manusia agar menjadi lebih baik. Perwujudan

memanusiakan manusia agar berkarakter adalah dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian.

lingkungan kepada siswa (Fua et al., 2018). Faktor yang dapat mendorong untuk

mewujudkan karakter peduli lingkungan salah satunya dengan menanamkan pendidikan

lingkungan sejak dini. Penanaman karakter memiliki tujuan agar dalam diri setiap individu

terbentuk karakter yang berpartisipasi aktif dalam melestarikan lingkungan (Masruroh, 2018).

Individu yang sudah memiliki karakter peduli lingkungan yang kuat pada akhirnya dapat

mempengaruhi individu lain untuk peduli pada masalah lingkungan, karena keberlangsungan

lingkungan adalah tanggung jawab setiap manusia.

23

media

BAB V

KESIMPULAN

24

media

Simbol Batang Garing dapat

digunakan sebagai media dan sumber belajar

dalam proses pembelajaran untuk

membangun kecerdasan ekologis. Sebagai

bahan pengajaran, guru perlu memodifikasi

atau menambah bahan ajar yang sudah ada

dengan bahan ajar berbasis kontekstual yang

sesuai dengan budaya Kalimantan guna

meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa

dalam pembelajaran yang sedang berlangsung

sehingga dapat memicu siswa untuk mencapai

hasil belajar yang memuaskan. Peduli

lingkungan merupakan salah satu bagian dari

rumusan pendidikan karakter yang dapat

dibentuk melalui penanaman nilai- nilai

kearifan lokal.

Penanaman karakter peduli lingkungan berdasarkan simbol Batang Garing dapat

diinternalisasikan sebagai penyatuan nilai-nilai dalam diri seseorang dengan menyesuaikan

keyakinan,

sikap,

praktik

dan

aturan-aturan.

Karakter

peduli

lingkungan

yang

diinternalisasikan adalah nilai yang sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di

masyarakat untuk membentuk perilaku peduli lingkungan.

Unsur budaya lokal cocok dimasukkan dalam proses pembelajaran khususnya bagi siswa

sekolah menengah pertama dengan tujuan untuk memudahkan pemahaman siswa dalam

25

media

melihat realita yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, simbol batang garing

sebagai sumber belajar peduli lingkungan dapat dimasukkan sebagai konten dalam bahan ajar

kurikulum merdeka.

26

media

Daftar Pustaka

27

media

Abbas, E. W., Rusmaniah, R., Mutiani, M., Putra, M. A. H., & Jumriani, J. (2022). Integration of

River Tourism Content in Social Studies Teaching Materials as an Efforts to Strengthen

Student Understanding. The Innovation of Social Studies Journal, 4(1), 11-33.

Bella, R., Stevaby, S., Gujali, A. I., Dewi, R. S., Lion, E., & Mustika, M. (2021). Sistem

Masyarakat dan Cerita Pendek “Menari Di Puncak Beringin’” Karya Budi Dayak

Kurniawan. UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa Dan Sastra, 15(2), 135.

https://doi.org/10.26499/und.v15i2.1747 Kewarganegaraan, 5(2),

Cummins, D. D. (2000). How the social environment shaped the evolution of mind. Synthese,

122(1), 3–28.

Giusti, M. (2019). Human-nature relationships in context. Experiential, psychological, and

contextual dimensions shape children’s desire to protect nature. PloS One, 14(12),

e0225951.

Gunawan, R. (2011). Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Alfabeta.

Kresandini, A. (2016). Estetika Batang Garing dalam Karya Perhiasan (Doctoral dissertation,

Institut Seni Indonesia Yogyakarta).

Mutiani, M. (2022). Kajian Empirik Pendidikan dalam Latar Peristiwa Masyarakat Tradisional,

Modern, dan Era Globalisasi.

Nadia, N., Syaharuddin, S., Jumriani, J., Putra, M. A. H., & Rusmaniah, R. (2022).

Identification of The Process for Establishing Tourism Awareness Group (Pokdarwis)

Kampung Banjar. The Kalimantan Social Studies Journal, 3(2), 116-125.

Nasution, S. (2009).Kurikulum dan Pengajaran. Bumi Aksara.

Organisasi Suku Dayak Ngaju (Studi Kasus di Desa Mandomai Kalimantan Tengah).

Jurnal PAKIS (Publikasi Berkala Pendidikan Ilmu Sosial), 2(2). PT. Tiara Wacana.

Putra, M. A. H., Handy, M. R. N., Subiyakto, B., Rusmaniah, R., & Norhayati, N. (2022).

Identifikasi Nilai Budaya Masyarakat Sungai Jelai Basirih Selatan Sebagai Sumber

Belajar IPS.

Riwut, Tjilik.1993. Kalimantan Membangun

Alam Dan Kebudayaan. Yogyakarta :

Rusmaniah, R., Nugroho, D. A., Indriyani, P. D., & Putra, M. A. H. (2022). Partisipasi Perajin

Dalam

28

media

Pengembangan Seni Kerajinan Anyaman di Kampung Purun Berbasis Kearifan Lokal.

PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, 8(1), 1-10. Society and Culture (pp.

273–282). Springer.

Titaley, J. A., & Samiyono, D. (2017). Batang Garing: Study tentang Sejarah dan Makna Simbol

Batang Garing dalam Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (Doctoral

dissertation, Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW).

Usop, T. B. (2021). Peran Kearifan Lokal Masyarakat Dayak dalam Mengembangkan Batik

Benang Bintik di Kalimantan Tengah. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(3), 405–413.

Widen, K. (2017). The Rise of Dayak Identities in Central Kalimantan. In Borneo Studies in

History, Wijanarti, T. (2019). Masyarakat Dayak dan Alam: Sebuah Pembacaan Ekokritik Sastra

Terhadap Wurdianto, K., Norsandi, D., & Fitriana, E. (2022). Etnopedagogi Batang Garing

Suku Dayak Ngaju

sebagai Nilai Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan. Scaffolding: Jurnal Pendidikan

Islam dan Multikulturalisme, 4(3), 45-64.

Yuliana, Y. (2022, September). KONSTRUKSI SOSIOLOGIS TENTANG BATANG

GARING SEBAGAI JIWA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN, KALIMANTAN

TENGAH. In PROSIDING SEMINAR NASIONAL UNIVERSITAS PGRI PALANGKA

RAYA (Vol. 1, pp. 253-268).

media

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 28

SLIDE