Search Header Logo
PPT Coaching

PPT Coaching

Assessment

Presentation

Professional Development

Professional Development

Practice Problem

Hard

Created by

Yulius Albert Kaimeni

FREE Resource

111 Slides • 0 Questions

1

media

MOHON PERHATIAN

Salindia ini hanya boleh dipergunakan untuk

kepentingan belajar Bapak dan Ibu

CGP A9 secara mandiri.

TIDAK UNTUK DIPERBANYAK DAN DIBAGIKAN

KEPADA PIHAK LAIN di luar Kegiatan Pendidikan

Program Pendidikan Guru Penggerak ini.

Terima kasih. Selamat belajar!

2

media

SALAM

&

BAHAGIA

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Damai

Sejahtera, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan,

Rahayu untuk kita semua di ruang virtual ini"

3

media

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

MODUL 2.3

Penulis:
Monika Irayati - Murti Ayu Wijayanti – Shirley Puspitawati
– Simon Rafael – Warih Wijayanti

4

media

1.

Membuka diri terhadap perbedaan dalam berpendapat, bertanya dan berbagi
pengalaman;

2.

Semua peserta berpartisipasi aktifdalam diskusi, apabila sudah mendapatkan
kesempatan bertanya dan berbagi pengalaman, maka berikan kesempatan yang sama
bagi yang belum bertanya atau berbagi cerita;

3.

Konsisten dengan waktu saat mempresentasikan ide, bertanya dan berbagi
pengalaman.

4.

Tekan ikon ‘raise hand’ bila hendak bertanya dan silahkan berbicara setelah
dipersilahkan; bila ada yang sedang bicara, mohon menunggu untuk dipersilahkan

5.

Semua peserta membuka video (bila terkendala jaringan, peserta boleh menutup video);

6.

Chatbox digunakan sebagai media bertanya dan berbagi pendapat dan pengalaman;

7.

Menjaga ketenangan ruang virtual (gmeet) dengan selalu memonitor Microphone dan Video
agar proses pembelajaran menjadi kondusif dan bermakna;

Bagaimana kita berinteraksi?

KOMITMEN BELAJAR

5

media

Tenangkan

hati dan pikiran

berdamaisejenak

semua beban

untuk

hadir seutuhnya di
ruang belajar virtual

Hadir Seutuhnya – (Presence & Mindfulness)

Bagaimana kita berinteraksi?

6

media

Perkenalan

7

media

ALUR MERDEKA - COACHING

KEGIATAN

MULAI DARI DIRI

a)

Merefleksikan pengalaman dan perasaan saat disupervisi oleh pimpinan

b)

Merefleksikan pengalaman mensupervisi rekan sejawat (jika pernah)

c)

Merefleksikan makna supervisi bagi pengembangan profesi sebagai seorang
pendidik.

EKSPLORASI KONSEP

a)

Konsep coaching secara umum dan coaching dalam konteks pendidikan

b)

Paradigma berpikir dan prinsip coaching

c)

Kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching

d)

Supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching

RUANG KOLABORASI

Membentuk komunitas praktisi dengan sesama CGP untuk berlatih melakukan
praktik percakapan coaching dengan alur TIRTA

8

media

ALUR MERDEKA - COACHING

KEGIATAN/MATERI

DEMONSTRASI
KONTEKSTUAL

Melakukan praktik coaching dengan CGP lain untuk membantu mengembangkan
area kompetensi coaching pada konteks pembelajaran atau keseharian CGP

ELABORASI
PEMAHAMAN

Melakukan elaborasi pemahaman mengenai coaching dalam ranah supervisi
akademik melalui proses tanya jawab dan diskusi.

KONEKSI ANTAR
MATERI

Menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi coaching dengan
materi-materi sebelumnya dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman
yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media

AKSI NYATA

Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik dengan menggunakan
paradigma berpikir coaching dan melakukan refleksi terhadap praktik
supervisi akademik tersebut

9

media

Kompetensi Lulusan yang Dituju

Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut:

1.

Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan

cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya.

2.

Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam mengevaluasi pembelajaran

berdasarkan data dan tingkat pencapaian murid.

3.

Guru Penggerak terampil menerapkan pendekatan coaching untuk pengembangan

diri, guru dan rekan sejawat.

10

media

Capaian Umum Modul 2.3

Secara umum, capaian modul ini adalah peserta mampu:

1.

memiliki paradigma berpikir coaching dalam berkomunikasi dalam rangka

mengembangkan kompetensi rekan sejawat;

2.

menerapkan praktik komunikasi memberdayakan dengan menggunakan

paradigma berpikir dan prinsip coaching;

3.

melakukan percakapan berbasis coaching dalam komunitas sekolahnya untuk

mengembangkan kompetensi rekan sejawat.

11

media

CAPAIAN KHUSUS MODUL 2.3

Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan menjadi guru penggerak yang mampu:

1.menjelaskan konsep coaching secara umum;

2.membedakan coaching dengan pengembangan diri lainnya, yaitu mentoring, konseling, fasilitasi, dan training;

3.menjelaskan konsep coaching dalam dunia pendidikan sebagai pendekatan pengembangan kompetensi diri dan
orang lain (rekan sejawat);

4.

menjelaskan paradigma berpikir coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan
kompetensi;

5.menjelaskan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi;

6.mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik;

7.membedakan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat;

8.melakukan percakapan coaching dengan alur TIRTA;

9.mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching: coaching presence, mendengar aktif, dan mengajukan pertanyaan
berbobot dalam percakapan coaching;

10.

menjelaskan jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah,
dan melakukan kalibrasi;

11.

memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip dan coaching;

12.

mempraktikan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching.

12

media

Elaborasi Pemahaman

13

media

Tujuan sesi Elaborasi Pemahaman

CGP dapat mengelaborasi pemahamannya tentang coaching dalam
ranah supervisi akademik melalui proses tanya jawab dan diskusi.

14

media

ALUR PRESENTASI

Perkenalan & Komitmen Belajar – 03’

Refleksi Awal Pembelajaran - Padlet 07’

Penguatan Materi 60’

Tanya Jawab 15’

Penutup 05’

15

media

Refleksi Awal - Padlet

3 Pertanyaan Panduan:

1.

Apa yang Anda pahami mengenai keterkaitan prinsip dan paradigma

berfikir coaching dengan supervisi akademik?

2.

Menurut Anda, Bagaimana kompetensi coaching dapat membantu

proses pemberdayaan guru dalam pelaksanaan supervisi akademik?

3.

Apa yang masih Anda butuhkan untuk menguatkan pemahaman

terhadap modul coaching untuk supervisi akademik? (Tuliskan di google

slide)

Link padlet:

16

media

Refleksi Awal - Google Slide- Optional

Apa yang masih Anda butuhkan untuk menguatkan pemahaman terhadap

modul coaching untuk supervisi akademik? (Tuliskan di google slide)

https://docs.google.com/presentation/d/1DUgvKeoLxFXJIUwoGai44gW_4uP8kwztXhxbOu7vDRg/edit?usp=sharing

17

media

Elaborasi Pemahaman: Eksplorasi Konsep

1.

Konsep coaching secara umum dan coaching dalam konteks pendidikan

2.

Paradigma berpikir dan prinsip coaching

3.

Kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching

4.

Supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching

18

media

Sub Pembelajaran 2.1:

Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam

Konteks Pendidikan

19

media

Konsep
COACHING

20

media
media

21

media
media

Coaching dalam Konteks Pendidikan

Coaching menjadi salah satu proses
‘menuntun’ belajar murid untuk
mencapai kekuatan kodratnya

Sebagai seorang ‘pamong’. Guru dapat
memberikan ‘tuntunan’ melalui
pertanyaan-pertanyaan reflektif dan
efektif agar kekuatan kodrat anak
terpancar dari dirinya.

22

media
media

Coaching dalam Konteks Pendidikan

Pentingnya proses coaching:

• Proses untuk mengaktivasi kerja otak murid.

• Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat

murid melakukan metakognisi.

• Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga

membuat murid lebih berpikir secara kritis dan

mendalam sehingga murid dapat menunjukkan

potensinya.

23

media

AMONG Mindset

Coach & Coachee adalah Mitra Belajar Emansipatif

Mitra belajar memberikan perspektif keselarasan dalam
berinteraksi dan berdialog antara coach dan coachee.

Relasi yang apresiatif sebagai mitra belajar melatih

cara berpikir bahwa dalam proses coaching keduanya

memiliki kesepahaman yang sama tentang belajar.

Ketika mendengarkan coachee, seorang coach belajar

mengenali kekuatan dirinya juga mengenali

coachee-nya secara mendalam. Demikian pula

sebaliknya, tuntunan yang diberikan coach

memberikan ruang bagi coachee untuk menemukan

kekuatan dirinya

Proses coaching membuka ruang emansipatif bagi
coach dan coachee untuk merefleksikan kebebasan
mereka melalui kesepakatan dan pengakuan bersama
terhadap norma-norma (rasa percaya,
selaras,apresiatif) yang mengikat mereka. Ruang
emansipatif memberi peluang bagi coachee untuk
menemukan kekuatan dan potensi dirinya. Komunikasi
yang emansipatif menciptakan keselarasan cara
berpikir antara coach dan coachee.

Kasih dan Persaudaraan Ruang Perjumpaan Pribadi

Proses coaching sebagai sebuah latihan menguatkan

semangat Tut Wuri Handayani yaitu

mengikuti/mendampingi/mendorong kekuatan diri

secara holistik berdasarkan cinta kasih dan

persaudaraan tanpa pamrih, tanpa keinginan

menguasai dan memaksa. Coach dan coachee adalah

seorang manusia yang memiliki kebebasan untuk

mendapatkan cinta kasih dalam setiap interaksi dan

dialog yang terjadi.

Proses coaching merupakan sebuah ruang perjumpaan
pribadi antara coach dan coachee sehingga keduanya
membangun rasa percaya dalam kebebasan
masing-masing. Kebebasan tercipta melalui
pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk menguatkan
kekuatan diri coachee

24

media
media

No

Aspek

Coaching

Mentoring

Konseling

1.

Tujuan

menuntun coachee untuk

menemukanide baru atau

cara untuk

mengatasitantangan yang

dihadapi ataumencapai

tujuan yang dikehendaki

membagikan pengalamannya

untuk membantu mentee

mengembangkan dirinya

membantu konseli

memecahkan masalahnya

2.

Hubungan

kemitraan yang setara dan

coachee sendiri yang

mengambil keputusan.

Coach hanya mengarahkan

saja, coachee lah yang

membuat keputusan sendiri

hubungan antara seseorang

yang berpengalaman dan yang

kurang berpengalaman. Mentor

langsung memberikan tips

bagaimana menyelesaikan

suatu masalah atau mencapai

sesuatu

hubungan antara seorang

ahli dan seseorang yang

membutuhkan

bantuannya. Konselor bisa

saja langsung memberi

solusi.

25

media

Sub Pembelajaran 2.2:

Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching

26

media

Paradigma Berpikir
COACHING

27

media
media

Paradigma Berpikir Coaching

28

media
media
media

29

media
media

30

media
media
media

31

media
media

32

media
media

33

media

Prinsip-prinsip
COACHING

34

media
media

35

media
media

36

media

Sub Pembelajaran 2.3:

Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan

Coaching

37

media

Kompetensi
COACHING

Presence

Mendengarkan Aktif

Melontarkan Pertanyaan Berbobot

38

media
media

PRESENCE

Kemampuan untuk hadir utuh bagi coachee
kita.

Badan - pikiran - hati selaras saat sedang
melakukan percakapan dengan coachee

Ini bagian dari Kesadaran Diri

Ini membantu munculnya mindset dan
kompetensi yang lain

Bersikap terbuka

Bersikap sabar

Bersikap ingin tahu lebih banyak

39

media
media

MENDENGARKAN AKTIF

adalahkemampuan untuk fokus pada apa yang

dikatakan oleh lawan bicara dan memahami

keseluruhan makna yang tidak terucapkan.

40

media
media

MENDENGARKAN AKTIF

3 ALASAN TIDAK BISA MENDENGARKAN

Asumsi - sudah mempunyai anggapan
tertentu tentang suatu situasi

Judgment/Melabel -memberi label pada
seseorang dalam situasi tertentu

Asosiasi - mengaitkan dengan pengalaman
pribadi

41

media
media

MENGAJUKAN
PERTANYAAN
BERBOBOT

• Pertanyaan lahir dari mendengarkan

• Berbentuk pertanyaan terbuka

• Membuat coachee merenung, menggali,

mengingat, mengaitkan

• Diajukan pada saat yang tepat

42

media
media

MENGAJUKAN
PERTANYAAN
BERBOBOT

• Bentuk pertanyaan terbuka: menggunakan kata

APA - BAGAIMANA - SEBERAPA.

• Tidak menggunakan kata KENAPA atau

MENGAPA

• Bukan pertanyaan TERTUTUP: Apakah,

Sudahkah, Apa sudah, pertanyaan yang dijawab

dengan Ya atau Tidak

43

media

MENDENGARKAN &
BERTANYA DENGAN
RASA

R - receive

A - acknowledge

S - summarize

A - ask

Model mendengarkan yang dikembangkan oleh Julian Treasure

R

A

S

A

44

media
media

RECEIVE (Terima)

Menangkap kata kunci - kata-kata yang diucapkan klien

CIRI-CIRI KATA KUNCI:

• diucapkan berulang-ulang
• diucapkan dengan intonasi tertentu
• berupa kata yang aneh/metafora/analogi
• tertangkap ada emosi saat diucapkan
• menggambarkan kondisi perasaan/pemikiran dia

saat itu

• diucapkan setelah "tapi" atau "namun".

45

media
media

ACKNOWLEDGE

(Beri tanda)

• Memberi tanda/sinyal bahwa kita mendengarkan
• Dengan anggukan, dengan kontak mata
• Jika percakapan dilakukan secara daring, bisa

dengan mengatakan "O..", "Ya..".

• Memberikan perhatian penuh pada coachee.
• Tidak sibuk mencatat
• Tidak terganggu dengan situasi lain

46

media
media

SUMMARIZE (Rangkum)

• Saat coachee selesai bercerita, rangkum

untuk memastikan pemahaman kita sama

• Gunakan kata kunci
• Digunakan juga untuk merangkum

potongan-potongan informasi yang telah
didapatkan sebelum ini.

• Mintakan konfirmasi dari coachee apakah

rangkuman kita betul

47

media
media

ASK (Tanya)

• Berdasarkan yang kita dengar dan hasil

merangkum (summarizing), ajukan
pertanyaan yang membuat pemahaman
coachee lebih dalam tentang situasinya

• Pertanyaan harus merupakan hasil

mendengarkan - mengandung penggalian
atas kata kunci atau emosi yang sudah
dikonfirmasi

• Dalam format pertanyaan terbuka:

menggunakan apa, bagaimana, seberapa,
kapan, siapa atau di mana.

Jangan gunakan ‘mengapa’ atau ‘apakah’

atau ‘sudahkah’.

48

media

Alur Percakapan
COACHING

49

media

Penggunaan Kompetensi Coaching

• Dalam sesi coaching, akan ada alur

tertentu yang harus diikuti.

• Sesi coaching harus terjadwal

• Lamanya 30-90 menit

Dalam Sesi Coaching

• Bisa tidak terjadwal

• Didorong oleh kebutuhan untuk

memiliki teman berpikir menghadapi

situasi tertentu atau kebutuhan untuk

mengetahui kemajuan

Dalam Percakapan dengan

Tujuan Tertentu

50

media

Ingat!

Selalu siapkan PRESENCE (Kehadiran Penuh) sebelum

melakukan sesi atau percakapan coaching

51

media

HADIR SEPENUHNYA

Pastikan Anda bisa hadir
sepenuhnya, agar memudahkan
untuk fokus kepada coachee.

Jangan melakukan coaching saat
sulit untuk hadir sepenuhnya:
tanggal/jam sibuk Anda, sedang
sakit.

SABAR, SABAR, SABAR

Menguatkan kualitas sabar di
dalam diri, sehingga selama
percakapan bisa merespons pada
saat yang tepat serta mampu
memberikan ruang kepada
coachee untuk bicara

BERSIKAP TERBUKA DAN INGIN TAHU

Berniat untuk tidak memberi label pada
coachee atau apapun yang
dikatakannya

Bangun kualitas keingintahuan Anda,
tahan diri untuk memberi nasihat atau
memberikan solusi.

Pusatkan rasa ingin tahu pada apa
yang ada di balik ucapan-ucapan atau
pemikiran-pemikiran coachee.

Tips untuk bisa Presence

52

media

Alur Percakapan
TIRTA

Alur Percakapan TIRTA | Supervisi Akademik

53

media
media

Pengembangan dari GROW

model

TIRTA berarti air

(Sansekerta)

Murid diibaratkan air

Tugas guru: memastikan air

mengalir tanpa sumbatan

Coaching: alat untuk

menyingkirkan sumbatan

54

media

ALUR PERCAKAPAN “TIRTA”

1 - T

3 - R

TIRTA

2 - I

4 - TA

Menggali dan memetakan
situasi saat ini. Hubungkan
fakta-fakta yang ada.

I (Identifikasi)2

Menyepakati topik pembicaraan
dan hasil pembicaraan

T (Tujuan)1

Berkomitmen akan langkah
selanjutnya

TA (Tanggung Jawab)4

Mengembangkan ide untuk
alternatif rencana aksi/solusi

R (Rencana Aksi)3

55

media

Tujuan yang kita tentukan di sini adalah TUJUAN
PERCAKAPAN (30-90)’, bukan tujuan yang lain.

Tujuan percakapan terdiri dari 2 hal:

Agenda/Topik Percakapan

Hasil dari Percakapan

Ada 2 Pertanyaan yang Harus diajukan:

Pertanyaan tentang Agenda:

Apa yang topik/agenda percakapan kita kali ini?

Pertanyaan tentang hasil:

Apa yang ingin Bapak/Ibu (Murid) dapatkan dari
percakapan ini?

T

I

R

TA

Tujuan

56

media

Ini tahap saat coach membantu coachee
melihat/mengidentifikasi apa saja yang
sebetulnya ada di dalam situasinya saat ini.

Ini mencakup fakta yang kasat mata dan tak kasat
mata (perasaan, keinginan, dorongan)

Tujuan tahap ini adalah memperjelas, menggali
dan memetakan situasi

Contoh pertanyaan:

Situasinya sekarang seperti apa?

Apa yang mempengaruhi hal itu?

Situasi yang diinginkan seperti apa?

Apa yang bisa membuat itu terwujud?

T

I

R

TA

Identifikasi

57

media

Tahap ini adalah tahap mengeksplorasi
gagasan/kemungkinan dan rencana.

Jika coachee sudah bisa melihat situasi dengan cara
baru (tahap I) biasanya ia sudah siap diajak
mengeksplorasi gagasan atau alternatif baru

Dari tahap ini bisa keluar 1-3 gagasan, tidak perlu
terlalu banyak. Yang penting setiap gagasan harus
dibuat spesifik dan detil.

Di tahap ini, coach boleh brainstorming atau berbagi
pengalaman jika diminta.

T

I

R

TA

Rencana
aksi

Contoh Pertanyaan:

Ada gagasan apa untuk ……?

Apa yang harus disiapkan untuk itu?

Apa yang bisa memastikan hal itu berjalan?

Apa kriteria… yang diinginkan?

Apa lagi?

58

media

Di tahap ini, tugas coach adalah mengukuhkan
komitmen coachee dan meminta coachee
membangun struktur akuntabilitasnya.

Minta coachee menyimpulkan, jangan
coachnya.

Coach mungkin perlu mencatat komitmen
dalam bentuk action

Jadi apa yang akan dilakukan setelah sesi ini
dari alternatif-alternatif tadi?

Kapan? Siapa yang perlu dihubungi?

Bagaimana Bapak/Ibu memastikan ini bisa
berjalan?

Siapa yang perlu dimintai dukungan?

Pertanyaan penutup:

Apa yang bisa disimpulkan dari sesi ini?

Apa yang menjadi insight dari sesi ini?

Contoh pertanyaan:

T

I

R

TA
Tanggung
jawab

59

media

Percakapan
Berbasis Coaching

60

media

Percakapan Berbasis Coaching

• Percakapan untuk perencanaan
• Percakapan untuk pemecahan masalah
• Percakapan untuk refleksi diri
• Percakapan untuk kalibrasi

61

media

Tips

• Saat akan melakukan percakapan coaching, selalu siapkan presence.
• Mulai dengan menetapkan niat, ingin mendengarkan, ingin mendampingi, ingin menjadi

teman berpikir

• Jangan membuat janji temu saat sedang sibuk.

62

media
media

Percakapan untuk Perencanaan

63

media

Kapan kita melakukannya?

• Sebelum memulai pendampingan kepada coachee. Pendampingan bersifat suatu

pengembangan jangka pendek (3-6 bulan). Rencanakan bersama apa yang ingin

dikembangkan coachee

• Sebelum coachee memulai/terlibat dalam suatu kegiatan atau melakukan suatu

tugas. Rencanakan akan yang dilakukan dalam kegiatan/tugas tersebut

Percakapan untuk Perencanaan

64

media

Bagaimana melakukannya?

TUJUAN
• Tanyakan tujuan perencanaan: ”Apa yang ingin dicapai dari kegiatan/pengembangan ini?”
IDENTIFIKASI & RENCANA
• Tentukan ukuran keberhasilan program pengembangan/kegiatan: ”Apa ukurannya bahwa

ini berhasil?” (pastikan ukuran terukur)

• Identifikasi hal-hal yang harus disiapkan/dikembangkan: “Apa saja yang harus disiapkan?”

“ Apa yang perlu dikembangkan agar bisa mencapai tujuan?”

• Identifikasi hal-hal yang sudah ada yang bisa membantu keberhasilan
• Identifikasi dukungan yang diperlukan
TANGGUNG JAWAB
• Sepakati kapan akan melakukan sesi untuk refleksi/kalibrasi

Percakapan untuk Perencanaan

65

media

Tips

Di tahap ini, tidak perlu menggali secara detil. Dapatkan informasi yang cukup spesifik tapi

tidak terlalu detil. Pembicaraan sangat detil akan dilakukan di sesi coaching.

Saat melakukan percakapan, jangan meminta coachee mengisi form. Tapi dapatkan

jawaban melalui percakapan.

Percakapan untuk Perencanaan

66

media
media

Percakapan untuk Refleksi

67

media

Kapan kita melakukannya?

• Setelah ada aktivitas yang dilakukan oleh coachee

• Setelah mengikuti suatu aktivitas

• Setelah menyelesaikan suatu tugas

• Saat coachee sedang ingin merefleksikan diri

Percakapan untuk Refleksi

68

media

Bagaimana melakukannya?

Bangun suasana tenang saat melakukan refleksi.

IDENTIFIKASI & RENCANA AKSI
Mulai dengan menanyakan apa yang didapat/dirasakan dari event/kegiatan/situasi
yang direfleksikan

Tanyakan inspirasi apa yang timbul dari pengalaman/perasaan tersebut

Tanyakan apa yang sekarang jadi diketahui/dipahami/ disadari oleh coachee

Tanyakan dari kesadaran itu apa yang akan dilakukan ke depannya?

TANGGUNG JAWAB
Tanyakan apa yang didapatkan dari percakapan?

Percakapan untuk Refleksi

69

media

Tips

Saat melakukan percakapan refleksi, beri banyak ruang hening

Izinkan coachee mengungkapkan refleksinya dengan bebas

Jaga presence kita untuk membantu menjaga “ruang” percakapan yang
aman dan nyaman bagi coachee.

Percakapan untuk Refleksi

70

media
media

Percakapan untuk pemecahan masalah

71

media

Kapan kita melakukannya?

• Saat coachee mengontak kita karena ia menghadapi masalah. merasa

buntu, merasa tidak jelas, merasa tidak berdaya, merasa tidak mampu.

• Saat coachee mengalami krisis

• Saat coachee membutuhkan bantuan dari luar

Percakapan untuk pemecahan masalah

72

media

Bagaimana melakukannya?

IDENTIFIKASI

Ajak coachee menggambarkan masalahnya

Lalu ajak melihat apa yang ingin dicapainya jika masalah hilang

Ajak coachee melihat faktor-faktor yang menyebabkan itu terjadi dan faktor-faktor
yang bisa membuat hal itu hilang

RENCANA AKSI

Ajak coachee memikirkan apakah memiliki gagasan untuk mengatasinya

Coach boleh brainstorming

TANGGUNG JAWAB

Sebelum percakapan berakhir, ajak coachee menyimpulkan apa yang didapatnya.

Percakapan untuk pemecahan masalah

73

media

Tips

Jaga sikap terbuka, netral dan ingin tahu

Jangan terbawa dalam “problem coachee”

Sering-sering mengajak coachee melihat dari area yang netral/helicopter
view

Menggunakan gambar/mindmap bisa membantu juga

Percakapan untuk pemecahan masalah

74

media
media

Percakapan untuk kalibrasi

75

media

Kapan kita melakukannya?

Setiap 3 bulan saat membicarakan kemajuan perkembangan diri

Saat kita/coachee ingin melakukan swanilai kinerja/perkembangannya
terhadap suatu standar/kriteria.

Saat perlu melakukan penyesuaian ulang atas rencana terhadap
standar/kriteria tersebut

Percakapan untuk kalibrasi

76

media

Bagaimana melakukannya?

• Pastikan kita dalam keadaan mental positif, siap untuk berpikir bersama, mampu hadir

sepenuhnya

• Pastikan memiliki intensi yang benar

ingin terkoneksi bukan mengoreksi
ingin memahami bukan memberi tahu

IDENTIFIKASI & RENCANA AKSI
• Mulai dengan meminta coachee menilai apa hal-hal yang sudah bagus.
• Lanjutkan dengan swa-nilai area yang menurut coachee dapat dikembangkan lagi
• Sampaikan sudut pandang kita sebagai pengamat.
TANGGUNG JAWAB
• Tanyakan kesimpulan dan apa yang akan dilakukan berbeda di kemudian hari.

Percakapan untuk kalibrasi

77

media

Tips

Selalu mulai dengan hal-hal yang sudah baik

Berikan penghargaan atas hal-hal yang sudah baik

Lalu gunakan hal yang sudah baik untuk meningkatkan atau
mengembangkan hal-hal yang belum sesuai target/keinginan

Berikan umpan balik secara spesifik dan positif

Percakapan untuk kalibrasi

78

media

Sub Pembelajaran 2.4:

Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

79

media

Pemberian Umpan Balik
Berbasis Coaching

80

media

Umpan Balik berbasis Coaching

Umpan balik yang efektif haruslah bersifat netral sehingga tidak subjektif dan

tanpa dasar (Costa dan Garmston, 2016). Umpan balik akan memiliki lebih besar

kesempatan untuk diterima apabila berbasis data kuantitatif dari indikator

pencapaian yang sebelumnya sudah disepakati.

Umpan balik akan efektif apabila berbasis data dan disampaikan secara

langsung tidak lama setelah kejadian/pembelajaran/situasi terjadi.

81

media

Memberikan Umpan Balik dengan Prinsip Coaching

Memberikan umpan balik dengan prinsip coaching:

1. Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri

coachee

2. Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah

3. Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan

4. Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee

82

media

Umpan Balik berbasis Coaching

Costa dan Garmston (2016) dalam Cognitive Coaching: Developing

Self-directed Leaders and Learners ada beberapa jenis umpan balik yang

mendukung kemandirian dari penerima umpan balik.

A. Umpan Balik dengan Pertanyaan Reflektif

B. Umpan Balik menggunakan data yang valid

83

media

Supervisi Akademik
dengan Prinsip Coaching

Alur Percakapan TIRTA | Supervisi Akademik

84

media
media

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2001

Tentang Standar Nasional Pendidikan, bagian Standar Pendidik dan

Tenaga Kependidikan berikut:

Pasal 14 ayat (1)

Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran, penilaian

proses pembelajaran selain dilaksanakan oleh pendidik sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 13 yang dapat dilaksanakan oleh:

a. sesama pendidik;

b. kepala Satuan Pendidikan; dan/atau

c. Peserta Didik.

85

media
media

Penilaian proses pembelajaran oleh sesama pendidik sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan asesmen oleh sesama

pendidik atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang

dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan.

Sedangkan penilaian proses pembelajaran oleh kepala Satuan

Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan

asesmen oleh kepala Satuan Pendidikan pada Satuan Pendidikan

tempat pendidik yang bersangkutan atas perencanaan dan

pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang

bersangkutan.

86

media
media
media

Penilaian Proses

Pembelajaran

=

Supervisi Akademik

87

media
media
media
media

Supervisi Akademik di Sekolah

(potret kebanyakan)

88

media

Supervisi Akademik (SA)

Secara definisi: SA merupakan serangkaian aktivitas untuk

memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan

pembelajaran di kelas.

Dalam pelaksanaannya, SA sering dilihat sebagai proses penilaian 1

arah dan dilakukan menjelang akhir tahun ajaran.

SA menjadi sebuah tagihan atau kewajiban bagi para pemimpin

sekolah dalam tanggung jawabnya mengevaluasi para pendidik.

89

media

Supervisi Akademik (SA)

Dengan paradigma berpikir coaching, Supervisi Akademik perlu

dilihat sebagai:

Kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan kompetensi guru

yang

bertujuan

untuk

pemberdayaan

dan

pengembangan

kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan

mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).

90

media
media

Supervisi Akademik

sebagai

proses berkelanjutan
yang memberdayakan

91

media

Fokus pengembangan kompetensi seorang
pendidik:
mendesain pembelajaran yang berpihak
pada murid yang berdampak pada
pengembangan sekolah sebagai komunitas
praktik pembelajaran.

92

media

Tujuan pelaksanaan supervisi akademik di sekolah (Sergiovanni, dalam

Depdiknas, 2007):

1. Pertumbuhan: setiap individu melihat supervisi sebagai bagian dari daur

belajar bagi pengembangan performa sebagai seorang guru,

2. Perkembangan: supervisi mendorong individu dalam mengidentifikasi

dan merencanakan area pengembangan diri,

3. Pengawasan: sarana dalam monitoring pencapaian tujuan

pembelajaran.

93

media

Beberapa prinsip-prinsip supervisi akademik dengan paradigma

berpikir coaching meliputi:
1. Kemitraan: proses kolaboratif antara supervisor dan guru
2. Konstruktif: bertujuan mengembangkan kompetensi individu
3. Terencana
4. Reflektif
5. Objektif: data/informasi diambil berdasarkan sasaran yang

sudah disepakati

6. Berkesinambungan
7. Komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik

94

media

1

PERENCANAAN

Merumuskan tujuan, memilih

pendekatan, teknik, dan model,

menetapkan jadwal, dan

mempersiapkan ragam

instrumen.

2

Keterlibatan guru dalam

kegiatan-kegiatan sekolah,

observasi kelas/supervisi

klinis, dan pelatihan.

3

TINDAK LANJUT

Perencanaan

pengembangan diri dan

pengembangan proses

pembelajaran.

PELAKSANAAN

Tiga tahapan supervisi akademik

95

media
media
media
media
media

AKTIVITAS SUPERVISI AKADEMIK

96

media
media

Supervision for a Better School, Lovell (1980)

mendefinisikan supervisi klinis sebagai rangkaian

kegiatan berpikir dan kegiatan praktik yang

dirancang oleh guru dan supervisor dalam rangka

meningkatkan performa pembelajaran guru di kelas

dengan mengambil data dari peristiwa yang terjadi,

menganalisis data yang didapat, merancang

strategi untuk meningkatkan hasil belajar murid

dengan terlebih dulu meningkatkan performa guru

di kelas.

97

media

Sebuah kegiatan supervisi klinis bercirikan:

1.

Interaksi yang bersifat kemitraan

2.

Sasaran supervisi berpusat pada strategi pembelajaran atau aspek
pengajaran yang hendak dikembangkan oleh guru dan disepakati bersama
antara guru dan supervisor

3.

Siklus supervisi klinis: pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi

4.

Instrumen observasi disesuaikan dengan kebutuhan

5.

Objektivitas dalam data observasi, analisis dan umpan balik

6.

Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama melalui
percakapan guru dan supervisor

7.

Menghasilkan rencana perbaikan pengembangan diri

8.

Merupakan kegiatan yang berkelanjutan

98

media
media

Tahapan Supervisi Akademik

Pertemuan pra-observasi ini merupakan percakapan yang membangun
hubungan antara guru dan supervisor sebagai mitra dalam pengembangan
kompetensi diri

Aktivitas kunjungan kelas yang dilakukan oleh supervisor

Percakapan supervisor dan guru terkait hasil data observasi, menganalisis data,
umpan balik dan rencana pengembangan kompetensi. Proses percakapan
bersifat reflektif dan bertujuan perbaikan ke depan.

Pra

Observasi
Observasi
Pasca

Observasi

99

media

Pra

Observasi

Supervisor menyampaikan tujuan besar supervisi dan tujuan dari percakapan awal.

Guru menyampaikan rancangan pelaksanaan pembelajaran dan menginformasikan

aspek perkembangan yang hendak diobservasi

Supervisor dan guru menyepakati sasaran observasi, waktu kunjungan kelas dan

waktu percakapan pasca-observasi

Supervisor menginformasikan bahwa ia akan mencatat kegiatan pembelajaran yang

dilakukan guru di kelas

100

media

Pra

Observasi

Contoh pertanyaan:

• Bapak/Ibu ingin saya membantu mengembangkan kompetensi yang mana?

• Bagian mana yang nanti Bapak/Ibu inginkan untuk saya amati?

• Bagaimana penilaian Bapak/Ibu sendiri terhadap apa yang akan kita

kembangkan ini?

• Apa harapan dari observasi yang akan kita lakukan bersama ini?

101

media

Observasi

Motivasi kegiatan observasi berawal dari kebutuhan pembelajaran

murid dan kebutuhan pengembangan potensi guru.

Menggunakan instrumen yang telah ditentukan sebelumnya dan

fokus pada sasaran yang sudah disepakati.

102

media

Observasi

Amati supervisee Anda dan catat hal-hal yang dilakukan di kelas:

• yang Selaras dengan kompetensi yang ingin dikembangkan

• yang Melebihi kompetensi yang ingin dikembangkan

• yang Belum sesuai kompetensi yang dikembangkan

Lakukan dengan netral, tanpa penilaian, gunakan mata pengamat.

103

media

Pasca

observasi

Idealnya berisikan aktivitas berikut:

Tujuan percakapan: analisis hasil data observasi

Percakapan umpan balik

Percakapan perencanaan area pengembangan

Rencana aksi pengembangan diri

Supervisor memberikan ruang bagi guru berefleksi pada saat analisis hasil data observasi

dan melalui percakapan coaching, guru dapat menemukan sendiri area pengembangan

selanjutnya

104

media

Pasca

observasi

Durasi waktu umumnya 15-30 menit untuk mendiskusikan hasil.

Pertanyaan awal: “Bagaimana Bapak/Ibu menilai sendiri performa dalam kompetensi tadi?” (tunggu jawaban, catat).

Lanjutkan, “Apa yang membuat Bapak/Ibu menilai demikian?”. (mendengarkan hasil refleksi supervisee dan catat).

Kemudian sampaikan, ”Boleh saya menyampaikan hasil pengamatan saya?”.

Sampaikan hal-hal yang teramati sesuai atau lebih baik dari standar/keinginan, gunakan pernyataan “Saya mengamati

tadi pada saat….. Bapak/Ibu melakukan…. Itu sudah sesuai dari/lebih tinggi dari standar yang kita rujuk.”

Lanjutkan lagi. “Bagaimana pendapat Bapak/Ibu mendengar ini?”, izinkan mereka mengungkapkan pendapat.

105

media

Pasca

observasi

Lanjutkan dengan pengamatan yang belum sesuai. Katakan, “Namun demikian, saya juga melihat

hal-hal yang masih bisa dikembangkan. Misalnya tadi saat... saya mengamati Bapak/Ibu melakukan

…………., yang sebetulnya kalau merujuk ke standar seharusnya…. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu?”

Ajak membicarakan rencana tindakan untuk selanjutnya.

Tanyakan lebih lanjut, ”Dari diskusi kita ini, apa yang sudah terbayang akan Bapak/Ibu lakukan untuk

meningkatkan lagi performa di area ini?”(Bisa dilanjutkan dengan kapan, di mana, siapa yang bisa bantu)

Lalu sampaikan bagaimana hasil pengamatan tersebut dicatatkan ke dalam form Supervisi Akademik

Sebagai penutup, minta supervisee menyatakan apa yang ia dapat dari proses ini.

106

media

Tips Melakukan Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching

Selalu gunakan paradigma berpikir Coaching: Fokus

pada rekan (Coachee) dengan semangat

memberdayakan potensi.

Hadir seutuhnya dalam sesi percakapan

Aktivasi keterampilan mendengarkan dan bertanya

dengan pertanyaan berbobot

107

media
media

108

media

Seorang supervisor dengan paradigma berpikir seorang Coach akan senantiasa

menjadi mitra pengembangan diri para guru dan rekan sejawatnya demi mencapai

tujuan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Percakapan-percakapan

antara

supervisor

dan

para

guru

senantiasa

memberdayakan sehingga setiap guru dapat menemukan potensi dan meningkatkan

kompetensi yang ada pada setiap individu. Supervisi akademik menjadi bagian dalam

perjalanan seorang pendidik menuju tujuan pembelajaran yang berpihak pada

murid dan membawa setiap murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

109

media
media

110

media

Refleksi Akhir - Padlet

3 Pertanyaan Panduan:

1.

Apa yang berubah dari saya setelah mempelajari modul ini

(pengetahuan, keterampilan dan sikap?

2.

Apa yang masih perlu saya siapkan untuk mengampu modul ini?

3.

Apa tindakan konkret yang akan saya lakukan untuk meningkatkan

kompetensi coaching saya?

Link padlet

111

media

TERIMA
KASIH

TUJUAN PENDIDIKAN ADALAH MENUNTUN
ANAK MENCAPAI KEKUATAN KODRATNYA

KI HADJAR DEWATARA

media

MOHON PERHATIAN

Salindia ini hanya boleh dipergunakan untuk

kepentingan belajar Bapak dan Ibu

CGP A9 secara mandiri.

TIDAK UNTUK DIPERBANYAK DAN DIBAGIKAN

KEPADA PIHAK LAIN di luar Kegiatan Pendidikan

Program Pendidikan Guru Penggerak ini.

Terima kasih. Selamat belajar!

Show answer

Auto Play

Slide 1 / 111

SLIDE