
Falsafah Batang Garing Dalam Simbol Dayak Kal-Teng
Presentation
•
Education
•
10th Grade
•
Practice Problem
•
Hard
rospala hanisah
FREE Resource
28 Slides • 0 Questions
1
2
BAB I
BATANG GARING
3
Fase
: E
Sarana dan Prasarana
4
?
1.
2.
3.
4.
5
Kegiatan Pendahuluan
1.
2.
3.
4.
5.
6
JENIS ASESMEN
Asesmen diagnostic Kognitif
Asesmen Formatif
Asesmen Sumatif
BENTUK ASESMEN
Sikap (profil pelajar Pancasila) : Observasi Guru
Tertulis
: Soal Latihan
Perfrom
: Prestasi
REMEDIAL
PENGAYAAN
1.
2.
3.
4.
7
masyarakat suku Dayak Kalimantan Tengah:
pendirian, pendapat, pandangan, kepercayaan,
atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Tradisi: adat kebiasaan
moyang) yang masih
.
Formatif : Menuliskan
yang berkaitan dengan Falsafah Batang Garing suku Dayak
Kalimantan Tengah.
dan mengisi titik-titik.
8
Suku Dayak, khususnya Dayak Kalimantan tengah memiliki cara yang unik dalam
memandang alam dan lingkungan. Alam digambarkan dalam bentuk simbol-simbol yang
masih diyakini hingga saat ini. Salah satu simbol tersebut adalah Batang Garing atau Batang
Haring yang diartikan sebagai Pohon Kehidupan yang merupakan lambang keseimbangan
antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.
GambarSimbol Batang Garing
Simbol ini menggambarkan asal usul penciptaan manusia dan alam semesta. Gambar
burung Tingang (Enggang) sebagai simbol penguasa dunia atas dan gambar Tambun (Naga)
adalah simbol penguasa dunia bawah. Bagian dari pohon Batang Garing yang berbentuk
9
tombak dan mengarah ke atas menggambarkan Ranying Mahatala Langit sebagai sumber
kehidupan. Gambar guci berisi air dan dahan yang berlekuk di bagian bawah pohon
menggambarkan Jata atau dunia bawah. Daun-daun yang ada di pohon Batang Garing
menggambarkan ekor Burung Enggang. Setiap dahan memiliki tiga buah yang menghadap ke
atas dan bawah, menggambarkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja
Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja bunu atau buno. Buah tersebut dijadikan
pengingat agar selalu menghargai antar sesama manusia. Batang Garing dipahami oleh suku
Dayak Ngaju sebagai klasifikasi tingkatan alam; alam atas, bumi dan alam bawah (air)
(Salilah, 1984). Batang Garing menghubungkan antara dunia atas dan bawah, yang
diibaratkan sebagai tubuh manusia yang memiliki jantung, leher, jantung, saraf, rahim, dan
kaki (Wardani et al., 2020).
Simbol Batang Garing tidak hanya dipandang dalam dimensi vertikal, tetapi juga
dipandang sebagai dimensi horizontal yang menggambarkan kehidupan alam semesta
(kosmos) yang berkaitan dengan hidup, mati dan kelahiran. Arti dalam kehidupan tidak hanya
dipandang dari segi kesejahteraan, realitas atau objektivitas, tetapi juga dipandang melalui
keseimbangan kosmos.
Apabila kosmos/alam semesta berada pada keseimbangan dan keserasiannya, maka
kehidupa manusia dan makhluk lainnya juga akan baik.
Pemahaman tentang alam oleh suku Dayak Ngaju memberikan informasi bahwa alam
atas, bumi dan alam bawah adalah satu kesatuan. Implikasi dari pemahaman tersebut terlihat
dalam adat- istiadat mereka yang sangat menghormati dan menghargai alam lingkungan
tempat tinggal mereka. Jika ada tanda terdapat ketidak seimbangan antara manusia dengan
alam, maka suku Dayak Ngaju mengadakan upacara Manyanggar dan ritual Hinting Pali
10
untuk menyeimbangkan kembali hubungan manusia dengan alam. Tanda-tanda alam tersebut,
misalnya: seringnya terjadi bencana, pertikaian, gagal panen, wabah penyakit dan lain
sebagainya (Usop, 2015).
Simbol Batang Garing masih dipegang teguh oleh suku Dayak Ngaju karena didalam
falsafahnya berisi ajaran tentang mental untuk ikut bertanggungjawab, melestarikan
keberlangsungan tradisi, nilai-nilai luhur yang bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat
luas, dan instropeksi (pengendalian diri). Gambaran tentang keseimbangan dalam kehidupan
antara manusia-manusia, manusia-alam dan manusia-Tuhan tercermin dalam simbol Batang
Garing ini. Apabila salah satu unsur dalam tatanan alam semesta terganggu maka berdampak
pada ketidak seimbangan kosmos.
Hubungan antara suku Dayak Ngaju dengan lingkungan alamnya yang digambarkan
sebagai bumi, langit dan laut yang selalu melekat pada manusia. Rasa kesinambungan dengan
alam juga ditemukan dalam mitologi pohon Batang Garing (Sukiada, 2018) yang sangat
menarik karena dianggap sebagai personifikasi manusia yang secara anatomis memiliki
rambut, tangan, kaki, darah, tulang, lapisan daging, pernapasan, dan organ tubuh yang lain.
Jadi, pohon Batang Garing dianggap sebagai saudara tua karena diciptakan terlebih dahulu
sebelum manusia. Pepohonan dalam berbagai kehidupan budaya Dayak diyakini memiliki
kekuatan sebagai pemberi petunjuk kehidupan, pemberi naungan, pemberi perlindungan.
Menurut pandangan orang Dayak Ngaju, pohon disamakan dengan manusia, sehingga hutan
yang terdiri dari berbagai macam pohon menjadi satu ikatan yang tidak dapat dilepaskan.
Manusia dan hutan adalah dua subjek dengan kapasitasnya masing-masing.
11
Manusia tidak hanya diposisikan pada level subjek saja, terutama dalam
memperlakukan hutannya, tetapi alam juga dapat menjadi subjek yang mempengaruhi
perilaku manusia di sekitarnya (Misrita & Elbaar, 2019).
12
BAB II
FALSAFAH BATANG GARING
PADA MASYARAKAT DAYAK
KALIMANTAN TENGAH
13
Pohon, dalam
suku Dayak dianggap
sebagai sumber
kehidupan dan
dilambangkan sebagai
pohon kehidupan atau
Batang Garing (Santosa
& Djamari, 2015).
Batang Garing memiliki
arti sebagai simbol
keseimbangan manusia-
alam dan manusia-
manusia, serta Tuhan-
manusia (Amin & Ripot,
2017).
Hubungan antara masyarakat Dayak Ngaju dengan bumi/ tanah dan hutan/pohon
sangat kuat dan terungkap dalam sistem adat Dayak. Dalam sistem adat tersebut ada
ungkapan rasa syukur kepada bumi dan hutan agar tidak kehilangan dayanya yang berdampak
pada kerusakan manusia. Apabila manusia merusak alam, maka Hatala Ranying (Tuhan)
akan murka yang ditunjukkan dengan adanya peristiwa bencana yang mengganggu kehidupan
manusia seperti banjir, kemarau panjang, wabah penyakit, dan terbatasnya sumber makanan
pokok. Kepercayaan tersebut memiliki nilai moral bahwa manusia harus menghargai alam,
tidak merusak dan melakukan eksploitasi sesuai kebutuhan saja serta melakukan pelestarian
14
alam. Menurut kepercayaan suku Dayak Ngaju, apabila alam dirusak, maka kerusakan
tersebut merupakan awal munculnya malapetaka karena Hatala Ranying (Tuhan) yang murka
tidak dapat dibatalkan oleh manusia. Konsekuensi dari kepercayaan adat tersebut dianggap
netral terhadap konservasi alam tetapi sampai batas tertentu konsep tersebut dapat
meningkatkan kesadaran untuk melindungi alam. Hal ini dikarenakan hutan, bumi, sungai dan
seluruh lingkungannya adalah bagian dari kehidupan.
15
BAB III
NILAI-NILAI
YANG TERKANDUNG
DALAM SIMBOL BATANG GARING
SUKU DAYAK
16
Alam dan manusia memiliki hubungan timbal balik, selama ini kita memahami
hubungan tersebut hanya sebagai subjek dan objek. Alam dengan segala isinya dianggap
sebagai suatu objek seperti hutan yang dapat dimanfaatkan sesuai keinginan manusia
sebagai subjeknya.
Manusia mengeksploitasi hutan hanya untuk kepentingan ekonomi. Pemahaman
terhadap hubungan antara manusia dengan alam yang hanya sebagai subjek dan objek
semacam ini tidak dapat dipertahankan lagi. Seperti yang telah terbukti banyak
17
mendatangkan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Untuk memahami
pentingnya alam dan hubungannya dengan manusia, dapat dikaji melalui kearifan lokal
suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.
Suku Dayak Ngaju memiliki peran penting dalam mengola ekosistem. Bagi
masyarakat Dayak keberadaan sungai, tanah, dan hutan menjadi ciri khas dari etnis tersebut.
Hal ini juga berlaku dalam sistem pertanian ladang berpindah di kawasan hutan tempat
mereka tinggal. Dalam sistem ladang berpindah, terdapat pola yang terstruktur dimulai dari
mengelompokkan hutan alam, hutan buatan, lahan kosong dan ladang berdasarkan kondisi
ekologi dan topografinya (Widen, 2017). Suku Dayak asli pada umumnya menganut aliran
konservasionis, mereka menyusun strategi untuk keberlanjutan keanekaragaman hayati dan
konservasi lingkungan untuk mempertahankan kebutuhan hidup yang berkelanjutan.
Hutan, dalam sudut pandang suku Dayak Ngaju memiliki ikatan yang tidak bisa
dilepaskan karena sudah bertahun-tahun hidup di pedalaman hutan (Bella et al., 2021).
Hutan tidak lagi sebagai objek untuk dieksploitasi tetapi memiliki nilai yang lebih, tidak
seperti pandangan para kapitalis yang melihat hutan hanya sebagai alat pemenuhan
ekonomi. Hubungan antara suku Dayak Ngaju dengan alam merupakan hubungan saling
mempengaruhi yang berlangsung secara terus menerus (Cambah, 2022). Hubungan antara
Dayak dan alam dalam teori ekologi modern adalah hubungan timbal balik, dimana posisi
manusia tidak hanya berada pada level subjek, terutama dalam melestarikan hutan, tetapi
alam juga dapat menjadi subjek yang dapat mempengaruhi perilaku manusia di sekitarnya.
Sejak ribuan tahun yang lalu, masyarakat Dayak Kalimantan menggunakan pengetahuan
tradisionalnya tentang sistem ladang berpindah untuk mengelola sumber daya alam dan
keanekaragaman hayati di hutan. Pada awalnya, mereka mempelajari tentang
18
konsep keterbatasan sumber daya alam, dimana pemanfaatan yang berlebihan dan tidak
bijaksana akan mengurangi ketersediaan dan kelestariannya.
Pengetahuan tradisional masyarakat Dayak merupakan akumulasi dari pengetahuan
dan pemahaman manusia tentang alam semesta, termasuk hubungan spiritual dengan Yang
Maha Kuasa, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan manusia, yang tercermin dalam
bahasa, organisasi, nilai, dan sistem hukum, menjadi etika. yang mengatur perilaku suatu
masyarakat. Suku Dayak percaya bahwa sumber daya alam memiliki keterbatasan, sehingga
memerlukan konservasi, kecuali untuk jenis tertentu ketersediaan sumber daya yang melebihi
permintaan (Pirard et al., 2016).
Nilai-nilai luhur yang ada di suku Dayak Ngaju, didasarkan pada kepercayaan Hindu
Kaharingan (Sulandra, 2022). Kepercayaan Kaharingan menganggap bahwa semua benda dan
makhluk memiliki gana (roh), dan hanya ada satu Tuhan yang disebut Ranying Hatala Langit
yang menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Penciptaan manusia dan alam semesta
digambarkan dengan lambang Batang Garing (pohon kehidupan) yang di dalamnya terdapat
burung enggang sebagai lambang penguasa dunia atas dan naga sebagai lambang penguasa
alam bawah. Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah sangat menghargai dan menjaga
lingkungan alam dan sosialnya (Suswandari et al., 2022).
Nilai karakter pada simbol Batang Garing ini tentu harus kita tanamkan dalam
kehidupan kita sehari-hari, sebagai bentuk jati diri kita sebagai suku Dayak, sehingga
symbol batang garing tidak hanya sekedar symbol namun juga menjadi jati diri seseorang.
19
BAB IV
IMPLEMENTASI NILAI FILOSOFI
BATANG GARING DALAM
INTERAKSI SOSIAL
MASYARAKAT DAYAK
DI KOTA PALANGKA RAYA
20
Kepedulian masyarakat Dayak Ngaju tentang kesadaran lingkungan diwujudkan
melalui kearifan lokal simbol Batang Garing. Perilaku peduli lingkungan yang masih
dijunjung tinggi oleh masyarakat Dayak Ngaju adalah menjaga dan melestarikan alam yang
bertujuan untuk menjaga keberlanjutan keseimbangan alam. Lingkungan alam memiliki
posisi utama yang menghubungkan antara Tuhan dan manusia. Lingkungan dan ekosistem
menjadi bagian terpenting dalam kehidupan bagi suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah.
Kehidupan suku Dayak Ngaju tidak dapat dipisahkan dari alam, karena alam
memberikan sumber daya yang melimpah kepada masyarakat dan masyarakat mengolah serta
memelihara sumber daya alam tersebut untuk keberlanjutan alam dan manusia. Aspek-aspek
tersebut tidak dapat dipisahkan dari kearifan local.
Lingkungan adalah salah satu faktor terpenting dalam proses kehidupan. Lingkungan
dapat membentuk pola pikir manusia (Giusti, 2019) dan dapat mengubah cara pandang
seseorang terhadap berbagai permasalahan (Cummins, 2000). Lingkungan mampu
membentuk manusia, dan manusia juga dapat membentuk lingkungan. Lingkungan
menentukan kelangsungan hidup manusia. Lingkungan menjadi tempat untuk berinteraksi dan
belajar. Manusia mengenal berbagai bahasa, budaya, dan kondisi alam yang dapat
meningkatkan kecerdasan ekologis melalui lingkungannya.
Lingkungan memiliki hubungan timbal balik dengan makhluk hidup yang ada di
dalamnya. Ketika lingkungan semakin buruk, itu juga berdampak negatif pada kualitas
hidup masyarakat (Ramli et al., 2022). Manusia memiliki peran dalam pemanfaatan dan
perubahan lingkungan. Pelestarian lingkungan sangat diperlukan baik secara individu
21
maupun secara kelompok, hal ini dikarenakan keterbatasan kemampuan daya dukung
lingkungan baik secara kualitas maupun kuantitas. Kondisi bumi saat ini semakin rapuh jika
dibandingkan dengan dekade sebelumnya. Kondisi ini menimbulkan masalah lingkungan
yang dihadapi oleh manusia dan makhluk hidup lainnya yang hidup di bumi (Paradewari et
al., 2018).
Salah satu faktor penyebab masalah lingkungan adalah rendahnya kesadaran
terhadap lingkungan. Individu yang kurang berempati terhadap lingkungan akan menghasilkan
perilaku dan sikap yang dapat merusak lingkungan (Riyanto, 2020). Perilaku membuang
sampah sembarangan merupakan wujud dari rendahnya karakter kepedulian lingkungan
(Manikam et al., 2019). Peduli lingkungan adalah salah satu karakter yang menunjukkan
sikap manusia dalam menjaga dan peduli terhadap lingkungannya dalam kehidupan sehari
hari serta mengembangkan usaha untuk memperbaiki kerusakan lingkungan hidup yang
terjadi. Dengan demikian, karakter peduli lingkungan merupakan suatu sikap yang dimiliki
oleh seseorang yang berusaha untuk memperbaiki dan mengelola lingkungannya dengan
benar sehingga sumber daya lingkungan dapat dinikmati secara berkelanjutan tanpa merusak
keadaannya, serta menjaga dan melestarikan sehingga ada manfaat yang berkesinambungan
(Purwanti, 2017). Nilai karakter peduli lingkungan dalam pendidikan memiliki tujuan agar
peserta didik mempunyai pengetahuan dan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai
peran terhadap lingkungan di sekitarnya dan dapat menciptakan perubahan.
Pendidikan merupakan salah satu media yang tepat untuk membekali siswa dengan
memberikan pemahaman bahwa manusia memiliki peran penting dalam keseimbangan
lingkungan. Krisis ekologi yang terjadi saat ini hanya dapat diselesaikan dengan merubah
sudut pandang dan perilaku manusia ke arah yang mendasar. Salah satu cara mengubah
22
perilaku adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan media utama dalam membangun
kepribadian siswa, serta kecerdasan manusia agar menjadi lebih baik. Perwujudan
memanusiakan manusia agar berkarakter adalah dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian.
lingkungan kepada siswa (Fua et al., 2018). Faktor yang dapat mendorong untuk
mewujudkan karakter peduli lingkungan salah satunya dengan menanamkan pendidikan
lingkungan sejak dini. Penanaman karakter memiliki tujuan agar dalam diri setiap individu
terbentuk karakter yang berpartisipasi aktif dalam melestarikan lingkungan (Masruroh, 2018).
Individu yang sudah memiliki karakter peduli lingkungan yang kuat pada akhirnya dapat
mempengaruhi individu lain untuk peduli pada masalah lingkungan, karena keberlangsungan
lingkungan adalah tanggung jawab setiap manusia.
23
BAB V
KESIMPULAN
24
Simbol Batang Garing dapat
digunakan sebagai media dan sumber belajar
dalam proses pembelajaran untuk
membangun kecerdasan ekologis. Sebagai
bahan pengajaran, guru perlu memodifikasi
atau menambah bahan ajar yang sudah ada
dengan bahan ajar berbasis kontekstual yang
sesuai dengan budaya Kalimantan guna
meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa
dalam pembelajaran yang sedang berlangsung
sehingga dapat memicu siswa untuk mencapai
hasil belajar yang memuaskan. Peduli
lingkungan merupakan salah satu bagian dari
rumusan pendidikan karakter yang dapat
dibentuk melalui penanaman nilai- nilai
kearifan lokal.
Penanaman karakter peduli lingkungan berdasarkan simbol Batang Garing dapat
diinternalisasikan sebagai penyatuan nilai-nilai dalam diri seseorang dengan menyesuaikan
keyakinan,
sikap,
praktik
dan
aturan-aturan.
Karakter
peduli
lingkungan
yang
diinternalisasikan adalah nilai yang sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di
masyarakat untuk membentuk perilaku peduli lingkungan.
Unsur budaya lokal cocok dimasukkan dalam proses pembelajaran khususnya bagi siswa
sekolah menengah pertama dengan tujuan untuk memudahkan pemahaman siswa dalam
25
melihat realita yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, simbol batang garing
sebagai sumber belajar peduli lingkungan dapat dimasukkan sebagai konten dalam bahan ajar
kurikulum merdeka.
26
Daftar Pustaka
27
Abbas, E. W., Rusmaniah, R., Mutiani, M., Putra, M. A. H., & Jumriani, J. (2022). Integration of
River Tourism Content in Social Studies Teaching Materials as an Efforts to Strengthen
Student Understanding. The Innovation of Social Studies Journal, 4(1), 11-33.
Bella, R., Stevaby, S., Gujali, A. I., Dewi, R. S., Lion, E., & Mustika, M. (2021). Sistem
Masyarakat dan Cerita Pendek “Menari Di Puncak Beringin’” Karya Budi Dayak
Kurniawan. UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa Dan Sastra, 15(2), 135.
https://doi.org/10.26499/und.v15i2.1747 Kewarganegaraan, 5(2),
Cummins, D. D. (2000). How the social environment shaped the evolution of mind. Synthese,
122(1), 3–28.
Giusti, M. (2019). Human-nature relationships in context. Experiential, psychological, and
contextual dimensions shape children’s desire to protect nature. PloS One, 14(12),
e0225951.
Gunawan, R. (2011). Pendidikan IPS Filosofi, Konsep dan Aplikasi. Alfabeta.
Kresandini, A. (2016). Estetika Batang Garing dalam Karya Perhiasan (Doctoral dissertation,
Institut Seni Indonesia Yogyakarta).
Mutiani, M. (2022). Kajian Empirik Pendidikan dalam Latar Peristiwa Masyarakat Tradisional,
Modern, dan Era Globalisasi.
Nadia, N., Syaharuddin, S., Jumriani, J., Putra, M. A. H., & Rusmaniah, R. (2022).
Identification of The Process for Establishing Tourism Awareness Group (Pokdarwis)
Kampung Banjar. The Kalimantan Social Studies Journal, 3(2), 116-125.
Nasution, S. (2009).Kurikulum dan Pengajaran. Bumi Aksara.
Organisasi Suku Dayak Ngaju (Studi Kasus di Desa Mandomai Kalimantan Tengah).
Jurnal PAKIS (Publikasi Berkala Pendidikan Ilmu Sosial), 2(2). PT. Tiara Wacana.
Putra, M. A. H., Handy, M. R. N., Subiyakto, B., Rusmaniah, R., & Norhayati, N. (2022).
Identifikasi Nilai Budaya Masyarakat Sungai Jelai Basirih Selatan Sebagai Sumber
Belajar IPS.
Riwut, Tjilik.1993. Kalimantan Membangun
Alam Dan Kebudayaan. Yogyakarta :
Rusmaniah, R., Nugroho, D. A., Indriyani, P. D., & Putra, M. A. H. (2022). Partisipasi Perajin
Dalam
28
Pengembangan Seni Kerajinan Anyaman di Kampung Purun Berbasis Kearifan Lokal.
PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, 8(1), 1-10. Society and Culture (pp.
273–282). Springer.
Titaley, J. A., & Samiyono, D. (2017). Batang Garing: Study tentang Sejarah dan Makna Simbol
Batang Garing dalam Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (Doctoral
dissertation, Magister Sosiologi Agama Program Pascasarjana FTEO-UKSW).
Usop, T. B. (2021). Peran Kearifan Lokal Masyarakat Dayak dalam Mengembangkan Batik
Benang Bintik di Kalimantan Tengah. Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(3), 405–413.
Widen, K. (2017). The Rise of Dayak Identities in Central Kalimantan. In Borneo Studies in
History, Wijanarti, T. (2019). Masyarakat Dayak dan Alam: Sebuah Pembacaan Ekokritik Sastra
Terhadap Wurdianto, K., Norsandi, D., & Fitriana, E. (2022). Etnopedagogi Batang Garing
Suku Dayak Ngaju
sebagai Nilai Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan. Scaffolding: Jurnal Pendidikan
Islam dan Multikulturalisme, 4(3), 45-64.
Yuliana, Y. (2022, September). KONSTRUKSI SOSIOLOGIS TENTANG BATANG
GARING SEBAGAI JIWA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN, KALIMANTAN
TENGAH. In PROSIDING SEMINAR NASIONAL UNIVERSITAS PGRI PALANGKA
RAYA (Vol. 1, pp. 253-268).
Show answer
Auto Play
Slide 1 / 28
SLIDE
Similar Resources on Wayground
21 questions
KD 3.6 MENGANALISIS STRUKTUR TEKS ANEKOT
Presentation
•
10th Grade
24 questions
Darwin, evolución y selección natural
Presentation
•
10th Grade
20 questions
OSIS dan Ekstrakurikuler
Presentation
•
10th Grade
20 questions
Mengukur Tubuh Pelanggan
Presentation
•
10th Grade
21 questions
PRUEBA DIAGNÓSTICA UNDÉCIMO
Presentation
•
10th Grade
24 questions
Komunikasi Dalam Jaringan
Presentation
•
10th Grade
20 questions
Recount Text
Presentation
•
10th Grade
Popular Resources on Wayground
16 questions
Grade 3 Simulation Assessment 2
Quiz
•
3rd Grade
19 questions
HCS Grade 5 Simulation Assessment_1 2526sy
Quiz
•
5th Grade
10 questions
Cinco de Mayo Trivia Questions
Interactive video
•
3rd - 5th Grade
17 questions
HCS Grade 4 Simulation Assessment_2 2526sy
Quiz
•
4th Grade
24 questions
HCS Grade 5 Simulation Assessment_2 2526sy
Quiz
•
5th Grade
13 questions
Cinco de mayo
Interactive video
•
6th - 8th Grade
20 questions
Math Review
Quiz
•
3rd Grade
30 questions
GVMS House Trivia 2026
Quiz
•
6th - 8th Grade
Discover more resources for Education
5 questions
A.EI.1-3 Quizizz Day 1
Quiz
•
9th - 12th Grade
10 questions
Cinco De Mayo
Presentation
•
10th Grade
20 questions
Figurative Language Review
Quiz
•
10th Grade
210 questions
Unit 1 - 4 AP Bio Review
Quiz
•
9th - 12th Grade
100 questions
Biology EOC Review
Quiz
•
9th - 12th Grade
5 questions
A.EI.1-3 Quizizz Day 2
Quiz
•
9th - 12th Grade
5 questions
A.EI.1-3 Quizizz Day 4
Quiz
•
9th - 12th Grade
16 questions
AP Biology: Unit 1 Review (CED)
Quiz
•
9th - 12th Grade